Posts Tagged ‘Yuri’

Author’s POV

“Oppa!!”gadis kecil itu dengan semangat memeluk’nya’ sementara ‘dia’ sendiri berjalan mendekati Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum yang ketakutan. ‘Dia’ adalah salah satu dari tengkorak-tengkorak itu.

Dan sekarang, tengkorak itu berubah dari tengkorak berwarna putih biasa menjadi tengkorak berwarna hijau pucat yang menegrikan, dengan dikelilingi asap berwarna hijau yang sama dan darah di sekitar lengannya. Mereka bersumpah tidak melihat bola mata apapun tadinya, namun sekarang 2 bola mata dengan pupil warna merah darah yang menonjol keluar bergantung nyaris putus di lubang yang memang seharusnya tempat bola mata itu.

Tengkorak itu berjalan perlahan mendekati mereka. Yoona, Siwon, Kibum, dan Yuri tidak bisa kemana-mana karena pintunya terkunci. Yoona memeluk Kibum dari belakang. Yuri menggenggam tangan Yoona erat dan para namja berdiri di depan, melindungi para yeoja. Lalu, tengkorak-tengkorak yang lainnya bergabung.

“O-oppa.. Aku takut..” desis Yoona. “Jangan khawatir. Aku ada disini” ujar Kibum. Tapi, mana mungkin mereka tidak khawatir? Para tengkorak itu semakin mendekat, dan tengkorak dengan warna hijau itu menarik pergelangan tangan yoona. “AAARGGH!” Yoona berteriak takut dan kaget.

“Oppa…lepaskan.. ayo pulang…” rengek gadis kecil itu sambil menarik-narik tangan tengkorak itu. Tapi, tengkorak itu mengabaikannya dan mendorongnya ke samping. “Berikan aku kuncinya…” ujarnya dengan suara yang aneh. Suaranya kering, sekering dedaunan musim gugur, tidak seperti orang hidup, dan meneyramkan, memberikan sensasi gemetaran mengaliri tubuh mereka.

“Kunci…kunci apa?” Kibum memberanikan diri untuk bertanya. “Kunci yang terakhir!” tengkorak itu berujar. “Kami.. kami tidak tau apa-apa.” kata Siwon. “Bohong!” geram tengkorak itu, membuat mereka semakin ketakutan. “Kam..kami.. t-tidak berb-boho..ng..” ujar Yuri dengan takut-takut.

Tengkorak-tengkorak itu mendekati mereka dan kemudian dengan cepat mereka telah dikelilingi oleh 3 tulang hidup. Tengkorak hijau itu mencengkram kerah baju Kibum. “Ki-kibum oppa!” teriak Yoona histeris. Tengkorak itu berhenti lalu menatapnya. Kesempatan ini dipakai Kibum untuk meloloskan diri dari cengkramannya dengan mudah. “Dari mana kau tau namaku?” tanyanya tanpa ekspresi.

“T-tunggu.. jadi.. kau Kibum?” tanya Kibum penasaran. Tengkorak itu mengangguk ragu. “Dia pasti Kim Kibum yang telah menulis surat itu” desis Kibum pelan pada teman-temannya. “Jadi.. apa yang harus kita lakukan?” tanya Yoona gugup.

“De-dengar…” ucap Kibum, mencoba berbicara pada tengkorak itu. “Kami… urrh.. juga mencari kunci-kunci itu. Mungkin kita… ngg… bisa… bekerja sama” ucap Kibum gugup. “Yah! Oppa! Apa kau gila?!” protes Yuri. Tengkorak itu menatap Kibum lekat-lekat. “Memang apa yang bisa kau lakukan? Aku sudah mencari-cari kunci itu selama 44 tahun!” geramnya. Mereka merinding, belum terbiasa mendengar suara seramnya itu.

“Le-lebih banyak.. lebih baik” gumam Kibum. Tengkorak itu menatapnya tajam dengan bola matanya yang menonjol itu. “tepat 4 tahun yang lalu, ada 2 orang pemuda yang berpikiran sama sepertimu. Tapi, mereka mengkhianatiku dan mencuri 3 kunci dariku. Kini aku harus mencari semuanya lagi” ujarnya kaku. “Kau tau apa yang terjadi pada mereka?” tanyanya dengan nada menyeramkan.

Kibum menelan ludahnya yang sedari tadi menggumpal di tenggorokannya. Dia menggeleng. “Itu… yang terjadi pada mereka!” tengkorak itu menggeram, menunjuk ke arah 2 tengkorak yang lain di belakangnya. Yuri dan Yoona berteriak ketakutan. “Jadi… kenapa aku harus percaya padamu?!” dia berseru sambil menyerang Kibum.

Pertamanya, Kibum berhasil bertahan. Tapi, kedua kalinya, tengkorak itu menonjok perutnya. “Urrrghhh…” Kibum mengerang kesakitan. “Kibum oppa!!” yoona berseru panik. Siwon membantunya berdiri dan membantunya.

Tapi, 2 tengkorak yang lain menahannya sehingga dia tidak bisa bergerak. Tengkorak yang bernama Kibum itu mencengkeram lengan kibum lalu dengan suara ‘krekk’ keras mematahkan lengannya seperti mematahkan sebatang ranting rapuh.

“Sial… bagaimana tulang-tulang bau ini bisa sekuat itu?” gumam Siwon. “Hm, itulah gunannya susu” ujar tengkorak itu sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang jelek dan hitam. “Kau tau, ada sebuah produk yang dinamakan pasta gigi” ucap Kibum disela erangannya. “Diam!” seru tengkorak itu sambil dengan bunyi ‘krakk’ yang lain mematahkan jari telujuk Kibum.

“Oppa….” Yoona tidak bisa melihatnya lagi lalu berlari menuju Kibum dan memeluknya erat. Sementara itu, gadis kecil itu menarik-narik tangan tengkorak itu. “Oppa… ayo pulang. Umma pasti khawatir” rengeknya dengan puppy eyes. “Sebentar, Cheun Ri-ah… oppa harus mencari kunci-kunci itu dulu” ujarnya.

Mereka semua terkejut mendengarnya. Masih ada kelembutan dalam suaranya namun, menakutkan. Itu bukan kelembutan yang membuat mereka bernapas lega, melainkan membuat mereka gemetaran. Karena, tidak ada harapan atau kebahagiaan dalam kelembutanya itu. Hanya ada keputusasaan dan kegelapan.

———————-

“O-oppa…” Sooyoung berbisik ketakutan. Dia bersembunyi di belakang Kyuhyun. “Noona… aku sudah menunggu lama” kata anak laki-laki itu. Dia mendekati mereka dengan tentakelnya. Suaranya manis dan lembut. “Gambar ini kubuat untukmu. Apa kau suka?” ucapnya sambil berusaha melihat ke arah sooyoung.

“M..mundur!” seru Kyuhyun sedikit takut, berusaha melindungi sooyoung. “Noona… akhirnya aku bisa bertemu denganmu” ujarnya, terus berjalan ke arah sooyoung. “Noona.. disini terlalu dingin. Aku tidak ingin disini lagi” ujarnya sedih. “Kalau begitu, pergi” gumam Kyuhyun. Tapi, anak laki-laki itu mengabaikannya dan terus saja mendekati sooyoung.

“Tapi aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku belum melakukan sesuatu yang harusnya kulakukan 80 tahun yang lalu.” ujarnya, masih terus berjalan ke arah mereka. Kini mereka sudah tidak bisa mundur lagi. Donghae dan Jessica di sisi lain ruangan, hanya menatap ke arah Kyuhyun dan Sooyoung karena anak laki-laki itu bahkan tidak melihat mereka yang sudah kabur dari tadi.

“Noona…” anak laki-laki itu semakin mendekatinya. Kyuhyun berdiri di depan sooyoung untuk melindunginya. “Gwenchana, Kyu..” kata sooyoung sambil berdiri di depan.

Kyuhyun bingung. “Tapi.. soo…” ujarnya, tapi Sooyoung memotongnya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya, berusaha untuk berani, mengabaikan air mata yang mulai terjatuh di pipinya. Mereka semua menatapnya dengan napas tertahan, takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Anak laki-laki itu tersenyum. “Noona… saranghae”.

Sooyoung sekarang mengerti. Lalu, dia melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia memeluk anak laki-laki itu. Walaupun dia sangat amat teramat takut, tapi dia memberanikan dirinya. “Kamsahaeyo” katanya. Anak laki-laki itu tersenyum manis dengan sangat lebar. Lalu, dia semakin transparan… dan akhirnya… hilang.

Kyuhyun menatapnya melongo. Bahkan Donghae dan Jessica menatapnya dengan tatapan kau-tidak-mungkin-melakukannya. “Apa….itu…?” Jessica bertanya, tidak yakin akan apa yang baru saja terjadi. Air mata sudah membasahi pipi sooyoung dan Kyuhyun mengelapnya.

“Anak laki-laki itu… aku mengerti sekarang. Dia tidak bisa peri ke…umm.. bagaimana mengatakannya yah… ‘tempatnya sendiri’… tempat yang seharusnya orang mati tempati… karena dia belum menyatakan perasaannya ke noona-nya yang.. mm… mirip aku?” jelas sooyoung saat tangisnya sudah reda.

“Aku memeluknya. Untuk mengangkat semua bebannya. Supaya dia bisa pergi… dengan damai” tambah sooyoung sambil tersenyum. Mereka semua terpana menatapnya. “Sooyoung… kau ini malaikat atau apa?” gumam Kyuhyun, tapi cukup keras untuk sooyoung dengar.

“Eeh?” pipi sooyoung memerah. “Woaah… kau hebat sooyoung!” seru Jessica sambil memeluknya. Dia tidak bisa menemukan kata-kata lain yang cocok. “Itu fantastik” ujar donghae sambil tersenyum.

“Well… Jessica… Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu” ujar Donghae, berubah serius. “Tapi.. kita harus pergi seka-pfffft” Kyuhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sooyoung sudah menutup mulutnya. “Diam! Biarkan saja. Aku yakin donghae oppa pasti mau menyatakan perasaannya” bisiknya.

