Posts Tagged ‘Leeteuk’

Author’s POV

“Gyaah! Dimana Kyuhyun dan Sooyoung?” tanya Taeyeon kaget dan sedikit cemas, saat tidak melihat tanda-tanda keberadaan si shikshin dan si gamer itu. “Pertanyaan yang sama untuk Jessica dan Donghae” tambah Leeteuk .

“Aisssh… bocah-bocah itu!” keluh Kibum. “Aku akan mencari mereka. Kalian… cari petunjuk itu” perintah Leeteuk. “Kau tidak bisa pergi sendiri oppa. Aku bersamamu” ujar Taeyeon. “Tidak. Kami bersamamu” tambah Yoona.

“Ayolah… kita semua ada di gedung yang sama. Kita tidak akan tersesat. Kita akan menemukan satu sama lain dengan mudah. Aku hanya ingin meyakinkan kalau yang lain baik-baik saja. Perasaanku tidak enak” kata Leeteuk. “Arraso. Tapi aku ikut denganmu oppa” ucap Taeyeon dengan keras kepala. “Ne” jawab Leeteuk sambil mengangguk.

Lalu, mereka berjalan perlahan, meninggalkan Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum, kembali ke jalan yang mereka lalui tadi. “Oppa, dimana mereka menurutmu?” tanya Taeyeon. “Molla. Tapi aku berani bersumpah mereka masih di belakang kita 15 menit yang lalu.” ujar Leeteuk. Taeyeon mengangguk setuju.

“Hey… mungkin mereka disana” kata Taeyeon, menunjuk ke arah sebuah ruangan. Ruangan musik dan seni. Leeteuk melihat ke arah yang ditunjuk Taeyeon dan leihat 4 bayangan orang yang sedang mengobrol dan bercanda.

“Bocah bocah itu! Kita begitu cemas tentang mereka dan sekarang mereka tertawa seperti bayi yang tidak berdosa! Tidak akan! Mereka akan menerima hukuman merek” gerutu Leeteuk. Lalu, dia dan Taeyeon masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Bahkan ruangan itu menjadi lebih sempit karena banyaknya barang seperti piano tua, beberapa biola dan cello, beberapa lukisan yang sudah dilapisi debu, patung-patung tanah liat, dan beberapa barang yang tidak mereka kenali.

Sebuah piano tua besar terletak di belakang ruangan dan mereka ber-4 memainkan tutsnya bergantian. 3 patung tanah liat diletakkan di sebelah kanan mereka, seakan memantau mereka dan tidak melewatkan satu pun gerakan mereka.

“Yah! Kyuhyun! Sooyoung! Donghae! Jessica!” Taeyeon berteriak pada mereka. Mereka membelakangi kedua leader itu. Mereka tetap tertawa dan mengobrolkan sesuatu yang tidak terdengar jelas oleh Leeteuk dan Taeyeon. “Kalian ber-4! Berbalik! Sekarang!” seru Leeteuk. Perlahan, mereka semua berbalik.

“Asta-” Taeyeon bahkan tidak punya keberanian lagi untuk melanjutkan kata-katanya. Dia spontan sembunyi di belakang Leeteuk dan menatap 4 sosok di depan mereka dengan ketakutan. Seperti ada yang menggumpal di tenggorokan mereka, mencegah mereka untuk berbicara sepatah kata pun.

4 sosok itu, bagaimanapun bukanlah dongsaeng-dongsaeng mereka. Perlahan, wajah mereka berubah menjadi semakin gelap dan gelap, seakan-akan seluruh wajah mereka, hidung, mata, dan mulut mereka dihisap kedalam.

Tubuh mereka semakin membesar, mengoyakkan semua pakaian mereka dan kulit mereka menjadi seputih dan sepucat tembok yang mengelilingi mereka. Mereka berubah menjadi 4 makhluk besar dengan wajah yang seperti lubang hitam tak berdasar.

Mereka ber-4 maju mendekati 2 leader yang ketakutan itu. Leeteuk berusaha keras menarik, mendobrak, dan mendorong pintu itu. “o-oppa… cepat…” ujar Taeyeon. Akhirnya dia bisa mengeluarkan suaranya. “Tidak bisa. Pintunya… ter…terkunci…” ujar Leeteuk panik.

Lalu tiba-tiba, sebuah melodi yang terdengar seperti lullaby bergema di sekitar ruangan. Mereka melihat piano tua itu memainkan serangkaian nada yang aneh, sendiri. Tanpa ada yang memainkannya. Melodi itu bukan melodi yang indah. Melodi itu menyeramnkan, memberikan sensai mual dan getaran ketakutan yang menjalari tubuh Leeteuk dan Taeyeon yang membuat mereka menutup telinga mereka.

Dengan setiap nada yang dihasilkan, mimpi buruk mereka yang lain datang, seakan semua yang sudah terjadi tidak cukup membuat mereka menderita. 3 patung tanah liat yang dari tadi hanya menonton, kini berdiri dengan kaku dan menyeringai, mempertunjukkan gigi-gigi yang paling jelek dan bersama dengan monster tidak berwajah itu, mereka mendekati TaeTeuk.

“OAAAAA…” Taeyeon berteriak panik dan takut saat dua patung itu menarik tangannya dengan kasar. “O-oppa… tolong…” ucapnya. “Yah! Lepaskan dia monster sialan!!” seru Leeteuk panik dan langsung menarik taeyeon, mencoba mendorong monster-monster itu. Tapi, monster-monster itu jauh lebih kuat dari Leeteuk.

“Taeyeon-ah! O-omo…” Leeteuk berkata dalam ketakutan, melihat apa yang terjadi selanjutnya. Makhluk tak berwajah itu, satu per satu, menghisap wajah Taeyeon dengan ‘wajah’ mereka sementara patung-patung yang hidup itu menahan Taeyeon. Leeteuk menutup matanya dengan rapat, terlalu takut untuk melihat pemandangan menyeramkan itu.

Taeyeon memberontak, tapi percuma. Makhluk-makhluk itu terlalu kuat dan energi mereka membuat taeyeon lemah. Mereka menghisap semua kebahagiaan dan kenangan-kenangan indah dari Taeyeon (cara kerjanya kayak dementor di harry potter >o<).

Perlahan, semua flashback ingatan masa lalunya, saat pertama dia trainee di SM, saat dia debut dengan into the new world bersama 8 dongsaengnya, saat dia pertama kali bertemu Leeteuk, saat SNSD melakukan konser pertamanya. Semua kenangan itu melintas di depan matanya dan dihisap oleh makhluk itu. Air mata sudah mengalir membasahi pipi taeyeon.

Leeteuk perlahan membuka matanya. Melodi dari piano itu telah berhenti dan ke-4 sosok mengerikan itu sudah hilang. 3 patung yang semula menyeringai jahat itu sudah duduk kembali di tempatnya, berakting seolah tidak tau apa-apa. “Taeyeon-ah?” panggil Leeteuk khawatir.

Taeyeon perlahan berbalik menatap Leeteuk. “Taeyeon.. apa yang terjadi?” tanya Leeteuk sedikit takut dan mendekati Taeyeon. “Taeyeo-archhhhh” Leeteuk berteriak kesakitan dan kaget saat Taeyeon tiba-tiba menyerangnya dengan mencakari wajahnya.

“Sejak kapan kau punya kuku dan cakar setajam itu?” protes Leeteuk. “Dan… sejak… kapan… matamu seluruhnya…pu..putih?” desisnya tidak percaya. Taeyeon menatapnya lurus. Matanya seluruhnya putih tanpa ada bola mata coklat atau hitam setitik pun di tengahnya. Taeyeon menatapnya tanpa ekspresi tapi kemudian menyeringai, menampakan taringnya yang tajam.

****************

Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum berjalan di lantai satu sekarang. “Kibum, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon saat Kibum berjalan bergerak mendekati sekumpulan loker-loker.

Kibum mendekati sebuah loker lalu tanpa usaha yang berat berhasil membukanya. “Kenapa kau membuka loker itu?” tanya Yuri bingung. “Ada tulisan ‘Kim Ki Bum’ di pintu lokerya” ujar Kibum sama bingungnya.

Mereka melihat ke dalamnya dengan raut wajah penasaran. Tapi yang mereka temukan hanyalah secarik kertas yang sudah terkoyak namun masih bisa dibaca dengan cukup jelas. “Apa itu?” tanya Yoona heran. “Biar kulihat” ucap Yuri sambil mencoba mengambil kertas itu dari tangan Kibum. Tapi, kibum tidak membiarkannya “Aku yang akan membacanya” kata Kibum.

Pintu tak terlihat. Tidak di Utara, atau Selatan, tidak juga di Barat, atau Timur.

4 kunci yang tidak dapat ditebak.

Kematian sedang menunggu.

Mencari yang terakhir sampai sekarat.

Tapi aku masih mencari.

Kim Ki Bum.

Dia membacanya dengan keras dan hanya terdengar suaranya yang bergema di gedung kosong itu. “Kau menulisnya?” tanya Yuri bingung. “Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa?” ucap Kibum. “Mungkin Kibum yang lain. Ada berjuta-juta Kibum di Korea” ujar Yoona. Mereka menganggapnya sebagai jawaban yang paling masuk akal.

“Tapi apa artinya?” tanya Yuri bingung. “Mungkin… ini.. teka-teki?” tanya Kibum. “Ne! Mungkin ini teka-teki yang harus dipecahkan untuk keluar dari sini!” ujar Siwon semangat.

“Hmm… masuk akal. Soalnya itu membicarakan pintu. Dan kunci” ucap Yoona. “Tapi… bagaimana kita mencari pintu itu kalau pintu itu tidak terlihat?” tanya Yuri heran “Dan mengapa ada 4 kunci kalau pintunya hanya satu?” tambah Siwon.

Kibum mengangkat pundaknya pertanda dia juga tidak mengerti. “Kita harus mengikuti petunjuknya. Mungkin, hanya mungkin, ini satu-satunya cara supaya kita bisa keluar” kata Kibum dengan tenang. “Bagaimana kau masih bisa setenang itu oppa?” tanya Yoona kagum. “Aku tidak setenang itu. bagian ‘kematian sedang menunggu’ membuatku takut” Kibum mengakui. “Nde… tidak ada yang menyukai bagian itu” ucap Siwon.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangisan. Mereka melihat satu sama lain, ragu akan apa yang seharusnya mereka lakukan. “Kita sia-sia saja kalau tidak tau apa yang terjadi dan diam disini” Siwon menyimpulkan. Yang lain mengangguk dan berbelok ke koridor kiri, dimana asal suara tangisan tersebut datang.

Suara itu berasal dari laboratorium IPA. Yoona menelan ludahnya. “Aku tidak pernah menyukai lab IPA” ujarnya takut. Kibum mengenggam tangannya untuk menenangkannya. Siwon memimpin jalan mereka, membuka pintu lab yang menghasilkan suara ‘krek’ pelan.

Lab itu cukup besar untuk menampung 50 orang dewasa di dalamnya. Ada 10 meja besar dengan sebuah mikroskop di atasnya , beberapa alat bedah, dan banyak tabung reaksi yang berisi cairan kuning, hijau, dan biru elektrik di dalamnya. Ada 2 prosesor, 5 akuarium yang berisi hewan-hewan langka yang diawetkan dan banyak hewan lainnya yang tidak mereka ketahui spesiesnya. Ada juga 4 tengkorak yang paling membuat mereka takut, dan banyak lagi alat peraga. (spesial thanks buat lab IPA sekolah gue, yang jadi patokan deskripsiinnya xD)

“Apa? Woa–” Mereka terkejut, melihat seorang anak perempuan kecil yang menangis. “Bagaimana bisa ada seorang anak perempuan disini?” desis Yuri sedikit takut kalau-kalau anak itu akan berubah menjadi hantu mengerikan. Anak perempuan itu cantik dan manis, dengan balutan gaun imut warna pink muda, dan rambut berwarna tembaga yang dikepang. “Annyeong~ Kau siapa?” tanya Yoona lembut.

