Posts Tagged ‘Kyuhyun’

Author’s POV

“Oppa!!”gadis kecil itu dengan semangat memeluk’nya’ sementara ‘dia’ sendiri berjalan mendekati Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum yang ketakutan. ‘Dia’ adalah salah satu dari tengkorak-tengkorak itu.

Dan sekarang, tengkorak itu berubah dari tengkorak berwarna putih biasa menjadi tengkorak berwarna hijau pucat yang menegrikan, dengan dikelilingi asap berwarna hijau yang sama dan darah di sekitar lengannya. Mereka bersumpah tidak melihat bola mata apapun tadinya, namun sekarang 2 bola mata dengan pupil warna merah darah yang menonjol keluar bergantung nyaris putus di lubang yang memang seharusnya tempat bola mata itu.

Tengkorak itu berjalan perlahan mendekati mereka. Yoona, Siwon, Kibum, dan Yuri tidak bisa kemana-mana karena pintunya terkunci. Yoona memeluk Kibum dari belakang. Yuri menggenggam tangan Yoona erat dan para namja berdiri di depan, melindungi para yeoja. Lalu, tengkorak-tengkorak yang lainnya bergabung.

“O-oppa.. Aku takut..” desis Yoona. “Jangan khawatir. Aku ada disini” ujar Kibum. Tapi, mana mungkin mereka tidak khawatir? Para tengkorak itu semakin mendekat, dan tengkorak dengan warna hijau itu menarik pergelangan tangan yoona. “AAARGGH!” Yoona berteriak takut dan kaget.

“Oppa…lepaskan.. ayo pulang…” rengek gadis kecil itu sambil menarik-narik tangan tengkorak itu. Tapi, tengkorak itu mengabaikannya dan mendorongnya ke samping. “Berikan aku kuncinya…” ujarnya dengan suara yang aneh. Suaranya kering, sekering dedaunan musim gugur, tidak seperti orang hidup, dan meneyramkan, memberikan sensasi gemetaran mengaliri tubuh mereka.

“Kunci…kunci apa?” Kibum memberanikan diri untuk bertanya. “Kunci yang terakhir!” tengkorak itu berujar. “Kami.. kami tidak tau apa-apa.” kata Siwon. “Bohong!” geram tengkorak itu, membuat mereka semakin ketakutan. “Kam..kami.. t-tidak berb-boho..ng..” ujar Yuri dengan takut-takut.

Tengkorak-tengkorak itu mendekati mereka dan kemudian dengan cepat mereka telah dikelilingi oleh 3 tulang hidup. Tengkorak hijau itu mencengkram kerah baju Kibum. “Ki-kibum oppa!” teriak Yoona histeris. Tengkorak itu berhenti lalu menatapnya. Kesempatan ini dipakai Kibum untuk meloloskan diri dari cengkramannya dengan mudah. “Dari mana kau tau namaku?” tanyanya tanpa ekspresi.

“T-tunggu.. jadi.. kau Kibum?” tanya Kibum penasaran. Tengkorak itu mengangguk ragu. “Dia pasti Kim Kibum yang telah menulis surat itu” desis Kibum pelan pada teman-temannya. “Jadi.. apa yang harus kita lakukan?” tanya Yoona gugup.

“De-dengar…” ucap Kibum, mencoba berbicara pada tengkorak itu. “Kami… urrh.. juga mencari kunci-kunci itu. Mungkin kita… ngg… bisa… bekerja sama” ucap Kibum gugup. “Yah! Oppa! Apa kau gila?!” protes Yuri. Tengkorak itu menatap Kibum lekat-lekat. “Memang apa yang bisa kau lakukan? Aku sudah mencari-cari kunci itu selama 44 tahun!” geramnya. Mereka merinding, belum terbiasa mendengar suara seramnya itu.

“Le-lebih banyak.. lebih baik” gumam Kibum. Tengkorak itu menatapnya tajam dengan bola matanya yang menonjol itu. “tepat 4 tahun yang lalu, ada 2 orang pemuda yang berpikiran sama sepertimu. Tapi, mereka mengkhianatiku dan mencuri 3 kunci dariku. Kini aku harus mencari semuanya lagi” ujarnya kaku. “Kau tau apa yang terjadi pada mereka?” tanyanya dengan nada menyeramkan.

Kibum menelan ludahnya yang sedari tadi menggumpal di tenggorokannya. Dia menggeleng. “Itu… yang terjadi pada mereka!” tengkorak itu menggeram, menunjuk ke arah 2 tengkorak yang lain di belakangnya. Yuri dan Yoona berteriak ketakutan. “Jadi… kenapa aku harus percaya padamu?!” dia berseru sambil menyerang Kibum.

Pertamanya, Kibum berhasil bertahan. Tapi, kedua kalinya, tengkorak itu menonjok perutnya. “Urrrghhh…” Kibum mengerang kesakitan. “Kibum oppa!!” yoona berseru panik. Siwon membantunya berdiri dan membantunya.

Tapi, 2 tengkorak yang lain menahannya sehingga dia tidak bisa bergerak. Tengkorak yang bernama Kibum itu mencengkeram lengan kibum lalu dengan suara ‘krekk’ keras mematahkan lengannya seperti mematahkan sebatang ranting rapuh.

“Sial… bagaimana tulang-tulang bau ini bisa sekuat itu?” gumam Siwon. “Hm, itulah gunannya susu” ujar tengkorak itu sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang jelek dan hitam. “Kau tau, ada sebuah produk yang dinamakan pasta gigi” ucap Kibum disela erangannya. “Diam!” seru tengkorak itu sambil dengan bunyi ‘krakk’ yang lain mematahkan jari telujuk Kibum.

“Oppa….” Yoona tidak bisa melihatnya lagi lalu berlari menuju Kibum dan memeluknya erat. Sementara itu, gadis kecil itu menarik-narik tangan tengkorak itu. “Oppa… ayo pulang. Umma pasti khawatir” rengeknya dengan puppy eyes. “Sebentar, Cheun Ri-ah… oppa harus mencari kunci-kunci itu dulu” ujarnya.

Mereka semua terkejut mendengarnya. Masih ada kelembutan dalam suaranya namun, menakutkan. Itu bukan kelembutan yang membuat mereka bernapas lega, melainkan membuat mereka gemetaran. Karena, tidak ada harapan atau kebahagiaan dalam kelembutanya itu. Hanya ada keputusasaan dan kegelapan.

———————-

“O-oppa…” Sooyoung berbisik ketakutan. Dia bersembunyi di belakang Kyuhyun. “Noona… aku sudah menunggu lama” kata anak laki-laki itu. Dia mendekati mereka dengan tentakelnya. Suaranya manis dan lembut. “Gambar ini kubuat untukmu. Apa kau suka?” ucapnya sambil berusaha melihat ke arah sooyoung.

“M..mundur!” seru Kyuhyun sedikit takut, berusaha melindungi sooyoung. “Noona… akhirnya aku bisa bertemu denganmu” ujarnya, terus berjalan ke arah sooyoung. “Noona.. disini terlalu dingin. Aku tidak ingin disini lagi” ujarnya sedih. “Kalau begitu, pergi” gumam Kyuhyun. Tapi, anak laki-laki itu mengabaikannya dan terus saja mendekati sooyoung.

“Tapi aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku belum melakukan sesuatu yang harusnya kulakukan 80 tahun yang lalu.” ujarnya, masih terus berjalan ke arah mereka. Kini mereka sudah tidak bisa mundur lagi. Donghae dan Jessica di sisi lain ruangan, hanya menatap ke arah Kyuhyun dan Sooyoung karena anak laki-laki itu bahkan tidak melihat mereka yang sudah kabur dari tadi.

“Noona…” anak laki-laki itu semakin mendekatinya. Kyuhyun berdiri di depan sooyoung untuk melindunginya. “Gwenchana, Kyu..” kata sooyoung sambil berdiri di depan.

Kyuhyun bingung. “Tapi.. soo…” ujarnya, tapi Sooyoung memotongnya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya, berusaha untuk berani, mengabaikan air mata yang mulai terjatuh di pipinya. Mereka semua menatapnya dengan napas tertahan, takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Anak laki-laki itu tersenyum. “Noona… saranghae”.

Sooyoung sekarang mengerti. Lalu, dia melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia memeluk anak laki-laki itu. Walaupun dia sangat amat teramat takut, tapi dia memberanikan dirinya. “Kamsahaeyo” katanya. Anak laki-laki itu tersenyum manis dengan sangat lebar. Lalu, dia semakin transparan… dan akhirnya… hilang.

Kyuhyun menatapnya melongo. Bahkan Donghae dan Jessica menatapnya dengan tatapan kau-tidak-mungkin-melakukannya. “Apa….itu…?” Jessica bertanya, tidak yakin akan apa yang baru saja terjadi. Air mata sudah membasahi pipi sooyoung dan Kyuhyun mengelapnya.

“Anak laki-laki itu… aku mengerti sekarang. Dia tidak bisa peri ke…umm.. bagaimana mengatakannya yah… ‘tempatnya sendiri’… tempat yang seharusnya orang mati tempati… karena dia belum menyatakan perasaannya ke noona-nya yang.. mm… mirip aku?” jelas sooyoung saat tangisnya sudah reda.

“Aku memeluknya. Untuk mengangkat semua bebannya. Supaya dia bisa pergi… dengan damai” tambah sooyoung sambil tersenyum. Mereka semua terpana menatapnya. “Sooyoung… kau ini malaikat atau apa?” gumam Kyuhyun, tapi cukup keras untuk sooyoung dengar.

“Eeh?” pipi sooyoung memerah. “Woaah… kau hebat sooyoung!” seru Jessica sambil memeluknya. Dia tidak bisa menemukan kata-kata lain yang cocok. “Itu fantastik” ujar donghae sambil tersenyum.

“Well… Jessica… Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu” ujar Donghae, berubah serius. “Tapi.. kita harus pergi seka-pfffft” Kyuhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sooyoung sudah menutup mulutnya. “Diam! Biarkan saja. Aku yakin donghae oppa pasti mau menyatakan perasaannya” bisiknya.

“Tapi.. sekarang bukan waktu yang bagus! Aissh!” protes Kyuhyun. “Tidak ada waktu yang bagus oppa! Kalau kau menunggu-nunggu untuk menyatakan perasaanmu, kau akan seperti anak laki-laki itu. Menunggu untuk sesuatu yang tidak berguna. kau akan berakhir seperti itu” ujar sooyoung.

