Posts Tagged ‘Kyungsan’

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

“Emm.. ini yeoja chinguku.” kata Minho sedikit malu-malu. “Mwo? Wahh!” seru Sooyoung kaget. Kyuhyun juga terkejut, menatap yeoja yang berdiri malu-malu di belakang Minho.

Eh, ternyata… tak lain tak bukan yeoja chingunya Minho adalah aku! Author ff ini!  kekeke. Andwae… author just kidding

“Annyeong haseo. Jung Soo joung imnida. panggil saja Krystal” kata yeoja itu. “Krystal!!” seru Sooyoung kaget. “Eeh?” Krystal bingung, karena dia merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

“Aigoo… kau lupa padaku? Aku Choi Sooyoung. Kau adiknya Jessica kan?” kata Sooyoung bersemangat. Anaknya, kyungsan juga ikut-ikutan bersemangat dan bertepuk tangan (?)

Krystal tampak mengernyit dan berpikir sebentar. “Ahh! Sooyoung onnie! Aku ingat!” seru Krystal lalu memeluk Sooyoung. “Kalian saling mengenal?” tanya Minho heran.

“Minho-ah! Kita semua kan pernah bertemu di pernikahannya Donghae dan Jessica.” kata Sooyoung. “Benarkah? Aku tidak benar-benar memperhatikan” ujar Kyuhyun. “Yah… sebelumnya aku dan krystal juga sudah pernah bertemu” tambah sooyoung.

“Baguslah, minho. Kalau kau sudah bisa melupakan seohyun” kata Kyuhyun sambil tersenyum pada dongsaengnya itu. “Haha. aku tak pernah bisa melupakannya. Tapi, setidaknya aku sudah bisa melanjutkan hidupku” kata Minho pahit sambil merangkul Krystal.

New Jersey, USA, 16 March 2014

Changmin POV

“Max! Go home right now! I need to tell you something. (Max, pulang sekarang! Aku ingin memberitaumu sesuatu)” kata Appaku lewat telepon.Aku hanya menjawab “iya” lalu menutup teleponnya.

Aku sudah menjadi direktur perusahaan Shim enterprise, padahal usiaku baru 26 tahun. Aku menjadi pengusaha yang sukses dan menjadi namja impian para wanita.

Sudah lama sekali aku tidak mengontak Yoona. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir, yang kutau, dia sudah menyusulku ke Amerika. Tapi, aku kesulitan menghubunginya. Aku hanya berharap keajaiban dan takdir bisa membawa kami bersama lagi.

“Wanna go home, Mr. Shim? (mau pulang, tuan shim?)” tanya Paul, manajer perusahaanku. “Yes, Paul. As I don’t have any meeting today, please handle this company while I am not here and call me if there’s any problem (Iya, paul. Aku tidak ada pertemuan hari ini, tolong urus perusahaan sementara aku tidak disini dan telepon aku jika ada masalah)” kataku pada pegawai kepercayaanku itu. Dia mengangguk lalu aku masuk ke mobil limusinku dan mengendarainya pulang.

“Wae-yo, daddy?” tanyaku. Walaupun tinggal di Amerika, aku tidak pernah mencoba untuk melupakan bahasa Korea. Appa menengok ke arahku. Dari ekspresinya tampaknya dia bahagia.

“Guess what, son? Parker advertising! That fabulous company. Mr. Parker agree my idea to make you and her daughter get married. It will affect our company much (Tebak, anakku? Periklanan Parker! Perusahaan yang keren itu! Tuan parker menyetujui ideku untuk menikahkanmu dan anak perempuannya. Ini akan mempengaruhi perusahaan kita)

Aku terdiam membeku di tempatku. What? It isn’t a good idea at all! (Apa? Ini bukan ide yang baik!) “I don’t want, pa. Sorry. (Aku tidak mau, pa. Maaf)” kataku menolak.

“Oh, you can’t refuse. It’s not a choice. You have to. (Oh, kau tidak bisa menolak. Ini bukan pilihan. Kau harus)” kata appa dengan enteng. Aku marah dan kesal.

Selama ini, apa yang diinginkan appa selalu kuturuti. Tapi, soal pasangan hidup, aku dan hanya aku yang berhak menentukan, karena… yang bisa mendampingiku hanya Im Yoona seorang!

“I DON’T WANT! Terserah kau mau mengusirku, mencoret namaku dari ahli waris! Aku tidak peduli! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai DAN itu sudah bisa dipastikan bukanlah anak dari Mr. Parker!” seruku emosi dan marah-marah dalam bahasa Korea.

