Posts Tagged ‘Taeyeon’

Author’s POV

“Gyaah! Dimana Kyuhyun dan Sooyoung?” tanya Taeyeon kaget dan sedikit cemas, saat tidak melihat tanda-tanda keberadaan si shikshin dan si gamer itu. “Pertanyaan yang sama untuk Jessica dan Donghae” tambah Leeteuk .

“Aisssh… bocah-bocah itu!” keluh Kibum. “Aku akan mencari mereka. Kalian… cari petunjuk itu” perintah Leeteuk. “Kau tidak bisa pergi sendiri oppa. Aku bersamamu” ujar Taeyeon. “Tidak. Kami bersamamu” tambah Yoona.

“Ayolah… kita semua ada di gedung yang sama. Kita tidak akan tersesat. Kita akan menemukan satu sama lain dengan mudah. Aku hanya ingin meyakinkan kalau yang lain baik-baik saja. Perasaanku tidak enak” kata Leeteuk. “Arraso. Tapi aku ikut denganmu oppa” ucap Taeyeon dengan keras kepala. “Ne” jawab Leeteuk sambil mengangguk.

Lalu, mereka berjalan perlahan, meninggalkan Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum, kembali ke jalan yang mereka lalui tadi. “Oppa, dimana mereka menurutmu?” tanya Taeyeon. “Molla. Tapi aku berani bersumpah mereka masih di belakang kita 15 menit yang lalu.” ujar Leeteuk. Taeyeon mengangguk setuju.

“Hey… mungkin mereka disana” kata Taeyeon, menunjuk ke arah sebuah ruangan. Ruangan musik dan seni. Leeteuk melihat ke arah yang ditunjuk Taeyeon dan leihat 4 bayangan orang yang sedang mengobrol dan bercanda.

“Bocah bocah itu! Kita begitu cemas tentang mereka dan sekarang mereka tertawa seperti bayi yang tidak berdosa! Tidak akan! Mereka akan menerima hukuman merek” gerutu Leeteuk. Lalu, dia dan Taeyeon masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Bahkan ruangan itu menjadi lebih sempit karena banyaknya barang seperti piano tua, beberapa biola dan cello, beberapa lukisan yang sudah dilapisi debu, patung-patung tanah liat, dan beberapa barang yang tidak mereka kenali.

Sebuah piano tua besar terletak di belakang ruangan dan mereka ber-4 memainkan tutsnya bergantian. 3 patung tanah liat diletakkan di sebelah kanan mereka, seakan memantau mereka dan tidak melewatkan satu pun gerakan mereka.

“Yah! Kyuhyun! Sooyoung! Donghae! Jessica!” Taeyeon berteriak pada mereka. Mereka membelakangi kedua leader itu. Mereka tetap tertawa dan mengobrolkan sesuatu yang tidak terdengar jelas oleh Leeteuk dan Taeyeon. “Kalian ber-4! Berbalik! Sekarang!” seru Leeteuk. Perlahan, mereka semua berbalik.

“Asta-” Taeyeon bahkan tidak punya keberanian lagi untuk melanjutkan kata-katanya. Dia spontan sembunyi di belakang Leeteuk dan menatap 4 sosok di depan mereka dengan ketakutan. Seperti ada yang menggumpal di tenggorokan mereka, mencegah mereka untuk berbicara sepatah kata pun.

4 sosok itu, bagaimanapun bukanlah dongsaeng-dongsaeng mereka. Perlahan, wajah mereka berubah menjadi semakin gelap dan gelap, seakan-akan seluruh wajah mereka, hidung, mata, dan mulut mereka dihisap kedalam.

Tubuh mereka semakin membesar, mengoyakkan semua pakaian mereka dan kulit mereka menjadi seputih dan sepucat tembok yang mengelilingi mereka. Mereka berubah menjadi 4 makhluk besar dengan wajah yang seperti lubang hitam tak berdasar.

Mereka ber-4 maju mendekati 2 leader yang ketakutan itu. Leeteuk berusaha keras menarik, mendobrak, dan mendorong pintu itu. “o-oppa… cepat…” ujar Taeyeon. Akhirnya dia bisa mengeluarkan suaranya. “Tidak bisa. Pintunya… ter…terkunci…” ujar Leeteuk panik.

Lalu tiba-tiba, sebuah melodi yang terdengar seperti lullaby bergema di sekitar ruangan. Mereka melihat piano tua itu memainkan serangkaian nada yang aneh, sendiri. Tanpa ada yang memainkannya. Melodi itu bukan melodi yang indah. Melodi itu menyeramnkan, memberikan sensai mual dan getaran ketakutan yang menjalari tubuh Leeteuk dan Taeyeon yang membuat mereka menutup telinga mereka.

Dengan setiap nada yang dihasilkan, mimpi buruk mereka yang lain datang, seakan semua yang sudah terjadi tidak cukup membuat mereka menderita. 3 patung tanah liat yang dari tadi hanya menonton, kini berdiri dengan kaku dan menyeringai, mempertunjukkan gigi-gigi yang paling jelek dan bersama dengan monster tidak berwajah itu, mereka mendekati TaeTeuk.

“OAAAAA…” Taeyeon berteriak panik dan takut saat dua patung itu menarik tangannya dengan kasar. “O-oppa… tolong…” ucapnya. “Yah! Lepaskan dia monster sialan!!” seru Leeteuk panik dan langsung menarik taeyeon, mencoba mendorong monster-monster itu. Tapi, monster-monster itu jauh lebih kuat dari Leeteuk.

“Taeyeon-ah! O-omo…” Leeteuk berkata dalam ketakutan, melihat apa yang terjadi selanjutnya. Makhluk tak berwajah itu, satu per satu, menghisap wajah Taeyeon dengan ‘wajah’ mereka sementara patung-patung yang hidup itu menahan Taeyeon. Leeteuk menutup matanya dengan rapat, terlalu takut untuk melihat pemandangan menyeramkan itu.

Taeyeon memberontak, tapi percuma. Makhluk-makhluk itu terlalu kuat dan energi mereka membuat taeyeon lemah. Mereka menghisap semua kebahagiaan dan kenangan-kenangan indah dari Taeyeon (cara kerjanya kayak dementor di harry potter >o<).

Perlahan, semua flashback ingatan masa lalunya, saat pertama dia trainee di SM, saat dia debut dengan into the new world bersama 8 dongsaengnya, saat dia pertama kali bertemu Leeteuk, saat SNSD melakukan konser pertamanya. Semua kenangan itu melintas di depan matanya dan dihisap oleh makhluk itu. Air mata sudah mengalir membasahi pipi taeyeon.

Leeteuk perlahan membuka matanya. Melodi dari piano itu telah berhenti dan ke-4 sosok mengerikan itu sudah hilang. 3 patung yang semula menyeringai jahat itu sudah duduk kembali di tempatnya, berakting seolah tidak tau apa-apa. “Taeyeon-ah?” panggil Leeteuk khawatir.

Taeyeon perlahan berbalik menatap Leeteuk. “Taeyeon.. apa yang terjadi?” tanya Leeteuk sedikit takut dan mendekati Taeyeon. “Taeyeo-archhhhh” Leeteuk berteriak kesakitan dan kaget saat Taeyeon tiba-tiba menyerangnya dengan mencakari wajahnya.

“Sejak kapan kau punya kuku dan cakar setajam itu?” protes Leeteuk. “Dan… sejak… kapan… matamu seluruhnya…pu..putih?” desisnya tidak percaya. Taeyeon menatapnya lurus. Matanya seluruhnya putih tanpa ada bola mata coklat atau hitam setitik pun di tengahnya. Taeyeon menatapnya tanpa ekspresi tapi kemudian menyeringai, menampakan taringnya yang tajam.

****************

Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum berjalan di lantai satu sekarang. “Kibum, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon saat Kibum berjalan bergerak mendekati sekumpulan loker-loker.

Kibum mendekati sebuah loker lalu tanpa usaha yang berat berhasil membukanya. “Kenapa kau membuka loker itu?” tanya Yuri bingung. “Ada tulisan ‘Kim Ki Bum’ di pintu lokerya” ujar Kibum sama bingungnya.

Mereka melihat ke dalamnya dengan raut wajah penasaran. Tapi yang mereka temukan hanyalah secarik kertas yang sudah terkoyak namun masih bisa dibaca dengan cukup jelas. “Apa itu?” tanya Yoona heran. “Biar kulihat” ucap Yuri sambil mencoba mengambil kertas itu dari tangan Kibum. Tapi, kibum tidak membiarkannya “Aku yang akan membacanya” kata Kibum.

Pintu tak terlihat. Tidak di Utara, atau Selatan, tidak juga di Barat, atau Timur.

4 kunci yang tidak dapat ditebak.

Kematian sedang menunggu.

Mencari yang terakhir sampai sekarat.

Tapi aku masih mencari.

Kim Ki Bum.

Dia membacanya dengan keras dan hanya terdengar suaranya yang bergema di gedung kosong itu. “Kau menulisnya?” tanya Yuri bingung. “Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa?” ucap Kibum. “Mungkin Kibum yang lain. Ada berjuta-juta Kibum di Korea” ujar Yoona. Mereka menganggapnya sebagai jawaban yang paling masuk akal.

“Tapi apa artinya?” tanya Yuri bingung. “Mungkin… ini.. teka-teki?” tanya Kibum. “Ne! Mungkin ini teka-teki yang harus dipecahkan untuk keluar dari sini!” ujar Siwon semangat.

“Hmm… masuk akal. Soalnya itu membicarakan pintu. Dan kunci” ucap Yoona. “Tapi… bagaimana kita mencari pintu itu kalau pintu itu tidak terlihat?” tanya Yuri heran “Dan mengapa ada 4 kunci kalau pintunya hanya satu?” tambah Siwon.

Kibum mengangkat pundaknya pertanda dia juga tidak mengerti. “Kita harus mengikuti petunjuknya. Mungkin, hanya mungkin, ini satu-satunya cara supaya kita bisa keluar” kata Kibum dengan tenang. “Bagaimana kau masih bisa setenang itu oppa?” tanya Yoona kagum. “Aku tidak setenang itu. bagian ‘kematian sedang menunggu’ membuatku takut” Kibum mengakui. “Nde… tidak ada yang menyukai bagian itu” ucap Siwon.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangisan. Mereka melihat satu sama lain, ragu akan apa yang seharusnya mereka lakukan. “Kita sia-sia saja kalau tidak tau apa yang terjadi dan diam disini” Siwon menyimpulkan. Yang lain mengangguk dan berbelok ke koridor kiri, dimana asal suara tangisan tersebut datang.

Suara itu berasal dari laboratorium IPA. Yoona menelan ludahnya. “Aku tidak pernah menyukai lab IPA” ujarnya takut. Kibum mengenggam tangannya untuk menenangkannya. Siwon memimpin jalan mereka, membuka pintu lab yang menghasilkan suara ‘krek’ pelan.