“Tapi.. sekarang bukan waktu yang bagus! Aissh!” protes Kyuhyun. “Tidak ada waktu yang bagus oppa! Kalau kau menunggu-nunggu untuk menyatakan perasaanmu, kau akan seperti anak laki-laki itu. Menunggu untuk sesuatu yang tidak berguna. kau akan berakhir seperti itu” ujar sooyoung.

“Kau pikir seperti itu?” tanya Kyuhyun. Sooyoung mengangguk yakin. “Hm, kalau begitu… ada sesuatu yang ingin kukatakan” kata Kyuhyun, ingin memberi tahu sooyoung sesuatu yang penting. “Hm?” tanya sooyoung penasaran. Kyuhyun menghindari kontak mata dengannya. Sooyoung menunggunya tidak sabar.

“Aku… aku… aku menci… ci.. cin… ahh! lupakan! Aku lupa mau ngomong apa!” seru Kyuhyun frustasi. Sooyoung terlihat sedikit kecewa lalu melempar pandangan ke arah donghae dan Jessica.

“Waeyo?” tanya Jessica dengan dingin yang membuat donghae semakin gugup. “Oke, lee donghae. Kau sudah memutuskannya. Kau harus mengatakannya” ujar Donghae dalam hati. “Jessica Jung… saranghaeyo…” dia membisikkan kata terakhirnya. “Mwo? Aku tidak dengar” ucap Jessica. Sebenarnya, dia mendengarnya dengan sangat jelas.

“saranghae…” Donghae mengulang lagi dengan lebih kencang sedikit. “Yah! Oppa! Kau ini punya suara atau tidak sih?” protes Jessica. “Saranghae saranghae saranghae!! SARANGHAEYO JUNG SOO YEON!!!” seru donghae frustasi. Tapi kemudian teriakannya dipotong oleh ciuman lembut di bibirnya oleh Jessica.

Donghae terkejut, tapi kemudian menciumnya juga. Tapi, ciuman mereka tidak bisa bertahan lama. Kyuhyun berdeham. “Ehem.. mian mengganggu. Tapi, kita harus keluar dari sini sekarang juga” ujar Kyuhyun. Dia bisa membuka pintunya dengan mudah sekarang.

Donghae dan Jessica hanya tersenyum malu lalu berjalan keluar. “Aish.. Lee Donghae. Kau tidak tau waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan yah? Di tengah malam di tengah ruang kelas yang horor. Ckckck” ujar Jessica.

“Tidak ada waktu yang teoat Sica… aku tidak mau menyesal seperti ank laki-laki itu. Memangnya kau mau aku jadi hantu selama 80 tahun, menunggu seseorang yang mirip denganmu datang?” ujar Donghae polos. “Awww… cute and innocent boy” ujar Jessica dalam bahasa inggris (tau deh Sica unnie, yang inggrisnya bagus~~ authorapabangetdeh) sambil mencubit pipi donghae pelan.

“Jadi… aku anggap itu debagai ‘iya’?” tanya donghae penuh harap. “Iya untuk apa? Kau bahkan tidak bertanya apa aku mau menjadi yeoja chingumu” protes Jessica. “Jessica Jung… maukah kau menjadi yeoja chinguku?” tanya donghae serius. “Paboya! Tentu saja~~” ujar Jessica sambil tersenyum.

“Woaah donghae oppa, kau sudah mencairkan es-nya~” goda sooyoung. Mereka semua tertawa. Bukan karena lelucon sooyoung, tapi lebih karena mereka lega bisa selamat keluar dari ruang kelas itu. Mungkin, nasib teman-teman mereka tidak seberuntung mereka~

miaaaaan reader2ku sayang , author update nya lama.

author pabo pabo pabo!! naega cham pabo gatjyo >.<

abis… author nemu fanfic di SSF banyak bnget trus ketagihan deh~

udah tau deh… ff di SSF tuh ceritanya patut diacu

Author’s POV

“Gyaah! Dimana Kyuhyun dan Sooyoung?” tanya Taeyeon kaget dan sedikit cemas, saat tidak melihat tanda-tanda keberadaan si shikshin dan si gamer itu. “Pertanyaan yang sama untuk Jessica dan Donghae” tambah Leeteuk .

“Aisssh… bocah-bocah itu!” keluh Kibum. “Aku akan mencari mereka. Kalian… cari petunjuk itu” perintah Leeteuk. “Kau tidak bisa pergi sendiri oppa. Aku bersamamu” ujar Taeyeon. “Tidak. Kami bersamamu” tambah Yoona.

“Ayolah… kita semua ada di gedung yang sama. Kita tidak akan tersesat. Kita akan menemukan satu sama lain dengan mudah. Aku hanya ingin meyakinkan kalau yang lain baik-baik saja. Perasaanku tidak enak” kata Leeteuk. “Arraso. Tapi aku ikut denganmu oppa” ucap Taeyeon dengan keras kepala. “Ne” jawab Leeteuk sambil mengangguk.

Lalu, mereka berjalan perlahan, meninggalkan Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum, kembali ke jalan yang mereka lalui tadi. “Oppa, dimana mereka menurutmu?” tanya Taeyeon. “Molla. Tapi aku berani bersumpah mereka masih di belakang kita 15 menit yang lalu.” ujar Leeteuk. Taeyeon mengangguk setuju.

“Hey… mungkin mereka disana” kata Taeyeon, menunjuk ke arah sebuah ruangan. Ruangan musik dan seni. Leeteuk melihat ke arah yang ditunjuk Taeyeon dan leihat 4 bayangan orang yang sedang mengobrol dan bercanda.

“Bocah bocah itu! Kita begitu cemas tentang mereka dan sekarang mereka tertawa seperti bayi yang tidak berdosa! Tidak akan! Mereka akan menerima hukuman merek” gerutu Leeteuk. Lalu, dia dan Taeyeon masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Bahkan ruangan itu menjadi lebih sempit karena banyaknya barang seperti piano tua, beberapa biola dan cello, beberapa lukisan yang sudah dilapisi debu, patung-patung tanah liat, dan beberapa barang yang tidak mereka kenali.

Sebuah piano tua besar terletak di belakang ruangan dan mereka ber-4 memainkan tutsnya bergantian. 3 patung tanah liat diletakkan di sebelah kanan mereka, seakan memantau mereka dan tidak melewatkan satu pun gerakan mereka.

“Yah! Kyuhyun! Sooyoung! Donghae! Jessica!” Taeyeon berteriak pada mereka. Mereka membelakangi kedua leader itu. Mereka tetap tertawa dan mengobrolkan sesuatu yang tidak terdengar jelas oleh Leeteuk dan Taeyeon. “Kalian ber-4! Berbalik! Sekarang!” seru Leeteuk. Perlahan, mereka semua berbalik.

“Asta-” Taeyeon bahkan tidak punya keberanian lagi untuk melanjutkan kata-katanya. Dia spontan sembunyi di belakang Leeteuk dan menatap 4 sosok di depan mereka dengan ketakutan. Seperti ada yang menggumpal di tenggorokan mereka, mencegah mereka untuk berbicara sepatah kata pun.

4 sosok itu, bagaimanapun bukanlah dongsaeng-dongsaeng mereka. Perlahan, wajah mereka berubah menjadi semakin gelap dan gelap, seakan-akan seluruh wajah mereka, hidung, mata, dan mulut mereka dihisap kedalam.

Tubuh mereka semakin membesar, mengoyakkan semua pakaian mereka dan kulit mereka menjadi seputih dan sepucat tembok yang mengelilingi mereka. Mereka berubah menjadi 4 makhluk besar dengan wajah yang seperti lubang hitam tak berdasar.

Mereka ber-4 maju mendekati 2 leader yang ketakutan itu. Leeteuk berusaha keras menarik, mendobrak, dan mendorong pintu itu. “o-oppa… cepat…” ujar Taeyeon. Akhirnya dia bisa mengeluarkan suaranya. “Tidak bisa. Pintunya… ter…terkunci…” ujar Leeteuk panik.

Lalu tiba-tiba, sebuah melodi yang terdengar seperti lullaby bergema di sekitar ruangan. Mereka melihat piano tua itu memainkan serangkaian nada yang aneh, sendiri. Tanpa ada yang memainkannya. Melodi itu bukan melodi yang indah. Melodi itu menyeramnkan, memberikan sensai mual dan getaran ketakutan yang menjalari tubuh Leeteuk dan Taeyeon yang membuat mereka menutup telinga mereka.

Dengan setiap nada yang dihasilkan, mimpi buruk mereka yang lain datang, seakan semua yang sudah terjadi tidak cukup membuat mereka menderita. 3 patung tanah liat yang dari tadi hanya menonton, kini berdiri dengan kaku dan menyeringai, mempertunjukkan gigi-gigi yang paling jelek dan bersama dengan monster tidak berwajah itu, mereka mendekati TaeTeuk.

“OAAAAA…” Taeyeon berteriak panik dan takut saat dua patung itu menarik tangannya dengan kasar. “O-oppa… tolong…” ucapnya. “Yah! Lepaskan dia monster sialan!!” seru Leeteuk panik dan langsung menarik taeyeon, mencoba mendorong monster-monster itu. Tapi, monster-monster itu jauh lebih kuat dari Leeteuk.

“Taeyeon-ah! O-omo…” Leeteuk berkata dalam ketakutan, melihat apa yang terjadi selanjutnya. Makhluk tak berwajah itu, satu per satu, menghisap wajah Taeyeon dengan ‘wajah’ mereka sementara patung-patung yang hidup itu menahan Taeyeon. Leeteuk menutup matanya dengan rapat, terlalu takut untuk melihat pemandangan menyeramkan itu.

Taeyeon memberontak, tapi percuma. Makhluk-makhluk itu terlalu kuat dan energi mereka membuat taeyeon lemah. Mereka menghisap semua kebahagiaan dan kenangan-kenangan indah dari Taeyeon (cara kerjanya kayak dementor di harry potter >o<).

Perlahan, semua flashback ingatan masa lalunya, saat pertama dia trainee di SM, saat dia debut dengan into the new world bersama 8 dongsaengnya, saat dia pertama kali bertemu Leeteuk, saat SNSD melakukan konser pertamanya. Semua kenangan itu melintas di depan matanya dan dihisap oleh makhluk itu. Air mata sudah mengalir membasahi pipi taeyeon.

