Posts Tagged ‘Jaebum’

Ini dia… Oneshoot untuk Siwon. Berhubung di Story at Seoul dongsaeng-dongsaengnya, Sooyoung dan Minho udah punya pasangan, author bikin nih spesial untuk Siwon. Siapa couple-nya? Yup! Our Goddess, Im Yoona!

Siwon POV

Inilah aku, Choi Siwon. Berdiri di depan sekolah kesayanganku, Seoul School, sekolah terbaik di Seoul. Aku mendahului adik-adikku masuk ke sekolah. Sifat kasar adikku, Minho sudah sangat berkurang, sejak dia berpacaran dengan Yuri. Ternyata dia tidak sekuat yang kukira. Begitu mudah rapuh hanya karena cinta. Tapi, aku tidak akan seperti dia. Cinta itu menurutku tidak penting.

BRUKK! Ada yang menabrakku dari belakang. Hei! Ada yang berani menabrakku? Dengan sinis, aku menengok ke belakang, ke arah seorang yeoja yang menabrakku. “Ya! Jangan mengotoriku dengan menabrakku!” seruku marah padanya.

“Mwo? Mengotorimu? Maaf maaf saja, tapi aku yang kotor gara-gara menabrakmu!” serunya balik. Aku terkejut. Orang ini…. menyebalkan sekali! Hmm, aku mengenalinya. Dia ini Im Yoona, murid yang baru 3 hari yang lalu pindah dari London ke Seoul, dan 1 kelas dengan adikku, Sooyoung.

Dia ini putri pengusaha terbesar di London. dengan parasnya yang cantik dan tubuhnya yang sempurna, membuat semua namja menyukainya. Kecuali aku.

“Jangan sombong kau, Im Yoona!” seruku. Dia tertawa meremehkanku. “Sombong? Sedang membicarakan dirimu sendiri, Choi Siwon? Aku jelas lebih baik darimu!” ucapnya. Oke, aku lupa memberitahu sesuatu. Dia ini, juga sombong! Hm, mungkin sama sepertiku.

“Mimpi dari mana kau lebih baik dariku? Cih!” balasku. “Jangan belagu. Kau ini hanya orang yang tidak bisa apa-apa, hanya bergantung pada orangtua” katanya. Oke, aku mulai panas sekarang. “Jangan sembarangan bicara! Memangnya kau sendiri tidak? Hanya bayi manja yang masih dipakaikan popok oleh omma-nya saja bangga!” seruku.

Wajahnya memerah karena marah. “Kau….” Tapi, pertengkaran kami dipotong oleh 2 pahlawan sekolah ini, Sooyoung dan namja chingunya, Onew yang selalu berhasil menangani keributan apapun. “Lebih baik kalian hentikan tingkah kekanak-kanakan kalian dan masuk kelas.” ucap Onew. “Daaaan… Siwon oppa! Aku tidak mau melihat yeoja lain yang menangis LAGI karena tingkahmu” kata adikku.

Aku memang selalu menurut pada adikku. “Nde, sooyoung” jawabku, langsung menurut. “Aku salah. Kau bukan bergantung pada orangtuamu, tapi pada adikmu. Dan itu lebih parah” ujar Yoona. Aku langsung menatapnya tajam. “Sudahlah, yoona. Hentikan!” ucap Sooyoung, membungkam Yoona.

Akhirnya, kami dengan angkuh menuju ke kelas masing-masing. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Karena, hari-hari sebelumnya, kami jarang sekali bertemu.

BRUKK! Seseorang menabrakku lagi. Hei! Apa hari ini itu hari menabrak Siwon sedunia? “YA!! Dasar orang miskin! Apa kau buta, hah?” seruku, yang memang sedang panas, ditambah lagi dengan orang satu ini. Rupanya, dia anak kelas 1. Sial! Junior saja sudah berani macam-macam!

Aku masuk ke kelas dengan marah-marah. Benar-benar hancur mood-ku hari ini! Dan ini semua gara-gara gadis sombong dan menyebalkan itu… Im Yoona!

KRIIING! Sampai pulang sekolah, mood-ku belum berubah juga. Bahkan sudah 2 yeoja yang menangis, gara-gara kuhina habis-habisan. Aku langsung keluar dari gerbang sekolah, tidak menunggu Sooyoung yang sedang dihukum gara-gara tidak mengerjakan PR bersama Kyuhyun, atau Minho yang sedang berduaan dengan Yuri.

Aku memasuki rumah dengan disertai omelanku pada pesuruh-pesuruhku. “Bagaimana sih? Dasar gembel!” omelanku terhenti, saat aku melihat ke ruang tamu. Disitu… ada orangtuaku! Seketika mood-ku langsung naik. Jarang sekali orangtuaku ada di rumah. Dua-duanya.

Sambil menampilkan wajah ceria dan tersenyum lebar, aku menghampiri mereka. “Omma! Appa!” sapaku. “Siwon-ah! Ayo duduk. Kita ada tamu” kata appa. Aku melihat, ada 3 orang lagi yang duduk berhadapan dengan orangtuaku. Salah satunya memakai seragam sekolahku. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia duduk membelakangiku.