Lab itu cukup besar untuk menampung 50 orang dewasa di dalamnya. Ada 10 meja besar dengan sebuah mikroskop di atasnya , beberapa alat bedah, dan banyak tabung reaksi yang berisi cairan kuning, hijau, dan biru elektrik di dalamnya. Ada 2 prosesor, 5 akuarium yang berisi hewan-hewan langka yang diawetkan dan banyak hewan lainnya yang tidak mereka ketahui spesiesnya. Ada juga 4 tengkorak yang paling membuat mereka takut, dan banyak lagi alat peraga. (spesial thanks buat lab IPA sekolah gue, yang jadi patokan deskripsiinnya xD)

“Apa? Woa–” Mereka terkejut, melihat seorang anak perempuan kecil yang menangis. “Bagaimana bisa ada seorang anak perempuan disini?” desis Yuri sedikit takut kalau-kalau anak itu akan berubah menjadi hantu mengerikan. Anak perempuan itu cantik dan manis, dengan balutan gaun imut warna pink muda, dan rambut berwarna tembaga yang dikepang. “Annyeong~ Kau siapa?” tanya Yoona lembut.

“Aku tidak bisa pulang…” tangisnya. “Oppa ku meninggalkanku” tambahnya dengan puppy eyes-nya. “Ahh… mungkin nasibnya sama seperti kita” ujar Yoona luluh. Mereka mendekati gadis mungil itu.

“Jangan menangis, sweety… Ayo, pergi bersama unnie” ujar Yoona lembut. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya melihat ke arah mereka dengan berbinar-binar. “Jinjja unnie?” tanyanya penuh harap. Mereka semua sudah luluh dengan kemanisan dan kepolosan gadis kecil ini. Mereka mengangguk mantap. “Siapa namamu?” tanya Yuri.

“Nama… ku?” ulang gadis kecil itu ragu-ragu. Mereka mengangguk penuh semangat. “Oppa bilang aku tidak boleh memberitahu namaku pada orang asing” kata si gadis polos. Mereka tertawa melihat kepolosannya. “Arra. Hm, Yoona imida. Ini kembaranku, Yuri, kakak iparku, Siwon, dan mm…. chingu-ku, Kibum” ujar Yoona.

“Yoona? Yu… yuri? Si… siwun? Kibum?” Gadis itu mencoba untuk mengingat nama mereka semua satu per satu. “Anniyo. Siwon! Si…won. Si-won” ujar Siwon membetulkan namanya. “Si…won?” ujar gadis kecil itu dengan lucu. “Nde! Benar, gadis pintar”kata Siwon sambil tersenyum, menampakkan lesung pipinya.

“Ayo pergi. Kita harus menemukan kunci-kunci itu dimanapun mereka” kata Kibum dan berjalan menuju pintu. “Sial!” seru Siwon kesal sambil menendangi pintu. “Terkunci” gumamnya. Mereka mendesah kesal. Mereksa sepertinya sudah terbiasa terkunci di ruangan. Lalu tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin dan asap berwarna hijau pucat mengelilingi mereka entah darimana.

“Apa… apa ini…” ujar Yoona takut sambil mengenggap lengan Kibum dengan kencang. “Oppa-ku sudah datang!” seru gadis kecil itu senang. “Siapa… oppa-mu itu sebenarnya?” tanya Siwon curiga. “Itu dia!” tunjuk gadis itu. Mereka semua melihat ke arah yang dia tunjuk. “WOOAAA!!KYAAA!!” mereka berteriak ketakutan melihat’nya’ yang datang mendekat.

Advertisements

Author’s POV

“A-apa… yang harus kita lakukan?” tanya Yuri dengan suara serak karena takut. Sunyi. Yang lainnya juga tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang. “Kita tidak bisa diam disini selamanya. Setidaknya kita harus bergerak” kata Kibum. Aneh memang bagaimana suaranya masih setenang itu si keadaan seperti ini.

“Dia benar… kita harus… mencoba” Siwon mendukungnya. Yang lainnya mengangguk. Mereka menyadari itulah pilihan mereka satu-satunya. Dan… dimulailah petualangan mereka!

Leeteuk, Kibum, dan Siwon berjalan di depan, memimpin perjalanan mereka karena merekalah yang paling berani. Para yeoja di belakangnya sedangkan Donghae dan Kyuhyun berada di paling belakang. Mereka berbalik untuk melihat lift itu yang terakhir kalinya. Tapi, tidak ada tanda-tanda bahwa lift itu pernah berada disana. Hilang. Lenyap. Lift itu telah hilang, menyisakan dinding batu-bata yag kosong.

Mereka mengenali bangunan itu sebagai sebuah sekolah, yang pastinya sudah ditinggal sangat lama. Tidak ada satupun sumber cahaya disana. Tidak lampu, cahaya matahari, atau bahkan cahaya bulan. Seakan-akan cahaya dilarang untuk masuk.

Tapi, ada sesuatu yang mereka tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang memancarkan cahaya hijau pucat di sekeliling ruangan. Sesuatu yang mereka tidak sukai.

Mereka berjalan di koridor, melewati beberapa ruang kelas. Ruang kelas itu, seperti keadaan di sekeliling mereka sangat kotor, gelap, suram, dan tertutup oleh debu yang lebih tebal dari sebuah kamus. Tapi, ada satu hal yang aneh. Yaitu semua perabotan, semua benda disitu masih lengkap dan ditempatkan dengan sangat rapi.

Mereka semua terlalu takut untuk berbicara. Hanya ada suara langkah kaki mereka, yang lebih kencang dari seharusnya, menggema di udara yang lembab.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan yang aneh pada lantai kayu. Seakan-akan, setiap langkah yang mereka ambil, keadaan sekitar mereka semakin gelap dan gelap. “Aku rasa… kita harus mencari pintu keluar” ujar Leeteuk, orang yang paling pertama mengendalikan rasa takutnya.

Mereka semua mengangguk setuju dan melangkah dengan hati-hati meuruni tangga kayu yang rapuh karena sudah lapuk, mencoba mencari-cari letak pintu keluar karena sekolah itu bukan sekolah yang kecil.

“Sial! Dikunci dari luar!” seru Kyuhyun marah. Dia sudah mulai emosi dengan keadaan ini. “Apa??!” Yang lain berseru terkejut dan takut. “Aku tidak mau tinggal disini…” seru Yoona. “Aku mau pulang!!” teriak Jessica.

“Tenang, semuanya… tenang…” ujar Taeyeon, mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya sementara dia sendiri juga berusaha menenangkan rasa takutnya sendiri. Siwon mencoba menelepon untuk meminta bantuan. “Argh! What the hell!! Tidak ada sinyal!!” serunya frustasi. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka semua.

“Mungkin kita hanya harus menunggu. Aku cukup yakin besok pagi akan ada orang yang menolong kita” ujar Kibum. Karena merasa tidak ada pilihan lain, yang lainnya setuju dan mengangguk pasrah. “Tapi… dimana kita akan tidur?” tanya Donghae. “Mwo? Annio! Aku tidak akan tidur di tempat seperti ini! Aku memilih untuk tidak tidur sampai subuh” ucap Sooyoung.

“Kau tidak akan tahan!” ujar Jessica. “Tapi… tempat ini tidak layak. Terlalu menakutkan. Bagaimana kalau nanti ada han- pfffft” Yuri menutup mulut Sooyoung sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Jangan buat kami semakin takut” ujarnya.

“Ayo kita berpura-pura bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan saat kita terbangun, kita sudah ada di dorm kita lagi” gumam Taeyeon. Ini memang terdengar mustahil, tapi yang mereka punya sekarang memang hanya tinggal harapan. “Tapi, bukankah terlalu pagi untuk tidur?” ujar Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kita mengitari sekolah ini. Mungkin kita bisa mendapat informasi tentang apa dan dimana sekolah ini sebenarnya” usul Siwon. “Andwae! Bagaimana kalau sesuatu terjadi?” tanya Yoona takut. “Well, kalau ada sesuatu yang terjadi, kau mempunyaiku untuk melindungimu” kata Kibum sambil tersenyum pada yoona yang membuat pipinya memerah.

“Aigoo… dalam situasi seperti ini dan kau masih sempat-sempatnya nge-gombal? Nicee~” ejek Leeteuk. “Tapi, kurasa Siwon ada benarnya. Kita tidak mendapat apa-apa kalau hanya berdiam diri disini. Setidaknya kita pasti mendapat sesuatu kalau kita bergerak. Kita kan ber-10. S-E-P-U-L-U-H” kata Jessica.

“Tapi… bagaimana kalau ada hantu, atau hal-hal sejenisnya? Biasanya hal-hal seperti itu ada di tempat yang sudah lama ditinggal” kata Sooyoung takut. “Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Itu hanya mitos” kata Taeyeon. “Kalau begitu jelaskan bagaimana kita bisa disini” ujar Kyuhyun. Taeyeon tidak menjawab.

“Okay guys. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian. Anggap saja, kita bisa berada disini sekarang, karena dewi keberuntungan sedang tidak ada di pihak kita. Diam disini, ketakutan dan menangis seperti bayi tidak akan merubah apapun dan membantu kita keluar dari situasi ini. Kita harus berani, atau setidaknya, mencoba untuk berani” kata Leeteuk, menyemangati dongsaeng-dongsaengnya.

mereka terdiam. Mereka semua tau, Leeteuk benar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, atau setidaknya mencoba untuk berani. Akhirnya mereka menggangguk setuju dan saling menyemangati. “Hwaiting!!” seru mereka.

Lalu, mereka menaiki tangga kayu yang sama, menuju ke lantai atas, mencari petunjuk yang bisa memberitahu mereka tempat apa itu sebenarnya. “Ruangan ini sepertinya bagus” ujar Kyuhyun, menunjuk ke arah plat kayu usang yang tergantung di atas sebuah ruangan, bertuliskan “Ruang Guru”. Mereka melihat satu sama lain lalu akhirnya memutuskan untuk masuk.

Ruangan itu sangat besar untuk ukuran sebuah ruang guru. Ada 2 sofa yang ditempatkan berhadap-hadapan si sisi kiri mereka dan 5 komputer yang ditempatkan di seberangnya. Sebuah foto, yang mereka asumsikan sebagai foto sang pendiri sekolah, tergantung rapuh di dinding sebelah kanan mereka. Detail yang lain tidak dapat mereka lihat dengan jelas karena keadaannya terlalu gelap untuk mata mereka yang walaupun sudah cukup terbiasa dengan kondisi kegelapan itu.

“Pasti ada dokumen atau apapun tentang sekolah ini” ujar Kibum. “Ne! Aku yakin kita kesini bukan untuk hal yang sia-sia. Pasti ada yang bisa kita temukan” ujar Yoona. Kyuhyun dan Donghae mulai mencari di laci dan lemari, sedangkan Sooyoung mencari di kulkas, yang tentu saja tidak ditemukan apapun disana.

“Hey! Aku meneukan sesuatu!” seru Siwon. Mereka semua berlari menuju ke meja ke-3 dari pojok kanan, tempat dimana Siwon berada. Dia mengambil HPnya untuk ekstra cahaya. “Aku memerlukan cahaya lagi” gumamnya. Leeteuk dan Yuri menyalakan HP mereka untuk memberi Siwon lebih banyak cahaya.

“Draft Dokumen Sekolah” ujar Siwon, membaca jusul dari kertas usang yang sudah robek-robek dan menguning. Mereka semua terdiam, mendengarkan Siwon, membiarkan suaranya bergema di ruangan yang kosong dan menyeramkan itu.