“Kau pikir seperti itu?” tanya Kyuhyun. Sooyoung mengangguk yakin. “Hm, kalau begitu… ada sesuatu yang ingin kukatakan” kata Kyuhyun, ingin memberi tahu sooyoung sesuatu yang penting. “Hm?” tanya sooyoung penasaran. Kyuhyun menghindari kontak mata dengannya. Sooyoung menunggunya tidak sabar.

“Aku… aku… aku menci… ci.. cin… ahh! lupakan! Aku lupa mau ngomong apa!” seru Kyuhyun frustasi. Sooyoung terlihat sedikit kecewa lalu melempar pandangan ke arah donghae dan Jessica.

“Waeyo?” tanya Jessica dengan dingin yang membuat donghae semakin gugup. “Oke, lee donghae. Kau sudah memutuskannya. Kau harus mengatakannya” ujar Donghae dalam hati. “Jessica Jung… saranghaeyo…” dia membisikkan kata terakhirnya. “Mwo? Aku tidak dengar” ucap Jessica. Sebenarnya, dia mendengarnya dengan sangat jelas.

“saranghae…” Donghae mengulang lagi dengan lebih kencang sedikit. “Yah! Oppa! Kau ini punya suara atau tidak sih?” protes Jessica. “Saranghae saranghae saranghae!! SARANGHAEYO JUNG SOO YEON!!!” seru donghae frustasi. Tapi kemudian teriakannya dipotong oleh ciuman lembut di bibirnya oleh Jessica.

Donghae terkejut, tapi kemudian menciumnya juga. Tapi, ciuman mereka tidak bisa bertahan lama. Kyuhyun berdeham. “Ehem.. mian mengganggu. Tapi, kita harus keluar dari sini sekarang juga” ujar Kyuhyun. Dia bisa membuka pintunya dengan mudah sekarang.

Donghae dan Jessica hanya tersenyum malu lalu berjalan keluar. “Aish.. Lee Donghae. Kau tidak tau waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan yah? Di tengah malam di tengah ruang kelas yang horor. Ckckck” ujar Jessica.

“Tidak ada waktu yang teoat Sica… aku tidak mau menyesal seperti ank laki-laki itu. Memangnya kau mau aku jadi hantu selama 80 tahun, menunggu seseorang yang mirip denganmu datang?” ujar Donghae polos. “Awww… cute and innocent boy” ujar Jessica dalam bahasa inggris (tau deh Sica unnie, yang inggrisnya bagus~~ authorapabangetdeh) sambil mencubit pipi donghae pelan.

“Jadi… aku anggap itu debagai ‘iya’?” tanya donghae penuh harap. “Iya untuk apa? Kau bahkan tidak bertanya apa aku mau menjadi yeoja chingumu” protes Jessica. “Jessica Jung… maukah kau menjadi yeoja chinguku?” tanya donghae serius. “Paboya! Tentu saja~~” ujar Jessica sambil tersenyum.

“Woaah donghae oppa, kau sudah mencairkan es-nya~” goda sooyoung. Mereka semua tertawa. Bukan karena lelucon sooyoung, tapi lebih karena mereka lega bisa selamat keluar dari ruang kelas itu. Mungkin, nasib teman-teman mereka tidak seberuntung mereka~

miaaaaan reader2ku sayang , author update nya lama.

author pabo pabo pabo!! naega cham pabo gatjyo >.<

abis… author nemu fanfic di SSF banyak bnget trus ketagihan deh~

udah tau deh… ff di SSF tuh ceritanya patut diacu

Author’s POV

“A-apa… yang harus kita lakukan?” tanya Yuri dengan suara serak karena takut. Sunyi. Yang lainnya juga tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang. “Kita tidak bisa diam disini selamanya. Setidaknya kita harus bergerak” kata Kibum. Aneh memang bagaimana suaranya masih setenang itu si keadaan seperti ini.

“Dia benar… kita harus… mencoba” Siwon mendukungnya. Yang lainnya mengangguk. Mereka menyadari itulah pilihan mereka satu-satunya. Dan… dimulailah petualangan mereka!

Leeteuk, Kibum, dan Siwon berjalan di depan, memimpin perjalanan mereka karena merekalah yang paling berani. Para yeoja di belakangnya sedangkan Donghae dan Kyuhyun berada di paling belakang. Mereka berbalik untuk melihat lift itu yang terakhir kalinya. Tapi, tidak ada tanda-tanda bahwa lift itu pernah berada disana. Hilang. Lenyap. Lift itu telah hilang, menyisakan dinding batu-bata yag kosong.

Mereka mengenali bangunan itu sebagai sebuah sekolah, yang pastinya sudah ditinggal sangat lama. Tidak ada satupun sumber cahaya disana. Tidak lampu, cahaya matahari, atau bahkan cahaya bulan. Seakan-akan cahaya dilarang untuk masuk.

Tapi, ada sesuatu yang mereka tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang memancarkan cahaya hijau pucat di sekeliling ruangan. Sesuatu yang mereka tidak sukai.

Mereka berjalan di koridor, melewati beberapa ruang kelas. Ruang kelas itu, seperti keadaan di sekeliling mereka sangat kotor, gelap, suram, dan tertutup oleh debu yang lebih tebal dari sebuah kamus. Tapi, ada satu hal yang aneh. Yaitu semua perabotan, semua benda disitu masih lengkap dan ditempatkan dengan sangat rapi.

Mereka semua terlalu takut untuk berbicara. Hanya ada suara langkah kaki mereka, yang lebih kencang dari seharusnya, menggema di udara yang lembab.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan yang aneh pada lantai kayu. Seakan-akan, setiap langkah yang mereka ambil, keadaan sekitar mereka semakin gelap dan gelap. “Aku rasa… kita harus mencari pintu keluar” ujar Leeteuk, orang yang paling pertama mengendalikan rasa takutnya.

Mereka semua mengangguk setuju dan melangkah dengan hati-hati meuruni tangga kayu yang rapuh karena sudah lapuk, mencoba mencari-cari letak pintu keluar karena sekolah itu bukan sekolah yang kecil.

“Sial! Dikunci dari luar!” seru Kyuhyun marah. Dia sudah mulai emosi dengan keadaan ini. “Apa??!” Yang lain berseru terkejut dan takut. “Aku tidak mau tinggal disini…” seru Yoona. “Aku mau pulang!!” teriak Jessica.

“Tenang, semuanya… tenang…” ujar Taeyeon, mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya sementara dia sendiri juga berusaha menenangkan rasa takutnya sendiri. Siwon mencoba menelepon untuk meminta bantuan. “Argh! What the hell!! Tidak ada sinyal!!” serunya frustasi. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka semua.

“Mungkin kita hanya harus menunggu. Aku cukup yakin besok pagi akan ada orang yang menolong kita” ujar Kibum. Karena merasa tidak ada pilihan lain, yang lainnya setuju dan mengangguk pasrah. “Tapi… dimana kita akan tidur?” tanya Donghae. “Mwo? Annio! Aku tidak akan tidur di tempat seperti ini! Aku memilih untuk tidak tidur sampai subuh” ucap Sooyoung.

“Kau tidak akan tahan!” ujar Jessica. “Tapi… tempat ini tidak layak. Terlalu menakutkan. Bagaimana kalau nanti ada han- pfffft” Yuri menutup mulut Sooyoung sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Jangan buat kami semakin takut” ujarnya.

“Ayo kita berpura-pura bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan saat kita terbangun, kita sudah ada di dorm kita lagi” gumam Taeyeon. Ini memang terdengar mustahil, tapi yang mereka punya sekarang memang hanya tinggal harapan. “Tapi, bukankah terlalu pagi untuk tidur?” ujar Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kita mengitari sekolah ini. Mungkin kita bisa mendapat informasi tentang apa dan dimana sekolah ini sebenarnya” usul Siwon. “Andwae! Bagaimana kalau sesuatu terjadi?” tanya Yoona takut. “Well, kalau ada sesuatu yang terjadi, kau mempunyaiku untuk melindungimu” kata Kibum sambil tersenyum pada yoona yang membuat pipinya memerah.

“Aigoo… dalam situasi seperti ini dan kau masih sempat-sempatnya nge-gombal? Nicee~” ejek Leeteuk. “Tapi, kurasa Siwon ada benarnya. Kita tidak mendapat apa-apa kalau hanya berdiam diri disini. Setidaknya kita pasti mendapat sesuatu kalau kita bergerak. Kita kan ber-10. S-E-P-U-L-U-H” kata Jessica.

“Tapi… bagaimana kalau ada hantu, atau hal-hal sejenisnya? Biasanya hal-hal seperti itu ada di tempat yang sudah lama ditinggal” kata Sooyoung takut. “Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Itu hanya mitos” kata Taeyeon. “Kalau begitu jelaskan bagaimana kita bisa disini” ujar Kyuhyun. Taeyeon tidak menjawab.

“Okay guys. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian. Anggap saja, kita bisa berada disini sekarang, karena dewi keberuntungan sedang tidak ada di pihak kita. Diam disini, ketakutan dan menangis seperti bayi tidak akan merubah apapun dan membantu kita keluar dari situasi ini. Kita harus berani, atau setidaknya, mencoba untuk berani” kata Leeteuk, menyemangati dongsaeng-dongsaengnya.

mereka terdiam. Mereka semua tau, Leeteuk benar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, atau setidaknya mencoba untuk berani. Akhirnya mereka menggangguk setuju dan saling menyemangati. “Hwaiting!!” seru mereka.

Lalu, mereka menaiki tangga kayu yang sama, menuju ke lantai atas, mencari petunjuk yang bisa memberitahu mereka tempat apa itu sebenarnya. “Ruangan ini sepertinya bagus” ujar Kyuhyun, menunjuk ke arah plat kayu usang yang tergantung di atas sebuah ruangan, bertuliskan “Ruang Guru”. Mereka melihat satu sama lain lalu akhirnya memutuskan untuk masuk.

