Posts Tagged ‘Donghae’

Author’s POV

“Oppa!!”gadis kecil itu dengan semangat memeluk’nya’ sementara ‘dia’ sendiri berjalan mendekati Siwon, Yuri, Yoona, dan Kibum yang ketakutan. ‘Dia’ adalah salah satu dari tengkorak-tengkorak itu.

Dan sekarang, tengkorak itu berubah dari tengkorak berwarna putih biasa menjadi tengkorak berwarna hijau pucat yang menegrikan, dengan dikelilingi asap berwarna hijau yang sama dan darah di sekitar lengannya. Mereka bersumpah tidak melihat bola mata apapun tadinya, namun sekarang 2 bola mata dengan pupil warna merah darah yang menonjol keluar bergantung nyaris putus di lubang yang memang seharusnya tempat bola mata itu.

Tengkorak itu berjalan perlahan mendekati mereka. Yoona, Siwon, Kibum, dan Yuri tidak bisa kemana-mana karena pintunya terkunci. Yoona memeluk Kibum dari belakang. Yuri menggenggam tangan Yoona erat dan para namja berdiri di depan, melindungi para yeoja. Lalu, tengkorak-tengkorak yang lainnya bergabung.

“O-oppa.. Aku takut..” desis Yoona. “Jangan khawatir. Aku ada disini” ujar Kibum. Tapi, mana mungkin mereka tidak khawatir? Para tengkorak itu semakin mendekat, dan tengkorak dengan warna hijau itu menarik pergelangan tangan yoona. “AAARGGH!” Yoona berteriak takut dan kaget.

“Oppa…lepaskan.. ayo pulang…” rengek gadis kecil itu sambil menarik-narik tangan tengkorak itu. Tapi, tengkorak itu mengabaikannya dan mendorongnya ke samping. “Berikan aku kuncinya…” ujarnya dengan suara yang aneh. Suaranya kering, sekering dedaunan musim gugur, tidak seperti orang hidup, dan meneyramkan, memberikan sensasi gemetaran mengaliri tubuh mereka.

“Kunci…kunci apa?” Kibum memberanikan diri untuk bertanya. “Kunci yang terakhir!” tengkorak itu berujar. “Kami.. kami tidak tau apa-apa.” kata Siwon. “Bohong!” geram tengkorak itu, membuat mereka semakin ketakutan. “Kam..kami.. t-tidak berb-boho..ng..” ujar Yuri dengan takut-takut.

Tengkorak-tengkorak itu mendekati mereka dan kemudian dengan cepat mereka telah dikelilingi oleh 3 tulang hidup. Tengkorak hijau itu mencengkram kerah baju Kibum. “Ki-kibum oppa!” teriak Yoona histeris. Tengkorak itu berhenti lalu menatapnya. Kesempatan ini dipakai Kibum untuk meloloskan diri dari cengkramannya dengan mudah. “Dari mana kau tau namaku?” tanyanya tanpa ekspresi.

“T-tunggu.. jadi.. kau Kibum?” tanya Kibum penasaran. Tengkorak itu mengangguk ragu. “Dia pasti Kim Kibum yang telah menulis surat itu” desis Kibum pelan pada teman-temannya. “Jadi.. apa yang harus kita lakukan?” tanya Yoona gugup.

“De-dengar…” ucap Kibum, mencoba berbicara pada tengkorak itu. “Kami… urrh.. juga mencari kunci-kunci itu. Mungkin kita… ngg… bisa… bekerja sama” ucap Kibum gugup. “Yah! Oppa! Apa kau gila?!” protes Yuri. Tengkorak itu menatap Kibum lekat-lekat. “Memang apa yang bisa kau lakukan? Aku sudah mencari-cari kunci itu selama 44 tahun!” geramnya. Mereka merinding, belum terbiasa mendengar suara seramnya itu.