“Im-ssi, ini putra sulungku, penerus Choi company, Choi Siwon.” kata appa memperkenalkanku. “Annyeong hase…” kata-kataku terputus, melihat siapa orang yang memakai seragam sekolah yang sama denganku itu. “Si… siwon??” serunya terkejut. “Yoo… yoona??” seruku, tak kalah terkejut.

“Ah… kalian sudah saling kenal rupanya.” kata si tamu itu, yang kuduga pasti appa-nya Yoona. “Ngg… kami 1 sekolah, appa” jawab yoona. “kalau begitu, ini semua akan jadi lebih mudah” kata appa-nya Yoona.

“Apa yang akan jadi lebih mudah?” tanyaku curiga. Aku punya perasaan tidak enak dengan apa yang akan terjadi. “Nah, kalau begitu langsung saja. Choi Siwon, kau akan bertunangan dengan Im Yoona” kata appa-ku.

“MWOO??” seruku dan Yoona bersamaan. Aku sangat terkejut. Apa mereka semua sudah gila? Menjodohkanku dengan… dengannya! Ah, anni.. anni… ini tidak boleh terjadi!

“Tapi… tapi, appa tidak bisa seperti ini. Aku dan dia tidak saling mencintai. Bahkan kami saling membenci. Iya kan? Hei! Katakan sesuatu!” ucapku gusar pada Yoona, yang dari tadi hanya diam saja. “Yoona… kau sudah tidak bisa menolak” kata appa-nya. Yoona hanya menunduk dan mengangguk.

“Kau juga tidak bisa menolak, Siwon! Sekarang pergilah ke halaman belakang, mengobrollah dengan yoona untuk saling lebih mengetahui satu sama lain” perintah appa-ku dengan tegas. Aku hendak membantah, tapi akhirnya dengan gontai pergi ke halaman belakang melihat tatapan tajam orangtuaku. Sial! Kenapa jadi begini, sih?

“Hei! Kenapa kau tidak menolak tadi?” seruku marah padanya. Kami sedang duduk di halaman belakang rumahku, menatap hamparan biru jernih air kolam renang di rumahku. Dia hanya diam saja. Kuputuskan untuk mennegok ke arahnya dan…

Dia menangis! Aku bingung, kenapa dia sampai menangis.Padahal, aku kan hanya bertanya seperti itu padanya.

“Eeh… mianhae. kenapa kau malah menangis?” tanyaku bingung. Dia mengelap air matanya. “Ah.. gwenchana. Aku…” Dia mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh. Aish… kenapa aku jadi tidak tega melihatnya menangis? Padahal entah sudah berapa yeoja yang kubuat menangis karena kata-kata pedasku.

“Ceritakan saja. Kalau itu bisa membuatmu lebih tenang” kataku, bahkan diluar kemauanku sendiri. Dia menatapku kebingungan, tapi kemudian tersenyum sedih. Hm, dia lebih cantik saat tersenyum dengan bahagia, pikirku.

“Dulu… appa sempat menjodohkanku. Tapi, aku mati-matian menolak, karena aku mencintai orang lain. Aku bahkan kabur dari rumah. Akhirnya appa menyetujui, tapi dengan syarat kalau namja yang kupilih tidak baik, aku tidak boleh menolak lagi kalau dijodohkan. Aku sangat percaya padanya saat itu, tapi…” yoona menghela nafas, lalu melanjutkan

“Ternyata dia… hanya memanfaatkanku. Setelah mendapat hartaku, dia mencampakanku.” Yoona sudah tidak menahan tangisannya lagi sekarang. Semua air matanya tumaph keluar. “Jadi… aku…” Aku sudah tidak tahan. Aku merangkulnya, mengusap-usap kepalanya.

“Sudahlah. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Namja itu memang sangat berengsek. Tak usah ingat dia lagi. Jalani saja yang ada sekarang” ucapku menenangkannya. “Kupikir… kau membenciku?” tanyanya sambil sesenggukan.

Aku mengusap air matanya. “Yah, kupikir begitu. Tapi, kurasa tidak. Kau tidak seburuk itu. Dan lagi…” aku menggantung kata-kataku. “Dan lagi?” tanyanya. Aku tersenyum. “Kau ini cantik kok” kataku tulus, membuatnya terseipu. Oh, wow! Baru kali ini aku memuji seseorang, apalagi orang itu sempat menjadi musuhku dan mengacaukan hariku.

“Apa kau membenciku?” tanyaku padanya. Dia menggeleng dengan kuat. “Bagus. Mengingat kita akan hidup berdampingan, entah apa jadinya kalau kita saling membenci” ucapku. “Kau… menyetujui perjodohan itu?” tanyanya kaget. Heh.. aku menyetujui perjodohan itu? “Hm, mungkin tidak ada salahnya. Yaah… kau tidak buruk-buruk amat kok.” ucapku.