Leeteuk perlahan membuka matanya. Melodi dari piano itu telah berhenti dan ke-4 sosok mengerikan itu sudah hilang. 3 patung yang semula menyeringai jahat itu sudah duduk kembali di tempatnya, berakting seolah tidak tau apa-apa. “Taeyeon-ah?” panggil Leeteuk khawatir.

Taeyeon perlahan berbalik menatap Leeteuk. “Taeyeon.. apa yang terjadi?” tanya Leeteuk sedikit takut dan mendekati Taeyeon. “Taeyeo-archhhhh” Leeteuk berteriak kesakitan dan kaget saat Taeyeon tiba-tiba menyerangnya dengan mencakari wajahnya.

“Sejak kapan kau punya kuku dan cakar setajam itu?” protes Leeteuk. “Dan… sejak… kapan… matamu seluruhnya…pu..putih?” desisnya tidak percaya. Taeyeon menatapnya lurus. Matanya seluruhnya putih tanpa ada bola mata coklat atau hitam setitik pun di tengahnya. Taeyeon menatapnya tanpa ekspresi tapi kemudian menyeringai, menampakan taringnya yang tajam.

****************

Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum berjalan di lantai satu sekarang. “Kibum, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon saat Kibum berjalan bergerak mendekati sekumpulan loker-loker.

Kibum mendekati sebuah loker lalu tanpa usaha yang berat berhasil membukanya. “Kenapa kau membuka loker itu?” tanya Yuri bingung. “Ada tulisan ‘Kim Ki Bum’ di pintu lokerya” ujar Kibum sama bingungnya.

Mereka melihat ke dalamnya dengan raut wajah penasaran. Tapi yang mereka temukan hanyalah secarik kertas yang sudah terkoyak namun masih bisa dibaca dengan cukup jelas. “Apa itu?” tanya Yoona heran. “Biar kulihat” ucap Yuri sambil mencoba mengambil kertas itu dari tangan Kibum. Tapi, kibum tidak membiarkannya “Aku yang akan membacanya” kata Kibum.

Pintu tak terlihat. Tidak di Utara, atau Selatan, tidak juga di Barat, atau Timur.

4 kunci yang tidak dapat ditebak.

Kematian sedang menunggu.

Mencari yang terakhir sampai sekarat.

Tapi aku masih mencari.

Kim Ki Bum.

Dia membacanya dengan keras dan hanya terdengar suaranya yang bergema di gedung kosong itu. “Kau menulisnya?” tanya Yuri bingung. “Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa?” ucap Kibum. “Mungkin Kibum yang lain. Ada berjuta-juta Kibum di Korea” ujar Yoona. Mereka menganggapnya sebagai jawaban yang paling masuk akal.

“Tapi apa artinya?” tanya Yuri bingung. “Mungkin… ini.. teka-teki?” tanya Kibum. “Ne! Mungkin ini teka-teki yang harus dipecahkan untuk keluar dari sini!” ujar Siwon semangat.

“Hmm… masuk akal. Soalnya itu membicarakan pintu. Dan kunci” ucap Yoona. “Tapi… bagaimana kita mencari pintu itu kalau pintu itu tidak terlihat?” tanya Yuri heran “Dan mengapa ada 4 kunci kalau pintunya hanya satu?” tambah Siwon.

Kibum mengangkat pundaknya pertanda dia juga tidak mengerti. “Kita harus mengikuti petunjuknya. Mungkin, hanya mungkin, ini satu-satunya cara supaya kita bisa keluar” kata Kibum dengan tenang. “Bagaimana kau masih bisa setenang itu oppa?” tanya Yoona kagum. “Aku tidak setenang itu. bagian ‘kematian sedang menunggu’ membuatku takut” Kibum mengakui. “Nde… tidak ada yang menyukai bagian itu” ucap Siwon.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangisan. Mereka melihat satu sama lain, ragu akan apa yang seharusnya mereka lakukan. “Kita sia-sia saja kalau tidak tau apa yang terjadi dan diam disini” Siwon menyimpulkan. Yang lain mengangguk dan berbelok ke koridor kiri, dimana asal suara tangisan tersebut datang.

Suara itu berasal dari laboratorium IPA. Yoona menelan ludahnya. “Aku tidak pernah menyukai lab IPA” ujarnya takut. Kibum mengenggam tangannya untuk menenangkannya. Siwon memimpin jalan mereka, membuka pintu lab yang menghasilkan suara ‘krek’ pelan.

Lab itu cukup besar untuk menampung 50 orang dewasa di dalamnya. Ada 10 meja besar dengan sebuah mikroskop di atasnya , beberapa alat bedah, dan banyak tabung reaksi yang berisi cairan kuning, hijau, dan biru elektrik di dalamnya. Ada 2 prosesor, 5 akuarium yang berisi hewan-hewan langka yang diawetkan dan banyak hewan lainnya yang tidak mereka ketahui spesiesnya. Ada juga 4 tengkorak yang paling membuat mereka takut, dan banyak lagi alat peraga. (spesial thanks buat lab IPA sekolah gue, yang jadi patokan deskripsiinnya xD)

“Apa? Woa–” Mereka terkejut, melihat seorang anak perempuan kecil yang menangis. “Bagaimana bisa ada seorang anak perempuan disini?” desis Yuri sedikit takut kalau-kalau anak itu akan berubah menjadi hantu mengerikan. Anak perempuan itu cantik dan manis, dengan balutan gaun imut warna pink muda, dan rambut berwarna tembaga yang dikepang. “Annyeong~ Kau siapa?” tanya Yoona lembut.

“Aku tidak bisa pulang…” tangisnya. “Oppa ku meninggalkanku” tambahnya dengan puppy eyes-nya. “Ahh… mungkin nasibnya sama seperti kita” ujar Yoona luluh. Mereka mendekati gadis mungil itu.

“Jangan menangis, sweety… Ayo, pergi bersama unnie” ujar Yoona lembut. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya melihat ke arah mereka dengan berbinar-binar. “Jinjja unnie?” tanyanya penuh harap. Mereka semua sudah luluh dengan kemanisan dan kepolosan gadis kecil ini. Mereka mengangguk mantap. “Siapa namamu?” tanya Yuri.

“Nama… ku?” ulang gadis kecil itu ragu-ragu. Mereka mengangguk penuh semangat. “Oppa bilang aku tidak boleh memberitahu namaku pada orang asing” kata si gadis polos. Mereka tertawa melihat kepolosannya. “Arra. Hm, Yoona imida. Ini kembaranku, Yuri, kakak iparku, Siwon, dan mm…. chingu-ku, Kibum” ujar Yoona.

“Yoona? Yu… yuri? Si… siwun? Kibum?” Gadis itu mencoba untuk mengingat nama mereka semua satu per satu. “Anniyo. Siwon! Si…won. Si-won” ujar Siwon membetulkan namanya. “Si…won?” ujar gadis kecil itu dengan lucu. “Nde! Benar, gadis pintar”kata Siwon sambil tersenyum, menampakkan lesung pipinya.

“Ayo pergi. Kita harus menemukan kunci-kunci itu dimanapun mereka” kata Kibum dan berjalan menuju pintu. “Sial!” seru Siwon kesal sambil menendangi pintu. “Terkunci” gumamnya. Mereka mendesah kesal. Mereksa sepertinya sudah terbiasa terkunci di ruangan. Lalu tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin dan asap berwarna hijau pucat mengelilingi mereka entah darimana.

“Apa… apa ini…” ujar Yoona takut sambil mengenggap lengan Kibum dengan kencang. “Oppa-ku sudah datang!” seru gadis kecil itu senang. “Siapa… oppa-mu itu sebenarnya?” tanya Siwon curiga. “Itu dia!” tunjuk gadis itu. Mereka semua melihat ke arah yang dia tunjuk. “WOOAAA!!KYAAA!!” mereka berteriak ketakutan melihat’nya’ yang datang mendekat.

Author’s POV

“A-apa… yang harus kita lakukan?” tanya Yuri dengan suara serak karena takut. Sunyi. Yang lainnya juga tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang. “Kita tidak bisa diam disini selamanya. Setidaknya kita harus bergerak” kata Kibum. Aneh memang bagaimana suaranya masih setenang itu si keadaan seperti ini.

“Dia benar… kita harus… mencoba” Siwon mendukungnya. Yang lainnya mengangguk. Mereka menyadari itulah pilihan mereka satu-satunya. Dan… dimulailah petualangan mereka!

Leeteuk, Kibum, dan Siwon berjalan di depan, memimpin perjalanan mereka karena merekalah yang paling berani. Para yeoja di belakangnya sedangkan Donghae dan Kyuhyun berada di paling belakang. Mereka berbalik untuk melihat lift itu yang terakhir kalinya. Tapi, tidak ada tanda-tanda bahwa lift itu pernah berada disana. Hilang. Lenyap. Lift itu telah hilang, menyisakan dinding batu-bata yag kosong.

Mereka mengenali bangunan itu sebagai sebuah sekolah, yang pastinya sudah ditinggal sangat lama. Tidak ada satupun sumber cahaya disana. Tidak lampu, cahaya matahari, atau bahkan cahaya bulan. Seakan-akan cahaya dilarang untuk masuk.

Tapi, ada sesuatu yang mereka tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang memancarkan cahaya hijau pucat di sekeliling ruangan. Sesuatu yang mereka tidak sukai.

Mereka berjalan di koridor, melewati beberapa ruang kelas. Ruang kelas itu, seperti keadaan di sekeliling mereka sangat kotor, gelap, suram, dan tertutup oleh debu yang lebih tebal dari sebuah kamus. Tapi, ada satu hal yang aneh. Yaitu semua perabotan, semua benda disitu masih lengkap dan ditempatkan dengan sangat rapi.

Mereka semua terlalu takut untuk berbicara. Hanya ada suara langkah kaki mereka, yang lebih kencang dari seharusnya, menggema di udara yang lembab.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan yang aneh pada lantai kayu. Seakan-akan, setiap langkah yang mereka ambil, keadaan sekitar mereka semakin gelap dan gelap. “Aku rasa… kita harus mencari pintu keluar” ujar Leeteuk, orang yang paling pertama mengendalikan rasa takutnya.

