Posts Tagged ‘Minho’

Ini dia… Oneshoot untuk Siwon. Berhubung di Story at Seoul dongsaeng-dongsaengnya, Sooyoung dan Minho udah punya pasangan, author bikin nih spesial untuk Siwon. Siapa couple-nya? Yup! Our Goddess, Im Yoona!

Siwon POV

Inilah aku, Choi Siwon. Berdiri di depan sekolah kesayanganku, Seoul School, sekolah terbaik di Seoul. Aku mendahului adik-adikku masuk ke sekolah. Sifat kasar adikku, Minho sudah sangat berkurang, sejak dia berpacaran dengan Yuri. Ternyata dia tidak sekuat yang kukira. Begitu mudah rapuh hanya karena cinta. Tapi, aku tidak akan seperti dia. Cinta itu menurutku tidak penting.

BRUKK! Ada yang menabrakku dari belakang. Hei! Ada yang berani menabrakku? Dengan sinis, aku menengok ke belakang, ke arah seorang yeoja yang menabrakku. “Ya! Jangan mengotoriku dengan menabrakku!” seruku marah padanya.

“Mwo? Mengotorimu? Maaf maaf saja, tapi aku yang kotor gara-gara menabrakmu!” serunya balik. Aku terkejut. Orang ini…. menyebalkan sekali! Hmm, aku mengenalinya. Dia ini Im Yoona, murid yang baru 3 hari yang lalu pindah dari London ke Seoul, dan 1 kelas dengan adikku, Sooyoung.

Dia ini putri pengusaha terbesar di London. dengan parasnya yang cantik dan tubuhnya yang sempurna, membuat semua namja menyukainya. Kecuali aku.

“Jangan sombong kau, Im Yoona!” seruku. Dia tertawa meremehkanku. “Sombong? Sedang membicarakan dirimu sendiri, Choi Siwon? Aku jelas lebih baik darimu!” ucapnya. Oke, aku lupa memberitahu sesuatu. Dia ini, juga sombong! Hm, mungkin sama sepertiku.

“Mimpi dari mana kau lebih baik dariku? Cih!” balasku. “Jangan belagu. Kau ini hanya orang yang tidak bisa apa-apa, hanya bergantung pada orangtua” katanya. Oke, aku mulai panas sekarang. “Jangan sembarangan bicara! Memangnya kau sendiri tidak? Hanya bayi manja yang masih dipakaikan popok oleh omma-nya saja bangga!” seruku.

Wajahnya memerah karena marah. “Kau….” Tapi, pertengkaran kami dipotong oleh 2 pahlawan sekolah ini, Sooyoung dan namja chingunya, Onew yang selalu berhasil menangani keributan apapun. “Lebih baik kalian hentikan tingkah kekanak-kanakan kalian dan masuk kelas.” ucap Onew. “Daaaan… Siwon oppa! Aku tidak mau melihat yeoja lain yang menangis LAGI karena tingkahmu” kata adikku.

Aku memang selalu menurut pada adikku. “Nde, sooyoung” jawabku, langsung menurut. “Aku salah. Kau bukan bergantung pada orangtuamu, tapi pada adikmu. Dan itu lebih parah” ujar Yoona. Aku langsung menatapnya tajam. “Sudahlah, yoona. Hentikan!” ucap Sooyoung, membungkam Yoona.

Akhirnya, kami dengan angkuh menuju ke kelas masing-masing. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Karena, hari-hari sebelumnya, kami jarang sekali bertemu.

BRUKK! Seseorang menabrakku lagi. Hei! Apa hari ini itu hari menabrak Siwon sedunia? “YA!! Dasar orang miskin! Apa kau buta, hah?” seruku, yang memang sedang panas, ditambah lagi dengan orang satu ini. Rupanya, dia anak kelas 1. Sial! Junior saja sudah berani macam-macam!

Aku masuk ke kelas dengan marah-marah. Benar-benar hancur mood-ku hari ini! Dan ini semua gara-gara gadis sombong dan menyebalkan itu… Im Yoona!

KRIIING! Sampai pulang sekolah, mood-ku belum berubah juga. Bahkan sudah 2 yeoja yang menangis, gara-gara kuhina habis-habisan. Aku langsung keluar dari gerbang sekolah, tidak menunggu Sooyoung yang sedang dihukum gara-gara tidak mengerjakan PR bersama Kyuhyun, atau Minho yang sedang berduaan dengan Yuri.

Aku memasuki rumah dengan disertai omelanku pada pesuruh-pesuruhku. “Bagaimana sih? Dasar gembel!” omelanku terhenti, saat aku melihat ke ruang tamu. Disitu… ada orangtuaku! Seketika mood-ku langsung naik. Jarang sekali orangtuaku ada di rumah. Dua-duanya.

Sambil menampilkan wajah ceria dan tersenyum lebar, aku menghampiri mereka. “Omma! Appa!” sapaku. “Siwon-ah! Ayo duduk. Kita ada tamu” kata appa. Aku melihat, ada 3 orang lagi yang duduk berhadapan dengan orangtuaku. Salah satunya memakai seragam sekolahku. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia duduk membelakangiku.

“Im-ssi, ini putra sulungku, penerus Choi company, Choi Siwon.” kata appa memperkenalkanku. “Annyeong hase…” kata-kataku terputus, melihat siapa orang yang memakai seragam sekolah yang sama denganku itu. “Si… siwon??” serunya terkejut. “Yoo… yoona??” seruku, tak kalah terkejut.

“Ah… kalian sudah saling kenal rupanya.” kata si tamu itu, yang kuduga pasti appa-nya Yoona. “Ngg… kami 1 sekolah, appa” jawab yoona. “kalau begitu, ini semua akan jadi lebih mudah” kata appa-nya Yoona.

“Apa yang akan jadi lebih mudah?” tanyaku curiga. Aku punya perasaan tidak enak dengan apa yang akan terjadi. “Nah, kalau begitu langsung saja. Choi Siwon, kau akan bertunangan dengan Im Yoona” kata appa-ku.

“MWOO??” seruku dan Yoona bersamaan. Aku sangat terkejut. Apa mereka semua sudah gila? Menjodohkanku dengan… dengannya! Ah, anni.. anni… ini tidak boleh terjadi!

“Tapi… tapi, appa tidak bisa seperti ini. Aku dan dia tidak saling mencintai. Bahkan kami saling membenci. Iya kan? Hei! Katakan sesuatu!” ucapku gusar pada Yoona, yang dari tadi hanya diam saja. “Yoona… kau sudah tidak bisa menolak” kata appa-nya. Yoona hanya menunduk dan mengangguk.

“Kau juga tidak bisa menolak, Siwon! Sekarang pergilah ke halaman belakang, mengobrollah dengan yoona untuk saling lebih mengetahui satu sama lain” perintah appa-ku dengan tegas. Aku hendak membantah, tapi akhirnya dengan gontai pergi ke halaman belakang melihat tatapan tajam orangtuaku. Sial! Kenapa jadi begini, sih?

“Hei! Kenapa kau tidak menolak tadi?” seruku marah padanya. Kami sedang duduk di halaman belakang rumahku, menatap hamparan biru jernih air kolam renang di rumahku. Dia hanya diam saja. Kuputuskan untuk mennegok ke arahnya dan…

Dia menangis! Aku bingung, kenapa dia sampai menangis.Padahal, aku kan hanya bertanya seperti itu padanya.

“Eeh… mianhae. kenapa kau malah menangis?” tanyaku bingung. Dia mengelap air matanya. “Ah.. gwenchana. Aku…” Dia mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh. Aish… kenapa aku jadi tidak tega melihatnya menangis? Padahal entah sudah berapa yeoja yang kubuat menangis karena kata-kata pedasku.

“Ceritakan saja. Kalau itu bisa membuatmu lebih tenang” kataku, bahkan diluar kemauanku sendiri. Dia menatapku kebingungan, tapi kemudian tersenyum sedih. Hm, dia lebih cantik saat tersenyum dengan bahagia, pikirku.

“Dulu… appa sempat menjodohkanku. Tapi, aku mati-matian menolak, karena aku mencintai orang lain. Aku bahkan kabur dari rumah. Akhirnya appa menyetujui, tapi dengan syarat kalau namja yang kupilih tidak baik, aku tidak boleh menolak lagi kalau dijodohkan. Aku sangat percaya padanya saat itu, tapi…” yoona menghela nafas, lalu melanjutkan

“Ternyata dia… hanya memanfaatkanku. Setelah mendapat hartaku, dia mencampakanku.” Yoona sudah tidak menahan tangisannya lagi sekarang. Semua air matanya tumaph keluar. “Jadi… aku…” Aku sudah tidak tahan. Aku merangkulnya, mengusap-usap kepalanya.

“Sudahlah. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Namja itu memang sangat berengsek. Tak usah ingat dia lagi. Jalani saja yang ada sekarang” ucapku menenangkannya. “Kupikir… kau membenciku?” tanyanya sambil sesenggukan.

Aku mengusap air matanya. “Yah, kupikir begitu. Tapi, kurasa tidak. Kau tidak seburuk itu. Dan lagi…” aku menggantung kata-kataku. “Dan lagi?” tanyanya. Aku tersenyum. “Kau ini cantik kok” kataku tulus, membuatnya terseipu. Oh, wow! Baru kali ini aku memuji seseorang, apalagi orang itu sempat menjadi musuhku dan mengacaukan hariku.

“Apa kau membenciku?” tanyaku padanya. Dia menggeleng dengan kuat. “Bagus. Mengingat kita akan hidup berdampingan, entah apa jadinya kalau kita saling membenci” ucapku. “Kau… menyetujui perjodohan itu?” tanyanya kaget. Heh.. aku menyetujui perjodohan itu? “Hm, mungkin tidak ada salahnya. Yaah… kau tidak buruk-buruk amat kok.” ucapku.

Dia tersenyum melihatku. Ah, baru kusadari betapa cantik wajahnya itu! “Namja itu. Apa kau masih mencintainya?” tanyaku. Dia terdiam. “Molla. mungkin…” katanya. Aku menarik kepalanya ke bahuku, membuatnya menyender di pundakku. “Lupakanlah dia. Akan kubuat kau bahagia bersamaku” kataku, terlalu gugup untuk menatap matanya. Argh, kurasa aku sudah terjebak dalam pesonanya.

Dia mengangkat kepalanya dari pundakku. “Janji ya?” katanya, sambil mengecup pipiku, yang berhasil membuat seluruh wajahku memerah. “Tentu saja” ucapku.

——-

Adik-adikku begitu bersemangat, saat aku menceritakan kejadian tadi pada mereka. Terutama sooyoung, yang mengetahui bahwa hari itu juga, aku dan yoona bertengkar. “Tapi… kau tidak romantis ya hyung?” kata Minho. “nde. sangat tidak romantis” timpal sooyoung.

“Lalu.. aku harus bagaimana?” tanyaku polos. “Ah! Begini saja…” Minho dan Sooyoung membisikkan ide mereka padaku. Hm, bukan ide yang jelek!

——-

Inilah aku, Choi Siwon, berdiri di depan sekolah kesayanganku, sekolah terbaik di Seoul, Seoul School. Hari ini adalah hari yang baru untukku. Dan mungkin, hari yang baru untuk Choi bersaudara juga.

“Sooyoung! Minho! Kau siap?” tanyaku pada adik-adikku yang memberi tanda siap dari belakang. Aku berdiri di depan podium sekolah. Nah! Itu dia sudah datang! Aku jadi berdebar sendiri.

“Aku…” aku memulai kata-kataku, dengan mikrofon, suaraku terdengar ke seluruh penjuru sekolah, membuat semua orang memerhatikanku dan bertanya-tanya apa yang hendak kulakukan.

“Aku ingin mengatakan bahwa, Aku, Choi Siwon akan merubah sikapku. Mianhamnida pada semuanya. Pada semua yeoja yang telah kubuat mennagis. Terutama, pada Jaebum. Hey, jay! Kumohon, maafkan aku. Aku janji tidak akan menjelek-jelekan yeoja-mu, si Jessica dan adiknya, Krystal. Kalau perlu, aku akan memuja mereka setiap waktu, untuk mendapat restu darimu” kataku pada Jaebum. “Restu? Restu apa?” teriaknya padaku. Jaebum ini, adalah sepupunya Yoona. Jadi penting untuk membina hubungan baik dengannya, setelah sebelumnya kami berkelahi gara-gara aku menghina pacarnya.

“Restu untuk…” aku menggantung kata-kataku dan menengok ke belakang. “hey… 1,2,3” bisikku pada Sooyoung dan Minho.

PAATS! Semua lampu padam di koridor dan di seluruh bangunan sekolah. BLUSS! Seribu balon berbentuk hati berwarna pink diterbangkan ke langit bebas. Lalu… TRING! Sentuhan terakhirnya, Serangkaian lampu kelap-kelip menyala di gedung sekolahku, bertuliskan SARANGHAE IM YOONA.

“Yoona-ah… will you engage me?” tanyaku, membawa mikrofon dan berlutut di hadapannya. Yaah… kata-kata seharusnya memang will you marry me, tapi, karena kita baru akan bertunangan, jadi kuganti kata-katanya.

“Kalau kau mau, ambillah mikrofon ini, dan katakan kalau kau bersedia. Tapi, kalau kau menolak, buang saja mikrofon ini” kataku padanya, sambil memejamkan mataku, tetap berlutut di hadapannya. Sejenak hening… tidak ada yang bersuara atau bergerak.

Dia mengambil mikrofon dari tanganku. Hatiku berdebar-debar. Entah apa yang ada dalam dirinya, yang bisa membuatku menyukai ah anni… mencintainya dalam kurun waktu 1 hari.

BRAK! Dia membanting mikrofon itu ke tanah. Aku bersumpah saat itu jantungku berhenti berdetak seiring dengan mikrofon itu yang menyentuh tanah. Pupus sudah harapanku.

Aku sudah hendak bangkit… saat kurasakan bibir yang lembut menempel di bibirku. Aku terkejut, membuka mata dan kulihat wajah Yoona, menempel tepat di depan wajahku. Aku membalas ciumannya. Hm, seingatku tadi aku tidak memberikan pilihan ‘ciuman’.

“Jadi… apa artinya itu?” tanyaku padanya. Dia tersenyum padaku. “Artinya… aku tidak akan bertunangan denganmu, Choi Siwon. Aku akan MENIKAH denganmu” katanya. Aku tersenyum bahagia dan memeluknya. Cklik! Cklik! Adik-adikku mengabadikan momen itu. Semua persiapan yang sudah kupersiapkan, semalaman, sampai aku tidak tidur, rasanya semuanya terbayar dengan pantas.