Dia tersenyum melihatku. Ah, baru kusadari betapa cantik wajahnya itu! “Namja itu. Apa kau masih mencintainya?” tanyaku. Dia terdiam. “Molla. mungkin…” katanya. Aku menarik kepalanya ke bahuku, membuatnya menyender di pundakku. “Lupakanlah dia. Akan kubuat kau bahagia bersamaku” kataku, terlalu gugup untuk menatap matanya. Argh, kurasa aku sudah terjebak dalam pesonanya.

Dia mengangkat kepalanya dari pundakku. “Janji ya?” katanya, sambil mengecup pipiku, yang berhasil membuat seluruh wajahku memerah. “Tentu saja” ucapku.

——-

Adik-adikku begitu bersemangat, saat aku menceritakan kejadian tadi pada mereka. Terutama sooyoung, yang mengetahui bahwa hari itu juga, aku dan yoona bertengkar. “Tapi… kau tidak romantis ya hyung?” kata Minho. “nde. sangat tidak romantis” timpal sooyoung.

“Lalu.. aku harus bagaimana?” tanyaku polos. “Ah! Begini saja…” Minho dan Sooyoung membisikkan ide mereka padaku. Hm, bukan ide yang jelek!

——-

Inilah aku, Choi Siwon, berdiri di depan sekolah kesayanganku, sekolah terbaik di Seoul, Seoul School. Hari ini adalah hari yang baru untukku. Dan mungkin, hari yang baru untuk Choi bersaudara juga.

“Sooyoung! Minho! Kau siap?” tanyaku pada adik-adikku yang memberi tanda siap dari belakang. Aku berdiri di depan podium sekolah. Nah! Itu dia sudah datang! Aku jadi berdebar sendiri.

“Aku…” aku memulai kata-kataku, dengan mikrofon, suaraku terdengar ke seluruh penjuru sekolah, membuat semua orang memerhatikanku dan bertanya-tanya apa yang hendak kulakukan.

“Aku ingin mengatakan bahwa, Aku, Choi Siwon akan merubah sikapku. Mianhamnida pada semuanya. Pada semua yeoja yang telah kubuat mennagis. Terutama, pada Jaebum. Hey, jay! Kumohon, maafkan aku. Aku janji tidak akan menjelek-jelekan yeoja-mu, si Jessica dan adiknya, Krystal. Kalau perlu, aku akan memuja mereka setiap waktu, untuk mendapat restu darimu” kataku pada Jaebum. “Restu? Restu apa?” teriaknya padaku. Jaebum ini, adalah sepupunya Yoona. Jadi penting untuk membina hubungan baik dengannya, setelah sebelumnya kami berkelahi gara-gara aku menghina pacarnya.

“Restu untuk…” aku menggantung kata-kataku dan menengok ke belakang. “hey… 1,2,3” bisikku pada Sooyoung dan Minho.

PAATS! Semua lampu padam di koridor dan di seluruh bangunan sekolah. BLUSS! Seribu balon berbentuk hati berwarna pink diterbangkan ke langit bebas. Lalu… TRING! Sentuhan terakhirnya, Serangkaian lampu kelap-kelip menyala di gedung sekolahku, bertuliskan SARANGHAE IM YOONA.

“Yoona-ah… will you engage me?” tanyaku, membawa mikrofon dan berlutut di hadapannya. Yaah… kata-kata seharusnya memang will you marry me, tapi, karena kita baru akan bertunangan, jadi kuganti kata-katanya.

“Kalau kau mau, ambillah mikrofon ini, dan katakan kalau kau bersedia. Tapi, kalau kau menolak, buang saja mikrofon ini” kataku padanya, sambil memejamkan mataku, tetap berlutut di hadapannya. Sejenak hening… tidak ada yang bersuara atau bergerak.

Dia mengambil mikrofon dari tanganku. Hatiku berdebar-debar. Entah apa yang ada dalam dirinya, yang bisa membuatku menyukai ah anni… mencintainya dalam kurun waktu 1 hari.

BRAK! Dia membanting mikrofon itu ke tanah. Aku bersumpah saat itu jantungku berhenti berdetak seiring dengan mikrofon itu yang menyentuh tanah. Pupus sudah harapanku.

Aku sudah hendak bangkit… saat kurasakan bibir yang lembut menempel di bibirku. Aku terkejut, membuka mata dan kulihat wajah Yoona, menempel tepat di depan wajahku. Aku membalas ciumannya. Hm, seingatku tadi aku tidak memberikan pilihan ‘ciuman’.

“Jadi… apa artinya itu?” tanyaku padanya. Dia tersenyum padaku. “Artinya… aku tidak akan bertunangan denganmu, Choi Siwon. Aku akan MENIKAH denganmu” katanya. Aku tersenyum bahagia dan memeluknya. Cklik! Cklik! Adik-adikku mengabadikan momen itu. Semua persiapan yang sudah kupersiapkan, semalaman, sampai aku tidak tidur, rasanya semuanya terbayar dengan pantas.