Mereka semua mengangguk setuju dan melangkah dengan hati-hati meuruni tangga kayu yang rapuh karena sudah lapuk, mencoba mencari-cari letak pintu keluar karena sekolah itu bukan sekolah yang kecil.

“Sial! Dikunci dari luar!” seru Kyuhyun marah. Dia sudah mulai emosi dengan keadaan ini. “Apa??!” Yang lain berseru terkejut dan takut. “Aku tidak mau tinggal disini…” seru Yoona. “Aku mau pulang!!” teriak Jessica.

“Tenang, semuanya… tenang…” ujar Taeyeon, mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya sementara dia sendiri juga berusaha menenangkan rasa takutnya sendiri. Siwon mencoba menelepon untuk meminta bantuan. “Argh! What the hell!! Tidak ada sinyal!!” serunya frustasi. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka semua.

“Mungkin kita hanya harus menunggu. Aku cukup yakin besok pagi akan ada orang yang menolong kita” ujar Kibum. Karena merasa tidak ada pilihan lain, yang lainnya setuju dan mengangguk pasrah. “Tapi… dimana kita akan tidur?” tanya Donghae. “Mwo? Annio! Aku tidak akan tidur di tempat seperti ini! Aku memilih untuk tidak tidur sampai subuh” ucap Sooyoung.

“Kau tidak akan tahan!” ujar Jessica. “Tapi… tempat ini tidak layak. Terlalu menakutkan. Bagaimana kalau nanti ada han- pfffft” Yuri menutup mulut Sooyoung sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Jangan buat kami semakin takut” ujarnya.

“Ayo kita berpura-pura bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan saat kita terbangun, kita sudah ada di dorm kita lagi” gumam Taeyeon. Ini memang terdengar mustahil, tapi yang mereka punya sekarang memang hanya tinggal harapan. “Tapi, bukankah terlalu pagi untuk tidur?” ujar Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kita mengitari sekolah ini. Mungkin kita bisa mendapat informasi tentang apa dan dimana sekolah ini sebenarnya” usul Siwon. “Andwae! Bagaimana kalau sesuatu terjadi?” tanya Yoona takut. “Well, kalau ada sesuatu yang terjadi, kau mempunyaiku untuk melindungimu” kata Kibum sambil tersenyum pada yoona yang membuat pipinya memerah.

“Aigoo… dalam situasi seperti ini dan kau masih sempat-sempatnya nge-gombal? Nicee~” ejek Leeteuk. “Tapi, kurasa Siwon ada benarnya. Kita tidak mendapat apa-apa kalau hanya berdiam diri disini. Setidaknya kita pasti mendapat sesuatu kalau kita bergerak. Kita kan ber-10. S-E-P-U-L-U-H” kata Jessica.

“Tapi… bagaimana kalau ada hantu, atau hal-hal sejenisnya? Biasanya hal-hal seperti itu ada di tempat yang sudah lama ditinggal” kata Sooyoung takut. “Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Itu hanya mitos” kata Taeyeon. “Kalau begitu jelaskan bagaimana kita bisa disini” ujar Kyuhyun. Taeyeon tidak menjawab.

“Okay guys. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian. Anggap saja, kita bisa berada disini sekarang, karena dewi keberuntungan sedang tidak ada di pihak kita. Diam disini, ketakutan dan menangis seperti bayi tidak akan merubah apapun dan membantu kita keluar dari situasi ini. Kita harus berani, atau setidaknya, mencoba untuk berani” kata Leeteuk, menyemangati dongsaeng-dongsaengnya.

mereka terdiam. Mereka semua tau, Leeteuk benar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, atau setidaknya mencoba untuk berani. Akhirnya mereka menggangguk setuju dan saling menyemangati. “Hwaiting!!” seru mereka.

Lalu, mereka menaiki tangga kayu yang sama, menuju ke lantai atas, mencari petunjuk yang bisa memberitahu mereka tempat apa itu sebenarnya. “Ruangan ini sepertinya bagus” ujar Kyuhyun, menunjuk ke arah plat kayu usang yang tergantung di atas sebuah ruangan, bertuliskan “Ruang Guru”. Mereka melihat satu sama lain lalu akhirnya memutuskan untuk masuk.

Ruangan itu sangat besar untuk ukuran sebuah ruang guru. Ada 2 sofa yang ditempatkan berhadap-hadapan si sisi kiri mereka dan 5 komputer yang ditempatkan di seberangnya. Sebuah foto, yang mereka asumsikan sebagai foto sang pendiri sekolah, tergantung rapuh di dinding sebelah kanan mereka. Detail yang lain tidak dapat mereka lihat dengan jelas karena keadaannya terlalu gelap untuk mata mereka yang walaupun sudah cukup terbiasa dengan kondisi kegelapan itu.

“Pasti ada dokumen atau apapun tentang sekolah ini” ujar Kibum. “Ne! Aku yakin kita kesini bukan untuk hal yang sia-sia. Pasti ada yang bisa kita temukan” ujar Yoona. Kyuhyun dan Donghae mulai mencari di laci dan lemari, sedangkan Sooyoung mencari di kulkas, yang tentu saja tidak ditemukan apapun disana.

“Hey! Aku meneukan sesuatu!” seru Siwon. Mereka semua berlari menuju ke meja ke-3 dari pojok kanan, tempat dimana Siwon berada. Dia mengambil HPnya untuk ekstra cahaya. “Aku memerlukan cahaya lagi” gumamnya. Leeteuk dan Yuri menyalakan HP mereka untuk memberi Siwon lebih banyak cahaya.

“Draft Dokumen Sekolah” ujar Siwon, membaca jusul dari kertas usang yang sudah robek-robek dan menguning. Mereka semua terdiam, mendengarkan Siwon, membiarkan suaranya bergema di ruangan yang kosong dan menyeramkan itu.

Draft dokumen sekolah

Sin Bi High School

##########, Korea Selatan

876-444-#####

dibangun oleh: ### Joo Ji, 4 April 1844

Visi:

Sekolah ini adalah ######## para siswa untuk ######### dengan sikap yang baik dan sopan santun yang tinggi ########

Misi:

1. Untuk ##### dengan pantas ######### dan ###### bagi negara dan bangsa

2. Untuk membangun ############## yang baik dalam toleransi yang tinggi

3. #####################################

Sin Bi high school menyambut semua########### dan ### murid yang ###############

Dengan hormat,

Kepala sekol##

Park #### Kyung

4 April 1990

“Ada banyak bagian yang tak terbaca (Bagian ###)” kata Siwon. “Sin Bi high school? Sepertinya aku pernah mendengarnya” kata Jessica. “Setidaknya kita sekarang tau apa nama tempat ini” kata Kyuhyun. “Itu tidak membantu sama sekali! Kita bahkan tidak tau di daerah mana kita berada” ujar Donghae. “Setidaknya kita masih ada di Korea Selatan~” ujar Yoona.

“Ayo pergi. Kurasa tidak ada lagi yang bisa ditemukan di tempat ini” ujar Leeteuk. Yang lainnya mengiyakan lalu pergi keluar. Mereka menaiki tangga menuju ke lantai atas. “Tu-tunggu…” gumam Sooyoung. Dia berhenti di sebuah ruang kelas. “Wae-yo sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun bingung.

Sooyoung tidak mempedulikannya dan hanya menatap ruang kelas itu. Kyuhyun, Jessica, dan Donghae, yang berjalan paling belakang, merasa penasaran dan ikut berhenti di depan ruang kelas itu, tidak menyadari bahwa yang lain sudah meninggalkan mereka .

Tanpa mengatakan sepatah katapun, sooyoung membuka pintunya dan berjalan masuk. Yang lain menatapnya heran, tapi bertekad untuk tidak meninggalkannya sendirian, mereka mengikuti sang shikshin masuk ke dalam kelas tersebut.

Kelas itu, sama seperti kebanyakan kelas, memiliki sedikitnya 15 meja dengan sepasang kursi di tiap mejanya. Yang membuatnya berbeda adalah adanya banyak sekali foto yang tergantung kaku di atas dinding. Foto-foto itu semuanya adalah wajah seseorang dan seakan-akan mereka sedang menatap tajam 4 orang yang berdiri dengan takut di dalam kelas itu.

“AAAAAA!!!” Sooyoung berteriak ketakutan, memeluk Kyuhyun sebagai reflek. “Apa? Wae?” tanya Kyuhyun bingung, walaupun senang karena sooyoung memeluknya. “O-oppa… i… it.. itu..” ujar Sooyoung takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada kyuhyun sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan, ketiga dari paling kiri. Mereka semua melihat ke arah yang sooyoung tunjukkan. Seketika mereka syok dan ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

“Bagaimana mungkin…” desis Donghae tidak percaya. Sementara itu, Jessica menatap gambar itu dengan syok dan mengencangkan genggamannya pada lengan donghae. Kyuhyun masih memeluk sooyoung yang sedang menangis, menatap gambar itu dengan pahit.

Itu adalah gambar wajah sooyoung secara close-up, dengan darah merah kental di bagian mulut dan hidungnya, dan tampak sesuatu yang salah pada matanya. Seperti hendak dicongkel keluar tapi tidak berhasil.

“Ayo keluar dari sini” perintah Kyuhyun. Yang lain langsung setuju tanpa berpikir lagi. Tapi… “Sial!” seru DOnghae marah sambil menendang pintunya. “Wae?” tanya Jessica takut. Mereka semua sudah tau jawabannya. “Pintunya terkunci”

Mereka saling melihat satu sama lain. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jessica lemas. Air mata sudah terbentuk di matanya dan siap untuk terjatuh. Sooyoung mulai histeris, memukul dan menendang-nendang pintu yang tidak ada gunannya.

Kyuhyun memeluknya lagi, berusaha menenangkannya. Donghae mengusap kepalanya sedangkan Jessica mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak mau disini. Terlalu…. menakutkan” isaknya disela tangisannya. “Tenanglah. Aku ada disini. Untuk menjagamu” ujar Kyuhyun lembut lalu mencium kening sooyoung.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Donghae. “Kita semua tahu tidak ada yang bisa kita lakukan! Hentikan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh,pabo!” seru Kyuhyun emosi. Sunyi. Jessica menyenderkan kepalanya di pundak donghae dan dengan lembut donghae membelai rambut blonde-nya.

