Posts Tagged ‘Taemin’

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Minho POV

Inilah aku, Choi Minho berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku melangkah masuk, memasang tampang sesangar dan seseram mungkin. Hari ini, aku dan murid-murid lain mulai smemasuki semester 2, semakin mendekati ujian akhir.

Prioritasku adalah semuanya disini harus takut padaku. Yeah, aku bisa dibilang seorang pembully disini. Dan tentu saja, kemampuan berkelahi patut diacungi 4 jempol.

Temanku, ups mungkin bukan teman juga, Lee Taemin lewat di depanku sambil menunduk takut. “Heh! Kau mengganggu jalanku tau, minggir!” seruku sambil mendorongnya dengan kasar.

“Mi.. mianhae” katanya yang tersungkur di tanah. “Kau tidak boleh bilang mianhae padaku! Bilang, mianhamnida Minho-ssi. begitu!” seruku sombong.

“Mianhamnida, minho-ssi. Puas?” katanya, eh… tapi itu bukan suaranya. Itu suara seorang yeoja. Aku terkejut, dan menengok ke belakang, ke sumber suara.

Tadinya kupikir dia adalah sooyoung noona, noona kesayanganku yang selalu aku turuti perintahnya. Tapi, ternyata bukan.

Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia murid baru. Aku mengangkat alisku, menatapnya dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Hm, lumayan cantik ah annio… sangat cantik.

“Siapa kau?” tanyaku masih terus memandanginya. “Yuri noonaaa!” seru si taemin lalu menghambur dalam pelukan yeoja itu.

“Taemin-ah, gwenchana yo?” tanyanya, menyambut pelukan taemin. Taemin mengangguk. “Jadi, kau ini yeoja chingunya taemin?” tanyaku, ehm, sedikit kecewa.

“Mwo? Annio” katanya sambil tertawa. Tawa yang manis, pikirku. “Aku sepupunya. Jadi kau, choi minho yang suka taemin ceritakan itu” katanya. Sepupu? Bukankah terlalu dekat untuk dikatakan sebagai sepupu?

Taemin menunduk. “Apa yang dia katakan tentangku?” tanyaku tajam, siap menggetoknya dengan high heels yang biasa dipakai tiffany SNSD kalau-kalau taemin menjelek-jelekanku di depan yeoja ini.

“Hm, kebanyakan sih keburukanmu. Tentang bagaimana menyeramkannya kau.” katanya. Sial.. namaku pasti sudah jelek di matanya. “Tapi, kau tidak terlihat sekuat yang taemin omongkan.” lanjutnya.

“Jangan meremehkanku!” kataku sombong. Belum pernah ada orang yang meremehkanku sebelumnya! “Yah, terserah” katanya lalu menggandeng taemin.

Aku menatap kepergiannya. Yeoja ini cukup menarik, pikirku. Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tadi taemin memanggilnya apa? Apa noona? Ah, aku ini memang pelupa! Minho babo!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku berpikir tentang yeoja tadi. Dia membuatku sangat penasaran. Treeennggg! Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya aku menghabiskan jam-jam istirahatku dengan berduel dengan seseorang, tapi, sekarang aku memutuskan untuk ke kelas kakakku.

“Sooyoung noona” panggilku manja. Aku memang sangat manja pada noonaku ini. Dia sedang bercanda dengan Onew hyung, namja chingunya. Yang akhirnya aku dan Siwon hyung -kakakku juga- setujui setelah insiden ehm, sister complex.

“Wae, minho-ah?” tanyanya. “Emm.. apa ada murid baru di kelasmu?” tanyaku padanya. Dia kelihatan bingung “Annio. Tidak ada. memangnya kenapa?” jawabnya, membuatku kecewa.

“Bagaimana dengan di kelasmu, Onew hyung?” tanyaku. Dia menggeleng juga. “Tapi, kudengar ada 5 murid baru.” katanya, yang memang tau segalanya, sebagai ketua OSIS dia memang harus tau segalanya.

“Ada yang yeoja tidak?” tanyaku antusias dan to the point. “Ada. 2 orang yeoja. Yang 1, di kelas XII-C, dan yang 1 lagi di kelas XI-B.” katanya. Aku mengangguk, segera menuju ke 2 kelas tersebut.

Pertama, aku masuk ke kelas XI-B. Seketika, semua orang disana membatu, bertanya-tanya apa yang aku inginkan disana. Lihat? Bahkan kakak kelas saja takut padaku.

“Mana murid baru itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Junhyung, si ketua kelas yang sok hebat. “Aku tak ada urusan denganmu. Aku mau bertemu dengan murid baru yang masuk ke kelas ini. Mana dia?” tanyaku dingin, yang membuatnya langsung menunjuk seorng yeoja yang duduk di belakang dengan gemetaran.

Aku perhatikan dia dengan seksama. Annio. Bukan dia. Dia jelek. Jadi, aku langsung pergi dan menuju ke kelas XII-C.

Apa dia sebodoh itu sampai harus masuk kelas C? Pikirku sambil berjalan. Treeeng! Bel malah berbunyi pertanda aku harus masuk kelas segera, soalnya habis ini pelajarannya SooMan sonsaengnim. “Sial” gerutuku sambil berbalik arah menuju kelas.

Alhasil, berkali-kali aku dimarahi SooMan sonsaengnim lantaran bengong saat pelajarannya dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Pakai sihir apa sih yeoja itu? Sampai bisa mengontrolku seperti ini.

Pulang sekolah, aku buru-buru pergi ke kelas XII-C itu, sebelum dia pulang, aku harus menemuinya. “Tumben sekali tidak kudengar kau membuat keributan, minho” komentar Siwon hyung saat aku melewati kelasnya dan berpapasan dengannya. Aku hanya nyengir dan buru-buru pergi.