Ruangan itu sangat besar untuk ukuran sebuah ruang guru. Ada 2 sofa yang ditempatkan berhadap-hadapan si sisi kiri mereka dan 5 komputer yang ditempatkan di seberangnya. Sebuah foto, yang mereka asumsikan sebagai foto sang pendiri sekolah, tergantung rapuh di dinding sebelah kanan mereka. Detail yang lain tidak dapat mereka lihat dengan jelas karena keadaannya terlalu gelap untuk mata mereka yang walaupun sudah cukup terbiasa dengan kondisi kegelapan itu.

“Pasti ada dokumen atau apapun tentang sekolah ini” ujar Kibum. “Ne! Aku yakin kita kesini bukan untuk hal yang sia-sia. Pasti ada yang bisa kita temukan” ujar Yoona. Kyuhyun dan Donghae mulai mencari di laci dan lemari, sedangkan Sooyoung mencari di kulkas, yang tentu saja tidak ditemukan apapun disana.

“Hey! Aku meneukan sesuatu!” seru Siwon. Mereka semua berlari menuju ke meja ke-3 dari pojok kanan, tempat dimana Siwon berada. Dia mengambil HPnya untuk ekstra cahaya. “Aku memerlukan cahaya lagi” gumamnya. Leeteuk dan Yuri menyalakan HP mereka untuk memberi Siwon lebih banyak cahaya.

“Draft Dokumen Sekolah” ujar Siwon, membaca jusul dari kertas usang yang sudah robek-robek dan menguning. Mereka semua terdiam, mendengarkan Siwon, membiarkan suaranya bergema di ruangan yang kosong dan menyeramkan itu.

Draft dokumen sekolah

Sin Bi High School

##########, Korea Selatan

876-444-#####

dibangun oleh: ### Joo Ji, 4 April 1844

Visi:

Sekolah ini adalah ######## para siswa untuk ######### dengan sikap yang baik dan sopan santun yang tinggi ########

Misi:

1. Untuk ##### dengan pantas ######### dan ###### bagi negara dan bangsa

2. Untuk membangun ############## yang baik dalam toleransi yang tinggi

3. #####################################

Sin Bi high school menyambut semua########### dan ### murid yang ###############

Dengan hormat,

Kepala sekol##

Park #### Kyung

4 April 1990

“Ada banyak bagian yang tak terbaca (Bagian ###)” kata Siwon. “Sin Bi high school? Sepertinya aku pernah mendengarnya” kata Jessica. “Setidaknya kita sekarang tau apa nama tempat ini” kata Kyuhyun. “Itu tidak membantu sama sekali! Kita bahkan tidak tau di daerah mana kita berada” ujar Donghae. “Setidaknya kita masih ada di Korea Selatan~” ujar Yoona.

“Ayo pergi. Kurasa tidak ada lagi yang bisa ditemukan di tempat ini” ujar Leeteuk. Yang lainnya mengiyakan lalu pergi keluar. Mereka menaiki tangga menuju ke lantai atas. “Tu-tunggu…” gumam Sooyoung. Dia berhenti di sebuah ruang kelas. “Wae-yo sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun bingung.

Sooyoung tidak mempedulikannya dan hanya menatap ruang kelas itu. Kyuhyun, Jessica, dan Donghae, yang berjalan paling belakang, merasa penasaran dan ikut berhenti di depan ruang kelas itu, tidak menyadari bahwa yang lain sudah meninggalkan mereka .

Tanpa mengatakan sepatah katapun, sooyoung membuka pintunya dan berjalan masuk. Yang lain menatapnya heran, tapi bertekad untuk tidak meninggalkannya sendirian, mereka mengikuti sang shikshin masuk ke dalam kelas tersebut.

Kelas itu, sama seperti kebanyakan kelas, memiliki sedikitnya 15 meja dengan sepasang kursi di tiap mejanya. Yang membuatnya berbeda adalah adanya banyak sekali foto yang tergantung kaku di atas dinding. Foto-foto itu semuanya adalah wajah seseorang dan seakan-akan mereka sedang menatap tajam 4 orang yang berdiri dengan takut di dalam kelas itu.

“AAAAAA!!!” Sooyoung berteriak ketakutan, memeluk Kyuhyun sebagai reflek. “Apa? Wae?” tanya Kyuhyun bingung, walaupun senang karena sooyoung memeluknya. “O-oppa… i… it.. itu..” ujar Sooyoung takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada kyuhyun sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan, ketiga dari paling kiri. Mereka semua melihat ke arah yang sooyoung tunjukkan. Seketika mereka syok dan ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

“Bagaimana mungkin…” desis Donghae tidak percaya. Sementara itu, Jessica menatap gambar itu dengan syok dan mengencangkan genggamannya pada lengan donghae. Kyuhyun masih memeluk sooyoung yang sedang menangis, menatap gambar itu dengan pahit.

Itu adalah gambar wajah sooyoung secara close-up, dengan darah merah kental di bagian mulut dan hidungnya, dan tampak sesuatu yang salah pada matanya. Seperti hendak dicongkel keluar tapi tidak berhasil.

“Ayo keluar dari sini” perintah Kyuhyun. Yang lain langsung setuju tanpa berpikir lagi. Tapi… “Sial!” seru DOnghae marah sambil menendang pintunya. “Wae?” tanya Jessica takut. Mereka semua sudah tau jawabannya. “Pintunya terkunci”

Mereka saling melihat satu sama lain. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jessica lemas. Air mata sudah terbentuk di matanya dan siap untuk terjatuh. Sooyoung mulai histeris, memukul dan menendang-nendang pintu yang tidak ada gunannya.

Kyuhyun memeluknya lagi, berusaha menenangkannya. Donghae mengusap kepalanya sedangkan Jessica mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak mau disini. Terlalu…. menakutkan” isaknya disela tangisannya. “Tenanglah. Aku ada disini. Untuk menjagamu” ujar Kyuhyun lembut lalu mencium kening sooyoung.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Donghae. “Kita semua tahu tidak ada yang bisa kita lakukan! Hentikan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh,pabo!” seru Kyuhyun emosi. Sunyi. Jessica menyenderkan kepalanya di pundak donghae dan dengan lembut donghae membelai rambut blonde-nya.

Sooyoung masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun dengan lembut mendekapnya, berusaha menghentikan tangisannya. Mereka berdiri sejauh mungkin dari gambar itu dan sedekat mungkin dengan pintu.

Tiba-tiba…. BRAKKK!! Sesuatu terjatuh. Mereka semua terkejut dan menatap ke arah dimana foto sooyoung terjatuh ke lantai kayi syok dan sudah agak lapuk. Sekali lagi, ekspresi syok dan horor, yang bahkan lebih jelas dari sebelumnya tergambar di wajah mereka.

Serasa seperti ada permen karet yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tidak ada satu pun kata-kata , umm.. atau lebih tepatnya teriakan yang sanggup keluar dari mulut mereka, sekeras apapun mereka sebenarnya ingin. Mereka hanya diam membantu, dengan ketakutan tak terhingga yang membayangi mereka.

Mereka melihat ke arah yang sama, ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memegang foto sooyoung. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Dia sangat lucu dan imut, neomu kyeoptta, KALAU otaknya tidak terlihat jelas dan terus berdenyut-denyut, KALAU dia tidak kehilangan setengah bagian kepalanya sehingga menampilkan organ otaknya yang menjijkan, KALAU dia mempunya kaki-kaki mungil yang berdiri mantap di lantai kayu, bukannya tentakel biru pucat yang terus bergelayutan, dan KALAU dia tidak transparan…….

TBC~~

Author jadi parno dah bikinnya malem2 –a

author saranin sih jangan baca malem-malem buat yang imannya gak kuat… tapi buat author… kurang serem yah? ckckck~

Kenapa bisa ada foto-nya sooyoung?

Siapa tuh anak kecil sebenarnya?

Bagaimana nasib KyuYoung dan HaeSica?

bagaimana dengan petualangan TaeTeuk, YoonBum, Siwon, dan Yuri?

wait in the next part~~~

Author’s POV

“Gaah.. Ayo pergi ke suatu tempat. Aku sangat bosan!” keluh sooyoung sambil meregangkan tubuhnya.  “Neh… Kita mendapat kebebasan satu hari tapi tidak ada yang bisa kita kerjakan” kata Yoona. “Kita mau pergi kemana?”tanya Jessica sambil mengintip dari atas buku yang sedang dia baca

“Bagaimana kalau…. pergi berbelanja?” Yuri menyarankan. “terdengar bagus”yang lainnya setuju. “Baiklah. Cepat, siap-siap!Kita akan pergi 30 menit lagi!”perintah Taeyeon dan degan segera dongsaeng-dongsaengnya melakukan apa yang diperintahkannya. mereka melangkah ke kamar masing-masing, berganti baju dan bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall yang sangat terkenal di Seoul (nama mallnya, pikirkan sendiri. Mau Kelapa Gading kek, mau Cilandak Town Square kek ._.) Dan pastinya, mereka menyamar, agar tidak ada fans yang mengenali mereka.  Hanya Sooyoung, Taeyeon, Jessica, Yuri, and Yoona yang tertarik untuk pergi, karena Tiffany sakit, Hyoyeon latihan gerkaan dance yang baru, Sunny sibuk menaikkan levelnya di Mario Bross, dan Seohyun terlalu sibuk belajar.

“Aku ingin membeli sepatu baru!” seru Yoona. “Ayo cari merchandise Mickey Mouse dulu” ujar Yuri. “Sepatu baru duluan!” ucap Yoona. “Annio! Mickey mouse!” Yuri berteriak. “Sepatu baru!” “Mickey mouse!” Sepatu baruuuu!!” “Mickey mouseee!!” YoonYul mulai bertengkar.

“Girls, berhenti bertengkar!”teriak sang leader, yang berhasil membuat mereka berdua terdiam “Okay. pertama, kita akan mencari sepatu baru, lalu setelah itu mickey mouse. Arasso?” ucap Sica. “Tapi… kenapa Yoona duluan?” tanya Yuri sedih. “Karena sepatu lebih penting dari Mickey mouse” kata sooyoung kejam. Yuri hendak membantah perkataannya namun, Taeyeon menyeret mereka masuk ke toko sepatu.