Appa menatapku dingin. “Kau harus” katanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya berbahasa korea padaku. Tapi, tetap saja aku kesal lalu pergi keluar dari rumahku yang amat mewah ini, mengendarai mobil sport-ku  tak tentu arah dengan emosi yang meluap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, di depan sebuah apartemen sederhana untuk menenangkan pikiranku. Mengendarai mobil dalam kondisi marah hanya akan membahayakan diriku sendiri.

Byurrrr… Air mengucur membasahi tubuhku dan jok mobilku. Aku menatap ke atas. Langit cerah dan tidak hujan. Rupa-rupanya, ada orang ceroboh yang membuang air atau menumpahkannya, atau apalah, dari lantai atas apartemen ke bawah.

“Sorry. I don’t know if there’s any people down there (Maaf. Aku tidak tau ada orang di bawah)” teriaknya dari atas. Grrr. orang ini… menambah emosiku saja!

“Is it a polite way to apologize to someone by screaming at him? (Apakah sopan minta maaf pada seseorang dengan berteriak padanya?)” kataku, balas meneriakinya. Dia terdiam beberapa saat, lalu kemudian…

“I’m sorry. Really really sorry.(Maaf. sangat sangat maaf)” katanya, berkali-kali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba saja sudah di depanku. Rupanya dia seorang yeoja. Aku mendesah, sudah begitu lelah dan tidak mau menambah masalah lagi.

“Yeah. Never mind. Now stop begging like that (Iya. Tidak masalah. Sekarang berhenti memohon seperti itu)” kataku. Dia menengadahkan wajahnya, dan membuatku terkejut dan terkesiap.

“Yoo… yoona!” panggilku tidak percaya pada sosok yang berdiri di depanku. “Changmin oppa!” serunya, sama kagetnya denganku. Spontan, aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Betapa aku merindukan tubuh mungilnya yang berada dalam dekapanku.

“Oppa… boghosippo yo” katanya sambil terisak. Ah, dia menangis. “Nde. Na do boghosippo” kataku, masih memeluknya. Akhirnya, takdir sudah bertindak dan mempertemukanku kembali dengan goddess-ku ini.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana” katanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum padanya. “Nde. aku juga, chagiya” kataku, mencubit pipinya yang halus.

“Sekarang oppa sudah sangat sukses ya. Aku ikut senang. Dan… aku menepati janjiku. Aku menyusul oppa” katanya ceria, menghapus air mata haru di pipinya. Aku tersenyum padanya yang sangat polos ini. Apa aku harus memberitahu kejadian tadi padanya?

“Yoona-ah…” panggilku halus padanya.

“Wae, oppa?” tanyanya bingung. “Aku…” aku menceritakan semuanya padanya. Dia tampak sangat syok dan terkejut. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku padanya sambil mengernyitkan dahiku bingung. Dia terdiam “Apa… kita memang tidak bisa bersama, oppa?” tanyanya. Aku terkejut dan menatapny, mencengkram kedua bahunya “Andwae! Kita pasti bisa bersama. Kita pasti menemukan jalannya” kataku.

“Ta..tapi..” aku memotong perkataannya dengan menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut. Tidak lama. Hanya beberapa detik, lalu melepas bibirku dari bibirnya.

“Yoona-ah… saranghae. Aku… kita bisa pergi. Pergi dari ini semua. Ayo kita kembali ke Korea. Kita bisa tinggal bersama di apartemen kita dulu. Oohtoke?” tanyaku. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam kepalaku. Yoona kelihatan ragu sejenak. Aku meyakinkannya dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.

Hari itu juga, kami langsung berangkat ke Korea. Aku tidak kembali lagi ke rumahku untuk mengambil barang-barangku. Aku gadaikan mobil sportku, untuk menambah jumlah hartaku supaya cukup untuk nanti, karena yang kubawa hanyalah HP, dompet yang berisi kartu kredit dan sejumlah uang tunai, dan mobilku itu.

Aku dan Yoona bercanda dan mengobrol selama di pesawat. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Walaupun semua karir yang sudah kubangun dari nol akan hancur seketika, aku tidak peduli. Hal yang paling kuinginkan adalah bersama-sama dengan Yoona.

Malamnya, kami sampai di Korea. Kami segera naik taksi menuju ke pinggiran kota Seoul, mencari apartemen yang penuh dengan kenangan indah kami.