Draft dokumen sekolah

Sin Bi High School

##########, Korea Selatan

876-444-#####

dibangun oleh: ### Joo Ji, 4 April 1844

Visi:

Sekolah ini adalah ######## para siswa untuk ######### dengan sikap yang baik dan sopan santun yang tinggi ########

Misi:

1. Untuk ##### dengan pantas ######### dan ###### bagi negara dan bangsa

2. Untuk membangun ############## yang baik dalam toleransi yang tinggi

3. #####################################

Sin Bi high school menyambut semua########### dan ### murid yang ###############

Dengan hormat,

Kepala sekol##

Park #### Kyung

4 April 1990

“Ada banyak bagian yang tak terbaca (Bagian ###)” kata Siwon. “Sin Bi high school? Sepertinya aku pernah mendengarnya” kata Jessica. “Setidaknya kita sekarang tau apa nama tempat ini” kata Kyuhyun. “Itu tidak membantu sama sekali! Kita bahkan tidak tau di daerah mana kita berada” ujar Donghae. “Setidaknya kita masih ada di Korea Selatan~” ujar Yoona.

“Ayo pergi. Kurasa tidak ada lagi yang bisa ditemukan di tempat ini” ujar Leeteuk. Yang lainnya mengiyakan lalu pergi keluar. Mereka menaiki tangga menuju ke lantai atas. “Tu-tunggu…” gumam Sooyoung. Dia berhenti di sebuah ruang kelas. “Wae-yo sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun bingung.

Sooyoung tidak mempedulikannya dan hanya menatap ruang kelas itu. Kyuhyun, Jessica, dan Donghae, yang berjalan paling belakang, merasa penasaran dan ikut berhenti di depan ruang kelas itu, tidak menyadari bahwa yang lain sudah meninggalkan mereka .

Tanpa mengatakan sepatah katapun, sooyoung membuka pintunya dan berjalan masuk. Yang lain menatapnya heran, tapi bertekad untuk tidak meninggalkannya sendirian, mereka mengikuti sang shikshin masuk ke dalam kelas tersebut.

Kelas itu, sama seperti kebanyakan kelas, memiliki sedikitnya 15 meja dengan sepasang kursi di tiap mejanya. Yang membuatnya berbeda adalah adanya banyak sekali foto yang tergantung kaku di atas dinding. Foto-foto itu semuanya adalah wajah seseorang dan seakan-akan mereka sedang menatap tajam 4 orang yang berdiri dengan takut di dalam kelas itu.

“AAAAAA!!!” Sooyoung berteriak ketakutan, memeluk Kyuhyun sebagai reflek. “Apa? Wae?” tanya Kyuhyun bingung, walaupun senang karena sooyoung memeluknya. “O-oppa… i… it.. itu..” ujar Sooyoung takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada kyuhyun sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan, ketiga dari paling kiri. Mereka semua melihat ke arah yang sooyoung tunjukkan. Seketika mereka syok dan ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

“Bagaimana mungkin…” desis Donghae tidak percaya. Sementara itu, Jessica menatap gambar itu dengan syok dan mengencangkan genggamannya pada lengan donghae. Kyuhyun masih memeluk sooyoung yang sedang menangis, menatap gambar itu dengan pahit.

Itu adalah gambar wajah sooyoung secara close-up, dengan darah merah kental di bagian mulut dan hidungnya, dan tampak sesuatu yang salah pada matanya. Seperti hendak dicongkel keluar tapi tidak berhasil.

“Ayo keluar dari sini” perintah Kyuhyun. Yang lain langsung setuju tanpa berpikir lagi. Tapi… “Sial!” seru DOnghae marah sambil menendang pintunya. “Wae?” tanya Jessica takut. Mereka semua sudah tau jawabannya. “Pintunya terkunci”

Mereka saling melihat satu sama lain. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jessica lemas. Air mata sudah terbentuk di matanya dan siap untuk terjatuh. Sooyoung mulai histeris, memukul dan menendang-nendang pintu yang tidak ada gunannya.

Kyuhyun memeluknya lagi, berusaha menenangkannya. Donghae mengusap kepalanya sedangkan Jessica mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak mau disini. Terlalu…. menakutkan” isaknya disela tangisannya. “Tenanglah. Aku ada disini. Untuk menjagamu” ujar Kyuhyun lembut lalu mencium kening sooyoung.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Donghae. “Kita semua tahu tidak ada yang bisa kita lakukan! Hentikan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh,pabo!” seru Kyuhyun emosi. Sunyi. Jessica menyenderkan kepalanya di pundak donghae dan dengan lembut donghae membelai rambut blonde-nya.

Sooyoung masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun dengan lembut mendekapnya, berusaha menghentikan tangisannya. Mereka berdiri sejauh mungkin dari gambar itu dan sedekat mungkin dengan pintu.

Tiba-tiba…. BRAKKK!! Sesuatu terjatuh. Mereka semua terkejut dan menatap ke arah dimana foto sooyoung terjatuh ke lantai kayi syok dan sudah agak lapuk. Sekali lagi, ekspresi syok dan horor, yang bahkan lebih jelas dari sebelumnya tergambar di wajah mereka.

Serasa seperti ada permen karet yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tidak ada satu pun kata-kata , umm.. atau lebih tepatnya teriakan yang sanggup keluar dari mulut mereka, sekeras apapun mereka sebenarnya ingin. Mereka hanya diam membantu, dengan ketakutan tak terhingga yang membayangi mereka.

Mereka melihat ke arah yang sama, ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memegang foto sooyoung. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Dia sangat lucu dan imut, neomu kyeoptta, KALAU otaknya tidak terlihat jelas dan terus berdenyut-denyut, KALAU dia tidak kehilangan setengah bagian kepalanya sehingga menampilkan organ otaknya yang menjijkan, KALAU dia mempunya kaki-kaki mungil yang berdiri mantap di lantai kayu, bukannya tentakel biru pucat yang terus bergelayutan, dan KALAU dia tidak transparan…….

TBC~~

Author jadi parno dah bikinnya malem2 –a

author saranin sih jangan baca malem-malem buat yang imannya gak kuat… tapi buat author… kurang serem yah? ckckck~

Kenapa bisa ada foto-nya sooyoung?

Siapa tuh anak kecil sebenarnya?

Bagaimana nasib KyuYoung dan HaeSica?

bagaimana dengan petualangan TaeTeuk, YoonBum, Siwon, dan Yuri?

wait in the next part~~~

Author’s POV

“Gaah.. Ayo pergi ke suatu tempat. Aku sangat bosan!” keluh sooyoung sambil meregangkan tubuhnya.  “Neh… Kita mendapat kebebasan satu hari tapi tidak ada yang bisa kita kerjakan” kata Yoona. “Kita mau pergi kemana?”tanya Jessica sambil mengintip dari atas buku yang sedang dia baca

“Bagaimana kalau…. pergi berbelanja?” Yuri menyarankan. “terdengar bagus”yang lainnya setuju. “Baiklah. Cepat, siap-siap!Kita akan pergi 30 menit lagi!”perintah Taeyeon dan degan segera dongsaeng-dongsaengnya melakukan apa yang diperintahkannya. mereka melangkah ke kamar masing-masing, berganti baju dan bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall yang sangat terkenal di Seoul (nama mallnya, pikirkan sendiri. Mau Kelapa Gading kek, mau Cilandak Town Square kek ._.) Dan pastinya, mereka menyamar, agar tidak ada fans yang mengenali mereka.  Hanya Sooyoung, Taeyeon, Jessica, Yuri, and Yoona yang tertarik untuk pergi, karena Tiffany sakit, Hyoyeon latihan gerkaan dance yang baru, Sunny sibuk menaikkan levelnya di Mario Bross, dan Seohyun terlalu sibuk belajar.

“Aku ingin membeli sepatu baru!” seru Yoona. “Ayo cari merchandise Mickey Mouse dulu” ujar Yuri. “Sepatu baru duluan!” ucap Yoona. “Annio! Mickey mouse!” Yuri berteriak. “Sepatu baru!” “Mickey mouse!” Sepatu baruuuu!!” “Mickey mouseee!!” YoonYul mulai bertengkar.

“Girls, berhenti bertengkar!”teriak sang leader, yang berhasil membuat mereka berdua terdiam “Okay. pertama, kita akan mencari sepatu baru, lalu setelah itu mickey mouse. Arasso?” ucap Sica. “Tapi… kenapa Yoona duluan?” tanya Yuri sedih. “Karena sepatu lebih penting dari Mickey mouse” kata sooyoung kejam. Yuri hendak membantah perkataannya namun, Taeyeon menyeret mereka masuk ke toko sepatu.

Merka mencari sepatu yang cocok beberapa saat lalu akhirnya menemukannya dan membelinya. “Mickey mouse! Mickey mouse!” Yuri melompat-lompat dengan semangat. “jadi… dimana tokonya?” tanyaSica. “Mungkin.. di lantai atas? Lantai 4?” usul sooyoung. “Pabo! Disini tidak ada lantai 4~” kata seseorang tiba-tiba. Mereka terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang berbicara itu

“Hey~” “Annyeong…” sapa 5 namja, yang juga sedang menyamar. “Donghae oppa! Kyuhyun oppa! Leeteuk oppa! Siwon oppa! Kibum oppa!” seru para yeoja dengan girang. “Ssssh….” Kibum memperingatkan mereka dan melihat berkeliling. Untungnya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menghiraukan mereka, yang memakai kombinasi baju-baju yang aneh, kacamata hitam, topi, dan bahkan syal.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sica. “berbelanja tentunya” jawab Siwon. “Pheww.Aku tidak tau kalau namja seperti kalian suka berbelanja.” ejek Sooyoung. “Well, aku tidak suka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan video game-ku, tapi mereka memaksaku karena aku kalah dalam permainan ular tangga” Kyuhyun mengeluh.

“Kami dipaksa berbelanja oleh member lain. Beraninya mereka! Ckck” ujar Leeteuk. “Tapi, kurasa akan menyenangkan kalau kita berbelanja bersama-sama?” usul Donghae. Para yeoja mengangguk dan tersenyum, 100% setuju dengan ide Donghae.

“Jadi, apa maksudmu dengan tidak ada lantai 4?” tanya sooyoung. Jessica memutar bola matanya. “Tidak ada lantai 4 di setiap mall di Korea, sooyoung.” ujar Jessica. “Tapi kenapa?” tanya si shikshin lagi.

“Karena angka 4 berarti kematian. Mereka percaya pada mitos ini dan berasumsi bahwa angka 4 hanya akan mendatangkan kesialan. Jadi, setelah lantai 3 langsung ke lantai 5. Ada juga yang menggunakan 3a atau 3b, tapi bukan 4.” jelas Siwon. “Tapi itu hanya mitos!” seru sooyoung lagi. “Tanya pemilik mall-nya. Hanya itu yang kami tau” kata Yuri.

“Oke, aku ingin membeli bahan makanan sekarang” kata Kibum. “Andwae! Mickey mouse-ku dulu!!” ucap Yuri tegas. “Tapi…” “Tidak ada tapi! Mickey mouse-ku!!” seruYuri. “Nde, mickey mouse-nya dulu” Yoona membela Yuri. Para namja akhirnya menyerah. Merka tau mereka tidak akan bisa mengalahkan para yeoja. Mereka terlalu keras kepala, tapi juga.. terlalu imut.