“Aku tidak bisa pulang…” tangisnya. “Oppa ku meninggalkanku” tambahnya dengan puppy eyes-nya. “Ahh… mungkin nasibnya sama seperti kita” ujar Yoona luluh. Mereka mendekati gadis mungil itu.

“Jangan menangis, sweety… Ayo, pergi bersama unnie” ujar Yoona lembut. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya melihat ke arah mereka dengan berbinar-binar. “Jinjja unnie?” tanyanya penuh harap. Mereka semua sudah luluh dengan kemanisan dan kepolosan gadis kecil ini. Mereka mengangguk mantap. “Siapa namamu?” tanya Yuri.

“Nama… ku?” ulang gadis kecil itu ragu-ragu. Mereka mengangguk penuh semangat. “Oppa bilang aku tidak boleh memberitahu namaku pada orang asing” kata si gadis polos. Mereka tertawa melihat kepolosannya. “Arra. Hm, Yoona imida. Ini kembaranku, Yuri, kakak iparku, Siwon, dan mm…. chingu-ku, Kibum” ujar Yoona.

“Yoona? Yu… yuri? Si… siwun? Kibum?” Gadis itu mencoba untuk mengingat nama mereka semua satu per satu. “Anniyo. Siwon! Si…won. Si-won” ujar Siwon membetulkan namanya. “Si…won?” ujar gadis kecil itu dengan lucu. “Nde! Benar, gadis pintar”kata Siwon sambil tersenyum, menampakkan lesung pipinya.

“Ayo pergi. Kita harus menemukan kunci-kunci itu dimanapun mereka” kata Kibum dan berjalan menuju pintu. “Sial!” seru Siwon kesal sambil menendangi pintu. “Terkunci” gumamnya. Mereka mendesah kesal. Mereksa sepertinya sudah terbiasa terkunci di ruangan. Lalu tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin dan asap berwarna hijau pucat mengelilingi mereka entah darimana.

“Apa… apa ini…” ujar Yoona takut sambil mengenggap lengan Kibum dengan kencang. “Oppa-ku sudah datang!” seru gadis kecil itu senang. “Siapa… oppa-mu itu sebenarnya?” tanya Siwon curiga. “Itu dia!” tunjuk gadis itu. Mereka semua melihat ke arah yang dia tunjuk. “WOOAAA!!KYAAA!!” mereka berteriak ketakutan melihat’nya’ yang datang mendekat.

Author’s POV

“A-apa… yang harus kita lakukan?” tanya Yuri dengan suara serak karena takut. Sunyi. Yang lainnya juga tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang. “Kita tidak bisa diam disini selamanya. Setidaknya kita harus bergerak” kata Kibum. Aneh memang bagaimana suaranya masih setenang itu si keadaan seperti ini.

“Dia benar… kita harus… mencoba” Siwon mendukungnya. Yang lainnya mengangguk. Mereka menyadari itulah pilihan mereka satu-satunya. Dan… dimulailah petualangan mereka!

Leeteuk, Kibum, dan Siwon berjalan di depan, memimpin perjalanan mereka karena merekalah yang paling berani. Para yeoja di belakangnya sedangkan Donghae dan Kyuhyun berada di paling belakang. Mereka berbalik untuk melihat lift itu yang terakhir kalinya. Tapi, tidak ada tanda-tanda bahwa lift itu pernah berada disana. Hilang. Lenyap. Lift itu telah hilang, menyisakan dinding batu-bata yag kosong.

Mereka mengenali bangunan itu sebagai sebuah sekolah, yang pastinya sudah ditinggal sangat lama. Tidak ada satupun sumber cahaya disana. Tidak lampu, cahaya matahari, atau bahkan cahaya bulan. Seakan-akan cahaya dilarang untuk masuk.

Tapi, ada sesuatu yang mereka tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang memancarkan cahaya hijau pucat di sekeliling ruangan. Sesuatu yang mereka tidak sukai.

Mereka berjalan di koridor, melewati beberapa ruang kelas. Ruang kelas itu, seperti keadaan di sekeliling mereka sangat kotor, gelap, suram, dan tertutup oleh debu yang lebih tebal dari sebuah kamus. Tapi, ada satu hal yang aneh. Yaitu semua perabotan, semua benda disitu masih lengkap dan ditempatkan dengan sangat rapi.

Mereka semua terlalu takut untuk berbicara. Hanya ada suara langkah kaki mereka, yang lebih kencang dari seharusnya, menggema di udara yang lembab.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan yang aneh pada lantai kayu. Seakan-akan, setiap langkah yang mereka ambil, keadaan sekitar mereka semakin gelap dan gelap. “Aku rasa… kita harus mencari pintu keluar” ujar Leeteuk, orang yang paling pertama mengendalikan rasa takutnya.

Mereka semua mengangguk setuju dan melangkah dengan hati-hati meuruni tangga kayu yang rapuh karena sudah lapuk, mencoba mencari-cari letak pintu keluar karena sekolah itu bukan sekolah yang kecil.

“Sial! Dikunci dari luar!” seru Kyuhyun marah. Dia sudah mulai emosi dengan keadaan ini. “Apa??!” Yang lain berseru terkejut dan takut. “Aku tidak mau tinggal disini…” seru Yoona. “Aku mau pulang!!” teriak Jessica.

“Tenang, semuanya… tenang…” ujar Taeyeon, mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya sementara dia sendiri juga berusaha menenangkan rasa takutnya sendiri. Siwon mencoba menelepon untuk meminta bantuan. “Argh! What the hell!! Tidak ada sinyal!!” serunya frustasi. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka semua.

“Mungkin kita hanya harus menunggu. Aku cukup yakin besok pagi akan ada orang yang menolong kita” ujar Kibum. Karena merasa tidak ada pilihan lain, yang lainnya setuju dan mengangguk pasrah. “Tapi… dimana kita akan tidur?” tanya Donghae. “Mwo? Annio! Aku tidak akan tidur di tempat seperti ini! Aku memilih untuk tidak tidur sampai subuh” ucap Sooyoung.

“Kau tidak akan tahan!” ujar Jessica. “Tapi… tempat ini tidak layak. Terlalu menakutkan. Bagaimana kalau nanti ada han- pfffft” Yuri menutup mulut Sooyoung sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Jangan buat kami semakin takut” ujarnya.

“Ayo kita berpura-pura bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan saat kita terbangun, kita sudah ada di dorm kita lagi” gumam Taeyeon. Ini memang terdengar mustahil, tapi yang mereka punya sekarang memang hanya tinggal harapan. “Tapi, bukankah terlalu pagi untuk tidur?” ujar Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kita mengitari sekolah ini. Mungkin kita bisa mendapat informasi tentang apa dan dimana sekolah ini sebenarnya” usul Siwon. “Andwae! Bagaimana kalau sesuatu terjadi?” tanya Yoona takut. “Well, kalau ada sesuatu yang terjadi, kau mempunyaiku untuk melindungimu” kata Kibum sambil tersenyum pada yoona yang membuat pipinya memerah.

“Aigoo… dalam situasi seperti ini dan kau masih sempat-sempatnya nge-gombal? Nicee~” ejek Leeteuk. “Tapi, kurasa Siwon ada benarnya. Kita tidak mendapat apa-apa kalau hanya berdiam diri disini. Setidaknya kita pasti mendapat sesuatu kalau kita bergerak. Kita kan ber-10. S-E-P-U-L-U-H” kata Jessica.

“Tapi… bagaimana kalau ada hantu, atau hal-hal sejenisnya? Biasanya hal-hal seperti itu ada di tempat yang sudah lama ditinggal” kata Sooyoung takut. “Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Itu hanya mitos” kata Taeyeon. “Kalau begitu jelaskan bagaimana kita bisa disini” ujar Kyuhyun. Taeyeon tidak menjawab.

“Okay guys. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian. Anggap saja, kita bisa berada disini sekarang, karena dewi keberuntungan sedang tidak ada di pihak kita. Diam disini, ketakutan dan menangis seperti bayi tidak akan merubah apapun dan membantu kita keluar dari situasi ini. Kita harus berani, atau setidaknya, mencoba untuk berani” kata Leeteuk, menyemangati dongsaeng-dongsaengnya.

mereka terdiam. Mereka semua tau, Leeteuk benar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, atau setidaknya mencoba untuk berani. Akhirnya mereka menggangguk setuju dan saling menyemangati. “Hwaiting!!” seru mereka.

Lalu, mereka menaiki tangga kayu yang sama, menuju ke lantai atas, mencari petunjuk yang bisa memberitahu mereka tempat apa itu sebenarnya. “Ruangan ini sepertinya bagus” ujar Kyuhyun, menunjuk ke arah plat kayu usang yang tergantung di atas sebuah ruangan, bertuliskan “Ruang Guru”. Mereka melihat satu sama lain lalu akhirnya memutuskan untuk masuk.

Ruangan itu sangat besar untuk ukuran sebuah ruang guru. Ada 2 sofa yang ditempatkan berhadap-hadapan si sisi kiri mereka dan 5 komputer yang ditempatkan di seberangnya. Sebuah foto, yang mereka asumsikan sebagai foto sang pendiri sekolah, tergantung rapuh di dinding sebelah kanan mereka. Detail yang lain tidak dapat mereka lihat dengan jelas karena keadaannya terlalu gelap untuk mata mereka yang walaupun sudah cukup terbiasa dengan kondisi kegelapan itu.

“Pasti ada dokumen atau apapun tentang sekolah ini” ujar Kibum. “Ne! Aku yakin kita kesini bukan untuk hal yang sia-sia. Pasti ada yang bisa kita temukan” ujar Yoona. Kyuhyun dan Donghae mulai mencari di laci dan lemari, sedangkan Sooyoung mencari di kulkas, yang tentu saja tidak ditemukan apapun disana.

“Hey! Aku meneukan sesuatu!” seru Siwon. Mereka semua berlari menuju ke meja ke-3 dari pojok kanan, tempat dimana Siwon berada. Dia mengambil HPnya untuk ekstra cahaya. “Aku memerlukan cahaya lagi” gumamnya. Leeteuk dan Yuri menyalakan HP mereka untuk memberi Siwon lebih banyak cahaya.

“Draft Dokumen Sekolah” ujar Siwon, membaca jusul dari kertas usang yang sudah robek-robek dan menguning. Mereka semua terdiam, mendengarkan Siwon, membiarkan suaranya bergema di ruangan yang kosong dan menyeramkan itu.

Draft dokumen sekolah

Sin Bi High School

##########, Korea Selatan

876-444-#####

dibangun oleh: ### Joo Ji, 4 April 1844

Visi:

Sekolah ini adalah ######## para siswa untuk ######### dengan sikap yang baik dan sopan santun yang tinggi ########

Misi:

1. Untuk ##### dengan pantas ######### dan ###### bagi negara dan bangsa

2. Untuk membangun ############## yang baik dalam toleransi yang tinggi

3. #####################################

Sin Bi high school menyambut semua########### dan ### murid yang ###############

Dengan hormat,

Kepala sekol##

Park #### Kyung

4 April 1990

“Ada banyak bagian yang tak terbaca (Bagian ###)” kata Siwon. “Sin Bi high school? Sepertinya aku pernah mendengarnya” kata Jessica. “Setidaknya kita sekarang tau apa nama tempat ini” kata Kyuhyun. “Itu tidak membantu sama sekali! Kita bahkan tidak tau di daerah mana kita berada” ujar Donghae. “Setidaknya kita masih ada di Korea Selatan~” ujar Yoona.

“Ayo pergi. Kurasa tidak ada lagi yang bisa ditemukan di tempat ini” ujar Leeteuk. Yang lainnya mengiyakan lalu pergi keluar. Mereka menaiki tangga menuju ke lantai atas. “Tu-tunggu…” gumam Sooyoung. Dia berhenti di sebuah ruang kelas. “Wae-yo sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun bingung.