Merka mencari sepatu yang cocok beberapa saat lalu akhirnya menemukannya dan membelinya. “Mickey mouse! Mickey mouse!” Yuri melompat-lompat dengan semangat. “jadi… dimana tokonya?” tanyaSica. “Mungkin.. di lantai atas? Lantai 4?” usul sooyoung. “Pabo! Disini tidak ada lantai 4~” kata seseorang tiba-tiba. Mereka terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang berbicara itu

“Hey~” “Annyeong…” sapa 5 namja, yang juga sedang menyamar. “Donghae oppa! Kyuhyun oppa! Leeteuk oppa! Siwon oppa! Kibum oppa!” seru para yeoja dengan girang. “Ssssh….” Kibum memperingatkan mereka dan melihat berkeliling. Untungnya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menghiraukan mereka, yang memakai kombinasi baju-baju yang aneh, kacamata hitam, topi, dan bahkan syal.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sica. “berbelanja tentunya” jawab Siwon. “Pheww.Aku tidak tau kalau namja seperti kalian suka berbelanja.” ejek Sooyoung. “Well, aku tidak suka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan video game-ku, tapi mereka memaksaku karena aku kalah dalam permainan ular tangga” Kyuhyun mengeluh.

“Kami dipaksa berbelanja oleh member lain. Beraninya mereka! Ckck” ujar Leeteuk. “Tapi, kurasa akan menyenangkan kalau kita berbelanja bersama-sama?” usul Donghae. Para yeoja mengangguk dan tersenyum, 100% setuju dengan ide Donghae.

“Jadi, apa maksudmu dengan tidak ada lantai 4?” tanya sooyoung. Jessica memutar bola matanya. “Tidak ada lantai 4 di setiap mall di Korea, sooyoung.” ujar Jessica. “Tapi kenapa?” tanya si shikshin lagi.

“Karena angka 4 berarti kematian. Mereka percaya pada mitos ini dan berasumsi bahwa angka 4 hanya akan mendatangkan kesialan. Jadi, setelah lantai 3 langsung ke lantai 5. Ada juga yang menggunakan 3a atau 3b, tapi bukan 4.” jelas Siwon. “Tapi itu hanya mitos!” seru sooyoung lagi. “Tanya pemilik mall-nya. Hanya itu yang kami tau” kata Yuri.

“Oke, aku ingin membeli bahan makanan sekarang” kata Kibum. “Andwae! Mickey mouse-ku dulu!!” ucap Yuri tegas. “Tapi…” “Tidak ada tapi! Mickey mouse-ku!!” seruYuri. “Nde, mickey mouse-nya dulu” Yoona membela Yuri. Para namja akhirnya menyerah. Merka tau mereka tidak akan bisa mengalahkan para yeoja. Mereka terlalu keras kepala, tapi juga.. terlalu imut.

Mereka pergi ke toko yang menjual banyak barang mickey mouse. Yang lainnya melihat-lihat dengan bosan, sangat berbeda dengan Yuri yang dengan riang melihat-lihat di toko yang penuh dengan tikus lucu itu. Dia mencari dengan teliti, tidak membiarkan 1 inci sudut pun terlewatkan. Yang lainnya mengikutinya sambil mengobrol.

“Jadi… Seohyun tidak ikut?” tanya Kyuhyun yang berjalan bersebelahan dengan sooyoung. “Ye. Dia sedang belajar. Aku yakin kau pasti kecewa. Kangen padanya?” tanya sooyoung, menjaga agar suaranya tetap terdengar ceria saat hatinya tidak. “Hmm, untuk apa saat kau ada di sebelahku?” Kyuhyun bergumam tapi tidak cukup jelas untuk sooyoung dengar.

“Apa?” tanya sooyoung. “Ti.. tidak” ujar kyuhyun gugup. “Huff… ini semua membuatku lapar” Sooyoung berkata, mencoba untuk merubah topik. “Kau selalu lapar. Memangnya kapan kau kenyang?” Kyuhyun bertanya, sambil tertawa. “Saat aku mau” jawab sooyoung. “Wah… kalau begitu kau pasti tidak akan pernah mau” ejek Kyuhyun. “Yah!” Sooyoung cemberut sambil memukul legan kyuhyun. “Aigoo… kyeopta…” Kyuhyun berkata dalam hatinya. He mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yah! Apa-apaan sih?” protes sooyoung. “Kau terlalu imut…” ucap Kyuhyun, membuat pipi sooyoung memerah.

“Umm… aku tidak tau kau suka belanja, Sica?” Donghae mencoba untuk memulai percakapan. “Tidak terlalu. Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan di dorm” jawab Sica dengan dingin, yang membuat Donghae semakin gugup. “Ummh… kau mau membeli sesuatu nanti?” tanya donghae lagi. “Tidak” jawab Sica pendek.

“Apa yang ingin kau… mm… makan?” Donghae tetap berusaha dan berjuang yang tentu saja sulit dilakukan karena dia berusaha mengobrol dengan seorang ice princess. “Apapun yang lain inginkan. Asal tanpa timun ataupun sejenisnya” Sica menjawab. Donghae berpikir keras untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sica sambil mengerutkan keningnya. “Kyeopta…” batin Sica.

“Taeng… bagaimana kau bisa bertahan memiliki saudari seperti mereka?” tanya Leeteuk sambil menunjuk ke arah  YoonYul, yang sedang mengganggu si penjual dengan pertanyaan-pertanyyan bodoh seperti ‘apa kau menjual kalung yang dibeli khusus oleh Donald untuk Mickey?’ yang pastinya mereka tidak menjualnya, dan yang kedua, Donald tidak pernah membeli kalung utnuk Mickey.

Taeyeon mengangkat bahunya.”Dongsaeng-dongsaengmu jauh lebih buruk” kata taeyeon. “Yah.. kau benar” desah Leeteuk. “Kadang, menjaga mereka ber-8 itu begitu sulit. Aku berpikir kalau aku tidak akan cukup kuat untuk itu” kata Taeyeon sedih.

Leeteuk menepuk kepalanya pelan. “Kau pasti cukup kuat. Karena kau adalah Kim Taeyeon. Kau pasti bisa. Hwaitting!” ujar Leeteuk menyemangati taeyeon. “Keke. Kau benar. Hwaitting!” Taeyeon tersenyum dengan manis. “Aigo… akan kuberkan apapun untuk bisa melihat senyum itu setiap hari” batin Leeteuk.

YoonYul telah berhenti mengganggu si penjaga toko, yang membuatnya menghela nafas lega. “Unnie.. cepat… yang mana yang mau kau beli?” rengek Yoona. “tunggu sebentar, yoong… aku bingung” ujar Yuri. “Ayolah~~” Yoona terus merengek. “Arra. Uhh… andai kau sesabar Minho oppa” keluh Yuri. “Mwo? Apa dia cukup sabar untuk menungguimu memilih-milih barang mickey ini?” tanya Yoona tidak percaya.

“Tentu saja! Dia adalah yang terbaik” puji Yuri sambil membayangkan wajah Minho. “Anni anni anni. Dia tidak bisa! Akulah yang terbaik untukmu unnie…” ucap Yoona. Yuri tertawa. “Nde, nde, yoong… kau adalah yang terbaik. Karena kita yoonyul!” Yuri tersenyum. Lalu dia mengambil sebuah boneka mickey mouse dan mousepad bergambar mickey mouse.

Yang lain berjalan menuju ke supermarket dengan riang, bahagia karena mereka sudah keluar dari istana mickey mouse itu. Mereka bahkan berpikir mereka akan mati dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang mickey mouse kalau Yuri tidak cepat membayar dan keluar. Mereka semua membeli beberapa sayuran dan buah segar, tidak lupa beberapa snack, tentu saja oleh sooyoung. Mereka menghabiskan 2 jam disana.

“Apa? Jadi tiffany sakit?” Siwon bertanya dengan tampang khawatir saat Taeyeon memberitahunya. “Jangan berlebihan, oppa. Dia kan hanya flu. Dia bahkan gak sekarat kok” kata sooyoung. “Tapi… oh my… my tiffany…” ujar Siwon sedih. Yang lainnya mendesah pasrah. “Aku tau kau mencintainya. Tapi dia itu kan hanya flu. Ckck” ucap Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Lalu, mereka memutuskan untuk pergi ke game center yang membuat Kyuhyun sangat senang dan dia meloncat-loncat kegirangan. Mereka menghabiskan 2 jam disana, yang membuat mereka sulit keluar adalah kyuhyun yang bahkan harus diseret keluar oleh para hyung-nya. Note to themselves: Jangan pernah mengajak Kyuhyun ke game center.

“Omo! Handphoneku!” seru Yuri saat tidak menemukan HPnya di dalam tasnya. “Wae?” tanya Jessica. “Handphone-ku. Tidak ada…” ucap Yuri panik. “Apa kau yakin? Bagaimana bisa?” tanya Leeteuk. “Molla… eottokkae…” ujar Yuri sedih.

“Dimana kau terakhir menaruhnya? Coba ingat-ingat” kata Kibum tiba-tiba. Yuri berpikir keras sampai dia mengerutkan keningnya. Kemudian, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang lain memandangnya penasaran. “Toko mickey mouse…”

Jadi, mereka kembali ke lantai 6, dimana toko itu berada. Untungnya, HP Yuri memang ada disana. Mereka berterima kasih pada pemilik toko yang hanya membalasnya dengan tatapan muak. “Lain kali, hati-hati. Lihat sekitarmu. Jangan hanya terpaku pada tikus jelek itu” ucap Donghae.”Diam! Mickey itu tidak jelek! Dia bahkan lebih tampan darimu!” seru Yuri.

Jessica mendengus. “Bagaimana bisa tikus hitam dan kotor itu lebih tampan dari donghae oppa?” ujar Jessica. “Ooh… Jadi, unnie pikir Donghae oppa itu tampan yaa?” Yoona menggoda unnie-nya. Jessica tersipu. “Annio! Itu… aku… Hanya saja… ngg… Mickey mouse itu lebih jelek. Bukan berarti donghae itu tampan” ujar Jessica gugup.

“Cukup, cukup. Ini sudah terlalu larut. Kita harus pulang ke dorm segera” kata Leeteuk. Yang lainnya setuju. “Sebaiknya kita menggunakan lift agar lebih cepat” usul Kyuhyun.