“Le-lebih banyak.. lebih baik” gumam Kibum. Tengkorak itu menatapnya tajam dengan bola matanya yang menonjol itu. “tepat 4 tahun yang lalu, ada 2 orang pemuda yang berpikiran sama sepertimu. Tapi, mereka mengkhianatiku dan mencuri 3 kunci dariku. Kini aku harus mencari semuanya lagi” ujarnya kaku. “Kau tau apa yang terjadi pada mereka?” tanyanya dengan nada menyeramkan.

Kibum menelan ludahnya yang sedari tadi menggumpal di tenggorokannya. Dia menggeleng. “Itu… yang terjadi pada mereka!” tengkorak itu menggeram, menunjuk ke arah 2 tengkorak yang lain di belakangnya. Yuri dan Yoona berteriak ketakutan. “Jadi… kenapa aku harus percaya padamu?!” dia berseru sambil menyerang Kibum.

Pertamanya, Kibum berhasil bertahan. Tapi, kedua kalinya, tengkorak itu menonjok perutnya. “Urrrghhh…” Kibum mengerang kesakitan. “Kibum oppa!!” yoona berseru panik. Siwon membantunya berdiri dan membantunya.

Tapi, 2 tengkorak yang lain menahannya sehingga dia tidak bisa bergerak. Tengkorak yang bernama Kibum itu mencengkeram lengan kibum lalu dengan suara ‘krekk’ keras mematahkan lengannya seperti mematahkan sebatang ranting rapuh.

“Sial… bagaimana tulang-tulang bau ini bisa sekuat itu?” gumam Siwon. “Hm, itulah gunannya susu” ujar tengkorak itu sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang jelek dan hitam. “Kau tau, ada sebuah produk yang dinamakan pasta gigi” ucap Kibum disela erangannya. “Diam!” seru tengkorak itu sambil dengan bunyi ‘krakk’ yang lain mematahkan jari telujuk Kibum.

“Oppa….” Yoona tidak bisa melihatnya lagi lalu berlari menuju Kibum dan memeluknya erat. Sementara itu, gadis kecil itu menarik-narik tangan tengkorak itu. “Oppa… ayo pulang. Umma pasti khawatir” rengeknya dengan puppy eyes. “Sebentar, Cheun Ri-ah… oppa harus mencari kunci-kunci itu dulu” ujarnya.

Mereka semua terkejut mendengarnya. Masih ada kelembutan dalam suaranya namun, menakutkan. Itu bukan kelembutan yang membuat mereka bernapas lega, melainkan membuat mereka gemetaran. Karena, tidak ada harapan atau kebahagiaan dalam kelembutanya itu. Hanya ada keputusasaan dan kegelapan.

———————-

“O-oppa…” Sooyoung berbisik ketakutan. Dia bersembunyi di belakang Kyuhyun. “Noona… aku sudah menunggu lama” kata anak laki-laki itu. Dia mendekati mereka dengan tentakelnya. Suaranya manis dan lembut. “Gambar ini kubuat untukmu. Apa kau suka?” ucapnya sambil berusaha melihat ke arah sooyoung.

“M..mundur!” seru Kyuhyun sedikit takut, berusaha melindungi sooyoung. “Noona… akhirnya aku bisa bertemu denganmu” ujarnya, terus berjalan ke arah sooyoung. “Noona.. disini terlalu dingin. Aku tidak ingin disini lagi” ujarnya sedih. “Kalau begitu, pergi” gumam Kyuhyun. Tapi, anak laki-laki itu mengabaikannya dan terus saja mendekati sooyoung.

“Tapi aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku belum melakukan sesuatu yang harusnya kulakukan 80 tahun yang lalu.” ujarnya, masih terus berjalan ke arah mereka. Kini mereka sudah tidak bisa mundur lagi. Donghae dan Jessica di sisi lain ruangan, hanya menatap ke arah Kyuhyun dan Sooyoung karena anak laki-laki itu bahkan tidak melihat mereka yang sudah kabur dari tadi.

