Posts Tagged ‘Doojoon’

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Minho POV

Inilah aku, Choi Minho berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku melangkah masuk, memasang tampang sesangar dan seseram mungkin. Hari ini, aku dan murid-murid lain mulai smemasuki semester 2, semakin mendekati ujian akhir.

Prioritasku adalah semuanya disini harus takut padaku. Yeah, aku bisa dibilang seorang pembully disini. Dan tentu saja, kemampuan berkelahi patut diacungi 4 jempol.

Temanku, ups mungkin bukan teman juga, Lee Taemin lewat di depanku sambil menunduk takut. “Heh! Kau mengganggu jalanku tau, minggir!” seruku sambil mendorongnya dengan kasar.

“Mi.. mianhae” katanya yang tersungkur di tanah. “Kau tidak boleh bilang mianhae padaku! Bilang, mianhamnida Minho-ssi. begitu!” seruku sombong.

“Mianhamnida, minho-ssi. Puas?” katanya, eh… tapi itu bukan suaranya. Itu suara seorang yeoja. Aku terkejut, dan menengok ke belakang, ke sumber suara.

Tadinya kupikir dia adalah sooyoung noona, noona kesayanganku yang selalu aku turuti perintahnya. Tapi, ternyata bukan.

Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia murid baru. Aku mengangkat alisku, menatapnya dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Hm, lumayan cantik ah annio… sangat cantik.

“Siapa kau?” tanyaku masih terus memandanginya. “Yuri noonaaa!” seru si taemin lalu menghambur dalam pelukan yeoja itu.

“Taemin-ah, gwenchana yo?” tanyanya, menyambut pelukan taemin. Taemin mengangguk. “Jadi, kau ini yeoja chingunya taemin?” tanyaku, ehm, sedikit kecewa.

“Mwo? Annio” katanya sambil tertawa. Tawa yang manis, pikirku. “Aku sepupunya. Jadi kau, choi minho yang suka taemin ceritakan itu” katanya. Sepupu? Bukankah terlalu dekat untuk dikatakan sebagai sepupu?

Taemin menunduk. “Apa yang dia katakan tentangku?” tanyaku tajam, siap menggetoknya dengan high heels yang biasa dipakai tiffany SNSD kalau-kalau taemin menjelek-jelekanku di depan yeoja ini.

“Hm, kebanyakan sih keburukanmu. Tentang bagaimana menyeramkannya kau.” katanya. Sial.. namaku pasti sudah jelek di matanya. “Tapi, kau tidak terlihat sekuat yang taemin omongkan.” lanjutnya.

“Jangan meremehkanku!” kataku sombong. Belum pernah ada orang yang meremehkanku sebelumnya! “Yah, terserah” katanya lalu menggandeng taemin.

Aku menatap kepergiannya. Yeoja ini cukup menarik, pikirku. Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tadi taemin memanggilnya apa? Apa noona? Ah, aku ini memang pelupa! Minho babo!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku berpikir tentang yeoja tadi. Dia membuatku sangat penasaran. Treeennggg! Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya aku menghabiskan jam-jam istirahatku dengan berduel dengan seseorang, tapi, sekarang aku memutuskan untuk ke kelas kakakku.

“Sooyoung noona” panggilku manja. Aku memang sangat manja pada noonaku ini. Dia sedang bercanda dengan Onew hyung, namja chingunya. Yang akhirnya aku dan Siwon hyung -kakakku juga- setujui setelah insiden ehm, sister complex.

“Wae, minho-ah?” tanyanya. “Emm.. apa ada murid baru di kelasmu?” tanyaku padanya. Dia kelihatan bingung “Annio. Tidak ada. memangnya kenapa?” jawabnya, membuatku kecewa.

“Bagaimana dengan di kelasmu, Onew hyung?” tanyaku. Dia menggeleng juga. “Tapi, kudengar ada 5 murid baru.” katanya, yang memang tau segalanya, sebagai ketua OSIS dia memang harus tau segalanya.

“Ada yang yeoja tidak?” tanyaku antusias dan to the point. “Ada. 2 orang yeoja. Yang 1, di kelas XII-C, dan yang 1 lagi di kelas XI-B.” katanya. Aku mengangguk, segera menuju ke 2 kelas tersebut.

Pertama, aku masuk ke kelas XI-B. Seketika, semua orang disana membatu, bertanya-tanya apa yang aku inginkan disana. Lihat? Bahkan kakak kelas saja takut padaku.