Mereka pergi ke toko yang menjual banyak barang mickey mouse. Yang lainnya melihat-lihat dengan bosan, sangat berbeda dengan Yuri yang dengan riang melihat-lihat di toko yang penuh dengan tikus lucu itu. Dia mencari dengan teliti, tidak membiarkan 1 inci sudut pun terlewatkan. Yang lainnya mengikutinya sambil mengobrol.

“Jadi… Seohyun tidak ikut?” tanya Kyuhyun yang berjalan bersebelahan dengan sooyoung. “Ye. Dia sedang belajar. Aku yakin kau pasti kecewa. Kangen padanya?” tanya sooyoung, menjaga agar suaranya tetap terdengar ceria saat hatinya tidak. “Hmm, untuk apa saat kau ada di sebelahku?” Kyuhyun bergumam tapi tidak cukup jelas untuk sooyoung dengar.

“Apa?” tanya sooyoung. “Ti.. tidak” ujar kyuhyun gugup. “Huff… ini semua membuatku lapar” Sooyoung berkata, mencoba untuk merubah topik. “Kau selalu lapar. Memangnya kapan kau kenyang?” Kyuhyun bertanya, sambil tertawa. “Saat aku mau” jawab sooyoung. “Wah… kalau begitu kau pasti tidak akan pernah mau” ejek Kyuhyun. “Yah!” Sooyoung cemberut sambil memukul legan kyuhyun. “Aigoo… kyeopta…” Kyuhyun berkata dalam hatinya. He mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yah! Apa-apaan sih?” protes sooyoung. “Kau terlalu imut…” ucap Kyuhyun, membuat pipi sooyoung memerah.

“Umm… aku tidak tau kau suka belanja, Sica?” Donghae mencoba untuk memulai percakapan. “Tidak terlalu. Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan di dorm” jawab Sica dengan dingin, yang membuat Donghae semakin gugup. “Ummh… kau mau membeli sesuatu nanti?” tanya donghae lagi. “Tidak” jawab Sica pendek.

“Apa yang ingin kau… mm… makan?” Donghae tetap berusaha dan berjuang yang tentu saja sulit dilakukan karena dia berusaha mengobrol dengan seorang ice princess. “Apapun yang lain inginkan. Asal tanpa timun ataupun sejenisnya” Sica menjawab. Donghae berpikir keras untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sica sambil mengerutkan keningnya. “Kyeopta…” batin Sica.

“Taeng… bagaimana kau bisa bertahan memiliki saudari seperti mereka?” tanya Leeteuk sambil menunjuk ke arah  YoonYul, yang sedang mengganggu si penjual dengan pertanyaan-pertanyyan bodoh seperti ‘apa kau menjual kalung yang dibeli khusus oleh Donald untuk Mickey?’ yang pastinya mereka tidak menjualnya, dan yang kedua, Donald tidak pernah membeli kalung utnuk Mickey.

Taeyeon mengangkat bahunya.”Dongsaeng-dongsaengmu jauh lebih buruk” kata taeyeon. “Yah.. kau benar” desah Leeteuk. “Kadang, menjaga mereka ber-8 itu begitu sulit. Aku berpikir kalau aku tidak akan cukup kuat untuk itu” kata Taeyeon sedih.

Leeteuk menepuk kepalanya pelan. “Kau pasti cukup kuat. Karena kau adalah Kim Taeyeon. Kau pasti bisa. Hwaitting!” ujar Leeteuk menyemangati taeyeon. “Keke. Kau benar. Hwaitting!” Taeyeon tersenyum dengan manis. “Aigo… akan kuberkan apapun untuk bisa melihat senyum itu setiap hari” batin Leeteuk.

YoonYul telah berhenti mengganggu si penjaga toko, yang membuatnya menghela nafas lega. “Unnie.. cepat… yang mana yang mau kau beli?” rengek Yoona. “tunggu sebentar, yoong… aku bingung” ujar Yuri. “Ayolah~~” Yoona terus merengek. “Arra. Uhh… andai kau sesabar Minho oppa” keluh Yuri. “Mwo? Apa dia cukup sabar untuk menungguimu memilih-milih barang mickey ini?” tanya Yoona tidak percaya.

“Tentu saja! Dia adalah yang terbaik” puji Yuri sambil membayangkan wajah Minho. “Anni anni anni. Dia tidak bisa! Akulah yang terbaik untukmu unnie…” ucap Yoona. Yuri tertawa. “Nde, nde, yoong… kau adalah yang terbaik. Karena kita yoonyul!” Yuri tersenyum. Lalu dia mengambil sebuah boneka mickey mouse dan mousepad bergambar mickey mouse.

Yang lain berjalan menuju ke supermarket dengan riang, bahagia karena mereka sudah keluar dari istana mickey mouse itu. Mereka bahkan berpikir mereka akan mati dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang mickey mouse kalau Yuri tidak cepat membayar dan keluar. Mereka semua membeli beberapa sayuran dan buah segar, tidak lupa beberapa snack, tentu saja oleh sooyoung. Mereka menghabiskan 2 jam disana.

“Apa? Jadi tiffany sakit?” Siwon bertanya dengan tampang khawatir saat Taeyeon memberitahunya. “Jangan berlebihan, oppa. Dia kan hanya flu. Dia bahkan gak sekarat kok” kata sooyoung. “Tapi… oh my… my tiffany…” ujar Siwon sedih. Yang lainnya mendesah pasrah. “Aku tau kau mencintainya. Tapi dia itu kan hanya flu. Ckck” ucap Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Lalu, mereka memutuskan untuk pergi ke game center yang membuat Kyuhyun sangat senang dan dia meloncat-loncat kegirangan. Mereka menghabiskan 2 jam disana, yang membuat mereka sulit keluar adalah kyuhyun yang bahkan harus diseret keluar oleh para hyung-nya. Note to themselves: Jangan pernah mengajak Kyuhyun ke game center.

“Omo! Handphoneku!” seru Yuri saat tidak menemukan HPnya di dalam tasnya. “Wae?” tanya Jessica. “Handphone-ku. Tidak ada…” ucap Yuri panik. “Apa kau yakin? Bagaimana bisa?” tanya Leeteuk. “Molla… eottokkae…” ujar Yuri sedih.

“Dimana kau terakhir menaruhnya? Coba ingat-ingat” kata Kibum tiba-tiba. Yuri berpikir keras sampai dia mengerutkan keningnya. Kemudian, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang lain memandangnya penasaran. “Toko mickey mouse…”

Jadi, mereka kembali ke lantai 6, dimana toko itu berada. Untungnya, HP Yuri memang ada disana. Mereka berterima kasih pada pemilik toko yang hanya membalasnya dengan tatapan muak. “Lain kali, hati-hati. Lihat sekitarmu. Jangan hanya terpaku pada tikus jelek itu” ucap Donghae.”Diam! Mickey itu tidak jelek! Dia bahkan lebih tampan darimu!” seru Yuri.

Jessica mendengus. “Bagaimana bisa tikus hitam dan kotor itu lebih tampan dari donghae oppa?” ujar Jessica. “Ooh… Jadi, unnie pikir Donghae oppa itu tampan yaa?” Yoona menggoda unnie-nya. Jessica tersipu. “Annio! Itu… aku… Hanya saja… ngg… Mickey mouse itu lebih jelek. Bukan berarti donghae itu tampan” ujar Jessica gugup.

“Cukup, cukup. Ini sudah terlalu larut. Kita harus pulang ke dorm segera” kata Leeteuk. Yang lainnya setuju. “Sebaiknya kita menggunakan lift agar lebih cepat” usul Kyuhyun.

Jadi, mereka naik lift untuk turun ke lobby. Taoi tiba-tiba, lift itu berguncang dan lampunya mati.  Para yeoja, dan bahkan Kyuhyun dan Donghae berteriak ketakutan. “A-apa… apa yang terjadi?” gumam Taeyeon. “Mungkin lift-nya macet. Tenang, guys… tenang.” Leeteuk mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya itu sambil menekan tombol darurat beberapa kali, namun sayangnya, tidak ada respon. “Kurasa kita hanya harus menunggu” kata Siwon.

“Tenang, semuanya! Tenaaaang! Yoona, berhenti menendang-nendang! Sica, berhenti berteriak dengan suara dolphinmu itu! Sooyoung, berhenti…. berhenti makan! Yuri, berhenti bergelantungan di kakiku!!” teriak Taeyeon pada dongsaeng-dpngsaengnya yang tidak bisa diatur itu. “Semuanya, TENANG!!” Taeyeon berteriak dengan suara tingginya, yang berhasil membuat semuanya tenang sambil menutup telinga mereka, menghindari ke-budek-an.

“Hey…lift-nya… berhenti di antara lantai 5 dan lantai 3” ujar Sooyoung di sela-sela waktu makannya, menyadari angka di layar hitam kecil di pojok atas lift dengan angka merah tertulis di dalamnya. Angka 5… lalu 3.. lalu 5… lalu 3… lalu 5… lalu tiba-tiba… 4. Mereka semua terkejut dan terpana. Mata mereka tertuju di satu arah. Di angka tersebut.

“Tapi… tidak ada lantai 4” bisik Kyuhyun, terlalu takut untuk bersuara keras. “Kau salah! Disini ada lantai 4 kok~” seru Sooyoung. “Tidak, sooyoung. Tidak ada lantai 4, setidaknya di mall ini” ucap Jessica. Mata mereka masih tertuju pada layar itu, berharap angka tersebut terganti.

Lalu, tiba-tiba pintu lift mulai terbuka saat sooyoung hendak membantah lagi. Mereka menatap sekitar mereka dengan ekspresi syok dan mulut yang ternganga lebar. Mereka bahkan tidak berani untuk berjalan 1 langkah pun dari tempat mereka. Leeteuk masih berusaha menekan tombol apapun di lift itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka hanya punya 1 pilihan, yang pastinya tidak mereka sukai: untuk keluar dan menghadapi apapun di hadapan mereka, di lantai 4, bagian yang hilang dari sebuah mall…

 

-TBC-

tuh kan reader… mana serem sih? Gak serem kan? Nanti author kasih adegan setannya cuma dikit kok~ kekekeke 😀

comment yahhh >.<

annyeong~~~

author comeback (?) dengan ff series yang baru… dan kali ini, author pengen coba mengasah (?) kemampuan nulis author dalam genre mystery 😀

Oh iya… mungkin ada yang udah pernah baca cerita ini di AFF, dan jangan anggap author itu copycater yah! sorry seamit-amit deh… kekeke. soalnya, yang nge-post di AFF itu… author juga! noh yang IDnya J_Ster… kekeke. Jadi, ini ceritanya sama persis sama yang author post di Asian Fanfics, tapi cuma beda bahasa aja.

Characters:

Choi Sooyoung

Im Yoon Ah

Kwon Yuri

Jung Jessica

Kim Taeyeon

Park Jungsu (Leeteuk)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kim Kibum

sinopsis:

Mereka berbelanja di sebuah mall di Seoul. Ada yang mengatakan, semua mall tidak mempunyai lantai ke-4. Karena sebuah mitos yang mengatakan angka 4 berarti kematian, dan mereka mempercayai ini dan tidak pernah membangun lantai 4 di setiap mall. Jadi, setalh lantai 3 langsung ke lantai 5.