“Hei… siapa bilang aku merestui kalian?” kata Jaebum, mengagetkan kami. “Oppa!” rengek Yoona. Aku terdiam. AKu berlutut di hadapannya, dan bahkan dihadapan Jessica dan Krystal. “Maafkan aku. Kumohon. Akan kulakukan apapun.. supaya kalian memaafkanku” kataku, dan melakukan hal yang paling hina yang pernah kupikirkan. Bersujud memohon di hadapan mereka.

“Hei, bodoh!” ucap Jaebum, menarikku berdiri. “Tentu aku merestuimu, asal…” katanya. “Asal apa?” tanyaku dan yoona. “Ckck. Kalian ini harus membayar kesombongan kalian tau!” seru Jaebum sambil tersenyum licik.

——-

“Nah, mau kubelikan minum apa NYONYA?” tanyaku pada Jessica. “Capucinno, kamsahamnida” katanya sambil tersenyum. “Ada lagi yang bisa kubantu, NYONYA?” tanya Yoona, pada Krystal. “Ah, annio onnie” katanya.

Aku dan Yoona harus menjadi ‘pelayan’ Jessica dan Krystal selama 1 minggu. Kini, aku menyadari, kesombongan itu tidak perlu, karena ternyata, walaupun miskin, Krystal dan Jessica dan murid-murid lain yang kuhina itu teman yang baik, pengertian, dan juga berbakat.

Walaupun menjadi pelayan seperti ini, kami melakukannya dengan senang. Selama kami terus bersama, tidak sabar menunggu minggu depan, saat pertunangan kami dilaksanakan. Kalau sempat, datang ya! Kekeke ^^

 

don’t forget your comments guys…~ and… abis ini author bakal bikin oneshoot-nya taeyeon-leeteuk yg gak diceritain sama sekali di Friendship Remedy, baru abis itu lanjutin yang Melodies of Life. Support me please >.<

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

main cast: Jung Soo Yeon (Jessica), Park Jaebum

song: Just the way you are-Bruno Mars

Jessica POV

Inilah aku, Jessica Jung, berdiri di depan sekolah baruku Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku dan adikku melangkah memasuki sekolah ini. Adikku memang bersekolah disini, dia seorang siswa beasiswa. Sedangkan aku, aku pindah kesini karena rekomendasi sekolah lamaku. Kami memang bukan orang yang kaya, tapi jangan remehkan kemampuan otak kami.

“Krystal-ah… Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku sedikit gugup. Banyak murid-murid yang menatapku, membuatku semakin risih. “Hmm.. mungkin ke kantor kepsek dulu? ayo, onnie.. kuantar.” kata adikku.

Aku melangkah bersama Krystal menuju ke ruang kepsek. Banyak anak yang memandang ke arahku. Dengan tatapan, entahlah… jijik? heran?

“Wahh.. makhluk dari mana sih ini?” kata seorang namja yang dari perawakannya saja, aku sudah tau dia pasti sombong. “Dia siapamu krystal-ah?” tanya namja lain yang berjalan bersama namja sombong tadi.

“Siwon sunbae.. Jaebum sunbae… Dia adalah onnie-ku, Jessica Jung.” kata Krystal memperkenalkan diriku. “Annyeong haseo..” sapaku sambil membungkuk 90 derajat.

Mereka berdua tertawa keras. “Hahaha.. dongsaeng dan onnie-nya sama saja ternyata! Miskin dan jelek!” ejek namja yang kuketahui kemudian bernama Siwon.

“Padahal Krystal-ah.. kau ini lumayan cantik loh.. Tapi onnie-mu ini… Apa dia benar onnie-mu? hahaha!” timpal yang satu lagi, yang bernama Jaebum.

Aku geram. Ingin sekali menghajar mereka satu per satu. “Dasar manusia sombong! memangnya kau pikir kau ini siapa hah?!” seruku yang kesabarannya mulai habis. “Onnie… sudahlah…” kata Krystal menenangkanku.

“wooo… stay back, ugly peasant! (woo… mundur, jelek!) Apa kau gak salah masuk sekolah? Ini seoul school loh.. the best one in Seoul.(yang terbaik di Seoul)” kata Jaebum jijik merespon aku yang mendekatinya. “Sudah, jay. Ayo kita ke kelas saja daripada mengurusi makhluk jelek ini.” kata Siwon.

Haa.. kalian berpikir yah bagaimana mungkin aku, Jessica Jung dibilang jelek oleh mereka? Tapi, aku memang jelek, dengan kacamata tebal, rambut yang kukepang dan belah tengah, pokoknya, jelek deh!

“Onnie… lagian, kenapa sih kau berdandan kayak gini segala?” tanya Krystal saat 2 namja menyebalkan itu sudah kembali ke kelas mereka.