“Mana murid baru itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Junhyung, si ketua kelas yang sok hebat. “Aku tak ada urusan denganmu. Aku mau bertemu dengan murid baru yang masuk ke kelas ini. Mana dia?” tanyaku dingin, yang membuatnya langsung menunjuk seorng yeoja yang duduk di belakang dengan gemetaran.

Aku perhatikan dia dengan seksama. Annio. Bukan dia. Dia jelek. Jadi, aku langsung pergi dan menuju ke kelas XII-C.

Apa dia sebodoh itu sampai harus masuk kelas C? Pikirku sambil berjalan. Treeeng! Bel malah berbunyi pertanda aku harus masuk kelas segera, soalnya habis ini pelajarannya SooMan sonsaengnim. “Sial” gerutuku sambil berbalik arah menuju kelas.

Alhasil, berkali-kali aku dimarahi SooMan sonsaengnim lantaran bengong saat pelajarannya dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Pakai sihir apa sih yeoja itu? Sampai bisa mengontrolku seperti ini.

Pulang sekolah, aku buru-buru pergi ke kelas XII-C itu, sebelum dia pulang, aku harus menemuinya. “Tumben sekali tidak kudengar kau membuat keributan, minho” komentar Siwon hyung saat aku melewati kelasnya dan berpapasan dengannya. Aku hanya nyengir dan buru-buru pergi.

“Hei, mau apa kau?” tanya Doojoon, ketua kelas XII-C yang juga berandal. Aku heran bagaimana dia bisa jadi ketua kelas. Aku pernah berkelahi dengannya, dan aku menang! Sejak itu, dia ada ehm, sedikit dendam denganku.

“Mana anak baru di kelasmu?” tanyaku dingin. Sejarahku dan dia memang tidak baik. “Mau apa kau dengannya?” tanyanya penasaran. “Bukan urusanmu” kataku, mendorongnya minggir. “Hei, jangan belagu bocah!” serunya, hendak menghajarku. Aku menangkisnya.

“Aku bilang aku tak ada urusan denganmu. Jangan buat aku mematahkan tanganmu” ucapku dingin, sambil memelintir tangannya. Dia meringis kesakitan dan menyentakan tangannya hingga terlepas, lalu dengan tatapan dan aura pembunuh, meninggalkanku.

“Wow. Hebat juga” komentar seseorang. Aku menoleh padanya, dan.. itu dia! Orang yang membuatku tidak membuat masalah hari ini, tidak fokus pada pelajaran, dan dimarahi abis-abisan oleh SooMan sonsaengnim.

“Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Mau balas dendam?” tanyanya sedikit takut. Aku menggeleng “Aku… hanya penasaran” kataku. Setelah aku berhasil menemukannya, aku bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Apa iya? Kau tau, Doojoon itu orang yang menakutkan dan kau berhasil membuatnya ketakutan begitu. Aku… takut gara-gara tadi pagi kau mau balas dendam padaku” katanya.

Aku tertawa “Aku tidak mencari masalah dengan seorang yeoja” kataku dan tanpa sadar, mengacak-acak rambutnya. Setelah sadar, aku langsung menarik tanganku. Apa sih yang kupikirkan? Dia terlihat tercengan, tapi kemudian tersenyum.

“Kwon Yuri imnida. Kau? Siapa namamu?” katanya sambil menjulurkan tangannya. “Choi Minho imnida” kataku sambil tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan lalu menjabat tangannya.

Tangannya mungil, halus, dan hangat. Tangan yang membuatku tidak ingin melepasnya. Tangan yang membuatku berdebar. “Ehm, minho-ah. Kau… tidak seburuk yang kukira” katanya, menyadarkanku dan aku langsung melepas tangannya.

“Eeh… memang kau kira aku seburuk apa, yuri?” tanyaku. “Bukankah lebih baik kau memanggilku noona?” tanyanya. Oh iya, aku lupa dia lebih tua 2 tahun dariku. “Chinja. Memang kau pikir aku ini seburuk apa, Yuri noona?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lagi “Aku pikir, kau ini seorang yang menyebalkan, menjengkelkan, kasar, tak tau diri, dan sok hebat” katanya. Aku membelalakan mataku. Segitu burukkah pandangannya tentangku? “Kekeke. Mianhae… tapi, kesan pertamaku bertemu denganmu memang begitu” katanya.