“Hei… siapa bilang aku merestui kalian?” kata Jaebum, mengagetkan kami. “Oppa!” rengek Yoona. Aku terdiam. AKu berlutut di hadapannya, dan bahkan dihadapan Jessica dan Krystal. “Maafkan aku. Kumohon. Akan kulakukan apapun.. supaya kalian memaafkanku” kataku, dan melakukan hal yang paling hina yang pernah kupikirkan. Bersujud memohon di hadapan mereka.

“Hei, bodoh!” ucap Jaebum, menarikku berdiri. “Tentu aku merestuimu, asal…” katanya. “Asal apa?” tanyaku dan yoona. “Ckck. Kalian ini harus membayar kesombongan kalian tau!” seru Jaebum sambil tersenyum licik.

——-

“Nah, mau kubelikan minum apa NYONYA?” tanyaku pada Jessica. “Capucinno, kamsahamnida” katanya sambil tersenyum. “Ada lagi yang bisa kubantu, NYONYA?” tanya Yoona, pada Krystal. “Ah, annio onnie” katanya.

Aku dan Yoona harus menjadi ‘pelayan’ Jessica dan Krystal selama 1 minggu. Kini, aku menyadari, kesombongan itu tidak perlu, karena ternyata, walaupun miskin, Krystal dan Jessica dan murid-murid lain yang kuhina itu teman yang baik, pengertian, dan juga berbakat.

Walaupun menjadi pelayan seperti ini, kami melakukannya dengan senang. Selama kami terus bersama, tidak sabar menunggu minggu depan, saat pertunangan kami dilaksanakan. Kalau sempat, datang ya! Kekeke ^^

 

don’t forget your comments guys…~ and… abis ini author bakal bikin oneshoot-nya taeyeon-leeteuk yg gak diceritain sama sekali di Friendship Remedy, baru abis itu lanjutin yang Melodies of Life. Support me please >.<

Advertisements

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

Donghae melongo, melihat sosok yang berdiri di depannya saat dia membuka pintu kamar Minho. Begitu juga dengan Jessica, dan Sooyoung. Iya, sooyoung. Sosok yang berdiri di depan Donghae itu menatap kedua pasangan itu terkejut.

“Sooyoung?” ujar Donghae bingung. “Sooyoung!” panggil Jessica girang sambil memeluk sahabatnya itu. “Eeh? Bukannya ini kamar Minho?” ujar donghae bingung, tapi sekaligus senang, melihat sahabat yang sudah lama tidak dilihatnya ini.

“Siapa itu? Ah, Minho-ah!! Ada… Donghae dan Jessica!” seru Kyuhyun yang memeriksa keluar, tak kalah terkejutnya melihat pasangan itu. Minho langsung menuju ke luar diikuti oleh Krystal di sampingnya. “Kyungsan-ah!” seru Jessica dan Donghae gemas sambil menggendong bocah kecil yang tersenyum itu.

“Krystal-ah?!” seru Jessica tidak percaya. Terlihat bahwa Krystal belum memberitahu onnie-nya tentang hubungannya dan Minho. “Onnie?” tanya Krystal, tak kalah heran.

“Ada apa kalian kesini?” tanya Kyuhyun, menyalami Donghae dan Jessica. “Kami pindah rumah di dekat sini, dan memutuskan untuk melihat-lihat sebentar disini” jelas Donghae. “Bagaimana dengan kalian? Kok bisa berkumpul seperti ini? Dan… Krystal?” sembur Jessica dengan berbagai pertanyaan.

“Kami tadi bertemu di pemakaman Seohyun.” kata Sooyoung. “Lalu mereka memutuskan untuk ke apartemenku, karena kangen” sambung Minho. “Sedangkan aku dan Minho oppa sebenarnya berpacaran, onnie” tambah Krystal.

“Mwo?? Kau tidak memberitahu onnie-mu ini, Krystal? Aissh…” ujar Jessica mendramatisir. “Minho-ah! Kita akan jadi saudara!” seru Donghae sambil merangkul Minho. “Yah.. aku harap sih bisa secepatnya seperti itu” kata Minho mengedip ke arah Krystal yang membuat yeoja cantik itu memerah pipinya.

“Huaaa… senangnya kita bisa bersama seperti ini” ujar Sooyoung. “Nde. Sayang sekali tidak ada Changmin dan Yoona yang sedang di Amerika, dan Leeteuk yang sudah ke Jepang, juga… Taeyeon…” Jessica tidak melanjutkan kata-katanya.

BRUAKK! Ada suara ribut dari luar. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” terdengar teriakan teredam. Mereka memandang satu sama lain. Suara itu sangat familiar. Dan lagi, Yoona? Spontan, mereka melihat keluar.

BRUAKK! Yoona terjatuh dengan keras, membuat kotak-kotak yang dibawanya terjatuh. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” seru changmin cemas, membantu Yoona berdiri. “Sudah kubilang, biar aku saja yang membawanya” kata changmin lembut.

“Changmin….” “Yoona…”Changmin dan Yoona menoleh ke asal suara yang memanggil mereka dan seketika terkejut. “Sooyoung? Kyuhyun? Minho?” ujar Yoona terkejut. “Donghae? Jessica?” tambah changmin yang juga melongo.

“Changmin! Yoona!” seru Sooyoung histeris memeluk kedua sahabatnya itu. “Bagaimana kalian bisa ada disini?” tanya Minho bingung. “Nde. Harusnya kan kalian di Amerika” kata Kyuhyun.

Changmin dan Yoona berdiri, lalu, changmin menceritakan semuanya yang telah terjadi pada sahabat-sahabatnya itu.

“Mwoo? Kalian… kalian… kabur dari Amerika dan ke Korea, tanpa membawa harta apapun?” tanya Jessica histeris. “Kalian ini nekat sekali sih!” gerutu Donghae.

“Aku tidak terima! Yang kuinginkan adalah bersama Yoona” jawab changmin. Yoona mengangguk. “Kalian ini… Bagaimana kalian bisa hidup nanti?” tanya Kyuhyun sambil menghela nafas, memikirkan kebodohan sahabatnya.

“Itu… belum kami pikirkan” jawan changmin sambil nyengir. “Kenapa tidak salah satu dari kalian memberikan pekerjaan untuk mereka?” usul Krystal yang tiba-tiba berbicara, sambil menggendong Kyungsan.

Mereka semua menatapnya. “Eeh… itu bukan ide yang bagus yah?” tanya Krystal salah tingkah. “itu brulian!” ujar Kyuhyun. “jenius” komentar Sooyoung. “Kenapa kita tidak memikirkannya yah?” ucap Donghae. “Dongsaengku memang pintar. Seperti onnie-nya” pede Jessica. “Anni. Seperti namja chingunya” kata Minho.

“Hmm, kau siapa?” tanya Yoona. “Krystal imnida. Aku dongsaengnya Jessica onnie, dan yeoja chingunya minho oppa” jawab Krystal sambil tersenyum dan menjabat tangan Yoona dan Minho.

“Daaaan… ini pasti uri Kyungsan!” ujar yoona, mengelus pipi Kyungsan. “Aiih… aegyooo” seru changmin sambil mencubit pipinya kyungsan. “ya! Shim changmin!” omel sooyoung. “Kekeke. mianhae, omma” sindir changmin sambil memeletkan lidahnya.

“Ahhh… aku merindukan kalian semua! Jeongmal boghosippeo yo!” seru Sooyoung, memeluk semua sahabatnya. “Nde. Rasanya sudah lama sekali, tidak melihat dan bercanda dengan kalian seperti ini” ucap Yoona terharu.

—-

“Changmin-ah! Jangan terlambat. Ini hari pertamamu bekerja loh” ucap Minho, mengingatkan temannya itu. “Nde. Tentu saja. Nah, yoong, aku berangkat dulu ya” kata changmin sambil mengecup kening yoona. “Ckckck. sudah seperti suami-istri saja” komentar Minho.

Changmin bekerja sebagai manajer di perusahaan Kyuhyun. Sedangkan Yoona bekerja sebagai pegawai di restoran milik Jessica. Kyuhyun sudah tidak bekerja sebagai model dan mulai bergerak di bidang pengusaha, sedangkan changmin yang kemampuannya mengelola perusahaan memang sangat bagus, padahal impiannya adalah bermian biola. Sooyoung sebagai ibu rumah tangga sedangkan Jessica masih mengelola restorannya yang semakin hari semakin berkembang, sedangkan Minho menjadi pemain basket dan Donghae masih menjadi programmer.

Changmin, Minho, dan Yoona keluar dari apartmen mereka. Tiba-tiba, changmin langsung berlari. Karena bingung, Yoona dan Minho ikut-ikutan berlari mengejar changmin, diikuti oleh 3 orang di belakang mereka yang berbadan besar dan tegap.

“Oppa, ada apa?” tanya Yoona sambil berlari. Changmin diam, lalu kemudian menjawab “mereka… suruhan appa-ku.” kata changmin.

BRUKK! Mereka menabrak seseorang. “Changmin! Yoona! Minho! Ada apa?” tanya Donghae, yang ternyata orang yang mereka tabrak. “Hyung… ada yang mengejar kami. Tolong” kata Minho panik. Donghae ikut-ikutan panik, tapi kemudian memutuskan menyembunyikan mereka sementara di rumah barunya.

“Ada apa sebenarnya?” tanya donghae bingung. Changmin menatap dengan cemas orang-orang yang semakin mendekat itu. “Mereka… suruhan appa-ku. Mereka pasti mencariku. Dan…” kata-kata changmin terputus, melihat ada seorang namja lain yang mendekat. Namja itu mengenakan jas abu-abu dan perawakannya tegas. Namja itu tak lain adalah appa-nya changmin.

“Changmin… keluarlah” kata appa-nya changmin. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berbicara maupun bergerak. “Max, aku tidak mau menggunakan kekerasan. Keluarlah sekarang” kata Mr. Shim sekali lagi. Setelah ragu sejenak, changmin akhirnya keluar.

“Apa maumu?” tanya appa-nya changmin, to the point. “Biarkan aku bebas. Memilih wanita yang memang kucintai.” kata changmin tak kalah dingin.

Mr. Shim menghela napas. “Baiklah. Tapi dengan 1 syarat” kata appa-nya changmin. Changmin menaikkan salah satu alisnya. “Apa?” tanya changmin.

“Buktikan… kalau kau bisa membangun sebuah perusahaan. Yang bisa menyaingi Shim Enterprise. Saat itulah, akan kuberikan semua restuku untukmu. Oohtoke?” tanya Mr. Shim, mengulurkan tangannya. Dengan mantap, changmin menyambut tangan itu “Baiklah. Tunggulah, saat itu pasti akan cepat tiba” ucap changmin dengan penuh percaya diri.

Setelah itu, Mr. Shim dan suruhan-suruhannya keluar, kembali ke dalam mobil lalu akhirnya pergi dan dengan cepat menghilang.

“Changmin oppa?” tanya Yoona cemas. “Gwenchana, yoong. Aku yakin, dengan bantuan Kyuhyun hyung, kami pasti bisa menyaingi shim enterprise. Jangan ragukan kemampuanku. kekeke” kata changmin sambil mengacak-acak rambut yoona.

“Maaf mengganggu, teman. Tapi, bagaimana kau bisa melakukannya… kalau kau terlambat di hari pertamamu bekerja?” tanya donghae, menunjuk ke arah jamnya. “Aigoo… baiklah. Aku pergi sekarang. Annyeong, semuanya” kata changmin, buru-buru keluar dan berlari.

Minho POV

Yoona noona juga langsung pergi ke restoran Jessica noona. Aku juga sudah akan bersiap pergi ke stadion tempatku latihan basket. “Minho, chakkaman!” seru donghae hyung, menghentikan langkahku.

“Wae-yo, hyung?” tanyaku. Dia terdiam sebentar. “Gwenchana. Ini adalah hari yang baru untuk kita” renungnya. Aku tersenyum “Anni, hyung. Ini bukan hari yang baru. Ini hanya kesempatan. Kesempatan dari hari-hari kita yang lama. Hari-hari lama, dulu, saat kita bersama-sama. Seperti sekarang. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dengan kita bersama-sama. Kekuatan dari sebuah persahabatan yang tulus itu… lebih kuat, bahkan dari yang sanggup kita kira”

Donghae terdiam mendengar perkataanku “Entah sudah berapa lama kita berpisah, sampai-sampai uri Minho sudah menjadi sebijak ini.” ujarnya.

Aku tersenyum, memikirkan hari-hari depan, kesempatan-kesempatan berikutnya, yang diselingi canda dan tawa kami. Walaupun kami berpisah, kekuatan dari persahabatan kami, membuat sebuah kebetulan akan waktu dan ruang itu mungkin. Membuat pertemuan kami kembali itu semudah membalikkan telapak tangan.

Masih sangat banyak yang terjadi di antara kita semua. Masih banyak yang sangat ingin kuceritakan kepada kalian semua. Bahkan aku belum menceritakan kan, bagaimana Jessica noona melahirkan seorang bocah perempuan yang sangat lucu, yang diberi nama Soohee. Bagaimana aku dan Krystal menikah, dirayakan besar-besaran. Bahkan Leeteuk hyung pun datang ke pesta pernikahanku! Lalu… bagaimana, kami semua berdiri dengan bangga, berfoto di depan gedung sebuah perusahaan nomor 1 di Asia, saingan perusahaan Shim Enterprise. Bagaimana aku menghabiskan masa tuaku, masih tetap bersama-sama dengan mereka! Bagaimana Yoona melahirkan seorang anak, bagaimana Kyungsan dan Soohee menikah. Dan, akhirnya… bagaimana kami semua benar-benar terpisah. Selamanya. Karena sebuah keabadian bernama maut. Tapi, aku percaya, di surga nanti, kami semua pasti akan bercanda dan tertawa bersama lagi.

Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada kalian. Karena kalau itu terjadi, author-ku yang sudah lelah mengetik ini mungkin akan mengetik sepanjang sisa hidupnya untuk menyelesaikan FF-nya. kekekeke. Jadi, kalau kalian mau tau lebih lanjut, cobalan datang ke pinggiran kota Seoul, Korea Selatan dan cari sebuah apartemen sederhana. Cerita persahabatan kami sudah melegenda menjadi bagian dari apartemen itu sendiri. Kenangan kami disana melebur, bersama dengan digusurnya bangunan tua itu. Tapi, ada 1 yang tidak akan pernah hilang. Persahabatan. Pershabatan kami, yang kami bangun kokoh, sekokoh batu karang. Nah, annyeong semuanya. ^^

salam,

 

Choi Minho

Author POV

Aku membaca lagi tulisan terakhir dari Minho, lalu menghela nafas. Kisah persahabatan mereka, adalah kisah persahabatan yang didambakan semua orang. Persahabatan yang kekal. Tapi, akhirnya…. cerita mereka hanya sampai sini kubuat, walaupun, seperti yang dibilang Minho, akan ada masih banyak sekali.