“Sudah kubilang berapa kali, krystal-ah… Aku melakukan ini supaya aku bisa menemukan orang yang BENAR-BENAR menyukaiku apa adanya. Tidak seperti di …. yah… kau taulah.” ceritaku sedih.

Jangan berpikir aku ini benar-benar jelek. Bukannya sombong, tapi, aku ini memang sangat cantik. Dengan rambut blonde panjang dan wajah yang mulus, mata yang indah, hidung mancung,  yah pokoknya aku ini cantik!

Tapi, di sekolah lamaku, SMA Cheungdam, SMA terbaik ke-2 setelah Seoul school, teman-temanku dan bahkan pcarku, eh… mantan pacarku sendiri hanya menyukaiku karena wajahku ini. Buktinya, saat seorang queenka baru sekolah bernama Yoona datang ke sekolahku, mereka semua langsung beralih padanya yang memang lebih cantik dariku.

Pokoknya, rahasiakan ini yah. Aku hanya ingin mendapat teman dan cinta sejati. Itu saja, kok.

Oke, back to me and Krystal.

“Annyeong haseo.” sapaku dengan sopan begitu memasukki ruang kepala sekolah. “Annyeong haseo.. kau.. Jung Soo Yeon?” tanya kepala sekolah memperhatikanku begitu mendetail. Aku hanya mengangguk.

“Arasso. Kelasmu ada di lantai 2. Kelas XI-A. Di sekolah ini, kami memakai sistem leveling. Melihat prestasimu yang cukup bagus, kami memasukanmu di kelas terbaik, kelas A.” jelas kepala sekolah.

“Nah, kau boleh masuk kelas sekarang.” kata Kepala sekolah lagi. Aku akhirnya, dengan diantar oleh Krystal masuk ke kelasku.

Entah, dosa apa yang telah kuperbuat.. Aku sekelas dengan Siwon dan Jaebum! 2 namja yang tadi mengejekku. Mereka hanya tersenyum licik melihatku masuk ke kelas. Aku heran, apa otak mereka cukup besar untuk masuk ke kelas A ini?

Kulihat semua murid menatap ke arahku sambil berbisik-bisik. Aku mulai pupus harapan mendapat teman sejati di sekolah ini. “Annyeong haseo. Kau pasti Jung Soo yeon. Perkenalkan dirimu.” perintah sonsaengnim.

“Annyeong haseo… Jung Soo Yeon imnida. Panggil saja Jessica. Aku pindahan SMA Cheungdam.” kataku. “Jessica? Apa nama itu tidak terlalu bagus untukmu?” olok jaebum yang disambut tawa seisi kelas.

Aku hanya memelototinya. “Ya! Park Jaebum!” omel sonsaengnim. haha. mampus kau! “Sooyeon, silahkan duduk disitu.” katanya sambil menunjuk bangku kosong yang terletak di…. di belakang jaebum sialan itu!

“Ta.. tapi…” kataku hendak menolak. “cepatlah duduk, pelajaran akan dimulai.” perintah sonsaengnim. Akhirnya dengan gontai aku berjalan ke arah bangkuku.

BRUKK! Aku terjatuh disambut riuh tawa seisi kelas. Jaebum hanya cengar-cengir melihatku. Sial… cowok ini yang sudah menyengkatku. Argh.. Kubunuh kau Park Jaebum!

“Kau tak apa?” tanya seorang namja yang temapt duduknya di belakangku. Hm, dari tampangnya, dia ini orang yang baik. Tidak seperti Jaebum atau Siwon. “Ah, gwenchana.” kataku. Dia membantuku merapikan bukuku yang terjatuh.

“Onew… Onew… Dasar sok pahlawan!” cibir Jaebum. “Diam, Park Jaebum atau kuadukan kau pada Soo Man sonsaengnim. Entah apa yang bisa diperbuatnya.” omelnya dengan dingin yang berhasil membuat jaebum terdiam. Soo Man sonsaengnim itu pasti guru killer deh.

Aku memutuskan untuk berterima kasih padanya “Gomawo…” “Lee Jin Ki. panggil saja Onew.” katanya. “nde. Gomawo onew-ah.” kataku. Dia tersenyum dan mengangguk. Wah, mungkin hanya dia satu-satunya yang baik disini.

Pelajaran berlangsung dengan biasa saja, kecuali aku mendapat sedikit (hm, tidak sedikit juga sih) ejekan dari Jaebum. Hatiku panas ingin sekali menonjok wajah sombongnya itu, tapi… aku tidak ingin membuat masalah di hari pertama sekolah. Sabar, ssica… Masa begini saja kau sudah menyerah?

Treenggg… Itu bunyi bel sekolah. Jangan tanya padaku, bunyinya memang aneh. Tapi, siapa peduli? Aku merasa terkucilkan di kelas ini, jadi aku memutuskan untuk ke kelas adikku.

“Krystal-ah…” panggilku begitu aku menemukan sosoknya duduk di belakang. “Wae, onnie?” tanyanya heran. “Gwenchana. Hanya saja… yah… aku.. sekelas dengan Jaebum dan Siwon!” kataku dengan nada menderita. Dia juga kelihatan prihatin.

