Posts Tagged ‘Kyuhyun. Yoona’

Melodies of Life chapter 5-The unexpected ‘New Friend’


Kyuhyun POV

“Apa aku sudah mati?” tanyaku seperti orang bodoh. “Ya! Kau ini bicara apa sih?!” serunya, menatapku seakan-akan aku ini alien yang berkepala 2. Sosoknya tidak jelas, samar-samar, dan ehem… agak transparan. Yang kutau, dia seorang yeoja. “Nuguya?” tanyaku bingung. Siapa dia? Mengapa tiba-tiba ada di rumahku?

“Seo Joo Hyun imnida” katanya sambil tersenyum. “eeh… Cho Kyu Hyun imnida” kataku, mengulurkan tanganku. Dia tersenyum gugup dan menyambut tanganku. Deg! Aku tersentak. Tangannya… halus sih, tapi… tidak seperti tangan manusia. Seperti sedang menyentuh air yang tidak basah. Seperti udara yang padat. Seperti… sesuatu yang nyata, tapi mustahil.

“Ap-Apa..” Aku terkaget dan langsung menyentakkan tanganku. “Kau ini siapa sebenarnya?” teriakku padanya, agak sedikit takut. Tapi, dia tersenyum. Wah, senyum yang indah. “Aku ini seorang malaikat, babo!” serunya.

Aku melongo, karena 3 alasan. 1. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa ada di bumi, apalagi di RUMAHKU? 2. bagaimana mungkin aku bisa melihat bahkan berjabatan tangan dan mengobrol dengan malaikat tanpa mati terlebih dahulu (Syukur-syukur ketemunya malaikat, bukan setan pas udah mati…)? 3. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa mengucapkan kata babo?

“Tunggu… tunggu… Ini pasti mimpi!” Aku berkata, sambil mencubit pipiku sendiri. Sakit. Berarti… bukan mimpikah? Tap tap tap… kudengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. “Akan kujelaskan nanti. Ingat! Yang bisa melihatku hanya kau, cho kyuhyun. Arasso?” ucapnya. Belum sempat aku menjawab, Sooyoung sudah memotongnya.

“Oppa! Gwenchanayo?” serunya khawatir sambil menghampiriku. “Nde. Mungkin kepalaku sedikit terbentur. Aku bertemu dan bahkan berbicara dengan seseorang yang mengaku seorang malaikat” ucapku sambil melirik ke arah malaikat itu. Sooyoung menatapku seakan-akan aku baru saja mengatakan kalau aku akan menikah dengan Sungmin Super Junior. “Ckck. Kepalamu mungkin memang terbentur sangat keras” komentarnya sambil mengecek kepalaku, berpura-pura bersikap dramatis.

“Lagipula, kenapa sih kau harus memanggilku sebegitu keras?” tanyaku jengkel padanya. “Eh… begini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan” katanya. Sikapnya langsung berubah gugup. “Wae?” tanyaku penasaran. “Kalau kau merasa jantungmu berdegup kencang saat dekat dengan seseorang, tapi kau merasa gugup dan bahagia di saat yang sama, dan merasa ingin sempurna di depan orang itu, apa artinya?” tanyanya, menghindari tatapanku.

“Kau sedang jatuh cinta!” ucap sang malaikat menyimpukan. “Yep. Dia benar. Kau jatuh cinta” ucapku. “Mwo? Dia? Siapa yang benar?” tanyanya bingung. “Dia” kataku menunjuk ke arah si malaikat. Sooyoung menatapku lagi seakan aku ini memang benar-benar menikah dengan Sungmin Super Junior. (Sungmin: Apaan sih ? Aku dibawa-bawa terus… entar Sunny marah ah! xD)

“Sudah kubilang hanya kau yang bisa melihatku!” ucap si malaikat. “Itu tidak adil! Aku bisa disangka orang gila kalau begitu” seruku padanya. “Argh! Kusarankan kau ke psikiater, oppa!” ucap Sooyoung lalu pergi meninggalkanku. “Ya! Sooyoung! Beritahu dulu oppa, siapa orang yang membuatmu jatuh cinta? Hei, Sooyoung!” Aku berteriak, tapi dia mengabaikanku. Aigo… uri sooyoung sudah besar! Dia sudah jatuh cinta sekarang!