Mereka berbelanja sampai malam. Lalu, mereka menggunakan lift untuk turu dari lantai 6, tapi tiba-tiba lift itu mandet di antara lantai 5 dan lantai 3. Dan saat pintu lift itu terbuka, mereka berada di lantai 4, yang ternyata merupakan sekolah yang sudah lama ditinggalkan, bagian yang hilang dari sebuah mall yang terhubung melalui suatu hal gaib.

Lift itu tiba-tiba menghilang, seakan-akan lift itu tidak pernah berada di sana, dan mereka ber-10, mencari, menghadapi petualangan yang hebat di hadapan mereka untuk mencari cara keluar dari sana dan kembali ke dunia mereka sendiri.

eotokkae? oeotokkae? 😀

 

huaaa… happy valentine all! Tadinya author mau bikin ff spesial valentine… tapi… lagi butek nih otaknya. Jadi, lanjut FR part 9 aja yah ^^ kekeke~ happy reading 🙂

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Horeee… jadi semuanya sudah baikan lagi?” seru Changmin dengan gaya childishnya. Donghae mengangguk. “Ahh… kita jadi berpasang-pasangan begini. Tidak pernah terfikir olehku sebelumnya” ujar Minho.

“Nde. Semuanya jadi rumit begini” timpal Taeyeon. “Sepertinya hanya kau yang belum dapat masalah, onnie” komentar Yoona. “Mwoo? Aku sangat merindukan Teukkie oppa tau! Itu masalah yang sangat besar!” ujar Taeyeon yang hanya disambut gelengan kepala dari teman-temannya.

“Kuharap tidak akan ada masalah lagi. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini” ujar Sooyoung. “Nde. Author jahat banget sih” kata Kyuhyun. “Tau nih. Kalau begini terus, aku keluar saja dari fanfic ini!” ancam Ssica.

“Eeh… jangan nyalahin author dong. Kan ini demi para reader. merong~” ujarku pada tokoh-tokoh fanficku yang menyebalkan (tapi cakep2) ini. “Tapi, kasian sama kami juga dong!” ujar Leeteuk, yang tiba-tiba nongol terus ilang lagi kembali ke wamilnya. (untung bukan Seohyun yang nongol, ntar author juga takut kalo dia tiba-tiba nongol lagi tapi dalam bentuk siluman Keroro #abaikan)

“Nde. Nde. Author kasih konfliknya ngga yang susah-susah banget deh. Oke! Back to your scenes and dialogs guys!” seruku. Mereka semua menurut padaku. kekeke~ (author sekali2 pengen eksis juga dong)

“Ayo pergi ke suatu tempat, merayakan ini!” seru Changmin, yang memang hobi jalan-jalan. “Boleh. Pas sekali hari ini kita semua sedang tidak sibuk” kata Kyuhyun.

Maka, setelah perundingan selama 10 menit, mereka memutuskan untuk pergi ke mall. “Jadi, kita mau kemana sooyoungie?” tanya Kyuhyun. Sooyoung tersenyum dan menjawab “Game center!”

“Ya! Kalian…” tapi kata-kata donghae itu tidak dihiraukan sama sekali oleh KyuYoung. Mereka sudah berlari menuju game center.

“Ssica-ah.. petshop?” tanya donghae, menggandeng tangan Jessica. “Eeh? Tapi kupikir, kau tidak menyukai binatang?” tanya ssica heran. “Yah… memang. Hanya ingin mengulang kenangan saat pertama kali aku menyukaimu” ucap donghae sambil tersenyum. “Saat itu? Saat itu kau sudah menyukaiku?” tanya Ssica terkejut. Donghae tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Sementara itu, pasangan Changmin-Yoona sudah menghilang LAGI! Entah kenapa, mereka selalu saja menghilang berdua saat bepergian dengan sahabat-sahabat mereka.

“Oke. Jadi, kita ditinggal?” tanya Taeyeon tidak percaya pada Minho. Minho mengangkat bahunya “kurasa begitu” katanya. “Dengar, Minho. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Aku sudah mempunyai Leeteuk oppa” ucap Taeyeon serius.

Minho tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia, bahkan sampai beberapa orang di sekitar mereka menatapnya. “Ooh.. aku baru tau kau bisa tertawa sampai seperti itu.” ujar Taeyeon.

“Mana mungkin noona!” seru Minho setelah pulih dari tawanya. “Aku juga sudah mempunyai Seohyun…” ucap Minho sambil tersenyum menerawang. “Yah… aku tau kau sangat mencintainya. Tapi, ada baiknya kau mencari penggantinya” nasehat Taeyeon.

“nde, ahjumma. Kekeke~” ejek Minho. “Ya! Choi Minho! Kau sudah semakin mirip Kyuhyun! Jangan terkontaminasi olehnya” seru Taeyeon sedangkan Minho hanya tertawa.

Kyuhyun POV

Aku dan sooyoung sudah berada di game center lagi, tempat yang penuh dengan kenangan manis aku dan dia. Tempat pertama kali aku mendapat ciumannya. Kekeke.

“Sooyoungie! Yang menang dapat 1 ciuman. Arasso?” tanyaku, mengeluarkan senyum evilku. “Mwo?” tanyanya terkejut. “Oke. Deal. Nah, ayo kita mulai” ujarku lalu kami memulai game street fighter kami.

Hanya terdengar suara keramaian orang yang mengobrol atau melakukan kegiatan lain di sekitar kami, suara jari kami yang beradu dengan keyboard, dan suara dari komputer kami saat kami melakukan tendangan, oukulan, dan semacamnya hingga akhirnya…

“Yeah! Aku menang!” seruku senang, melihat saat fighter-ku menendang fighter sooyoung di detik-detik terakhir. Kuakui, sooyoung semakin hebat dalam bermain games. Tapi, tetap akulah yang paling hebat! kekeke

“Nah, sooyoung!” panggilku padanya yang hanya menatapku pasrah. Aku sudah mendekatkan pipiku ke wajahnya, menunggu bibirnya yang tipis menempel di pipiku.

Tapi, aku tidak mendapatkannya. Aku tidak kecewa. Jelas sangat tidak kecewa! Karena… dia justru menarikku mendekat dan mencium… bibirku. Aku sedikit terkejut, melihat wajahnya tepat di depan wajahku, dan bibirnya yang menempel di bibirku.

Aku balas menciumnya. Kurasa, baru kali ini kami berciuman… tanpa paksaan. Aku tidak menyuruhnya menciumku di bibir loh. Aku hanya berpikir sebatas di pipi saja sudah cukup. Tapi, begini juga tidak apa-apa. Aku lebih senang malah daripada hanya ciuman di pipi.

“Eeh…” aku sedikit gugup dan tidak bisa berkata-kata setelah dia selesai menciumku. Dia hanya tersenyum dengan manis. Aigooo… Tuhan, ajaiblah tanganMu yang bisa menciptakan makhluk seindah yeoja chinguku ini.

Aku mencubit pipinya dengan gemas. “Saranghae, Sooyoung-ah” kataku sambil tersenyum. Rasanya aku bisa mengatakannya seribu kali, memastikan kalau dia tau aku benar-benar sangat mencintainya.

“Na do saranghae, oppa” katanya sambil mengelus pipiku. Aku menggenggam tangannya dan membelai rambutnya. Betapa aku mencintai yeoja ini!

Aku dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yoghurt, tempat changmin dan yoona berada setelah aku mendapat balasan sms dari yoona.

Author POV

“Hei!” sapa Sooyoung pada pasangan itu. Tapi, tampaknya pasangan itu sedang tidak dalam suasana hati sebaik Kyuhyun dan Sooyoung.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun, menyadari wajah mereka yang kelam. Changmin mendesah. “Kau saja yang ceritakan, yoona” kata changmin.

“Tadi… appa-nya changmin meneleponnya.” kata yoona memulai penjelasannya. “Bukannya appa-nya sedang di Amerika? Tumben menelepon?” cetus Sooyoung menyelanya. “Berhenti menyela, onnie” ucap Yoona.

Sooyoung mengangguk dan Yoona melanjutkan ceritanya. “Appa-nya changmin, menyuruhnya pergi ke Amerika besok pagi. Besok pagi! Untuk meneruskan perusahaan Shim enterprise di Amerika” ucap Yoona, berusaha keras menahan air matanya.

“Mwo? Kau akan ke amerika?” seru Kyuhyun tidak percaya. Dengan pandangan sendu, Changmin mengangguk. “Aku tidak bisa menolaknya. Appa memaksaku. Aku pikir, aku hanya akan meneruskan perusahaannya di Korea. Itu tidak masalah selama aku bisa bermain biola. Tapi, ternyata appa tidak menyukaiku bergerak di bidang musik.” kata changmin sambil mendesah.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja oppa. Aku akan ikut kau ke Amerika!” seru Yoona, mengagetkan Sooyoung dan Kyuhyun. Changmin menggeleng “Annio, Yoong. Kau masih harus melanjutkan kuliahmu” kata changmin.

“Aku bisa saja berkuliah di Amerika” kata Yoona ngotot. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. “Kau tidak bisa, yoona. Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka tidak akan setuju” kata changmin, mengusap air mata yoona.

“Tapi.. tapi… aku akan sangat kehilanganmu, oppa” rengek yoona. Changmin mencium pipi yoona. “Aku juga. Pasti. Susullah aku, saat kau sudah bekerja, sudah siap.” kata changmin.

Yoona mengangguk walaupun dengan sedikit ragu. “Nde. Pasti oppa. Tunggu aku.” kata Yoona lalu mereka berpelukkan.

“Ah, oppa. Kami akan sangat merindukanmu” kata sooyoung. “Pertama, Leeteuk hyung, lalu Seohyun, sekarang kau.” desah Kyuhyun.

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan, kyu. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” ujar changmin, tersenyum dengan tegar.

—-

Sooyoung POV

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” kata-kata changmin itu masih terngiang di telingaku. Bahkan setelah kurang lebih 3 tahun sudah berlalu.

Aku merenung, menatap foto 10 orang yang sedang berfoto dengan latar belakang apartemen. Mereka masih sangat muda. Mungkin umur mereka masih belasan, beranjak 20 saat itu. Mereka tersenyum bahagia, seakan mereka tidak akan pernah berpisah selamanya.

Tapi, mereka salah. Mereka akhirnya berpisah, sibuk dengan kehidupan dan jalan mereka masing-masing.

“Sooyoungie…  hei! Aku lapar” kata Kyuhyun, memelukku dari belakang. “Nde. Aku akan membuatkanmu sarapan” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Hei… itu kan foto kita” ucapnya, tersenyum dan mengambil foto itu dari tanganku. “Ah, aku merindukan mereka semua.” katanya. Aku mengangguk. “Aku juga” kataku.

“Omma! Appa!” seru seorang bocah berumur 1 tahun sambil berlari dan memeluk kakiku. “Kyungsan-ah!” seruku lalu menggendongnya. Bocah ini, adalah anakku, dan dia baru saja kemarin bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, Omma dan Appa.