“Noona…” anak laki-laki itu semakin mendekatinya. Kyuhyun berdiri di depan sooyoung untuk melindunginya. “Gwenchana, Kyu..” kata sooyoung sambil berdiri di depan.

Kyuhyun bingung. “Tapi.. soo…” ujarnya, tapi Sooyoung memotongnya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya, berusaha untuk berani, mengabaikan air mata yang mulai terjatuh di pipinya. Mereka semua menatapnya dengan napas tertahan, takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Anak laki-laki itu tersenyum. “Noona… saranghae”.

Sooyoung sekarang mengerti. Lalu, dia melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia memeluk anak laki-laki itu. Walaupun dia sangat amat teramat takut, tapi dia memberanikan dirinya. “Kamsahaeyo” katanya. Anak laki-laki itu tersenyum manis dengan sangat lebar. Lalu, dia semakin transparan… dan akhirnya… hilang.

Kyuhyun menatapnya melongo. Bahkan Donghae dan Jessica menatapnya dengan tatapan kau-tidak-mungkin-melakukannya. “Apa….itu…?” Jessica bertanya, tidak yakin akan apa yang baru saja terjadi. Air mata sudah membasahi pipi sooyoung dan Kyuhyun mengelapnya.

“Anak laki-laki itu… aku mengerti sekarang. Dia tidak bisa peri ke…umm.. bagaimana mengatakannya yah… ‘tempatnya sendiri’… tempat yang seharusnya orang mati tempati… karena dia belum menyatakan perasaannya ke noona-nya yang.. mm… mirip aku?” jelas sooyoung saat tangisnya sudah reda.

“Aku memeluknya. Untuk mengangkat semua bebannya. Supaya dia bisa pergi… dengan damai” tambah sooyoung sambil tersenyum. Mereka semua terpana menatapnya. “Sooyoung… kau ini malaikat atau apa?” gumam Kyuhyun, tapi cukup keras untuk sooyoung dengar.

“Eeh?” pipi sooyoung memerah. “Woaah… kau hebat sooyoung!” seru Jessica sambil memeluknya. Dia tidak bisa menemukan kata-kata lain yang cocok. “Itu fantastik” ujar donghae sambil tersenyum.

“Well… Jessica… Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu” ujar Donghae, berubah serius. “Tapi.. kita harus pergi seka-pfffft” Kyuhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sooyoung sudah menutup mulutnya. “Diam! Biarkan saja. Aku yakin donghae oppa pasti mau menyatakan perasaannya” bisiknya.

“Tapi.. sekarang bukan waktu yang bagus! Aissh!” protes Kyuhyun. “Tidak ada waktu yang bagus oppa! Kalau kau menunggu-nunggu untuk menyatakan perasaanmu, kau akan seperti anak laki-laki itu. Menunggu untuk sesuatu yang tidak berguna. kau akan berakhir seperti itu” ujar sooyoung.

“Kau pikir seperti itu?” tanya Kyuhyun. Sooyoung mengangguk yakin. “Hm, kalau begitu… ada sesuatu yang ingin kukatakan” kata Kyuhyun, ingin memberi tahu sooyoung sesuatu yang penting. “Hm?” tanya sooyoung penasaran. Kyuhyun menghindari kontak mata dengannya. Sooyoung menunggunya tidak sabar.

“Aku… aku… aku menci… ci.. cin… ahh! lupakan! Aku lupa mau ngomong apa!” seru Kyuhyun frustasi. Sooyoung terlihat sedikit kecewa lalu melempar pandangan ke arah donghae dan Jessica.

“Waeyo?” tanya Jessica dengan dingin yang membuat donghae semakin gugup. “Oke, lee donghae. Kau sudah memutuskannya. Kau harus mengatakannya” ujar Donghae dalam hati. “Jessica Jung… saranghaeyo…” dia membisikkan kata terakhirnya. “Mwo? Aku tidak dengar” ucap Jessica. Sebenarnya, dia mendengarnya dengan sangat jelas.