“Yuri noona! Ayo pul…” seru taemin tiba-tiba, mengganggu saja! Kata-katanya terputus melihatku sedang berdua dengan yuri noona. “Eh, mianhae” katanya sambil menunduk. Uh, beruntung sekali kau lee taemin! Kalau kau bukan sepupu yuri, kau sudah ku cincang-cincang seperti daging ayam

“Minho-ah! Ternyata kau disini” seru suara yang sangat kukenal. Suaranya Siwon hyung. Dia menghampiriku. “Ayo, kita pulang. Sooyoung sudah pulang bersama On…” kata-katanya terhenti, menatap Yuri tanpa berkedip. Cih, awas saja kalau dia juga menyukai Yuri noona! Eh, juga? Maksudnya, aku menyukainya? Ah, annio. Eh, molla ~

“Yu.. yuri?” tanyanya tercengang. “Siwon oppa?” ucap yuri, sama terkejutnya. Hei, mereka saling mengenal?

“Kau… kok bisa ada disini? Bukankah kau tinggal di Amerika?” tanya Siwon. “Aku pindah ke Korea 1 minggu lalu” kata Yuri.

“hei hei… kalian saling kenal? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran. “Kau kok kenal dengan Siwon oppa?” Yuri balik bertanya. “Dia adikku” jawab Siwon. “Mwo? Adikmu?” tanya Yuri terkejut.

“Memangnya kenapa? Hyung, kok kau dan yuri noona bisa saling mengenal?” tanyaku bingung. Yuri dan Siwon saling bertatapan.

“Dia… mantan pacarku.” ucap Siwon hyung, membuatku sangat terkejut. Mantan pacar Siwon hyung? Omo!

“Hyung… kau masih mencintai Yuri noona?” tanyaku padanya, saat sampai di rumah. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau menyukainya?” tanyanya heran.

“A… annio. Cuma bertanya kok” ucapku mengelak. “Ehm, molla. Sepertinya sudah tidak. Sudah lama aku dan dia berpisah, gara-gara kepindahannya ke Amerika. Kurasa dia pun sudah melupakanku” jawabnya, membuatku sedikit lega.

“Siwon oppa! Minho-ah! Pada sedang bicara apa sih?” tanya sooyoung noona sambil masuk ke kamarku. Dia ini mengagetkan saja. Dia memang kebiasaan suka sekali masuk-masuk ke kamarku. Katanya, kamarku lebih rapi daripada kamarnya.

“Eh, ada yang ingin kutanyakan” kataku tiba-tiba. Siwon hyung langsung menoleh ke arahku, dan sooyoung noona yang merebahkan tubuhnya di kasurku langsung saja bangkit untuk duduk. “Mwoerago?” ucap mereka berdua.

“Aku… menyukai seseorang” kataku malu-malu. Lihat? Seorang pembully bisa saja malu-malu! Tapi, ini hanya kutunjukan pada saudara-saudaraku, yang bisa mengertiku.

“Siapa??” tanya Siwon hyung terkejut. “Wah, uri Minho sudah besar!” seru Sooyoung noona sambil mengacak-acak rambutku.

“Ehm, dia… yuri noona” jawabku sedikit malu. “Siapa dia?” tanya sooyoung noona polos, sedangkan Siwon hyung, yah.. dia terkejut “Yuri?! Pantas tadi kau tanya-tanya soal dia” ucapnya.

“Wah, akhirnya ada juga yang mau denganmu yang suka menganiaya orang ini” komentar sooyoung noona yang langsung aku balas dengan pelototan tajam. “Memangnya, siapa yang bilang dia mau?” kataku lemas. Mana mungkin Yuri noona menyukaiku?

“Oh, jadi bertepuk sebelah tangan?” ucap sooyoung noona sambil mengelus-elus kepalaku. Aku menyingkirkan tangannya, paling benci kalau ada orang yang mengelus kepalaku. “Aku ini tidak semenyedihkan itu kok” elakku. Mereka hanya mengangguk-angguk prihatin.

Malam hari aku lewati dengan pikiran penuh tertuju pada satu yeoja. Yuri noona. Argh.. apa aku benar-benar menyukai, ah annio… mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun aku masih memikirkannya.

Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan lingkaran hitam di bawah mataku, tidak bisa tidur karena aku terus memikirkannya. Aku masih sangat mengantuk. Apa aku bolos sekolah saja dan tidur? Ah, shireo! Aku mau bertemu dengan yuri noona!