“Nah, malaikat. Jelaskan semuanya padaku” ucapku, mulai menerima kenyataan kalau ini bukan mimpi buruk. “Tubuhku sedang sekarat di rumah sakit. Tuhan memutuskan, kalau aku mau sembuh, aku harus melakukan sebuah misi” jelas si malaikat. “Dan apa hubungannya denganku?” tanyaku penasaran.

“Misiku adalah untuk mempersatukanmu dengan yeoja yang kau cintai, Im Yoona” lanjutnya, membuatku terkejut. “Mworago??” seruku. Aishh… Tuhan… aku memang memohon pada-Mu untuk mempersatukanku dengan Yoona, tapi… apa harus dengan cara seperti ini?

“Kau harusnya bersyukur! Tuhan sudah mau meluangkan waktunya untuk menjawab doa-doamu yang sok puitis dan berlebihan itu” ucapnya. “Mwo? Apa kau tidak tau aku merangkai doa itu sepanjang pelajaran Bahasa Korea, tau!” seruku jengkel. Dia tertawa. Apa semua malaikat mempunyai tawa yang manis seperti itu?

“Nah, malaikat. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku padanya. “Berhenti memanggilku malaikat. Apa kau merasa nyaman kalau aku memanggilmu manusia? Yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Yoona, manusia” ucapnya.

“Nde, nde. Kalau begitu… siapa namamu tadi?” tanyaku. “Seo Joo Hyun.” ucapnya. “Baiklah, Joohyun. Bagaimana caraku minta maaf pada yoona?” tanyaku. “Panggil saja aku Seohyun” ucapnya. “Aish… kau banyak maunya! Katakan saja, bagaimana cara aku minta maaf pada Yoona?” tanyaku padanya.

“Menggunakan kata-kata sederhana. Katakan kau menyesal, dan kau tidak ingin dia marah padamu. Ayolah… keluarkan saja semua pesonamu” ucap Seohyun. “Anni anni… aku tidak bisa! Setiap dekat dengannya… semua pesonaku lenyap seketika. Aku… gugup” ucapku. Itu memang benar. Ada sesuatu… yang membuatku gugup tapi sekaligus bahagia setiap berada di dekatnya.

“Yasudah. Lakukan saja dan ikuti kata-kataku besok. Arra?” jelasnya. Aku mengangguk. “Emm… mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi memang agak sedikit mengganggu untukku. Nanti kau tidur dimana?” tanyaku polos padanya. Dia tertawa. “Malaikat tidak butuh tidur, babo” katanya. Dia mungkin satu-satunya malaikat yang bisa berkata ‘babo’ . pikirku.

—-

Esok harinya, aku bangun dengan wajah yang sangat lelah dan lingkaran hitam di bawah mataku. “Kekeke. Annyeong, Mr. Panda!” ejek Seohyun padaku. “Ya! Joohyuuunn!” seruku padanya. Dengan termalas-malas, aku mandi dan segera ke meja makan.

Kulihat yeodongsaengku sudah disana, siap dan rapi. Sejak kapan dia bisa bangun pagi? Pikirku. Ckck, cinta memang sangguo mengubah segalanya. “Hei… apa kau mau memberitahu oppa siapa namja yang bisa membuatmu bangun sepagi ini dan bahkan menata dirimu serapi ini?” tanyaku padanya. Kulihat pipinya bersemu merah. “Ehh… sudahlah, oppa. Ayo habiskan saja sarapanmu lalu kita berangkat sekolah” ucapnya. “Nde, nde. Tapi, kapan-kapan kenalkan padaku ya” ucapku. Dia tidak menjawab dan hanya memakan rotinya.

Aku menengok ke arah rumah Yoona. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia akan keluar. Mungkin dia bahkan belum bersiap. Kami berangkat sekolah pagi sekali hari ini. Aku bersumpah tidak pernah seumur-umur pergi sepagi ini, bahkan saat hari pertama memasukki sekolah.