“Hei, mau apa kau?” tanya Doojoon, ketua kelas XII-C yang juga berandal. Aku heran bagaimana dia bisa jadi ketua kelas. Aku pernah berkelahi dengannya, dan aku menang! Sejak itu, dia ada ehm, sedikit dendam denganku.

“Mana anak baru di kelasmu?” tanyaku dingin. Sejarahku dan dia memang tidak baik. “Mau apa kau dengannya?” tanyanya penasaran. “Bukan urusanmu” kataku, mendorongnya minggir. “Hei, jangan belagu bocah!” serunya, hendak menghajarku. Aku menangkisnya.

“Aku bilang aku tak ada urusan denganmu. Jangan buat aku mematahkan tanganmu” ucapku dingin, sambil memelintir tangannya. Dia meringis kesakitan dan menyentakan tangannya hingga terlepas, lalu dengan tatapan dan aura pembunuh, meninggalkanku.

“Wow. Hebat juga” komentar seseorang. Aku menoleh padanya, dan.. itu dia! Orang yang membuatku tidak membuat masalah hari ini, tidak fokus pada pelajaran, dan dimarahi abis-abisan oleh SooMan sonsaengnim.

“Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Mau balas dendam?” tanyanya sedikit takut. Aku menggeleng “Aku… hanya penasaran” kataku. Setelah aku berhasil menemukannya, aku bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Apa iya? Kau tau, Doojoon itu orang yang menakutkan dan kau berhasil membuatnya ketakutan begitu. Aku… takut gara-gara tadi pagi kau mau balas dendam padaku” katanya.

Aku tertawa “Aku tidak mencari masalah dengan seorang yeoja” kataku dan tanpa sadar, mengacak-acak rambutnya. Setelah sadar, aku langsung menarik tanganku. Apa sih yang kupikirkan? Dia terlihat tercengan, tapi kemudian tersenyum.

“Kwon Yuri imnida. Kau? Siapa namamu?” katanya sambil menjulurkan tangannya. “Choi Minho imnida” kataku sambil tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan lalu menjabat tangannya.

Tangannya mungil, halus, dan hangat. Tangan yang membuatku tidak ingin melepasnya. Tangan yang membuatku berdebar. “Ehm, minho-ah. Kau… tidak seburuk yang kukira” katanya, menyadarkanku dan aku langsung melepas tangannya.

“Eeh… memang kau kira aku seburuk apa, yuri?” tanyaku. “Bukankah lebih baik kau memanggilku noona?” tanyanya. Oh iya, aku lupa dia lebih tua 2 tahun dariku. “Chinja. Memang kau pikir aku ini seburuk apa, Yuri noona?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lagi “Aku pikir, kau ini seorang yang menyebalkan, menjengkelkan, kasar, tak tau diri, dan sok hebat” katanya. Aku membelalakan mataku. Segitu burukkah pandangannya tentangku? “Kekeke. Mianhae… tapi, kesan pertamaku bertemu denganmu memang begitu” katanya.

“Yuri noona! Ayo pul…” seru taemin tiba-tiba, mengganggu saja! Kata-katanya terputus melihatku sedang berdua dengan yuri noona. “Eh, mianhae” katanya sambil menunduk. Uh, beruntung sekali kau lee taemin! Kalau kau bukan sepupu yuri, kau sudah ku cincang-cincang seperti daging ayam

“Minho-ah! Ternyata kau disini” seru suara yang sangat kukenal. Suaranya Siwon hyung. Dia menghampiriku. “Ayo, kita pulang. Sooyoung sudah pulang bersama On…” kata-katanya terhenti, menatap Yuri tanpa berkedip. Cih, awas saja kalau dia juga menyukai Yuri noona! Eh, juga? Maksudnya, aku menyukainya? Ah, annio. Eh, molla ~

“Yu.. yuri?” tanyanya tercengang. “Siwon oppa?” ucap yuri, sama terkejutnya. Hei, mereka saling mengenal?

“Kau… kok bisa ada disini? Bukankah kau tinggal di Amerika?” tanya Siwon. “Aku pindah ke Korea 1 minggu lalu” kata Yuri.

“hei hei… kalian saling kenal? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran. “Kau kok kenal dengan Siwon oppa?” Yuri balik bertanya. “Dia adikku” jawab Siwon. “Mwo? Adikmu?” tanya Yuri terkejut.

“Memangnya kenapa? Hyung, kok kau dan yuri noona bisa saling mengenal?” tanyaku bingung. Yuri dan Siwon saling bertatapan.

“Dia… mantan pacarku.” ucap Siwon hyung, membuatku sangat terkejut. Mantan pacar Siwon hyung? Omo!

“Hyung… kau masih mencintai Yuri noona?” tanyaku padanya, saat sampai di rumah. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau menyukainya?” tanyanya heran.

“A… annio. Cuma bertanya kok” ucapku mengelak. “Ehm, molla. Sepertinya sudah tidak. Sudah lama aku dan dia berpisah, gara-gara kepindahannya ke Amerika. Kurasa dia pun sudah melupakanku” jawabnya, membuatku sedikit lega.

“Siwon oppa! Minho-ah! Pada sedang bicara apa sih?” tanya sooyoung noona sambil masuk ke kamarku. Dia ini mengagetkan saja. Dia memang kebiasaan suka sekali masuk-masuk ke kamarku. Katanya, kamarku lebih rapi daripada kamarnya.

“Eh, ada yang ingin kutanyakan” kataku tiba-tiba. Siwon hyung langsung menoleh ke arahku, dan sooyoung noona yang merebahkan tubuhnya di kasurku langsung saja bangkit untuk duduk. “Mwoerago?” ucap mereka berdua.