Sooyoung masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun dengan lembut mendekapnya, berusaha menghentikan tangisannya. Mereka berdiri sejauh mungkin dari gambar itu dan sedekat mungkin dengan pintu.

Tiba-tiba…. BRAKKK!! Sesuatu terjatuh. Mereka semua terkejut dan menatap ke arah dimana foto sooyoung terjatuh ke lantai kayi syok dan sudah agak lapuk. Sekali lagi, ekspresi syok dan horor, yang bahkan lebih jelas dari sebelumnya tergambar di wajah mereka.

Serasa seperti ada permen karet yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tidak ada satu pun kata-kata , umm.. atau lebih tepatnya teriakan yang sanggup keluar dari mulut mereka, sekeras apapun mereka sebenarnya ingin. Mereka hanya diam membantu, dengan ketakutan tak terhingga yang membayangi mereka.

Mereka melihat ke arah yang sama, ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memegang foto sooyoung. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Dia sangat lucu dan imut, neomu kyeoptta, KALAU otaknya tidak terlihat jelas dan terus berdenyut-denyut, KALAU dia tidak kehilangan setengah bagian kepalanya sehingga menampilkan organ otaknya yang menjijkan, KALAU dia mempunya kaki-kaki mungil yang berdiri mantap di lantai kayu, bukannya tentakel biru pucat yang terus bergelayutan, dan KALAU dia tidak transparan…….

TBC~~

Author jadi parno dah bikinnya malem2 –a

author saranin sih jangan baca malem-malem buat yang imannya gak kuat… tapi buat author… kurang serem yah? ckckck~

Kenapa bisa ada foto-nya sooyoung?

Siapa tuh anak kecil sebenarnya?

Bagaimana nasib KyuYoung dan HaeSica?

bagaimana dengan petualangan TaeTeuk, YoonBum, Siwon, dan Yuri?

wait in the next part~~~

Author’s POV

“Gaah.. Ayo pergi ke suatu tempat. Aku sangat bosan!” keluh sooyoung sambil meregangkan tubuhnya.  “Neh… Kita mendapat kebebasan satu hari tapi tidak ada yang bisa kita kerjakan” kata Yoona. “Kita mau pergi kemana?”tanya Jessica sambil mengintip dari atas buku yang sedang dia baca

“Bagaimana kalau…. pergi berbelanja?” Yuri menyarankan. “terdengar bagus”yang lainnya setuju. “Baiklah. Cepat, siap-siap!Kita akan pergi 30 menit lagi!”perintah Taeyeon dan degan segera dongsaeng-dongsaengnya melakukan apa yang diperintahkannya. mereka melangkah ke kamar masing-masing, berganti baju dan bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall yang sangat terkenal di Seoul (nama mallnya, pikirkan sendiri. Mau Kelapa Gading kek, mau Cilandak Town Square kek ._.) Dan pastinya, mereka menyamar, agar tidak ada fans yang mengenali mereka.  Hanya Sooyoung, Taeyeon, Jessica, Yuri, and Yoona yang tertarik untuk pergi, karena Tiffany sakit, Hyoyeon latihan gerkaan dance yang baru, Sunny sibuk menaikkan levelnya di Mario Bross, dan Seohyun terlalu sibuk belajar.

“Aku ingin membeli sepatu baru!” seru Yoona. “Ayo cari merchandise Mickey Mouse dulu” ujar Yuri. “Sepatu baru duluan!” ucap Yoona. “Annio! Mickey mouse!” Yuri berteriak. “Sepatu baru!” “Mickey mouse!” Sepatu baruuuu!!” “Mickey mouseee!!” YoonYul mulai bertengkar.

“Girls, berhenti bertengkar!”teriak sang leader, yang berhasil membuat mereka berdua terdiam “Okay. pertama, kita akan mencari sepatu baru, lalu setelah itu mickey mouse. Arasso?” ucap Sica. “Tapi… kenapa Yoona duluan?” tanya Yuri sedih. “Karena sepatu lebih penting dari Mickey mouse” kata sooyoung kejam. Yuri hendak membantah perkataannya namun, Taeyeon menyeret mereka masuk ke toko sepatu.

Merka mencari sepatu yang cocok beberapa saat lalu akhirnya menemukannya dan membelinya. “Mickey mouse! Mickey mouse!” Yuri melompat-lompat dengan semangat. “jadi… dimana tokonya?” tanyaSica. “Mungkin.. di lantai atas? Lantai 4?” usul sooyoung. “Pabo! Disini tidak ada lantai 4~” kata seseorang tiba-tiba. Mereka terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang berbicara itu

“Hey~” “Annyeong…” sapa 5 namja, yang juga sedang menyamar. “Donghae oppa! Kyuhyun oppa! Leeteuk oppa! Siwon oppa! Kibum oppa!” seru para yeoja dengan girang. “Ssssh….” Kibum memperingatkan mereka dan melihat berkeliling. Untungnya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menghiraukan mereka, yang memakai kombinasi baju-baju yang aneh, kacamata hitam, topi, dan bahkan syal.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sica. “berbelanja tentunya” jawab Siwon. “Pheww.Aku tidak tau kalau namja seperti kalian suka berbelanja.” ejek Sooyoung. “Well, aku tidak suka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan video game-ku, tapi mereka memaksaku karena aku kalah dalam permainan ular tangga” Kyuhyun mengeluh.

“Kami dipaksa berbelanja oleh member lain. Beraninya mereka! Ckck” ujar Leeteuk. “Tapi, kurasa akan menyenangkan kalau kita berbelanja bersama-sama?” usul Donghae. Para yeoja mengangguk dan tersenyum, 100% setuju dengan ide Donghae.

“Jadi, apa maksudmu dengan tidak ada lantai 4?” tanya sooyoung. Jessica memutar bola matanya. “Tidak ada lantai 4 di setiap mall di Korea, sooyoung.” ujar Jessica. “Tapi kenapa?” tanya si shikshin lagi.

“Karena angka 4 berarti kematian. Mereka percaya pada mitos ini dan berasumsi bahwa angka 4 hanya akan mendatangkan kesialan. Jadi, setelah lantai 3 langsung ke lantai 5. Ada juga yang menggunakan 3a atau 3b, tapi bukan 4.” jelas Siwon. “Tapi itu hanya mitos!” seru sooyoung lagi. “Tanya pemilik mall-nya. Hanya itu yang kami tau” kata Yuri.

“Oke, aku ingin membeli bahan makanan sekarang” kata Kibum. “Andwae! Mickey mouse-ku dulu!!” ucap Yuri tegas. “Tapi…” “Tidak ada tapi! Mickey mouse-ku!!” seruYuri. “Nde, mickey mouse-nya dulu” Yoona membela Yuri. Para namja akhirnya menyerah. Merka tau mereka tidak akan bisa mengalahkan para yeoja. Mereka terlalu keras kepala, tapi juga.. terlalu imut.

Mereka pergi ke toko yang menjual banyak barang mickey mouse. Yang lainnya melihat-lihat dengan bosan, sangat berbeda dengan Yuri yang dengan riang melihat-lihat di toko yang penuh dengan tikus lucu itu. Dia mencari dengan teliti, tidak membiarkan 1 inci sudut pun terlewatkan. Yang lainnya mengikutinya sambil mengobrol.

“Jadi… Seohyun tidak ikut?” tanya Kyuhyun yang berjalan bersebelahan dengan sooyoung. “Ye. Dia sedang belajar. Aku yakin kau pasti kecewa. Kangen padanya?” tanya sooyoung, menjaga agar suaranya tetap terdengar ceria saat hatinya tidak. “Hmm, untuk apa saat kau ada di sebelahku?” Kyuhyun bergumam tapi tidak cukup jelas untuk sooyoung dengar.

“Apa?” tanya sooyoung. “Ti.. tidak” ujar kyuhyun gugup. “Huff… ini semua membuatku lapar” Sooyoung berkata, mencoba untuk merubah topik. “Kau selalu lapar. Memangnya kapan kau kenyang?” Kyuhyun bertanya, sambil tertawa. “Saat aku mau” jawab sooyoung. “Wah… kalau begitu kau pasti tidak akan pernah mau” ejek Kyuhyun. “Yah!” Sooyoung cemberut sambil memukul legan kyuhyun. “Aigoo… kyeopta…” Kyuhyun berkata dalam hatinya. He mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yah! Apa-apaan sih?” protes sooyoung. “Kau terlalu imut…” ucap Kyuhyun, membuat pipi sooyoung memerah.

“Umm… aku tidak tau kau suka belanja, Sica?” Donghae mencoba untuk memulai percakapan. “Tidak terlalu. Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan di dorm” jawab Sica dengan dingin, yang membuat Donghae semakin gugup. “Ummh… kau mau membeli sesuatu nanti?” tanya donghae lagi. “Tidak” jawab Sica pendek.

“Apa yang ingin kau… mm… makan?” Donghae tetap berusaha dan berjuang yang tentu saja sulit dilakukan karena dia berusaha mengobrol dengan seorang ice princess. “Apapun yang lain inginkan. Asal tanpa timun ataupun sejenisnya” Sica menjawab. Donghae berpikir keras untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sica sambil mengerutkan keningnya. “Kyeopta…” batin Sica.

“Taeng… bagaimana kau bisa bertahan memiliki saudari seperti mereka?” tanya Leeteuk sambil menunjuk ke arah  YoonYul, yang sedang mengganggu si penjual dengan pertanyaan-pertanyyan bodoh seperti ‘apa kau menjual kalung yang dibeli khusus oleh Donald untuk Mickey?’ yang pastinya mereka tidak menjualnya, dan yang kedua, Donald tidak pernah membeli kalung utnuk Mickey.

Taeyeon mengangkat bahunya.”Dongsaeng-dongsaengmu jauh lebih buruk” kata taeyeon. “Yah.. kau benar” desah Leeteuk. “Kadang, menjaga mereka ber-8 itu begitu sulit. Aku berpikir kalau aku tidak akan cukup kuat untuk itu” kata Taeyeon sedih.