Kuharap, kalian berkenan untuk meninggalkan komentar kalian disini, sementara aku akan membuat cerita tersendiri tentang Taeyeon dan Leeteuk, yang tidak dibahas disini. See you in the next fanfic ^^

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

“Emm.. ini yeoja chinguku.” kata Minho sedikit malu-malu. “Mwo? Wahh!” seru Sooyoung kaget. Kyuhyun juga terkejut, menatap yeoja yang berdiri malu-malu di belakang Minho.

Eh, ternyata… tak lain tak bukan yeoja chingunya Minho adalah aku! Author ff ini!  kekeke. Andwae… author just kidding

“Annyeong haseo. Jung Soo joung imnida. panggil saja Krystal” kata yeoja itu. “Krystal!!” seru Sooyoung kaget. “Eeh?” Krystal bingung, karena dia merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

“Aigoo… kau lupa padaku? Aku Choi Sooyoung. Kau adiknya Jessica kan?” kata Sooyoung bersemangat. Anaknya, kyungsan juga ikut-ikutan bersemangat dan bertepuk tangan (?)

Krystal tampak mengernyit dan berpikir sebentar. “Ahh! Sooyoung onnie! Aku ingat!” seru Krystal lalu memeluk Sooyoung. “Kalian saling mengenal?” tanya Minho heran.

“Minho-ah! Kita semua kan pernah bertemu di pernikahannya Donghae dan Jessica.” kata Sooyoung. “Benarkah? Aku tidak benar-benar memperhatikan” ujar Kyuhyun. “Yah… sebelumnya aku dan krystal juga sudah pernah bertemu” tambah sooyoung.

“Baguslah, minho. Kalau kau sudah bisa melupakan seohyun” kata Kyuhyun sambil tersenyum pada dongsaengnya itu. “Haha. aku tak pernah bisa melupakannya. Tapi, setidaknya aku sudah bisa melanjutkan hidupku” kata Minho pahit sambil merangkul Krystal.

New Jersey, USA, 16 March 2014

Changmin POV

“Max! Go home right now! I need to tell you something. (Max, pulang sekarang! Aku ingin memberitaumu sesuatu)” kata Appaku lewat telepon.Aku hanya menjawab “iya” lalu menutup teleponnya.

Aku sudah menjadi direktur perusahaan Shim enterprise, padahal usiaku baru 26 tahun. Aku menjadi pengusaha yang sukses dan menjadi namja impian para wanita.

Sudah lama sekali aku tidak mengontak Yoona. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir, yang kutau, dia sudah menyusulku ke Amerika. Tapi, aku kesulitan menghubunginya. Aku hanya berharap keajaiban dan takdir bisa membawa kami bersama lagi.

“Wanna go home, Mr. Shim? (mau pulang, tuan shim?)” tanya Paul, manajer perusahaanku. “Yes, Paul. As I don’t have any meeting today, please handle this company while I am not here and call me if there’s any problem (Iya, paul. Aku tidak ada pertemuan hari ini, tolong urus perusahaan sementara aku tidak disini dan telepon aku jika ada masalah)” kataku pada pegawai kepercayaanku itu. Dia mengangguk lalu aku masuk ke mobil limusinku dan mengendarainya pulang.

“Wae-yo, daddy?” tanyaku. Walaupun tinggal di Amerika, aku tidak pernah mencoba untuk melupakan bahasa Korea. Appa menengok ke arahku. Dari ekspresinya tampaknya dia bahagia.

“Guess what, son? Parker advertising! That fabulous company. Mr. Parker agree my idea to make you and her daughter get married. It will affect our company much (Tebak, anakku? Periklanan Parker! Perusahaan yang keren itu! Tuan parker menyetujui ideku untuk menikahkanmu dan anak perempuannya. Ini akan mempengaruhi perusahaan kita)

Aku terdiam membeku di tempatku. What? It isn’t a good idea at all! (Apa? Ini bukan ide yang baik!) “I don’t want, pa. Sorry. (Aku tidak mau, pa. Maaf)” kataku menolak.

“Oh, you can’t refuse. It’s not a choice. You have to. (Oh, kau tidak bisa menolak. Ini bukan pilihan. Kau harus)” kata appa dengan enteng. Aku marah dan kesal.

Selama ini, apa yang diinginkan appa selalu kuturuti. Tapi, soal pasangan hidup, aku dan hanya aku yang berhak menentukan, karena… yang bisa mendampingiku hanya Im Yoona seorang!

“I DON’T WANT! Terserah kau mau mengusirku, mencoret namaku dari ahli waris! Aku tidak peduli! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai DAN itu sudah bisa dipastikan bukanlah anak dari Mr. Parker!” seruku emosi dan marah-marah dalam bahasa Korea.

Appa menatapku dingin. “Kau harus” katanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya berbahasa korea padaku. Tapi, tetap saja aku kesal lalu pergi keluar dari rumahku yang amat mewah ini, mengendarai mobil sport-ku  tak tentu arah dengan emosi yang meluap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, di depan sebuah apartemen sederhana untuk menenangkan pikiranku. Mengendarai mobil dalam kondisi marah hanya akan membahayakan diriku sendiri.

Byurrrr… Air mengucur membasahi tubuhku dan jok mobilku. Aku menatap ke atas. Langit cerah dan tidak hujan. Rupa-rupanya, ada orang ceroboh yang membuang air atau menumpahkannya, atau apalah, dari lantai atas apartemen ke bawah.

“Sorry. I don’t know if there’s any people down there (Maaf. Aku tidak tau ada orang di bawah)” teriaknya dari atas. Grrr. orang ini… menambah emosiku saja!

“Is it a polite way to apologize to someone by screaming at him? (Apakah sopan minta maaf pada seseorang dengan berteriak padanya?)” kataku, balas meneriakinya. Dia terdiam beberapa saat, lalu kemudian…

“I’m sorry. Really really sorry.(Maaf. sangat sangat maaf)” katanya, berkali-kali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba saja sudah di depanku. Rupanya dia seorang yeoja. Aku mendesah, sudah begitu lelah dan tidak mau menambah masalah lagi.

“Yeah. Never mind. Now stop begging like that (Iya. Tidak masalah. Sekarang berhenti memohon seperti itu)” kataku. Dia menengadahkan wajahnya, dan membuatku terkejut dan terkesiap.

“Yoo… yoona!” panggilku tidak percaya pada sosok yang berdiri di depanku. “Changmin oppa!” serunya, sama kagetnya denganku. Spontan, aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Betapa aku merindukan tubuh mungilnya yang berada dalam dekapanku.

“Oppa… boghosippo yo” katanya sambil terisak. Ah, dia menangis. “Nde. Na do boghosippo” kataku, masih memeluknya. Akhirnya, takdir sudah bertindak dan mempertemukanku kembali dengan goddess-ku ini.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana” katanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum padanya. “Nde. aku juga, chagiya” kataku, mencubit pipinya yang halus.

“Sekarang oppa sudah sangat sukses ya. Aku ikut senang. Dan… aku menepati janjiku. Aku menyusul oppa” katanya ceria, menghapus air mata haru di pipinya. Aku tersenyum padanya yang sangat polos ini. Apa aku harus memberitahu kejadian tadi padanya?

“Yoona-ah…” panggilku halus padanya.

“Wae, oppa?” tanyanya bingung. “Aku…” aku menceritakan semuanya padanya. Dia tampak sangat syok dan terkejut. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku padanya sambil mengernyitkan dahiku bingung. Dia terdiam “Apa… kita memang tidak bisa bersama, oppa?” tanyanya. Aku terkejut dan menatapny, mencengkram kedua bahunya “Andwae! Kita pasti bisa bersama. Kita pasti menemukan jalannya” kataku.

“Ta..tapi..” aku memotong perkataannya dengan menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut. Tidak lama. Hanya beberapa detik, lalu melepas bibirku dari bibirnya.

“Yoona-ah… saranghae. Aku… kita bisa pergi. Pergi dari ini semua. Ayo kita kembali ke Korea. Kita bisa tinggal bersama di apartemen kita dulu. Oohtoke?” tanyaku. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam kepalaku. Yoona kelihatan ragu sejenak. Aku meyakinkannya dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.

Hari itu juga, kami langsung berangkat ke Korea. Aku tidak kembali lagi ke rumahku untuk mengambil barang-barangku. Aku gadaikan mobil sportku, untuk menambah jumlah hartaku supaya cukup untuk nanti, karena yang kubawa hanyalah HP, dompet yang berisi kartu kredit dan sejumlah uang tunai, dan mobilku itu.

Aku dan Yoona bercanda dan mengobrol selama di pesawat. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Walaupun semua karir yang sudah kubangun dari nol akan hancur seketika, aku tidak peduli. Hal yang paling kuinginkan adalah bersama-sama dengan Yoona.

Malamnya, kami sampai di Korea. Kami segera naik taksi menuju ke pinggiran kota Seoul, mencari apartemen yang penuh dengan kenangan indah kami.

“Changmin-ssi? Yoona-ssi? Lama sekali tidak bertemu kalian!” ujar resepsionis apartemen. Rupanya selama 3 tahun, tempat ini pun masih belum berubah sama sekali.

Karena lelah, aku dan Yoona langsung pergi ke kamar kami yang bersebelahan dan tidur dengan sangat nyenyak, untuk menyambut esok. Hari yang baru.

Seoul, South Korea, 17 March 2014

Donghae POV

“Ssica-yah!” panggilku. “Kau tidak boleh bawa barang yang berat! Arraso?” ucapku lagi, mengambil kardus yang sedang dia tenteng. “Ini tidak berat, kok” katanya sambil memanyunkan bibirnya. “Kekeke. Sudahlah. Biar aku saja yang membawanya.” kataku lagi.

Kami pindah ke Seoul hari ini. Memulai kehidupan baru, tinggal di rumah kami sendiri, membentuk sebuah keluarga baru, terlebih…. Jessica sedang hamil! Dia sudah hamil 2 bulan. Aku akan selalu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bocah kecil akan memanggilku ‘appa’.

Aku memandang rumah baruku. Sederhana memang. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan elegan. Aku tersenyum melihat seluruh ruangannya yang akhirnya selesai aku dan ssica rapikan.

Daaan… jarak rumahku ke apartemen kami dulu tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, walaupun akan cukup lelah.

“Hmm, bagaimana kalau kita melihat apartemen kita dulu?” usulku yang langsung ditanggapi persetujuan Ssica dengan semangat. “omo! Aku sangat merindukan tempat itu! Dan merindukan 8 makhluk-makhluk itu” kata ssica girang.

“Nde. Bukankah Minho masih tinggal disitu? Kita bisa mengunjunginya sebentar” kataku. Ssica langsung mengangguk dengan semangat.

Akhirnya, kami sampai di bangunan bertingkat sederhana itu. Bangunan yang penuh dengan kisah-kisah kami. Canda, tawa, tangis, duka, semua kami alami bersama disini. Bangunan yang menjadi awal hidup dan persahabatan kami. Bangunan yang mengajarkan kami tentang kehidupan. Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat dan sangat kurindukan.

Aku mendesah. Flashback ingatan-ingatan masa lalu, tentang kenanganku bersama Jessica, bersama cinta pertamaku, Sooyoung, bersama musuh sekaligus sahabatku, Kyuhyun, bersama hyung yang sangat kukagumi, Leeteuk, dongsaengku Minho, dongsaeng malaikatku yang sudah mendahului kami, Seohyun, perfect couple kami, Yoona dan changmin, dan ahjummaku, Taeyeon.

Ingatan-ingatan itu terbesit cepat dalam kepalaku, menampilkan semacam sepotong-potong peristiwa masa lalu kami, terputar begitu saja dalam otakku seperti sebuah film. Bagaimana kami di mall, bagaimana kami salah paham, bagaimana kami makan bersama, bermain salju bersama, dan menghabiskan malam bersama. Ah, selamanya. Ingatan itu tidak akan pudar dari kepalaku. Walaupun aku amnesia, hatiku pasti mengingatnya jauh lebih baik.

“Aku merindukan mereka” kata Jessica, menghilangkan semua flashback dari kepalaku. Aku tersenyum “Nde. kita semua pasti saling merindukan” ujarku.

Kami masuk ke dalam apartemen itu, disambut dengan pemandangan yang familiar. Bahkan selama 3 tahun, apartemen ini belum berubah. masih sesederhana dulu.

Kami naik ke lantai 5 menggunakan lift, mengingat Jessica harus benar-benar menjaga kandungannya, calon anak kami. Kami mencari sepanjang koridor. Aku tersenyum sendiri saat melewati kamarku dan kamar Yoona, yang juga di lantai ini.

Ini dia. Pintu yang di depannya ditempel kertas putih bertuliskan ‘Choi Minho’ dengan diatasnya terlampir nomor 205. Pintu yang didalamnya terdapat dongsaeng kami, Choi Minho.

Aku mengetuk pintu. “Masuk saja!” itu jawaban dari dalam. Krieeettt… perlahan-lahan aku membuka pintunya, membayangkan seberapa kaget ekspresi minho melihat kami. Tapi, aku salah. Justru, akulah yang sangat kaget, begitu aku membuka pintu kamar Minho.

-TBC-

Apa yang membuat donghae kaget?

Bagaimana kelanjutan kisah Changmin dan Yoona?

wait in part 11 ^^

huaaa… happy valentine all! Tadinya author mau bikin ff spesial valentine… tapi… lagi butek nih otaknya. Jadi, lanjut FR part 9 aja yah ^^ kekeke~ happy reading 🙂

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Horeee… jadi semuanya sudah baikan lagi?” seru Changmin dengan gaya childishnya. Donghae mengangguk. “Ahh… kita jadi berpasang-pasangan begini. Tidak pernah terfikir olehku sebelumnya” ujar Minho.

“Nde. Semuanya jadi rumit begini” timpal Taeyeon. “Sepertinya hanya kau yang belum dapat masalah, onnie” komentar Yoona. “Mwoo? Aku sangat merindukan Teukkie oppa tau! Itu masalah yang sangat besar!” ujar Taeyeon yang hanya disambut gelengan kepala dari teman-temannya.

“Kuharap tidak akan ada masalah lagi. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini” ujar Sooyoung. “Nde. Author jahat banget sih” kata Kyuhyun. “Tau nih. Kalau begini terus, aku keluar saja dari fanfic ini!” ancam Ssica.