“Ceritakan sesuatu tentang dirimu” ujarku pada Seohyun, setelah kami berpisah dengan sooyoung. “Hm, molla. Yang kutau hanyalah namaku. Seo Joo Hyun” jawabnya sedih. “Hei… jangan sedih. Gwenchana. Sebentar lagi, kau pasti akan kembali ke tubuhmu dan mengingat semuanya lagi. Aku berjanji!” ujarku padanya, mengusap pelan pundaknya. Jujur, aku menyukai sensasi saat aku menyentuhnya. Seakan menyentuh sesuatu yang nyata tapi mustahil, seperti yang sudah kubilang. Tapi… lembut dan menenangkan.

Aku masuk ke kelas dan menunggu yoona. Sesekali mengobrol dengan seohyun saat tidak ada yang memperhatikan. Kuakui, dia teman yang baik, walaupun dia merupakan teman baru yang tidak pernah kuharapkan.

Beberapa saat kemudian, Yoona masuk ke kelas. Aku langsung menghampirinya. “Yoona-ah…” panggilku. Dia hanya melemparkan tatapan dingin padaku.

“Katakan kau menyesal…” ujar seohyun. Aku mematuhinya. “Aku menyesal atas kejadian kemarin. Aku ingin minta maaf. Aku tau aku ini bodoh dan konyol” ucapku mengikuti kata-kata seohyun. Aku hendak memprotes saat dia bilang ‘bodoh dan konyol’. Tapi dia langsung mencubit lenganku, menyuruhku melanjutkan. “Aku tidak bisa tenang. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan ini semua. Kumohon… aku tidak tau apa yang harus kulakukan kalau kau marah dan benci padaku. Jeongmal mianhamnida” ucapku sambil menunduk.

Dia terdiam beberapa saat. “Nde. Aku juga minta maaf. Mianhae” katanya sambil tersenyum. Yes! Kudapatkan lagi senyum itu! Gomawo Joohyun-ah~

“Hei… besok ulang tahun Yoona loh..” ucap Seohyun. “Mwo? Jeongmal?” ujarku terkejut. Seisi kelas menatapku bingung. Aku hanya nyengir dan menunduk malu. “Kau tau darimana?” bisikku. Dia tersenyum. “Ada beberapa hal yang menguntungkan menjadi seorang malaikat, contohnya mengetahui sesuatu dengan mudah” ujarnya. Aku menatapnya jengkel. “Nanti pulang, temani aku ke mall. Aku harus memberikan sesuatu untuk Yoona” ucapku. Dia mengangkat dua jempolnya sebagai tanda persetujuan.

“Kyuhyun oppa… mau pulang bareng?” tawar yoona, setelah sekolah usai. “Ehm… tidak bisa. Aku ada sedikit urusan. Mianhae” kataku padanya. Dia terlihat sedikit kecewa. “Gwenchanayo” katanya.

“Kkaja!” ucapku pada seohyun. Kami pergi ke mall dan menghampiri toko aksesoris. “Joohyun-ah… bantu aku memilih. Apa yang biasanya yeoja sukai?” tanyaku bingung, melihat ke segala benda pink dan bling-bling di sekelilingku dengan pasrah. Jelas aku tidak akan sebingung ini kalau disuruh memilih kaset Playstation.

“Cari pelan-pelan benda itu dengan hatimu” ujarnya. Aku menatap pasrah. Sebuah kalung menarik mataku untuk memandangnya. Aku mengambilnya. Kalung perak sederhana dengan liontin lambang hati. Cantik. Entah kenapa, aku merasa ini cocok untuknya. Aku menoleh ke arah seohyun dan dia mengangguk menyetujui.

Aku melihat 2 buah gelang pasangan, dengan ukiran berbetuk sayap, yang terpisah. Gelang itu bisa digabungkan, membentuk sepasang sayap yang unik. Dia juga mengambil itu. Setelah membayar di kasir, dia memberikan salah satu gelangnya pada Seohyun.

“Mwo? Apa ini?” tanya seohyun bingung. “Itu gelang, babo. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku” ucapku padanya. Dia memakai gelangnya. Awalnya, aku khawatir apa gelang itu akan terlihat seperti melayang sendiri, tapi lega setelah dia menjelaskan apa yang melekat di tubuhnya juga ikut tidak terlihat. Aku tersenyum memandangnya. Aku tidak pernah berpikir, bermimpi pun tidak, memiliki teman baru seorang ‘malaikat’

-TBC-

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Seohyun sukses membuat Kyuhyun mendapatkan Yoona?

Wait in Melodies of Life chapter 6~