Leeteuk menepuk kepalanya pelan. “Kau pasti cukup kuat. Karena kau adalah Kim Taeyeon. Kau pasti bisa. Hwaitting!” ujar Leeteuk menyemangati taeyeon. “Keke. Kau benar. Hwaitting!” Taeyeon tersenyum dengan manis. “Aigo… akan kuberkan apapun untuk bisa melihat senyum itu setiap hari” batin Leeteuk.

YoonYul telah berhenti mengganggu si penjaga toko, yang membuatnya menghela nafas lega. “Unnie.. cepat… yang mana yang mau kau beli?” rengek Yoona. “tunggu sebentar, yoong… aku bingung” ujar Yuri. “Ayolah~~” Yoona terus merengek. “Arra. Uhh… andai kau sesabar Minho oppa” keluh Yuri. “Mwo? Apa dia cukup sabar untuk menungguimu memilih-milih barang mickey ini?” tanya Yoona tidak percaya.

“Tentu saja! Dia adalah yang terbaik” puji Yuri sambil membayangkan wajah Minho. “Anni anni anni. Dia tidak bisa! Akulah yang terbaik untukmu unnie…” ucap Yoona. Yuri tertawa. “Nde, nde, yoong… kau adalah yang terbaik. Karena kita yoonyul!” Yuri tersenyum. Lalu dia mengambil sebuah boneka mickey mouse dan mousepad bergambar mickey mouse.

Yang lain berjalan menuju ke supermarket dengan riang, bahagia karena mereka sudah keluar dari istana mickey mouse itu. Mereka bahkan berpikir mereka akan mati dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang mickey mouse kalau Yuri tidak cepat membayar dan keluar. Mereka semua membeli beberapa sayuran dan buah segar, tidak lupa beberapa snack, tentu saja oleh sooyoung. Mereka menghabiskan 2 jam disana.

“Apa? Jadi tiffany sakit?” Siwon bertanya dengan tampang khawatir saat Taeyeon memberitahunya. “Jangan berlebihan, oppa. Dia kan hanya flu. Dia bahkan gak sekarat kok” kata sooyoung. “Tapi… oh my… my tiffany…” ujar Siwon sedih. Yang lainnya mendesah pasrah. “Aku tau kau mencintainya. Tapi dia itu kan hanya flu. Ckck” ucap Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Lalu, mereka memutuskan untuk pergi ke game center yang membuat Kyuhyun sangat senang dan dia meloncat-loncat kegirangan. Mereka menghabiskan 2 jam disana, yang membuat mereka sulit keluar adalah kyuhyun yang bahkan harus diseret keluar oleh para hyung-nya. Note to themselves: Jangan pernah mengajak Kyuhyun ke game center.

“Omo! Handphoneku!” seru Yuri saat tidak menemukan HPnya di dalam tasnya. “Wae?” tanya Jessica. “Handphone-ku. Tidak ada…” ucap Yuri panik. “Apa kau yakin? Bagaimana bisa?” tanya Leeteuk. “Molla… eottokkae…” ujar Yuri sedih.

“Dimana kau terakhir menaruhnya? Coba ingat-ingat” kata Kibum tiba-tiba. Yuri berpikir keras sampai dia mengerutkan keningnya. Kemudian, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang lain memandangnya penasaran. “Toko mickey mouse…”

Jadi, mereka kembali ke lantai 6, dimana toko itu berada. Untungnya, HP Yuri memang ada disana. Mereka berterima kasih pada pemilik toko yang hanya membalasnya dengan tatapan muak. “Lain kali, hati-hati. Lihat sekitarmu. Jangan hanya terpaku pada tikus jelek itu” ucap Donghae.”Diam! Mickey itu tidak jelek! Dia bahkan lebih tampan darimu!” seru Yuri.

Jessica mendengus. “Bagaimana bisa tikus hitam dan kotor itu lebih tampan dari donghae oppa?” ujar Jessica. “Ooh… Jadi, unnie pikir Donghae oppa itu tampan yaa?” Yoona menggoda unnie-nya. Jessica tersipu. “Annio! Itu… aku… Hanya saja… ngg… Mickey mouse itu lebih jelek. Bukan berarti donghae itu tampan” ujar Jessica gugup.

“Cukup, cukup. Ini sudah terlalu larut. Kita harus pulang ke dorm segera” kata Leeteuk. Yang lainnya setuju. “Sebaiknya kita menggunakan lift agar lebih cepat” usul Kyuhyun.

Jadi, mereka naik lift untuk turun ke lobby. Taoi tiba-tiba, lift itu berguncang dan lampunya mati.  Para yeoja, dan bahkan Kyuhyun dan Donghae berteriak ketakutan. “A-apa… apa yang terjadi?” gumam Taeyeon. “Mungkin lift-nya macet. Tenang, guys… tenang.” Leeteuk mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya itu sambil menekan tombol darurat beberapa kali, namun sayangnya, tidak ada respon. “Kurasa kita hanya harus menunggu” kata Siwon.

“Tenang, semuanya! Tenaaaang! Yoona, berhenti menendang-nendang! Sica, berhenti berteriak dengan suara dolphinmu itu! Sooyoung, berhenti…. berhenti makan! Yuri, berhenti bergelantungan di kakiku!!” teriak Taeyeon pada dongsaeng-dpngsaengnya yang tidak bisa diatur itu. “Semuanya, TENANG!!” Taeyeon berteriak dengan suara tingginya, yang berhasil membuat semuanya tenang sambil menutup telinga mereka, menghindari ke-budek-an.

“Hey…lift-nya… berhenti di antara lantai 5 dan lantai 3” ujar Sooyoung di sela-sela waktu makannya, menyadari angka di layar hitam kecil di pojok atas lift dengan angka merah tertulis di dalamnya. Angka 5… lalu 3.. lalu 5… lalu 3… lalu 5… lalu tiba-tiba… 4. Mereka semua terkejut dan terpana. Mata mereka tertuju di satu arah. Di angka tersebut.

“Tapi… tidak ada lantai 4” bisik Kyuhyun, terlalu takut untuk bersuara keras. “Kau salah! Disini ada lantai 4 kok~” seru Sooyoung. “Tidak, sooyoung. Tidak ada lantai 4, setidaknya di mall ini” ucap Jessica. Mata mereka masih tertuju pada layar itu, berharap angka tersebut terganti.

Lalu, tiba-tiba pintu lift mulai terbuka saat sooyoung hendak membantah lagi. Mereka menatap sekitar mereka dengan ekspresi syok dan mulut yang ternganga lebar. Mereka bahkan tidak berani untuk berjalan 1 langkah pun dari tempat mereka. Leeteuk masih berusaha menekan tombol apapun di lift itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka hanya punya 1 pilihan, yang pastinya tidak mereka sukai: untuk keluar dan menghadapi apapun di hadapan mereka, di lantai 4, bagian yang hilang dari sebuah mall…

 

-TBC-

tuh kan reader… mana serem sih? Gak serem kan? Nanti author kasih adegan setannya cuma dikit kok~ kekekeke 😀

comment yahhh >.<

annyeong~~~

author comeback (?) dengan ff series yang baru… dan kali ini, author pengen coba mengasah (?) kemampuan nulis author dalam genre mystery 😀

Oh iya… mungkin ada yang udah pernah baca cerita ini di AFF, dan jangan anggap author itu copycater yah! sorry seamit-amit deh… kekeke. soalnya, yang nge-post di AFF itu… author juga! noh yang IDnya J_Ster… kekeke. Jadi, ini ceritanya sama persis sama yang author post di Asian Fanfics, tapi cuma beda bahasa aja.

Characters:

Choi Sooyoung

Im Yoon Ah

Kwon Yuri

Jung Jessica

Kim Taeyeon

Park Jungsu (Leeteuk)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kim Kibum

sinopsis:

Mereka berbelanja di sebuah mall di Seoul. Ada yang mengatakan, semua mall tidak mempunyai lantai ke-4. Karena sebuah mitos yang mengatakan angka 4 berarti kematian, dan mereka mempercayai ini dan tidak pernah membangun lantai 4 di setiap mall. Jadi, setalh lantai 3 langsung ke lantai 5.

Mereka berbelanja sampai malam. Lalu, mereka menggunakan lift untuk turu dari lantai 6, tapi tiba-tiba lift itu mandet di antara lantai 5 dan lantai 3. Dan saat pintu lift itu terbuka, mereka berada di lantai 4, yang ternyata merupakan sekolah yang sudah lama ditinggalkan, bagian yang hilang dari sebuah mall yang terhubung melalui suatu hal gaib.

Lift itu tiba-tiba menghilang, seakan-akan lift itu tidak pernah berada di sana, dan mereka ber-10, mencari, menghadapi petualangan yang hebat di hadapan mereka untuk mencari cara keluar dari sana dan kembali ke dunia mereka sendiri.

eotokkae? oeotokkae? 😀

 

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Minho POV

Inilah aku, Choi Minho berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku melangkah masuk, memasang tampang sesangar dan seseram mungkin. Hari ini, aku dan murid-murid lain mulai smemasuki semester 2, semakin mendekati ujian akhir.

Prioritasku adalah semuanya disini harus takut padaku. Yeah, aku bisa dibilang seorang pembully disini. Dan tentu saja, kemampuan berkelahi patut diacungi 4 jempol.

Temanku, ups mungkin bukan teman juga, Lee Taemin lewat di depanku sambil menunduk takut. “Heh! Kau mengganggu jalanku tau, minggir!” seruku sambil mendorongnya dengan kasar.

“Mi.. mianhae” katanya yang tersungkur di tanah. “Kau tidak boleh bilang mianhae padaku! Bilang, mianhamnida Minho-ssi. begitu!” seruku sombong.

“Mianhamnida, minho-ssi. Puas?” katanya, eh… tapi itu bukan suaranya. Itu suara seorang yeoja. Aku terkejut, dan menengok ke belakang, ke sumber suara.

Tadinya kupikir dia adalah sooyoung noona, noona kesayanganku yang selalu aku turuti perintahnya. Tapi, ternyata bukan.

Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia murid baru. Aku mengangkat alisku, menatapnya dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Hm, lumayan cantik ah annio… sangat cantik.