Sooyoung tidak mempedulikannya dan hanya menatap ruang kelas itu. Kyuhyun, Jessica, dan Donghae, yang berjalan paling belakang, merasa penasaran dan ikut berhenti di depan ruang kelas itu, tidak menyadari bahwa yang lain sudah meninggalkan mereka .

Tanpa mengatakan sepatah katapun, sooyoung membuka pintunya dan berjalan masuk. Yang lain menatapnya heran, tapi bertekad untuk tidak meninggalkannya sendirian, mereka mengikuti sang shikshin masuk ke dalam kelas tersebut.

Kelas itu, sama seperti kebanyakan kelas, memiliki sedikitnya 15 meja dengan sepasang kursi di tiap mejanya. Yang membuatnya berbeda adalah adanya banyak sekali foto yang tergantung kaku di atas dinding. Foto-foto itu semuanya adalah wajah seseorang dan seakan-akan mereka sedang menatap tajam 4 orang yang berdiri dengan takut di dalam kelas itu.

“AAAAAA!!!” Sooyoung berteriak ketakutan, memeluk Kyuhyun sebagai reflek. “Apa? Wae?” tanya Kyuhyun bingung, walaupun senang karena sooyoung memeluknya. “O-oppa… i… it.. itu..” ujar Sooyoung takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada kyuhyun sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan, ketiga dari paling kiri. Mereka semua melihat ke arah yang sooyoung tunjukkan. Seketika mereka syok dan ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

“Bagaimana mungkin…” desis Donghae tidak percaya. Sementara itu, Jessica menatap gambar itu dengan syok dan mengencangkan genggamannya pada lengan donghae. Kyuhyun masih memeluk sooyoung yang sedang menangis, menatap gambar itu dengan pahit.

Itu adalah gambar wajah sooyoung secara close-up, dengan darah merah kental di bagian mulut dan hidungnya, dan tampak sesuatu yang salah pada matanya. Seperti hendak dicongkel keluar tapi tidak berhasil.

“Ayo keluar dari sini” perintah Kyuhyun. Yang lain langsung setuju tanpa berpikir lagi. Tapi… “Sial!” seru DOnghae marah sambil menendang pintunya. “Wae?” tanya Jessica takut. Mereka semua sudah tau jawabannya. “Pintunya terkunci”

Mereka saling melihat satu sama lain. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jessica lemas. Air mata sudah terbentuk di matanya dan siap untuk terjatuh. Sooyoung mulai histeris, memukul dan menendang-nendang pintu yang tidak ada gunannya.

Kyuhyun memeluknya lagi, berusaha menenangkannya. Donghae mengusap kepalanya sedangkan Jessica mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak mau disini. Terlalu…. menakutkan” isaknya disela tangisannya. “Tenanglah. Aku ada disini. Untuk menjagamu” ujar Kyuhyun lembut lalu mencium kening sooyoung.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Donghae. “Kita semua tahu tidak ada yang bisa kita lakukan! Hentikan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh,pabo!” seru Kyuhyun emosi. Sunyi. Jessica menyenderkan kepalanya di pundak donghae dan dengan lembut donghae membelai rambut blonde-nya.

Sooyoung masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun dengan lembut mendekapnya, berusaha menghentikan tangisannya. Mereka berdiri sejauh mungkin dari gambar itu dan sedekat mungkin dengan pintu.

Tiba-tiba…. BRAKKK!! Sesuatu terjatuh. Mereka semua terkejut dan menatap ke arah dimana foto sooyoung terjatuh ke lantai kayi syok dan sudah agak lapuk. Sekali lagi, ekspresi syok dan horor, yang bahkan lebih jelas dari sebelumnya tergambar di wajah mereka.

Serasa seperti ada permen karet yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tidak ada satu pun kata-kata , umm.. atau lebih tepatnya teriakan yang sanggup keluar dari mulut mereka, sekeras apapun mereka sebenarnya ingin. Mereka hanya diam membantu, dengan ketakutan tak terhingga yang membayangi mereka.

Mereka melihat ke arah yang sama, ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memegang foto sooyoung. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Dia sangat lucu dan imut, neomu kyeoptta, KALAU otaknya tidak terlihat jelas dan terus berdenyut-denyut, KALAU dia tidak kehilangan setengah bagian kepalanya sehingga menampilkan organ otaknya yang menjijkan, KALAU dia mempunya kaki-kaki mungil yang berdiri mantap di lantai kayu, bukannya tentakel biru pucat yang terus bergelayutan, dan KALAU dia tidak transparan…….

TBC~~

Author jadi parno dah bikinnya malem2 –a

author saranin sih jangan baca malem-malem buat yang imannya gak kuat… tapi buat author… kurang serem yah? ckckck~

Kenapa bisa ada foto-nya sooyoung?

Siapa tuh anak kecil sebenarnya?

Bagaimana nasib KyuYoung dan HaeSica?

bagaimana dengan petualangan TaeTeuk, YoonBum, Siwon, dan Yuri?

wait in the next part~~~

Author’s POV

“Gaah.. Ayo pergi ke suatu tempat. Aku sangat bosan!” keluh sooyoung sambil meregangkan tubuhnya.  “Neh… Kita mendapat kebebasan satu hari tapi tidak ada yang bisa kita kerjakan” kata Yoona. “Kita mau pergi kemana?”tanya Jessica sambil mengintip dari atas buku yang sedang dia baca

“Bagaimana kalau…. pergi berbelanja?” Yuri menyarankan. “terdengar bagus”yang lainnya setuju. “Baiklah. Cepat, siap-siap!Kita akan pergi 30 menit lagi!”perintah Taeyeon dan degan segera dongsaeng-dongsaengnya melakukan apa yang diperintahkannya. mereka melangkah ke kamar masing-masing, berganti baju dan bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall yang sangat terkenal di Seoul (nama mallnya, pikirkan sendiri. Mau Kelapa Gading kek, mau Cilandak Town Square kek ._.) Dan pastinya, mereka menyamar, agar tidak ada fans yang mengenali mereka.  Hanya Sooyoung, Taeyeon, Jessica, Yuri, and Yoona yang tertarik untuk pergi, karena Tiffany sakit, Hyoyeon latihan gerkaan dance yang baru, Sunny sibuk menaikkan levelnya di Mario Bross, dan Seohyun terlalu sibuk belajar.

“Aku ingin membeli sepatu baru!” seru Yoona. “Ayo cari merchandise Mickey Mouse dulu” ujar Yuri. “Sepatu baru duluan!” ucap Yoona. “Annio! Mickey mouse!” Yuri berteriak. “Sepatu baru!” “Mickey mouse!” Sepatu baruuuu!!” “Mickey mouseee!!” YoonYul mulai bertengkar.

“Girls, berhenti bertengkar!”teriak sang leader, yang berhasil membuat mereka berdua terdiam “Okay. pertama, kita akan mencari sepatu baru, lalu setelah itu mickey mouse. Arasso?” ucap Sica. “Tapi… kenapa Yoona duluan?” tanya Yuri sedih. “Karena sepatu lebih penting dari Mickey mouse” kata sooyoung kejam. Yuri hendak membantah perkataannya namun, Taeyeon menyeret mereka masuk ke toko sepatu.

Merka mencari sepatu yang cocok beberapa saat lalu akhirnya menemukannya dan membelinya. “Mickey mouse! Mickey mouse!” Yuri melompat-lompat dengan semangat. “jadi… dimana tokonya?” tanyaSica. “Mungkin.. di lantai atas? Lantai 4?” usul sooyoung. “Pabo! Disini tidak ada lantai 4~” kata seseorang tiba-tiba. Mereka terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang berbicara itu

“Hey~” “Annyeong…” sapa 5 namja, yang juga sedang menyamar. “Donghae oppa! Kyuhyun oppa! Leeteuk oppa! Siwon oppa! Kibum oppa!” seru para yeoja dengan girang. “Ssssh….” Kibum memperingatkan mereka dan melihat berkeliling. Untungnya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menghiraukan mereka, yang memakai kombinasi baju-baju yang aneh, kacamata hitam, topi, dan bahkan syal.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sica. “berbelanja tentunya” jawab Siwon. “Pheww.Aku tidak tau kalau namja seperti kalian suka berbelanja.” ejek Sooyoung. “Well, aku tidak suka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan video game-ku, tapi mereka memaksaku karena aku kalah dalam permainan ular tangga” Kyuhyun mengeluh.

“Kami dipaksa berbelanja oleh member lain. Beraninya mereka! Ckck” ujar Leeteuk. “Tapi, kurasa akan menyenangkan kalau kita berbelanja bersama-sama?” usul Donghae. Para yeoja mengangguk dan tersenyum, 100% setuju dengan ide Donghae.

“Jadi, apa maksudmu dengan tidak ada lantai 4?” tanya sooyoung. Jessica memutar bola matanya. “Tidak ada lantai 4 di setiap mall di Korea, sooyoung.” ujar Jessica. “Tapi kenapa?” tanya si shikshin lagi.

“Karena angka 4 berarti kematian. Mereka percaya pada mitos ini dan berasumsi bahwa angka 4 hanya akan mendatangkan kesialan. Jadi, setelah lantai 3 langsung ke lantai 5. Ada juga yang menggunakan 3a atau 3b, tapi bukan 4.” jelas Siwon. “Tapi itu hanya mitos!” seru sooyoung lagi. “Tanya pemilik mall-nya. Hanya itu yang kami tau” kata Yuri.

“Oke, aku ingin membeli bahan makanan sekarang” kata Kibum. “Andwae! Mickey mouse-ku dulu!!” ucap Yuri tegas. “Tapi…” “Tidak ada tapi! Mickey mouse-ku!!” seruYuri. “Nde, mickey mouse-nya dulu” Yoona membela Yuri. Para namja akhirnya menyerah. Merka tau mereka tidak akan bisa mengalahkan para yeoja. Mereka terlalu keras kepala, tapi juga.. terlalu imut.

Mereka pergi ke toko yang menjual banyak barang mickey mouse. Yang lainnya melihat-lihat dengan bosan, sangat berbeda dengan Yuri yang dengan riang melihat-lihat di toko yang penuh dengan tikus lucu itu. Dia mencari dengan teliti, tidak membiarkan 1 inci sudut pun terlewatkan. Yang lainnya mengikutinya sambil mengobrol.

“Jadi… Seohyun tidak ikut?” tanya Kyuhyun yang berjalan bersebelahan dengan sooyoung. “Ye. Dia sedang belajar. Aku yakin kau pasti kecewa. Kangen padanya?” tanya sooyoung, menjaga agar suaranya tetap terdengar ceria saat hatinya tidak. “Hmm, untuk apa saat kau ada di sebelahku?” Kyuhyun bergumam tapi tidak cukup jelas untuk sooyoung dengar.

“Apa?” tanya sooyoung. “Ti.. tidak” ujar kyuhyun gugup. “Huff… ini semua membuatku lapar” Sooyoung berkata, mencoba untuk merubah topik. “Kau selalu lapar. Memangnya kapan kau kenyang?” Kyuhyun bertanya, sambil tertawa. “Saat aku mau” jawab sooyoung. “Wah… kalau begitu kau pasti tidak akan pernah mau” ejek Kyuhyun. “Yah!” Sooyoung cemberut sambil memukul legan kyuhyun. “Aigoo… kyeopta…” Kyuhyun berkata dalam hatinya. He mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yah! Apa-apaan sih?” protes sooyoung. “Kau terlalu imut…” ucap Kyuhyun, membuat pipi sooyoung memerah.

“Umm… aku tidak tau kau suka belanja, Sica?” Donghae mencoba untuk memulai percakapan. “Tidak terlalu. Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan di dorm” jawab Sica dengan dingin, yang membuat Donghae semakin gugup. “Ummh… kau mau membeli sesuatu nanti?” tanya donghae lagi. “Tidak” jawab Sica pendek.