“Aku… menyukai seseorang” kataku malu-malu. Lihat? Seorang pembully bisa saja malu-malu! Tapi, ini hanya kutunjukan pada saudara-saudaraku, yang bisa mengertiku.

“Siapa??” tanya Siwon hyung terkejut. “Wah, uri Minho sudah besar!” seru Sooyoung noona sambil mengacak-acak rambutku.

“Ehm, dia… yuri noona” jawabku sedikit malu. “Siapa dia?” tanya sooyoung noona polos, sedangkan Siwon hyung, yah.. dia terkejut “Yuri?! Pantas tadi kau tanya-tanya soal dia” ucapnya.

“Wah, akhirnya ada juga yang mau denganmu yang suka menganiaya orang ini” komentar sooyoung noona yang langsung aku balas dengan pelototan tajam. “Memangnya, siapa yang bilang dia mau?” kataku lemas. Mana mungkin Yuri noona menyukaiku?

“Oh, jadi bertepuk sebelah tangan?” ucap sooyoung noona sambil mengelus-elus kepalaku. Aku menyingkirkan tangannya, paling benci kalau ada orang yang mengelus kepalaku. “Aku ini tidak semenyedihkan itu kok” elakku. Mereka hanya mengangguk-angguk prihatin.

Malam hari aku lewati dengan pikiran penuh tertuju pada satu yeoja. Yuri noona. Argh.. apa aku benar-benar menyukai, ah annio… mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun aku masih memikirkannya.

Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan lingkaran hitam di bawah mataku, tidak bisa tidur karena aku terus memikirkannya. Aku masih sangat mengantuk. Apa aku bolos sekolah saja dan tidur? Ah, shireo! Aku mau bertemu dengan yuri noona!

Maka, cepat-cepat aku cuci muka, mandi, dan langsung menghabiskan sarapanku. “Cepat, Minho-ah!” seru Siwon hyung dari luar. Aku langsung keluar. Kami memang tidak pernah pamit pada orangtua kami. Kami bahkan tidak tau mereka ada di rumah atau tidak, karena begitu seringnya mereka pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk bekerja.

“Kau parah sekali. Kau tidak tidur ya?” tanya Sooyoung noona. Kuakui, memang dengan keadaan begini, ketampananku sedikit berkurang. Aku harus segar lagi! Masa Yuri noona melihatku seperti ini? Kukucek-kucek kedua mataku, tapi hasilnya malah tambah parah. Kedua kakakku hanya menggeleng-geleng.

BRUK! Doojoon menabrakku, yang aku cukup yakin sengaja. Dia bahkan tidak minta maaf dan hanya nyengir. Tapi, dalam keadaan mengantuk begini, aku tidak berselera untuk berkelahi.

“Mau apa kau?” tanyaku sambil menguap. “Jangan belagu kau, bocah! Aku ini lebih hebat darimu!” serunya di telingaku. Makhluk ini kenapa sih? Aku kan tidak mencari masalah dengannya.

Aku ini orang yang tidak mudah marah sebenarnya, walaupun pembuat onar dan suka mencari masalah. Jadi, aku mendorongnya walaupun dalam kondisi mata 5 watt.

“Hei!” serunya marah. Oke, aku sudah berhasil membuatnya marah. Dia hendak menonjokku. Wow, ini pasti seru. 2 berandalan Seoul School berkelahi LAGI untuk yang kedua kalinya. Aku menahan tonjokannya tapi dia menonjok perutku.

Susah tau, berkelahi dalam kondisi setengah tertidur seperti ini? Tapi, sekelebat kulihat Yuri noona, dan semangatku langsung bangkit. Enak saja, aku tidak mau kalah apalagi di depan yuri noona!

Aku langsung menonjok pipinya balik dan menendang perutnya dengan lututku. Dia membalas menonjok wajahku, yang kutahan, lalu kusengkat kakinya hingga dia terjatuh dan menendangnya yang meringkuk di tanah. Kuselesaikan dia dalam waktu 5 menit. Bukan lawan yang sulit.

Beberapa temannya membantunya berdiri yang kutatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung bergidik ngeri dan kabur, takut kalau nasib mereka sama seperti Doojoon.

“Jangan cari masalah” kataku dengan kejam. Kerumunan orang di sekitarku sudah bubar. Aku heran, kenapa tidak ada guru yang melerai kami.

Aku menarik seorang yang seangkatan denganku tapi beda kelas. “A.. kenapa?” tanyanya gugup. “Aku lelah. Mana minummu?” ucapku. “Aku tidak punya minum.” katanya ketakutan.

“Kalau aku ingin minum, kau harus memberiku minum” ucapku. Cepat-cepat dia pergi ke kantin untuk membelikanku minum. Aku melihat sekeliling. Tumben, sooyoung noona tidak memarahiku. Mungkin dia sudah di kelasnya.

Anak yang kusuruh tadi kembali dengan sebotol jus jeruk di tangannya yang cepat kusambar. Kubuka tutupnya, kutuang seperempatnya ke anak itu, membuat rambutnya lepek dengan jus jeruk dan dengan kejam kutuang sisanya ke Doojoon.

“Hitung-hitung kalau kau haus” kataku, melempar botol jus jeruk kosong yang mengenai kepalanya. Dia menatapku seakan ingin membunuhku saat ini juga, sedangkan anak yang kurang beruntung tadi langsung berlari pergi.

Aku hendak melangkah menuju kelasku, tapi langkahku terhenti melihat Yuri noona melihatku dengan terpana.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku mendekatinya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apanya yang bagaimana? kau ini… bagaimana ada orang sejahat kau sih?” tanyanya terkejut lalu meninggalkanku, terbengong di tengah jalan. Dia… marah padaku??

