Posts Tagged ‘Seohyun’

Melodies of Life (chapter 7)

Posted: March 24, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of life chapter 7-My last chance


Seohyun POV

*flashback*

aku berjalan tak tentu arah. Tapi, akhirnya kakiku melangkah menuju ke sebuah rumah sakit, entah kenapa. Aku merasa, di rumah sakit inilah aku bisa menemukan petunjuk tentang diriku. Aku menyusuri koridor rumah sakit, sampai akhirnya menemukan figur yang familiar. Entahlah. Aku tidak mengenalnya. Tapi rasanya, dia itu sangatlah familiar.

Aku mengikuti namja itu, masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia duduk di pinggir ranjang, tempat seseorang yang tidak dapat kulihat karena terhalan oleh tirai. Perlahan, dia mulai menangis. “Seohyun-ah… Aku masih disini. Aku menunggumu” katanya. Aku terkejut dan berjalan mendekatinya.

Di ranjang itu, aku melihat diriku, terbaring lemah. Kalau aku tidak melihat dadanya, emm… dadaku yang naik-turun, pertanda masih bernapas, aku pasti berpikir bahwa diriku itu sudah mati.

Aku menatap namja itu. “Seohyun-ah… Kuharap kau bisa mendengarku. Saranghae. Jeongmal saranghae. Karena itu, kau harus cepat sadar, agar kita bisa berjalan bersama lagi” dia berkata di sela-sela tangisannya. Aigoo… kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Siapapun namamu, aku yakin, kau pasti sangat mencintaiku. Karena itu, tunggulah aku. Tunggulah sebentar lagi. Kim Ki Bum. aku tersentak! Kim Ki bum? Itukah namanya? Tiba-tiba nama itu muncul dalam pikiranku. Nama… namja chinguku.

*end of flashback*

“Joohyun! Yah! Joohyun!” Kyuhyun memanggilku, membuyarkan lamunanku. “Hmm?” Aku menjawabnya. “Aku akan berangkat sekolah. Kkaja!” katanya. Aku menatapnya dan mendesah, lalu mengangguk. Sebentar lagi.. aku harus meninggalkanmu.

Kyuhyun POV

Aku berjalan keluar dari rumah. Ahh.. senangnya, akhir-akhir ini, aku jarang sekali terlambat. Sooyoung sudah mengerti cara mematikan alarm dan bangun, bukannya membanting alarm lalu kembali tidur rupanya.

Aku melihat yoona baru keluar dari rumahnya. Tampaknya dia juga melihatku. “Kyu oppa!” seru Yoona lalu berlari dan memelukku. “Pagi, chagiya” kataku padanya, sambil mengecup keningnya. Aigoo… hari ini dia cantik sekali. Aku menoleh untuk mencari Seohyun. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Dimana dia?

“Mi..mianhae, aku harus pergi sebentar” kataku, meninggalkan yoona dan sooyoung yang menatapku kebingungan. Tapi, aku tidak peduli. Omona! Omona! Aku belum siap ditinggal oleh Seohyun.

Aku berlari dan terus berlari. Kakiku bergerak dengan kemauannya sendiri, sampai akhirnya aku berhenti di sebuah tanah lapang dan aku melihatnya disana.

“Joohyun!” panggilku. Dia menengok. “Apa kau… sudah akan meninggalkanku?” tanyaku sedikit merana padanya. Dia tersenyum.”tugasku sudah selesai. Senang mengenalmu, Cho Kyuhyun” ucapnya. Kulihat, dia menangis. “Andwae! Jangan tinggalkan aku!Aku… aku… aku mencintaimu” Akhirnya, aku mengatakannya. Kata-kata yang membuatku bingung. Sambil memeluknya, aku pun menangis.

“Kyu oppa? Kau sedang apa?” tanya yoona, yang tiba-tiba sudah di belakangku. “Yoo… yoona. aku…” Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. “Kau… mecintai yeoja lain?” tanyanya tidak percaya. Air mata sudah mulai membasahi pipinya.

“Anni.. yoona!” Aku berseru memanggilnya. Dia berlari meninggalkanku. BRUMMM! Argh sial! Dia tidak melihat sekelilingnya saat berlari menyeberang. “Yoona!! Awas!!” seruku langsung, cemas dan takut saat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Aku bergerak lebih cepat dari yang aku bayangkan. BUG! Aku mendorong yoona lalu… gelap…

———–

Seohyun POV

“Tuhan…” panggilku. Aku sudah kembali ke surga. Dan bukan main terkejutnya aku, melihat sosok yang familiar, sedang terbaring damai di sebelah kaki Tuhan. Cho Kyuhyun.

“Tuhan, ijinkan dia hidup lagi” kataku memohon. “Tidak bisa, Seo joo hyun. Itu memang sudah takdirnya” kata Tuhan. “Kumohon, Tuhan. Dia belum merasakan kebahagiaan bersama-sama dengan Yoona. Biarlah aku saja yang menggantikan dia. Berikanlah hidupku untuknya.” ujarku sambil menangis. Apapun, supaya kyuhyun bahagia.

Tuhan tersenyum lembut. “Baiklah. Kuturuti permohonanmu. Memang belum saatnya kalian tinggal disini. Seo joo hyun, akan kutunggu, saat kau benar-benar tinggal disini” Lalu… SRIINGGG! Semuanya menghilang.

————

Key POV

Aku menatap seohyun. Mataku sudah bengkak. Entah sudah berapa lama aku menangis. Tapi, tiba-tiba, aku melihat tangannya bergerak. “Seohyun…” Aku memanggilnya. Perlahan, Seohyun membuka matanya. Dia melihat ke arahku. “O…oppa” katanya terbata-bata.

Perasaan senangku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Seohyun! Akhirnya kau sadar” seruku ceria, lalu segera memanggil dokter. Dokter itu memeriksa seohyun sebentar lalu berpaling ke arahku. “Syukurlah, dia sudah sadar. Dia hanya perlu istirahat sebentar. Bahkan besok dia sudah bisa pulang” ucap dokter itu.

Sambil tersenyum, aku memeluknya. Aku bahkan meneteskan air mata lagi. Air mata bahagia. “Chagiya, bogosippeoyo” ucapku. “Ne, oppa. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?” tanyanya. “Ada! kau tidak melihat kan betapa parah aku menangis, menunggumu setiap waktu? Tapi, aku senang. Sangat senang sekarang. Aigoo… welcome back, Seohyun. My seohyun” katanya sambil mencium kening seohyun dengan lembut.

———-

Yoona POV

Omona! Omona! Eotokke? Aku mondar-mandir, menunggu di luar ruang ICU. Sooyoung berusaha menenangkanku, tapi aku tidak mau. Bagaimana kalau orang yang kau cintai tertabrak mobil dan sedang berada di ruang ICU? Apa mungkin kau bisa tenang?

Lalu, dokternya akhirnya keluar. “Dokter… Eottoke?” tanyaku langsung sambil menggigit bibirku khawatir. “Cho Kyuhyun-ssi sudah sadar. Selain beberapa luka dan memar, dia tidak mengalami cidera yang parah” kata dokter itu yang langsung disambut senyum lega dariku dan seruan gembira dari sooyoung.

“Kyu…” aku langsung menghampirinya dan memeluknya. “Gwenchanayo?” tanyanya. “Pabo! Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!” ujarku. “Kekeke. Aku tidak apa-apa, yoong…” kata kyuhyun. “Ckckck. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba pergi berlari seperti itu sih?” tanya sooyoung.

“Karena… aku mendengar kyuhyun bilang kalau dia mencintai yeoja lain” ucapku sedih. “Mwo?? Aku tidak pernah mengatakannya! Aigoo Im yoona! Yang kucintai itu hanyalah kau” katanya. “Jinjja?” tanyaku ragu-ragu. “Tentu saja! Semua usahaku untuk mendekatimu… usahaku sendiri… apa tidak cukup untuk membuktikannya?” tanyanya. Aku tersenyum. “Cukup cukup pacarannya! Oppa, kau harus istirahat! Nanti malam kau sudah bisa pulang” sela sooyoung.

————

Author POV

2 hari kemudian….

“Yoona-ah! Saengil chukkaeyo!! Saranghae…” kata Kyuhyun sambil memeluk yeoja chingunya itu. “Nde. Gomawoyo, oppa” kata yoona. “Ini.. untukmu” kata kyuhyun lagi, memberikan kado berbungkus kertas biru, warna kesukaan yoona. “Ah… gomawo”

“Yoona!!” panggil seseorang. “Kibum oppa!!” balas yoona sambil berlari ke pelukan Key. “Yah!! Mau apa kau kesini!?” Tiba-tiba eomma-nya yoona berseru, menuding Key dan seorang ahjussi di sebelahnya. “Apa salahnya aku pergi ke ulang tahun anakku?” kata si ahjussi, yang ternyata appa-nya yoona itu dengan tenang.

“Kau….” “Sudahlah, eomma. Aku yang mengundang mereka. Apa salah kalau aku menginginkan keluargaku lengkap saat aku ulang tahun? Kumohon eomma… walaupun kalian sudah bercerai, setidaknya, untuk hari ini saja, berdamailah” mohon yoona. Kedua orangtuanya terdiam lalu mengangguk setuju.

“Eeh… jadi ini… kakakmu?” tanya kyuhyun tidak percaya. “Ne. Memangnya kau kira siapa?” tanya yoona balik. “Kukira dia… namja chingumu, atau yah… sejenisnya” kata kyuhyun malu-malu. “Kekeke. namja chinguku hanya satu dan namanya adalah Cho Kyuhyun” katanya.

“Oh iya… yoona, kenalkan, ini yeoja chinguku, Seo Joo Hyun” kata Key, menggadeng seohyun. “Annyeonghaseo, Seo Joo Hyun imnida” katanya sopan sambil membungkuk. “Annyeong. Im Yoona imnida” kata yoona sambil tersenyum. “Cho Kyuhyun imnida” kata Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun?”ucap seohyun sedikit bingung. “Ye. Wae-yo?” tanya kyuhyun bingung. “Ah… annio. Aku hanya merasa… kita pernah bertemu… sebelumnya?” katanya ragu-ragu. “Molla. Tapi, aku juga merasa pernah mengenalmu” kata kyuhyun. Mereka saling bertatapan, lalu saling melihat ke arah pergelangan tangan mereka, tempat sebuah gelang dengan ukiran sayap malaikat menggantung. My… Angel….

The End~

wewww… akhirnya the end yah…

eottoke?eottoke??

Mianhae update-nya lama… kemaren charger laptop author emmm… meledak –a jadi gak bisa buka laptop sama sekali deh…

Oh iya, author abis ini mau bikin 3 atau 4 ff oneshoot dulu, baru abis itu ke project selanjutnya: A Cup With Love. Cast-nya? Ada deh~ Kekekeke :p

keep commenting yah~ 😀

 

 

Melodies of Life chapter 6

Posted: March 19, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of Life chapter 6 -The Only One

Author POV

Kyuhyun sudah berada di sekolah dan sedang mengobrol dengan Yoona. “Hey, kyu… coba ajak dia pergi hari ini” usul Seohyun. Kyuhyun menurutinya. “Yoona…” panggilnya. “Wae, oppa?” jawab yoona. “Engg… Apa kau sibuk hari ini?” tanya Kyuhyun lagi. Yoona menggeleng. “Apa kau mau pergi bersamaku?” tanya Kyuhyun malu-malu. “Eeh… kemana?” tanya Yoona bersemangat. Kyuhyun diam saja.