“Apa yang ingin kau… mm… makan?” Donghae tetap berusaha dan berjuang yang tentu saja sulit dilakukan karena dia berusaha mengobrol dengan seorang ice princess. “Apapun yang lain inginkan. Asal tanpa timun ataupun sejenisnya” Sica menjawab. Donghae berpikir keras untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sica sambil mengerutkan keningnya. “Kyeopta…” batin Sica.

“Taeng… bagaimana kau bisa bertahan memiliki saudari seperti mereka?” tanya Leeteuk sambil menunjuk ke arah  YoonYul, yang sedang mengganggu si penjual dengan pertanyaan-pertanyyan bodoh seperti ‘apa kau menjual kalung yang dibeli khusus oleh Donald untuk Mickey?’ yang pastinya mereka tidak menjualnya, dan yang kedua, Donald tidak pernah membeli kalung utnuk Mickey.

Taeyeon mengangkat bahunya.”Dongsaeng-dongsaengmu jauh lebih buruk” kata taeyeon. “Yah.. kau benar” desah Leeteuk. “Kadang, menjaga mereka ber-8 itu begitu sulit. Aku berpikir kalau aku tidak akan cukup kuat untuk itu” kata Taeyeon sedih.

Leeteuk menepuk kepalanya pelan. “Kau pasti cukup kuat. Karena kau adalah Kim Taeyeon. Kau pasti bisa. Hwaitting!” ujar Leeteuk menyemangati taeyeon. “Keke. Kau benar. Hwaitting!” Taeyeon tersenyum dengan manis. “Aigo… akan kuberkan apapun untuk bisa melihat senyum itu setiap hari” batin Leeteuk.

YoonYul telah berhenti mengganggu si penjaga toko, yang membuatnya menghela nafas lega. “Unnie.. cepat… yang mana yang mau kau beli?” rengek Yoona. “tunggu sebentar, yoong… aku bingung” ujar Yuri. “Ayolah~~” Yoona terus merengek. “Arra. Uhh… andai kau sesabar Minho oppa” keluh Yuri. “Mwo? Apa dia cukup sabar untuk menungguimu memilih-milih barang mickey ini?” tanya Yoona tidak percaya.

“Tentu saja! Dia adalah yang terbaik” puji Yuri sambil membayangkan wajah Minho. “Anni anni anni. Dia tidak bisa! Akulah yang terbaik untukmu unnie…” ucap Yoona. Yuri tertawa. “Nde, nde, yoong… kau adalah yang terbaik. Karena kita yoonyul!” Yuri tersenyum. Lalu dia mengambil sebuah boneka mickey mouse dan mousepad bergambar mickey mouse.

Yang lain berjalan menuju ke supermarket dengan riang, bahagia karena mereka sudah keluar dari istana mickey mouse itu. Mereka bahkan berpikir mereka akan mati dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang mickey mouse kalau Yuri tidak cepat membayar dan keluar. Mereka semua membeli beberapa sayuran dan buah segar, tidak lupa beberapa snack, tentu saja oleh sooyoung. Mereka menghabiskan 2 jam disana.

“Apa? Jadi tiffany sakit?” Siwon bertanya dengan tampang khawatir saat Taeyeon memberitahunya. “Jangan berlebihan, oppa. Dia kan hanya flu. Dia bahkan gak sekarat kok” kata sooyoung. “Tapi… oh my… my tiffany…” ujar Siwon sedih. Yang lainnya mendesah pasrah. “Aku tau kau mencintainya. Tapi dia itu kan hanya flu. Ckck” ucap Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Lalu, mereka memutuskan untuk pergi ke game center yang membuat Kyuhyun sangat senang dan dia meloncat-loncat kegirangan. Mereka menghabiskan 2 jam disana, yang membuat mereka sulit keluar adalah kyuhyun yang bahkan harus diseret keluar oleh para hyung-nya. Note to themselves: Jangan pernah mengajak Kyuhyun ke game center.

“Omo! Handphoneku!” seru Yuri saat tidak menemukan HPnya di dalam tasnya. “Wae?” tanya Jessica. “Handphone-ku. Tidak ada…” ucap Yuri panik. “Apa kau yakin? Bagaimana bisa?” tanya Leeteuk. “Molla… eottokkae…” ujar Yuri sedih.

“Dimana kau terakhir menaruhnya? Coba ingat-ingat” kata Kibum tiba-tiba. Yuri berpikir keras sampai dia mengerutkan keningnya. Kemudian, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang lain memandangnya penasaran. “Toko mickey mouse…”

Jadi, mereka kembali ke lantai 6, dimana toko itu berada. Untungnya, HP Yuri memang ada disana. Mereka berterima kasih pada pemilik toko yang hanya membalasnya dengan tatapan muak. “Lain kali, hati-hati. Lihat sekitarmu. Jangan hanya terpaku pada tikus jelek itu” ucap Donghae.”Diam! Mickey itu tidak jelek! Dia bahkan lebih tampan darimu!” seru Yuri.

Jessica mendengus. “Bagaimana bisa tikus hitam dan kotor itu lebih tampan dari donghae oppa?” ujar Jessica. “Ooh… Jadi, unnie pikir Donghae oppa itu tampan yaa?” Yoona menggoda unnie-nya. Jessica tersipu. “Annio! Itu… aku… Hanya saja… ngg… Mickey mouse itu lebih jelek. Bukan berarti donghae itu tampan” ujar Jessica gugup.

“Cukup, cukup. Ini sudah terlalu larut. Kita harus pulang ke dorm segera” kata Leeteuk. Yang lainnya setuju. “Sebaiknya kita menggunakan lift agar lebih cepat” usul Kyuhyun.

Jadi, mereka naik lift untuk turun ke lobby. Taoi tiba-tiba, lift itu berguncang dan lampunya mati.  Para yeoja, dan bahkan Kyuhyun dan Donghae berteriak ketakutan. “A-apa… apa yang terjadi?” gumam Taeyeon. “Mungkin lift-nya macet. Tenang, guys… tenang.” Leeteuk mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya itu sambil menekan tombol darurat beberapa kali, namun sayangnya, tidak ada respon. “Kurasa kita hanya harus menunggu” kata Siwon.

“Tenang, semuanya! Tenaaaang! Yoona, berhenti menendang-nendang! Sica, berhenti berteriak dengan suara dolphinmu itu! Sooyoung, berhenti…. berhenti makan! Yuri, berhenti bergelantungan di kakiku!!” teriak Taeyeon pada dongsaeng-dpngsaengnya yang tidak bisa diatur itu. “Semuanya, TENANG!!” Taeyeon berteriak dengan suara tingginya, yang berhasil membuat semuanya tenang sambil menutup telinga mereka, menghindari ke-budek-an.

“Hey…lift-nya… berhenti di antara lantai 5 dan lantai 3” ujar Sooyoung di sela-sela waktu makannya, menyadari angka di layar hitam kecil di pojok atas lift dengan angka merah tertulis di dalamnya. Angka 5… lalu 3.. lalu 5… lalu 3… lalu 5… lalu tiba-tiba… 4. Mereka semua terkejut dan terpana. Mata mereka tertuju di satu arah. Di angka tersebut.

“Tapi… tidak ada lantai 4” bisik Kyuhyun, terlalu takut untuk bersuara keras. “Kau salah! Disini ada lantai 4 kok~” seru Sooyoung. “Tidak, sooyoung. Tidak ada lantai 4, setidaknya di mall ini” ucap Jessica. Mata mereka masih tertuju pada layar itu, berharap angka tersebut terganti.

Lalu, tiba-tiba pintu lift mulai terbuka saat sooyoung hendak membantah lagi. Mereka menatap sekitar mereka dengan ekspresi syok dan mulut yang ternganga lebar. Mereka bahkan tidak berani untuk berjalan 1 langkah pun dari tempat mereka. Leeteuk masih berusaha menekan tombol apapun di lift itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka hanya punya 1 pilihan, yang pastinya tidak mereka sukai: untuk keluar dan menghadapi apapun di hadapan mereka, di lantai 4, bagian yang hilang dari sebuah mall…

 

-TBC-

tuh kan reader… mana serem sih? Gak serem kan? Nanti author kasih adegan setannya cuma dikit kok~ kekekeke 😀

comment yahhh >.<

annyeong~~~

author comeback (?) dengan ff series yang baru… dan kali ini, author pengen coba mengasah (?) kemampuan nulis author dalam genre mystery 😀

Oh iya… mungkin ada yang udah pernah baca cerita ini di AFF, dan jangan anggap author itu copycater yah! sorry seamit-amit deh… kekeke. soalnya, yang nge-post di AFF itu… author juga! noh yang IDnya J_Ster… kekeke. Jadi, ini ceritanya sama persis sama yang author post di Asian Fanfics, tapi cuma beda bahasa aja.

Characters:

Choi Sooyoung

Im Yoon Ah

Kwon Yuri

Jung Jessica

Kim Taeyeon

Park Jungsu (Leeteuk)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kim Kibum

sinopsis:

Mereka berbelanja di sebuah mall di Seoul. Ada yang mengatakan, semua mall tidak mempunyai lantai ke-4. Karena sebuah mitos yang mengatakan angka 4 berarti kematian, dan mereka mempercayai ini dan tidak pernah membangun lantai 4 di setiap mall. Jadi, setalh lantai 3 langsung ke lantai 5.

Mereka berbelanja sampai malam. Lalu, mereka menggunakan lift untuk turu dari lantai 6, tapi tiba-tiba lift itu mandet di antara lantai 5 dan lantai 3. Dan saat pintu lift itu terbuka, mereka berada di lantai 4, yang ternyata merupakan sekolah yang sudah lama ditinggalkan, bagian yang hilang dari sebuah mall yang terhubung melalui suatu hal gaib.

Lift itu tiba-tiba menghilang, seakan-akan lift itu tidak pernah berada di sana, dan mereka ber-10, mencari, menghadapi petualangan yang hebat di hadapan mereka untuk mencari cara keluar dari sana dan kembali ke dunia mereka sendiri.

eotokkae? oeotokkae? 😀

 

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Hankyung POV

Ah, hari ini ya? hari ini hari ulang tahunku. Tapi, tampaknya tidak ada yang spesial. Tidak ada sama sekali. Ulangtahunku yang ke-27. Yang kuinginkan hanya satu. Bersama member super junior. Bersama keluarga SM. yang sudah tidak akan mungkin lagi.

Aku menyusuri jalan sepi ini. Aku memutuskan untuk kembali ke Cina, setelah keluar dari SM. Memang, aku masih menyayangi mereka semua. Jeongmal. Tapi, ini sudah menjadi keputusanku yang sedikit kusesali.

Aku jadi ingat, kenangan-kenangan dengan mereka semua, ke-12 sahabatku, dan seorang yeoja… yang pernah menjadi orang spesial di hatiku. Seorang yeoja, yang menjadi salah 1 member girlband terkenal di Korea, So Nyeo Shi Dae. Seorang yeoja, bernama Choi Sooyoung.

FLASHBACK (yg hurufnya miring itu flashback-nya)

“Hankyung oppa!” panggil sooyoung. “Sooyoung-ah! Kami ini sedang latihan tau” omel Leeteuk. “Tapi, aku kangen pada hankyung oppa” katanya sambil cemberut. “Nanti, setelah latihan aku akan menemuimu deh” kataku sambil mencubit pipinya gemas.

“Yasudah deh” katanya sambil keluar dari ruang latihan kami. “Nah, ayo kita lanjutkan” perintah Leeteuk.

Aku menatap mereka semua dengan sendu. Apa iya, aku harus meninggalkan mereka? Meninggalkan Sooyoung? Tapi, aku sudah memutuskan ini semua jauh-jauh hari.

“Wae, hankyung?” tanya Eunhyuk. “Gwenchana. Ayo, latihan” kataku, menebarkan senyum palsuku. Aigo… aku tidak sanggup harus mengatakan ini semua pada mereka.