“saranghae…” Donghae mengulang lagi dengan lebih kencang sedikit. “Yah! Oppa! Kau ini punya suara atau tidak sih?” protes Jessica. “Saranghae saranghae saranghae!! SARANGHAEYO JUNG SOO YEON!!!” seru donghae frustasi. Tapi kemudian teriakannya dipotong oleh ciuman lembut di bibirnya oleh Jessica.

Donghae terkejut, tapi kemudian menciumnya juga. Tapi, ciuman mereka tidak bisa bertahan lama. Kyuhyun berdeham. “Ehem.. mian mengganggu. Tapi, kita harus keluar dari sini sekarang juga” ujar Kyuhyun. Dia bisa membuka pintunya dengan mudah sekarang.

Donghae dan Jessica hanya tersenyum malu lalu berjalan keluar. “Aish.. Lee Donghae. Kau tidak tau waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan yah? Di tengah malam di tengah ruang kelas yang horor. Ckckck” ujar Jessica.

“Tidak ada waktu yang teoat Sica… aku tidak mau menyesal seperti ank laki-laki itu. Memangnya kau mau aku jadi hantu selama 80 tahun, menunggu seseorang yang mirip denganmu datang?” ujar Donghae polos. “Awww… cute and innocent boy” ujar Jessica dalam bahasa inggris (tau deh Sica unnie, yang inggrisnya bagus~~ authorapabangetdeh) sambil mencubit pipi donghae pelan.

“Jadi… aku anggap itu debagai ‘iya’?” tanya donghae penuh harap. “Iya untuk apa? Kau bahkan tidak bertanya apa aku mau menjadi yeoja chingumu” protes Jessica. “Jessica Jung… maukah kau menjadi yeoja chinguku?” tanya donghae serius. “Paboya! Tentu saja~~” ujar Jessica sambil tersenyum.

“Woaah donghae oppa, kau sudah mencairkan es-nya~” goda sooyoung. Mereka semua tertawa. Bukan karena lelucon sooyoung, tapi lebih karena mereka lega bisa selamat keluar dari ruang kelas itu. Mungkin, nasib teman-teman mereka tidak seberuntung mereka~

miaaaaan reader2ku sayang , author update nya lama.

author pabo pabo pabo!! naega cham pabo gatjyo >.<

abis… author nemu fanfic di SSF banyak bnget trus ketagihan deh~

udah tau deh… ff di SSF tuh ceritanya patut diacu

Advertisements

Jessica’s POV

“Yah! Sica! Bangun!” seru sebuah suara yang familiar. “5 menit lagi, sooyoung…” ujarku malas sambil membalikkan badanku dan menutup kepalaku di bawah bantal. “Yah! Sica! Bangun sekarang!” kali ini Yuri yang berteriak. “Unnie bangun! Kita tidak ingin menghabiskan seharian cerah ini hanya untuk membangunkanmu kan!?” Kali ini maknae kedua yang berseru. “Jessica, wake up nowww!” seru Tiffany. “Perlu kuambil timun?” usul Taeyeon yang langsung kutanggapi dengan bangun dan spontan berdiri.

“Aku bangun! Aku bangun! Jangan pernah bawa benda hijau menjijikan itu!” seruku. Member-member yang lain sudah memenuhi kamarku dan hanya menggeleng-geleng kepala melihatku. Memang sangat sulit membangunkanku. Dan Seohyun kemarin-kemarin sudah menyerah sehingga meminta yang lain untuk membantunya membangunkanku. Trik membuatku tertawa tampaknya sudah tidak bekerja.

Selesai mandi, aku langsung menuju meja makan, tempat member lain sudah mengelilinginya. Aku memegangi kepalaku yang sejak semalam memang sudah pusing, dan semakin parah pagi ini. Wajah mereka tampak sangat bahagia. Ada apa ya? Batinku heran. “Sica… tanggal berapa ini?” tanya Taeyeon. Aku menatapnya bingung sebelum menangkap maksudnya. Untuk apa dia menanyakanku tanggal hari ini?