“Jessica-ah, jadi kau onnie-nya Krystal?” tanya Onew yang tiba-tiba di belakangku. Aku agak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. “Eh, nde.” jawabku.

“Oneww oppaaaa!!” teriak seseorang. “Sooyoung-ie…” panggil Onew dengan senyum yang merekah lebar di wajahnya. Yeoja yang bernama sooyoung itu merangkul tangan Onew.

“eeh… kau pasti anak baru itu yah… onnie-nya Krystal. ngg, Jessica onnie? Choi Sooyoung imnida.” katanya sambil tersenyum lebar. Anak ini cepat sekali akrab. Bahkan dia sudah memanggilku onnie, bukan sunbae. “eeh.. iya.” kataku sambil tersenyum. Sepertinya anak ini juga baik.

1 bulan kulalui dengan penuh kesabaran dan kemarahan. Temanku hanya Onew, Sooyoung, seorang bernama Kyuhyun, dan Seohyun yang kuketahui mereka pasangan. Aku paling dekat dengan Onew. Karena di kelas hanya dia yang baik padaku.

“Untuk tugas menyanyi ini, kalian kutugaskan berkelompok. 1 kelompok hanya 2 orang. Nah, akan kubacakan pasangannya…” kata sonsaengnim seniku. “Jung Soo Yeon dengan…. Park Jaebum!” umum sonsaengnim yang membuatku membatu.

“mwo??” tanyaku dan jaebum bersamaan. “kekeke. chukkae Jaebum!” cetus seorang anak. Kulihat Jaebum hanya pasrah dan tenang-tenang saja. Tapi, mana bisa aku tenang dipasangkan dengan makhluk yang menyebalkan ini!

Tapi, memang tidak ada yang bisa kulakukan. Aku pulang sekolah dengan gontai ditemani Onew.

“Onew oppa… nanti siang, kita jalan yuk. Kutunggu kau di taman ya.” kata Sooyoung lalu langsung pergi. “Sooyoung-ah! Chakkaman!” kata Onew tapi Sooyoung sudah keburu pergi. “Onnie-ah!” panggil Krystal sambil melambaikan tangannya.

“Ah, itu dia Krystal. Gomawo Onew-ah sudah menemaniku.” kataku sambil tersenyum yang dibalas senyumannya.

“Onnie dekat ya dengan Onew sunbae” komentar Krystal. “Eeh? Biasa saja kok.” kataku mengelak. “Onnie.. menyukai Onew sunbae ya?” selidik Krystal. “Ah, annio!” jawabku.

Saat pulang, kulihat Jaebum sedang berduaan dengan seorang perempuan. Dasar playboy, pikirku. Dia sedang memeluk yeoja itu. Hm, aku agak sedih melihatnya. Mwo? sedih. Ah, annio…annio… mikir apa sih kau ini, jessica jung?

Tapi, aku memang sedikit sakit melihatnya. Ya Tuhan… Dosa apa sih aku ini? Jangan sampai aku suka padanya. Kumohon Tuhan, jangan sampai!

“Hey! Ugly peasant!(Hei! Jelek!)” panggilnya. Aku pura-pura tidak mendengar. “Hei!! Kau ini tuli ya?!” teriaknya tepat di kupingku. “Aku ini punya nama!” jawabku dingin.

“Terserahlah, pokoknya hari ini aku akan ke rumahmu.” katanya yang membuat bola mataku nyaris keluar karena membelalak tidak percaya. “Mwo?? Untuk apa?” tanyaku. “Tentu saja untuk latihan, babo.” katanya sambil menjitakku. “Ta, tapi…” ‘Nah, ayo cepat. Aku ingin lihat sejelek apa rumahmu.” Katanya sambil menarikku.

“A..awas!” seru Krystal saat sebuah sepeda motor melaju tepat di belakangku. Dengan cepat, Jaebum menarikku membuat posisi kami seperti berpelukkan. Nyaris saja aku keserempet.

Tapi, kenapa ini? Rasanya… aku berdebar. Deg deg deg deg. Apa itu debaran jantungku? Rasanya bukan. Ini… debaran jantungnya! Eeh… apaan sih?! Aku jadi salting begini.

Cepat-cepat aku melepaskan diri dari pelukannya. “Dasar kau, mengambil kesempatan saja!” omelku tapi aku tidak berani menatap matanya. “eeh.. apa? Cih, bilang saja kau senang bisa dipeluk olehku!” omel Jaebum yang seperti baru saja tersentak dari lamunannya.

Sesampainya di rumahku, kami langsung berlatih. Dia tidak berkomentar apa-apa tentang keadaan rumahku. Aku ini memang nggak miskin-miskin banget kok.

“Wah, suaramu bagus sekali.” komentar Jaebum terpesona dan melihatku tanpa berkedip setelah aku memperdengarkan suaraku padanya. “Eeh.. gomawo.” kataku terkejut. Baru kali ini dia memujiku. Sungguh.