Maka, cepat-cepat aku cuci muka, mandi, dan langsung menghabiskan sarapanku. “Cepat, Minho-ah!” seru Siwon hyung dari luar. Aku langsung keluar. Kami memang tidak pernah pamit pada orangtua kami. Kami bahkan tidak tau mereka ada di rumah atau tidak, karena begitu seringnya mereka pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk bekerja.

“Kau parah sekali. Kau tidak tidur ya?” tanya Sooyoung noona. Kuakui, memang dengan keadaan begini, ketampananku sedikit berkurang. Aku harus segar lagi! Masa Yuri noona melihatku seperti ini? Kukucek-kucek kedua mataku, tapi hasilnya malah tambah parah. Kedua kakakku hanya menggeleng-geleng.

BRUK! Doojoon menabrakku, yang aku cukup yakin sengaja. Dia bahkan tidak minta maaf dan hanya nyengir. Tapi, dalam keadaan mengantuk begini, aku tidak berselera untuk berkelahi.

“Mau apa kau?” tanyaku sambil menguap. “Jangan belagu kau, bocah! Aku ini lebih hebat darimu!” serunya di telingaku. Makhluk ini kenapa sih? Aku kan tidak mencari masalah dengannya.

Aku ini orang yang tidak mudah marah sebenarnya, walaupun pembuat onar dan suka mencari masalah. Jadi, aku mendorongnya walaupun dalam kondisi mata 5 watt.

“Hei!” serunya marah. Oke, aku sudah berhasil membuatnya marah. Dia hendak menonjokku. Wow, ini pasti seru. 2 berandalan Seoul School berkelahi LAGI untuk yang kedua kalinya. Aku menahan tonjokannya tapi dia menonjok perutku.

Susah tau, berkelahi dalam kondisi setengah tertidur seperti ini? Tapi, sekelebat kulihat Yuri noona, dan semangatku langsung bangkit. Enak saja, aku tidak mau kalah apalagi di depan yuri noona!

Aku langsung menonjok pipinya balik dan menendang perutnya dengan lututku. Dia membalas menonjok wajahku, yang kutahan, lalu kusengkat kakinya hingga dia terjatuh dan menendangnya yang meringkuk di tanah. Kuselesaikan dia dalam waktu 5 menit. Bukan lawan yang sulit.

Beberapa temannya membantunya berdiri yang kutatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung bergidik ngeri dan kabur, takut kalau nasib mereka sama seperti Doojoon.

“Jangan cari masalah” kataku dengan kejam. Kerumunan orang di sekitarku sudah bubar. Aku heran, kenapa tidak ada guru yang melerai kami.

Aku menarik seorang yang seangkatan denganku tapi beda kelas. “A.. kenapa?” tanyanya gugup. “Aku lelah. Mana minummu?” ucapku. “Aku tidak punya minum.” katanya ketakutan.

“Kalau aku ingin minum, kau harus memberiku minum” ucapku. Cepat-cepat dia pergi ke kantin untuk membelikanku minum. Aku melihat sekeliling. Tumben, sooyoung noona tidak memarahiku. Mungkin dia sudah di kelasnya.

Anak yang kusuruh tadi kembali dengan sebotol jus jeruk di tangannya yang cepat kusambar. Kubuka tutupnya, kutuang seperempatnya ke anak itu, membuat rambutnya lepek dengan jus jeruk dan dengan kejam kutuang sisanya ke Doojoon.

“Hitung-hitung kalau kau haus” kataku, melempar botol jus jeruk kosong yang mengenai kepalanya. Dia menatapku seakan ingin membunuhku saat ini juga, sedangkan anak yang kurang beruntung tadi langsung berlari pergi.

Aku hendak melangkah menuju kelasku, tapi langkahku terhenti melihat Yuri noona melihatku dengan terpana.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku mendekatinya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apanya yang bagaimana? kau ini… bagaimana ada orang sejahat kau sih?” tanyanya terkejut lalu meninggalkanku, terbengong di tengah jalan. Dia… marah padaku??

1 hari kulewati tanpa fokus ke pelajaran. Sepanjang pelajaran aku mencoba untuk tidur, yang tidak bisa kulakukan karena terus memikirkan Yuri noona. Bagaimana dia bisa marah padaku? Karena aku ini orang yang jahat? Argh… tanpa memikirkannya aku sudah cukup stress dengan mataku yang tinggal 5 watt ini.

Treeenggg! Bel istirahat. Dengan lemas, aku keluar kelas, menuju ke kelas Yuri noona, memohon penjelasannya. Aku berjalan dengan gontai. Tapi, langsung semangat melihat Yuri noona yang sedang berdiri memegang sebotol soda, hendak meminumnya.