1 hari kulewati tanpa fokus ke pelajaran. Sepanjang pelajaran aku mencoba untuk tidur, yang tidak bisa kulakukan karena terus memikirkan Yuri noona. Bagaimana dia bisa marah padaku? Karena aku ini orang yang jahat? Argh… tanpa memikirkannya aku sudah cukup stress dengan mataku yang tinggal 5 watt ini.

Treeenggg! Bel istirahat. Dengan lemas, aku keluar kelas, menuju ke kelas Yuri noona, memohon penjelasannya. Aku berjalan dengan gontai. Tapi, langsung semangat melihat Yuri noona yang sedang berdiri memegang sebotol soda, hendak meminumnya.

“Ah, minggir!” seruku tak sabar, pada seseorang yang entah siapa menghalangi jalanku menuju Yuri noona. Aku mendorongnya, membuatnya terjungkal dan menabrak dinding dengan cukup keras.

“Minho-ah…” ucapnya terkejut. “Eh, ehm.. annyeong” kataku dengan canggung. Pandangannya padaku pasti sudah berubah lagi. Ahh… sial!

“Aku.. mianhae” kataku. “Untuk apa kau minta maaf?” tanyanya heran. Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku minta maaf.

“Seharusnya kau minta maaf pada mereka, yang sudah kau bully!” serunya. “Tak kusangka kau sejahat itu. Aku bahkan sekarang tau, perlakuanmu pada sepupuku, taemin. Kau ini tidak punya hati ya?!” ucapnya marah.

“Aku punya hati tau!” elakku. “Oh ya? Apa buktinya? Kau bahkan bisa dengan mudah membuat seseorang terluka” ucapnya sinis.

“Buktinya…. aku… aku bisa mencintaimu!” ucapku lirih. “Mwo??” tanyanya terkejut. Sangat sangat terkejut.

“Aku ini tadi sudah lelah tau! Tapi, aku terus berusaha mengalahkan doojoon. Kenapa? Karena kau! Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapanmu!” seruku.

“Setiap hari, setiap malam, bahkan di mimpiku pun, aku memikirkanmu. Selama pelajaran, aku memikirkanmu. Aku tidak bisa, membiarkan 1 detiku hidupku pun, melepaskan pikiranku darimu semenjak aku melihatmu” tambahku lagi.

Dia terdiam dan melongo. “Aku takut, saat Siwon hyung bilang kau adalah mantannya. Takut kalau aku harus bersaing dengan hyung-ku sendiri. Aku tidak lagi membully taemin, takut kau akan membenciku. Itu semua sudah jelas kan?!”

“Noona neomu yeppeo! Kwon Yuri… saranghae!” seruku, mengeluarkan semua yang kurasakan, membuat semua orang melihat ke arah kami, tapi aku tak peduli. Aku harus mengatakan ini semua padanya.

Dia tampak sangat terkejut. “Aku…” Aku memejamkan mataku, takut kalau perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan.

“Na do saranghae.” katanya lirih, membuatku membelalak menatapnya. “Aku kecewa dengan sikapmu yang seperti ini, ingin merubah semua sikapmu, supaya kau menjadi lebih baik. AKu sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.”

“Kau memiliki karisma, itu yang kusuka darimu. Aku bahkan sekarang sudah mencintaimu, seiring berjalannya waktu, perasaan itu semakin kuat. Aku bahkan tidak mengerti kenapa, aku bisa mencintai seorang penjahat sepertimu.”

AKu memeluknya. Tingginya bahkan tidak sampai melebihi daguku. Aku memeluknya, merengkuhnya. “Aku berjanji. Aku akan berubah. Seperti yang kau mau.” ucapku.

“Chinja?” tanyanya, masih dalam pelukanku. “Nde” ucapku dengan tulus. Apapun, apapun yang noona cantik ini inginkan, aku akan menyetujuinya.

Dia mau aku bertobat? Menjadi anak baik? No prob!

Semua orang menatapku, saat pagi hari aku melangkah masuk ke sekolah tercintaku, Seoul school. Aku tidak mendorong atau membentak siapa pun pagi ini. Today is the new Choi Minho’s time.

Aku memakai seragamku dengan benar, memasang senyuman yang ramah. Bukan senyum terpaksa kok! Ini senyum tulus, bahagia karena Yuri noona sudah jadi milikku sekarang.

“Noona…” seruku sambil memeluknya dari belakang. “noona, kau cantik sekali hari ini” pujiku sambil mengelus kepalanya. “Oh, jadi aku cantik hanya hari ini?” godanya. “Annio” jawabku sambil menggeleng dengan manja.

“Noona neomu yeppeo… today, yesterday, tomorrow, everyday, for-e-ver!” ucapku sambil mencium keningnya. Inilah yeoja yang bisa merubah hidup seorang Choi Minho. Seorang yeoja cantik yang bernama Kwon Yuri.

-The end-

Who’s MinYul shipper here? 😀 gimana menurut kalian? hehe

mohon comment yah >.<

Advertisements

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

main cast: Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Seo Joohyun, Lee Jinki (a.k.a onew)

Sooyoung POV

Inilah aku, choi sooyoung. Berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku dan saudara-saudaraku menapaki kaki kami ke taman depan Seoul school.

“Annyeong haseo, sooyoung-ah.” sapa seseorang yang bahkan aku tidak kenal. “Annyeong haseo.” sapaku padanya.

“Pagi, Sooyoung onnie!”

“Annyeong haseo, soo-ah!”