“Changmin-ssi? Yoona-ssi? Lama sekali tidak bertemu kalian!” ujar resepsionis apartemen. Rupanya selama 3 tahun, tempat ini pun masih belum berubah sama sekali.

Karena lelah, aku dan Yoona langsung pergi ke kamar kami yang bersebelahan dan tidur dengan sangat nyenyak, untuk menyambut esok. Hari yang baru.

Seoul, South Korea, 17 March 2014

Donghae POV

“Ssica-yah!” panggilku. “Kau tidak boleh bawa barang yang berat! Arraso?” ucapku lagi, mengambil kardus yang sedang dia tenteng. “Ini tidak berat, kok” katanya sambil memanyunkan bibirnya. “Kekeke. Sudahlah. Biar aku saja yang membawanya.” kataku lagi.

Kami pindah ke Seoul hari ini. Memulai kehidupan baru, tinggal di rumah kami sendiri, membentuk sebuah keluarga baru, terlebih…. Jessica sedang hamil! Dia sudah hamil 2 bulan. Aku akan selalu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bocah kecil akan memanggilku ‘appa’.

Aku memandang rumah baruku. Sederhana memang. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan elegan. Aku tersenyum melihat seluruh ruangannya yang akhirnya selesai aku dan ssica rapikan.

Daaan… jarak rumahku ke apartemen kami dulu tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, walaupun akan cukup lelah.

“Hmm, bagaimana kalau kita melihat apartemen kita dulu?” usulku yang langsung ditanggapi persetujuan Ssica dengan semangat. “omo! Aku sangat merindukan tempat itu! Dan merindukan 8 makhluk-makhluk itu” kata ssica girang.

“Nde. Bukankah Minho masih tinggal disitu? Kita bisa mengunjunginya sebentar” kataku. Ssica langsung mengangguk dengan semangat.

Akhirnya, kami sampai di bangunan bertingkat sederhana itu. Bangunan yang penuh dengan kisah-kisah kami. Canda, tawa, tangis, duka, semua kami alami bersama disini. Bangunan yang menjadi awal hidup dan persahabatan kami. Bangunan yang mengajarkan kami tentang kehidupan. Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat dan sangat kurindukan.

Aku mendesah. Flashback ingatan-ingatan masa lalu, tentang kenanganku bersama Jessica, bersama cinta pertamaku, Sooyoung, bersama musuh sekaligus sahabatku, Kyuhyun, bersama hyung yang sangat kukagumi, Leeteuk, dongsaengku Minho, dongsaeng malaikatku yang sudah mendahului kami, Seohyun, perfect couple kami, Yoona dan changmin, dan ahjummaku, Taeyeon.

Ingatan-ingatan itu terbesit cepat dalam kepalaku, menampilkan semacam sepotong-potong peristiwa masa lalu kami, terputar begitu saja dalam otakku seperti sebuah film. Bagaimana kami di mall, bagaimana kami salah paham, bagaimana kami makan bersama, bermain salju bersama, dan menghabiskan malam bersama. Ah, selamanya. Ingatan itu tidak akan pudar dari kepalaku. Walaupun aku amnesia, hatiku pasti mengingatnya jauh lebih baik.

“Aku merindukan mereka” kata Jessica, menghilangkan semua flashback dari kepalaku. Aku tersenyum “Nde. kita semua pasti saling merindukan” ujarku.

Kami masuk ke dalam apartemen itu, disambut dengan pemandangan yang familiar. Bahkan selama 3 tahun, apartemen ini belum berubah. masih sesederhana dulu.

Kami naik ke lantai 5 menggunakan lift, mengingat Jessica harus benar-benar menjaga kandungannya, calon anak kami. Kami mencari sepanjang koridor. Aku tersenyum sendiri saat melewati kamarku dan kamar Yoona, yang juga di lantai ini.

Ini dia. Pintu yang di depannya ditempel kertas putih bertuliskan ‘Choi Minho’ dengan diatasnya terlampir nomor 205. Pintu yang didalamnya terdapat dongsaeng kami, Choi Minho.

Aku mengetuk pintu. “Masuk saja!” itu jawaban dari dalam. Krieeettt… perlahan-lahan aku membuka pintunya, membayangkan seberapa kaget ekspresi minho melihat kami. Tapi, aku salah. Justru, akulah yang sangat kaget, begitu aku membuka pintu kamar Minho.

-TBC-

Apa yang membuat donghae kaget?