Jadi, mereka naik lift untuk turun ke lobby. Taoi tiba-tiba, lift itu berguncang dan lampunya mati.  Para yeoja, dan bahkan Kyuhyun dan Donghae berteriak ketakutan. “A-apa… apa yang terjadi?” gumam Taeyeon. “Mungkin lift-nya macet. Tenang, guys… tenang.” Leeteuk mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya itu sambil menekan tombol darurat beberapa kali, namun sayangnya, tidak ada respon. “Kurasa kita hanya harus menunggu” kata Siwon.

“Tenang, semuanya! Tenaaaang! Yoona, berhenti menendang-nendang! Sica, berhenti berteriak dengan suara dolphinmu itu! Sooyoung, berhenti…. berhenti makan! Yuri, berhenti bergelantungan di kakiku!!” teriak Taeyeon pada dongsaeng-dpngsaengnya yang tidak bisa diatur itu. “Semuanya, TENANG!!” Taeyeon berteriak dengan suara tingginya, yang berhasil membuat semuanya tenang sambil menutup telinga mereka, menghindari ke-budek-an.

“Hey…lift-nya… berhenti di antara lantai 5 dan lantai 3” ujar Sooyoung di sela-sela waktu makannya, menyadari angka di layar hitam kecil di pojok atas lift dengan angka merah tertulis di dalamnya. Angka 5… lalu 3.. lalu 5… lalu 3… lalu 5… lalu tiba-tiba… 4. Mereka semua terkejut dan terpana. Mata mereka tertuju di satu arah. Di angka tersebut.

“Tapi… tidak ada lantai 4” bisik Kyuhyun, terlalu takut untuk bersuara keras. “Kau salah! Disini ada lantai 4 kok~” seru Sooyoung. “Tidak, sooyoung. Tidak ada lantai 4, setidaknya di mall ini” ucap Jessica. Mata mereka masih tertuju pada layar itu, berharap angka tersebut terganti.

Lalu, tiba-tiba pintu lift mulai terbuka saat sooyoung hendak membantah lagi. Mereka menatap sekitar mereka dengan ekspresi syok dan mulut yang ternganga lebar. Mereka bahkan tidak berani untuk berjalan 1 langkah pun dari tempat mereka. Leeteuk masih berusaha menekan tombol apapun di lift itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka hanya punya 1 pilihan, yang pastinya tidak mereka sukai: untuk keluar dan menghadapi apapun di hadapan mereka, di lantai 4, bagian yang hilang dari sebuah mall…

 

-TBC-

tuh kan reader… mana serem sih? Gak serem kan? Nanti author kasih adegan setannya cuma dikit kok~ kekekeke 😀

comment yahhh >.<

annyeong~~~

author comeback (?) dengan ff series yang baru… dan kali ini, author pengen coba mengasah (?) kemampuan nulis author dalam genre mystery 😀

Oh iya… mungkin ada yang udah pernah baca cerita ini di AFF, dan jangan anggap author itu copycater yah! sorry seamit-amit deh… kekeke. soalnya, yang nge-post di AFF itu… author juga! noh yang IDnya J_Ster… kekeke. Jadi, ini ceritanya sama persis sama yang author post di Asian Fanfics, tapi cuma beda bahasa aja.

Characters:

Choi Sooyoung

Im Yoon Ah

Kwon Yuri

Jung Jessica

Kim Taeyeon

Park Jungsu (Leeteuk)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kim Kibum

sinopsis:

Mereka berbelanja di sebuah mall di Seoul. Ada yang mengatakan, semua mall tidak mempunyai lantai ke-4. Karena sebuah mitos yang mengatakan angka 4 berarti kematian, dan mereka mempercayai ini dan tidak pernah membangun lantai 4 di setiap mall. Jadi, setalh lantai 3 langsung ke lantai 5.

Mereka berbelanja sampai malam. Lalu, mereka menggunakan lift untuk turu dari lantai 6, tapi tiba-tiba lift itu mandet di antara lantai 5 dan lantai 3. Dan saat pintu lift itu terbuka, mereka berada di lantai 4, yang ternyata merupakan sekolah yang sudah lama ditinggalkan, bagian yang hilang dari sebuah mall yang terhubung melalui suatu hal gaib.

Lift itu tiba-tiba menghilang, seakan-akan lift itu tidak pernah berada di sana, dan mereka ber-10, mencari, menghadapi petualangan yang hebat di hadapan mereka untuk mencari cara keluar dari sana dan kembali ke dunia mereka sendiri.

eotokkae? oeotokkae? 😀

 

Melodies of Life (chapter 7)

Posted: March 24, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of life chapter 7-My last chance


Seohyun POV

*flashback*

aku berjalan tak tentu arah. Tapi, akhirnya kakiku melangkah menuju ke sebuah rumah sakit, entah kenapa. Aku merasa, di rumah sakit inilah aku bisa menemukan petunjuk tentang diriku. Aku menyusuri koridor rumah sakit, sampai akhirnya menemukan figur yang familiar. Entahlah. Aku tidak mengenalnya. Tapi rasanya, dia itu sangatlah familiar.

Aku mengikuti namja itu, masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia duduk di pinggir ranjang, tempat seseorang yang tidak dapat kulihat karena terhalan oleh tirai. Perlahan, dia mulai menangis. “Seohyun-ah… Aku masih disini. Aku menunggumu” katanya. Aku terkejut dan berjalan mendekatinya.

Di ranjang itu, aku melihat diriku, terbaring lemah. Kalau aku tidak melihat dadanya, emm… dadaku yang naik-turun, pertanda masih bernapas, aku pasti berpikir bahwa diriku itu sudah mati.

Aku menatap namja itu. “Seohyun-ah… Kuharap kau bisa mendengarku. Saranghae. Jeongmal saranghae. Karena itu, kau harus cepat sadar, agar kita bisa berjalan bersama lagi” dia berkata di sela-sela tangisannya. Aigoo… kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Siapapun namamu, aku yakin, kau pasti sangat mencintaiku. Karena itu, tunggulah aku. Tunggulah sebentar lagi. Kim Ki Bum. aku tersentak! Kim Ki bum? Itukah namanya? Tiba-tiba nama itu muncul dalam pikiranku. Nama… namja chinguku.

*end of flashback*

“Joohyun! Yah! Joohyun!” Kyuhyun memanggilku, membuyarkan lamunanku. “Hmm?” Aku menjawabnya. “Aku akan berangkat sekolah. Kkaja!” katanya. Aku menatapnya dan mendesah, lalu mengangguk. Sebentar lagi.. aku harus meninggalkanmu.

Kyuhyun POV

Aku berjalan keluar dari rumah. Ahh.. senangnya, akhir-akhir ini, aku jarang sekali terlambat. Sooyoung sudah mengerti cara mematikan alarm dan bangun, bukannya membanting alarm lalu kembali tidur rupanya.

Aku melihat yoona baru keluar dari rumahnya. Tampaknya dia juga melihatku. “Kyu oppa!” seru Yoona lalu berlari dan memelukku. “Pagi, chagiya” kataku padanya, sambil mengecup keningnya. Aigoo… hari ini dia cantik sekali. Aku menoleh untuk mencari Seohyun. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Dimana dia?

“Mi..mianhae, aku harus pergi sebentar” kataku, meninggalkan yoona dan sooyoung yang menatapku kebingungan. Tapi, aku tidak peduli. Omona! Omona! Aku belum siap ditinggal oleh Seohyun.

Aku berlari dan terus berlari. Kakiku bergerak dengan kemauannya sendiri, sampai akhirnya aku berhenti di sebuah tanah lapang dan aku melihatnya disana.

“Joohyun!” panggilku. Dia menengok. “Apa kau… sudah akan meninggalkanku?” tanyaku sedikit merana padanya. Dia tersenyum.”tugasku sudah selesai. Senang mengenalmu, Cho Kyuhyun” ucapnya. Kulihat, dia menangis. “Andwae! Jangan tinggalkan aku!Aku… aku… aku mencintaimu” Akhirnya, aku mengatakannya. Kata-kata yang membuatku bingung. Sambil memeluknya, aku pun menangis.

“Kyu oppa? Kau sedang apa?” tanya yoona, yang tiba-tiba sudah di belakangku. “Yoo… yoona. aku…” Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. “Kau… mecintai yeoja lain?” tanyanya tidak percaya. Air mata sudah mulai membasahi pipinya.

“Anni.. yoona!” Aku berseru memanggilnya. Dia berlari meninggalkanku. BRUMMM! Argh sial! Dia tidak melihat sekelilingnya saat berlari menyeberang. “Yoona!! Awas!!” seruku langsung, cemas dan takut saat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Aku bergerak lebih cepat dari yang aku bayangkan. BUG! Aku mendorong yoona lalu… gelap…

———–

Seohyun POV

“Tuhan…” panggilku. Aku sudah kembali ke surga. Dan bukan main terkejutnya aku, melihat sosok yang familiar, sedang terbaring damai di sebelah kaki Tuhan. Cho Kyuhyun.

“Tuhan, ijinkan dia hidup lagi” kataku memohon. “Tidak bisa, Seo joo hyun. Itu memang sudah takdirnya” kata Tuhan. “Kumohon, Tuhan. Dia belum merasakan kebahagiaan bersama-sama dengan Yoona. Biarlah aku saja yang menggantikan dia. Berikanlah hidupku untuknya.” ujarku sambil menangis. Apapun, supaya kyuhyun bahagia.

Tuhan tersenyum lembut. “Baiklah. Kuturuti permohonanmu. Memang belum saatnya kalian tinggal disini. Seo joo hyun, akan kutunggu, saat kau benar-benar tinggal disini” Lalu… SRIINGGG! Semuanya menghilang.

————

Key POV

Aku menatap seohyun. Mataku sudah bengkak. Entah sudah berapa lama aku menangis. Tapi, tiba-tiba, aku melihat tangannya bergerak. “Seohyun…” Aku memanggilnya. Perlahan, Seohyun membuka matanya. Dia melihat ke arahku. “O…oppa” katanya terbata-bata.

Perasaan senangku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Seohyun! Akhirnya kau sadar” seruku ceria, lalu segera memanggil dokter. Dokter itu memeriksa seohyun sebentar lalu berpaling ke arahku. “Syukurlah, dia sudah sadar. Dia hanya perlu istirahat sebentar. Bahkan besok dia sudah bisa pulang” ucap dokter itu.