“Annyeong haseo, sooyoung.”

sapa teman-teman dan adik kelasku. “annyeong haseo semuanya.” sapaku pada mereka. Aku memang termasuk siswa populer di sekolahku. Keluargaku adalah pendiri sekolah ini dan pengusaha kaya yang menjadi orang nomor 1 di Seoul. Tidak seperti kakakku, Choi Siwon yang sombongnya gak ketulungan, atau seperti adikku Choi Minho yang suka mem-bully dan merasa orang paling jago, aku, Choi Sooyoung adalah seorang yang pandai bergaul dan ramah. Walaupun, agak sedikit ‘berandal’

“Sooyoung! Akhirnya kau datang! Pinjam pe-er dong. Aku belum bikin.” panggilnya langsung setelah aku memasuki kelasku. “Aku saja belum bikin, cho kyuhyun!” kataku.

“Sooyoung-ah, ini salin saja pe-erku!”

“Ini, aku jamin jawabanku benar semua!”

“Tulisanku lebih rapi. Ambil saja punyaku.”

namja-namja di kelas berebutan meminjamkan pe-er mereka padaku. Aku asal ambil dari mereka. “Kamsahamnida.” kataku. Aku melemparkan salah satunya ke kyuhyun. Dia menatapku seakan aku ini makhluk ajaib atau peri atau apalah. “Woaa… gomawo soo.. kau memang teman terbaikku.” katanya sambil memelukku. “Sudah… bagaimana aku bisa membuat pe-er kalau kau memelukku seperti ini.” kataku. Dia hanya nyengir, menampilkan giginya yang putih rapih lalu melepas pelukannya.

Oh, apakah kalian Kyuyoung shipper? kekeke~ Sayangnya, kyuhyun bukanlah namja chinguku. Dia hanya sahabatku. Sahabat terdekatku. Jeongmal. Sungguh. Tidak lebih dari sahabat.

Aku dan Kyuhyun, adalah 2 murid termalas di kelas ini. Oh, kami tidak bodoh. Sungguh. Karena kelas ini, kelas A, adalah kelas dengan murid yang nilai rata-ratanya paling tinggi. Aku dan Kyuhyun menduduki peringkat terakhir. Kekeke

“Sooyoung, Kyuhyun, jangan lupa. Pulang sekolah ada rapat.” ucap Lee Jinki atau biasa dipanggil Onew, sang ketua OSIS. Walaupun dia seumuran dengan kami, tapi karena kemampuan otaknya, dia menjadi sunbae kami dan 1 tingkat di atas kami. “Seohyun, nanti bantu aku mengurus agenda rapat.” katanya pada Seohyun, sang wakil ketua OSIS.

Aku membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Di OSIS, tugasku adalah sebagai sie. olahraga. Mungkin karena tubuhku yang atletis dan tinggi. Sedangkan Kyuhyun sebagai sie. kesenian. Seleranya pada seni memang tinggi.

“Bagaimana makhluk seperti kalian berdua bisa jadi pengurus OSIS sih?” tanya Hyoyeon. manusia yang satu ini memang sensi sekali padaku dan Kyuhyun. Entah kenapa.

“kenapa? kau sirik Kim Hyoyeon?” balas Kyuhyun. “Sirik? cih, untuk apa? Tapi, kalian berdua ini kan pemalas dan paboya. Entah apa yang dipikirkan Soo Man sonsaengnim hingga memilih kalian.” tambahnya.

“Sooyoung-ah bukan paboya!”

“Dia pintar! dia juara 2!”

“Sooyoung-ah memang cocok jadi pengurus OSIS!”

bela namja-namja di kelas ku. “woo… kenapa ya tidak ada yang membelaku?” gumam kyuhyun.

“Sooyoung dan Kyuhyun pantas jadi pengurus OSIS. mereka bertanggung jawab.”

perkataan dari Seohyun ini mengejutkan seisi kelas. Seohyun memang dikenal sangat pendiam dan tidak pernah ikut campur dalam urusan kelas yang dianggapnya tidak penting. Melihat Seohyun berbicara untuk membelaku dan Kyuhyun adalah sesuatu yang jarang.

Tapi, hal ini sukses membuat hyoyeon terdiam dan duduk di tempatnya. Aku menjulurkan lidah padanya yang membuatnya semakin geram. Heran deh, salah apa sih sebenarnya aku padanya?

Krystal, teman sekelasku memasuki kelas sambil menangis. “Ada apa krystal?” tanyaku prihatin. Dia menatapku dengan matanya yang merah dan bengkak. “Siwon oppa…” katanya sesenggukan. Sial, apa lagi sih yang diperbuat manusia itu? gerutuku.

“Apa yang dia lakukan padamu Krystal-ah?” tanyaku lagi. “Dia… menghinaku.. menghinaku di depan…” krystal tidak melanjutkan kata-katanya dan menangis. Krystal memang bukan dari keluarga kaya. Dia adalah murid beasiswa disini. Tapi, bukan berarti kakakku bisa seenaknya menghinanya. Krystal adalah yeoja yang baik hati.

“YA! Choi Siwon! Apa lagi sih yang kau lakukan!” seruku pada kakakku yang membuat satu kelasnya menengok ke arahku. “Choi Sooyoung! Hormati aku! Aku ini kakakmu tau!” hardiknya.

Aku tidak menghiraukannya. “Apa yang kau lakukan pada krystal-ah?” tanyaku. Dia tersenyum mengejek “Apa sih pedulimu pada cewek miskin itu?? Dia kan hanya cewek gembel.” katanya.

Kalau tidak ingat dia adalah kakakku, mungkin sudah kutampar mulutnya itu. Maklumlah, dia adalah ‘tuan muda’ Choi, pewaris perusahaan terbesar di Seoul.

“Kau ini…. jangan terlalu sombong begitu, oppa! Kalau kita nanti yang jadi gembel, baru kau tau rasa!” omelku. Seketika senyumnya hilang. “tak usah mengguruiku, sooyoung. Kita tidak akan mungkin menjadi gembel seperti cewek itu, adikku yang cantik.” katanya.