“Eeh… jangan nyalahin author dong. Kan ini demi para reader. merong~” ujarku pada tokoh-tokoh fanficku yang menyebalkan (tapi cakep2) ini. “Tapi, kasian sama kami juga dong!” ujar Leeteuk, yang tiba-tiba nongol terus ilang lagi kembali ke wamilnya. (untung bukan Seohyun yang nongol, ntar author juga takut kalo dia tiba-tiba nongol lagi tapi dalam bentuk siluman Keroro #abaikan)

“Nde. Nde. Author kasih konfliknya ngga yang susah-susah banget deh. Oke! Back to your scenes and dialogs guys!” seruku. Mereka semua menurut padaku. kekeke~ (author sekali2 pengen eksis juga dong)

“Ayo pergi ke suatu tempat, merayakan ini!” seru Changmin, yang memang hobi jalan-jalan. “Boleh. Pas sekali hari ini kita semua sedang tidak sibuk” kata Kyuhyun.

Maka, setelah perundingan selama 10 menit, mereka memutuskan untuk pergi ke mall. “Jadi, kita mau kemana sooyoungie?” tanya Kyuhyun. Sooyoung tersenyum dan menjawab “Game center!”

“Ya! Kalian…” tapi kata-kata donghae itu tidak dihiraukan sama sekali oleh KyuYoung. Mereka sudah berlari menuju game center.

“Ssica-ah.. petshop?” tanya donghae, menggandeng tangan Jessica. “Eeh? Tapi kupikir, kau tidak menyukai binatang?” tanya ssica heran. “Yah… memang. Hanya ingin mengulang kenangan saat pertama kali aku menyukaimu” ucap donghae sambil tersenyum. “Saat itu? Saat itu kau sudah menyukaiku?” tanya Ssica terkejut. Donghae tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Sementara itu, pasangan Changmin-Yoona sudah menghilang LAGI! Entah kenapa, mereka selalu saja menghilang berdua saat bepergian dengan sahabat-sahabat mereka.

“Oke. Jadi, kita ditinggal?” tanya Taeyeon tidak percaya pada Minho. Minho mengangkat bahunya “kurasa begitu” katanya. “Dengar, Minho. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Aku sudah mempunyai Leeteuk oppa” ucap Taeyeon serius.

Minho tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia, bahkan sampai beberapa orang di sekitar mereka menatapnya. “Ooh.. aku baru tau kau bisa tertawa sampai seperti itu.” ujar Taeyeon.

“Mana mungkin noona!” seru Minho setelah pulih dari tawanya. “Aku juga sudah mempunyai Seohyun…” ucap Minho sambil tersenyum menerawang. “Yah… aku tau kau sangat mencintainya. Tapi, ada baiknya kau mencari penggantinya” nasehat Taeyeon.

“nde, ahjumma. Kekeke~” ejek Minho. “Ya! Choi Minho! Kau sudah semakin mirip Kyuhyun! Jangan terkontaminasi olehnya” seru Taeyeon sedangkan Minho hanya tertawa.

Kyuhyun POV

Aku dan sooyoung sudah berada di game center lagi, tempat yang penuh dengan kenangan manis aku dan dia. Tempat pertama kali aku mendapat ciumannya. Kekeke.

“Sooyoungie! Yang menang dapat 1 ciuman. Arasso?” tanyaku, mengeluarkan senyum evilku. “Mwo?” tanyanya terkejut. “Oke. Deal. Nah, ayo kita mulai” ujarku lalu kami memulai game street fighter kami.

Hanya terdengar suara keramaian orang yang mengobrol atau melakukan kegiatan lain di sekitar kami, suara jari kami yang beradu dengan keyboard, dan suara dari komputer kami saat kami melakukan tendangan, oukulan, dan semacamnya hingga akhirnya…

“Yeah! Aku menang!” seruku senang, melihat saat fighter-ku menendang fighter sooyoung di detik-detik terakhir. Kuakui, sooyoung semakin hebat dalam bermain games. Tapi, tetap akulah yang paling hebat! kekeke

“Nah, sooyoung!” panggilku padanya yang hanya menatapku pasrah. Aku sudah mendekatkan pipiku ke wajahnya, menunggu bibirnya yang tipis menempel di pipiku.

Tapi, aku tidak mendapatkannya. Aku tidak kecewa. Jelas sangat tidak kecewa! Karena… dia justru menarikku mendekat dan mencium… bibirku. Aku sedikit terkejut, melihat wajahnya tepat di depan wajahku, dan bibirnya yang menempel di bibirku.

Aku balas menciumnya. Kurasa, baru kali ini kami berciuman… tanpa paksaan. Aku tidak menyuruhnya menciumku di bibir loh. Aku hanya berpikir sebatas di pipi saja sudah cukup. Tapi, begini juga tidak apa-apa. Aku lebih senang malah daripada hanya ciuman di pipi.

“Eeh…” aku sedikit gugup dan tidak bisa berkata-kata setelah dia selesai menciumku. Dia hanya tersenyum dengan manis. Aigooo… Tuhan, ajaiblah tanganMu yang bisa menciptakan makhluk seindah yeoja chinguku ini.

Aku mencubit pipinya dengan gemas. “Saranghae, Sooyoung-ah” kataku sambil tersenyum. Rasanya aku bisa mengatakannya seribu kali, memastikan kalau dia tau aku benar-benar sangat mencintainya.

“Na do saranghae, oppa” katanya sambil mengelus pipiku. Aku menggenggam tangannya dan membelai rambutnya. Betapa aku mencintai yeoja ini!

Aku dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yoghurt, tempat changmin dan yoona berada setelah aku mendapat balasan sms dari yoona.

Author POV

“Hei!” sapa Sooyoung pada pasangan itu. Tapi, tampaknya pasangan itu sedang tidak dalam suasana hati sebaik Kyuhyun dan Sooyoung.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun, menyadari wajah mereka yang kelam. Changmin mendesah. “Kau saja yang ceritakan, yoona” kata changmin.

“Tadi… appa-nya changmin meneleponnya.” kata yoona memulai penjelasannya. “Bukannya appa-nya sedang di Amerika? Tumben menelepon?” cetus Sooyoung menyelanya. “Berhenti menyela, onnie” ucap Yoona.

Sooyoung mengangguk dan Yoona melanjutkan ceritanya. “Appa-nya changmin, menyuruhnya pergi ke Amerika besok pagi. Besok pagi! Untuk meneruskan perusahaan Shim enterprise di Amerika” ucap Yoona, berusaha keras menahan air matanya.

“Mwo? Kau akan ke amerika?” seru Kyuhyun tidak percaya. Dengan pandangan sendu, Changmin mengangguk. “Aku tidak bisa menolaknya. Appa memaksaku. Aku pikir, aku hanya akan meneruskan perusahaannya di Korea. Itu tidak masalah selama aku bisa bermain biola. Tapi, ternyata appa tidak menyukaiku bergerak di bidang musik.” kata changmin sambil mendesah.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja oppa. Aku akan ikut kau ke Amerika!” seru Yoona, mengagetkan Sooyoung dan Kyuhyun. Changmin menggeleng “Annio, Yoong. Kau masih harus melanjutkan kuliahmu” kata changmin.

“Aku bisa saja berkuliah di Amerika” kata Yoona ngotot. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. “Kau tidak bisa, yoona. Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka tidak akan setuju” kata changmin, mengusap air mata yoona.

“Tapi.. tapi… aku akan sangat kehilanganmu, oppa” rengek yoona. Changmin mencium pipi yoona. “Aku juga. Pasti. Susullah aku, saat kau sudah bekerja, sudah siap.” kata changmin.

Yoona mengangguk walaupun dengan sedikit ragu. “Nde. Pasti oppa. Tunggu aku.” kata Yoona lalu mereka berpelukkan.

“Ah, oppa. Kami akan sangat merindukanmu” kata sooyoung. “Pertama, Leeteuk hyung, lalu Seohyun, sekarang kau.” desah Kyuhyun.

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan, kyu. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” ujar changmin, tersenyum dengan tegar.

—-

Sooyoung POV

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” kata-kata changmin itu masih terngiang di telingaku. Bahkan setelah kurang lebih 3 tahun sudah berlalu.

Aku merenung, menatap foto 10 orang yang sedang berfoto dengan latar belakang apartemen. Mereka masih sangat muda. Mungkin umur mereka masih belasan, beranjak 20 saat itu. Mereka tersenyum bahagia, seakan mereka tidak akan pernah berpisah selamanya.

Tapi, mereka salah. Mereka akhirnya berpisah, sibuk dengan kehidupan dan jalan mereka masing-masing.

“Sooyoungie…  hei! Aku lapar” kata Kyuhyun, memelukku dari belakang. “Nde. Aku akan membuatkanmu sarapan” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Hei… itu kan foto kita” ucapnya, tersenyum dan mengambil foto itu dari tanganku. “Ah, aku merindukan mereka semua.” katanya. Aku mengangguk. “Aku juga” kataku.

“Omma! Appa!” seru seorang bocah berumur 1 tahun sambil berlari dan memeluk kakiku. “Kyungsan-ah!” seruku lalu menggendongnya. Bocah ini, adalah anakku, dan dia baru saja kemarin bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, Omma dan Appa.

Aku dan Kyuhyun sudah 2 tahun menikah. Kami tinggal di kota Seoul, agak sedikit jauh dari apartemen kami dulu. Terakhir kami kesana, tinggal Minho dan Yoona dan sekarang pun kami dapat kabar kalau Yoona sudah pergi ke Amerika.

Tentang donghae dan Jessica, aku tidak tau banyak tentang mereka. Kami bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, di pesta pernikahan mereka. Setelah itu, kami tidak banyak mendengar tentang mereka.

Tentang Taeyeon dan Leeteuk… ah, aku kembali sedih mengingat mereka. Miris sekali kisah cinta mereka itu. Akupun sudah tidak mendengar kabar mereka lagi. Ah, aku tidak ingin menceritakannya. Terlalu sedih.

Minho? Entah apa kabar dongsaengku itu. Apa dia sudah menemukan pengganti Seororo yah? Seohyun. Ah, aku baru ingat. Sudah tepat 3 tahun hari ini semenjak dia pergi.

“Kyu!” panggilku, sambil menggendong Kyungsan di tangan kiriku dan memasak dengan tangan kananku. Aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.

“Mwo?” tanyanya sambil meletakkan foto itu di meja. “Hari ini tepat 3 tahun Seobaby meninggal. Bagaimana kalau kita ke makamnya?” usulku yang langsung dibalas persetujuan Kyuhyun.

Setelah sarapan, mandi, dan bersiap-siap, aku, Kyuhyun, dan Kyungsan berangkat menuju makam sahabat kami itu.

“Kyungsan-ah. Kita akan bertemu dengan Seohyun noona. Hmm, apa Seohyun ahjumma? Ah pokoknya, dia itu orang yang sangat baik dan cantik. Sayang dia tidak bisa melihatmu ya” ucapku pada Kyungsan.

Anakku itu menanggapi dengan tawanya. Seohyun, kalau kau bisa melihat ini, kyungsan menyukaimu loh. Tentu saja! Semua orang pasti menyukai orang sepertimu. kataku dalam hati.

Kami berjalan menuju makam Seohyun. Rupanya, kami keduluan. Disana sudah ada sahabat kami yang sudah lama kami tidak temui.

“Minho-yah!” seruku dan Kyuhyun bersamaan, mengahampiri Minho yang sedang berjongkok di depan makam Seohyun. Dia tampak sedang menaruh beberapa bunga di makam seohyun.

“Sooyoung noona! Kyuhyun hyung! Oww… dan.. Kyungsan!” seru Minho dengan sangat bahagia. Kami semua berpelukan dengannya. Eeh,,, ternyata dia tidak sendiri!

“Minho, siapa itu?” tanya Kyuhyun pada sosok yeoja yang berdiri di belakang Minho.

“Ehm, ini yeoja chinguku.”

-TBC-

Gimana? Author mau pendekin ceritanya and fokus ke melodies of life. Jadi, author dikitin konfliknya.Abis, mereka juga udah pada complain ke author. Kekeke~

please leave your comment, okay? 😉

mianhae reader.. updatenya lama >.<

Sama mau ngucapin Happy birthday buat ah ra onnie sma chansung oppa 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Apa kau yakin, changmin?” tanya Taeyeon sambil menggigit bibirnya khawatir. “Apa ini tidak terlalu beresiko?” tanya Minho.

“Hm, tapi aku yakin sekali dengan cara ini pasti berhasil!” ucap changmin. Dia, Yoona, Minho, dan Taeyeon sedang mendiskusikan plan B mereka, yang tampaknya rencana besar-besaran, seakan-akan ingin mendamaikan Korea Selatan dengan Korea Utara.

“Tapi, banyak cara lain kan? Kita bisa saja ajak mereka bicara baik-baik.” ucap Minho. “Negatif. Aku sudah bicara dengan Kyu oppa, dan dia hanya menjawab ‘hmm’ dan that’s it. Tak ada perubahan” kata Yoona.

“Tapi, apa kita bisa mempercayai mereka?” tanya Taeyeon. Changmin mengangguk pasti. “Aku yakin 100%, kalau begini mereka pasti berhasil. Kyuhyun dan Donghae pasti menyelamatkan yeoja chingu mereka” ucap changmin serius.

Yang lainnya mengangguk. “Tapi rencana ini freak banget deh” cetus Minho. “Nde. memang” jawab Yoona santai. Mereka memutuskan menjalankan plan B itu besok pagi.

Kyuhyun POV

Aku bangun cukup siang, mengingat hari ini tidak ada pemotertan. Jadi, hari ini aku free. Segera ke kamar Donghae. Itu pesan dari Yoona. Ke kamar donghae? Untuk apa?

Aku masuk ke kamar donghae dan kulihat yang lainnya sudah ada disana. Aku ambil tempat duduk di sebelah Yoona. “Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Aku dan yoona ingin pergi ke suatu tempat 1 hari ini. Memperbaiki hubungan kita” jelas changmin. “Benarkah? Kalian sudah baikan? Syukurlah” seruku lega. Aku jadi tidak harus tak enak hati lagi.

“Belum. Makanya, kami ingin pergi berdua saja. Meluruskan semuanya” ucap Yoona. “Aku dan Minho juga ada sedikit urusan dengan keluarga Seohyun” ujar Taeyeon noona.

“jangan bilang… onnie melupakan leeteuk oppa dan berkencan dengan minho” ucap Sooyoung. “mana mungkin, babo!” seru taeyeon noona sambil menjitak sooyoung. “Hanya ada urusan sedikit kok dengan keluarganya Seohyun” ucap Minho.

“Jadi, hari ini kami ber-4 akan pergi seharian. Apa kalian ada rencana juga?” ucap Yoona. Bagus sekali! Aku, Sooyoung, Donghae, dan Jessica. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Kami semua menggeleng serempak. “Membosankan pasti” cetus Minho. “Kenapa tidak pergi saja?” usul changmin. Pergi? Ide hebat! Pasti kami ber-4 akan sangat senang. Saking senangnya paling kami hanya akan diam semua.