Aku dan Kyuhyun sudah 2 tahun menikah. Kami tinggal di kota Seoul, agak sedikit jauh dari apartemen kami dulu. Terakhir kami kesana, tinggal Minho dan Yoona dan sekarang pun kami dapat kabar kalau Yoona sudah pergi ke Amerika.

Tentang donghae dan Jessica, aku tidak tau banyak tentang mereka. Kami bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, di pesta pernikahan mereka. Setelah itu, kami tidak banyak mendengar tentang mereka.

Tentang Taeyeon dan Leeteuk… ah, aku kembali sedih mengingat mereka. Miris sekali kisah cinta mereka itu. Akupun sudah tidak mendengar kabar mereka lagi. Ah, aku tidak ingin menceritakannya. Terlalu sedih.

Minho? Entah apa kabar dongsaengku itu. Apa dia sudah menemukan pengganti Seororo yah? Seohyun. Ah, aku baru ingat. Sudah tepat 3 tahun hari ini semenjak dia pergi.

“Kyu!” panggilku, sambil menggendong Kyungsan di tangan kiriku dan memasak dengan tangan kananku. Aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.

“Mwo?” tanyanya sambil meletakkan foto itu di meja. “Hari ini tepat 3 tahun Seobaby meninggal. Bagaimana kalau kita ke makamnya?” usulku yang langsung dibalas persetujuan Kyuhyun.

Setelah sarapan, mandi, dan bersiap-siap, aku, Kyuhyun, dan Kyungsan berangkat menuju makam sahabat kami itu.

“Kyungsan-ah. Kita akan bertemu dengan Seohyun noona. Hmm, apa Seohyun ahjumma? Ah pokoknya, dia itu orang yang sangat baik dan cantik. Sayang dia tidak bisa melihatmu ya” ucapku pada Kyungsan.

Anakku itu menanggapi dengan tawanya. Seohyun, kalau kau bisa melihat ini, kyungsan menyukaimu loh. Tentu saja! Semua orang pasti menyukai orang sepertimu. kataku dalam hati.

Kami berjalan menuju makam Seohyun. Rupanya, kami keduluan. Disana sudah ada sahabat kami yang sudah lama kami tidak temui.

“Minho-yah!” seruku dan Kyuhyun bersamaan, mengahampiri Minho yang sedang berjongkok di depan makam Seohyun. Dia tampak sedang menaruh beberapa bunga di makam seohyun.

“Sooyoung noona! Kyuhyun hyung! Oww… dan.. Kyungsan!” seru Minho dengan sangat bahagia. Kami semua berpelukan dengannya. Eeh,,, ternyata dia tidak sendiri!

“Minho, siapa itu?” tanya Kyuhyun pada sosok yeoja yang berdiri di belakang Minho.

“Ehm, ini yeoja chinguku.”

-TBC-

Gimana? Author mau pendekin ceritanya and fokus ke melodies of life. Jadi, author dikitin konfliknya.Abis, mereka juga udah pada complain ke author. Kekeke~

please leave your comment, okay? 😉

mianhae reader.. updatenya lama >.<

Sama mau ngucapin Happy birthday buat ah ra onnie sma chansung oppa 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Apa kau yakin, changmin?” tanya Taeyeon sambil menggigit bibirnya khawatir. “Apa ini tidak terlalu beresiko?” tanya Minho.

“Hm, tapi aku yakin sekali dengan cara ini pasti berhasil!” ucap changmin. Dia, Yoona, Minho, dan Taeyeon sedang mendiskusikan plan B mereka, yang tampaknya rencana besar-besaran, seakan-akan ingin mendamaikan Korea Selatan dengan Korea Utara.

“Tapi, banyak cara lain kan? Kita bisa saja ajak mereka bicara baik-baik.” ucap Minho. “Negatif. Aku sudah bicara dengan Kyu oppa, dan dia hanya menjawab ‘hmm’ dan that’s it. Tak ada perubahan” kata Yoona.

“Tapi, apa kita bisa mempercayai mereka?” tanya Taeyeon. Changmin mengangguk pasti. “Aku yakin 100%, kalau begini mereka pasti berhasil. Kyuhyun dan Donghae pasti menyelamatkan yeoja chingu mereka” ucap changmin serius.

Yang lainnya mengangguk. “Tapi rencana ini freak banget deh” cetus Minho. “Nde. memang” jawab Yoona santai. Mereka memutuskan menjalankan plan B itu besok pagi.

Kyuhyun POV

Aku bangun cukup siang, mengingat hari ini tidak ada pemotertan. Jadi, hari ini aku free. Segera ke kamar Donghae. Itu pesan dari Yoona. Ke kamar donghae? Untuk apa?

Aku masuk ke kamar donghae dan kulihat yang lainnya sudah ada disana. Aku ambil tempat duduk di sebelah Yoona. “Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Aku dan yoona ingin pergi ke suatu tempat 1 hari ini. Memperbaiki hubungan kita” jelas changmin. “Benarkah? Kalian sudah baikan? Syukurlah” seruku lega. Aku jadi tidak harus tak enak hati lagi.

“Belum. Makanya, kami ingin pergi berdua saja. Meluruskan semuanya” ucap Yoona. “Aku dan Minho juga ada sedikit urusan dengan keluarga Seohyun” ujar Taeyeon noona.

“jangan bilang… onnie melupakan leeteuk oppa dan berkencan dengan minho” ucap Sooyoung. “mana mungkin, babo!” seru taeyeon noona sambil menjitak sooyoung. “Hanya ada urusan sedikit kok dengan keluarganya Seohyun” ucap Minho.

“Jadi, hari ini kami ber-4 akan pergi seharian. Apa kalian ada rencana juga?” ucap Yoona. Bagus sekali! Aku, Sooyoung, Donghae, dan Jessica. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Kami semua menggeleng serempak. “Membosankan pasti” cetus Minho. “Kenapa tidak pergi saja?” usul changmin. Pergi? Ide hebat! Pasti kami ber-4 akan sangat senang. Saking senangnya paling kami hanya akan diam semua.

“Nde. Ke pantai? Atau ke taman?” usul Taeyeon lagi. “Boleh juga” celetuk donghae. Membuatku, sooyoung, dan ssica spontan menengok ke arahnya. “Ayo, kita ke pantai!” ajak donghae. Ssica mengangguk ragu, “terserahlah” jawab sooyoung asal. Aku tidak mejawab.

“Ke pantai ya? Pantai mana?” tanya changmin. “Pantai An Chol aja   kataku. Pantai itu pantai yang indah dan sepi. Mereka kelihatannya setuju.

“Nah, kalau begitu kami berangkat dulu. Selamat bersenang-senang” kata yoona, lalu yoona, changmin, disusul Minho dan taeyeon yang keluar dari kamar donghae.

-end of POV-

“Oke. Kita jalankan rencana kita” kata yoona, setelah mereka sudah berada di luar jangkauan dengar teman-teman mereka yang lain. “Yosh! Yoong,minnie,taeng,minho hwaitting!” seru mereka.

—-

“Nah, jam 2 kita berangkat ya” kata donghae. Aku hanya mengangguk, lalu menuju ke komputer donghae untuk memainkan beberapa permainan. “Aku ambil baju dulu ya” kata ssica. “Aku juga” ucap sooyoung lalu menyusul ssica.

Suasana jadi hening. Hanya ada suara jari beradu dengan keyboard saat kyuhyun asik bermain game. “Kenapa semua jadi serumit ini ya?” ucap donghae pada dirinya sendiri sambil memijit-mijit kepalanya. Dia sadar, semua yang terjadi adalah tanggung jawabnya, seperti yang telah ditugaskan leeteuk padanya.

Kyuhyun tidak menjawab. Antara pura-pura tidak mendengar dan asik dengan game-nya atau memang tidak mau menjawab.

“Apa saja yang akan kita lakukan di pantai?” tanya sooyoung tiba-tiba. Dia dan ssica kembali lagi ke kamar donghae, membawa sebuah tas berisi pakaian, handphone, uang, dan tentu saja cemilan.

“Molla. Berenang? Bermain-main? Kita sangat butuh refreshing!” ucap donghae. “Kita lupakan saja semuanya. Anggap saja kita semua hanya sahabat. Tidak ada masalah. Tidak ada pertengkaran” ujar Ssica.

“Masalah percintaan itu berbahaya ya. Efeknya pada persahabatan kita terlalu parah” ucap Kyuhyun yang sudah me-shut down komputer donghae. Yang lainnya terdiam. Menyetujui di dalam hati.

“Nah, aku akan mengambil pakaian ganti dulu. Abis itu kita berangkat saja” kata kyuhyun, melangkah ke kamarnya. Donghae juga mengambil pakaiannya di dalam kamarnya.

Sesaat kemudian, Kyuhyun sudah kembali ke kamar donghae disusul donghae yang keluar. “Nah, kkaja! Kita berangkat sekarang” ajak Sooyoung.

Selama di jalan, mereka mengobrol seperti biasa, walaupun sedikit canggung. Kyuhyun menghindar berbicara dengan sooyoung. Sedangkan Ssica menghindar berbicara dengan donghae, walaupun donghae terus mengajaknya bicara.

“Wah, sepi sekali” ujar ssica. Jelas saja. Pantai disini memang jarang diminati, karena tidak ada wahana apapun disini. Walau begitu, pantai ini bersih dan indah. Dengan tidak adanya wahana apapun disini, membuat keindahan alami pantai ini semakin terlihat.

“Berenang! Berenang!” seru Kyuhyun, cepat melepas kaosnya. Dia sudah memakai celana renang dari rumah. Begitu juga dengan Donghae. Mereka langsung berhambur ke lautan biru jernih dengan ombak yang tenang dan segar.

“Ayo, soo. Kita ganti baju dulu” ajak ssica. Dia dan sooyoung menghilang ke toilet umum kecil di pojok pantai.

“Mana mereka?” ujar donghae melihat sooyoung dan ssica yang sudah tidak di tempat mereka. “Ganti baju mungkin” jawab kyuhyun. “Nah, itu mere…”

Kyuhyun POV

“Nah, itu mere…” kata-kataku terpotong melihat Sooyoung yang baru kekluar dari ruang ganti dan menghampiri kami. Dia… wow! Cantik! Cantik sekali! Rambutnya sudah bertambah panjang sepertinya. Dia ikat rambutnya, menampilkan tengkuknya. Dengan tanktop yang tidak menutupi perutnya, dan hotpants pendek yang membiarkan pahanya dan kakinya yang jenjang itu terlihat jelas.

Sooyoung benar-benar membuatku terpesona. Aku terus memandanginya seakan-akan memujanya. Ah, aku memang memujanya.

“Oppa, kenapa?” ucapnya, menjentikkan jarinya di depan wajahku. “Eh.. annio. Kau… cantik sekali” ucapku jujur. Habis, untuk apa berbohong? Kulihat wajahnya tersipu, membuatnya semakin manis. “Eeh… gomawoyo” katanya pelan.

Aku menariknya membuatnya tercebur juga ke laut yang dalamnya hanya selutut kami. “Wah, segar” gumamnya. Melihatnya manis seperti ini, emmbuatku luluh dan sejenak lupa akan kemarahanku padanya.