“Ah, minggir!” seruku tak sabar, pada seseorang yang entah siapa menghalangi jalanku menuju Yuri noona. Aku mendorongnya, membuatnya terjungkal dan menabrak dinding dengan cukup keras.

“Minho-ah…” ucapnya terkejut. “Eh, ehm.. annyeong” kataku dengan canggung. Pandangannya padaku pasti sudah berubah lagi. Ahh… sial!

“Aku.. mianhae” kataku. “Untuk apa kau minta maaf?” tanyanya heran. Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku minta maaf.

“Seharusnya kau minta maaf pada mereka, yang sudah kau bully!” serunya. “Tak kusangka kau sejahat itu. Aku bahkan sekarang tau, perlakuanmu pada sepupuku, taemin. Kau ini tidak punya hati ya?!” ucapnya marah.

“Aku punya hati tau!” elakku. “Oh ya? Apa buktinya? Kau bahkan bisa dengan mudah membuat seseorang terluka” ucapnya sinis.

“Buktinya…. aku… aku bisa mencintaimu!” ucapku lirih. “Mwo??” tanyanya terkejut. Sangat sangat terkejut.

“Aku ini tadi sudah lelah tau! Tapi, aku terus berusaha mengalahkan doojoon. Kenapa? Karena kau! Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapanmu!” seruku.

“Setiap hari, setiap malam, bahkan di mimpiku pun, aku memikirkanmu. Selama pelajaran, aku memikirkanmu. Aku tidak bisa, membiarkan 1 detiku hidupku pun, melepaskan pikiranku darimu semenjak aku melihatmu” tambahku lagi.

Dia terdiam dan melongo. “Aku takut, saat Siwon hyung bilang kau adalah mantannya. Takut kalau aku harus bersaing dengan hyung-ku sendiri. Aku tidak lagi membully taemin, takut kau akan membenciku. Itu semua sudah jelas kan?!”

“Noona neomu yeppeo! Kwon Yuri… saranghae!” seruku, mengeluarkan semua yang kurasakan, membuat semua orang melihat ke arah kami, tapi aku tak peduli. Aku harus mengatakan ini semua padanya.

Dia tampak sangat terkejut. “Aku…” Aku memejamkan mataku, takut kalau perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan.

“Na do saranghae.” katanya lirih, membuatku membelalak menatapnya. “Aku kecewa dengan sikapmu yang seperti ini, ingin merubah semua sikapmu, supaya kau menjadi lebih baik. AKu sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.”

“Kau memiliki karisma, itu yang kusuka darimu. Aku bahkan sekarang sudah mencintaimu, seiring berjalannya waktu, perasaan itu semakin kuat. Aku bahkan tidak mengerti kenapa, aku bisa mencintai seorang penjahat sepertimu.”

AKu memeluknya. Tingginya bahkan tidak sampai melebihi daguku. Aku memeluknya, merengkuhnya. “Aku berjanji. Aku akan berubah. Seperti yang kau mau.” ucapku.

“Chinja?” tanyanya, masih dalam pelukanku. “Nde” ucapku dengan tulus. Apapun, apapun yang noona cantik ini inginkan, aku akan menyetujuinya.

Dia mau aku bertobat? Menjadi anak baik? No prob!

Semua orang menatapku, saat pagi hari aku melangkah masuk ke sekolah tercintaku, Seoul school. Aku tidak mendorong atau membentak siapa pun pagi ini. Today is the new Choi Minho’s time.

Aku memakai seragamku dengan benar, memasang senyuman yang ramah. Bukan senyum terpaksa kok! Ini senyum tulus, bahagia karena Yuri noona sudah jadi milikku sekarang.

“Noona…” seruku sambil memeluknya dari belakang. “noona, kau cantik sekali hari ini” pujiku sambil mengelus kepalanya. “Oh, jadi aku cantik hanya hari ini?” godanya. “Annio” jawabku sambil menggeleng dengan manja.

“Noona neomu yeppeo… today, yesterday, tomorrow, everyday, for-e-ver!” ucapku sambil mencium keningnya. Inilah yeoja yang bisa merubah hidup seorang Choi Minho. Seorang yeoja cantik yang bernama Kwon Yuri.

-The end-

Who’s MinYul shipper here? 😀 gimana menurut kalian? hehe

mohon comment yah >.<

Advertisements