Ah, sampai mulutku berbusa pun, kakakku tidak akan merubah sifat sombongnya itu.

“Aaaa! a… ampun…” teriak seseorang. Aku, yang memang sifat dasarnya ingin tau, segera berlari ke sumber suara. Ternyata itu adalah Lee taemin, juniorku. Kulihat dia sedang berlutut pada…. yah… adikku, Choi minho.

Kulihat minho menendangnya dan memukulnya. Yang lain hanya diam saja melihatnya karena takut pada minho dan antek-anteknya, Key, Wooyoung, dan Chansung. Tapi, ada 1 orang yang minho takuti. Dan itu, aku.

“Choi minho.” panggilku dingin. “ehh… noona?” jawabnya. “Lepaskan taemin.” kataku dengan tenang. “hm, sebentar.” katanya sambil menendang taemin lagi. Aku mendekatinya. “LEPASKAN!” seruku yang membuat minho berhenti menendangi taemin. “pergi sana.” kata minho.

“eh.. kamsahamnida, noona.” kata taemin sambil membungkuk 90 derajat padaku. Aku membalasnya dengan senyuman.

“Choi minho…”panggilku. “Iya.. iya.. mianhamnida.” katanya. Entah apa yang membuat pembully seperti dia takut padaku. tapi setidaknya, hal itu bisa membuatku mengontrolnya.

Keluarga Choi memang tidak disukai disini. Pasti karena kelakuan Siwon oppa dan Minho. Tapi, semuanya menyukaiku -kecuali hyoyeon, kurasa.

-End of POV-

“Sooyoung! Cepatlah!” seru Kyuhyun. “Sabar! Aku ini pakai rok tau.” balas Sooyoung. Mereka berdua sedang memanjat pagar sekolah untuk bolos. Jangan tanya kenapa, ini sudah kebiasaan mereka untuk menghindari pelajaran matematika dan sosiologi (author ga tau pelajaran di korea apa aja, jadi disamain aja yah sama yang di indo) Sudah dibilang kan sebelumnya, Sooyoung itu anak yang sedikit ‘berandal’?

“EHEM.” tiba-tiba Onew datang memergoki mereka sedang kabur. “Onew..?” tanya sooyoung bingung. “wah, ketua OSIS SMA Seoul school juga mau kabur ternyata. Ayo, kubantu kau memanjat pagar.” kata kyuhyun.

“Siapa bilang aku juga mau kabur? Aku ini sedang ditugasi soo man sonsaengnim untuk menertibkan murid seperti kalian ini!” kata Onew.

“Ah, Jangan beritau soo man sonsaengnim please.” mohon Sooyoung. Walaupun mereka ketahuan kabur oleh BoA sonsaengnim, guru matematika dan Gahee sonsaengnim, guru sosio, dengan ‘tatapan-memelas-maut’ Sooyoung dan Kyuhyun, mereka tidak pernah dihukum.

“Hm, begini saja. Aku yang akan menghukum kalian.” ucap Onew. “mwo?? tapi…” ucap sooyoung. “atau kalian mau lee soo man sonsaengnim yang menghukum?” ucap Onew lagi yang membuat Kyuhyun dan Sooyoung cepat-cepat memanjat pagar lagi untuk kembali ke dalam sekolah.

“kekeke~ kalian ngapain memanjat begitu?” kata onew sambil tertawa memperlihatkan kunci gerbang sekolah yang ada di tangannya. Sooyoung membelalakan matanya “oppa! kenapa kau tidak bilang kau punya kuncinya!?” serunya. “kekeke” onew hanya tertawa.

“nah, lari keliling lapangan 10 kali.” ucap Onew. “mwo? se-se-sepuluh?” ucap Kyuhyun gagap. Dia memang paling payah dalam olahraga. Tidak seperti Sooyoung, yang langsung saja berlari dengan riang.

Onew POV

Tubuhnya atletis sekali. Tinggi, menawan, dan cantik. Ah, aku ini mikir apa sih? Tapi… aku… aku tidak bisa menyangkalnya. Keke~ Ketua OSIS Seoul School, menyukai ketua sie. olahraga.

“Sooyoung-ah ! Tungguin dong!” seru Kyuhyun yang mati-matian berusaha mengejar Sooyoung. Cho Kyuhyun. Orang yang benar-benar membuatku cemburu. Dia sangat dekat dengan Sooyoung. Aku tau mereka cuma sahabat. Tapi… ah, sudahlah. Biarkan aku menjaganya dari jauh saja tanpa dia perlu tau perasaanku.

“Onew-ssi. Sedang apa mereka?” tanya Seohyun yang tiba-tiba ada di sampingku. Aku terlonjak kaget karena dia tiba-tiba datang dan membuyarkan pikiranku tentang Sooyoung.

“Mereka kuhukum. Karena berusaha kabur dari sekolah.” jelasku.

“New scandal of Seoul School! Ketua OSIS dan wakilnya sedang pacaran!” seru Kyuhyun iseng. “Waaah… cukkhae Onew oppa, Seohyun-ah!” timpal Sooyoung.

“eeh? tidak! kami tidak pacaran!” kilah Onew. “Nde. Kami tidak pacaran.” ucap Seohyun. Tapi Kyuhyun dan Sooyoung hanya tertawa.

“Yang benar Seohyun-ah?” ledek kyuhyun. Wajah Seohyun bersemu merah. “Chinja. Tentu saja.” kata Seohyun. “Kalau begitu… kenapa wajahmu merah begitu?” goda Kyuhyun lagi. Seohyun tidak menjawab.