Aku latihan dengan tidak konsen, sehingga sering kali dimarahi Leeteuk dan Eunhyuk. “Jangan mikirin Sooyoung mulu!” ucap Kyuhyun. “Bilang saja kau cemburu, kyu” ujar Yesung. Cemburu? Apa Kyuhyun menyukai Sooyoung? Banyak rumor tentang mereka sih. Hm, mungkin Kyuhyun bisa menjaga sooyoung saat aku pergi nanti.

Selesai latihan, aku langsung menuju ke ruangan Lee Soo Man untuk menemuinya. Tapi sebelumnya, aku pergi ke ruang latihan SNSD dulu.

“Annyeong haseo” sapaku. Untunglah mereka belum mulai latihan. “Oppa!” panggil Sooyoung sambil berlari ke arahku. “Annyeong haseo, hankyung-ssi” sapa Taeyeon. Aku mengacak-acak rambut sooyoung. Ah, aku benar-benar tidak rela meninggalkannya.

“Sudah selesai latihan, oppa?” tanya sooyoung. “Nde. Ah, aku lelah sekali” kataku. Sooyoung mengusap keringatku dengan sapu tangan pinknya. Aku tersenyum. “Ya! Choi Sooyoung! Ayo mulai latihan! Mianhae, hankyung-ssi. Kami harus latihan.” ujar Sunny.

“Gwenchana. Aku pergi dulu ya” kataku. Sebelum pergi, aku mengecup kening sooyoung. Hubungan kami ini sangat dirahasiakan. Hanya member super junior dan member SNSD yang tau. Karena, kalau media dan fans sampai tau?? Pasti hanya akan menambah anti-fans.

Aku berjalan menuju ruangan Lee Soo Man. Hatiku berdebar. Aku rasanya ingin menangis.

Aku berjalan dengan pelan, merasakan hembusan angin menerpa wajahku. Kuhirup udara segar sebanyak-banyaknya. Andai saja, mereka ada disini, walau hanya 1 menit, aku ingin sekali melihat mereka lagi.

“APA? KAU SUDAH GILA YA??!!” seru Soo Man marah. Yeah, aku yakin dia pasti marah setelah aku memutuskan untuk memutuskan kontrak dengan SM.

Apa sih yang kupikirkan waktu itu? Ah, andai waktu bisa terulang kembali.

“Bagaimana mungkin kau bisa keluar dari SM??” tanya Leeteuk sangat syok saat berita itu disampaikan oleh Soo Man pada seluruh keluarga SM. Aku bisa merasakan pandangan mereka padaku. Merasakan pandangan sedih sooyoung. Mianhae, semuanya. Asal kalian tau, aku sangat menyayangi kalian.

“Oppa…?” tanya sooyoung dengan mata berkaca-kaca. Annio. Aku mohon, jangan menangis! Itu akan membuatku semakin sedih. Kumohon, jangan keluarkan sedikit pun air matamu.

“Mianhae.” hanya itu yang bisa kukatakan. Dia menangis, dan keluar dari ruangan. Argh… aku tidak sanggup melihatnya menangis, apalagi gara-gara aku.

Aku masih mengingat dengan jelas. Bagaimana dia menangis saat berbicara berdua denganku. Dan yang bisa kulakukan hanya minta maaf, tak bisa mengehntikan air mata itu mengalir.

“Dengan ini, Sudah diputuskan. Hankyung-ssi resmi keluar dari SMentertainment dan tidak ada kontrak lagi.” umum hakim saat persidangan, memutuskan aku memenangkan sidang dan keluar dari SM. Tidak ada yang senang, begitu juga aku.

Aku merasa sangat kehilangan. Tapi, ada sesuatu yang walaupun kau tidak suka, harus kau jalani. Aku sangat menyayangi mereka semua.

Kulihat, semua member super junior bersedih, begitu juga dengan member-member SNSD, bahkan shinee, f(x), dan lain-lain. Apalagi Sooyoung. Aku tidak sanggup melihatnya menangis seperti itu yang sedang ditenangkan oleh Kyuhyun.

Aku berhenti dari jalan-jalan tanpa arahku, memandang sekitarku. Rerumputan hijau, angin yang sejuk, pohon-pohon yang menaungi jalan setapak yang kuinjak.

Aku ingat, bagaimana tersebar rumor bahwa aku keluar karena SNSD yang tidak menghormatiku. Apa netizen itu sudah gila? Mana mungkin, gara-gara mereka? Aku dan member-member SNSD itu kan berteman dengan sangat baik. Mereka semua sudah kuanggap seperti adik-adikku sendiri.

Aku memutuskan untuk berjalan kembali ke rumah, dengan kenangan-kenangan indah saat menggung bersama super junior, bermain bersama di dorm, dan berkencan bersama sooyoung.

Tak terasa, air mataku sudah menetes. Dasar cengeng, gumamku. Tapi, kenangan-kenangan indah itu memang membekas di hatiku, selalu tak siap aku buang, Terlalu indah.

Aku masuk ke kamarku, memutuskan untuk browsing sebentar mengenai kabar mereka. Rumor tentang SNSD yang menjadi penyebab aku memutuskan kontrak itu sepertinya sudah diluruskan. Aku tidak ingin semakin banyak anti-fans mereka, karena mereka adalah gadis-gadis yang hebat.

Aku menemukan berita tentang sooyoung dan chansung, atau sooyoung dan kyuhyun. Syukurlah tampaknya sooyoung tidak apa-apa. Aku melihat-lihat fotonya, rindu untuk mengelus pipi yang chubby itu, membelai rambut yang halus itu.

Aku menemukan berita tentang para ELF.

‘Aku rindu hangeng oppa!’

‘Kapan ya, hangeng bisa bersama suju lainnya?’

‘hankyung oppa, kibum oppa, kangin oppa, saranghae’

Aku tersenyum membacanya. Gomapsumnida, ELF-ku yang setia. Yang masih terus mendukungku. Maafkan aku, yang telah mengecewakanmu. Tapi sungguh, akupun tak ingin berpisah dengan keluarga SM.

Kringggg! Bel rumahku berbunyi. Aku heran. Siapa yang datang? Aku tidak sedang ada tamu seharusnya.

Aku keluar menuju ruang tamu, membukakan pintu dan…

“SURPRISEEE!!!” seru 10 orang di depanku itu. Aku hanya melongo dan terkejut, memastikan ini semua bukan mimpi. Bahkan mengucek mataku dan mencubit lenganku sendiri.

“Oppa, boghosippo!!” seru Sooyoung, menghambur ke dalam pelukanku. Leeteuk, Eunhyuk, Taeyeon, Jessica, Yesung, Sooyoung, Shindong, Sungmin, Kyuhyun, dan Donghae kini berdiri di depanku.

“Yang lain tidak bisa datang. Ada pekerjaan. jadi hanya kami yang datang” kata Yesung. “Nde. Sangil chukkae, oppa!” seru Jessica.

“Kami rindu padamu!” seru Donghae. Ya Tuhan, apa ini mimpi? Mimpi yang paling indah. Aku terharu. Sangat terharu, tak terasa air mataku pun keluar.

“Eeh… kok malah menangis?” ucap Taeyeon bingung. “Apa ini… benar-benar kalian?” ucapku seperti orang bodoh.

“Tentu saja, hankyung!” seru Leeteuk. “Kami jauh-jauh datang ke Cina, berharap disambut dengan makanan yang banyak, tapi malah berdiri di depan rumahmu dengan kau yang berdiri seperti orang bodoh?” ucap Shindong.

Aku tersenyum “Gomapsumnida, Chingu. Aku… aku sangat bahagia.” kataku. Aku menoleh pada sooyoung, yeoja yang selama ini sangat kurindukan.

Aku memeluknya. Ah, rasanya sudah lama sekali merasakan tubuhnya di dalam dekapanku. Lalu, aku menciumnya, menempelkan bibirku di bibirnya. Yang lain berteriak-teriak menggoda, tapi aku tak peduli. Aku sangat sangat bahagia.

“Ini, untukmu!” ucap Eunhyuk, mengeluarkan sebuah kotak besar yang dibungkus kertas kado dengan rapi. “Gomapsumnida” kataku sambil tersenyum, dengan senyumku yang paling lebar.

“Kau mau kami masuk atau tidak nih?” sindir Shindong. “Oh, mianhae. Silakan masuk” kataku canggung. Mereka masuk sambil berebutan. Aku merangkul sooyoung.

“Ini… kado terindah” kataku. Dia tersenyum dengan manis. “Apa, kalian tidak marah padaku?” tanyaku padanya.

“Mana mungkin. kau .. selamanya, tetaplah bagian dari keluarga SM.” kata Sooyoung yakin. Yeah, mereka inilah, yang sedang mnggerataki rumahku, keluargaku. Selama-lamanya.

-the end-

Author bikinnya cuma drabble ^^ hehe

and.. happy b-day Hangeng oppa! This is my gift for you LOL

and… comment yah :))

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

“Seohyun. Dia….”

“Dia kenapa, oppa?” tanya Yoona tak sabar. “Cepat ke rumah sakit. Kkaja!” ajak Taeyeon tanpa menunggu penjelasan donghae.

Mereka berangkat ke rumah sakit dengan panik. “Sebenarnya apa yang dikatakan minho tadi, oppa?” tanya ssica. “Katanya keadaan Seohyun bertambah parah. Jantungnya semakin melemah.” jawab donghae sedih.

“Akhirnya kalian datang juga!” sambut Minho dengan wajah cemas. “Minho-ah, bagaimana keadaan seohyun?” tanya Sooyoung cemas.

“Kata dokter keadaannya semakin parah. Jantungnya semakin melemah.” jawab minho sedih. Matanya sembab dan bengkak karena habis menangis.

Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar Seohyun, membuat mereka semua mengalihkan perhatian mereka ke dokter itu. “Seo Joohyun-ssi sudah sadar.” umum dokter itu disambut senyum sumringah dan kelegaan yang terpancar jelas di wajah ke-9 orang itu.

“Dia ingin bertemu dengan yang bernama Minho.” tambah dokter itu lagi. Mereka semua memandang Minho. “Eeh.. aku?” tanya Minho heran tapi dia segera bangun dari tempat duduknya untuk masuk ke kamar Seohyun.

Minho POV

Seohyun ingin bertemu denganku? Hanya denganku? Tapi, kenapa? Apa mungkin orang yang ingin dilihatnya pertama kali itu adalah aku?

Dengan penasaran, aku memasuki ruangan seohyun dan menyibak tirai yang menghalangiku masuk untuk menemuinya. Aku melihatnya terbaring lemah, dengan selang infus dan tabung oksigen yang banyak menjalari tubuhnya. Matanya sudah terbuka, seakan dia mengerahkan semua tenaganya hanya untuk membuka matanya itu.

“Seohyun-ah…” panggilku. Tak terasa, aku sudah tidak dapat membendung air mataku lagi, melihat kondisinya yang lemah begini.

Dia tersenyum. Terlihat jelas dari matanya. “Suster, boleh dicopot tabung oksigennya? Tampaknya dia ingin bicara.” kataku pada suster yang siap siaga di belakangku, kalau terjadi sesuatu.

Suster itu ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk dan mencopot tabung oksigen Seohyun. “Oppa…” panggil Seohyun lemah. Aku mendekatinya, berdiri di samping ranjangnya dan menggenggam tangannya. Dingin.

“Wae, seohyunnie?” tanyaku. “Oppa… sa..rang..hae..” katanya tersendat-sendat. Air mata semakin deras membanjiri pipiku. “Na do saranghae. Seohyun, na do saranghae.” kataku lalu menegecup keningnya dengan lembut.

Dia tersenyum dengan lemah, tapi sangat manis. “Oppa, aku senang… perasaanku… bisa tersampaikan.” katanya. Aku mengangguk dan tersenyum

“Aku lelah. Aku.. ingin… tidur…” katanya semakin lemah. “Nde. Tidurlah. Kau butuh banyak istirahat.” ucapku. Dia tersenyum sekali lagi dan akhirnya memejamkan matanya. Tangannya melemas dalam genggamanku.