Bagaimana kelanjutan kisah Changmin dan Yoona?

wait in part 11 ^^

Advertisements

huaaa… happy valentine all! Tadinya author mau bikin ff spesial valentine… tapi… lagi butek nih otaknya. Jadi, lanjut FR part 9 aja yah ^^ kekeke~ happy reading 🙂

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Horeee… jadi semuanya sudah baikan lagi?” seru Changmin dengan gaya childishnya. Donghae mengangguk. “Ahh… kita jadi berpasang-pasangan begini. Tidak pernah terfikir olehku sebelumnya” ujar Minho.

“Nde. Semuanya jadi rumit begini” timpal Taeyeon. “Sepertinya hanya kau yang belum dapat masalah, onnie” komentar Yoona. “Mwoo? Aku sangat merindukan Teukkie oppa tau! Itu masalah yang sangat besar!” ujar Taeyeon yang hanya disambut gelengan kepala dari teman-temannya.

“Kuharap tidak akan ada masalah lagi. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini” ujar Sooyoung. “Nde. Author jahat banget sih” kata Kyuhyun. “Tau nih. Kalau begini terus, aku keluar saja dari fanfic ini!” ancam Ssica.

“Eeh… jangan nyalahin author dong. Kan ini demi para reader. merong~” ujarku pada tokoh-tokoh fanficku yang menyebalkan (tapi cakep2) ini. “Tapi, kasian sama kami juga dong!” ujar Leeteuk, yang tiba-tiba nongol terus ilang lagi kembali ke wamilnya. (untung bukan Seohyun yang nongol, ntar author juga takut kalo dia tiba-tiba nongol lagi tapi dalam bentuk siluman Keroro #abaikan)

“Nde. Nde. Author kasih konfliknya ngga yang susah-susah banget deh. Oke! Back to your scenes and dialogs guys!” seruku. Mereka semua menurut padaku. kekeke~ (author sekali2 pengen eksis juga dong)

“Ayo pergi ke suatu tempat, merayakan ini!” seru Changmin, yang memang hobi jalan-jalan. “Boleh. Pas sekali hari ini kita semua sedang tidak sibuk” kata Kyuhyun.

Maka, setelah perundingan selama 10 menit, mereka memutuskan untuk pergi ke mall. “Jadi, kita mau kemana sooyoungie?” tanya Kyuhyun. Sooyoung tersenyum dan menjawab “Game center!”

“Ya! Kalian…” tapi kata-kata donghae itu tidak dihiraukan sama sekali oleh KyuYoung. Mereka sudah berlari menuju game center.

“Ssica-ah.. petshop?” tanya donghae, menggandeng tangan Jessica. “Eeh? Tapi kupikir, kau tidak menyukai binatang?” tanya ssica heran. “Yah… memang. Hanya ingin mengulang kenangan saat pertama kali aku menyukaimu” ucap donghae sambil tersenyum. “Saat itu? Saat itu kau sudah menyukaiku?” tanya Ssica terkejut. Donghae tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Sementara itu, pasangan Changmin-Yoona sudah menghilang LAGI! Entah kenapa, mereka selalu saja menghilang berdua saat bepergian dengan sahabat-sahabat mereka.

“Oke. Jadi, kita ditinggal?” tanya Taeyeon tidak percaya pada Minho. Minho mengangkat bahunya “kurasa begitu” katanya. “Dengar, Minho. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Aku sudah mempunyai Leeteuk oppa” ucap Taeyeon serius.

Minho tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia, bahkan sampai beberapa orang di sekitar mereka menatapnya. “Ooh.. aku baru tau kau bisa tertawa sampai seperti itu.” ujar Taeyeon.

“Mana mungkin noona!” seru Minho setelah pulih dari tawanya. “Aku juga sudah mempunyai Seohyun…” ucap Minho sambil tersenyum menerawang. “Yah… aku tau kau sangat mencintainya. Tapi, ada baiknya kau mencari penggantinya” nasehat Taeyeon.

“nde, ahjumma. Kekeke~” ejek Minho. “Ya! Choi Minho! Kau sudah semakin mirip Kyuhyun! Jangan terkontaminasi olehnya” seru Taeyeon sedangkan Minho hanya tertawa.

Kyuhyun POV

Aku dan sooyoung sudah berada di game center lagi, tempat yang penuh dengan kenangan manis aku dan dia. Tempat pertama kali aku mendapat ciumannya. Kekeke.

“Sooyoungie! Yang menang dapat 1 ciuman. Arasso?” tanyaku, mengeluarkan senyum evilku. “Mwo?” tanyanya terkejut. “Oke. Deal. Nah, ayo kita mulai” ujarku lalu kami memulai game street fighter kami.