‘kemana ya?’ pikirnya dalam hati. “Ajak dia ke festival budaya” usul si malaikat. Dia memang selalu penuh dengan ide-ide brilian. “Sempurna! Ayo kita ke festival budaya!” ajak Kyuhyun sambil tersenyum. Yoona menatapnya bingung. “Baiklah” jawab yoona. “Aku akan menjemputmu nanti sore. Arasso?” ucap kyuhyun. “Nde” jawab Yoona, yang pipinya memerah, memikirkan dia akan berjalan berduaan dengan kyuhyun. Apa ini… kencan?

————

“Woaaa… kyuhyun! Kau sukses mengajaknya jalan!” seru Seohyun riang saat mereka sudah di rumah. Tapi, Kyuhyun tidak seriang itu. “Joohyun…” panggilnya lirih. “Apa yang terjadi kalau aku sudah mendapatkan yoona?” tanya kyuhyun. Seohyun duduk di samping kyuhyun dan terdiam sejenak. “Aku akan pergi. Karena, tugasku sudah selesai, kyu” ucapnya.

Kyuhyun mendesah. “Sudah kuduga. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau… teman yang berharga bagiku” ucap Kyuhyun. Dia menatap mata Seohyun dalam dan sejenak jantungnya berdegup lebih kencang. Hanya teman? Eeh… apa yang kau pikirkan Seo Joo Hyun!

“Ya! Sudahlah… kita nikmati saja dulu masa-masa ini. Dan kau harus menyiapkan kata-kata untuk yoona” ucap Seohyun, memecahkan keheningan yang kaku itu. “Hmm…” Kyuhyun berbalik sehingga kini dia berhadap-hadapan dengan Seohyun.

“Chagiya, saranghaeyo. Jeongmal saranghae. Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Kyuhyun sambil mengenggam tangan Seohyun. Wajah seohyun memerah semerah tomat. “Mwo??” “Oohtoke? Apa itu cukup untuk menyatakan perasaanku pada yoona?” tanya Kyuhyun sambil nyengir. Rupanya dia hanya latihan. Seohyun tercengang. “Ngg… kurang romantis” ujarnya akhirnya.

“Kyuhyun, hwaitting!” ujar seohyun menyemangati. “Ucapkan semuanya dari hatimu. Itu pasti akan meluluhkan yoona” tambahnya. “Memangnya… kau tidak ikut denganku?” tanya kyuhyun. Seohyun menggeleng. “Anni. Aku ingin mencari tahu tentang diriku. Hm, aku sedikit penasaran” ujarnya. “Nde. Hati-hati ya” ujar kyuhyun sambil tersenyum. Seohyun tertawa “Memangnya kau pikir apa yang akan terjadi pada seorang malaikat yang terlihat saja tidak? Kekeke” Kyuhyun hanya nyengir mendengarnya. Setelah itu, dia pergi ke rumah yoona.

Kyuhyun’s POV

Cause I can’t stop thinking ’bout you, girl… Hm, bunyi bel yang unik. Pikirku. Beberapa detik kemudian, Yoona sudah membukakan pintu untukku. “Annyeo…” kata-kataku tergantung, mulutku menganga lebar, terpesona melihatnya. Dia mengenakan dress yang sangat manis melekat di tubuhnya. Dress itu pendek, menampilkan kakinya yang indah *ohh stop being perverted kyu!!*

“Annyeong, Kyu” sapanya sambil tersenyum, membuatku tersadar dari pikiran pervert ku sendiri. “Annyeong, yoona. Aigoo.. kau cantik sekali. ” pujiku padanya yang sukses membuat pipinya bersemu merah dengan manis. “G-gomawo” katanya. Aku tersenyum. “Kkaja!”

Aku menggandeng tangannya sambil berjalan menuju ke festival budaya. Tangannya halus sekali. Aigo… aku jadi berdebar begini. “Yoo…yoona, awas!” seruku sambil menariknya yang nyaris terserempet motor (basi… udah biasa x_x)

Posisiku kini setengah memeluknya, menahan tubuhnya dengan lenganku. Kami dekat sekali. Omona omona omona! Wajahnya itu… argh… cantik sekali! Kami terdiam dengan posisi seperti itu selama beberapa detik, seakan tubuh kami menolak untuk merespon.

“Gwe.. gwenchanayo?” tanyaku akhirnya sambil melepasnya. “N-ne. Kamsa, oppa” katanya sambil berpaling dariku. Tapi, aku bisa melihat wajahnya yang memerah, seperti juga wajahku.

Perjalanan menjadi sedikit… mm.. kaku. Akhirnya kami sampai di festival budaya. Mataku langsung jeli menangkap sebuah cincin perak sederhana yang manis. “Yoona, chakkamanyo” kataku, lalu cepat-cepat membeli cincin itu tanpa sepengetahuan yoona.

“Oppa, aku mau itu” kata yoona sambil menunjuk ke sebuah boneka micky mouse. “Eh… itu kan terlalu kekanak-kanakan” ucapku. “Tapi aku mau itu” ucapnya lagi, mengeluarkan aegyo-nya. Haah… yoona, yoona… Siapa sih yang tak akan luluh melihat wajah imutmu itu? Akhirnya, aku membelikannya untuknya. “Gomawo, oppa. You’re the best” katanya, lalu, mencium pipiku yang membuatku membeku. Wooahh… kalau tau begini, aku akan membelikanmu seribu boneka micky mouse! kekeke

“Wah, pesta kembang api sebentar lagi akan dimulai! Kkaja, oppa!” serunya girang. Mwo?? Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Sebentar lagi bahkan tengah malam. Aigoo… Yoona sudah berlari mendahuluiku, dan aku langsung mengejarnya.

“AAAA” Brukk! “Yoona!” Aku langsung berlari ke arah yoona yang terjatuh. “Gwenchana?” tanyaku sambil membantunya berdiri. “Awwww” serunya kesakitan lalu kembali jatuh terduduk. “Kakiku… terkilir. Sakit” serunya. Air matanya sudah menetes. Aku mengusap air matanya dengan jariku. “Tenanglah, yoong” ucapku halus, sambil menggendongnya.

“Aah… padahal aku ingin menonton kembang api” ujarnya sedih, sambil melihat ke arah kerumunan orang yang sangat mustahil ditembus. Aha! Aku punya ide! “Apapun yang kau mau, aku pasti akan mewujudkannya” ucapku sambil tersenyum. Sambil menggendongnya, aku berjalan ke arah wahana bianglala (yang bentuknya kayak roda, terus muter gitu, namanya bianglala kan yah? #authorbabo)

Aku membisikkan sesuatu ke petugasnya yang langsung dia jawab anggukan. “Kamsahamnida ahjussi” ujarku sambil membungkuk. “Yoona, kkaja” aku masuk ke wahana bianglala yang 100% kosong, karena semua orang tampaknya bersiap menonton pertunjukkan kembang api.

Aku dan yoona duduk berhadap-hadapan. DUARR!! Terdengar suara kembang api pertama, tepat saat kami sampai di puncak bianglala. TEK! Bianglala kami berhenti berputar dengan posisi kami di paling atas.

“Oppa, apa yang terjadi…” Ujar yoona takut sambil menggenggam tanganku. “Omona! Tolong!! Huaaa” seru yoona takut. “Tenang, yoona, tenang… Aku yang menyuruh petugasnya untuk mengentikan kita di puncak” ujarku. “Mwo? Wae?” tanyanya bingung, tapi sudah tidak takut lagi. “Lihatlah” ujarku.

Yoona melihat ke arah yang kutunjuk. “Wah…” Kembang apinya terlihat sangat jelas dari sini, begitu pula dengan pemandangan lampu-lampu warna-warni kota Seoul. DUARR!! DUARRR!! “Aigoo… cantik sekali” ujarnya sambil tersenyum, memandang ke arah kembang api. Ne, yoong… cantik sepertimu…

Aku mengeluarkan cincin yang kubeli tadi. “Yoona…” panggilku. “Hm? Wae-yo, oppa?” tanyanya, mengalihkan pandangannya ke arahku. “Kuharap aku bisa selalu melihat senyummu. Im yoona, saranghae. Bolehkah aku, menjadi namja yang selalu berada di sampingmu? Membuatmu tersenyum dan melindungimu?” ucapku.

Dia memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. “Ne… na… na do saranghae, oppa” katanya. Aku tersenyum sambil memakaikan cincin itu ke jari manisnya. “Tunggulah, yoong… suatu saat, aku pasti akan memberikanmu cincin yang jauh lebih mahal, dan jauh lebih indah” ucapku. “Anni, oppa. Ini… ini cincin terindah yang pernah kulihat. Karena kau yang membelikannya untukku” ujarnya. Aku menggenggam tangannya dan mencium keningnya.

—————–

Aku pulang ke rumah dengan perasaan bahagia walaupun lelah. Tapi, ada sesuatu yang janggal dengan perasaanku. Aku… tidak sepenuhnya bahagia.

“Joohyun-ah… kau darimana?” tanyaku padanya. Matanya sembab dan bengkak, habis mennagis. “Aku… tadi habis ke rumah sakit” jawabnya. “Wae-yo? Ada apa?” tanyaku khawatir. “Aku melihat ngg… tubuhku tadi. Dan seorang namja yang memeluk tubuhku. Kurasa, dia namja chinguku. Entahlah. Aku sedih, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?” ujarnya sambil mendesah kecewa.

“Tenanglah… suatu saat kau pasti akan bersamanya lagi” kataku sambil mengusap kepalanya. Aku selalu menyukai sensasi saat menyentuhnya. Menenangkan dan lembut. Aku mendesah. Jadi, dia sudah punya namja chingu? Eeh… tunggu! Kenapa.. aku kecewa? Aku sendiri kan… sudah memiliki yoona… Apa… aku.. menyukai Seohyun? Tapi…

“Oh iya, bagaimana dengan yoona? Oohtoke? Oohtoke?” tanyanya. Aku tersenyum simpul. “Champion!!” seruku sambil ber-highfive dengannya. “Yeay! Kau hebat, kyu!” serunya. “Ne, aku tau” ucapku sambil tertawa.

“Nah, kurasa aku akan ke…” “Chakkaman!” seruku sambil menarik pergelangan tangan Seohyun. Rupanya, aku menarik terlalu kuat. Sampai-sampai kami berdua jatuh ke lantai,dengan posisi aku berada di atasnya.

Omona! Dia… cantik sekali. Wajahnya mulus, tanpa cela. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya. Bibirnya… Aigoo… apa yang kau pikirkan cho kyuhyun! Tapi, bibir itu.. Aku ingin sekali menciumnya. Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan… aku, sekali lagi di bawah kesadaranku menempelkan bibirku ke bibirnya.

Dia terkejut, lalu mendorongku. Aku sendiri pun juga terkejut dengan apa yang barusan kulakukan. “Aku… aku…mianhae” kataku akhirnya. Dia terdiam sebentar. “Ne. Itu hanya kecelakaan” Itu bukan kecelakaan. Aku sengaja melakukannya.