Piiiiippppp…. bunyi detektor jantung itu mengagetkanku, menampilkan garis lurus yang panjang. Pertanda kalau…. kalau….

“Seohyun-ah!!” panggilku dan mengguncang-guncang tubuhnya. Suster itu segera keluar memanggil dokter.

Aku memeluk Seohyun, membelai rambutnya dengan lembut, lalu mengecup bibirnya pelan. Tuhan, tak bisakah kau memberinya waktu lebih lama? Aku sudah menunggunya untuk 1 bulan. Menunggunya agar aku bisa pergi berdua bersamanya, menghabiskan waktuku bersamanya.

Dokter yang datang menggeserku dengan pelan lalu memeriksa Seohyun. Dia menggeleng sedih, lalu mengambil sebuah alat yang sering kulihat di TV untuk menghidupkan kembali detak jantung seseorang.

Dokter itu mencoba untuk 3 kali, tapi hasilnya nihil. “Mianhamnida. Seo Joohyun-ssi sudah meninggal.” ucap dokter itu yang langsung menghancurkanku. Aku merasa seperti istana pasir di pantai yang hancur lebur oleh deburan ombak. Aku merasa tidak ada lagi yang bisa membangun kembali istana pasir yang sudah hancur itu.

Aku menangis, berteriak, meraung, mengeluarkan semua emosiku. “AAAARRRGGGHHHH” seruku sambil menangis dan berlutut. Tuhan, kenapa kau begitu kejam? Kenapa kau mengambilnya dari sisiku? Kenapa aku terlambat menyadari perasaanku??

Selama setengah jam, kondisiku terus bertahan seperti itu. Dokter dan suster yang berusaha menenangkanku tidak kuhiraukan. Aku terus menangis, mengguncang tubuh Seohyun yang sudah tidak bernyawa, berharap itu akan membuatnya bangun dan berkata kalau dia hanya berpua-pura.

Akhirnya, aku keluar untuk memberitahu yang lain. “Wae, minho-ah?” tanya Sooyoung noona tidak nyaman. Mungkin firasatnya sudah tidak enak melihat kondisiku yang sudah benar-benar parah. Mataku bengkak dan merah, rambutku sudah acak-acakan dan wajahku, aku yakin 100% pasti kelihatan seperti seorang ELF yang habis diludahi satu per satu oleh member super junior.

“Seohyun… Dia sudah… ” aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku, tetapi yang lainnya menatapku, memohon untuk melanjutkannya. Aku menarik napas dalam “dia sudah menjadi malaikat.” kataku akhirnya. Aku tidak sanggup berkata ‘meninggal’, ‘wafat’, atau ‘pergi ke surga’

“Loh… dia kan memang malaikat?” kata sooyoung polos. Tapi, tidak ada yang meresponnya. Noona yang satu ini jalan pikirnya memang lambat.

Taeyeon noona menangis. Begitu pula dengan yoona dan ssica noona. Kyuhyun membisikan sesuatu pada sooyoung noona, mungkin memberitahu arti dari ‘sudah menjadi malaikat’ karena seketika wajah sooyoung noona langsung sedih dan menangis.

Mereka semua masuk ke kamar Seohyun. Kecuali aku. Aku tidak sanggup lagi melihatnya. “Sabar, minho-ah.” kata yoona noona mencoba menghiburku, padahal dia sendiri juga butuh hiburan dilihat dari wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

Author POV

Mereka ber-8 masuk ke kamar Seohyun, melihat sahabat maknae mereka itu sedang berbaring dengan tenang. Orang yang tidak tau mungkin menganggap dia tertidur, karena wajahnya begitu damai. Benar-benar seperti malaikat.

Mereka semua menangis. Termasuk kyuhyun, yang mungkin terakhir menangis saat umur 6 tahun. “Seohyun-ahh…” panggil Taeyeon lirih sambil menggenggam tangan Seohyun.

“Kalau saja aku tidak ceroboh waktu itu…” sesal Ssica sambil menangis. Sooyoung menenangkan ssica. “Seohyun-ah, istirahatlah yang tenang. saranghae…” ucap Yoona.

“Seohyun-ah, saranghae…” koor yang lain dengan sedih.

Nde. Seohyun-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Ada atau tidak ada, kau akan selalu tetap di hati kami sebagai seorang sahabat yang baik. Seorang dongsaeng terbaik yang pernah kami kenal. Yang baik hati, polos, dan tulus. Seobaby kami yang kami cintai.

Taeyeon langsung menelepon Leeteuk setelah dia sudah tidak menangis lagi. Dia dan Jessica menangis selama 4 jam tanpa henti.

“Yobeoseyo? Oppa? Aku… ada kabar buruk.” kata Taeyeon. “Ngg… Seohyun. Dia… sudah…” Taeyeon menarik napas lalu melanjutkan “pergi.” kata Taeyeon akhirnya, mencari kata-kata yang paling tepat. “Annio. Bukan pergi seperti itu. Dia sudah pergi. Meninggalkan kita semua. Meninggalkan dunia ini.” kata Taeyeon akhirnya dengan air mata yang mulai mengalir lagi.

Sooyoung menyodorkan tisu yang langsung disambar oleh Taeyeon. Setelah menceritakan kejadiannya pada Leeteuk, dia mematikan sambungan teleponnya.

“Leeteuk oppa sangat terkejut. Dia sangat syok” cerita Taeyeon mengenai respon Leeteuk. Mereka semua terdiam. Masih syok dan sedih dengan kejadian Seohyun tadi. Bahkan, Sooyoung dan Kyuhyun pun terdiam.

“Ahjussi…  ahjumma.. ngg, kami semua turut berduka cita.” kata Donghae mewakili teman-temannya mengucapkan bela sungkawa pada orangtua Seohyun keesokan harinya saat pemakamannya.

Agak aneh memang berkata seperti itu, mengingat mereka semualah, atau Minho lebih tepatnya yang menyaksikan detik-detik terakhir hidup Seohyun.

Mereka semua menangis sepanjang pemakaman Seohyun itu. “Ada yang ingin disampaikan dari orangtua Seo Joohyun?” tanya pendeta.

Omma-nya seohyun maju, dengan mata merah dan berkaca-kaca “Kami tidak sempat minta maaf padanya, karena tidak punya waktu untuknya. Untuk selamanya, dia akan menjadi anak kesayangan kami. Banyak yang ingin aku sampaikan. Tapi….” kata-katanya tidak dilanjutkan karena tangisannya meledak lagi.

“Dari kerabat dekat Seo Joohyun?” tanya pendeta lagi. Minho melangkah maju, membuat teman-temannya cukup terkejut.

“Seohyun… adalah sahabat yang paling baik yang pernah kutemui. Dia polos, tulus, dan baik hati. Dia benar-benar seperti malaikat. Kami beruntung, pernah mengenal orang sebaik dia.”

“Mungkin, semua ini salahku. Dia begini karena melindungiku. Mianhae, Seohyun. Tapi, kau harus tau. Kami semua sangat menyayangimu. Kau adalah dongsaeng terbaik. Saranghae, seororo.” ucap Minho diiringi derai air mata semua teman-temannya.

“Jadi kau! Kau penyebab kematian Seohyun! Enyah kau dari sini! Ini semua salahmu!” seru omma-nya seohyun sambil mendorong Minho. Plak! Tamparan keras dari appa-nya seohyun mendarat dengan mulus di pipi Minho.

“Kau… kau yang sudah menyebabkan ini semua! Seharusnya Joohyun masih hidup, masih bersama kami! Seharusnya kau yang mati!” seru appa-nya seohyun dengan geram.

“Jangan! ini bukan salah Minho. Ini salahku.” seru Jessica, berdiri di depan Minho. “Kalian semua! Kalian semua ini sama saja! Mengakunya sahabat? Cih! Padahal, gara-gara kalian lah Seohyun seperti ini!” seru omma-nya seohyun.

“Mianhae, ahjumma. Tapi, setau kami, kami ini sahabat yang cukup baik untuknya. Karena kami ada, saat dia membutuhkan kami. Kami selalu ada untuknya. Apa kalian begitu?” kata DOnghae dengan tenang.

“Kurang ajar sekali, kau! Pergi kalian dari sini!” usir appa-nya seohyun dengan kasar. “Annio. Aku masih ingin melihat seohyun.” rengek minho.

“Cih, kau tidak pantas tau! Sana, pergi!” ucap appa-nya seohyun sambil mendorong Minho yang membuatnya terjungkal ke belakang.

“Dasar ahjussi kolot” omel Taeyeon saat mereka berjalan dengan gontai pulang ke apartemen mereka. Mereka melewati kamar Seohyun yang sudh kosong sekarang, sekosong hati mereka melihat kamar itu.

4 bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Mereka semua sudah bisa merelakan Seohyun, yah… kecuali Minho.

Donghae POV

Aku dan Jessica sedang berjalan-jalan di sekitar apartemen kami, yang akhir-akhir ini sudah menjadi hobi aneh kami. Aku masih belum bisa menyayanginya setulus aku menyayangi sooyoung dulu, tapi aku berusaha.

“Oppa, chakkaman. Aku ke toilet dulu ya.” kata Jessica. Aku mengangguk dan dia langsung terburu-buru pergi ke toilet. Aku selalu heran, mengapa para wanita gemar sekali berlama-lama di tempat bau itu.

Aku melihat Sooyoung sedang duduk di bangku, hmm.. sebenarnya bukan bangku juga sih. Itu adalah pagar pembatas tanaman dari keramik yang bisa digunakan untuk duduk. Dia sedang mendengarkan musik dengan headphonenya sambil membaca buku.

Cantik. Aku sangat suka memandang wajahnya saat sedang serius. Benar-benar cantik. Tumben sekali dia tidak bersama Kyuhyun padahal hari ini hari Minggu. Mungkin Kyuhyun sedang ada job.

“Hei, Sooyoung,” panggilku sambil menghampirinya. “Eeh… oppa?” ucapnya terkejut melihatku yang ada di depannya tiba-tiba.

Aku mengambil tempat dan duduk di sebelahnya. “Kau baca apa?” tanyaku basa-basi, bingung harus berbicara tentang apa. Tapi, dia tidak menjawab dan hanya melongo menatapku. Harus kuakui, dia ini… kyeoptta xD

Aku melepaskan headphone-nya. “Kau baca apa?” ulangku lagi. “Eeh… mianhae,oppa. Aku lupa lagi pakai headphone. Hm, aku juga tidak mengerti sih. Judulnya ‘How a girl thought herself about loneliness’  Aku sedang berusaha mengerti. Soalnya ini dibelikan Kyu oppa.” jelasnya

Aku manggut-manggut. HYYUUUHH… angin berhembus dengan kencang. Pergantian musim dingin ke musim semi memang seringkali banyak angin.

Angin kencang itu mengacak-acak rambutku, dan membuat rambut Sooyoung juga berantakan. Entah kenapa, melihat rambutnya yang tertiup angin itu membuatnya.. mm, entahlah, tambah cantik.

“Aduh, mataku kelilipan…” keluh Sooyoung hendak mengucek matanya. “Eeh, jangan dikucek. Nanti justru iritasi ” kataku padanya.

“Habis gimana? Perih nih” keluhnya sambil memejamkan mata. “Yasuda, sini aku tiup saja.” kataku, lalu berdiri dan membungkuk agar posisi wajahku berhadapan dengan wajahnya.

“Cepat, oppa…” katanya. Wajah kami sangat berdekatan. Aku bahkan bisa merasakan napasnya yang hangat mengenai wajahku. Timbul hasrat untuk menempelkan bibirku ke bibirnya yang lembut. Tapi, hasrat itu kutahan.

“Oppa, cepatlah! Perih tau..” keluhnya, membuyarkan semua lamunanku. “Bagaimana bisa kalau kau memejamkan mata seperti itu? Babo!” kataku.

Perlahan, dia membuka matanya, dan cepat-cepat aku meniupnya. FUUUHH… “Nah, bagaimana?” tanyaku, langsung duduk kembali di sebelahnya, tidak mau terlalu lama melihat wajahnya dari dekat yang hanya membuatku semakin berdebar.