“Sooyoung-ah! Awas!” seruku. Sooyoung yang terlalu bersemangat berlari tidak melihat batu besar di depannya dan tersandung. “Adududuh~” ucapnya sambil mencoba mempertahankan keseimbangannya. Dengan cepat, aku menghampirinya sebelum keseimbangannya hilang.

Aku menangkap tubuhnya itu tepat saat dia terjatuh. Tubuhnya yang indah dan langsing itu ternyata sangat ringan. “Cieeee…” goda kyuhyun. Seohyun saja tersenyum-senyum melihat posisi kami yang seperti berpelukan itu.

Aku merasa wajahku panas. Aduh, pasti wajahku merah sekali. batinku. Tapi, kulihat, wajah sooyoung juga merah.

Sooyoung POV

“eeh… ngg, gomawo oppa.” kataku. Langsung saja, Onew melepaskanku darinya. “Ehh… iya.” jawabnya kikuk. Kenapa jadi canggung begini? Ah, padahal Kyuhyun sering memelukku. Tapi, rasanya biasa saja. Kenapa ya.. saat Onew oppa memelukku seperti itu rasanya… berbeda…

“Onew! masa kau mau sama berandal seperti dia ini sih?” ledek Kyuhyun lagi. Aku mendelik padanya, melemparkan tatapan diam-kau! padanya. Tapi, kurasa dia pasti sudah kebal dengan tatapanku itu.”Memangnya salah?” jawab Onew.

“Oh, jadi kau memang benar menyukainya?” tanya Kyuhyun. “Kenapa? Cemburu?” serang Onew.

“Annio. Untuk apa aku cemburu? Lebih baik aku bersamanya.” kata Kyuhyun sambil merangkul Seohyun. “Mwo?? Kalian sudah jadian dan bahkan tidak memberitahuku?” ucapku terkejut.

“Ah, annio… tidak kok.” jawab Kyuhyun dan melepaskan tangannya dari Seohyun. Kini, wajah mereka berdua yang memerah.

Seohyun POV

“heh? Kenapa Kyuhyun oppa bilang begitu? omo!” batinku dalam hati. Belum lagi, tangannya yang besar dan hangat merangkulku. Aku merasa wajahku memanas.

Saat pulang sekolah…

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang OSIS. Hari ini kami akan ada rapat membahas Basketball Cup yang akan diselenggarakan si sekolah ini.

“pssstt… seohyun-ah.” panggil seseorang dengan bisikan. Aku menengok. ternyata Kyuhyun oppa. “Wae? Kenapa kau disini?” tanyaku padanya yang sedang berjongkok di koridor. Padahal, 15 menit yang lalu aku masih melihatnya di dalam kelas.

“Lee Soo Man sonsaengnim menghukumku. Gara-gara aku makan coklat saat pelajarannya. Padahal, Sooyoung makan 3 bungkus dan aku hanya 1. sialnya, aku yang kepergok.” gerutunya. Aku hanya tersenyum “Sudah tau, sonsaengnim seperti apa, kau masih nekat saja.” kataku.

Dia tersenyum “Kau… manis loh saat tersenyum.” Wajahku memerah lagi. “eeh?” hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku.

“Aku… sering melihatmu berdiam diri saja. Jarang sekali bicara dan tersenyum. Padahal, saat tersenyum kau itu manis loh.” katanya panjang lebar. Aku hanya diam membatu mendengarkannya. “Sering-sering tersenyum ya. Untukku.” tambahnya lagi.

Aigoo… Aku sangat senang mendengarnya. Ingin rasanya aku melompat-lompat sepanjang perjalanan ke ruang OSIS. “Ehh… gomawoyo.” kataku sambil tersenyum dengan sangat manis. Memang benar kata orang-orang. Tidak ada yang mengalahkan wajah cantik wanita saat dipuji lelaki yang disukai.. eh bukan, dicintainya.

Kulihat wajahnya memerah “I.. iya. Oh iya, kau mau kemana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Ruang OSIS.” jawabku. Dia langsung bangkit berdiri. “Oh… ngapain?” tanyanya lagi. “Mempersiapkan agenda rapat untuk nanti bersama Onew.” terangnya.

“Berdua saja?” tanyanya lagi seakan menginterograsiku. Aku mengangguk. “Enak sekali dia.” gumam Kyuhyun. “mwo?” tanyaku, memastikan kupingku tidak salah dengar. “eeh… gwenchana. Yasudah, sana.” katanya.

“Annyeong haseo, Onew-ssi.” sapaku pada Onew yang sudah ada di ruang OSIS. “Annyeong haseo. Seohyun-ah. Berhenti memanggilku seperti itu. Panggil saja oppa.” katanya. “eeh… arasso, onew oppa.” kataku.

“Hmm… oppa.” panggilku. “nde?” “Kau… menyukai Sooyoung ya?” tanyaku tanpa basa-basi.

“mwo??” tampaknya dia kaget. Aku sendiri bahkan kaget kenapa pertanyaan itu bisa terlontar dari mulutku. “Sudah terlihat dari dulu kalau kau menyukainya. Kenapa tidak kau nyatakan saja?” ucapku lagi.

“Aku… tidak berani.” katanya  lirih. Aku menyentuh pundak onew. “Coba saja.” kataku.

“Kau sendiri?” tanya Onew. “Aku apa?” aku bertanya balik. “Kau dengan Kyuhyun… Kurasa dia juga menyukaimu.” katanya. Wajahku memerah untuk yang ketiga kalinya hari ini. “menurutmu begitu? Kurasa… mm.. tidak.” kataku. “percayalah pada ketua OSIS. keke~” katanya.