Aku… sebenarnya bagaimana dengan perasaanku? “Kyuhyun! Ada apa?” tanya seohyun. “Gwenchana. Bisa tolong tinggalkan aku sebentar? Aku sedang ingin sendiri” gumamku padanya. Dia terlihat bingung, tapi menuruti perkataanku dan pergi keluar. Aku berbaring di ranjangku. Argh… aku bingung!

“Oppa, kenapa? Kok kau pulang larut sekali?” tanya sooyoung, yang masuk ke kamarku tiba-tiba. “Kau tidak bisa mengetuk ya?” ujarku. Dia hanya nyengir dan duduk di ranjangku.

“Sooyoung… pernahkah kau merasa, kalau kau mencintai seseorang, tapi, hatimu juga berdebar tiap melihat seseorang yang lain?” tanyaku melantur. Sooyoung terdiam. “Itu tandanya… kau harus memilih, oppa. Siapa yang benar-benar ada di hatimu. Pasti hanya ada 1 orang” ucapnya bijak. heran, sejak kapan adikku jadi bijak begitu? Tapi, aku memikirkan perkataannya. 1 orang…. yang benar-benar di hatiku?

—————

-TBC-

Siapa yang akan Kyuhyun pilih?

Seohyun, malaikat baik hati yang selalu membantunya?

Atau, Yoona, yeoja cantik yang sudah menerimanya?

Will be revealed in chapter 7!!

Aigoo… author kangen banget loh sama kalian! Akhirnya, exam finish!! Dan author bisa leluasa deh lanjutin ff lagi. Apa ada yang kangen dengan author? Ah, ga usah bohong. Pasti pada kangen kan? Iya kan? #pedenajis. kekeke. Mianhae kalau author update-nya bakal agak lama disini, soalnya author lagi sibuk bikin ff di Asianfanfics. Hehehe. Tapi, tenang. Author bakal update disini juga, kok. Soalnya, author ada project baru nih x_x hehehe. Keep commenting, okay? ^^

Melodies of Life chapter 5-The unexpected ‘New Friend’


Kyuhyun POV

“Apa aku sudah mati?” tanyaku seperti orang bodoh. “Ya! Kau ini bicara apa sih?!” serunya, menatapku seakan-akan aku ini alien yang berkepala 2. Sosoknya tidak jelas, samar-samar, dan ehem… agak transparan. Yang kutau, dia seorang yeoja. “Nuguya?” tanyaku bingung. Siapa dia? Mengapa tiba-tiba ada di rumahku?

“Seo Joo Hyun imnida” katanya sambil tersenyum. “eeh… Cho Kyu Hyun imnida” kataku, mengulurkan tanganku. Dia tersenyum gugup dan menyambut tanganku. Deg! Aku tersentak. Tangannya… halus sih, tapi… tidak seperti tangan manusia. Seperti sedang menyentuh air yang tidak basah. Seperti udara yang padat. Seperti… sesuatu yang nyata, tapi mustahil.

“Ap-Apa..” Aku terkaget dan langsung menyentakkan tanganku. “Kau ini siapa sebenarnya?” teriakku padanya, agak sedikit takut. Tapi, dia tersenyum. Wah, senyum yang indah. “Aku ini seorang malaikat, babo!” serunya.

Aku melongo, karena 3 alasan. 1. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa ada di bumi, apalagi di RUMAHKU? 2. bagaimana mungkin aku bisa melihat bahkan berjabatan tangan dan mengobrol dengan malaikat tanpa mati terlebih dahulu (Syukur-syukur ketemunya malaikat, bukan setan pas udah mati…)? 3. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa mengucapkan kata babo?

“Tunggu… tunggu… Ini pasti mimpi!” Aku berkata, sambil mencubit pipiku sendiri. Sakit. Berarti… bukan mimpikah? Tap tap tap… kudengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. “Akan kujelaskan nanti. Ingat! Yang bisa melihatku hanya kau, cho kyuhyun. Arasso?” ucapnya. Belum sempat aku menjawab, Sooyoung sudah memotongnya.

“Oppa! Gwenchanayo?” serunya khawatir sambil menghampiriku. “Nde. Mungkin kepalaku sedikit terbentur. Aku bertemu dan bahkan berbicara dengan seseorang yang mengaku seorang malaikat” ucapku sambil melirik ke arah malaikat itu. Sooyoung menatapku seakan-akan aku baru saja mengatakan kalau aku akan menikah dengan Sungmin Super Junior. “Ckck. Kepalamu mungkin memang terbentur sangat keras” komentarnya sambil mengecek kepalaku, berpura-pura bersikap dramatis.

“Lagipula, kenapa sih kau harus memanggilku sebegitu keras?” tanyaku jengkel padanya. “Eh… begini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan” katanya. Sikapnya langsung berubah gugup. “Wae?” tanyaku penasaran. “Kalau kau merasa jantungmu berdegup kencang saat dekat dengan seseorang, tapi kau merasa gugup dan bahagia di saat yang sama, dan merasa ingin sempurna di depan orang itu, apa artinya?” tanyanya, menghindari tatapanku.

“Kau sedang jatuh cinta!” ucap sang malaikat menyimpukan. “Yep. Dia benar. Kau jatuh cinta” ucapku. “Mwo? Dia? Siapa yang benar?” tanyanya bingung. “Dia” kataku menunjuk ke arah si malaikat. Sooyoung menatapku lagi seakan aku ini memang benar-benar menikah dengan Sungmin Super Junior. (Sungmin: Apaan sih ? Aku dibawa-bawa terus… entar Sunny marah ah! xD)

“Sudah kubilang hanya kau yang bisa melihatku!” ucap si malaikat. “Itu tidak adil! Aku bisa disangka orang gila kalau begitu” seruku padanya. “Argh! Kusarankan kau ke psikiater, oppa!” ucap Sooyoung lalu pergi meninggalkanku. “Ya! Sooyoung! Beritahu dulu oppa, siapa orang yang membuatmu jatuh cinta? Hei, Sooyoung!” Aku berteriak, tapi dia mengabaikanku. Aigo… uri sooyoung sudah besar! Dia sudah jatuh cinta sekarang!

“Nah, malaikat. Jelaskan semuanya padaku” ucapku, mulai menerima kenyataan kalau ini bukan mimpi buruk. “Tubuhku sedang sekarat di rumah sakit. Tuhan memutuskan, kalau aku mau sembuh, aku harus melakukan sebuah misi” jelas si malaikat. “Dan apa hubungannya denganku?” tanyaku penasaran.

“Misiku adalah untuk mempersatukanmu dengan yeoja yang kau cintai, Im Yoona” lanjutnya, membuatku terkejut. “Mworago??” seruku. Aishh… Tuhan… aku memang memohon pada-Mu untuk mempersatukanku dengan Yoona, tapi… apa harus dengan cara seperti ini?

“Kau harusnya bersyukur! Tuhan sudah mau meluangkan waktunya untuk menjawab doa-doamu yang sok puitis dan berlebihan itu” ucapnya. “Mwo? Apa kau tidak tau aku merangkai doa itu sepanjang pelajaran Bahasa Korea, tau!” seruku jengkel. Dia tertawa. Apa semua malaikat mempunyai tawa yang manis seperti itu?

“Nah, malaikat. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku padanya. “Berhenti memanggilku malaikat. Apa kau merasa nyaman kalau aku memanggilmu manusia? Yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Yoona, manusia” ucapnya.

“Nde, nde. Kalau begitu… siapa namamu tadi?” tanyaku. “Seo Joo Hyun.” ucapnya. “Baiklah, Joohyun. Bagaimana caraku minta maaf pada yoona?” tanyaku. “Panggil saja aku Seohyun” ucapnya. “Aish… kau banyak maunya! Katakan saja, bagaimana cara aku minta maaf pada Yoona?” tanyaku padanya.

“Menggunakan kata-kata sederhana. Katakan kau menyesal, dan kau tidak ingin dia marah padamu. Ayolah… keluarkan saja semua pesonamu” ucap Seohyun. “Anni anni… aku tidak bisa! Setiap dekat dengannya… semua pesonaku lenyap seketika. Aku… gugup” ucapku. Itu memang benar. Ada sesuatu… yang membuatku gugup tapi sekaligus bahagia setiap berada di dekatnya.

“Yasudah. Lakukan saja dan ikuti kata-kataku besok. Arra?” jelasnya. Aku mengangguk. “Emm… mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi memang agak sedikit mengganggu untukku. Nanti kau tidur dimana?” tanyaku polos padanya. Dia tertawa. “Malaikat tidak butuh tidur, babo” katanya. Dia mungkin satu-satunya malaikat yang bisa berkata ‘babo’ . pikirku.

—-

Esok harinya, aku bangun dengan wajah yang sangat lelah dan lingkaran hitam di bawah mataku. “Kekeke. Annyeong, Mr. Panda!” ejek Seohyun padaku. “Ya! Joohyuuunn!” seruku padanya. Dengan termalas-malas, aku mandi dan segera ke meja makan.

Kulihat yeodongsaengku sudah disana, siap dan rapi. Sejak kapan dia bisa bangun pagi? Pikirku. Ckck, cinta memang sangguo mengubah segalanya. “Hei… apa kau mau memberitahu oppa siapa namja yang bisa membuatmu bangun sepagi ini dan bahkan menata dirimu serapi ini?” tanyaku padanya. Kulihat pipinya bersemu merah. “Ehh… sudahlah, oppa. Ayo habiskan saja sarapanmu lalu kita berangkat sekolah” ucapnya. “Nde, nde. Tapi, kapan-kapan kenalkan padaku ya” ucapku. Dia tidak menjawab dan hanya memakan rotinya.

Aku menengok ke arah rumah Yoona. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia akan keluar. Mungkin dia bahkan belum bersiap. Kami berangkat sekolah pagi sekali hari ini. Aku bersumpah tidak pernah seumur-umur pergi sepagi ini, bahkan saat hari pertama memasukki sekolah.

“Ceritakan sesuatu tentang dirimu” ujarku pada Seohyun, setelah kami berpisah dengan sooyoung. “Hm, molla. Yang kutau hanyalah namaku. Seo Joo Hyun” jawabnya sedih. “Hei… jangan sedih. Gwenchana. Sebentar lagi, kau pasti akan kembali ke tubuhmu dan mengingat semuanya lagi. Aku berjanji!” ujarku padanya, mengusap pelan pundaknya. Jujur, aku menyukai sensasi saat aku menyentuhnya. Seakan menyentuh sesuatu yang nyata tapi mustahil, seperti yang sudah kubilang. Tapi… lembut dan menenangkan.

Aku masuk ke kelas dan menunggu yoona. Sesekali mengobrol dengan seohyun saat tidak ada yang memperhatikan. Kuakui, dia teman yang baik, walaupun dia merupakan teman baru yang tidak pernah kuharapkan.

Beberapa saat kemudian, Yoona masuk ke kelas. Aku langsung menghampirinya. “Yoona-ah…” panggilku. Dia hanya melemparkan tatapan dingin padaku.