Hanya terdengar suara keramaian orang yang mengobrol atau melakukan kegiatan lain di sekitar kami, suara jari kami yang beradu dengan keyboard, dan suara dari komputer kami saat kami melakukan tendangan, oukulan, dan semacamnya hingga akhirnya…

“Yeah! Aku menang!” seruku senang, melihat saat fighter-ku menendang fighter sooyoung di detik-detik terakhir. Kuakui, sooyoung semakin hebat dalam bermain games. Tapi, tetap akulah yang paling hebat! kekeke

“Nah, sooyoung!” panggilku padanya yang hanya menatapku pasrah. Aku sudah mendekatkan pipiku ke wajahnya, menunggu bibirnya yang tipis menempel di pipiku.

Tapi, aku tidak mendapatkannya. Aku tidak kecewa. Jelas sangat tidak kecewa! Karena… dia justru menarikku mendekat dan mencium… bibirku. Aku sedikit terkejut, melihat wajahnya tepat di depan wajahku, dan bibirnya yang menempel di bibirku.

Aku balas menciumnya. Kurasa, baru kali ini kami berciuman… tanpa paksaan. Aku tidak menyuruhnya menciumku di bibir loh. Aku hanya berpikir sebatas di pipi saja sudah cukup. Tapi, begini juga tidak apa-apa. Aku lebih senang malah daripada hanya ciuman di pipi.

“Eeh…” aku sedikit gugup dan tidak bisa berkata-kata setelah dia selesai menciumku. Dia hanya tersenyum dengan manis. Aigooo… Tuhan, ajaiblah tanganMu yang bisa menciptakan makhluk seindah yeoja chinguku ini.

Aku mencubit pipinya dengan gemas. “Saranghae, Sooyoung-ah” kataku sambil tersenyum. Rasanya aku bisa mengatakannya seribu kali, memastikan kalau dia tau aku benar-benar sangat mencintainya.

“Na do saranghae, oppa” katanya sambil mengelus pipiku. Aku menggenggam tangannya dan membelai rambutnya. Betapa aku mencintai yeoja ini!

Aku dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yoghurt, tempat changmin dan yoona berada setelah aku mendapat balasan sms dari yoona.

Author POV

“Hei!” sapa Sooyoung pada pasangan itu. Tapi, tampaknya pasangan itu sedang tidak dalam suasana hati sebaik Kyuhyun dan Sooyoung.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun, menyadari wajah mereka yang kelam. Changmin mendesah. “Kau saja yang ceritakan, yoona” kata changmin.

“Tadi… appa-nya changmin meneleponnya.” kata yoona memulai penjelasannya. “Bukannya appa-nya sedang di Amerika? Tumben menelepon?” cetus Sooyoung menyelanya. “Berhenti menyela, onnie” ucap Yoona.

Sooyoung mengangguk dan Yoona melanjutkan ceritanya. “Appa-nya changmin, menyuruhnya pergi ke Amerika besok pagi. Besok pagi! Untuk meneruskan perusahaan Shim enterprise di Amerika” ucap Yoona, berusaha keras menahan air matanya.

“Mwo? Kau akan ke amerika?” seru Kyuhyun tidak percaya. Dengan pandangan sendu, Changmin mengangguk. “Aku tidak bisa menolaknya. Appa memaksaku. Aku pikir, aku hanya akan meneruskan perusahaannya di Korea. Itu tidak masalah selama aku bisa bermain biola. Tapi, ternyata appa tidak menyukaiku bergerak di bidang musik.” kata changmin sambil mendesah.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja oppa. Aku akan ikut kau ke Amerika!” seru Yoona, mengagetkan Sooyoung dan Kyuhyun. Changmin menggeleng “Annio, Yoong. Kau masih harus melanjutkan kuliahmu” kata changmin.

“Aku bisa saja berkuliah di Amerika” kata Yoona ngotot. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. “Kau tidak bisa, yoona. Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka tidak akan setuju” kata changmin, mengusap air mata yoona.

“Tapi.. tapi… aku akan sangat kehilanganmu, oppa” rengek yoona. Changmin mencium pipi yoona. “Aku juga. Pasti. Susullah aku, saat kau sudah bekerja, sudah siap.” kata changmin.

Yoona mengangguk walaupun dengan sedikit ragu. “Nde. Pasti oppa. Tunggu aku.” kata Yoona lalu mereka berpelukkan.