Tapi, aku tetap menatap kalender hari ini yang letaknya di seberang meja makan. Senin… tahun 2011. Bulan April… tanggal… 18? 18! “18… April 2011? omo!” ucapku kaget. Aku berbalik dan mereka sudah berdiri dengan kue tart coklat besar dengan tulisan “Happy birthday Jung Sooyeon” di atasnya. “Saengil chukkahamnidaa~~” mereka bernyanyi untukku.

“Gomawoyo semuanya…” ucapku terharu. Dari semua kesibukan-kesibukan kami mempersiapkan Mr. Taxi, dan hanya diberi libur 2 hari, mereka mengorbankan waktu istirahat mereka untuk mempersiapkan ini.

“Ini dariku… dan tiffany” ucap Taeyeon, memberiku sebuah bingkisan berwarna pink. SooRi juga memberiku sebuah kotak yang dibalut kertas kado lucu. YoonHyun memberikanku sebuah novel inggris. Sedangkan Sunny dan Hyoyeon mengatakan kado mereka adalah kue tart-nya, padahal yang membuatnya adalah semua member. Kekeke.

Aduh…. tapi… kepalaku pusing sekali. Perutku juga mual. “Unnie… gwenchanayo?” tanya maknae khawatir. Aku tidak boleh membuat mereka khawatir. Mereka sudah susah-susah menyiapkan semuanya, hadiah, dan kue, dan bahkan semu masakannya adalah makanan kesukaanku. Aku tidak boleh merusak kesenangan mereka. Jessica, kau tidak boleh egois.

“Gwenchana” jawabku, memaksakan sebuah senyum. “Aigo… kau harus bahagia, Jessie! Setidaknya hari ini~” ujar Yuri sambil merangkulku. Untung saja dia tidak menyentuhku, terutama bagian keningku secara langsung, atau dia akan tau betapa tinggi suhu badanku. “Nde. Kau harus ceria di hari ulang tahunmu!” ujar Sooyoung. “Aku ngantuk ….” ujarku pendek. Hening. Sica’s effect~ kekeke.

Ting! Tong! Bel dorm kami berbunyi. Yoona membukakannya. Lalu, masuklah 2 sosok yang sangat sangat familiar. “Donghae! Krystal!” ucapku, berusaha terdengar seceria dan sesemangat mungkin. “saengil chukkaeyo unnie!!” seru Krystal sambil memelukku lalu memberikanku hadiah juga. “Gomawo”

“Chagiya~ Saengil chukkaeyo…” kata Donghae sambil mencium bibirku, lalu memberiku sebuah kalung yang sangat indah. “Gomawo, oppa….” ucapku senang.

“Bagaimana kalau kita pergi?” usul Sunny. “Ne! Makan!!” Sooyoung berseru. “Jessica yang traktir!” seru Tiffany. “Mwo? Andwae! Aku tidak mau ikut” ujarku. “Aah.. mana mungkin kau tidak ikut? Ayolah Jess…” bujuk Yuri. “Unnie… kau tidak perlu traktir deh. Kkaja!! Kami bosan~~” rengek Yoona.

“Anni. Aku tidak mau. Kalian semua saja” ujarku. Aku tidak yakin akan kuat berjalan-jalan. Bisa-bisa aku pingsan. Sekarang saja rasanya sudah sangat menderita. “Ayolah…” “Jessica, kau kan berulang tahun hari ini!” “Sica, ayolah… apa salahnya pergi?” Mereka semua terus memaksaku. Bahkan Krystal dan Donghae pun juga.

Aku menjadi marah dan frustasi. “Aku bilang tidak mau ya tidak mau! Kenapa kalian memaksaku sih? Kalian pikir aku senang dipaksa-paksa seperti ini? Kalian merusak hari ulang tahunku saja!” seruku di luar kemauanku. Mereka semua tampak terpukul dan terkejut. Lalu sambil menangis, aku masuk ke kamarku.