“Katakan kau menyesal…” ujar seohyun. Aku mematuhinya. “Aku menyesal atas kejadian kemarin. Aku ingin minta maaf. Aku tau aku ini bodoh dan konyol” ucapku mengikuti kata-kata seohyun. Aku hendak memprotes saat dia bilang ‘bodoh dan konyol’. Tapi dia langsung mencubit lenganku, menyuruhku melanjutkan. “Aku tidak bisa tenang. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan ini semua. Kumohon… aku tidak tau apa yang harus kulakukan kalau kau marah dan benci padaku. Jeongmal mianhamnida” ucapku sambil menunduk.

Dia terdiam beberapa saat. “Nde. Aku juga minta maaf. Mianhae” katanya sambil tersenyum. Yes! Kudapatkan lagi senyum itu! Gomawo Joohyun-ah~

“Hei… besok ulang tahun Yoona loh..” ucap Seohyun. “Mwo? Jeongmal?” ujarku terkejut. Seisi kelas menatapku bingung. Aku hanya nyengir dan menunduk malu. “Kau tau darimana?” bisikku. Dia tersenyum. “Ada beberapa hal yang menguntungkan menjadi seorang malaikat, contohnya mengetahui sesuatu dengan mudah” ujarnya. Aku menatapnya jengkel. “Nanti pulang, temani aku ke mall. Aku harus memberikan sesuatu untuk Yoona” ucapku. Dia mengangkat dua jempolnya sebagai tanda persetujuan.

“Kyuhyun oppa… mau pulang bareng?” tawar yoona, setelah sekolah usai. “Ehm… tidak bisa. Aku ada sedikit urusan. Mianhae” kataku padanya. Dia terlihat sedikit kecewa. “Gwenchanayo” katanya.

“Kkaja!” ucapku pada seohyun. Kami pergi ke mall dan menghampiri toko aksesoris. “Joohyun-ah… bantu aku memilih. Apa yang biasanya yeoja sukai?” tanyaku bingung, melihat ke segala benda pink dan bling-bling di sekelilingku dengan pasrah. Jelas aku tidak akan sebingung ini kalau disuruh memilih kaset Playstation.

“Cari pelan-pelan benda itu dengan hatimu” ujarnya. Aku menatap pasrah. Sebuah kalung menarik mataku untuk memandangnya. Aku mengambilnya. Kalung perak sederhana dengan liontin lambang hati. Cantik. Entah kenapa, aku merasa ini cocok untuknya. Aku menoleh ke arah seohyun dan dia mengangguk menyetujui.

Aku melihat 2 buah gelang pasangan, dengan ukiran berbetuk sayap, yang terpisah. Gelang itu bisa digabungkan, membentuk sepasang sayap yang unik. Dia juga mengambil itu. Setelah membayar di kasir, dia memberikan salah satu gelangnya pada Seohyun.

“Mwo? Apa ini?” tanya seohyun bingung. “Itu gelang, babo. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku” ucapku padanya. Dia memakai gelangnya. Awalnya, aku khawatir apa gelang itu akan terlihat seperti melayang sendiri, tapi lega setelah dia menjelaskan apa yang melekat di tubuhnya juga ikut tidak terlihat. Aku tersenyum memandangnya. Aku tidak pernah berpikir, bermimpi pun tidak, memiliki teman baru seorang ‘malaikat’

-TBC-

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Seohyun sukses membuat Kyuhyun mendapatkan Yoona?

Wait in Melodies of Life chapter 6~

 

Melodies of Life chapter 4

Posted: March 4, 2011 in Romance
Tags: , , , ,

Melodies of Life chapter 4-The real beginning

Author POV

Seohyun sedang berjalan di koridor sekolahnya ketika… BRUKK! Seseorang menariknya dari belakang dan menjatuhkannya ke tanah, membuat tubuhnya terhempas. “A.. apa?” Rupanya itu Amber dan Hyoyeon.

“Jangan pikir kami mengalah padamu! Gara-gara Key oppa menolongmu waktu itu” ujar Hyoyeon sinis. “Nde! Kau harus terima pembalasan kami karena gara-gara kau kami dimarahi Key!” seru Amber galak. Seohyun menunduk karena takut. “Apa yang kalian inginkan?” tanyanya sambil menunduk. Hyoyeon dan Amber tersenyum licik.

“K-kau mau bawa aku ke-kemana?” tanya Seohyun panik saat Hyoyeon dan Amber menarik tangannya. “Tidak usah banyak tanya! Nanti kau juga tau!” balas Amber kasar.

Brakk! Mereka menghempaskan Seohyun ke dalam gudang. “A-apa yang mau…” belum selesai Seohyun bicara, Hyoyeon sudah menutup pintu gudang dan menguncinya. “H-hei! Hyoyeon! Amber! Buka!” teriak Seohyun panik dari dalam. “Tidak akan! Membusuklah kau di dalam bersama tikus-tikus itu! Hahaha” seru Hyoyeon kejam. “Itu akibatnya kalau kau berani macam-macam dengan kami, Seo Joo Hyun!” timpal Amber lalu mereka sambil tertawa puas pergi meninggalkan Seohyun yang berteriak-teriak putus asa.

Seohyun menatap sekitarnya dengan panik. Gudang itu sempit, bau, dan gelap. Ciiit…ciiit… “Gyaaaa!!!” Seohyun berteriak histeris saat 2 ekor tikus berlari melewati kakinya.

“Tolong! Tolong buka pintunya! Tolong! Key oppaaa!!” seru Seohyun putus asa sambil menangis. Kenapa, kenapa mereka begitu kejam padaku? Pikirnya dalam hati.

———–

Key POV

“Hm, kenapa seohyun tidak masuk hari ini?” pikirku, menatap bangkunya yang kosong. Apa dia sakit? Pikirku cemas. Perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi padanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu cemas.

“Kibum! Tolong ambilkan kardus di gudang. Cari kardus yang isinya beberapa alat musik tradisional Korea. Kita akan mempelajarinya hari ini” perintah sonsaengnim. “Ah, yang lain saja sonsaengnim. Aku benci gudang itu” ujarku menolak. Ugh, aku paling malas kalau harus mencari-cari kardus si dalam ruangan yang gelap dan bau busuk itu.

“Yasudah. Taemin! Coba kau yang ambilkan.” ujar sonsaengnim. taemin, murid kutu buku, pendiam, dan sangat penurut pada guru itu langsung keluar menuruti perintah sonsaengnim.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan wajah pucat dan keringat dingin. “G-gudangnya dikunci. D-dan… ada o-orang yang berteriak dari dalam. Di..dia terus berteriak ‘tolong!’ dan ‘Key oppa!'” ucap Taemin panik. Spontan, aku bangkit dari kursiku. Dia meneriaki namaku? Jangan-jangan….

“Ya! Kim Ki Bum! Kau mau kemana?!” seru sonsaengnim, tapi kuabaikan dan langsung melesat menuju gudang. Sial! Andai saja tadi aku menaati sonsaengnim untuk pergi ke gudang. Kalau sampai yang di dalam sana Seohyun dan terjadi apa-apa padanya, tak akan kumaafkan diriku sendiri!

Aku menggedor-gedor pintu gudang, mencoba membukanya, tetapi ternyata memang dikunci. “Seohyun?” tanyaku cemas. Hening. Tidak ada jawaban. “Yang di dalam! Tolong jawab aku!” seruku. Tapi, tetap hening. Akhirnya BRAKK!! Kudobrak pintu itu. Gagal. BRAKK!! Kucoba lagi lebih keras. Rasanya lenganku sudah memar dan tulangku serasa retak. Cklek. Akhirnya pintu itu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya.

“Seohyun!” Kupanggil dia yang sudah tergeletak pingsan di lantai. Pasti dia kehabisan oksigen, di dalam ruangan yang sempit dan pengap seperti ini. Langsung kugendong dia dan kubawa menuju UKS.

“Seohyun bertahanlah” ujarku cemas untuk yang ke-5 kali seiring dengan langkahku menuju UKS. Setelah sampai, langsung kubaringkan dia di tempat tidur. Kenapa tidak ada dokter yang bertugas disini sih? Pikirku kesal.

Akhirnya aku hanya duduk dan menungguinya. Kugenggam tangannya yang mungil dan sesekali kuusap kepalanya. Aaah… cantiknya dia. Wajahnya benar-benar seperti malaikat!

————

Seohyun POV

Kubuka mataku perlahan. Terang. Apa aku sudah tidak di gudang lagi? “Dimana aku?” gumamku pelan. “Seohyun! Kau sudah sadar?” ujar seseorang. Suaranya sangat familiar. “K.. key oppa?” ujarku terkejut saat melihatnya yang berdiri di sebelahku.

“Kok.. kok bisa? Bukankah tadi aku dikunci di gudang?” ucapku bingung. “Dikunci? Siapa yang menguncimu?” tanya Key murka. Aduh, keceplosan! “Eeh… anni. Aku salah bicara” kataku berbohong. “Kau tidak bisa berbohong padaku, seo. Katakan.. siapa yang menguncimu?” paksa Key. AKhirnya, dengan terpaksa aku menceritakan semuanya.

“2 manusia itu!!” seru Key geram. “Jangan lakukan apapun, oppa. Biarkan saja mereka” pintaku. “Tapi tapi…” kilahnya, tapi langsung kusela. “Tidak ada tapi! Biarkan saja mereka” ucapku, tetap pada pendirianku. Aku tidak mau masalah ini semakin runyam. “Tapi tapi…” “Ya! Kim Ki Bum!” marahku. “Baiklah…” katanya pasrah. “Nah, begitu” ucapku sambil tersenyum.

“Kau ini… lain kali hati-hati. Apalagi pada mereka. Kalau begjni, aku akan selalu bersamamu kapanpun, dimanapun” ucapnya. “Eeh? Wae-yo? Untuk apa?” tanyaku bingung. “Supaya aku bisa selalu melindungimu” jawabnya sambil tersenyum. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Author POV

“Oppa, kenapa kau selalu menolongku?” tanya Seohyun. “Molla. Mungkin…. karena… aku mencintaimu” jawab Key lirih. “Mwo?” Seohyun terkejut mendengarnya.

“Seo Joo Hyun…” ucap Key. Dia menggenggam tangan Seohyun, yang sedang duduk di ranjang UKS dan menatap matanya lekat-lekat. Dia menaruh tangan Seohyun di dadanya. “Bisakah kau merasakannya? Detak jantungku? Detak jantungku yang selalu berdetak 4 kali lebih cepat, setiap aku bersamamu. Raga ini rasanya tak pernah puas untuk selalu menjagamu. Apa kau tidak tau alasannya? Itu semua… karena… Seohyunnie, saranghae” kata Key.

Seohyun terpaku menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. “Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Key. Seohyun mengangguk. “Nde, oppa. Na do saranghae” katanya. Key langsung tersenyum bahagia dan memeluk Seohyun. Seohyun juga tersenyum dan memeluknya balik.

———–

Seohyun dan Key harus ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa tugas, karena selama pelajaran mereka menghabiskannya di UKS. “Hm, Seohyun. Coba tolong kau nyalakan komputernya. Kita harus mengetik beberapa artikel mengenai alat musik tradisional” ucap Key. “Nde, oppa”

Seohyun menarik kabel komputer lalu hendak mecolokkannya di stop kontak. “Jangan…. itu….” Drzzzzz…. zzzztttt… “AAAAAA” “Seo.. Seohyun!!” Key berteriak panik. Stop kontak itu memang sudah rusak dan konslet. Key menahan diri untuk tidak menyentuh Seohyun karena itu hanya akan membuat ikut tersetrum juga.