Sambil tersenyum, aku memeluknya. Aku bahkan meneteskan air mata lagi. Air mata bahagia. “Chagiya, bogosippeoyo” ucapku. “Ne, oppa. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?” tanyanya. “Ada! kau tidak melihat kan betapa parah aku menangis, menunggumu setiap waktu? Tapi, aku senang. Sangat senang sekarang. Aigoo… welcome back, Seohyun. My seohyun” katanya sambil mencium kening seohyun dengan lembut.

———-

Yoona POV

Omona! Omona! Eotokke? Aku mondar-mandir, menunggu di luar ruang ICU. Sooyoung berusaha menenangkanku, tapi aku tidak mau. Bagaimana kalau orang yang kau cintai tertabrak mobil dan sedang berada di ruang ICU? Apa mungkin kau bisa tenang?

Lalu, dokternya akhirnya keluar. “Dokter… Eottoke?” tanyaku langsung sambil menggigit bibirku khawatir. “Cho Kyuhyun-ssi sudah sadar. Selain beberapa luka dan memar, dia tidak mengalami cidera yang parah” kata dokter itu yang langsung disambut senyum lega dariku dan seruan gembira dari sooyoung.

“Kyu…” aku langsung menghampirinya dan memeluknya. “Gwenchanayo?” tanyanya. “Pabo! Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!” ujarku. “Kekeke. Aku tidak apa-apa, yoong…” kata kyuhyun. “Ckckck. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba pergi berlari seperti itu sih?” tanya sooyoung.

“Karena… aku mendengar kyuhyun bilang kalau dia mencintai yeoja lain” ucapku sedih. “Mwo?? Aku tidak pernah mengatakannya! Aigoo Im yoona! Yang kucintai itu hanyalah kau” katanya. “Jinjja?” tanyaku ragu-ragu. “Tentu saja! Semua usahaku untuk mendekatimu… usahaku sendiri… apa tidak cukup untuk membuktikannya?” tanyanya. Aku tersenyum. “Cukup cukup pacarannya! Oppa, kau harus istirahat! Nanti malam kau sudah bisa pulang” sela sooyoung.

————

Author POV

2 hari kemudian….

“Yoona-ah! Saengil chukkaeyo!! Saranghae…” kata Kyuhyun sambil memeluk yeoja chingunya itu. “Nde. Gomawoyo, oppa” kata yoona. “Ini.. untukmu” kata kyuhyun lagi, memberikan kado berbungkus kertas biru, warna kesukaan yoona. “Ah… gomawo”

“Yoona!!” panggil seseorang. “Kibum oppa!!” balas yoona sambil berlari ke pelukan Key. “Yah!! Mau apa kau kesini!?” Tiba-tiba eomma-nya yoona berseru, menuding Key dan seorang ahjussi di sebelahnya. “Apa salahnya aku pergi ke ulang tahun anakku?” kata si ahjussi, yang ternyata appa-nya yoona itu dengan tenang.

“Kau….” “Sudahlah, eomma. Aku yang mengundang mereka. Apa salah kalau aku menginginkan keluargaku lengkap saat aku ulang tahun? Kumohon eomma… walaupun kalian sudah bercerai, setidaknya, untuk hari ini saja, berdamailah” mohon yoona. Kedua orangtuanya terdiam lalu mengangguk setuju.

“Eeh… jadi ini… kakakmu?” tanya kyuhyun tidak percaya. “Ne. Memangnya kau kira siapa?” tanya yoona balik. “Kukira dia… namja chingumu, atau yah… sejenisnya” kata kyuhyun malu-malu. “Kekeke. namja chinguku hanya satu dan namanya adalah Cho Kyuhyun” katanya.

“Oh iya… yoona, kenalkan, ini yeoja chinguku, Seo Joo Hyun” kata Key, menggadeng seohyun. “Annyeonghaseo, Seo Joo Hyun imnida” katanya sopan sambil membungkuk. “Annyeong. Im Yoona imnida” kata yoona sambil tersenyum. “Cho Kyuhyun imnida” kata Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun?”ucap seohyun sedikit bingung. “Ye. Wae-yo?” tanya kyuhyun bingung. “Ah… annio. Aku hanya merasa… kita pernah bertemu… sebelumnya?” katanya ragu-ragu. “Molla. Tapi, aku juga merasa pernah mengenalmu” kata kyuhyun. Mereka saling bertatapan, lalu saling melihat ke arah pergelangan tangan mereka, tempat sebuah gelang dengan ukiran sayap malaikat menggantung. My… Angel….

The End~

wewww… akhirnya the end yah…

eottoke?eottoke??

Mianhae update-nya lama… kemaren charger laptop author emmm… meledak –a jadi gak bisa buka laptop sama sekali deh…

Oh iya, author abis ini mau bikin 3 atau 4 ff oneshoot dulu, baru abis itu ke project selanjutnya: A Cup With Love. Cast-nya? Ada deh~ Kekekeke :p

keep commenting yah~ 😀

 

 

Melodies of Life chapter 6

Posted: March 19, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of Life chapter 6 -The Only One

Author POV

Kyuhyun sudah berada di sekolah dan sedang mengobrol dengan Yoona. “Hey, kyu… coba ajak dia pergi hari ini” usul Seohyun. Kyuhyun menurutinya. “Yoona…” panggilnya. “Wae, oppa?” jawab yoona. “Engg… Apa kau sibuk hari ini?” tanya Kyuhyun lagi. Yoona menggeleng. “Apa kau mau pergi bersamaku?” tanya Kyuhyun malu-malu. “Eeh… kemana?” tanya Yoona bersemangat. Kyuhyun diam saja.

‘kemana ya?’ pikirnya dalam hati. “Ajak dia ke festival budaya” usul si malaikat. Dia memang selalu penuh dengan ide-ide brilian. “Sempurna! Ayo kita ke festival budaya!” ajak Kyuhyun sambil tersenyum. Yoona menatapnya bingung. “Baiklah” jawab yoona. “Aku akan menjemputmu nanti sore. Arasso?” ucap kyuhyun. “Nde” jawab Yoona, yang pipinya memerah, memikirkan dia akan berjalan berduaan dengan kyuhyun. Apa ini… kencan?

————

“Woaaa… kyuhyun! Kau sukses mengajaknya jalan!” seru Seohyun riang saat mereka sudah di rumah. Tapi, Kyuhyun tidak seriang itu. “Joohyun…” panggilnya lirih. “Apa yang terjadi kalau aku sudah mendapatkan yoona?” tanya kyuhyun. Seohyun duduk di samping kyuhyun dan terdiam sejenak. “Aku akan pergi. Karena, tugasku sudah selesai, kyu” ucapnya.

Kyuhyun mendesah. “Sudah kuduga. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau… teman yang berharga bagiku” ucap Kyuhyun. Dia menatap mata Seohyun dalam dan sejenak jantungnya berdegup lebih kencang. Hanya teman? Eeh… apa yang kau pikirkan Seo Joo Hyun!

“Ya! Sudahlah… kita nikmati saja dulu masa-masa ini. Dan kau harus menyiapkan kata-kata untuk yoona” ucap Seohyun, memecahkan keheningan yang kaku itu. “Hmm…” Kyuhyun berbalik sehingga kini dia berhadap-hadapan dengan Seohyun.

“Chagiya, saranghaeyo. Jeongmal saranghae. Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Kyuhyun sambil mengenggam tangan Seohyun. Wajah seohyun memerah semerah tomat. “Mwo??” “Oohtoke? Apa itu cukup untuk menyatakan perasaanku pada yoona?” tanya Kyuhyun sambil nyengir. Rupanya dia hanya latihan. Seohyun tercengang. “Ngg… kurang romantis” ujarnya akhirnya.

“Kyuhyun, hwaitting!” ujar seohyun menyemangati. “Ucapkan semuanya dari hatimu. Itu pasti akan meluluhkan yoona” tambahnya. “Memangnya… kau tidak ikut denganku?” tanya kyuhyun. Seohyun menggeleng. “Anni. Aku ingin mencari tahu tentang diriku. Hm, aku sedikit penasaran” ujarnya. “Nde. Hati-hati ya” ujar kyuhyun sambil tersenyum. Seohyun tertawa “Memangnya kau pikir apa yang akan terjadi pada seorang malaikat yang terlihat saja tidak? Kekeke” Kyuhyun hanya nyengir mendengarnya. Setelah itu, dia pergi ke rumah yoona.

Kyuhyun’s POV

Cause I can’t stop thinking ’bout you, girl… Hm, bunyi bel yang unik. Pikirku. Beberapa detik kemudian, Yoona sudah membukakan pintu untukku. “Annyeo…” kata-kataku tergantung, mulutku menganga lebar, terpesona melihatnya. Dia mengenakan dress yang sangat manis melekat di tubuhnya. Dress itu pendek, menampilkan kakinya yang indah *ohh stop being perverted kyu!!*

“Annyeong, Kyu” sapanya sambil tersenyum, membuatku tersadar dari pikiran pervert ku sendiri. “Annyeong, yoona. Aigoo.. kau cantik sekali. ” pujiku padanya yang sukses membuat pipinya bersemu merah dengan manis. “G-gomawo” katanya. Aku tersenyum. “Kkaja!”

Aku menggandeng tangannya sambil berjalan menuju ke festival budaya. Tangannya halus sekali. Aigo… aku jadi berdebar begini. “Yoo…yoona, awas!” seruku sambil menariknya yang nyaris terserempet motor (basi… udah biasa x_x)

Posisiku kini setengah memeluknya, menahan tubuhnya dengan lenganku. Kami dekat sekali. Omona omona omona! Wajahnya itu… argh… cantik sekali! Kami terdiam dengan posisi seperti itu selama beberapa detik, seakan tubuh kami menolak untuk merespon.

“Gwe.. gwenchanayo?” tanyaku akhirnya sambil melepasnya. “N-ne. Kamsa, oppa” katanya sambil berpaling dariku. Tapi, aku bisa melihat wajahnya yang memerah, seperti juga wajahku.

Perjalanan menjadi sedikit… mm.. kaku. Akhirnya kami sampai di festival budaya. Mataku langsung jeli menangkap sebuah cincin perak sederhana yang manis. “Yoona, chakkamanyo” kataku, lalu cepat-cepat membeli cincin itu tanpa sepengetahuan yoona.