“Sica…” panggil Sooyoung yang langsung menghampiriku dan duduk di sebelahku. “Gwenchanayo?” tanyanya. Aku tidak menjawab. “Aku minta maaf. Jeongmal mianhaeyo, kalau kami malah memaksamu dan merusak hari ulang tahunmu” ujarnya sedih. Aku masih tidak menjawab dan hanya menangis. Dia akhirnya menyerah dan keluar.

“Sica yeobo~” kali ini Yuri yang masuk lalu langsung memelukku. “Mianhae…” katanya. “Ada apa denganmu? Ini tidak seperti Jessica yang biasanya. Pasti ada yang kau sembunyikan. Beritahu aku” ujarnya. Aku menangis di pundak Yuri. Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku sudah membuat mereka sedih, membuat mereka marah. Padahal mereka semua sudah begitu baik. Teman, unnie, dan pacar macam aku ini?!

Yuri merangkulku lalu menggandengku untuk keluar lagi, tempat mereka semua berkumpul. Masih sesenggukan dan dengan langkah yang berat, aku keluar. Tiba-tiba… penglihatanku menjadi buram. Semuanya berputar lalu… gelap.

———–

Author’s POV

“Jessica!” seru semuanya panik saat Jessica tiba-tiba terjatuh dan pingsan. “Aigoo… badannya panas sekali…” ujar Taeyeon cemas. “Jadi, dari tadi dia menahan sakitnya ini? Aisssh.. unnie pabo…” gumam Krystal. Donghae langsung menggendong Sica dan membawanya ke mobilnya untuk segera ke rumah sakit. Mereka semua terdiam, diselimuti perasaan bersalah selama menunggu Jessica siuman.

Jessica’s POV

Mm… dimana aku? Pikirku heran. Kepalaku masih sangat sakit, tapi aku memaksakan untuk duduk. Aah.. suasana ini. Pasti rumah sakit. Lalu aku ingat, tadi saat aku berjalan keluar dari kamar… aah… aku pasti pingsan!

“Jessica!! Kau sudah siuman?” Tiba-tiba 10 orang berbondong-bondong memasukki kamarku. Untung saja kamarku ini VVIP. Jadi, cukup luas dan tidak ada pasien yang akan terganggu.

“Gwenchanayo?” tanya Donghae. Kekhawatiran tampak begitu jelas di matanya. “Ne. gwenchana.” gumamku. “Aku… mianhae… aku mengacaukan semuanya. Aku…” kata-kataku dipotong oleh mereka. “Kau tidak salah. Kami lah yang salah” ujar Taeyeon. “Kami memaksamu” tambah Yoona. “Kami seharusnya sadar kalau kau sakit. Tapi kami malah memaksamu” tambah Hyoyeon.

“Aissh unnie… harusnya kau bilang kalau kau sakit…” omel Krystal. Tampak seperti posisi unnie dan dongsaeng sekarang tertukar bagi aku dan Krystal karena dia mengomeliku. Kekeke. “Mianhae. Aku hanya… tidak ingin membuat kalian semua khawatir. Padahal kalian semua sudah susah payah menyiapkannya. Aku malah mengacaukannya” ujarku jujur.

“Aigo… ice princess kita yang berhati hangat ini… aissh… jinjja…” kata Sooyoung, lalu mereka semua memelukku. Agak sedikit sesak sih, dipeluk oleh 8 orang sekaligus, tapi.. pelukkan dari mereka sangat hangat. Pelukkan dari saudari-saudariku.

“Yah… mau bagaimana lagi. Kita rayakan di rumah sakit saja…” usul donghae sambil nyengir. Lalu, Sunny mengambil kue tart yang ternyata di bawa olehnya (?). “Make a wish~” seru yang lainnya. Aku menutup mataku. Tuhan, semoga aku bisa bersama-sama dengan mereka, selamanya. Lalu aku membuka mataku dan meniup lilinnya.