“Seohyun…” Key berusaha membangunkan Seohyun yang sudah pingsan karena tersetrum listrik. Cepat-cepat dia gendong Seohyun menuju ke rumah sakit. “Dasar kau babo Key!” ujar Key pada dirinya sendiri. Dia sangat cemas, panik, dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada Seohyun.

Seohyun langsung cepat-cepat dibawa ke UGD. Key mondar-mandir, menunggu denagn cemas. Dia menelepon sekolah dan memberitahu kejadian itu supaya bisa diberitahu pada orangtuanya Seohyun.

Drap!Drap! “Kau kibum-ssi? Bagaimana keadaan seohyun?” tanya seorang ahjussi, yang mungkin adalah appa-nya Seohyun. Tepat saat itu, dokter keluar.

“Bagaimana keadaan Seohyun?” tanya Key langsung. Dia dan orangtua Seohyun langsung mengerumuni dokter itu. “Dia tersetrum listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Saat ini, keadaannya sedang koma.” ujar dokter itu. Key tertunduk lemas.

“Butuh waktu yang lama baginya untuk pulih, karena sudah sampai mengenai sistem saraf pusatnya” jelas dokter itu lagi yang semakin menambah buruk suasana.

Appa-nya seohyun terlihat sangat syok. “Bolehkah aku menemui anakku?” pintanya. “Nde. silahkan” ujar dokter itu. Orangtua seohyun langsung masuk ke dalam menemui anak mereka.

“Andai aku tadi tidak menyuruhnya menyalakan komputer. Andai aku tadi memperingatinya. Argh!” sesal Key. Air matanya mulai menetes, benar-benar takut akan terjadi sesuatu pada Seohyun.

———–

Seohyun POV

Terang. Putih. Itulah kesan yang kudapat pertama kali saat aku membuka mataku. Aku tidak ingat apapun. Yang kuingat hanyalah, aku adalah yeoja bernama Seo Joo Hyun. Hanya itu.

“Seo joo hyun…” panggil seseorang. Suaranya sangat berwibawa dan mendamaikan hati. “Siapa itu?” tanyaku. Herannya, aku tidak takut sama sekali, padahal sekelilingku putih, bersih. Tapi, sangat indah dan damai.

“Ini Aku, Tuhan” ujarNya. Aku menengok, menatap sosokNya yang…. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kau harus melihatNya sendiri untuk mengetahuinya. “Aku… sudah mati?” tanyaku sedikit terpukul.

“Belum. Tapi hampir. Kau adalah roh sekarang. sebuah jiwa yang menunggu raganya. Dan selama menunggu itu, ada yang harus kau lakukan” ucapNya. “Apapun yang kauinginkan, Tuhan” jawabku.

Dia tersenyum hangat dan merangkulku. Berada dalam tanganNya, adalah sesuatu yang sagat menakjubkan. Seakan-akan, semua penderitaan di dunia itu tidak ada, semua beban terasa melayang. Aman, nyaman, dan hangat.

————-

Kyuhyun POV

Aku pulang dengan mengomel-ngomel. Aku masih kesal dengan kejadian dengan Yoona tadi. Mengapa dia begitu membela namja itu sih? Tapi, ada sedikit juga rasa bersalah karena sudah marah seperti itu padanya tadi.

Aku menaiki tangga sambil marah-marah. “Oppa!” panggil Sooyoung tiba-tiba, sudah berada di puncak tangga. Aku terkejut, dan langsung terjatuh berguling dari tangga.

BRUK! Aku terjatuh dengan bunyi gedebuk keras. Ouch… jangan sampai tulangku ada yang patah. “Ah… gwenchanayo?” tanya seseorang khawatir. “Gwe.. gwenchana” kataku sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menatap orang yang menanyakanku. Aku terkejut. Sosoknya kabur dan seperti transparan, tembus cahaya dan bersinar keemasan. Seperti seorang malaikat. “Apa aku sudah mati?” gumamku, bertanya-tanya apakah di koran akan ada berita “seorang namja tewas jatuh dari tangga karena dikagetkan oleh yeodongsaengnya”

-TBC-

Author keabisan kata-kata di bagian describe-in Tuhan, berhubung author belum pernah ketemu langsung. kekeke. Jangan lupa comment yah… dijamin chapter 5 bakal seru loh ^^

Melodies Of Life chapter 3

Posted: February 20, 2011 in Romance, sequel
Tags: , , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Melodies of Life chapter 3-The Playful Meeting

Author POV

“Yoo… yoona?” tanya Kyuhyun, melihat Yoona berada di depan rumahnya, mengobrol dengan Sooyoung. “Eeh… kyuhyun oppa” sahut yoona, sama tidak percayanya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya sooyoung bingung. “Nde. dia teman sekelasku. Daaan, dia ini siapamu, sooyoung?” tanya Yoona. “Oh… dia ini oppa-ku” jawab sooyoung.

“Kalian sendiri, kok bisa saling mengenal?” tanya Kyuhyun. “Dia tetangga baru kita, oppa. Rumahnya di sebelah rumah kita” jelas sooyoung. Kyuhyun membelalakan matanya.

“Mwo?? YESSS!!!” serunya bahagia. “eh? Wae?” tanya adiknya itu dengan bingung. “Eeh… gwenchana” ujar Kyuhyun, salah tingkah karena keceplosan.

“Eeh… itu…” kata yoona, menunjuj ke seberang jalan. Yang lain mengikuti arah tunjukan yoona, menatap seorang namja dan yeoja, emm.. mungkin kekasih yang sedang berbicara di pinggir jalan. “Ada apa dengan mereka?” tanya Kyuhyun bingung, menyadari kalau dia tidak mengenali mereka.

“Kibum oppaaa!” seru Yoona sambil berlari ke seberang jalan.

“Seo… seohyun” kata Key pada seohyun. Seohyun spontan menengok, memberinya tatapan heran. “Mm?” tanya seohyun. “Kau…”

“Kibum oppaaa!” kata-kaya Key terpotong oleh seruan seorang yeoja yang berlari ke arahnya. Key melihatnya heran, tapi langsung tersenyum sumringah saat melihat wajah yeoja itu dengan jelas.

“Yoona? Im Yoona??” tanya Key, sambil menyambut yeoja itu dengan satu pelukan hangat. “Oppa, boghosippeo yo!” seru Yoona, menangis dalam pelukan Key.

Kyuhyun dan Seohyun POV

Ahh… jadi… dia sudah punya pacar? T.T

Kyuhyun POV

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Suasana hatiku galau sekali. Yoona tampak sangat bahagia saat dia memeluk namja itu. Ah, paboya kau Kyuhyun!

“Cemburu?” tanya Sooyoung. Aku hanya menatapnya pasrah. Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari adikku ini, dia pasti bisa menebak isi hatiku dengan tepat.

“Akan kupastikan, kalau-kalau itu memang namja chingunya atau bukan” kata sooyoung. “Jangan!” seruku, menahannya yang sudah hendak keluar. Dia mengangkat sebelah alisnya “Wae?” tanyanya. “Nanti dia curiga kalau aku menyukainya” jelasku. Dia tertawa terpingkal-pingkal “Tapi kau kan MEMANG menyukainya” katanya. Aku hanya memanyunkan bibirku. Tapi, dia menurut padaku dan kembali masuk ke dalam rumah.

“Sial, aku sudah keduluan” curhatku pada sooyoung. “Hei… itu kan belum pasti pacarnya!” ujar sooyoung. “Kau tidak lihat, mereka mesra sekali seperti itu? Mungkin mereka berpisah dan mereka dipersatukan kembali. Kalau sudah begitu, tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka lagi” jelasku, mulai melantur.

“Aku tidak pernah punya oppa yang pesimis!” katanya, memukul lenganku. “Molla, soo. Kurasa aku sudah tidak ada harapan lagi” kataku sedih. “Mereka kan belum menikah! Tetap dekati saja dia, oppa!” ujar Sooyoung terus menyemangatiku. Aku memang beruntung punya adik seperti dia.

Masih banyak hari esok, Kyuhyun. Kau masih punya kesempatan! Yosh! Hwaitting!

Seohyun POV

Aku menatap Key dan yeoja itu yang sedang berpelukan. Lalu, dari kejauhan.. aigooo… itu mobil appa! Bisa gawat kalau dia melihatku disini! Akhirnya, tanpa pamit dulu, aku pergi dari sana dengan terburu-buru. Biar besok saja aku jelaskan pada Key-ssi.

Aku berlari pulang menuju rumahku yang sudah tidak terlalu jauh dari sana, berharap appa tidak menyadari keberadaanku.

Author POV

“Oppa, aku benar-benar rindu pada oppa” kata Yoona, masih sesenggukan. “Nde. Aku juga sangat merindukanmu, yoona-ah” kata Key, mengusap air mata yoona.

“Kapan kita bisa bersama lagi, seperti dulu?” tanya yoona sedih. “Molla. Tapi, aku juga akan berusaha, supaya kita bisa bersama. Ingat yoona, walaupun kita tidak bersama, aku akan selalu menyayangimu” kata Key, mencengkram pundak yoona. “Nde, oppa. Aku juga” balas yoona sambil tersenyum.

“Loh, mana seohyun?” tanya Key menyadari Seohyun sudah tidak ada. “Kyuhyun mana?” Yoona juga ikut mencari Kyuhyun.

“Yasudah. Kau pulanglah. Titipkan salamku pada Omma.” kata Key sambil mengusap kepala yoona sebelum yeoja itu pergi dan masuk ke rumahnya. Key menghela napas sebelum akhirnya berjalan pulang ke rumahnya, yang arahnya berlawanan.

“Sooyoung!! Cepatlah! Aku tidak mau terlambat lagi gara-gara kau!” omel Kyuhyun, omelan yang bisa didengar hampir setiap hari. “Sabarrrr, oppa!” jawab sooyoung sambil berlari keluar menuju kyuhyun yang sedang menunggunya. “Oppa, chakkaman! Biarkan aku menelan sarapanku dulu dong” rengek sooyoung, yang di mulutnya terdapat setangkup roti bakar. Kyuhyun memutar bola matanya dan melangkah keluar. “Oppaa!” panggil sooyoung mengejar oppa-nya.

“Eeh… yoona-ah. Mau pergi bareng?” ajak Kyuhyun, melihat Yoona di depan rumahnya. Yoona hanya mengangguk dan tersenyum.

“Sooyoung, kau juga belajar di sekolah musik?” tanya Yoona bingung, menyadari dia belum pernah bertemu sooyoung di sekolah musik.

“Anni. Aku sekolah di sekolah swasta. 2 blok dari sekolah musik” jelas sooyoung. “Dan… dia ini yang membuatku selalu terlambat. Gara-gara omma dan appa menyuruhku mengantarnya juga” gerutu kyuhyun.

“Ya! Jadi oppa terpaksa? Aku bilang ke Appa nanti!” kata sooyoung sambil memanyunkan bibirnya. “Ih, tukang ngadu! jangan! Nanti aku traktir deh” ujar Kyuhyun. Yoona melihat mereka berdua sambil tersenyum sedih.