“Oppa, aku mau itu” kata yoona sambil menunjuk ke sebuah boneka micky mouse. “Eh… itu kan terlalu kekanak-kanakan” ucapku. “Tapi aku mau itu” ucapnya lagi, mengeluarkan aegyo-nya. Haah… yoona, yoona… Siapa sih yang tak akan luluh melihat wajah imutmu itu? Akhirnya, aku membelikannya untuknya. “Gomawo, oppa. You’re the best” katanya, lalu, mencium pipiku yang membuatku membeku. Wooahh… kalau tau begini, aku akan membelikanmu seribu boneka micky mouse! kekeke

“Wah, pesta kembang api sebentar lagi akan dimulai! Kkaja, oppa!” serunya girang. Mwo?? Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Sebentar lagi bahkan tengah malam. Aigoo… Yoona sudah berlari mendahuluiku, dan aku langsung mengejarnya.

“AAAA” Brukk! “Yoona!” Aku langsung berlari ke arah yoona yang terjatuh. “Gwenchana?” tanyaku sambil membantunya berdiri. “Awwww” serunya kesakitan lalu kembali jatuh terduduk. “Kakiku… terkilir. Sakit” serunya. Air matanya sudah menetes. Aku mengusap air matanya dengan jariku. “Tenanglah, yoong” ucapku halus, sambil menggendongnya.

“Aah… padahal aku ingin menonton kembang api” ujarnya sedih, sambil melihat ke arah kerumunan orang yang sangat mustahil ditembus. Aha! Aku punya ide! “Apapun yang kau mau, aku pasti akan mewujudkannya” ucapku sambil tersenyum. Sambil menggendongnya, aku berjalan ke arah wahana bianglala (yang bentuknya kayak roda, terus muter gitu, namanya bianglala kan yah? #authorbabo)

Aku membisikkan sesuatu ke petugasnya yang langsung dia jawab anggukan. “Kamsahamnida ahjussi” ujarku sambil membungkuk. “Yoona, kkaja” aku masuk ke wahana bianglala yang 100% kosong, karena semua orang tampaknya bersiap menonton pertunjukkan kembang api.

Aku dan yoona duduk berhadap-hadapan. DUARR!! Terdengar suara kembang api pertama, tepat saat kami sampai di puncak bianglala. TEK! Bianglala kami berhenti berputar dengan posisi kami di paling atas.

“Oppa, apa yang terjadi…” Ujar yoona takut sambil menggenggam tanganku. “Omona! Tolong!! Huaaa” seru yoona takut. “Tenang, yoona, tenang… Aku yang menyuruh petugasnya untuk mengentikan kita di puncak” ujarku. “Mwo? Wae?” tanyanya bingung, tapi sudah tidak takut lagi. “Lihatlah” ujarku.

Yoona melihat ke arah yang kutunjuk. “Wah…” Kembang apinya terlihat sangat jelas dari sini, begitu pula dengan pemandangan lampu-lampu warna-warni kota Seoul. DUARR!! DUARRR!! “Aigoo… cantik sekali” ujarnya sambil tersenyum, memandang ke arah kembang api. Ne, yoong… cantik sepertimu…

Aku mengeluarkan cincin yang kubeli tadi. “Yoona…” panggilku. “Hm? Wae-yo, oppa?” tanyanya, mengalihkan pandangannya ke arahku. “Kuharap aku bisa selalu melihat senyummu. Im yoona, saranghae. Bolehkah aku, menjadi namja yang selalu berada di sampingmu? Membuatmu tersenyum dan melindungimu?” ucapku.

Dia memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. “Ne… na… na do saranghae, oppa” katanya. Aku tersenyum sambil memakaikan cincin itu ke jari manisnya. “Tunggulah, yoong… suatu saat, aku pasti akan memberikanmu cincin yang jauh lebih mahal, dan jauh lebih indah” ucapku. “Anni, oppa. Ini… ini cincin terindah yang pernah kulihat. Karena kau yang membelikannya untukku” ujarnya. Aku menggenggam tangannya dan mencium keningnya.

—————–

Aku pulang ke rumah dengan perasaan bahagia walaupun lelah. Tapi, ada sesuatu yang janggal dengan perasaanku. Aku… tidak sepenuhnya bahagia.

“Joohyun-ah… kau darimana?” tanyaku padanya. Matanya sembab dan bengkak, habis mennagis. “Aku… tadi habis ke rumah sakit” jawabnya. “Wae-yo? Ada apa?” tanyaku khawatir. “Aku melihat ngg… tubuhku tadi. Dan seorang namja yang memeluk tubuhku. Kurasa, dia namja chinguku. Entahlah. Aku sedih, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?” ujarnya sambil mendesah kecewa.

“Tenanglah… suatu saat kau pasti akan bersamanya lagi” kataku sambil mengusap kepalanya. Aku selalu menyukai sensasi saat menyentuhnya. Menenangkan dan lembut. Aku mendesah. Jadi, dia sudah punya namja chingu? Eeh… tunggu! Kenapa.. aku kecewa? Aku sendiri kan… sudah memiliki yoona… Apa… aku.. menyukai Seohyun? Tapi…

“Oh iya, bagaimana dengan yoona? Oohtoke? Oohtoke?” tanyanya. Aku tersenyum simpul. “Champion!!” seruku sambil ber-highfive dengannya. “Yeay! Kau hebat, kyu!” serunya. “Ne, aku tau” ucapku sambil tertawa.

“Nah, kurasa aku akan ke…” “Chakkaman!” seruku sambil menarik pergelangan tangan Seohyun. Rupanya, aku menarik terlalu kuat. Sampai-sampai kami berdua jatuh ke lantai,dengan posisi aku berada di atasnya.

Omona! Dia… cantik sekali. Wajahnya mulus, tanpa cela. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya. Bibirnya… Aigoo… apa yang kau pikirkan cho kyuhyun! Tapi, bibir itu.. Aku ingin sekali menciumnya. Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan… aku, sekali lagi di bawah kesadaranku menempelkan bibirku ke bibirnya.

Dia terkejut, lalu mendorongku. Aku sendiri pun juga terkejut dengan apa yang barusan kulakukan. “Aku… aku…mianhae” kataku akhirnya. Dia terdiam sebentar. “Ne. Itu hanya kecelakaan” Itu bukan kecelakaan. Aku sengaja melakukannya.

Aku… sebenarnya bagaimana dengan perasaanku? “Kyuhyun! Ada apa?” tanya seohyun. “Gwenchana. Bisa tolong tinggalkan aku sebentar? Aku sedang ingin sendiri” gumamku padanya. Dia terlihat bingung, tapi menuruti perkataanku dan pergi keluar. Aku berbaring di ranjangku. Argh… aku bingung!

“Oppa, kenapa? Kok kau pulang larut sekali?” tanya sooyoung, yang masuk ke kamarku tiba-tiba. “Kau tidak bisa mengetuk ya?” ujarku. Dia hanya nyengir dan duduk di ranjangku.

“Sooyoung… pernahkah kau merasa, kalau kau mencintai seseorang, tapi, hatimu juga berdebar tiap melihat seseorang yang lain?” tanyaku melantur. Sooyoung terdiam. “Itu tandanya… kau harus memilih, oppa. Siapa yang benar-benar ada di hatimu. Pasti hanya ada 1 orang” ucapnya bijak. heran, sejak kapan adikku jadi bijak begitu? Tapi, aku memikirkan perkataannya. 1 orang…. yang benar-benar di hatiku?

—————

-TBC-

Siapa yang akan Kyuhyun pilih?

Seohyun, malaikat baik hati yang selalu membantunya?

Atau, Yoona, yeoja cantik yang sudah menerimanya?

Will be revealed in chapter 7!!

Aigoo… author kangen banget loh sama kalian! Akhirnya, exam finish!! Dan author bisa leluasa deh lanjutin ff lagi. Apa ada yang kangen dengan author? Ah, ga usah bohong. Pasti pada kangen kan? Iya kan? #pedenajis. kekeke. Mianhae kalau author update-nya bakal agak lama disini, soalnya author lagi sibuk bikin ff di Asianfanfics. Hehehe. Tapi, tenang. Author bakal update disini juga, kok. Soalnya, author ada project baru nih x_x hehehe. Keep commenting, okay? ^^

Melodies of Life chapter 4

Posted: March 4, 2011 in Romance
Tags: , , , ,

Melodies of Life chapter 4-The real beginning

Author POV

Seohyun sedang berjalan di koridor sekolahnya ketika… BRUKK! Seseorang menariknya dari belakang dan menjatuhkannya ke tanah, membuat tubuhnya terhempas. “A.. apa?” Rupanya itu Amber dan Hyoyeon.

“Jangan pikir kami mengalah padamu! Gara-gara Key oppa menolongmu waktu itu” ujar Hyoyeon sinis. “Nde! Kau harus terima pembalasan kami karena gara-gara kau kami dimarahi Key!” seru Amber galak. Seohyun menunduk karena takut. “Apa yang kalian inginkan?” tanyanya sambil menunduk. Hyoyeon dan Amber tersenyum licik.

“K-kau mau bawa aku ke-kemana?” tanya Seohyun panik saat Hyoyeon dan Amber menarik tangannya. “Tidak usah banyak tanya! Nanti kau juga tau!” balas Amber kasar.

Brakk! Mereka menghempaskan Seohyun ke dalam gudang. “A-apa yang mau…” belum selesai Seohyun bicara, Hyoyeon sudah menutup pintu gudang dan menguncinya. “H-hei! Hyoyeon! Amber! Buka!” teriak Seohyun panik dari dalam. “Tidak akan! Membusuklah kau di dalam bersama tikus-tikus itu! Hahaha” seru Hyoyeon kejam. “Itu akibatnya kalau kau berani macam-macam dengan kami, Seo Joo Hyun!” timpal Amber lalu mereka sambil tertawa puas pergi meninggalkan Seohyun yang berteriak-teriak putus asa.

Seohyun menatap sekitarnya dengan panik. Gudang itu sempit, bau, dan gelap. Ciiit…ciiit… “Gyaaaa!!!” Seohyun berteriak histeris saat 2 ekor tikus berlari melewati kakinya.

“Tolong! Tolong buka pintunya! Tolong! Key oppaaa!!” seru Seohyun putus asa sambil menangis. Kenapa, kenapa mereka begitu kejam padaku? Pikirnya dalam hati.