“Nde. Ke pantai? Atau ke taman?” usul Taeyeon lagi. “Boleh juga” celetuk donghae. Membuatku, sooyoung, dan ssica spontan menengok ke arahnya. “Ayo, kita ke pantai!” ajak donghae. Ssica mengangguk ragu, “terserahlah” jawab sooyoung asal. Aku tidak mejawab.

“Ke pantai ya? Pantai mana?” tanya changmin. “Pantai An Chol aja   kataku. Pantai itu pantai yang indah dan sepi. Mereka kelihatannya setuju.

“Nah, kalau begitu kami berangkat dulu. Selamat bersenang-senang” kata yoona, lalu yoona, changmin, disusul Minho dan taeyeon yang keluar dari kamar donghae.

-end of POV-

“Oke. Kita jalankan rencana kita” kata yoona, setelah mereka sudah berada di luar jangkauan dengar teman-teman mereka yang lain. “Yosh! Yoong,minnie,taeng,minho hwaitting!” seru mereka.

—-

“Nah, jam 2 kita berangkat ya” kata donghae. Aku hanya mengangguk, lalu menuju ke komputer donghae untuk memainkan beberapa permainan. “Aku ambil baju dulu ya” kata ssica. “Aku juga” ucap sooyoung lalu menyusul ssica.

Suasana jadi hening. Hanya ada suara jari beradu dengan keyboard saat kyuhyun asik bermain game. “Kenapa semua jadi serumit ini ya?” ucap donghae pada dirinya sendiri sambil memijit-mijit kepalanya. Dia sadar, semua yang terjadi adalah tanggung jawabnya, seperti yang telah ditugaskan leeteuk padanya.

Kyuhyun tidak menjawab. Antara pura-pura tidak mendengar dan asik dengan game-nya atau memang tidak mau menjawab.

“Apa saja yang akan kita lakukan di pantai?” tanya sooyoung tiba-tiba. Dia dan ssica kembali lagi ke kamar donghae, membawa sebuah tas berisi pakaian, handphone, uang, dan tentu saja cemilan.

“Molla. Berenang? Bermain-main? Kita sangat butuh refreshing!” ucap donghae. “Kita lupakan saja semuanya. Anggap saja kita semua hanya sahabat. Tidak ada masalah. Tidak ada pertengkaran” ujar Ssica.

“Masalah percintaan itu berbahaya ya. Efeknya pada persahabatan kita terlalu parah” ucap Kyuhyun yang sudah me-shut down komputer donghae. Yang lainnya terdiam. Menyetujui di dalam hati.

“Nah, aku akan mengambil pakaian ganti dulu. Abis itu kita berangkat saja” kata kyuhyun, melangkah ke kamarnya. Donghae juga mengambil pakaiannya di dalam kamarnya.

Sesaat kemudian, Kyuhyun sudah kembali ke kamar donghae disusul donghae yang keluar. “Nah, kkaja! Kita berangkat sekarang” ajak Sooyoung.

Selama di jalan, mereka mengobrol seperti biasa, walaupun sedikit canggung. Kyuhyun menghindar berbicara dengan sooyoung. Sedangkan Ssica menghindar berbicara dengan donghae, walaupun donghae terus mengajaknya bicara.

“Wah, sepi sekali” ujar ssica. Jelas saja. Pantai disini memang jarang diminati, karena tidak ada wahana apapun disini. Walau begitu, pantai ini bersih dan indah. Dengan tidak adanya wahana apapun disini, membuat keindahan alami pantai ini semakin terlihat.

“Berenang! Berenang!” seru Kyuhyun, cepat melepas kaosnya. Dia sudah memakai celana renang dari rumah. Begitu juga dengan Donghae. Mereka langsung berhambur ke lautan biru jernih dengan ombak yang tenang dan segar.

“Ayo, soo. Kita ganti baju dulu” ajak ssica. Dia dan sooyoung menghilang ke toilet umum kecil di pojok pantai.

“Mana mereka?” ujar donghae melihat sooyoung dan ssica yang sudah tidak di tempat mereka. “Ganti baju mungkin” jawab kyuhyun. “Nah, itu mere…”

Kyuhyun POV

“Nah, itu mere…” kata-kataku terpotong melihat Sooyoung yang baru kekluar dari ruang ganti dan menghampiri kami. Dia… wow! Cantik! Cantik sekali! Rambutnya sudah bertambah panjang sepertinya. Dia ikat rambutnya, menampilkan tengkuknya. Dengan tanktop yang tidak menutupi perutnya, dan hotpants pendek yang membiarkan pahanya dan kakinya yang jenjang itu terlihat jelas.

Sooyoung benar-benar membuatku terpesona. Aku terus memandanginya seakan-akan memujanya. Ah, aku memang memujanya.

“Oppa, kenapa?” ucapnya, menjentikkan jarinya di depan wajahku. “Eh.. annio. Kau… cantik sekali” ucapku jujur. Habis, untuk apa berbohong? Kulihat wajahnya tersipu, membuatnya semakin manis. “Eeh… gomawoyo” katanya pelan.

Aku menariknya membuatnya tercebur juga ke laut yang dalamnya hanya selutut kami. “Wah, segar” gumamnya. Melihatnya manis seperti ini, emmbuatku luluh dan sejenak lupa akan kemarahanku padanya.

Donghae POV

“maaf menunggu lama” ujar jessica, yang baru keluar dari WC. “Gwencha…” aku tertegun. melongo dan terpesona melihatnya. Rambut pirang yang biasa dia gerai dia ikat ke samping. Dia hanya memakai bra dan hotpants, menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Aku melihantnya. Dari atas sampai bawah. Perfect. Tidak ada cela.

Aku bahkan mengalihkan pandanganku dari sooyoung, yang kuakui sangat cantik untuk bengon lenatap jessica. “Kau.. cantik sekali” ucapku masih terpesona. “Gomawoyo” katanya sambil tersipu. Aigoo… ingin sekali kupeluk tubuhnya itu!

Tapi tiba-tiba… segerombol, ehm tidak segerombol juga sih. Hanya 5. 5 namja dengan badan tinggi dan kekar mendatangi kami. Mereka ini sepertinya perampok. Cepat kutarik ssica mundur di belakangku dan kulihat Kyu juga sudah menarik sooyoung.

“Mau apa kalian?” seruku. Sebenarnya, aku takut juga sih dengan mereka ini. Tapi, demi apapun, akan kulindungi teman-temanku! Mereka diam, tidak menjawab.

Salah satu dari mereka mendorongku. Seperti kertas yang tertiup angin, aku langsung tumbang. Kekuatannya 10 x lipatku. Tapi, aku langsung bangkit melihatnya hendak menarik Jessica. “Lepaskan dia!” seruku. Kulirik sedikit dan Kyuhyun juga sedang mati-matian melindungi sooyoung.

“Berengsek!” seru Kyuhyun, menendang salah satu dari mereka. Tapi, kyuhyun jauh lebih lemah. Dengan cepat dia dibalas dan ditonjok. Ditendang dan dipukul hingga hidungnya mengeluarkan darah dan mulutnya memuntahkan segumpal gelap darah. “Oppa!!” seru sooyoung histeris.

Keadaanku pun tidak lebih bagus dari itu. Jessica ditahan oleh salah seorang dari mereka. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman namja yang menahanku itu, tapi sia-sia. Dia sangat kuat. Alhasil, sementara aku tak bisa melawan, namja yang lain menonjok perutku, membuat segumpal darah kuludahi mengenainya.

“Sialan!” serunya mengutukiku, sambil menendangku dengan lututnya, menamparku dan akhirnya membanting tubuhku yang berlumuran darah ke pasir.

“Ayo, cepat!” seru si namja, membawa Sooyoung dan Ssica ke mobil jip mereka, lalu kabur.

Author POV

“Berengsek! @$#!*#&*!” seru Kyuhyun marah, bangkit dan mengejar-ngejar jip itu walaupun dengan kondisi yang sama parahnya dengan donghae. Tidak ada gunanya. Kyuhyun akhirnya terjatuh dengan langkah terseok-seok.

“Hyung, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan terengah-engah. “Molla” ucap donghae pasrah.

—–

Mereka berdiam merenung di kamar donghae. Donghae sudah melaporkan semuanya ke polisi dan jawaban polisi hanya “Masih dalam proses” sedangkan teman-teman mereka… tidak 1pun dari mereka mengangkat telfon yang membuat kyuhyun menyumpah-nyumpah.

Krrriiiiinngg! Telepon di kamar donghae berbunyi. “Yeoboseyo?” ucap donghae sambil mengangkat teleponnya. Wajahnya langsung berubah ke ekspresi ngeri. Kyuhyun penasaran dan mendekatkan telinganya, berharap dia bisa mendengar juga.

“…. tunggu di gedung tua dekat pantai. Jangan bawa polisi” hanya itu kata-kata yang bisa Kyuhyun dengar. “Wae, hyung?” tanya Kyuhyun.

“Mereka… menyuruh kita datang ke gedung tua di dekat pantai. Kita tidak boleh membawa polisi atau sooyoung dan ssica akan… entah apa yang akan mereka lakukan” kata donghae lelah. “kalau begitu, tunggu apa lagi!” seru kyuhyun.

“Jangan gegabah, cho kyuhyun! Keadaan kita masih begini. Ini sama saja bunuh diri” jelas donghae, menarik kyuhyun yang sudah hendak pergi. “Tapi.. sooyoung.. dan ssica?” seru kyuhyun. Dia menyentakkan tangannya dan pergi. “Kyu! Chakkaman! ah, dasar babo!” seru Donghae, mengejar temannya itu.

Donghae dan Kyuhyun berlari menuju gedung tua itu. Padahal, keadaan mereka masih babak belur begitu. “Dimana sih gedung tua itu?” ujar Kyuhyun, mencari-cari gedung yang dimaksud.

“Apa yang itu?” tunjuk donghae pada sebuah gedung yang dulunya bekas perkantoran yang sudah lumayan bobrok dan letaknya agak tersembunyi. Kyuhyun mengangguk setuju dan mereka berdua melangkah memasuki gedung tua itu.

Mereka mencari di sekeliling ruangan, dan akhirnya menemukan Sooyoung dan Ssica disekap di sebuah ruangan di lantai 3. “Sebentar, Kyu” tahan donghae. Dia mengambil sebatang kayu yang tersender di dinding. “Pakai ini saja” ucap Kyuhyun, mengambil pipa besi di sebelahnya.

Mereka mengendap-endap di belakang 5 namja itu lalu.. BRAKK! BRUKK! JEDUGG!! (?) mereka memukul kepala namja-namja itu dengan senjata ala kadar mereka. Alhasil, ke-5 namja itu pingsan.

“Sooyoung!” panggil kyuhyun, melepas ikatan sooyoung, sementara donghae melepas ikatan ssica. “Oppa!” ssica dan sooyoung memeluk pahlawan mereka masing-masing. “Ayo, pergi” ucap donghae.

Tapi, kaki ssica ditahan oleh seorang namja. “Jangan harap kau lolos begitu saja!” katanya lalu bangkit lagi. Salah satunya juga bangun lagi sambil menggosok-gosok kepalanya.

“Ssica, berdiri di belakangku!” seru donghae menarik ssica. “Soo…” tapi sooyoung sudah keburu maju. Naluri petarung (?) nya muncul. Dia mengambil pipa besi yang dipakai kyuhyun tadi. “rasakan ini, dasar makhluk jelek!” seru Sooyoung sambil memukul punggung namja itu dengan pipa besi dengan kekuatan penuh.

“Sooyoung, awas!” Kyuhyun menendang seorang namja yang berada di belakang sooyoung. Donghae juga membantu menonjok namja itu. Untung hanya 2 yang sadar dan yang lainnya masih pingsan.

Seorang namja hendak menyerang kyuhyun, tapi ditahan tangannya oleh sooyoung “Jangan-pernah-mencoba-menyakiti-namja-chinguku!” seru sooyoung murka sambil memelintir tangan namja itu menghasilkan bunyi KRAKK! tulang yang patah.

“Cih! Dasar bocah! Cinta monyet saja belagu!” seru salah satunya lagi yang baru saja sadar, bergabung dengan teman-temannya.

“ENAK SAJA! BUKAN CINTA MONYET TAU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAINYA!!” seru Kyuhyun, Sooyoung, Donghae, dan Ssica BERSAMAAN! Sambil Kyu menunjuk Soo, Hae menunjuk Ssica dan Sica menunjuk Hae. Mereka tertegun sendiri melihat kejadian itu.

“Ah, yasudah. Tugas kami cukup sampai disini. Ini!” seru si namja yang baru sadar, memberikan segulung perban untuk donghae. “Cinta kalian kuat loh. Jangan disia-siakan hanya gara-gara salah paham. Nah, aku harus mengurusi mereka yang lain gara-gara kalian” ucapnya lagi, membuat yang lainnya melongo.

“Sana , pergi! Berkencan kek, apa kek. Tunggu apa lagi kau disini?” ujar namja itu melihat mereka ber-4 hanya diam mematung. “Ta,tapi…” “Kalian mau kami culik lagi?” uujar namja lainnya. Mereka ber-4 menggeleng cepat. “yasuda, sana pergi” usir namja itu.

Mereka ber-4 keluar dari gedung tua itu dengan bingung. “Apa maksud mereka sih?” tanya Sica. “Molla. Tapi, yasudahlah. Yang penting kita semua selamat” ujar Kyuhyun.

“Nde. Apa oppa tidak apa-apa?” tanya ssica,mengelus pipi donghae yang memar-memar. Donghae menggenggam tangan ssica. “Gwenchana. selama kau tidak apa-apa” kata donghae sambil tersenyum, yang membuat pipi sica bersemu merah.

“Kau keren tadi” ucap Kyuhyun pada sooyoung. “Oh ya? Aku pikir aku terlalu… ngg, arogan saat memukulnya” kata sooyoung. “Memang” ucap Kyuhyun dibalas delikan sooyoung

“Aku suka saat kau bilang aku ini namja chingumu.” kata Kyuhyun, sekarang dia menatap sooyoung. “Tapi, memang kan?” ucap sooyoung. “Nde. Soo.. ada yang ingin kutanyakan” kata Kyuhyun. “Tanyakan saja”

“Apa kau… dan donghae berciuman?” tanya Kyuhyun ragu. Dia mencertakan kejadian yang ssica ceritakan dan juga saat dia mencium donghae di depan Kyuhyun. Mata sooyoung membelalak. “Mwo?? Jadi kita semua begini karena kesalahpahaman itu?” seru sooyoung.