“Siapa kau?” tanyaku masih terus memandanginya. “Yuri noonaaa!” seru si taemin lalu menghambur dalam pelukan yeoja itu.

“Taemin-ah, gwenchana yo?” tanyanya, menyambut pelukan taemin. Taemin mengangguk. “Jadi, kau ini yeoja chingunya taemin?” tanyaku, ehm, sedikit kecewa.

“Mwo? Annio” katanya sambil tertawa. Tawa yang manis, pikirku. “Aku sepupunya. Jadi kau, choi minho yang suka taemin ceritakan itu” katanya. Sepupu? Bukankah terlalu dekat untuk dikatakan sebagai sepupu?

Taemin menunduk. “Apa yang dia katakan tentangku?” tanyaku tajam, siap menggetoknya dengan high heels yang biasa dipakai tiffany SNSD kalau-kalau taemin menjelek-jelekanku di depan yeoja ini.

“Hm, kebanyakan sih keburukanmu. Tentang bagaimana menyeramkannya kau.” katanya. Sial.. namaku pasti sudah jelek di matanya. “Tapi, kau tidak terlihat sekuat yang taemin omongkan.” lanjutnya.

“Jangan meremehkanku!” kataku sombong. Belum pernah ada orang yang meremehkanku sebelumnya! “Yah, terserah” katanya lalu menggandeng taemin.

Aku menatap kepergiannya. Yeoja ini cukup menarik, pikirku. Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tadi taemin memanggilnya apa? Apa noona? Ah, aku ini memang pelupa! Minho babo!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku berpikir tentang yeoja tadi. Dia membuatku sangat penasaran. Treeennggg! Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya aku menghabiskan jam-jam istirahatku dengan berduel dengan seseorang, tapi, sekarang aku memutuskan untuk ke kelas kakakku.

“Sooyoung noona” panggilku manja. Aku memang sangat manja pada noonaku ini. Dia sedang bercanda dengan Onew hyung, namja chingunya. Yang akhirnya aku dan Siwon hyung -kakakku juga- setujui setelah insiden ehm, sister complex.

“Wae, minho-ah?” tanyanya. “Emm.. apa ada murid baru di kelasmu?” tanyaku padanya. Dia kelihatan bingung “Annio. Tidak ada. memangnya kenapa?” jawabnya, membuatku kecewa.

“Bagaimana dengan di kelasmu, Onew hyung?” tanyaku. Dia menggeleng juga. “Tapi, kudengar ada 5 murid baru.” katanya, yang memang tau segalanya, sebagai ketua OSIS dia memang harus tau segalanya.

“Ada yang yeoja tidak?” tanyaku antusias dan to the point. “Ada. 2 orang yeoja. Yang 1, di kelas XII-C, dan yang 1 lagi di kelas XI-B.” katanya. Aku mengangguk, segera menuju ke 2 kelas tersebut.

Pertama, aku masuk ke kelas XI-B. Seketika, semua orang disana membatu, bertanya-tanya apa yang aku inginkan disana. Lihat? Bahkan kakak kelas saja takut padaku.

“Mana murid baru itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Junhyung, si ketua kelas yang sok hebat. “Aku tak ada urusan denganmu. Aku mau bertemu dengan murid baru yang masuk ke kelas ini. Mana dia?” tanyaku dingin, yang membuatnya langsung menunjuk seorng yeoja yang duduk di belakang dengan gemetaran.

Aku perhatikan dia dengan seksama. Annio. Bukan dia. Dia jelek. Jadi, aku langsung pergi dan menuju ke kelas XII-C.

Apa dia sebodoh itu sampai harus masuk kelas C? Pikirku sambil berjalan. Treeeng! Bel malah berbunyi pertanda aku harus masuk kelas segera, soalnya habis ini pelajarannya SooMan sonsaengnim. “Sial” gerutuku sambil berbalik arah menuju kelas.

Alhasil, berkali-kali aku dimarahi SooMan sonsaengnim lantaran bengong saat pelajarannya dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Pakai sihir apa sih yeoja itu? Sampai bisa mengontrolku seperti ini.

Pulang sekolah, aku buru-buru pergi ke kelas XII-C itu, sebelum dia pulang, aku harus menemuinya. “Tumben sekali tidak kudengar kau membuat keributan, minho” komentar Siwon hyung saat aku melewati kelasnya dan berpapasan dengannya. Aku hanya nyengir dan buru-buru pergi.

“Hei, mau apa kau?” tanya Doojoon, ketua kelas XII-C yang juga berandal. Aku heran bagaimana dia bisa jadi ketua kelas. Aku pernah berkelahi dengannya, dan aku menang! Sejak itu, dia ada ehm, sedikit dendam denganku.

“Mana anak baru di kelasmu?” tanyaku dingin. Sejarahku dan dia memang tidak baik. “Mau apa kau dengannya?” tanyanya penasaran. “Bukan urusanmu” kataku, mendorongnya minggir. “Hei, jangan belagu bocah!” serunya, hendak menghajarku. Aku menangkisnya.

“Aku bilang aku tak ada urusan denganmu. Jangan buat aku mematahkan tanganmu” ucapku dingin, sambil memelintir tangannya. Dia meringis kesakitan dan menyentakan tangannya hingga terlepas, lalu dengan tatapan dan aura pembunuh, meninggalkanku.

“Wow. Hebat juga” komentar seseorang. Aku menoleh padanya, dan.. itu dia! Orang yang membuatku tidak membuat masalah hari ini, tidak fokus pada pelajaran, dan dimarahi abis-abisan oleh SooMan sonsaengnim.

“Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Mau balas dendam?” tanyanya sedikit takut. Aku menggeleng “Aku… hanya penasaran” kataku. Setelah aku berhasil menemukannya, aku bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Apa iya? Kau tau, Doojoon itu orang yang menakutkan dan kau berhasil membuatnya ketakutan begitu. Aku… takut gara-gara tadi pagi kau mau balas dendam padaku” katanya.

Aku tertawa “Aku tidak mencari masalah dengan seorang yeoja” kataku dan tanpa sadar, mengacak-acak rambutnya. Setelah sadar, aku langsung menarik tanganku. Apa sih yang kupikirkan? Dia terlihat tercengan, tapi kemudian tersenyum.

“Kwon Yuri imnida. Kau? Siapa namamu?” katanya sambil menjulurkan tangannya. “Choi Minho imnida” kataku sambil tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan lalu menjabat tangannya.

Tangannya mungil, halus, dan hangat. Tangan yang membuatku tidak ingin melepasnya. Tangan yang membuatku berdebar. “Ehm, minho-ah. Kau… tidak seburuk yang kukira” katanya, menyadarkanku dan aku langsung melepas tangannya.

“Eeh… memang kau kira aku seburuk apa, yuri?” tanyaku. “Bukankah lebih baik kau memanggilku noona?” tanyanya. Oh iya, aku lupa dia lebih tua 2 tahun dariku. “Chinja. Memang kau pikir aku ini seburuk apa, Yuri noona?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lagi “Aku pikir, kau ini seorang yang menyebalkan, menjengkelkan, kasar, tak tau diri, dan sok hebat” katanya. Aku membelalakan mataku. Segitu burukkah pandangannya tentangku? “Kekeke. Mianhae… tapi, kesan pertamaku bertemu denganmu memang begitu” katanya.

“Yuri noona! Ayo pul…” seru taemin tiba-tiba, mengganggu saja! Kata-katanya terputus melihatku sedang berdua dengan yuri noona. “Eh, mianhae” katanya sambil menunduk. Uh, beruntung sekali kau lee taemin! Kalau kau bukan sepupu yuri, kau sudah ku cincang-cincang seperti daging ayam

“Minho-ah! Ternyata kau disini” seru suara yang sangat kukenal. Suaranya Siwon hyung. Dia menghampiriku. “Ayo, kita pulang. Sooyoung sudah pulang bersama On…” kata-katanya terhenti, menatap Yuri tanpa berkedip. Cih, awas saja kalau dia juga menyukai Yuri noona! Eh, juga? Maksudnya, aku menyukainya? Ah, annio. Eh, molla ~

“Yu.. yuri?” tanyanya tercengang. “Siwon oppa?” ucap yuri, sama terkejutnya. Hei, mereka saling mengenal?

“Kau… kok bisa ada disini? Bukankah kau tinggal di Amerika?” tanya Siwon. “Aku pindah ke Korea 1 minggu lalu” kata Yuri.

“hei hei… kalian saling kenal? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran. “Kau kok kenal dengan Siwon oppa?” Yuri balik bertanya. “Dia adikku” jawab Siwon. “Mwo? Adikmu?” tanya Yuri terkejut.

“Memangnya kenapa? Hyung, kok kau dan yuri noona bisa saling mengenal?” tanyaku bingung. Yuri dan Siwon saling bertatapan.

“Dia… mantan pacarku.” ucap Siwon hyung, membuatku sangat terkejut. Mantan pacar Siwon hyung? Omo!

“Hyung… kau masih mencintai Yuri noona?” tanyaku padanya, saat sampai di rumah. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau menyukainya?” tanyanya heran.

“A… annio. Cuma bertanya kok” ucapku mengelak. “Ehm, molla. Sepertinya sudah tidak. Sudah lama aku dan dia berpisah, gara-gara kepindahannya ke Amerika. Kurasa dia pun sudah melupakanku” jawabnya, membuatku sedikit lega.

“Siwon oppa! Minho-ah! Pada sedang bicara apa sih?” tanya sooyoung noona sambil masuk ke kamarku. Dia ini mengagetkan saja. Dia memang kebiasaan suka sekali masuk-masuk ke kamarku. Katanya, kamarku lebih rapi daripada kamarnya.

“Eh, ada yang ingin kutanyakan” kataku tiba-tiba. Siwon hyung langsung menoleh ke arahku, dan sooyoung noona yang merebahkan tubuhnya di kasurku langsung saja bangkit untuk duduk. “Mwoerago?” ucap mereka berdua.

“Aku… menyukai seseorang” kataku malu-malu. Lihat? Seorang pembully bisa saja malu-malu! Tapi, ini hanya kutunjukan pada saudara-saudaraku, yang bisa mengertiku.

“Siapa??” tanya Siwon hyung terkejut. “Wah, uri Minho sudah besar!” seru Sooyoung noona sambil mengacak-acak rambutku.