Donghae POV

“maaf menunggu lama” ujar jessica, yang baru keluar dari WC. “Gwencha…” aku tertegun. melongo dan terpesona melihatnya. Rambut pirang yang biasa dia gerai dia ikat ke samping. Dia hanya memakai bra dan hotpants, menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Aku melihantnya. Dari atas sampai bawah. Perfect. Tidak ada cela.

Aku bahkan mengalihkan pandanganku dari sooyoung, yang kuakui sangat cantik untuk bengon lenatap jessica. “Kau.. cantik sekali” ucapku masih terpesona. “Gomawoyo” katanya sambil tersipu. Aigoo… ingin sekali kupeluk tubuhnya itu!

Tapi tiba-tiba… segerombol, ehm tidak segerombol juga sih. Hanya 5. 5 namja dengan badan tinggi dan kekar mendatangi kami. Mereka ini sepertinya perampok. Cepat kutarik ssica mundur di belakangku dan kulihat Kyu juga sudah menarik sooyoung.

“Mau apa kalian?” seruku. Sebenarnya, aku takut juga sih dengan mereka ini. Tapi, demi apapun, akan kulindungi teman-temanku! Mereka diam, tidak menjawab.

Salah satu dari mereka mendorongku. Seperti kertas yang tertiup angin, aku langsung tumbang. Kekuatannya 10 x lipatku. Tapi, aku langsung bangkit melihatnya hendak menarik Jessica. “Lepaskan dia!” seruku. Kulirik sedikit dan Kyuhyun juga sedang mati-matian melindungi sooyoung.

“Berengsek!” seru Kyuhyun, menendang salah satu dari mereka. Tapi, kyuhyun jauh lebih lemah. Dengan cepat dia dibalas dan ditonjok. Ditendang dan dipukul hingga hidungnya mengeluarkan darah dan mulutnya memuntahkan segumpal gelap darah. “Oppa!!” seru sooyoung histeris.

Keadaanku pun tidak lebih bagus dari itu. Jessica ditahan oleh salah seorang dari mereka. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman namja yang menahanku itu, tapi sia-sia. Dia sangat kuat. Alhasil, sementara aku tak bisa melawan, namja yang lain menonjok perutku, membuat segumpal darah kuludahi mengenainya.

“Sialan!” serunya mengutukiku, sambil menendangku dengan lututnya, menamparku dan akhirnya membanting tubuhku yang berlumuran darah ke pasir.

“Ayo, cepat!” seru si namja, membawa Sooyoung dan Ssica ke mobil jip mereka, lalu kabur.

Author POV

“Berengsek! @$#!*#&*!” seru Kyuhyun marah, bangkit dan mengejar-ngejar jip itu walaupun dengan kondisi yang sama parahnya dengan donghae. Tidak ada gunanya. Kyuhyun akhirnya terjatuh dengan langkah terseok-seok.

“Hyung, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan terengah-engah. “Molla” ucap donghae pasrah.

—–

Mereka berdiam merenung di kamar donghae. Donghae sudah melaporkan semuanya ke polisi dan jawaban polisi hanya “Masih dalam proses” sedangkan teman-teman mereka… tidak 1pun dari mereka mengangkat telfon yang membuat kyuhyun menyumpah-nyumpah.

Krrriiiiinngg! Telepon di kamar donghae berbunyi. “Yeoboseyo?” ucap donghae sambil mengangkat teleponnya. Wajahnya langsung berubah ke ekspresi ngeri. Kyuhyun penasaran dan mendekatkan telinganya, berharap dia bisa mendengar juga.

“…. tunggu di gedung tua dekat pantai. Jangan bawa polisi” hanya itu kata-kata yang bisa Kyuhyun dengar. “Wae, hyung?” tanya Kyuhyun.

“Mereka… menyuruh kita datang ke gedung tua di dekat pantai. Kita tidak boleh membawa polisi atau sooyoung dan ssica akan… entah apa yang akan mereka lakukan” kata donghae lelah. “kalau begitu, tunggu apa lagi!” seru kyuhyun.

“Jangan gegabah, cho kyuhyun! Keadaan kita masih begini. Ini sama saja bunuh diri” jelas donghae, menarik kyuhyun yang sudah hendak pergi. “Tapi.. sooyoung.. dan ssica?” seru kyuhyun. Dia menyentakkan tangannya dan pergi. “Kyu! Chakkaman! ah, dasar babo!” seru Donghae, mengejar temannya itu.

Donghae dan Kyuhyun berlari menuju gedung tua itu. Padahal, keadaan mereka masih babak belur begitu. “Dimana sih gedung tua itu?” ujar Kyuhyun, mencari-cari gedung yang dimaksud.

“Apa yang itu?” tunjuk donghae pada sebuah gedung yang dulunya bekas perkantoran yang sudah lumayan bobrok dan letaknya agak tersembunyi. Kyuhyun mengangguk setuju dan mereka berdua melangkah memasuki gedung tua itu.

Mereka mencari di sekeliling ruangan, dan akhirnya menemukan Sooyoung dan Ssica disekap di sebuah ruangan di lantai 3. “Sebentar, Kyu” tahan donghae. Dia mengambil sebatang kayu yang tersender di dinding. “Pakai ini saja” ucap Kyuhyun, mengambil pipa besi di sebelahnya.

Mereka mengendap-endap di belakang 5 namja itu lalu.. BRAKK! BRUKK! JEDUGG!! (?) mereka memukul kepala namja-namja itu dengan senjata ala kadar mereka. Alhasil, ke-5 namja itu pingsan.

“Sooyoung!” panggil kyuhyun, melepas ikatan sooyoung, sementara donghae melepas ikatan ssica. “Oppa!” ssica dan sooyoung memeluk pahlawan mereka masing-masing. “Ayo, pergi” ucap donghae.

Tapi, kaki ssica ditahan oleh seorang namja. “Jangan harap kau lolos begitu saja!” katanya lalu bangkit lagi. Salah satunya juga bangun lagi sambil menggosok-gosok kepalanya.

“Ssica, berdiri di belakangku!” seru donghae menarik ssica. “Soo…” tapi sooyoung sudah keburu maju. Naluri petarung (?) nya muncul. Dia mengambil pipa besi yang dipakai kyuhyun tadi. “rasakan ini, dasar makhluk jelek!” seru Sooyoung sambil memukul punggung namja itu dengan pipa besi dengan kekuatan penuh.

“Sooyoung, awas!” Kyuhyun menendang seorang namja yang berada di belakang sooyoung. Donghae juga membantu menonjok namja itu. Untung hanya 2 yang sadar dan yang lainnya masih pingsan.

Seorang namja hendak menyerang kyuhyun, tapi ditahan tangannya oleh sooyoung “Jangan-pernah-mencoba-menyakiti-namja-chinguku!” seru sooyoung murka sambil memelintir tangan namja itu menghasilkan bunyi KRAKK! tulang yang patah.

“Cih! Dasar bocah! Cinta monyet saja belagu!” seru salah satunya lagi yang baru saja sadar, bergabung dengan teman-temannya.

“ENAK SAJA! BUKAN CINTA MONYET TAU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAINYA!!” seru Kyuhyun, Sooyoung, Donghae, dan Ssica BERSAMAAN! Sambil Kyu menunjuk Soo, Hae menunjuk Ssica dan Sica menunjuk Hae. Mereka tertegun sendiri melihat kejadian itu.

“Ah, yasudah. Tugas kami cukup sampai disini. Ini!” seru si namja yang baru sadar, memberikan segulung perban untuk donghae. “Cinta kalian kuat loh. Jangan disia-siakan hanya gara-gara salah paham. Nah, aku harus mengurusi mereka yang lain gara-gara kalian” ucapnya lagi, membuat yang lainnya melongo.

“Sana , pergi! Berkencan kek, apa kek. Tunggu apa lagi kau disini?” ujar namja itu melihat mereka ber-4 hanya diam mematung. “Ta,tapi…” “Kalian mau kami culik lagi?” uujar namja lainnya. Mereka ber-4 menggeleng cepat. “yasuda, sana pergi” usir namja itu.

Mereka ber-4 keluar dari gedung tua itu dengan bingung. “Apa maksud mereka sih?” tanya Sica. “Molla. Tapi, yasudahlah. Yang penting kita semua selamat” ujar Kyuhyun.

“Nde. Apa oppa tidak apa-apa?” tanya ssica,mengelus pipi donghae yang memar-memar. Donghae menggenggam tangan ssica. “Gwenchana. selama kau tidak apa-apa” kata donghae sambil tersenyum, yang membuat pipi sica bersemu merah.

“Kau keren tadi” ucap Kyuhyun pada sooyoung. “Oh ya? Aku pikir aku terlalu… ngg, arogan saat memukulnya” kata sooyoung. “Memang” ucap Kyuhyun dibalas delikan sooyoung

“Aku suka saat kau bilang aku ini namja chingumu.” kata Kyuhyun, sekarang dia menatap sooyoung. “Tapi, memang kan?” ucap sooyoung. “Nde. Soo.. ada yang ingin kutanyakan” kata Kyuhyun. “Tanyakan saja”

“Apa kau… dan donghae berciuman?” tanya Kyuhyun ragu. Dia mencertakan kejadian yang ssica ceritakan dan juga saat dia mencium donghae di depan Kyuhyun. Mata sooyoung membelalak. “Mwo?? Jadi kita semua begini karena kesalahpahaman itu?” seru sooyoung.

“dengar!” katanya, yang membuat donghae dan ssica juga ikut mendengarkan. “Saat di depan apartemen itu, dia tidak menciumku kok. Hal yang donghae oppa lakukan cuma meniupi mataku yang kelilipan. Lalu, yang di apartemen, aku hanya… pura-pua menciumnya, supaya yah… kau cemburu” terang sooyoung.

“Syukurlah” ujar Kyuhyun. “Karena yang boleh menciummu hanya aku” lanjut Kyuhyun sambil nyengir.

“Jadi, oppa tidak pernah mencium Sooyoung?” tanya Sica. Dengan mantap, Donghae mengangguk. “Mianhae, oppa” kata Sica. “Gwenchana, Sica-ah. Apa.. kau bisa menerimaku lagi?” tanya donghae penuh harap.

“Hm, kan oppa yang sudah berjanji, akan memohon sendiri padaku saat kau sudah siap” kata Sica. Donghae mengangguk. Dia berlutut di depan Sica “Sekarang aku yakin, aku sudah siap. Ssica. Jessica Jung, saranghae. Jeongmal. Bolehkah aku, menjadi namja chingumu?” tanya donghae.

Ssica tersenyum. Dia menarik donghae untuk berdiri. Dia mengangkat kepala donghae dengan meletakan tangannya di pipinya “Na do saranghae oppa” katanya sambil memeluk donghae.

“Ehem, aku tidak ingin mengganggu, tapi bagaimana dengan changmin dan yoona?” tanya sooyoung. “Aku YAKIN mereka pasti sudah tau masalah ini. Mereka pergi untuk menyelesaikan semuanya kan?” ujar donghae.

“Hei… apa mungkin mereka yang merencanakan penculikan ini?” cetus Kyuhyun. “Ah, tidak mungkin. Masa mereka menggunakan cara beresiko seperti ini?” ucap Jessica disambut anggukan yang lain.