“Ah, oppa. Kami akan sangat merindukanmu” kata sooyoung. “Pertama, Leeteuk hyung, lalu Seohyun, sekarang kau.” desah Kyuhyun.

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan, kyu. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” ujar changmin, tersenyum dengan tegar.

—-

Sooyoung POV

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” kata-kata changmin itu masih terngiang di telingaku. Bahkan setelah kurang lebih 3 tahun sudah berlalu.

Aku merenung, menatap foto 10 orang yang sedang berfoto dengan latar belakang apartemen. Mereka masih sangat muda. Mungkin umur mereka masih belasan, beranjak 20 saat itu. Mereka tersenyum bahagia, seakan mereka tidak akan pernah berpisah selamanya.

Tapi, mereka salah. Mereka akhirnya berpisah, sibuk dengan kehidupan dan jalan mereka masing-masing.

“Sooyoungie…  hei! Aku lapar” kata Kyuhyun, memelukku dari belakang. “Nde. Aku akan membuatkanmu sarapan” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Hei… itu kan foto kita” ucapnya, tersenyum dan mengambil foto itu dari tanganku. “Ah, aku merindukan mereka semua.” katanya. Aku mengangguk. “Aku juga” kataku.

“Omma! Appa!” seru seorang bocah berumur 1 tahun sambil berlari dan memeluk kakiku. “Kyungsan-ah!” seruku lalu menggendongnya. Bocah ini, adalah anakku, dan dia baru saja kemarin bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, Omma dan Appa.

Aku dan Kyuhyun sudah 2 tahun menikah. Kami tinggal di kota Seoul, agak sedikit jauh dari apartemen kami dulu. Terakhir kami kesana, tinggal Minho dan Yoona dan sekarang pun kami dapat kabar kalau Yoona sudah pergi ke Amerika.

Tentang donghae dan Jessica, aku tidak tau banyak tentang mereka. Kami bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, di pesta pernikahan mereka. Setelah itu, kami tidak banyak mendengar tentang mereka.

Tentang Taeyeon dan Leeteuk… ah, aku kembali sedih mengingat mereka. Miris sekali kisah cinta mereka itu. Akupun sudah tidak mendengar kabar mereka lagi. Ah, aku tidak ingin menceritakannya. Terlalu sedih.

Minho? Entah apa kabar dongsaengku itu. Apa dia sudah menemukan pengganti Seororo yah? Seohyun. Ah, aku baru ingat. Sudah tepat 3 tahun hari ini semenjak dia pergi.

“Kyu!” panggilku, sambil menggendong Kyungsan di tangan kiriku dan memasak dengan tangan kananku. Aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.

“Mwo?” tanyanya sambil meletakkan foto itu di meja. “Hari ini tepat 3 tahun Seobaby meninggal. Bagaimana kalau kita ke makamnya?” usulku yang langsung dibalas persetujuan Kyuhyun.

Setelah sarapan, mandi, dan bersiap-siap, aku, Kyuhyun, dan Kyungsan berangkat menuju makam sahabat kami itu.

“Kyungsan-ah. Kita akan bertemu dengan Seohyun noona. Hmm, apa Seohyun ahjumma? Ah pokoknya, dia itu orang yang sangat baik dan cantik. Sayang dia tidak bisa melihatmu ya” ucapku pada Kyungsan.

Anakku itu menanggapi dengan tawanya. Seohyun, kalau kau bisa melihat ini, kyungsan menyukaimu loh. Tentu saja! Semua orang pasti menyukai orang sepertimu. kataku dalam hati.

Kami berjalan menuju makam Seohyun. Rupanya, kami keduluan. Disana sudah ada sahabat kami yang sudah lama kami tidak temui.

“Minho-yah!” seruku dan Kyuhyun bersamaan, mengahampiri Minho yang sedang berjongkok di depan makam Seohyun. Dia tampak sedang menaruh beberapa bunga di makam seohyun.

“Sooyoung noona! Kyuhyun hyung! Oww… dan.. Kyungsan!” seru Minho dengan sangat bahagia. Kami semua berpelukan dengannya. Eeh,,, ternyata dia tidak sendiri!

“Minho, siapa itu?” tanya Kyuhyun pada sosok yeoja yang berdiri di belakang Minho.

“Ehm, ini yeoja chinguku.”

-TBC-

Gimana? Author mau pendekin ceritanya and fokus ke melodies of life. Jadi, author dikitin konfliknya.Abis, mereka juga udah pada complain ke author. Kekeke~

please leave your comment, okay? 😉