“dengar!” katanya, yang membuat donghae dan ssica juga ikut mendengarkan. “Saat di depan apartemen itu, dia tidak menciumku kok. Hal yang donghae oppa lakukan cuma meniupi mataku yang kelilipan. Lalu, yang di apartemen, aku hanya… pura-pua menciumnya, supaya yah… kau cemburu” terang sooyoung.

“Syukurlah” ujar Kyuhyun. “Karena yang boleh menciummu hanya aku” lanjut Kyuhyun sambil nyengir.

“Jadi, oppa tidak pernah mencium Sooyoung?” tanya Sica. Dengan mantap, Donghae mengangguk. “Mianhae, oppa” kata Sica. “Gwenchana, Sica-ah. Apa.. kau bisa menerimaku lagi?” tanya donghae penuh harap.

“Hm, kan oppa yang sudah berjanji, akan memohon sendiri padaku saat kau sudah siap” kata Sica. Donghae mengangguk. Dia berlutut di depan Sica “Sekarang aku yakin, aku sudah siap. Ssica. Jessica Jung, saranghae. Jeongmal. Bolehkah aku, menjadi namja chingumu?” tanya donghae.

Ssica tersenyum. Dia menarik donghae untuk berdiri. Dia mengangkat kepala donghae dengan meletakan tangannya di pipinya “Na do saranghae oppa” katanya sambil memeluk donghae.

“Ehem, aku tidak ingin mengganggu, tapi bagaimana dengan changmin dan yoona?” tanya sooyoung. “Aku YAKIN mereka pasti sudah tau masalah ini. Mereka pergi untuk menyelesaikan semuanya kan?” ujar donghae.

“Hei… apa mungkin mereka yang merencanakan penculikan ini?” cetus Kyuhyun. “Ah, tidak mungkin. Masa mereka menggunakan cara beresiko seperti ini?” ucap Jessica disambut anggukan yang lain.

Sementara itu…

“Yeah! Kita berhasil!” ucap Yoona. Dia,changmin, minho, dan taeyeon melakukan tos “Jjang!” ucap mereka. “Nah, kalau begini, semuanya kan sudah diluruskan” kata Taeyeon lega.

“Nde. Aku senang kita sudah tidak ada masalah lagi” ucap Changmin sambil tersenyum.

-TBC-

Apa benar yang dikatakan changmin, dengan selesainya masalah ini, sudah tidak akan ada masalah lagi?

Wait in part 9! 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Minho POV

Inilah aku, Choi Minho berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku melangkah masuk, memasang tampang sesangar dan seseram mungkin. Hari ini, aku dan murid-murid lain mulai smemasuki semester 2, semakin mendekati ujian akhir.

Prioritasku adalah semuanya disini harus takut padaku. Yeah, aku bisa dibilang seorang pembully disini. Dan tentu saja, kemampuan berkelahi patut diacungi 4 jempol.

Temanku, ups mungkin bukan teman juga, Lee Taemin lewat di depanku sambil menunduk takut. “Heh! Kau mengganggu jalanku tau, minggir!” seruku sambil mendorongnya dengan kasar.

“Mi.. mianhae” katanya yang tersungkur di tanah. “Kau tidak boleh bilang mianhae padaku! Bilang, mianhamnida Minho-ssi. begitu!” seruku sombong.

“Mianhamnida, minho-ssi. Puas?” katanya, eh… tapi itu bukan suaranya. Itu suara seorang yeoja. Aku terkejut, dan menengok ke belakang, ke sumber suara.

Tadinya kupikir dia adalah sooyoung noona, noona kesayanganku yang selalu aku turuti perintahnya. Tapi, ternyata bukan.

Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia murid baru. Aku mengangkat alisku, menatapnya dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Hm, lumayan cantik ah annio… sangat cantik.

“Siapa kau?” tanyaku masih terus memandanginya. “Yuri noonaaa!” seru si taemin lalu menghambur dalam pelukan yeoja itu.

“Taemin-ah, gwenchana yo?” tanyanya, menyambut pelukan taemin. Taemin mengangguk. “Jadi, kau ini yeoja chingunya taemin?” tanyaku, ehm, sedikit kecewa.

“Mwo? Annio” katanya sambil tertawa. Tawa yang manis, pikirku. “Aku sepupunya. Jadi kau, choi minho yang suka taemin ceritakan itu” katanya. Sepupu? Bukankah terlalu dekat untuk dikatakan sebagai sepupu?

Taemin menunduk. “Apa yang dia katakan tentangku?” tanyaku tajam, siap menggetoknya dengan high heels yang biasa dipakai tiffany SNSD kalau-kalau taemin menjelek-jelekanku di depan yeoja ini.

“Hm, kebanyakan sih keburukanmu. Tentang bagaimana menyeramkannya kau.” katanya. Sial.. namaku pasti sudah jelek di matanya. “Tapi, kau tidak terlihat sekuat yang taemin omongkan.” lanjutnya.

“Jangan meremehkanku!” kataku sombong. Belum pernah ada orang yang meremehkanku sebelumnya! “Yah, terserah” katanya lalu menggandeng taemin.

Aku menatap kepergiannya. Yeoja ini cukup menarik, pikirku. Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tadi taemin memanggilnya apa? Apa noona? Ah, aku ini memang pelupa! Minho babo!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku berpikir tentang yeoja tadi. Dia membuatku sangat penasaran. Treeennggg! Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya aku menghabiskan jam-jam istirahatku dengan berduel dengan seseorang, tapi, sekarang aku memutuskan untuk ke kelas kakakku.

“Sooyoung noona” panggilku manja. Aku memang sangat manja pada noonaku ini. Dia sedang bercanda dengan Onew hyung, namja chingunya. Yang akhirnya aku dan Siwon hyung -kakakku juga- setujui setelah insiden ehm, sister complex.

“Wae, minho-ah?” tanyanya. “Emm.. apa ada murid baru di kelasmu?” tanyaku padanya. Dia kelihatan bingung “Annio. Tidak ada. memangnya kenapa?” jawabnya, membuatku kecewa.

“Bagaimana dengan di kelasmu, Onew hyung?” tanyaku. Dia menggeleng juga. “Tapi, kudengar ada 5 murid baru.” katanya, yang memang tau segalanya, sebagai ketua OSIS dia memang harus tau segalanya.

“Ada yang yeoja tidak?” tanyaku antusias dan to the point. “Ada. 2 orang yeoja. Yang 1, di kelas XII-C, dan yang 1 lagi di kelas XI-B.” katanya. Aku mengangguk, segera menuju ke 2 kelas tersebut.

Pertama, aku masuk ke kelas XI-B. Seketika, semua orang disana membatu, bertanya-tanya apa yang aku inginkan disana. Lihat? Bahkan kakak kelas saja takut padaku.

“Mana murid baru itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Junhyung, si ketua kelas yang sok hebat. “Aku tak ada urusan denganmu. Aku mau bertemu dengan murid baru yang masuk ke kelas ini. Mana dia?” tanyaku dingin, yang membuatnya langsung menunjuk seorng yeoja yang duduk di belakang dengan gemetaran.

Aku perhatikan dia dengan seksama. Annio. Bukan dia. Dia jelek. Jadi, aku langsung pergi dan menuju ke kelas XII-C.

Apa dia sebodoh itu sampai harus masuk kelas C? Pikirku sambil berjalan. Treeeng! Bel malah berbunyi pertanda aku harus masuk kelas segera, soalnya habis ini pelajarannya SooMan sonsaengnim. “Sial” gerutuku sambil berbalik arah menuju kelas.

Alhasil, berkali-kali aku dimarahi SooMan sonsaengnim lantaran bengong saat pelajarannya dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Pakai sihir apa sih yeoja itu? Sampai bisa mengontrolku seperti ini.

Pulang sekolah, aku buru-buru pergi ke kelas XII-C itu, sebelum dia pulang, aku harus menemuinya. “Tumben sekali tidak kudengar kau membuat keributan, minho” komentar Siwon hyung saat aku melewati kelasnya dan berpapasan dengannya. Aku hanya nyengir dan buru-buru pergi.

“Hei, mau apa kau?” tanya Doojoon, ketua kelas XII-C yang juga berandal. Aku heran bagaimana dia bisa jadi ketua kelas. Aku pernah berkelahi dengannya, dan aku menang! Sejak itu, dia ada ehm, sedikit dendam denganku.

“Mana anak baru di kelasmu?” tanyaku dingin. Sejarahku dan dia memang tidak baik. “Mau apa kau dengannya?” tanyanya penasaran. “Bukan urusanmu” kataku, mendorongnya minggir. “Hei, jangan belagu bocah!” serunya, hendak menghajarku. Aku menangkisnya.

“Aku bilang aku tak ada urusan denganmu. Jangan buat aku mematahkan tanganmu” ucapku dingin, sambil memelintir tangannya. Dia meringis kesakitan dan menyentakan tangannya hingga terlepas, lalu dengan tatapan dan aura pembunuh, meninggalkanku.

“Wow. Hebat juga” komentar seseorang. Aku menoleh padanya, dan.. itu dia! Orang yang membuatku tidak membuat masalah hari ini, tidak fokus pada pelajaran, dan dimarahi abis-abisan oleh SooMan sonsaengnim.

“Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Mau balas dendam?” tanyanya sedikit takut. Aku menggeleng “Aku… hanya penasaran” kataku. Setelah aku berhasil menemukannya, aku bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Apa iya? Kau tau, Doojoon itu orang yang menakutkan dan kau berhasil membuatnya ketakutan begitu. Aku… takut gara-gara tadi pagi kau mau balas dendam padaku” katanya.

Aku tertawa “Aku tidak mencari masalah dengan seorang yeoja” kataku dan tanpa sadar, mengacak-acak rambutnya. Setelah sadar, aku langsung menarik tanganku. Apa sih yang kupikirkan? Dia terlihat tercengan, tapi kemudian tersenyum.

“Kwon Yuri imnida. Kau? Siapa namamu?” katanya sambil menjulurkan tangannya. “Choi Minho imnida” kataku sambil tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan lalu menjabat tangannya.

Tangannya mungil, halus, dan hangat. Tangan yang membuatku tidak ingin melepasnya. Tangan yang membuatku berdebar. “Ehm, minho-ah. Kau… tidak seburuk yang kukira” katanya, menyadarkanku dan aku langsung melepas tangannya.

“Eeh… memang kau kira aku seburuk apa, yuri?” tanyaku. “Bukankah lebih baik kau memanggilku noona?” tanyanya. Oh iya, aku lupa dia lebih tua 2 tahun dariku. “Chinja. Memang kau pikir aku ini seburuk apa, Yuri noona?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lagi “Aku pikir, kau ini seorang yang menyebalkan, menjengkelkan, kasar, tak tau diri, dan sok hebat” katanya. Aku membelalakan mataku. Segitu burukkah pandangannya tentangku? “Kekeke. Mianhae… tapi, kesan pertamaku bertemu denganmu memang begitu” katanya.

“Yuri noona! Ayo pul…” seru taemin tiba-tiba, mengganggu saja! Kata-katanya terputus melihatku sedang berdua dengan yuri noona. “Eh, mianhae” katanya sambil menunduk. Uh, beruntung sekali kau lee taemin! Kalau kau bukan sepupu yuri, kau sudah ku cincang-cincang seperti daging ayam

“Minho-ah! Ternyata kau disini” seru suara yang sangat kukenal. Suaranya Siwon hyung. Dia menghampiriku. “Ayo, kita pulang. Sooyoung sudah pulang bersama On…” kata-katanya terhenti, menatap Yuri tanpa berkedip. Cih, awas saja kalau dia juga menyukai Yuri noona! Eh, juga? Maksudnya, aku menyukainya? Ah, annio. Eh, molla ~

“Yu.. yuri?” tanyanya tercengang. “Siwon oppa?” ucap yuri, sama terkejutnya. Hei, mereka saling mengenal?

“Kau… kok bisa ada disini? Bukankah kau tinggal di Amerika?” tanya Siwon. “Aku pindah ke Korea 1 minggu lalu” kata Yuri.

“hei hei… kalian saling kenal? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran. “Kau kok kenal dengan Siwon oppa?” Yuri balik bertanya. “Dia adikku” jawab Siwon. “Mwo? Adikmu?” tanya Yuri terkejut.

“Memangnya kenapa? Hyung, kok kau dan yuri noona bisa saling mengenal?” tanyaku bingung. Yuri dan Siwon saling bertatapan.

“Dia… mantan pacarku.” ucap Siwon hyung, membuatku sangat terkejut. Mantan pacar Siwon hyung? Omo!

“Hyung… kau masih mencintai Yuri noona?” tanyaku padanya, saat sampai di rumah. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau menyukainya?” tanyanya heran.

“A… annio. Cuma bertanya kok” ucapku mengelak. “Ehm, molla. Sepertinya sudah tidak. Sudah lama aku dan dia berpisah, gara-gara kepindahannya ke Amerika. Kurasa dia pun sudah melupakanku” jawabnya, membuatku sedikit lega.

“Siwon oppa! Minho-ah! Pada sedang bicara apa sih?” tanya sooyoung noona sambil masuk ke kamarku. Dia ini mengagetkan saja. Dia memang kebiasaan suka sekali masuk-masuk ke kamarku. Katanya, kamarku lebih rapi daripada kamarnya.

“Eh, ada yang ingin kutanyakan” kataku tiba-tiba. Siwon hyung langsung menoleh ke arahku, dan sooyoung noona yang merebahkan tubuhnya di kasurku langsung saja bangkit untuk duduk. “Mwoerago?” ucap mereka berdua.

“Aku… menyukai seseorang” kataku malu-malu. Lihat? Seorang pembully bisa saja malu-malu! Tapi, ini hanya kutunjukan pada saudara-saudaraku, yang bisa mengertiku.

“Siapa??” tanya Siwon hyung terkejut. “Wah, uri Minho sudah besar!” seru Sooyoung noona sambil mengacak-acak rambutku.

“Ehm, dia… yuri noona” jawabku sedikit malu. “Siapa dia?” tanya sooyoung noona polos, sedangkan Siwon hyung, yah.. dia terkejut “Yuri?! Pantas tadi kau tanya-tanya soal dia” ucapnya.

“Wah, akhirnya ada juga yang mau denganmu yang suka menganiaya orang ini” komentar sooyoung noona yang langsung aku balas dengan pelototan tajam. “Memangnya, siapa yang bilang dia mau?” kataku lemas. Mana mungkin Yuri noona menyukaiku?

“Oh, jadi bertepuk sebelah tangan?” ucap sooyoung noona sambil mengelus-elus kepalaku. Aku menyingkirkan tangannya, paling benci kalau ada orang yang mengelus kepalaku. “Aku ini tidak semenyedihkan itu kok” elakku. Mereka hanya mengangguk-angguk prihatin.