Sementara itu…

“Yeah! Kita berhasil!” ucap Yoona. Dia,changmin, minho, dan taeyeon melakukan tos “Jjang!” ucap mereka. “Nah, kalau begini, semuanya kan sudah diluruskan” kata Taeyeon lega.

“Nde. Aku senang kita sudah tidak ada masalah lagi” ucap Changmin sambil tersenyum.

-TBC-

Apa benar yang dikatakan changmin, dengan selesainya masalah ini, sudah tidak akan ada masalah lagi?

Wait in part 9! 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Hankyung POV

Ah, hari ini ya? hari ini hari ulang tahunku. Tapi, tampaknya tidak ada yang spesial. Tidak ada sama sekali. Ulangtahunku yang ke-27. Yang kuinginkan hanya satu. Bersama member super junior. Bersama keluarga SM. yang sudah tidak akan mungkin lagi.

Aku menyusuri jalan sepi ini. Aku memutuskan untuk kembali ke Cina, setelah keluar dari SM. Memang, aku masih menyayangi mereka semua. Jeongmal. Tapi, ini sudah menjadi keputusanku yang sedikit kusesali.

Aku jadi ingat, kenangan-kenangan dengan mereka semua, ke-12 sahabatku, dan seorang yeoja… yang pernah menjadi orang spesial di hatiku. Seorang yeoja, yang menjadi salah 1 member girlband terkenal di Korea, So Nyeo Shi Dae. Seorang yeoja, bernama Choi Sooyoung.

FLASHBACK (yg hurufnya miring itu flashback-nya)

“Hankyung oppa!” panggil sooyoung. “Sooyoung-ah! Kami ini sedang latihan tau” omel Leeteuk. “Tapi, aku kangen pada hankyung oppa” katanya sambil cemberut. “Nanti, setelah latihan aku akan menemuimu deh” kataku sambil mencubit pipinya gemas.

“Yasudah deh” katanya sambil keluar dari ruang latihan kami. “Nah, ayo kita lanjutkan” perintah Leeteuk.

Aku menatap mereka semua dengan sendu. Apa iya, aku harus meninggalkan mereka? Meninggalkan Sooyoung? Tapi, aku sudah memutuskan ini semua jauh-jauh hari.

“Wae, hankyung?” tanya Eunhyuk. “Gwenchana. Ayo, latihan” kataku, menebarkan senyum palsuku. Aigo… aku tidak sanggup harus mengatakan ini semua pada mereka.

Aku latihan dengan tidak konsen, sehingga sering kali dimarahi Leeteuk dan Eunhyuk. “Jangan mikirin Sooyoung mulu!” ucap Kyuhyun. “Bilang saja kau cemburu, kyu” ujar Yesung. Cemburu? Apa Kyuhyun menyukai Sooyoung? Banyak rumor tentang mereka sih. Hm, mungkin Kyuhyun bisa menjaga sooyoung saat aku pergi nanti.

Selesai latihan, aku langsung menuju ke ruangan Lee Soo Man untuk menemuinya. Tapi sebelumnya, aku pergi ke ruang latihan SNSD dulu.

“Annyeong haseo” sapaku. Untunglah mereka belum mulai latihan. “Oppa!” panggil Sooyoung sambil berlari ke arahku. “Annyeong haseo, hankyung-ssi” sapa Taeyeon. Aku mengacak-acak rambut sooyoung. Ah, aku benar-benar tidak rela meninggalkannya.

“Sudah selesai latihan, oppa?” tanya sooyoung. “Nde. Ah, aku lelah sekali” kataku. Sooyoung mengusap keringatku dengan sapu tangan pinknya. Aku tersenyum. “Ya! Choi Sooyoung! Ayo mulai latihan! Mianhae, hankyung-ssi. Kami harus latihan.” ujar Sunny.

“Gwenchana. Aku pergi dulu ya” kataku. Sebelum pergi, aku mengecup kening sooyoung. Hubungan kami ini sangat dirahasiakan. Hanya member super junior dan member SNSD yang tau. Karena, kalau media dan fans sampai tau?? Pasti hanya akan menambah anti-fans.

Aku berjalan menuju ruangan Lee Soo Man. Hatiku berdebar. Aku rasanya ingin menangis.

Aku berjalan dengan pelan, merasakan hembusan angin menerpa wajahku. Kuhirup udara segar sebanyak-banyaknya. Andai saja, mereka ada disini, walau hanya 1 menit, aku ingin sekali melihat mereka lagi.

“APA? KAU SUDAH GILA YA??!!” seru Soo Man marah. Yeah, aku yakin dia pasti marah setelah aku memutuskan untuk memutuskan kontrak dengan SM.

Apa sih yang kupikirkan waktu itu? Ah, andai waktu bisa terulang kembali.

“Bagaimana mungkin kau bisa keluar dari SM??” tanya Leeteuk sangat syok saat berita itu disampaikan oleh Soo Man pada seluruh keluarga SM. Aku bisa merasakan pandangan mereka padaku. Merasakan pandangan sedih sooyoung. Mianhae, semuanya. Asal kalian tau, aku sangat menyayangi kalian.

“Oppa…?” tanya sooyoung dengan mata berkaca-kaca. Annio. Aku mohon, jangan menangis! Itu akan membuatku semakin sedih. Kumohon, jangan keluarkan sedikit pun air matamu.

“Mianhae.” hanya itu yang bisa kukatakan. Dia menangis, dan keluar dari ruangan. Argh… aku tidak sanggup melihatnya menangis, apalagi gara-gara aku.

Aku masih mengingat dengan jelas. Bagaimana dia menangis saat berbicara berdua denganku. Dan yang bisa kulakukan hanya minta maaf, tak bisa mengehntikan air mata itu mengalir.

“Dengan ini, Sudah diputuskan. Hankyung-ssi resmi keluar dari SMentertainment dan tidak ada kontrak lagi.” umum hakim saat persidangan, memutuskan aku memenangkan sidang dan keluar dari SM. Tidak ada yang senang, begitu juga aku.

Aku merasa sangat kehilangan. Tapi, ada sesuatu yang walaupun kau tidak suka, harus kau jalani. Aku sangat menyayangi mereka semua.

Kulihat, semua member super junior bersedih, begitu juga dengan member-member SNSD, bahkan shinee, f(x), dan lain-lain. Apalagi Sooyoung. Aku tidak sanggup melihatnya menangis seperti itu yang sedang ditenangkan oleh Kyuhyun.

Aku berhenti dari jalan-jalan tanpa arahku, memandang sekitarku. Rerumputan hijau, angin yang sejuk, pohon-pohon yang menaungi jalan setapak yang kuinjak.

Aku ingat, bagaimana tersebar rumor bahwa aku keluar karena SNSD yang tidak menghormatiku. Apa netizen itu sudah gila? Mana mungkin, gara-gara mereka? Aku dan member-member SNSD itu kan berteman dengan sangat baik. Mereka semua sudah kuanggap seperti adik-adikku sendiri.

Aku memutuskan untuk berjalan kembali ke rumah, dengan kenangan-kenangan indah saat menggung bersama super junior, bermain bersama di dorm, dan berkencan bersama sooyoung.

Tak terasa, air mataku sudah menetes. Dasar cengeng, gumamku. Tapi, kenangan-kenangan indah itu memang membekas di hatiku, selalu tak siap aku buang, Terlalu indah.

Aku masuk ke kamarku, memutuskan untuk browsing sebentar mengenai kabar mereka. Rumor tentang SNSD yang menjadi penyebab aku memutuskan kontrak itu sepertinya sudah diluruskan. Aku tidak ingin semakin banyak anti-fans mereka, karena mereka adalah gadis-gadis yang hebat.

Aku menemukan berita tentang sooyoung dan chansung, atau sooyoung dan kyuhyun. Syukurlah tampaknya sooyoung tidak apa-apa. Aku melihat-lihat fotonya, rindu untuk mengelus pipi yang chubby itu, membelai rambut yang halus itu.

Aku menemukan berita tentang para ELF.

‘Aku rindu hangeng oppa!’

‘Kapan ya, hangeng bisa bersama suju lainnya?’

‘hankyung oppa, kibum oppa, kangin oppa, saranghae’

Aku tersenyum membacanya. Gomapsumnida, ELF-ku yang setia. Yang masih terus mendukungku. Maafkan aku, yang telah mengecewakanmu. Tapi sungguh, akupun tak ingin berpisah dengan keluarga SM.

Kringggg! Bel rumahku berbunyi. Aku heran. Siapa yang datang? Aku tidak sedang ada tamu seharusnya.

Aku keluar menuju ruang tamu, membukakan pintu dan…

“SURPRISEEE!!!” seru 10 orang di depanku itu. Aku hanya melongo dan terkejut, memastikan ini semua bukan mimpi. Bahkan mengucek mataku dan mencubit lenganku sendiri.

“Oppa, boghosippo!!” seru Sooyoung, menghambur ke dalam pelukanku. Leeteuk, Eunhyuk, Taeyeon, Jessica, Yesung, Sooyoung, Shindong, Sungmin, Kyuhyun, dan Donghae kini berdiri di depanku.

“Yang lain tidak bisa datang. Ada pekerjaan. jadi hanya kami yang datang” kata Yesung. “Nde. Sangil chukkae, oppa!” seru Jessica.

“Kami rindu padamu!” seru Donghae. Ya Tuhan, apa ini mimpi? Mimpi yang paling indah. Aku terharu. Sangat terharu, tak terasa air mataku pun keluar.

“Eeh… kok malah menangis?” ucap Taeyeon bingung. “Apa ini… benar-benar kalian?” ucapku seperti orang bodoh.

“Tentu saja, hankyung!” seru Leeteuk. “Kami jauh-jauh datang ke Cina, berharap disambut dengan makanan yang banyak, tapi malah berdiri di depan rumahmu dengan kau yang berdiri seperti orang bodoh?” ucap Shindong.

Aku tersenyum “Gomapsumnida, Chingu. Aku… aku sangat bahagia.” kataku. Aku menoleh pada sooyoung, yeoja yang selama ini sangat kurindukan.

Aku memeluknya. Ah, rasanya sudah lama sekali merasakan tubuhnya di dalam dekapanku. Lalu, aku menciumnya, menempelkan bibirku di bibirnya. Yang lain berteriak-teriak menggoda, tapi aku tak peduli. Aku sangat sangat bahagia.

“Ini, untukmu!” ucap Eunhyuk, mengeluarkan sebuah kotak besar yang dibungkus kertas kado dengan rapi. “Gomapsumnida” kataku sambil tersenyum, dengan senyumku yang paling lebar.

“Kau mau kami masuk atau tidak nih?” sindir Shindong. “Oh, mianhae. Silakan masuk” kataku canggung. Mereka masuk sambil berebutan. Aku merangkul sooyoung.

“Ini… kado terindah” kataku. Dia tersenyum dengan manis. “Apa, kalian tidak marah padaku?” tanyaku padanya.

“Mana mungkin. kau .. selamanya, tetaplah bagian dari keluarga SM.” kata Sooyoung yakin. Yeah, mereka inilah, yang sedang mnggerataki rumahku, keluargaku. Selama-lamanya.

-the end-

Author bikinnya cuma drabble ^^ hehe

and.. happy b-day Hangeng oppa! This is my gift for you LOL

and… comment yah :))