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya. Aku sendiri heran, kenapa seberani ini. Mungkin, kata-kata Kyuhyun tadi memberiku kekuatan tersendiri. “Kita berjuang bersama..” kataku. “Untuk mendapakan cinta kita.” lanjut Onew.

Tiba-tiba, pintu ruang OSIS terbuka

-End of POV-

ternyata yang masuk adalah Sooyoung. “Ehh… maaf mengganggu.” katanya melihat Seohyun dan Onew yang saling berpegangan tangan dan berhadap-hadapan. Apa sih, Sooyoung? Kenapa rasanya sakit? batin Sooyoung dalam hati.

“Ehh… chakkaman. Kami, gak ngapa-ngapain kok.” kata Onew. Onew babo! Ngomong apaan sih? gerutunya dalam hati. “heeh… kalian mau ngapain kan bukan urusanku.” kata Sooyoung.

“Benarkah? Bagaimana kalau ini?” ucap Seohyun. Dia menarik Onew sehingga membelakangi sooyoung dan.. mencium Onew!

“Seo… seohyun?” kata Sooyoung tidak percaya pada temannya yang pendiam ini. Aduh, kenapa kau sedih choi sooyoung? Rasanya… aku.. ingin menangis.. batin Sooyoung.

“woo.. kenapa in…” kata-kata Kyuhyun tidak bisa dilanjutkan saat dia melihat Seohyun dan Onew. Sooyoung berlari keluar dari ruangan. Spontan, Onew langsung mengejarnya.

“wow.” komentar Kyuhyun sedih. “Aku… tidak menciumnya kok.” kata Seohyun. “oh ya?” tanya Kyuhyun lemas. “Tadi, aku hanya berpura-pura. Supaya Sooyoung mengakui perasaannya pada Onew oppa.” jelas Seohyun. “wah. Kau bahkan sekarang memanggilnya oppa.” kata Kyuhyun lagi. “Wae? Jealous?” tanya Seohyun.

“mwo?? a.. annio.” jawab Kyuhyun. “Aku tidak cemburu. untuk apa aku cemburu? Aku kan tidak punya hak untuk…” kata-katanya terpotong karena Seohyun memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat. “eeh… Seohyun?” ucap Kyuhyun. Seohyun menatapnya dalam-dalam lalu berkata “oppa… saranghae.” katanya. Dia mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakannya.

“a..apa? Aku tidak dengar.” kata Kyuhyun. “Aku tau kau dengar.” kata Seohyun. “Sungguh. Aku tidak dengar.” kata Kyuhyun pura-pura polos.

“OPPA! SARANGHAE! apa masih tidak dengar juga?” teriak Seohyun. Kyuhyun tersenyum. merengkuh tubuh mungil Seohyun ke dalam pelukannya. “Na do saranghae.” jawab Kyuhyun.

back to Onew-Sooyoung

“Sooyoung-ah! Chakkaman!” panggil Onew. Sooyoung sudah tidak bisa membendung air matanya. “Kenapa… kau menangis?” tanya Onew sambil mengusap air mata Sooyoung yang terjatuh deras di pipinya. “Molla.” jawab Sooyoung.

“Tadi, Seohyun tidak menciumku. Dia hanya.. pura-pura.” kata Onew. “Lalu? Itu kan bukan urusanku.” ucap Sooyoung. “Choi Sooyoung…. jawab aku. Benarkah kau tidak peduli?” tanya Onew sambil menatap mata Sooyoung dalam-dalam.

Sooyoung menghindari tatapan matanya dan tidak menjawab. “Choi Sooyoung, jawab aku!” kata Onew lagi. Tangisan Sooyoung pecah “nde… iya! Aku peduli! karena aku cemburu.. Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku cemburu. Aku.. aku…” Onew meletakkan telunjuknya di bibir Sooyoung.

“Choi Sooyoung, dengarkan ketua OSISmu ini. Ketua OSIS SMA Seoul School telah jatuh cinta pada ketua sie. olahraga. Sooyoung-ah, saranghae.” kata Onew, mengumpulkan semua keberaniannya.

Sooyoung terpana “Tapi.. kau dan Seohyun…” Onew memotongnya “kami tidak ada apa-apa. Kami hanya saling mendukung karena ingin menyatakan perasaan padamu dan Kyuhyun.” terangnya.

“nah, kau tidak menjawab perasaanku?” tanya Onew. Sooyoung tersenyum “Bukankah saat kubilang aku cemburu, kau sudah mengerti artinya?” Sooyoung bertanya balik.

Onew menarik Sooyoung ke dalam pelukannya dan memeluknya.

“you are my destiny.” kata Onew padanya.

“Wah, seleramu itu orang serendah ini yah, ketua?” kata Hyoyeon yang muncul tiba-tiba. “Hyoyeon-ah!” kata Onew terkejut.

“Melupakan rapat demi wanita pecicilan ini?” sindir Hyoyeon lagi.

“terserah kau mau bilang apa. Biar aku seorang ketua OSIS, dan Sooyoung adalah anak ‘pecicilan’ seperti yang kau bilang. Aku mencintainya. She’s my destiny.” kata Onew.

Hyoyeon cemberut mendengar pembelaan Onew “Jangan lupakan rapat.” ucapnya sebagai sie. sosial sebelum akhirnya pergi.

“Nah, ayo kita rapat.” kata Onew sambil menggandeng tangan Sooyoung menuju ruang OSIS. “Kenapa kau memilih bad girl sepertiku untuk menjadi yeoja yang kau cintai, oppa?” tanya Sooyoung polos.

“Dasar.” kata Onew sambil mencubit hidung Sooyoung lembut. “Bukankah tadi sudah 2 kali kubilang…

It’s because you are my destiny.

hwaa… senangnyaa bisa bkin OnSoo pairing… hehe..

gimana ceritanya?