Malam hari aku lewati dengan pikiran penuh tertuju pada satu yeoja. Yuri noona. Argh.. apa aku benar-benar menyukai, ah annio… mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun aku masih memikirkannya.

Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan lingkaran hitam di bawah mataku, tidak bisa tidur karena aku terus memikirkannya. Aku masih sangat mengantuk. Apa aku bolos sekolah saja dan tidur? Ah, shireo! Aku mau bertemu dengan yuri noona!

Maka, cepat-cepat aku cuci muka, mandi, dan langsung menghabiskan sarapanku. “Cepat, Minho-ah!” seru Siwon hyung dari luar. Aku langsung keluar. Kami memang tidak pernah pamit pada orangtua kami. Kami bahkan tidak tau mereka ada di rumah atau tidak, karena begitu seringnya mereka pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk bekerja.

“Kau parah sekali. Kau tidak tidur ya?” tanya Sooyoung noona. Kuakui, memang dengan keadaan begini, ketampananku sedikit berkurang. Aku harus segar lagi! Masa Yuri noona melihatku seperti ini? Kukucek-kucek kedua mataku, tapi hasilnya malah tambah parah. Kedua kakakku hanya menggeleng-geleng.

BRUK! Doojoon menabrakku, yang aku cukup yakin sengaja. Dia bahkan tidak minta maaf dan hanya nyengir. Tapi, dalam keadaan mengantuk begini, aku tidak berselera untuk berkelahi.

“Mau apa kau?” tanyaku sambil menguap. “Jangan belagu kau, bocah! Aku ini lebih hebat darimu!” serunya di telingaku. Makhluk ini kenapa sih? Aku kan tidak mencari masalah dengannya.

Aku ini orang yang tidak mudah marah sebenarnya, walaupun pembuat onar dan suka mencari masalah. Jadi, aku mendorongnya walaupun dalam kondisi mata 5 watt.

“Hei!” serunya marah. Oke, aku sudah berhasil membuatnya marah. Dia hendak menonjokku. Wow, ini pasti seru. 2 berandalan Seoul School berkelahi LAGI untuk yang kedua kalinya. Aku menahan tonjokannya tapi dia menonjok perutku.

Susah tau, berkelahi dalam kondisi setengah tertidur seperti ini? Tapi, sekelebat kulihat Yuri noona, dan semangatku langsung bangkit. Enak saja, aku tidak mau kalah apalagi di depan yuri noona!

Aku langsung menonjok pipinya balik dan menendang perutnya dengan lututku. Dia membalas menonjok wajahku, yang kutahan, lalu kusengkat kakinya hingga dia terjatuh dan menendangnya yang meringkuk di tanah. Kuselesaikan dia dalam waktu 5 menit. Bukan lawan yang sulit.

Beberapa temannya membantunya berdiri yang kutatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung bergidik ngeri dan kabur, takut kalau nasib mereka sama seperti Doojoon.

“Jangan cari masalah” kataku dengan kejam. Kerumunan orang di sekitarku sudah bubar. Aku heran, kenapa tidak ada guru yang melerai kami.

Aku menarik seorang yang seangkatan denganku tapi beda kelas. “A.. kenapa?” tanyanya gugup. “Aku lelah. Mana minummu?” ucapku. “Aku tidak punya minum.” katanya ketakutan.

“Kalau aku ingin minum, kau harus memberiku minum” ucapku. Cepat-cepat dia pergi ke kantin untuk membelikanku minum. Aku melihat sekeliling. Tumben, sooyoung noona tidak memarahiku. Mungkin dia sudah di kelasnya.

Anak yang kusuruh tadi kembali dengan sebotol jus jeruk di tangannya yang cepat kusambar. Kubuka tutupnya, kutuang seperempatnya ke anak itu, membuat rambutnya lepek dengan jus jeruk dan dengan kejam kutuang sisanya ke Doojoon.

“Hitung-hitung kalau kau haus” kataku, melempar botol jus jeruk kosong yang mengenai kepalanya. Dia menatapku seakan ingin membunuhku saat ini juga, sedangkan anak yang kurang beruntung tadi langsung berlari pergi.

Aku hendak melangkah menuju kelasku, tapi langkahku terhenti melihat Yuri noona melihatku dengan terpana.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku mendekatinya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apanya yang bagaimana? kau ini… bagaimana ada orang sejahat kau sih?” tanyanya terkejut lalu meninggalkanku, terbengong di tengah jalan. Dia… marah padaku??

1 hari kulewati tanpa fokus ke pelajaran. Sepanjang pelajaran aku mencoba untuk tidur, yang tidak bisa kulakukan karena terus memikirkan Yuri noona. Bagaimana dia bisa marah padaku? Karena aku ini orang yang jahat? Argh… tanpa memikirkannya aku sudah cukup stress dengan mataku yang tinggal 5 watt ini.

Treeenggg! Bel istirahat. Dengan lemas, aku keluar kelas, menuju ke kelas Yuri noona, memohon penjelasannya. Aku berjalan dengan gontai. Tapi, langsung semangat melihat Yuri noona yang sedang berdiri memegang sebotol soda, hendak meminumnya.

“Ah, minggir!” seruku tak sabar, pada seseorang yang entah siapa menghalangi jalanku menuju Yuri noona. Aku mendorongnya, membuatnya terjungkal dan menabrak dinding dengan cukup keras.

“Minho-ah…” ucapnya terkejut. “Eh, ehm.. annyeong” kataku dengan canggung. Pandangannya padaku pasti sudah berubah lagi. Ahh… sial!

“Aku.. mianhae” kataku. “Untuk apa kau minta maaf?” tanyanya heran. Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku minta maaf.

“Seharusnya kau minta maaf pada mereka, yang sudah kau bully!” serunya. “Tak kusangka kau sejahat itu. Aku bahkan sekarang tau, perlakuanmu pada sepupuku, taemin. Kau ini tidak punya hati ya?!” ucapnya marah.

“Aku punya hati tau!” elakku. “Oh ya? Apa buktinya? Kau bahkan bisa dengan mudah membuat seseorang terluka” ucapnya sinis.

“Buktinya…. aku… aku bisa mencintaimu!” ucapku lirih. “Mwo??” tanyanya terkejut. Sangat sangat terkejut.

“Aku ini tadi sudah lelah tau! Tapi, aku terus berusaha mengalahkan doojoon. Kenapa? Karena kau! Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapanmu!” seruku.

“Setiap hari, setiap malam, bahkan di mimpiku pun, aku memikirkanmu. Selama pelajaran, aku memikirkanmu. Aku tidak bisa, membiarkan 1 detiku hidupku pun, melepaskan pikiranku darimu semenjak aku melihatmu” tambahku lagi.

Dia terdiam dan melongo. “Aku takut, saat Siwon hyung bilang kau adalah mantannya. Takut kalau aku harus bersaing dengan hyung-ku sendiri. Aku tidak lagi membully taemin, takut kau akan membenciku. Itu semua sudah jelas kan?!”

“Noona neomu yeppeo! Kwon Yuri… saranghae!” seruku, mengeluarkan semua yang kurasakan, membuat semua orang melihat ke arah kami, tapi aku tak peduli. Aku harus mengatakan ini semua padanya.

Dia tampak sangat terkejut. “Aku…” Aku memejamkan mataku, takut kalau perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan.

“Na do saranghae.” katanya lirih, membuatku membelalak menatapnya. “Aku kecewa dengan sikapmu yang seperti ini, ingin merubah semua sikapmu, supaya kau menjadi lebih baik. AKu sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.”

“Kau memiliki karisma, itu yang kusuka darimu. Aku bahkan sekarang sudah mencintaimu, seiring berjalannya waktu, perasaan itu semakin kuat. Aku bahkan tidak mengerti kenapa, aku bisa mencintai seorang penjahat sepertimu.”

AKu memeluknya. Tingginya bahkan tidak sampai melebihi daguku. Aku memeluknya, merengkuhnya. “Aku berjanji. Aku akan berubah. Seperti yang kau mau.” ucapku.

“Chinja?” tanyanya, masih dalam pelukanku. “Nde” ucapku dengan tulus. Apapun, apapun yang noona cantik ini inginkan, aku akan menyetujuinya.

Dia mau aku bertobat? Menjadi anak baik? No prob!

Semua orang menatapku, saat pagi hari aku melangkah masuk ke sekolah tercintaku, Seoul school. Aku tidak mendorong atau membentak siapa pun pagi ini. Today is the new Choi Minho’s time.

Aku memakai seragamku dengan benar, memasang senyuman yang ramah. Bukan senyum terpaksa kok! Ini senyum tulus, bahagia karena Yuri noona sudah jadi milikku sekarang.

“Noona…” seruku sambil memeluknya dari belakang. “noona, kau cantik sekali hari ini” pujiku sambil mengelus kepalanya. “Oh, jadi aku cantik hanya hari ini?” godanya. “Annio” jawabku sambil menggeleng dengan manja.

“Noona neomu yeppeo… today, yesterday, tomorrow, everyday, for-e-ver!” ucapku sambil mencium keningnya. Inilah yeoja yang bisa merubah hidup seorang Choi Minho. Seorang yeoja cantik yang bernama Kwon Yuri.

-The end-

Who’s MinYul shipper here? 😀 gimana menurut kalian? hehe

mohon comment yah >.<

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

Changmin dan Yoona kembali ke depan wahana roller coaster, tempat teman-teman mereka menunggu.

“Jadi?” tanya Taeyeon penasaran. “Jadi apa?” tanya changmin bingung. Minho memutar bola matanya “Bagaimana, kelanjutan hubungan kalian?” tanya tak sabaran.

Changmin dan Yoona berpandangan satu sama lain. Yoona membuang muka “Molla” jawabnya singkat lalu menghampiri Kyuhyun.

Mereka semua melongo melihatnya. “Ja.. jadi..?” tanya Sooyoung tidak percaya. “Masa sudah berakhir sih?” ucap Ssica gusar, takut kalau semua ini salahnya.

Changmin dan Yoona tidak merespon. Malah, Yoona menutup mulutnya untuk menahan tawanya. “Yoona.. apa, benar-benar sudah putus?” tanya Kyuhyun.

“Molla” jawab Yoona lagi. “Sudahlah. Kita kesini kan untuk bersenang-senang. Ayo, kita cari wahana lain” ajak changmin. “Ya! Jangan bengong saja dong! Kkaja!” omel changmin saat teman-temannya hanya diam di tempat. “Nde. Anggap saja kita bersenang-senang untuk menghibur hatiku” ucap yoona, memasang tampang sendu. Dia memang sangat jago acting.

Donghae POV

Yoona dan Changmin… pasangan terromantis di seluruh jagad raya ini, masa putus? Gara-gara apa?

Tapi, untuk apa aku memikirkannya, sementara masalahku sendiri saja belum selesai? Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan supaya Jessica memaafkanku?

Kami sedang naik… ah, aku lupa nama wahananya. Pokoknya kami naik sebuah perahu panjang dan dengan tenang mengalun di sepanjang sungai buatan. Setelah menguji adrenalin kami tadi, main di wahana ini membuatku sangaaaat nyaman.

Aku menoleh ke arah Jessica, yang sedang memainkan dayung di sisi kanan perahu. Riak air memercik di sekitarnya, membasahi sedikit rambutnya yang pirang. Dia tersenyum dengan lembut. Aku ingat, dia memang suka sekali main air, mengingat berapa lamanya dia kalau di toilet.

Aku baru sadar, Jessica itu cantik. Sangat cantik. Aku lalu menoleh ke sooyoung, yang sedang menatap Kyuhyun. Dia memainkan bajunya dengan bosan.

Sooyoung juga cantik. Sangat cantik. Aku mencintainya. Tapi, ada sesuatu yang Jessica miliki dan sooyoung tidak. Apa ya? entahlah. Sesuatu itu tidak bisa dijelaskan. Seperti sesuatu yang sooyoung miliki, dan yeoja lain tidak. Yang membuatku begitu mencintainya.

Aku terus memperhatikan ssica. Kulitnya yang putih dan halus, wajahnya mulus, matanya juga indah. Rambutnya. Rambutnya yang pirang tergerai membingkai dengan manis wajahnya yang cantik. Aku baru menyadari, betapa cantiknya yeoja ini.

Tapi, aku malah menyia-nyiakannya. Padahal, aku begitu beruntung dia mau mencintaiku. Aku malah menyakiti hatinya.

“DONGHAE OPPAAA!!” teriak sooyoung di kupingku dengan suara 3 oktafnya, membuat semuanya menengok, tak hanya aku.

“Kau ini… aku tidak tuli tau! Tak perlu berteriak dong” gerutuku sambil mengusap-usap kupingku yang aku syukuri, ternyata masih berfungsi.

“Kau tidak tuli?? Kupanggil 4 kali dan kau bilang kau tidak tuli?” katanya sambil cemberut. Aneh… padahal aku tidak pernah menyuekinya. Aku selalu siap sedia disaat dia memanggilku.

Tapi, sekarang aku tidak menghiraukannya… dan itu semua karena aku memperhatikan jessica. Apa aku menyukainya? Apa akhirnya… cinta yang dia nanti-nantikan itu perlahan tumbuh?

“Tuh kan! Oppa bengong lagi! Memandang ke arah ssica onnie mulu” kata sooyoung lagi. “eeh? Mwo? Annio! Aku tidak memandangnya” kilahku, tapi… argh sial! Kurasakan wajahku panas, pertanda pipiku memerah.

“Kau cemburu sooyoung?” goda yoona. Sooyoung membelalakan matanya “Mwo?? Untuk apa aku cemburu? Aku kan bukan siapa-siapanya. hanya teman kok” katanya.

Hanya teman. Nde, tentu saja. Kutatap lagi jessica, dan dia juga sedang menatapku. Sejenak, mata kami bertemu. Ada kesedihan di matanya. Kesedihan yang tidak ingin kulihat. Aku ingin melihatnya tersenyum, bukan bersedih.

-End of POV-

Jessica POV

Donghae oppa… memandangiku? Apa iya? Ah, tidak mungkin. Dia pasti memandang yang lain, bukan aku. Walaupun aku berharap memang iya.

Aku menatapnya lalu, dia juga menatapku. Sejenak mata kami bertemu dan selama sepersekian detik aku menatap matanya yang tajam, seakan tidak pernah bisa terselami.

Aku jadi sedih. Mengingat 4 bulan terakhir ini. Walaupun dia tidak pernah mencintaiku dengan tulus, banyak kenangan indah yang sudah terjadi antara aku dan dia.

Apa ini semua akan berakhir begitu saja? Jujur, aku tidak rela. Semua kenangan itu begitu manis. Terlalu indah untuk dilepas begitu saja. Jalan-jalan bersama mengelilingi komplek apartemen, pergi ke taman bersama, dan banyak lagi.