“Nah, sudah sana… sana.. pergi. Belajar yang rajin! Jangan pacaran mulu!” ledek Kyuhyun pada sooyoung, saat mereka berpisah untuk menuju ke sekolah masing-masing. Sooyoung hanya memeletkan lidahnya sebagai jawaban.

“Kalian akrab sekali yah. Beruntungnya jadi sooyoung” komentar Yoona. “Beruntung jadi dia? Wae? Karena bisa akrab denganku?” Pede Kyuhyun. Yoona tertawa “Andwae! Apa akrab denganmu itu suatu keberuntungan?” tanya yoona.

“tentu saja! Akrab dengan namja tampan sepertiku ini suatu keberuntungan” ujar Kyuhyun, menebarkan evil smile-nya. Yoona hanya tertawa keras. “Menurutku kau tidak setampan oppa-ku” kata yoona.

Evil smile Kyu langsung lenyap dari wajahnya mendengar perkataan yoona. “Orang yang kemarin kau peluk itu?” tanya Kyuhyun muram. “Nde. Dia tampan kan?” goda yoona.

“Annio. Dia tidak tampan sama sekali!” seru Kyuhyun, mulai panas. “Eeh… tapi kurasa dia sangat tampan kok” ucap Yoona.

“ANNIO. DIA TIDAK ADA APA-APANYA. DIA JELEK. AKU LEBIH HEBAT DARINYA” kata Kyuhyun yang mulai marah. Yoona seketika wajahnya langsung berubah dari tersenyum cerah menjadi dingin.

“Jangan pernah menjelek-jelekan dia” kata Yoona dingin. “Wae?? Memang kenyataannya dia begitu. Aku tidak suka kalau kau dekat-dekat dengannya” ucap Kyuhyun.

“Mwo?? Memangnya kenapa?” tanya yoona terkejut. “Pokoknya aku tidak suka. Jangan dekat-dekat lagi lah dengannya” ujar Kyuhyun gusar. Sekarang, yoona jadi ikutan panas.

“Kau tidak berhak melarangku Cho Kyuhyun! Ini kan bukan urusanmu!” ujar Yoona marah. “Tapi aku tidak suka. Aku kesal kalau kau bersamanya” ujar Kyuhyun ngotot. “Lalu? Kau kan bukan siapa-siapaku. Kau egois sekali!” seru Yoona lalu pergi meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun marah-marah sendiri sambil menyumpah-nyumpah. Sementara, Yoona berlari pergi, dengan mata yang merah karena marah.

Kenapa semuanya jadi seperti ini?

-TBC-

Bagaimana kelanjutan Kyuhyun dan Yoona?

Bagaimana dengan Yoona dan Key?

Lalu bagaimana dengan Seohyun dan Key?

Wait in chapter 4 and don’t forget to comment ^^

Melodies of Life chapter 2

Posted: February 15, 2011 in Romance, sequel
Tags: , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Di sebuah sekolah musik di Seoul, terjadi sebuah kisah cinta yang cukup menarik antara 4 orang yang awalnya tidak saling mengenal.

Melodies of Life chapter 2-Hidden charm

Key POV

Brrruumm!! Ckiit! Aku langsung mengerem motorku yang melaju kencang begitu seseorang melintas di depanku. Untung saja dia tidak tertabrak. Aku turun dari motorku.

“Mianhae. gwenchana yo?” tanyaku sambil melepas helmku. “Gwe.. gwenchana” katanya. Ah, ternyata dia seorang yeoja. Wah, wajahnya manis sekali. Seperti seorang malaikat!

“Ngg… mianhae, aku ada urusan. Aku permisi” katanya, setelah sekitar 5 menit kami diam dan aku hanya memandanginya. “Eeh… ye” kataku, tersadar dari pikiranku sendiri.

Setelah menatapnya pergi, aku kembali menaiki motorku dan mengendarainya menuju ke sekolah musikku. Aku memarkir motorku, dan beberapa anak sudah mengelilingiku.

“Pagi, Key!”

“Annyeong haseo, Kibum oppa!”

“Annyeong, Key-ssi!”

“Pagi” ucapku cuek lalu berjalan melewati yeoja-yeoja yang berteriak-teriak histeris di belakangku. Aku memang cukup populer di sekolah musikku ini. Bukannya sombong, tapi selain karena wajahku yang cute dan manis ini, juga karena suaraku yang bagus dan skill dance-ku yang patut diacungi jempol.

Aku melangkah masuk ke kelasku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Sial! Tempat duduk sudah penuh semua! Kami memang bebas memilih tempat duduk kami. Hmm, lain kali aku harus bangun lebih pagi.

Aha! Disitu ada tempat duduk kosong! “Hmm.. boleh aku duduk disini?” tanyaku pada seorang yeoja yang duduk di sebelahku. Dia menoleh dan mengangguk.

“Eeh… kau!” seruku. Dia tampak terkejut. Dia adalah yeoja yang tadi hampir kutabrak. Perlahan, kuulum senyumku. Aku langsung duduk di sebelahnya dan mengulurkan tanganku.

“Kim Ki Bum imnida. Kau boleh memanggilku Key” kataku, memberikan senyum terbaikku. “Seo Joo Hyun imnida. Panggil saja Seohyun” katanya, juga tersenyum.

Seohyun. Nama yang cantik. Secantik orangnya. Ingin aku mengatakannya padanya, tapi, aku terlalu malu untuk itu. Jadi, aku hanya tersenyum, merasakan tangannya yang mungil dan halus dalam genggaman tanganku.

Sepanjang pelajaran, tak bosan-bosan aku memandang wajahnya. Sungguh! Dia itu malaikat yang diturunkan ke bumi! Pasti! Aku yakin! pikirku polos. Pasalnya, wajahnya terlalu cantik untuk manusia.

Argh… apa aku jatuh cinta padanya? Pada pandangan pertama? Konyol!

Seohyun POV

Aku berjalan terburu-buru menuju ke mobil appa-ku yang sudah menunggu di seberang jalan. Bruuumm! Ckiit! tiba-tiba sebuah sepeda motor yang melaju kencang berhenti tepat di depanku.

Aku kaget dan terjatuh. Sepertinya, appa-ku tidak melihatku. “Mianhae, gwenchana yo?” tanya namja itu, turun dari motornya dan melepas helmnya.

“Gwe..gwenchana” kataku. Wah, wajahnya manis dan cute sekali. Dia terdiam dan hanya menatapku yang bangun untuk berdiri.

“Ngg… mianhae, aku ada urusan. Aku permisi” kataku, setelah 5 menit dia hanya terdiam. “Eeh.. ye” katanya, lalu aku cepat-cepat pergi ke seberang dan masuk ke mobil appa-ku.

“Mengapa lama sekali Seo?” tanya appa-ku, menyalakan mesin mobil dan mengendarainya. Kulihat di belakang namja itu sudah naik ke motornya dan menegndarainya ke arah yang sama denganku. Apa dia mengikutiku? Ah, jangan ge-er seohyun!

“Mianhae, appa” jawabku, tidak memberitahu kalau aku hampir tertabrak. Appa-ku ini sedikit over protektif. Aku tidak mau masalah sepele seperti ini dibesar-besarkan olehnya.

Aku sampai di sekolah musikku. Aku berjalan ke kelas baruku. Tadinya aku di kelas A, tapi pindah ke kelas D karena ngg… teman-temanku suka mem-bully-ku. Aku merahasiakan ini dari appa. Sudah kubilang, akan tambah runyam masalahnya kalau appa ikut campur.

Aku memang anak yang lemah dan pendiam. Karena itu, anak-anak kelas A yang memang kasar senang menyiksaku. Saat ujian, mereka memaksaku memberikan mereka jawaban, memaksaku menraktir mereka, dan lain-lain. Kalau aku tidak melakukan apa yang mereka inginkan, mereka akan menyiramku dengan air, mengaa-ngataiku, mencoret-coret mejaku, dan mempermalukanku. Aku tersiksa secara batin.

Aku mengambil tempat duduk di pojok kiri. Aku menatap sekitarku. Wajah mereka sepertinya cukup ramah. Walaupun, kelihatannya mereka pendiam-pendiam sepertiku karena suasana disini tidak terlalu ribut, padahal sonsaengnim belum datang, tidak seperti kelas A yang sangat ramai.

Lalu, aku melihat seseorang masuk. Semua mata tertuju padanya saat dia melangkah masuk, memandang berkeliling, sepertinya mencari tempat duduk yang kosong.

Tempat duduk di sebelahku kosong. Dan sepertinya satu-satunya yang kosong. Dia namja yang hampir menabrakku tadi! Aku mengalihkan pandanganku darinya, menyembunyikan wajahku yang berharap semoga dia duduk di sebelahku.

“Hmm.. boleh aku duduk disini?” tanyanya. Yes! Aku menatapnya dan mengangguk. “Eeh… kau!” serunya kaget, seakan aku ini alien bertangan 8.

Dia tersenyum dan duduk di sebelahku lalu mengulurkan tangannya. “Kim Ki Bum imnida. Kau boleh memanggilku Key.” katanya sambil tersenyum. Aigoo… manisnya!

“Seo Joo Hyun imnida. Panggil saja Seohyun” kataku, balas tersenyum padanya.

Selama pelajaran, aku bisa merasakan dia memperhatikanku terus. Aku merasa sedikit risih diperhatikan seperti itu. Tapi, aku tidak berani menatapnya balik. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantungku berdebar setiap kali menatap matanya.

Kriiing! Bel istirahat berbunyi. “Kau mau kemana, seohyunnie?” tanyanya saat aku beranjak pergi. Dia memanggilku Seohyunnie?

“Kantin.” jawabku. Singkat, padat, dan jelas. Aku memang bukan orang yang pintar berbasa-basi dan berbicara. Aku berjalan ke luar kelas. Key mengikutiku. Sengaja kupercepat langkahku, tapi dia ikut mempercepat langkahnya. Kekeke, lucu.

Brukk! Aku menabrak seseorang. “Mi… mianhae” kataku. Sial! Aku menabrak orang yang salah. “Seohyun!” seru Amber, orang yang kutabrak.

“Ah, ada seohyun! Kebetulan sekali!” seru Hyoyeon, teman Amber sambil tersenyum licik. “Belikan kami makanan!” seru Amber. Mereka adalah anak kelas A.

“Cepat! Jangan hanya diam! Kami sudah lapar!” bentak Hyoyeon. “Tapi… aku membawa uang pas-pasan” ucapku sambil menunduk.

“Kami tidak mau tau” ucap Amber mulai marah. Aduh, bagaimana nasibku? Hyoyeon mengambil tempat sampah kecil di dekat kami, hendak menuangkan seluruh sampah itu di atas kepalaku.

Grep! Sebuah tangan menarikku. Dan… sraaakkk! Sampah-sampah berjatuhan. Tapi, aku tidak merasakan 1 buahpun sampah yang mengenai tubuhku. Aku sangat terkejut.

Kulihat Key ada di depanku. Tangannya menggenggam tanganku dan dia menarikku ke belakang. Hyoyeon membeku dalam posisi keranjang sampah di tangannya dia arahkan dan dia tumpahkan ke atas kepala Key, membuat semua sampah itu berjatuhan mengotori badannya.

“K…key-ssi” ujar hyoyeon ketakutan. Amber yang melihat kejadian itu diam-diam berusaha untuk kabur. “Jangan kabur” ucap Key dingin membuat Amber membeku di tempatnya dan terdiam.