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

Aku berduet dengannya menyanyikan lagu Just the way you are -nya Bruno Mars. Lagu favoritku. Aku terbawa suasana oleh lagu ini dan menyanyikannya dengan segenap hatiku.

Dia menatapku lalu berkata “joahae.” katanya yang membuatku membeku sesaat. “Ssica-ah.. mianhae. jeongmal mianhae. Aku sadar, kau ini tak seburuk yang kukira. memang penampilanmu jelek” katanya yang dibalas pelototanku

“Tapi.. kepribadianmu, dan suaramu… indah.” katanya cepat-cepat yang membuatku terpana. “eeh?” hanya itu yang keluar dari mulutku. “Hm, kurasa aku harus pulang sekarang. Annyeong.” katanya sedikit gugup.

Apa ini hanya aku atau tadi kulihat dia… tersipu? Ah, tapi yang pasti, aku tau apa yang akan kulakukan besok.

Dan, inilah aku Jessica Jung di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Aku menghadapi sekolah ini dengan penampilan berbeda. Aku tidak lagi menyamar. Kutata rambutku yang kembali berwarna blonde menjadi tergerai ikal (bayangkan Jessica di Oh!) Kulepas kacamataku, dan semua aksesoris aneh yang membuatku tampak jelek.

Semua orang kini menatapku. Tapi, bukan pandangan jijik seperti dulu, tapi… pandangan kagum. Aku memasuki kelasku yang disambut tatapan bengong seisi kelas. Termasuk Jaebum.

“Kau anak baru?” tanya Siwon polos. Aku tertawa dengan manis. “keke. bukan. Aku Jung Soo Yeon. Jessica.” kataku. “mwo??” seisi kelas terkejut. “Tapi.. tapi kau…” Siwon tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“You’re very beautiful.(Kau sangat cantik)” kata Jaebum terpesona. “o yeah? who says that I’m an ugly peasant?(o ya? Siapa yang bilang aku ini si jelek?)” tanyaku menggodanya. “Eeh… soal itu.. aku kan sudah minta maaf.” katanya.

Aku tersenyum dengan manis. Jaebum mendekatiku dan berbisik padaku. “saranghae” bisiknya yang membuatku terkejut. Sangat terkejut sehingga aku hanya terdiam. Tapi, kemudian aku tersenyum dan membalas berbisik padanya “na do saranghae.”

Aku baru menyadari perasaanku 1 bulan terakhir ini padanya. Aku baru menyadari, dimana ada aku, disitu pasti ada Jaebum. Walaupun keberadaannya tak terlalu kuperhatikan karena dia ada hanya untuk meledekku. Tapi, dia selalu ada di sisiku.

Aku melewati pelajaran demi pelajaran dengan riang. Aku memang sedikit muak dengan beberapa namja yang langsung mendekatiku padahal menghinaku terang-terangan kemarin. Hingga akhirnya, treeeng! Bel pulang sekolah!

Aku agak kesulitan keluar kelas karena namja-namja yang mengajakku ngobrol.

“Ssica-ah.. kenapa kau tidak menampilkan kecantikanmu ini dari awal?”

“Jessica, aku ada 2 tiket nonton. Nonton bersama, yuk”

“Jessica noona, noona neomu yeppeo.”

bahkan, dongsaeng yang tidak kukenal saja ikut-ikutan mengerubutiku. Dasar mereka munafik!

Akhirnya, aku berhasil mencapai gerbang depan. Kulihat sosok Jaebum disana. Dia sedang berdiri bersama seorang yeoja.

Seorang yeoja yang sangat kukenal. Seorang yeoja yang pernah merebut semuanya dariku. Seorang yeoja yang bernama…  Yoona!

Kulihat Jaebum dan Yoona sedang berpelukan. Persis seperti 5 bulan yang lalu, saat dia dan mantan pacarku juga berpelukan.

Aku sedih. Hatiku seakan ditusuk. Aku sakit sekali. Padahal dulu, aku tidak merasa sesakit ini. Seharusnya aku tau, Jaebum sama saja dengan pacarku dulu. Dia hanya menyukaiku karena kecantikanku. Dan saat dia menemukan yeoja lain yang lebih cantik, dia akan mencampakanku.

Tak terasa, pipiku sudah basah karena air mataku yang terus mengalir. Aku berlari entah kemana. “Jessica!” panggil Jaebum yang sepertinya melihatku. Tapi, aku tidak memedulikannya. Aku terus saja berlari.

Kulihat, ada Onew yang sedang berdiri di pinggir jalan. Mungkin, dia bisa membantuku. Tapi, ah.. dia sedang berkelahi dengan seseorang sepertinya. Dia.. sedang berkelahi dengan Sooyoung.