“Yeobo~ terima iniiii” seru Yuri sambil mencolekkan krim coklat ke pipiku. “Aissh… tunggu pembalasanku di dorm nanti kwon seobang!!” seruku. “Tapi… seobang-mu kan aku…” ucap Donghae sambil memelas. Sejak kapan dia belajar aegyo seperti sungmin? hmmm~ Aku hanya tertawa. Begitu pula mereka semua. Dengan adanya orang-orang yang bisa menghangatkanku ini, hatiku juga menjadi hangat. ~~

SAENGIL CHUKKAEYO JESSICA UNNIE, MY BELOVED ICE PRINCESS!!!

*nyalain confertti* *nyalain terompet* *nyalain kembang api*

Author’s POV

“A-apa… yang harus kita lakukan?” tanya Yuri dengan suara serak karena takut. Sunyi. Yang lainnya juga tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang. “Kita tidak bisa diam disini selamanya. Setidaknya kita harus bergerak” kata Kibum. Aneh memang bagaimana suaranya masih setenang itu si keadaan seperti ini.

“Dia benar… kita harus… mencoba” Siwon mendukungnya. Yang lainnya mengangguk. Mereka menyadari itulah pilihan mereka satu-satunya. Dan… dimulailah petualangan mereka!

Leeteuk, Kibum, dan Siwon berjalan di depan, memimpin perjalanan mereka karena merekalah yang paling berani. Para yeoja di belakangnya sedangkan Donghae dan Kyuhyun berada di paling belakang. Mereka berbalik untuk melihat lift itu yang terakhir kalinya. Tapi, tidak ada tanda-tanda bahwa lift itu pernah berada disana. Hilang. Lenyap. Lift itu telah hilang, menyisakan dinding batu-bata yag kosong.

Mereka mengenali bangunan itu sebagai sebuah sekolah, yang pastinya sudah ditinggal sangat lama. Tidak ada satupun sumber cahaya disana. Tidak lampu, cahaya matahari, atau bahkan cahaya bulan. Seakan-akan cahaya dilarang untuk masuk.

Tapi, ada sesuatu yang mereka tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang memancarkan cahaya hijau pucat di sekeliling ruangan. Sesuatu yang mereka tidak sukai.

Mereka berjalan di koridor, melewati beberapa ruang kelas. Ruang kelas itu, seperti keadaan di sekeliling mereka sangat kotor, gelap, suram, dan tertutup oleh debu yang lebih tebal dari sebuah kamus. Tapi, ada satu hal yang aneh. Yaitu semua perabotan, semua benda disitu masih lengkap dan ditempatkan dengan sangat rapi.

Mereka semua terlalu takut untuk berbicara. Hanya ada suara langkah kaki mereka, yang lebih kencang dari seharusnya, menggema di udara yang lembab.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan yang aneh pada lantai kayu. Seakan-akan, setiap langkah yang mereka ambil, keadaan sekitar mereka semakin gelap dan gelap. “Aku rasa… kita harus mencari pintu keluar” ujar Leeteuk, orang yang paling pertama mengendalikan rasa takutnya.

Mereka semua mengangguk setuju dan melangkah dengan hati-hati meuruni tangga kayu yang rapuh karena sudah lapuk, mencoba mencari-cari letak pintu keluar karena sekolah itu bukan sekolah yang kecil.

“Sial! Dikunci dari luar!” seru Kyuhyun marah. Dia sudah mulai emosi dengan keadaan ini. “Apa??!” Yang lain berseru terkejut dan takut. “Aku tidak mau tinggal disini…” seru Yoona. “Aku mau pulang!!” teriak Jessica.

“Tenang, semuanya… tenang…” ujar Taeyeon, mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya sementara dia sendiri juga berusaha menenangkan rasa takutnya sendiri. Siwon mencoba menelepon untuk meminta bantuan. “Argh! What the hell!! Tidak ada sinyal!!” serunya frustasi. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka semua.