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Sudah… gomawo, oppa.” katanya sambil tersenyum. Ah, Choi Sooyoung… aku masih sangat menyukaimu, annio… mencintaimu. Bahkan walaupun ada Jessica, eh… mana Jessica? Kok tidak balik-balik dari WC? Apa dia ketiduran di WC?

Jessica POV

Aku buru-buru kembali dari WC ke tempat Donghae oppa, tidak mau dia menunggu lama. Tapi, aku tidak menemukannya ti tempat tadinya dia berdiri.

Aku melihat sekeliling dan melihatnya duduk di sebelah Sooyoung. Aku hendak menghampirinya tapi tiba-tiba, aku melihatnya membungkuk ke arah sooyoung dan… menciumnya!

Aku sedih. Sangat sedih. Hatiku hancur dan air mataku bercucuran. Aku memang bodoh, berpikir kalau donghae suatu saat akan mencintaiku, seperti yang dikatakannya. Padahal, tidak akan.

Yang sicintainya hanya sooyoung, dan aku tau itu. Bodohnya, aku masih saja mengejar-ngejarnya, padahal cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Aku berlari pergi, tidak mau lagi melihat pemandangan yang menyakitkan hatiku itu.

Aku berlari sambil menangis, tanpa tau kemana arahku berlari. BRUK! Aku menabrak seseorang. PRAK! Bunyi sebuah benda jatuh “ssica-ah?” panggil orang yang kutabrak tadi sambil membungkuk mengambil benda, yang ternyata sebuah biola yang jatuh karena kutabrak.

“Eh.. mianhae, changmin-ah.” kataku sambil mengusap air mataku. Dia tertegun “kenapa kau menangis?” tanyanya. “Aku…” aku memutuskan untuk menceritakannya pada changmin. Menceritakan sesuatu membuatku merasa lebih tenang.

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan menghiburmu” katanya sambil mengusap air mataku. Changmin memang benar-benar baik. “Aku sendiri pun, sedang ada masalah dengan yoona.” gumamnya pelan.

Dia memainkan biolanya. Melodi-melodi indah dimainkannya. Lagu ini sangat kukenal. Aku bernyanyi diiringi permainan biola changmin.

Orang-orang berdatangan menyaksikan kami. Aku terhanyut suasana, terus bernyanyi memperdengarkan suaraku yang merdu dipadu permainan biola changmin yang patut diancungi jempol.

Plok plok plok! Orang-orang itu bertepuk tangan setelah lagu ini selesai. Beberapa bahkan bersiul dan bahkan ada yang sampai memberi uang segala.

“Lagu ini, kupersembahkan untuk yeoja yang ada di sampingku ini, Jessica Jung!” umum Changmin, lalu memainkan nada-nada indah lewat gesekan biolanya. Musik memang ajaib. Tidak hanya menghiburku, tapi bahkan juga menghibur semua orang yang sedang memperhatikan kami.

Aku juga sangat mengenali lagu yang sedang dimainkan Changmin. Lagu romantis yang berkisah tentang seseorang yang sedang jatuh cinta. Lagu tentang indahnya cinta “saranghae, yoona-ah…” gumamnya pelan sambil memainkan biolanya. Aku tersenyum. Cintanya pada Yoona begitu besar sepertinya. Semoga saja masalahnya dan Yoona  cepat selesai.

Orang-orang kembali bertepuk tangan dengan riuh. “Cuit… cuit…” siul seseorang. Changmin melihat sekelilingnya. “Apa kau melihat Yoona?” tanyanya. Aku membantunya mencari yoona di antara kerumunan orang itu, tapi aku tidak melihatnya.

Tapi, ah itu dia! Dia sedang menghampiri kami. “Yoona-ah…” panggil changmin tapi.. PLAK! Dengan wajah merah karena marah dan mata yang berkaca-kaca, Yoona menampar changmin.

TBC

Kenapa Yoona menampar changmin?

Bagaimana dengan Donghae dan Jessica?

Tunggu lanjutannya di part 6~ kekeke

oh iya, reader… minta saran dong. Author lagi bikin project FF baru tentang cinta segiempat gitu. Ini berdasarkan mimpi author loh… tapi author bingung, cast-nya mau siapa. kalo ada yang mau request ato kasih saran, silahkan comment 🙂

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Sesampainya di rumah sakit, Seohyun langsung dibawa ke UGD. Taeyeon dan Changmin langsung ke rumah sakit begitu mendengar berita tentang Seohyun. Mereka ber-9 menunggu dengan cemas.

“Ini salahku.” gumam minho. “Annio. Ini salahku yang terlalu ceroboh. sahut ssica yang kelihatannya masih syok. “ya! Berhentilah menyalahkan diri kalian sendiri! lebih baik kita doakan seohyun sekarang.” ucap Taeyeon.

Author POV

Mereka menunggu kurang lebih selama 3 jam. Akhirnya, seorang dokter yang merawat Seohyun keluar dari ruang UGD. “Dokter, oohtoke?” tanya minho cemas. Mereka semua langsung mengerubungi dokter itu.

Dokter itu mendesah. “Kondisi Seo Joohyun-ssi sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah…” jelas dokter itu. “Kalau begitu, donorkan saja darah!” ujar Kyuhyun.

“Kami akan melakukan yang terbaik. Siapa yang bergolongan darah A disini?” ucap dokternya. Mereka semua saling berpandangan, karena tidak ada satupun dari mereka yang bergolongan darah A.

“ngg, golongan darahku O. Apa bisa?” tanya Sooyoung. (buka buku biologi, O itu donor universal) Dokter itu mengangguk. “Bisa. Ayo, ikut saya.” katanya. Sooyoung lalu mengikuti dokter itu.

2 jam kemudian…

“Aigoo… aku ngantuk sekaliii” ujar ssica sambil menguap. “Tidak puas kau tidur tadi?” sindir Sooyoung. Biasanya, ssica akan membalas, tapi, karena mengingat kejadian tadi, dia hanya tertunduk.

“Ya! onnie-ah, mianhae… aku hanya bercanda kok.” ujar sooyoung melihat ssica yang tertunduk. ssica hanya membalas dengan senyum kecut.

Dokter keluar sekali lagi dari ruangan itu. Wajahnya terlihat lelah dan sedih. Semuanya langsung mengerubutinya. “Seo joohyun-ssi mengalami luka yang cukup dalam. Kami harus mengoperasinya. Tapi, resikonya cukup tinggi. Tapi kalau tidak dioperasi akan membahayakan nyawanya.” terang dokter itu.

“Chakkaman. akan kutelepon orangtua seohyun.” kata leeteuk sigap sambil langsung menelepon orangtua seohyun.

“Yeoboseyo? Mianhamnida, ahjussi mengganggu malam-malam begini. Ini mengenai seohyun. Dia harus dioperasi karena lukanya cukup dalam. Oohtoke, ahjussi?” terang leeteuk dengan cepat. Akhirnya, leeteuk mengangguk lalu menutup teleponnya.

“Orangtua Seohyun menyetujuinya. Masalah biaya mereka akan mengurusnya.”

Dokter itu mengangguk, memanggil beberapa suster lalu masuk lagi ke ruangan untuk mengoperasi Seohyun.

“Kalian tidak pulang saja?” tanya Taeyeon, melihat wajah teman-temannya yang sudah kelelahan. “Nde. Biar aku dan Minho yang menjaga Seohyun.” kata Leeteuk.

“Mana bisa. Kami semua akan menunggu Seohyun.” ujar Yoona dengan mantap.

7 jam kemudian….

“Ngg.. permisi.” kata-kata itu berhasil membangunkan leeteuk yang memang mudah untuk bangun tidur, tidak seperti jessica.

“Wae, suster?” tanya Leeteuk pada suster yang membangunkannya. “Ada yang dokter ingin bicarakan. Silakan ke ruangannya.” terang suster itu.

Leeteuk menoleh melihat teman-temannya masih tertidur sangat pulas lalu mengangguk dan mengikuti suster itu.

“Annyeonghaseo. Ada apa dok?” tanya Leeteuk, penasaran dan cemas.

“Ehm, Operasi berjalan dengan cukup baik. Tapi, sayangnya, Seo Joohyun-ssi sedang ehm, koma.” kata dokter itu tanpa basa-basi.

“Mwoerago? Koma? Berapa lama?” tanya Leeteuk terkejut. Dokter itu menggeleng. “Saya tidak tau. Mungkin hanya beberapa minggu, tapi bisa juga untuk beberapa tahun.” kata dokter itu.

“Tapi.. seohyun pasti selamat kan?” tanya leeteuk lagi harap-harap cemas sambil menekankan bagian ‘pasti’. Dokter itu menggeleng lagi. “Entah. Saat pasien koma, saya tidak bisa memastikan keadaannya.” jawab dokter itu yang membuat leeteuk lemas.

Leeteuk berjalan dengan gontai kembali ke tempat teman-temannya. “Ah, itu dia! Leeteuk oppa! Kau dari mana?” tanya taeyeon yang langsung menghampiri leeteuk.

“Tadi aku habis ke tempat dokter.” kata leeteuk. “Ada apa?” tanya minho melihat wajah leeteuk yang sedih.

“Seohyun. Dia… koma.” kata Leeteuk. “Mwoo???” koor semuanya kompak. “Ada apa sih? Berisik sekali?” ucap Jessica sambil menguap, tampaknya dia baru bangun tidur.

“Berapa lama?” tanya Changmin, mengabaikan Jessica. Leeteuk hanya mengangkat pundaknya. Dengan kompak, semuanya duduk kembali dengan lemas.

“Ya! Ada apa sih? Donghae oppa, ada apa?” tanya Jessica, cemberut karena dicuekin.

“Seohyun koma.” jawab Donghae. Jessica menunduk sedih. Mungkin dia merasa bersalah. “Ini bukan salahmu kok.” ujar Donghae sambil mengusap kepala Jessica.

Minho beranjak dari kursinya. “Mau kemana minho-ah?” tanya Yoona. “Menjenguk Seohyun.” jawab minho singkat. “Chakkaman! Aku ikuuuuut!” seru Sooyoung dan Yoona yang mendapat peringatan “mohon tenang, ini rumah sakit” dari suster.

Minho POV

Aku berjalan menuju ruangan Seohyun. Haah… Seohyun.. kenapa jadi begini? Kenapa kau jadi seperti ini? Seharusnya kau tidak perlu melindungiku. Seharusnya, aku yang sedang berbaring disana, bukan kau.

“Yoona-ah, apa kita biarkan dulu saja minho berdua dengan seohyun?” bisik Sooyoung noona, yang kedengaran jelas olehku. “Nde. Kita keluar saja yuk.” bisik Yoona noona yang juga, kedengaran olehku.

Aku duduk di samping ranjang seohyun, menatap wajahnya yang pucat dan tidak bergerak. “Seohyun-ah…” panggilku, seperti orang bodoh karena tentu saja, dia tidak akan menjawab.

“Kau tau? Saat kau tertusuk di depan mataku, jantungku seakan berhenti berdetak.” Aku lanjut berbicara, entah kenapa. Padahal aku tau seohyun takkan mungkin mendengarkanku.

“Aku sangat khawatir. Takut, cemas, semua menjadi satu. Apalagi melihatmu seperti ini. Aku sangat sedih. Seakan aku yang terluka lebih parah darimu. Aku sejenak melupakan semuanya bahkan yoona noona saat aku berada bersamamu dan mengkhawatirkanmu.”

“Hanya kau yang ada di pikiranku. Kepalaku dipenuhi dengan ‘bagaimana keadaanmu’. Apa mungkin… aku menyukaimu? Dan telah melupakan yoona noona?”

“Kenapa? Kenapa perasaan ini terlambat kusadari… Saat kondisimu sudah begini. Aku baru menyadarinya. Minho babo!”