“Sekali lagi kulihat ada yang menyakiti Seohyun, tidak akan kuampuni. Dan, kau harus bertanggung jawab atas sampah-sampah yang sudah mengotoriku ini” ucap Key tegas dan galak.

“Tapi… urusan kami adalah dia.” ujar Hyoyeon membela diri. “Nde. Bukan salah kami kalau kau ikut campur” tambah Amber. Key memandang mereka tajam.

“Urusan Seohyun urusanku juga. Jangan harap hidup kalian tenang, kalau kalian menyakitinya. Dan, ini berlaku untuk semuanya disini. Arraso?” ucap Key tegas pada Hyoyeon, Amber, dan semua orang yang berkerumun menyaksikan kami.

Hyoyeon dan Amber, juga yang lainnya hanya menganggu kecil. “Kkaja, seo!” ucap Key, menarikku. “Kau… kenapa melakukan itu?” tanyaku pelan.

Dia mengangkat sebelah alisnya. “Aku mana bisa melihat temanku dibegitukan” ujarnya. “Teman?” tanyaku heran. “Nde. memangnya aku bukan temanmu?” tanyanya sambil memanyunkan bibirnya.

Tadinya sih, aku berharap lebih. “Ehh… nde. Sekarang, bersihkan dulu dirimu.” ujarku. Dia mengangguk lalu ke toilet. Teman ya? Ah, babo kau Seohyun! Mana pantas kau bersamanya! Berteman dengannya saja sudah syukur! batinku dalam hati.

Author POV

“Seohyun! Chakkaman!” seru Key, mengejarku yang sudah keluar dari sekolah untuk pulang. “Wae, Key-ssi?” tanya Seohyun, menghentikan langkahnya.

“Berhenti memanggilku Key-ssi, Seohyunnie. Panggil saja oppa. Arra?” ucapnya sambil tersenyum. “Arraso, oppa” kata Seohyun sedikit malu-malu. Key tersenyum. “Nah, begitu lebih baik.”

“Hmm, ada apa oppa?” tanya Seohyun. “Ngg… apa kau mau kuantar pulang? Ehh.. kalau kau tidak dijemput atau pulang bersama orang lain.” kata Key sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Eeh.. apa tidak merepotkan? Aku pulang sendiri. Appa tidak menjemput karena dia bekerja” kata Seohyun. “Nde. tentu tidak! Kemana arahmu pulang?” tanya Key. Seohyun menunjuk ke arah kiri. “Oke. kkaja!” ujar Key.

Mereka berjalan berdampingan di jalan. Kadang, diselingi bercanda dan mengobrol, untuk lebih mengenal satu sama lain.

“Seo… seohyunnie!!”

-TBC-

bagaimana kelanjutan kisah Key dan Seohyun?

Ngomong-ngomong, apa hubungan mereka dengan Kyuhyun dan Yoona? (secara gak mungkin author bikin 2 cerita terpisah)

wait in chapter 3 (The real start) and comment, okay??

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

“Seohyun. Dia….”

“Dia kenapa, oppa?” tanya Yoona tak sabar. “Cepat ke rumah sakit. Kkaja!” ajak Taeyeon tanpa menunggu penjelasan donghae.

Mereka berangkat ke rumah sakit dengan panik. “Sebenarnya apa yang dikatakan minho tadi, oppa?” tanya ssica. “Katanya keadaan Seohyun bertambah parah. Jantungnya semakin melemah.” jawab donghae sedih.

“Akhirnya kalian datang juga!” sambut Minho dengan wajah cemas. “Minho-ah, bagaimana keadaan seohyun?” tanya Sooyoung cemas.

“Kata dokter keadaannya semakin parah. Jantungnya semakin melemah.” jawab minho sedih. Matanya sembab dan bengkak karena habis menangis.

Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar Seohyun, membuat mereka semua mengalihkan perhatian mereka ke dokter itu. “Seo Joohyun-ssi sudah sadar.” umum dokter itu disambut senyum sumringah dan kelegaan yang terpancar jelas di wajah ke-9 orang itu.

“Dia ingin bertemu dengan yang bernama Minho.” tambah dokter itu lagi. Mereka semua memandang Minho. “Eeh.. aku?” tanya Minho heran tapi dia segera bangun dari tempat duduknya untuk masuk ke kamar Seohyun.

Minho POV

Seohyun ingin bertemu denganku? Hanya denganku? Tapi, kenapa? Apa mungkin orang yang ingin dilihatnya pertama kali itu adalah aku?

Dengan penasaran, aku memasuki ruangan seohyun dan menyibak tirai yang menghalangiku masuk untuk menemuinya. Aku melihatnya terbaring lemah, dengan selang infus dan tabung oksigen yang banyak menjalari tubuhnya. Matanya sudah terbuka, seakan dia mengerahkan semua tenaganya hanya untuk membuka matanya itu.

“Seohyun-ah…” panggilku. Tak terasa, aku sudah tidak dapat membendung air mataku lagi, melihat kondisinya yang lemah begini.

Dia tersenyum. Terlihat jelas dari matanya. “Suster, boleh dicopot tabung oksigennya? Tampaknya dia ingin bicara.” kataku pada suster yang siap siaga di belakangku, kalau terjadi sesuatu.

Suster itu ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk dan mencopot tabung oksigen Seohyun. “Oppa…” panggil Seohyun lemah. Aku mendekatinya, berdiri di samping ranjangnya dan menggenggam tangannya. Dingin.

“Wae, seohyunnie?” tanyaku. “Oppa… sa..rang..hae..” katanya tersendat-sendat. Air mata semakin deras membanjiri pipiku. “Na do saranghae. Seohyun, na do saranghae.” kataku lalu menegecup keningnya dengan lembut.

Dia tersenyum dengan lemah, tapi sangat manis. “Oppa, aku senang… perasaanku… bisa tersampaikan.” katanya. Aku mengangguk dan tersenyum

“Aku lelah. Aku.. ingin… tidur…” katanya semakin lemah. “Nde. Tidurlah. Kau butuh banyak istirahat.” ucapku. Dia tersenyum sekali lagi dan akhirnya memejamkan matanya. Tangannya melemas dalam genggamanku.

Piiiiippppp…. bunyi detektor jantung itu mengagetkanku, menampilkan garis lurus yang panjang. Pertanda kalau…. kalau….

“Seohyun-ah!!” panggilku dan mengguncang-guncang tubuhnya. Suster itu segera keluar memanggil dokter.

Aku memeluk Seohyun, membelai rambutnya dengan lembut, lalu mengecup bibirnya pelan. Tuhan, tak bisakah kau memberinya waktu lebih lama? Aku sudah menunggunya untuk 1 bulan. Menunggunya agar aku bisa pergi berdua bersamanya, menghabiskan waktuku bersamanya.

Dokter yang datang menggeserku dengan pelan lalu memeriksa Seohyun. Dia menggeleng sedih, lalu mengambil sebuah alat yang sering kulihat di TV untuk menghidupkan kembali detak jantung seseorang.

Dokter itu mencoba untuk 3 kali, tapi hasilnya nihil. “Mianhamnida. Seo Joohyun-ssi sudah meninggal.” ucap dokter itu yang langsung menghancurkanku. Aku merasa seperti istana pasir di pantai yang hancur lebur oleh deburan ombak. Aku merasa tidak ada lagi yang bisa membangun kembali istana pasir yang sudah hancur itu.

Aku menangis, berteriak, meraung, mengeluarkan semua emosiku. “AAAARRRGGGHHHH” seruku sambil menangis dan berlutut. Tuhan, kenapa kau begitu kejam? Kenapa kau mengambilnya dari sisiku? Kenapa aku terlambat menyadari perasaanku??

Selama setengah jam, kondisiku terus bertahan seperti itu. Dokter dan suster yang berusaha menenangkanku tidak kuhiraukan. Aku terus menangis, mengguncang tubuh Seohyun yang sudah tidak bernyawa, berharap itu akan membuatnya bangun dan berkata kalau dia hanya berpua-pura.

Akhirnya, aku keluar untuk memberitahu yang lain. “Wae, minho-ah?” tanya Sooyoung noona tidak nyaman. Mungkin firasatnya sudah tidak enak melihat kondisiku yang sudah benar-benar parah. Mataku bengkak dan merah, rambutku sudah acak-acakan dan wajahku, aku yakin 100% pasti kelihatan seperti seorang ELF yang habis diludahi satu per satu oleh member super junior.

“Seohyun… Dia sudah… ” aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku, tetapi yang lainnya menatapku, memohon untuk melanjutkannya. Aku menarik napas dalam “dia sudah menjadi malaikat.” kataku akhirnya. Aku tidak sanggup berkata ‘meninggal’, ‘wafat’, atau ‘pergi ke surga’

“Loh… dia kan memang malaikat?” kata sooyoung polos. Tapi, tidak ada yang meresponnya. Noona yang satu ini jalan pikirnya memang lambat.

Taeyeon noona menangis. Begitu pula dengan yoona dan ssica noona. Kyuhyun membisikan sesuatu pada sooyoung noona, mungkin memberitahu arti dari ‘sudah menjadi malaikat’ karena seketika wajah sooyoung noona langsung sedih dan menangis.

Mereka semua masuk ke kamar Seohyun. Kecuali aku. Aku tidak sanggup lagi melihatnya. “Sabar, minho-ah.” kata yoona noona mencoba menghiburku, padahal dia sendiri juga butuh hiburan dilihat dari wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

Author POV

Mereka ber-8 masuk ke kamar Seohyun, melihat sahabat maknae mereka itu sedang berbaring dengan tenang. Orang yang tidak tau mungkin menganggap dia tertidur, karena wajahnya begitu damai. Benar-benar seperti malaikat.

Mereka semua menangis. Termasuk kyuhyun, yang mungkin terakhir menangis saat umur 6 tahun. “Seohyun-ahh…” panggil Taeyeon lirih sambil menggenggam tangan Seohyun.

“Kalau saja aku tidak ceroboh waktu itu…” sesal Ssica sambil menangis. Sooyoung menenangkan ssica. “Seohyun-ah, istirahatlah yang tenang. saranghae…” ucap Yoona.

“Seohyun-ah, saranghae…” koor yang lain dengan sedih.

Nde. Seohyun-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Ada atau tidak ada, kau akan selalu tetap di hati kami sebagai seorang sahabat yang baik. Seorang dongsaeng terbaik yang pernah kami kenal. Yang baik hati, polos, dan tulus. Seobaby kami yang kami cintai.

Taeyeon langsung menelepon Leeteuk setelah dia sudah tidak menangis lagi. Dia dan Jessica menangis selama 4 jam tanpa henti.

“Yobeoseyo? Oppa? Aku… ada kabar buruk.” kata Taeyeon. “Ngg… Seohyun. Dia… sudah…” Taeyeon menarik napas lalu melanjutkan “pergi.” kata Taeyeon akhirnya, mencari kata-kata yang paling tepat. “Annio. Bukan pergi seperti itu. Dia sudah pergi. Meninggalkan kita semua. Meninggalkan dunia ini.” kata Taeyeon akhirnya dengan air mata yang mulai mengalir lagi.