“Ehm, dia… yuri noona” jawabku sedikit malu. “Siapa dia?” tanya sooyoung noona polos, sedangkan Siwon hyung, yah.. dia terkejut “Yuri?! Pantas tadi kau tanya-tanya soal dia” ucapnya.

“Wah, akhirnya ada juga yang mau denganmu yang suka menganiaya orang ini” komentar sooyoung noona yang langsung aku balas dengan pelototan tajam. “Memangnya, siapa yang bilang dia mau?” kataku lemas. Mana mungkin Yuri noona menyukaiku?

“Oh, jadi bertepuk sebelah tangan?” ucap sooyoung noona sambil mengelus-elus kepalaku. Aku menyingkirkan tangannya, paling benci kalau ada orang yang mengelus kepalaku. “Aku ini tidak semenyedihkan itu kok” elakku. Mereka hanya mengangguk-angguk prihatin.

Malam hari aku lewati dengan pikiran penuh tertuju pada satu yeoja. Yuri noona. Argh.. apa aku benar-benar menyukai, ah annio… mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun aku masih memikirkannya.

Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan lingkaran hitam di bawah mataku, tidak bisa tidur karena aku terus memikirkannya. Aku masih sangat mengantuk. Apa aku bolos sekolah saja dan tidur? Ah, shireo! Aku mau bertemu dengan yuri noona!

Maka, cepat-cepat aku cuci muka, mandi, dan langsung menghabiskan sarapanku. “Cepat, Minho-ah!” seru Siwon hyung dari luar. Aku langsung keluar. Kami memang tidak pernah pamit pada orangtua kami. Kami bahkan tidak tau mereka ada di rumah atau tidak, karena begitu seringnya mereka pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk bekerja.

“Kau parah sekali. Kau tidak tidur ya?” tanya Sooyoung noona. Kuakui, memang dengan keadaan begini, ketampananku sedikit berkurang. Aku harus segar lagi! Masa Yuri noona melihatku seperti ini? Kukucek-kucek kedua mataku, tapi hasilnya malah tambah parah. Kedua kakakku hanya menggeleng-geleng.

BRUK! Doojoon menabrakku, yang aku cukup yakin sengaja. Dia bahkan tidak minta maaf dan hanya nyengir. Tapi, dalam keadaan mengantuk begini, aku tidak berselera untuk berkelahi.

“Mau apa kau?” tanyaku sambil menguap. “Jangan belagu kau, bocah! Aku ini lebih hebat darimu!” serunya di telingaku. Makhluk ini kenapa sih? Aku kan tidak mencari masalah dengannya.

Aku ini orang yang tidak mudah marah sebenarnya, walaupun pembuat onar dan suka mencari masalah. Jadi, aku mendorongnya walaupun dalam kondisi mata 5 watt.

“Hei!” serunya marah. Oke, aku sudah berhasil membuatnya marah. Dia hendak menonjokku. Wow, ini pasti seru. 2 berandalan Seoul School berkelahi LAGI untuk yang kedua kalinya. Aku menahan tonjokannya tapi dia menonjok perutku.

Susah tau, berkelahi dalam kondisi setengah tertidur seperti ini? Tapi, sekelebat kulihat Yuri noona, dan semangatku langsung bangkit. Enak saja, aku tidak mau kalah apalagi di depan yuri noona!

Aku langsung menonjok pipinya balik dan menendang perutnya dengan lututku. Dia membalas menonjok wajahku, yang kutahan, lalu kusengkat kakinya hingga dia terjatuh dan menendangnya yang meringkuk di tanah. Kuselesaikan dia dalam waktu 5 menit. Bukan lawan yang sulit.

Beberapa temannya membantunya berdiri yang kutatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung bergidik ngeri dan kabur, takut kalau nasib mereka sama seperti Doojoon.

“Jangan cari masalah” kataku dengan kejam. Kerumunan orang di sekitarku sudah bubar. Aku heran, kenapa tidak ada guru yang melerai kami.

Aku menarik seorang yang seangkatan denganku tapi beda kelas. “A.. kenapa?” tanyanya gugup. “Aku lelah. Mana minummu?” ucapku. “Aku tidak punya minum.” katanya ketakutan.

“Kalau aku ingin minum, kau harus memberiku minum” ucapku. Cepat-cepat dia pergi ke kantin untuk membelikanku minum. Aku melihat sekeliling. Tumben, sooyoung noona tidak memarahiku. Mungkin dia sudah di kelasnya.

Anak yang kusuruh tadi kembali dengan sebotol jus jeruk di tangannya yang cepat kusambar. Kubuka tutupnya, kutuang seperempatnya ke anak itu, membuat rambutnya lepek dengan jus jeruk dan dengan kejam kutuang sisanya ke Doojoon.

“Hitung-hitung kalau kau haus” kataku, melempar botol jus jeruk kosong yang mengenai kepalanya. Dia menatapku seakan ingin membunuhku saat ini juga, sedangkan anak yang kurang beruntung tadi langsung berlari pergi.

Aku hendak melangkah menuju kelasku, tapi langkahku terhenti melihat Yuri noona melihatku dengan terpana.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku mendekatinya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apanya yang bagaimana? kau ini… bagaimana ada orang sejahat kau sih?” tanyanya terkejut lalu meninggalkanku, terbengong di tengah jalan. Dia… marah padaku??

1 hari kulewati tanpa fokus ke pelajaran. Sepanjang pelajaran aku mencoba untuk tidur, yang tidak bisa kulakukan karena terus memikirkan Yuri noona. Bagaimana dia bisa marah padaku? Karena aku ini orang yang jahat? Argh… tanpa memikirkannya aku sudah cukup stress dengan mataku yang tinggal 5 watt ini.

Treeenggg! Bel istirahat. Dengan lemas, aku keluar kelas, menuju ke kelas Yuri noona, memohon penjelasannya. Aku berjalan dengan gontai. Tapi, langsung semangat melihat Yuri noona yang sedang berdiri memegang sebotol soda, hendak meminumnya.

“Ah, minggir!” seruku tak sabar, pada seseorang yang entah siapa menghalangi jalanku menuju Yuri noona. Aku mendorongnya, membuatnya terjungkal dan menabrak dinding dengan cukup keras.

“Minho-ah…” ucapnya terkejut. “Eh, ehm.. annyeong” kataku dengan canggung. Pandangannya padaku pasti sudah berubah lagi. Ahh… sial!

“Aku.. mianhae” kataku. “Untuk apa kau minta maaf?” tanyanya heran. Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku minta maaf.

“Seharusnya kau minta maaf pada mereka, yang sudah kau bully!” serunya. “Tak kusangka kau sejahat itu. Aku bahkan sekarang tau, perlakuanmu pada sepupuku, taemin. Kau ini tidak punya hati ya?!” ucapnya marah.

“Aku punya hati tau!” elakku. “Oh ya? Apa buktinya? Kau bahkan bisa dengan mudah membuat seseorang terluka” ucapnya sinis.

“Buktinya…. aku… aku bisa mencintaimu!” ucapku lirih. “Mwo??” tanyanya terkejut. Sangat sangat terkejut.

“Aku ini tadi sudah lelah tau! Tapi, aku terus berusaha mengalahkan doojoon. Kenapa? Karena kau! Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapanmu!” seruku.

“Setiap hari, setiap malam, bahkan di mimpiku pun, aku memikirkanmu. Selama pelajaran, aku memikirkanmu. Aku tidak bisa, membiarkan 1 detiku hidupku pun, melepaskan pikiranku darimu semenjak aku melihatmu” tambahku lagi.

Dia terdiam dan melongo. “Aku takut, saat Siwon hyung bilang kau adalah mantannya. Takut kalau aku harus bersaing dengan hyung-ku sendiri. Aku tidak lagi membully taemin, takut kau akan membenciku. Itu semua sudah jelas kan?!”

“Noona neomu yeppeo! Kwon Yuri… saranghae!” seruku, mengeluarkan semua yang kurasakan, membuat semua orang melihat ke arah kami, tapi aku tak peduli. Aku harus mengatakan ini semua padanya.

Dia tampak sangat terkejut. “Aku…” Aku memejamkan mataku, takut kalau perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan.

“Na do saranghae.” katanya lirih, membuatku membelalak menatapnya. “Aku kecewa dengan sikapmu yang seperti ini, ingin merubah semua sikapmu, supaya kau menjadi lebih baik. AKu sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.”

“Kau memiliki karisma, itu yang kusuka darimu. Aku bahkan sekarang sudah mencintaimu, seiring berjalannya waktu, perasaan itu semakin kuat. Aku bahkan tidak mengerti kenapa, aku bisa mencintai seorang penjahat sepertimu.”

AKu memeluknya. Tingginya bahkan tidak sampai melebihi daguku. Aku memeluknya, merengkuhnya. “Aku berjanji. Aku akan berubah. Seperti yang kau mau.” ucapku.

“Chinja?” tanyanya, masih dalam pelukanku. “Nde” ucapku dengan tulus. Apapun, apapun yang noona cantik ini inginkan, aku akan menyetujuinya.

Dia mau aku bertobat? Menjadi anak baik? No prob!

Semua orang menatapku, saat pagi hari aku melangkah masuk ke sekolah tercintaku, Seoul school. Aku tidak mendorong atau membentak siapa pun pagi ini. Today is the new Choi Minho’s time.

Aku memakai seragamku dengan benar, memasang senyuman yang ramah. Bukan senyum terpaksa kok! Ini senyum tulus, bahagia karena Yuri noona sudah jadi milikku sekarang.

“Noona…” seruku sambil memeluknya dari belakang. “noona, kau cantik sekali hari ini” pujiku sambil mengelus kepalanya. “Oh, jadi aku cantik hanya hari ini?” godanya. “Annio” jawabku sambil menggeleng dengan manja.

“Noona neomu yeppeo… today, yesterday, tomorrow, everyday, for-e-ver!” ucapku sambil mencium keningnya. Inilah yeoja yang bisa merubah hidup seorang Choi Minho. Seorang yeoja cantik yang bernama Kwon Yuri.

-The end-

Who’s MinYul shipper here? 😀 gimana menurut kalian? hehe

mohon comment yah >.<