“Tapi… seohyun-ie… aku berjanji. Aku akan menunggumu. Menunggumu sadar dan saat itu akulah yang akan kau lihat pertama kali. Mau ini penantian terakhirku, aku akan terus menunggumu.” ucapku lalu mencium keningnya dengan lembut.

Seohyun-ah, saranghae….

End of POV-

1 bulan kemudian…

“Seohyun-ah. Oppa akan wamil hari ini. Kau baik-baik ya. Dan cepat sembuh.” kata Leeteuk pada seohyun yang masih koma.

Hari ini Leeteuk akan mulai wamil, yang tidak direlakan begitu saja oleh sahabat-sahabatnya karena Leeteuk sudah seperti kakak bagi mereka semua dan leader mereka, yang selalu siap kapanpun mereka membutuhkannya. Bahkan Taeyeon sampai menangis, membayangkan hari-harinya tanpa Leeteuk.

“OPPAAAA…” rengek taeyeon sambil memeluk kekasihnya itu. “Sudahlah, Taeyeon-ah. Aku kan pasti kembali.” kata Leeteuk sambil mengecup kening taeyeon.

“Nah, aku pergi ya.” kata Leeteuk, yang lagi-lagi dicegah. Sudah 3 kali Leeteuk beranjak pergi dari rumah sakit untuk memulai wamilnya yang memang diwajibkan untuk semua namja si Korea yang umurnya beranjak 30 dan untuk 3 kali juga dia dicegah.

Kali ini, dia dicegah oleh pelukan hangat Sooyoung, Taeyeon, Yoona, dan Jessica. Mau tak mau, Leeteuk membalas pelukan yeoja-yeoja manja ini.

“Lee Donghae!” panggil Leeteuk. “Wae hyung?” tanya donghae penasaran.

“jaga mereka semua selagi aku tidak ada.” jawab Leeteuk yang disambut anggukan mantap dari donghae. “Kenapa tidak menyuruhku?” tanya Kyuhyun sewot. “atau aku?” timpal Changmin.

“Mwo?? Kalian? Tidak, terimakasih! Apalagi kau, cho kyuhyun! Bisa-bisa kau mengorbankan mereka semua untuk bermain game winning eleven sepuasmu.” jawab Leeteuk.

“Enak saja! Tidak akan pernah kok. Kecuali mungkin kalau game warcraft.” jawab Kyuhyun polos yang disambut tempelengan dari Sooyoung.

“Oh, jadi kau lebih memilih game daripada aku? Daripada kami?” tanya Sooyoung sambil mendelik pada Kyuhyun. “Eeh? Annio. Tidak mungkin lah. Aku pasti memilihmu~” gombal Kyuhyun sambil mencubit pipi Sooyoung.

“Nah, bolehkah aku pergi sekarang?” tanya Leeteuk setengah memohon, berharap teman-temannya tidak menahannya lagi. Bukannya dia ingin cepat-cepat pergi. Tapi, cepat atau lambat, toh dia harus pergi kan?

“teukkie oppa!” panggil Taeyeon saat Leeteuk sudah hendak keluar dari rumah sakit. “Wae-yo?” tanya Leeteuk sambil menghampiri pacarnya yang amat disayanginya itu.

“Saranghae.” kata Taeyeon sambil tersenyum. “Na do saranghae. Jeongmal jeongmal saranghae.” jawab Leeteuk lalu mencium bibir Taeyeon dengan lembut, yang dibalas dengan lembut juga oleh Taeyeon.

“berjanjilah. Saat aku kembali nanti, kaulah yang kulihat pertama kali, taeng.” kata Leeteuk. “Nde oppa. Aku janji.” jawab Taeyeon dan menghambur kedalam pelukan Leeteuk. Setelah melepas pelukannya, akhirnya leeteuk pergi.

“Huaaa… Leeteuk oppa, boghosippooooo~” seru Taeyeon sambil mengaduk-aduk adonan kuenya dengan sekuat tenaga menyebabkan bentuknya menjadi tak karuan.

Sooyoung dan Yoona saling pandang, sepakat shikshins itu tidak akan memakan kue buatan Taeyeon. “Dia kan baru pergi 2 jam yang lalu, noona.” komentar Changmin.

“Biarkan saja, oppa. Dia memang begitu.” kata Yoona. “Sooyoung-ah, Kyuhyun-ah. Aku membuat game baru loh.” kata Donghae yang langsung dihampiri oleh game maniacs, Sooyoung dan Kyuhyun.

“Game apa?” tanya Kyuhyun antusias. “Mudah saja. Lakukan saja apa yang diperintahkan. Seperti menembaki musuh, memanjat tebing, dance, dan lain-lain. Score-nya disimbolkan sebagai cinta. Yang score-nya paling tinggi, berarti yang cintanya paling besar.” jelas Donghae.

“tentu saja, cintaku lebih besar.” PD Kyuhyun. “Enak saja! Jelas cintaku yang lebih besar!” kata Sooyoung tak mau kalah. “Ini, buktikanlah.” kata Donghae memberi sebuah kaset game yang langsung diperebutkan Sooyoung dan Kyuhyun.

“Dasar pasangan yang aneh.” kata yoona. “Kita juga coba yuk game itu.” kata changmin. “Oppa suka main game?” tanya yoona sedikit terkejut karena setaunya, changmin tidak begitu menyukai game. Dia menggeleng “hanya penasaran saja.” jawabnya.

“Hmm.. minho mana?” tanya ssica menyadari minho tidak ada bersama mereka di kamar Taeyeon. “Dia sedang menjaga seohyun.” jawab donghae.

“Dia setia sekali ya. selalu menunggu Seohyun.” komentar taeyeon, yang sedang membuat kue dan sudah tidak merengek-rengek lagi.

“Nde. Aku iri padanya. Bisa sabar begitu menunggu seseorang.” kata ssica sambil menatap jendela memandangi langit yang cerah dan tidak berawan.

“Kau memangnya sedang menunggu siapa?” tanya Changmin. “Seseorang” hanya itu jawaban ssica.

”Oppa! jangan curang dong!” seru sooyoung sambil memukul pelan kyuhyun. “wee… biar. merong~” kata kyuhyun sambil melet dan mencium pipi sooyoung. “ih, oppa!” sooyoung semakin tidak bisa berkonsentrasi dan balas mencium kyuhyun yang membuatnya juga tidak bisa konsentrasi.

“Aku… ingin keluar sebentar ya.” kata donghae melangkah keluar. “Aku juga mau keluar.” kata ssica sambil melangkah keluar juga.

“Jessica noona sudah seperti ekor donghae hyung saja.” kata changmin. “Nde. Aku punya firasat dia menukai donghae.” kata yoona memasang tampang detektif.

Donghae POV

“Oppa!” panggil jessica. Cepat-cepat aku ubah wajah sedihku menjadi gembira. “Wae, ssica-ah? Kok kau mengikutiku?” tanyaku padanya.

“Kau masih belum bisa merelakan sooyoung kan?” tanyanya to the point. Aku terkejut. Jangan-jangan Jessica bisa membaca pikiran orang lain. “eeh.. aku…” aku berusaha mengelak tapi tatapan dari seorang ice princess hanya membuatku gugup dan terdiam.

“Kau pasti sangat sedih ya? Luapkan saja semuanya. Aku mau mendengarkan kok.” katanya sambil tersenyum yang tidak menghilangkan image-nya sebagai ice princess.

“Aku.. memang masih menyukai sooyoung. Melihatnya bahagia bersama kyuhyun terkadang membuatku sakit. Memang menyakitkan melihat orang yang kita cintai bahagia dan yang membuatnya bahagia bukan kita, tapi orang lain.” kataku sambil medesah. “Tapi setidaknya, dia bahagia.” lanjutku.

Payah, air mataku nyaris keluar. Entah kenapa, aku nyaman saat menceritakan semuanya ini ke jessica. Aku merasa dia pasti bisa mengertiku.

“Oppa, lupakanlah dia.” katanya yang membuatku terkejut. “Ada seorang yang menunggumu.” tambahnya lagi. Aku menoleh ke arahnya tapi dia tidak sedang menatapku.

“Mwo?” tanyaku heran. “Oppa…” panggilnya lalu menatapku. Tatapannya itu sedikit membuatku gugup.

“saranghae…” katanya sambil mendesah. “Ah, akhirnya kukatakan juga. Aku sudah tidak sanggup menahannya. Aku memang tidak sabar menunggumu. Menunggumu yang terus saja menatap sooyoung dengan tatapan sayang. Aku tidak kuat memendam perasaan ini.” jelasnya sambil menunduk.

“Ssica-ah…” kataku tapi dipotong olehnya. “Aku tau, kau tidak akan mungkin menyayangiku, seperti yang kau lakukan pada sooyoung. Tapi, aku bersedia menunggu. Berilah aku kesempatan, oppa. Untuk menghiburmu, menemanimu, dan tempat kau mencurahkan isi hatimu. Aku akan menunggu.” katanya.

Yeoja ini… aku memang menyayanginya, yang mungkin hanya sebatas sahabat. Tapi, menerima cintanya hanya akan membuatnya sakit.

“Mianhae ssica. Ini semua hanya akan menyakitimu.” kataku. Dia menggeleng “Aku tidak apa-apa kau jadika pelampiasan. Ijinkan aku yang mengusap air matamu saat kau sedih. Aku tidak apa-apa. Jeongmal. Selama aku bisa bersamamu.” katanya yang membuatku terharu. Aku terlalu memusatkan pikiranku pada sooyoung sehingga membuatku buta, tidak melihat bahwa ada yeoja yang begitu mencintaiku.

Aku merengkuh jessica. Tubuh mungilnya itu kutarik masuk ke dalam dekapanku. “Gomawo, ssica-ah. gomawo. Tunggulah aku. Suatu saat nanti, bukan sekarang, aku pasti akan mencintaimu. Mencintaimu seorang. Tunggulah.” kataku padanya. Nde, tunggulah saat itu tiba.

-End of POV-

Donghae dan Jessica kembali ke kamar Taeyeon sambil bergandengan tangan yang disambut heboh semuanya, siulan changmin, teriakan taeyeon, Cieee dari yoona, dan lain-lain.

“Bagaimana hasil score-nya?” tanya donghae pada kyuhyun melihat sooyoung sudah duduk manis bersama yoona melahap kue buatan taeyeon (padahal tadinya katanya gak mau dimakan)

“Kami seri.” kata kyuhyun. “Nah, ssica-ah. Bagaimana kalau kita yang main sekarang?” ajak donghae, yang walaupun dia tau, cinta jessica pasti lebih besar darinya.

“Tapi… aku dan changmin oppa juga mau main!” protes yoona tapi tetap duduk diam dan menyuapi changmin sepotong kue. “Sooyoung-ah, aku juga mau seperti changmin.” rengek kyuhyun manja.

Sooyoung menyuapi kyuhyun segumpal kue besar yang entah muat di mulutnya atau tidak. “Kalian kan masih sibuk dengan kue yang kurang meyakinkan itu.” Taeyeon medelik pada donghae “eeh… tentu saja maksudku enak. Jadi, aku dan Jessica duluan ya.” kata donghae

Ringdingdong ringdingdong gididingdingding . HP Donghae berbunyi. “Yeoboseyo? Minho-ah?” tanya donghae.

“Mwo?? Ada apa dengan seohyun?” tanya donghae cemas. Yang lainnya menghentikan aktivitas mereka dan menatap donghae dengan tatapan apa-yang-terjadi.

“Arasso. Kami akan segera kesana.” kata donghae. Wajahnya pucat. “Wae-yo? Seohyun kenapa?” tanya ssica cemas. “Apa kata minho tadi?” tanya taeyeon.

“Seohyun-ah. Dia……”

TBC

hehe, masih belum ketauan nih gimana keadaan seohyun. sengaja auhtor bikin penasaran. Disini kurang banyak skandalnya. Di part 5 yang author banyakin skandalnya. kekekeke

Don’t forget comment yah  reader2ku tercinta… hehe 😀