“Sooyoung-ah.. dengan dulu penjelasanku! Aku dan dia tidak ada apa-apa. Sungguh!” ucap Onew. “Entahlah, oppa. Kau ini dekat sekali dengannya! Belum lagi, tadi pagi aku melihatnya sangat cantik. Entahlah aku…”

“Sooyoung-ah! Lihat aku! Jangan konyol! Jessica hanya sahabatku. Dia juga temanmu, kan?!” seru Onew. “Iya! Tapi… kau dan dia begitu dekat! Kau tau, setiap kau berad di dekatnya, aku sakit! sakit sekali!” seru Sooyoung tak kalah kencang.

“Sooyoung… dengarkan aku.” kata Onew merendahkan suaranya sambil mengangkat wajah Sooyoung. “Choi sooyoung… saranghae.. jeongmal saranghae. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu.” kata Onew. Sooyoung memeluk Onew yang dibalas hangat oleh Onew.

Aku baru tau kalau mereka berpacaran. Dan sekarang, mereka berkelahi karena… karena aku! Omo! Hebat sekali kau Jessica. Kau sangat egois.

Aku memutuskan untuk berbicara pada mereka, jadi aku mendekati mereka. “eeh… Onew-ah, sooyoung-ah.” panggilku.

Sooyoung melepaskan dirinya dari pelukan Onew. ”nde, ssica onnie?” tanyanya sedikit gugup. “Aku… ngg.. mianhaeyo. Aku tidak.. aku dan Onew hanya teman dekat kok. Sungguh. Aku tidak menganggapnya lebih dari itu.” jelasku.

Sooyoung tersenyum padaku “Nde. mianhae onnie.. karena sudah berprasangka yang bukan-bukan.” katanya. “Ngg.. kau habis menangis, onnie-ah?” tanya sooyoung.

Cepat-cepat aku menghapus air mataku. “eeh.. annio. hanya kelilipan.” kataku berbohong.

“Jessica-ah!” teriak Jaebum memanggilku sambil berlari menghampiriku. “Apa?” tanyaku dingin. “Yo.. what’s wrong with you? (Yo.. apa yang salah denganmu?)” tanyanya bingung. Aku dan Jaebum memang suka sekali mengobrol dengan bahasa Inggris. Mungkin karena dulu kami sama-sama pernah tinggal di Amerika.

“You’re a liar, park Jaebum! (Kau seorang pembohong, park Jaebum) ” teriakku, mengeluarkan semua emosiku. “All you say is bullshit! You never love me as I am.. you just love my face! (Semua yang kau bilang itu omong kosong! Kau tidak pernah mencintaiku sebagai diriku… Kau hanya mencintai wajahku)” teriakku

“What do you mean?(Apa maksdumu?) Jessica-ah… saranghaeyo! jeongmal saranghaeyo.” katanya memelas sambil memegang pundakku.

“O yeah? Padahal, tadi aku baru saja melihatmu memeluk wanita lain dengan mesranya.” kataku sinis sambil mencoba melepaskan diriku, tapi cengkramannya terlalu kuat.

“Mwo? Yoona, you mean?(Yoona, maksudmu?)” tanyanya heran sekaligus geli. “Yeah. You even wanna to laugh?(Iya. Kau bahkan mau tertawa?)” tanyaku tak percaya melihatnya menahan tertawa. Setelah yang dia perbuat, dia masih… tertawa?! What a jerk! (Berengsek!)

“What the hell wrong with you? Yoona… she is my sister!(Apa yang salah denganmu? Yoona… dia adikku!)” kata Jaebum yang membuatku melongo. “mwo?” tanyaku. “Ssica… yoona itu adikku. Apa salahnya aku memeluknya?” kata Jaebum sambil nyengir.

Aku malu, tapi sekaligus lega. Aku melemparkan diriku ke dalam pelukannya. Dan menangis. “mianhaeyo… aku hanya takut.. kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku…” kata-kataku terputus oleh nyanyiannya.

Oh her eyes her eyes

Make the stars look like they’re not shining

Her hair her hair

Falls perfectly without her trying

She’s so beautiful

And I tell her every day

Yeah I know I know

When I compliment her

She won’t believe me

And it’s so, it’s so

Sad to think that she don’t see what I see

But every time she asks me “Do I look okay?”

I’ll say

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

Yeah her lips her lips

I could kiss them all day if she’d let me

Her laugh her laugh

She hates but I think it’s so sexy

She’s so beautiful

And I tell her everyday

Oh you know you know you know

I never ask you to change

If perfect’s what you’re searching for

Then just stay the same

So, don’t even bother asking

If you look okay

You know I’ll say

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

The way you are

The way you are

Girl you’re amazing

Just the way you are

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

“Jung Soo Yeon.. I love you. As you are. Just the way you are.(Jung soo yeon.. Aku mencintaimu. Apa adanya)” katanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk dalam pelukannya. Akhirnya kutemukan, seorang yang mencintaiku apa adanya.

-The end-

mianhae author update-nya lama 😦 akhir2 ini rada sbuk dgn urusan osis.. hehe

happy reading~ and don’t forget to leave your comment 😉