Sooyoung menyodorkan tisu yang langsung disambar oleh Taeyeon. Setelah menceritakan kejadiannya pada Leeteuk, dia mematikan sambungan teleponnya.

“Leeteuk oppa sangat terkejut. Dia sangat syok” cerita Taeyeon mengenai respon Leeteuk. Mereka semua terdiam. Masih syok dan sedih dengan kejadian Seohyun tadi. Bahkan, Sooyoung dan Kyuhyun pun terdiam.

“Ahjussi…  ahjumma.. ngg, kami semua turut berduka cita.” kata Donghae mewakili teman-temannya mengucapkan bela sungkawa pada orangtua Seohyun keesokan harinya saat pemakamannya.

Agak aneh memang berkata seperti itu, mengingat mereka semualah, atau Minho lebih tepatnya yang menyaksikan detik-detik terakhir hidup Seohyun.

Mereka semua menangis sepanjang pemakaman Seohyun itu. “Ada yang ingin disampaikan dari orangtua Seo Joohyun?” tanya pendeta.

Omma-nya seohyun maju, dengan mata merah dan berkaca-kaca “Kami tidak sempat minta maaf padanya, karena tidak punya waktu untuknya. Untuk selamanya, dia akan menjadi anak kesayangan kami. Banyak yang ingin aku sampaikan. Tapi….” kata-katanya tidak dilanjutkan karena tangisannya meledak lagi.

“Dari kerabat dekat Seo Joohyun?” tanya pendeta lagi. Minho melangkah maju, membuat teman-temannya cukup terkejut.

“Seohyun… adalah sahabat yang paling baik yang pernah kutemui. Dia polos, tulus, dan baik hati. Dia benar-benar seperti malaikat. Kami beruntung, pernah mengenal orang sebaik dia.”

“Mungkin, semua ini salahku. Dia begini karena melindungiku. Mianhae, Seohyun. Tapi, kau harus tau. Kami semua sangat menyayangimu. Kau adalah dongsaeng terbaik. Saranghae, seororo.” ucap Minho diiringi derai air mata semua teman-temannya.

“Jadi kau! Kau penyebab kematian Seohyun! Enyah kau dari sini! Ini semua salahmu!” seru omma-nya seohyun sambil mendorong Minho. Plak! Tamparan keras dari appa-nya seohyun mendarat dengan mulus di pipi Minho.

“Kau… kau yang sudah menyebabkan ini semua! Seharusnya Joohyun masih hidup, masih bersama kami! Seharusnya kau yang mati!” seru appa-nya seohyun dengan geram.

“Jangan! ini bukan salah Minho. Ini salahku.” seru Jessica, berdiri di depan Minho. “Kalian semua! Kalian semua ini sama saja! Mengakunya sahabat? Cih! Padahal, gara-gara kalian lah Seohyun seperti ini!” seru omma-nya seohyun.

“Mianhae, ahjumma. Tapi, setau kami, kami ini sahabat yang cukup baik untuknya. Karena kami ada, saat dia membutuhkan kami. Kami selalu ada untuknya. Apa kalian begitu?” kata DOnghae dengan tenang.

“Kurang ajar sekali, kau! Pergi kalian dari sini!” usir appa-nya seohyun dengan kasar. “Annio. Aku masih ingin melihat seohyun.” rengek minho.

“Cih, kau tidak pantas tau! Sana, pergi!” ucap appa-nya seohyun sambil mendorong Minho yang membuatnya terjungkal ke belakang.

“Dasar ahjussi kolot” omel Taeyeon saat mereka berjalan dengan gontai pulang ke apartemen mereka. Mereka melewati kamar Seohyun yang sudh kosong sekarang, sekosong hati mereka melihat kamar itu.

4 bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Mereka semua sudah bisa merelakan Seohyun, yah… kecuali Minho.

Donghae POV

Aku dan Jessica sedang berjalan-jalan di sekitar apartemen kami, yang akhir-akhir ini sudah menjadi hobi aneh kami. Aku masih belum bisa menyayanginya setulus aku menyayangi sooyoung dulu, tapi aku berusaha.

“Oppa, chakkaman. Aku ke toilet dulu ya.” kata Jessica. Aku mengangguk dan dia langsung terburu-buru pergi ke toilet. Aku selalu heran, mengapa para wanita gemar sekali berlama-lama di tempat bau itu.

Aku melihat Sooyoung sedang duduk di bangku, hmm.. sebenarnya bukan bangku juga sih. Itu adalah pagar pembatas tanaman dari keramik yang bisa digunakan untuk duduk. Dia sedang mendengarkan musik dengan headphonenya sambil membaca buku.

Cantik. Aku sangat suka memandang wajahnya saat sedang serius. Benar-benar cantik. Tumben sekali dia tidak bersama Kyuhyun padahal hari ini hari Minggu. Mungkin Kyuhyun sedang ada job.

“Hei, Sooyoung,” panggilku sambil menghampirinya. “Eeh… oppa?” ucapnya terkejut melihatku yang ada di depannya tiba-tiba.

Aku mengambil tempat dan duduk di sebelahnya. “Kau baca apa?” tanyaku basa-basi, bingung harus berbicara tentang apa. Tapi, dia tidak menjawab dan hanya melongo menatapku. Harus kuakui, dia ini… kyeoptta xD

Aku melepaskan headphone-nya. “Kau baca apa?” ulangku lagi. “Eeh… mianhae,oppa. Aku lupa lagi pakai headphone. Hm, aku juga tidak mengerti sih. Judulnya ‘How a girl thought herself about loneliness’  Aku sedang berusaha mengerti. Soalnya ini dibelikan Kyu oppa.” jelasnya

Aku manggut-manggut. HYYUUUHH… angin berhembus dengan kencang. Pergantian musim dingin ke musim semi memang seringkali banyak angin.

Angin kencang itu mengacak-acak rambutku, dan membuat rambut Sooyoung juga berantakan. Entah kenapa, melihat rambutnya yang tertiup angin itu membuatnya.. mm, entahlah, tambah cantik.

“Aduh, mataku kelilipan…” keluh Sooyoung hendak mengucek matanya. “Eeh, jangan dikucek. Nanti justru iritasi ” kataku padanya.

“Habis gimana? Perih nih” keluhnya sambil memejamkan mata. “Yasuda, sini aku tiup saja.” kataku, lalu berdiri dan membungkuk agar posisi wajahku berhadapan dengan wajahnya.

“Cepat, oppa…” katanya. Wajah kami sangat berdekatan. Aku bahkan bisa merasakan napasnya yang hangat mengenai wajahku. Timbul hasrat untuk menempelkan bibirku ke bibirnya yang lembut. Tapi, hasrat itu kutahan.

“Oppa, cepatlah! Perih tau..” keluhnya, membuyarkan semua lamunanku. “Bagaimana bisa kalau kau memejamkan mata seperti itu? Babo!” kataku.

Perlahan, dia membuka matanya, dan cepat-cepat aku meniupnya. FUUUHH… “Nah, bagaimana?” tanyaku, langsung duduk kembali di sebelahnya, tidak mau terlalu lama melihat wajahnya dari dekat yang hanya membuatku semakin berdebar.

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Sudah… gomawo, oppa.” katanya sambil tersenyum. Ah, Choi Sooyoung… aku masih sangat menyukaimu, annio… mencintaimu. Bahkan walaupun ada Jessica, eh… mana Jessica? Kok tidak balik-balik dari WC? Apa dia ketiduran di WC?

Jessica POV

Aku buru-buru kembali dari WC ke tempat Donghae oppa, tidak mau dia menunggu lama. Tapi, aku tidak menemukannya ti tempat tadinya dia berdiri.

Aku melihat sekeliling dan melihatnya duduk di sebelah Sooyoung. Aku hendak menghampirinya tapi tiba-tiba, aku melihatnya membungkuk ke arah sooyoung dan… menciumnya!

Aku sedih. Sangat sedih. Hatiku hancur dan air mataku bercucuran. Aku memang bodoh, berpikir kalau donghae suatu saat akan mencintaiku, seperti yang dikatakannya. Padahal, tidak akan.

Yang sicintainya hanya sooyoung, dan aku tau itu. Bodohnya, aku masih saja mengejar-ngejarnya, padahal cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Aku berlari pergi, tidak mau lagi melihat pemandangan yang menyakitkan hatiku itu.

Aku berlari sambil menangis, tanpa tau kemana arahku berlari. BRUK! Aku menabrak seseorang. PRAK! Bunyi sebuah benda jatuh “ssica-ah?” panggil orang yang kutabrak tadi sambil membungkuk mengambil benda, yang ternyata sebuah biola yang jatuh karena kutabrak.

“Eh.. mianhae, changmin-ah.” kataku sambil mengusap air mataku. Dia tertegun “kenapa kau menangis?” tanyanya. “Aku…” aku memutuskan untuk menceritakannya pada changmin. Menceritakan sesuatu membuatku merasa lebih tenang.

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan menghiburmu” katanya sambil mengusap air mataku. Changmin memang benar-benar baik. “Aku sendiri pun, sedang ada masalah dengan yoona.” gumamnya pelan.

Dia memainkan biolanya. Melodi-melodi indah dimainkannya. Lagu ini sangat kukenal. Aku bernyanyi diiringi permainan biola changmin.

Orang-orang berdatangan menyaksikan kami. Aku terhanyut suasana, terus bernyanyi memperdengarkan suaraku yang merdu dipadu permainan biola changmin yang patut diancungi jempol.

Plok plok plok! Orang-orang itu bertepuk tangan setelah lagu ini selesai. Beberapa bahkan bersiul dan bahkan ada yang sampai memberi uang segala.

“Lagu ini, kupersembahkan untuk yeoja yang ada di sampingku ini, Jessica Jung!” umum Changmin, lalu memainkan nada-nada indah lewat gesekan biolanya. Musik memang ajaib. Tidak hanya menghiburku, tapi bahkan juga menghibur semua orang yang sedang memperhatikan kami.

Aku juga sangat mengenali lagu yang sedang dimainkan Changmin. Lagu romantis yang berkisah tentang seseorang yang sedang jatuh cinta. Lagu tentang indahnya cinta “saranghae, yoona-ah…” gumamnya pelan sambil memainkan biolanya. Aku tersenyum. Cintanya pada Yoona begitu besar sepertinya. Semoga saja masalahnya dan Yoona  cepat selesai.

Orang-orang kembali bertepuk tangan dengan riuh. “Cuit… cuit…” siul seseorang. Changmin melihat sekelilingnya. “Apa kau melihat Yoona?” tanyanya. Aku membantunya mencari yoona di antara kerumunan orang itu, tapi aku tidak melihatnya.

Tapi, ah itu dia! Dia sedang menghampiri kami. “Yoona-ah…” panggil changmin tapi.. PLAK! Dengan wajah merah karena marah dan mata yang berkaca-kaca, Yoona menampar changmin.

TBC

Kenapa Yoona menampar changmin?

Bagaimana dengan Donghae dan Jessica?

Tunggu lanjutannya di part 6~ kekeke

oh iya, reader… minta saran dong. Author lagi bikin project FF baru tentang cinta segiempat gitu. Ini berdasarkan mimpi author loh… tapi author bingung, cast-nya mau siapa. kalo ada yang mau request ato kasih saran, silahkan comment 🙂