“Habis ini kita naik bianglala yuk!” ajak Yoona semangat, membuatku langsung mengalihkan tatapanku dari Donghae. “Nde” angguk yang lain setuju. “Tapi… aku yang tentukan pasangan-pasangannya ya?” pinta changmin.

Semuanya heran, begitu juga aku. “Kenapa harus begitu?” tanya Minho curiga. “Aku… tidak mau bersamanya. Pokoknya aku yang tentukan. Tidak masalah kan?” katanya, sambil menunjuk Yoona saat berkata ‘tidak mau bersamanya’

“Untuk apa sih? Tinggal pisahkan kau dengan yoona, tidak usah menentukan yang lain juga kan” jawab sooyoung enteng. “Ayooollaaahhh” ucap Changmin, mengeluarkan aegyo-nya.

Sooyoung memutar bola matanya. Dia tidak pernah mempan dengan aegyo seperti apapun. Tapi, taeyeon mengangguk “Arasso, changmin-ah” katanya yang memang mudah luluh.

Kyuhyun POV

“Nah, yang pertama itu Taeyeon, aku, Kyuhyun, dan Sooyoung. Lalu Yoona, Minho, Donghae, dan Jessica.” jelas Changmin.

“Mwo? Kenapa aku harus bersamanya?” tanya Kyuhyun sambil menunjuk sooyoung. “Cih, aku juga tidak mau bersamamu! Yoona, tukeran saja yuk” pinta sooyoung.

“Chakkaman! Aku kan tidak mau bersama yoona!” protes changmin. “Yasudah, tukeran saja kau dengan yoona.” ucap sooyoung. Changmin memutar bola matanya “Sama saja kau akan bersama kyuhyun” jelasnya.

“Kalau begitu….” protesku itu langsung dipotong oleh yoona “Yasudahlah. Ayo cepat kita antri” ucapnya. Yah… aku sebenarnya senang sih, Sooyoung tidak bersama donghae.

Aku masuk ke dalam bianglala itu. Mau tak mau, aku duduk bersebelahan dengan sooyoung, karena changmin dan taeyeon noona sudah mengambil tempat.

“Wah, pemandangannya indah ya” ucap changmin. Dia melotot pada taeyeon noona, entah apa maksudnya aku juga tidak mengerti. Tapi, taeyeon noona yang jalan pikirnya lebih lambat dariku mengangguk kecil dan mulai melihat-lihat pemandangan. Aneh, kok taeyeon noona mengerti dan aku tidak? Apa aku semakin bodoh?

Suasana jadi canggung, karena changmin dan taeyeon noona sibuk memotret dan melihat pemandangan di bawah sedangkan aku dan sooyoung hanya diam, tidak tau apa yang harus kami lakukan.

“Kau…” ucapku dan sooyoung bersamaan, membuat changmin dan taeyeon noona menengok ke arah kami. “Kau duluan” kataku. ‘Annio. Kau saja” katanya.

“Kau duluan!” protesku, karena aku tidak tau apa yang harusnya kukatakan. ‘Shireo. Kau duluan!” ucapnya keras kepala. Akhirnya, aku menarik napas. Dia ini memang keras kepala sekali.

Aku ragu-ragu pada apa yang akan kukatakan. Taeyeon noona dan changmin sudah membalikkan badan untuk melihat pemandangan lagi.

“Jadi sekarang kita harus bagaimana?” tanyaku padanya. “Bagaimana apanya?” tanyanya balik. “Kau dan aku. Apa… kau.. masih mencintaiku?” tanyaku padanya sambil menunduk, kurasakan jantungku berdebar dengan kencang. Kumohon Tuhan, biarkan dia menjawab iya…

Dia tidak menjawab, jadi aku menatapnya, dan melihatnya juga menunduk. “Kenapa diam? Apa itu artinya tidak?” tanyaku, setengah berdoa supaya jawabannya bukan tidak.

Dia menggeleng dengan kuat. Tanpa sadar, aku menghembuskan napas lega. “Aku… entahlah. Aku tidak tau” jawabnya. “Apa kau cemburu?” tanyaku padanya.

Dia kaget, dan spontan menatapku. Kulihat wajahnya memerah. Ah, manis sekali. “Tentu saja!” jawabnya lantang, membuatku mengangkat sebelah alisku. Kupikir dia akan mengelak

“Melihat kau dekat dengan yoona seperti itu, mana mungkin aku tidak cemburu! Aku kan yeoja chingumu! Belum lagi… yoona itu cantik dan jauh lebih sempurna dariku” serunya.

Aku terkejut. Dia bisa-bisanya marah padaku, padahal dia sendiri jelas-jelas berciuman dengan donghae! Berciuman dengannya 2 kali! Jessica yang menceritakan padaku bahwa dia melihat sendiri Donghae mencium sooyoung, yang dia balas dengan senyuman!

Aku hendak mengeluarkan semua emosiku, tapi melihat wajahnya itu, aku tidak sanggup. Akhirnya aku hanya berkata “Kau benar. Yoona memang jauh lebih sempurna darimu” Kyuhyun babo! Bukan itu yang ingin kukatakan.

Yang ingin kukatakan adalah “Bagaimana dengan kau?! Kau berciuman dengan donghae!! Masalah aku dan yoona, yeah… yoona memang lebih cantik dan sempurna, tapi aigooo choi sooyoung! Yang aku cintai ini kau!” tapi sulit sekali untuk mengatakan kalimat-kalimat itu.

Dia terperangah. “Kalau begitu pacaran saja dengannya!” ucap sooyoung kesal. Aku tak tau, kata-kata itu begitu dalam dan membuatnya tersinggung. Karena, kulihat matanya sudah mulai merah. Argh, Cho Kyuhyun! Kau membuatnya menangis LAGI!

“Mianhae… bukan itu maksudku” kataku. Dia membuang muka “Aku tau. Aku ini memang tidak cantik, seperti yoona. Ternyata kau ini memang hanya playboy yang suka memainkan wanita ya!” seru sooyoung.

Hei, aku tidak serendah itu! “Mwo?? Bukankah kau juga seperti itu?!” seruku panas. “Apa kau bilang!? Aku tidak seperti itu! Aku heran, bagaimana yoona mau denganmu. Seleranya buruk ternyata” ucap sooyoung sinis.

“Emmm… aku tidak ingin mengganggu urusan rumah tangga orang lain. Tapi, jangan bawa-bawa yoona. Oke?” ucap changmin. Yeah, orang ini pasti masih mencintai yoona. Aku jadi tidak enak.

Aku dan sooyoung tidak melanjutkan pertengkaran kami lagi. Apa semuanya harus berakhir sekarang? Seperti ini? Argh, aku tidak rela kehilangan dia!

Jessica POV

Suasana di bianglala ini canggung. Yoona dan Minho mengobrol berdua, sedangkan aku dan donghae? Yeah. Diam saja. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan.

Syuuuuu… angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambutku dan mengacak-acaknya tak karuan. Aku hendak merapikannya, tapi, sebuah tangan yang hangat merapikannya untukku.

Itu tangan donghae, tangan yang membuatku berdebar. Aku tidak berkata apa-apa. Dia merapikan rambutku dan membelainya. “Rambut yang indah” katanya.

Aku masih diam. Jujur, aku sangat senang dia memujiku, tapi… mengingat apa yang sudah dia lakukan, aku masih sangat kesal. Aku melepaskan tangannya. Tapi, dia malah menggenggam tanganku.

“Tangan yang mungil, halus” ucapnya, lalu mengangkat tanganku dan menciumnya dengan lembut. Aku.. entahlah.. terkejut, senang, tapi juga kesal.

“Apa sih yang kau lakukan!” seruku, mencoba melepaskan tanganku tapi usahaku gagal. “Aku mohon, ssica. Aku mohon…” ucapnya sambil menunduk.

“Berilah aku kesempatan sekali lagi. Tunggulah aku sedikit lagi.” katanya. Yoona dan Minho kini memperhatikan kami dengan antusias, seakan sedang menonton serial drama yang mereka tunggu-tunggu.

Aku menggeleng “Ini hanya menyakitiku lebih dalam. Mianhae, oppa. Tadinya kupikir, aku akan sabar menahan semua ini. Tapi, ah payah. Aku ini memang payah dan lemah” ucapku, berusaha keras membendung air mataku.

Dia menatapku, menghapus bulir air mata yang sudah tak mampu kubendung lagi. “Arasso. Akan kubuktikan, aku bisa mencintaimu. Suatu saat nanti. Tunggulah aku” katanya dengan yakin.

“Annio. Aku sudah tak mampu menunggumu.” kataku. “Kau… masih mencintaiku kan?” tanyanya penuh harap. Aku ragu sejenak dan tidak menjawab.

“Aku pikir, rasa cinta ini mulai tumbuh. Tak apa, kalau kau tak mau hubungan ini dilanjutkan. Kelak, kalau aku sudah benar-benar mencintaimu, aku yang akan memohon padamu” katanya sambil tersenyum.

Aku tak tau harus apa, sedangkan yoona dan minho serius sekali menonton kami berdua. Akhirnya, aku hanya mengangguk pelan.

Author POV

Mereka keluar dari wahana dengan bermacam-macam ekspresi. Ekspresi sooyoung dan kyuhyun, yang jelas-jelas marah. Changmin yang kecewa, Yoona yang penasaran, Ssica yang sedih, dan lain-lain.

Tell me boy boy love me it it it it ah. Dering HP Yoona. Oohtoke? itu sms dari changmin.

Yoona: Hm, tidak terlalu buruk, oppa?

Changmin: parah! semakin parah

Yoona: lanjut ke plan B?

Changmin: lanjut ke plan B!

“Argh! Berisik sekali sih dering HP kalian itu sahut-sahutan. Yang satu lagu Oh! yang satu lagu mirotic” gerutu Kyuhyun yang memang sedang emosi.

“Kita ke danau saja yuk.” ajak Minho. Di tengah taman bermain itu, ada danau buatan yang tenang dan sangat nyaman untuk duduk di tepi danau, melihat hamparan air di depan mereka.

“Wah, berlumpur ya. Licin” ucap yoona. “Yoona-ah, hati-hati!” seru Sooyoung saat yoona terpeleset. Sooyoung menarik yoona dan alhasil, malah dia sendiri yang tercebur.

“Eeh.. onnie kan tidak bisa berenang!” seru yoona panik, karena sooyoung kelihatan megap-megap di danau yang cukup dalam itu. “Ah, babo!” seru Kyuhyun, melepas kaosnya dan menyebur ke danau itu.

“Ini bukan plan B!” seru changmin cemas. “plan apa?” tanya Taeyeon curiga. “Ah, gwenchana” elak Changmin.

Kyuhyun berenang menghampiri sooyoung yang memberontak “Hei, jangan memberontak bodoh! Aku jadi susah menarikmu” seru kyuhyun, tapi saking paniknya sooyoung tidak menghiraukannya.

Kyuhyun berusaha keras menarik sooyoung menuju ke tepi danau, tapi sangat sulit karena sooyoung terus-terusan memberontak seperti ikan yang keluar dari air.

Akhirnya, sooyoung berhenti memberontak. “Akhirnya, berhenti juga!” seru Kyuhyun, langsung menarik sooyoung menuju daratan. “Eeh… kau berontak lagi saja! Kalau diam aku malah cemas tau” ucap Kyuhyun, mempercepat laju berenangnya, yang sulit karena dia sambil membawa sooyoung.

Akhirnya mereka tiba di tepi danau. Yang langsung ditarik oleh changmin, minho, dan donghae. Kyuhyun terengah-engah, sedangkan sooyoung pingsan.

“Sepertinya, dia menelan terlalu banyak air” kata ssica cemas. “Ah, merepotkan saja” kata kyuhyun, lalu tanpa pikir panjang mencium sooyoung, mengalirkan napas buatan untuknya.

Dia mencium sooyoung cukup lama. yah, selain untuk menyelamatkan sooyoung, dia juga pasti menikmatinya. “Sudah, jangan terlalu lama. nanti napasmu yang habis” ucap donghae.

Kyuhyun akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir sooyoung. “uhukk” sooyoung terbatuk, meludahkan air danau yang sukses mengenai wajah kyuhyun.

Dia meludahkan air sekali lagi dan terkejut, melihat wajah kyuhyun yang ada tepat di depan wajahnya. “Aku menyelamatkanmu, dan yang kudapat adalah kau meludahiku?” tanya kyuhyun sambil cemberut.

Sooyoung bangkit untuk duduk. Dia memegangi dadanya “sesak” katanya sambil meringis. “Mungkin kau menelan teralu banyak air.” ucap Minho.

“Nah, ayo kita pulang sekarang atau kalian akan masuk angin” kata taeyeon, menggiring mereka semua seperti anak ayam untuk kembali ke apartemen.

“Sooyoung, Kyuhyun! Cepat kalian mandi dan ganti baju ya.” nasehat Taeyeon. “Nde, ahjumma” ejek Kyuhyun yang dibalas pelototan Taeyeon.

Mereka semua kembali ke kamar masing-masing, cukup lelah degan semua kejadian hari ini.

“Kyu oppa” panggil Sooyoung pada kyuhyun yang hendak masuk ke kamarnya. “Hm?” tanya Kyuhyun.

“Gomawo” kata sooyoung singkat. “Untuk?” tanya kyuhyun balik. “Menyelamatkanku tentu saja!” seru sooyoung tak sabaran. Makhluk ini.. benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? Batin sooyoung.

“Itu tugasku. Aku kan namja chingumu” jawab kyuhyun sambil mengelus kepala sooyoung lalu masuk ke kamarnya. Sooyoung tersenyum lalu masuk juga ke kamarnya.

‘Walaupun dia sudah menyakitiku, tidak ada yang bisa merubah cintaku padanya. Haah… walaupun dia sangat menyebalkan’ batin Sooyoung dan Kyuhyun, bersamaan.

“Oppa, plan B?” tanya yoona pada changmin yang ke kamarnya. “Nde. Kita jalankan plan B itu besok.” jawab changmin. “Apa… tidak terlalu hmm… beresiko?” tanya yoona khawatir. “Molla. Tapi, kupikir ini pasti berhasil!” ucap changmin.

“Nde… ini juga pasti seru dan banyak tantangannya.” ucap yoona. “Ye. Aku memberitau Minho dan Taeyeon noona juga. Kurasa mereka pasti bisa membantu.” ucap changmin.

Yoona mengangguk setuju. Mereka merenung, membayangkan apa yang akan terjadi saat ‘plan B’ itu dilaksanakan.

TBC

Apa sih plan B nya yoona dan changmin?

wait for the plan B and the continue of the story in part 8 ^^

keep reading and comment! yang bkin author semangat bkin ff itu comment dri reader … kekeke~