———–

Key POV

“Hm, kenapa seohyun tidak masuk hari ini?” pikirku, menatap bangkunya yang kosong. Apa dia sakit? Pikirku cemas. Perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi padanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu cemas.

“Kibum! Tolong ambilkan kardus di gudang. Cari kardus yang isinya beberapa alat musik tradisional Korea. Kita akan mempelajarinya hari ini” perintah sonsaengnim. “Ah, yang lain saja sonsaengnim. Aku benci gudang itu” ujarku menolak. Ugh, aku paling malas kalau harus mencari-cari kardus si dalam ruangan yang gelap dan bau busuk itu.

“Yasudah. Taemin! Coba kau yang ambilkan.” ujar sonsaengnim. taemin, murid kutu buku, pendiam, dan sangat penurut pada guru itu langsung keluar menuruti perintah sonsaengnim.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan wajah pucat dan keringat dingin. “G-gudangnya dikunci. D-dan… ada o-orang yang berteriak dari dalam. Di..dia terus berteriak ‘tolong!’ dan ‘Key oppa!'” ucap Taemin panik. Spontan, aku bangkit dari kursiku. Dia meneriaki namaku? Jangan-jangan….

“Ya! Kim Ki Bum! Kau mau kemana?!” seru sonsaengnim, tapi kuabaikan dan langsung melesat menuju gudang. Sial! Andai saja tadi aku menaati sonsaengnim untuk pergi ke gudang. Kalau sampai yang di dalam sana Seohyun dan terjadi apa-apa padanya, tak akan kumaafkan diriku sendiri!

Aku menggedor-gedor pintu gudang, mencoba membukanya, tetapi ternyata memang dikunci. “Seohyun?” tanyaku cemas. Hening. Tidak ada jawaban. “Yang di dalam! Tolong jawab aku!” seruku. Tapi, tetap hening. Akhirnya BRAKK!! Kudobrak pintu itu. Gagal. BRAKK!! Kucoba lagi lebih keras. Rasanya lenganku sudah memar dan tulangku serasa retak. Cklek. Akhirnya pintu itu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya.

“Seohyun!” Kupanggil dia yang sudah tergeletak pingsan di lantai. Pasti dia kehabisan oksigen, di dalam ruangan yang sempit dan pengap seperti ini. Langsung kugendong dia dan kubawa menuju UKS.

“Seohyun bertahanlah” ujarku cemas untuk yang ke-5 kali seiring dengan langkahku menuju UKS. Setelah sampai, langsung kubaringkan dia di tempat tidur. Kenapa tidak ada dokter yang bertugas disini sih? Pikirku kesal.

Akhirnya aku hanya duduk dan menungguinya. Kugenggam tangannya yang mungil dan sesekali kuusap kepalanya. Aaah… cantiknya dia. Wajahnya benar-benar seperti malaikat!

————

Seohyun POV

Kubuka mataku perlahan. Terang. Apa aku sudah tidak di gudang lagi? “Dimana aku?” gumamku pelan. “Seohyun! Kau sudah sadar?” ujar seseorang. Suaranya sangat familiar. “K.. key oppa?” ujarku terkejut saat melihatnya yang berdiri di sebelahku.

“Kok.. kok bisa? Bukankah tadi aku dikunci di gudang?” ucapku bingung. “Dikunci? Siapa yang menguncimu?” tanya Key murka. Aduh, keceplosan! “Eeh… anni. Aku salah bicara” kataku berbohong. “Kau tidak bisa berbohong padaku, seo. Katakan.. siapa yang menguncimu?” paksa Key. AKhirnya, dengan terpaksa aku menceritakan semuanya.

“2 manusia itu!!” seru Key geram. “Jangan lakukan apapun, oppa. Biarkan saja mereka” pintaku. “Tapi tapi…” kilahnya, tapi langsung kusela. “Tidak ada tapi! Biarkan saja mereka” ucapku, tetap pada pendirianku. Aku tidak mau masalah ini semakin runyam. “Tapi tapi…” “Ya! Kim Ki Bum!” marahku. “Baiklah…” katanya pasrah. “Nah, begitu” ucapku sambil tersenyum.

“Kau ini… lain kali hati-hati. Apalagi pada mereka. Kalau begjni, aku akan selalu bersamamu kapanpun, dimanapun” ucapnya. “Eeh? Wae-yo? Untuk apa?” tanyaku bingung. “Supaya aku bisa selalu melindungimu” jawabnya sambil tersenyum. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Author POV

“Oppa, kenapa kau selalu menolongku?” tanya Seohyun. “Molla. Mungkin…. karena… aku mencintaimu” jawab Key lirih. “Mwo?” Seohyun terkejut mendengarnya.

“Seo Joo Hyun…” ucap Key. Dia menggenggam tangan Seohyun, yang sedang duduk di ranjang UKS dan menatap matanya lekat-lekat. Dia menaruh tangan Seohyun di dadanya. “Bisakah kau merasakannya? Detak jantungku? Detak jantungku yang selalu berdetak 4 kali lebih cepat, setiap aku bersamamu. Raga ini rasanya tak pernah puas untuk selalu menjagamu. Apa kau tidak tau alasannya? Itu semua… karena… Seohyunnie, saranghae” kata Key.

Seohyun terpaku menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. “Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Key. Seohyun mengangguk. “Nde, oppa. Na do saranghae” katanya. Key langsung tersenyum bahagia dan memeluk Seohyun. Seohyun juga tersenyum dan memeluknya balik.

———–

Seohyun dan Key harus ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa tugas, karena selama pelajaran mereka menghabiskannya di UKS. “Hm, Seohyun. Coba tolong kau nyalakan komputernya. Kita harus mengetik beberapa artikel mengenai alat musik tradisional” ucap Key. “Nde, oppa”

Seohyun menarik kabel komputer lalu hendak mecolokkannya di stop kontak. “Jangan…. itu….” Drzzzzz…. zzzztttt… “AAAAAA” “Seo.. Seohyun!!” Key berteriak panik. Stop kontak itu memang sudah rusak dan konslet. Key menahan diri untuk tidak menyentuh Seohyun karena itu hanya akan membuat ikut tersetrum juga.

“Seohyun…” Key berusaha membangunkan Seohyun yang sudah pingsan karena tersetrum listrik. Cepat-cepat dia gendong Seohyun menuju ke rumah sakit. “Dasar kau babo Key!” ujar Key pada dirinya sendiri. Dia sangat cemas, panik, dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada Seohyun.

Seohyun langsung cepat-cepat dibawa ke UGD. Key mondar-mandir, menunggu denagn cemas. Dia menelepon sekolah dan memberitahu kejadian itu supaya bisa diberitahu pada orangtuanya Seohyun.

Drap!Drap! “Kau kibum-ssi? Bagaimana keadaan seohyun?” tanya seorang ahjussi, yang mungkin adalah appa-nya Seohyun. Tepat saat itu, dokter keluar.

“Bagaimana keadaan Seohyun?” tanya Key langsung. Dia dan orangtua Seohyun langsung mengerumuni dokter itu. “Dia tersetrum listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Saat ini, keadaannya sedang koma.” ujar dokter itu. Key tertunduk lemas.

“Butuh waktu yang lama baginya untuk pulih, karena sudah sampai mengenai sistem saraf pusatnya” jelas dokter itu lagi yang semakin menambah buruk suasana.

Appa-nya seohyun terlihat sangat syok. “Bolehkah aku menemui anakku?” pintanya. “Nde. silahkan” ujar dokter itu. Orangtua seohyun langsung masuk ke dalam menemui anak mereka.

“Andai aku tadi tidak menyuruhnya menyalakan komputer. Andai aku tadi memperingatinya. Argh!” sesal Key. Air matanya mulai menetes, benar-benar takut akan terjadi sesuatu pada Seohyun.

———–

Seohyun POV

Terang. Putih. Itulah kesan yang kudapat pertama kali saat aku membuka mataku. Aku tidak ingat apapun. Yang kuingat hanyalah, aku adalah yeoja bernama Seo Joo Hyun. Hanya itu.

“Seo joo hyun…” panggil seseorang. Suaranya sangat berwibawa dan mendamaikan hati. “Siapa itu?” tanyaku. Herannya, aku tidak takut sama sekali, padahal sekelilingku putih, bersih. Tapi, sangat indah dan damai.

“Ini Aku, Tuhan” ujarNya. Aku menengok, menatap sosokNya yang…. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kau harus melihatNya sendiri untuk mengetahuinya. “Aku… sudah mati?” tanyaku sedikit terpukul.

“Belum. Tapi hampir. Kau adalah roh sekarang. sebuah jiwa yang menunggu raganya. Dan selama menunggu itu, ada yang harus kau lakukan” ucapNya. “Apapun yang kauinginkan, Tuhan” jawabku.

Dia tersenyum hangat dan merangkulku. Berada dalam tanganNya, adalah sesuatu yang sagat menakjubkan. Seakan-akan, semua penderitaan di dunia itu tidak ada, semua beban terasa melayang. Aman, nyaman, dan hangat.

————-

Kyuhyun POV

Aku pulang dengan mengomel-ngomel. Aku masih kesal dengan kejadian dengan Yoona tadi. Mengapa dia begitu membela namja itu sih? Tapi, ada sedikit juga rasa bersalah karena sudah marah seperti itu padanya tadi.

Aku menaiki tangga sambil marah-marah. “Oppa!” panggil Sooyoung tiba-tiba, sudah berada di puncak tangga. Aku terkejut, dan langsung terjatuh berguling dari tangga.

BRUK! Aku terjatuh dengan bunyi gedebuk keras. Ouch… jangan sampai tulangku ada yang patah. “Ah… gwenchanayo?” tanya seseorang khawatir. “Gwe.. gwenchana” kataku sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menatap orang yang menanyakanku. Aku terkejut. Sosoknya kabur dan seperti transparan, tembus cahaya dan bersinar keemasan. Seperti seorang malaikat. “Apa aku sudah mati?” gumamku, bertanya-tanya apakah di koran akan ada berita “seorang namja tewas jatuh dari tangga karena dikagetkan oleh yeodongsaengnya”

-TBC-

Author keabisan kata-kata di bagian describe-in Tuhan, berhubung author belum pernah ketemu langsung. kekeke. Jangan lupa comment yah… dijamin chapter 5 bakal seru loh ^^