“Mungkin kita hanya harus menunggu. Aku cukup yakin besok pagi akan ada orang yang menolong kita” ujar Kibum. Karena merasa tidak ada pilihan lain, yang lainnya setuju dan mengangguk pasrah. “Tapi… dimana kita akan tidur?” tanya Donghae. “Mwo? Annio! Aku tidak akan tidur di tempat seperti ini! Aku memilih untuk tidak tidur sampai subuh” ucap Sooyoung.

“Kau tidak akan tahan!” ujar Jessica. “Tapi… tempat ini tidak layak. Terlalu menakutkan. Bagaimana kalau nanti ada han- pfffft” Yuri menutup mulut Sooyoung sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Jangan buat kami semakin takut” ujarnya.

“Ayo kita berpura-pura bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan saat kita terbangun, kita sudah ada di dorm kita lagi” gumam Taeyeon. Ini memang terdengar mustahil, tapi yang mereka punya sekarang memang hanya tinggal harapan. “Tapi, bukankah terlalu pagi untuk tidur?” ujar Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kita mengitari sekolah ini. Mungkin kita bisa mendapat informasi tentang apa dan dimana sekolah ini sebenarnya” usul Siwon. “Andwae! Bagaimana kalau sesuatu terjadi?” tanya Yoona takut. “Well, kalau ada sesuatu yang terjadi, kau mempunyaiku untuk melindungimu” kata Kibum sambil tersenyum pada yoona yang membuat pipinya memerah.

“Aigoo… dalam situasi seperti ini dan kau masih sempat-sempatnya nge-gombal? Nicee~” ejek Leeteuk. “Tapi, kurasa Siwon ada benarnya. Kita tidak mendapat apa-apa kalau hanya berdiam diri disini. Setidaknya kita pasti mendapat sesuatu kalau kita bergerak. Kita kan ber-10. S-E-P-U-L-U-H” kata Jessica.

“Tapi… bagaimana kalau ada hantu, atau hal-hal sejenisnya? Biasanya hal-hal seperti itu ada di tempat yang sudah lama ditinggal” kata Sooyoung takut. “Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Itu hanya mitos” kata Taeyeon. “Kalau begitu jelaskan bagaimana kita bisa disini” ujar Kyuhyun. Taeyeon tidak menjawab.

“Okay guys. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian. Anggap saja, kita bisa berada disini sekarang, karena dewi keberuntungan sedang tidak ada di pihak kita. Diam disini, ketakutan dan menangis seperti bayi tidak akan merubah apapun dan membantu kita keluar dari situasi ini. Kita harus berani, atau setidaknya, mencoba untuk berani” kata Leeteuk, menyemangati dongsaeng-dongsaengnya.

mereka terdiam. Mereka semua tau, Leeteuk benar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, atau setidaknya mencoba untuk berani. Akhirnya mereka menggangguk setuju dan saling menyemangati. “Hwaiting!!” seru mereka.

Lalu, mereka menaiki tangga kayu yang sama, menuju ke lantai atas, mencari petunjuk yang bisa memberitahu mereka tempat apa itu sebenarnya. “Ruangan ini sepertinya bagus” ujar Kyuhyun, menunjuk ke arah plat kayu usang yang tergantung di atas sebuah ruangan, bertuliskan “Ruang Guru”. Mereka melihat satu sama lain lalu akhirnya memutuskan untuk masuk.

Ruangan itu sangat besar untuk ukuran sebuah ruang guru. Ada 2 sofa yang ditempatkan berhadap-hadapan si sisi kiri mereka dan 5 komputer yang ditempatkan di seberangnya. Sebuah foto, yang mereka asumsikan sebagai foto sang pendiri sekolah, tergantung rapuh di dinding sebelah kanan mereka. Detail yang lain tidak dapat mereka lihat dengan jelas karena keadaannya terlalu gelap untuk mata mereka yang walaupun sudah cukup terbiasa dengan kondisi kegelapan itu.

“Pasti ada dokumen atau apapun tentang sekolah ini” ujar Kibum. “Ne! Aku yakin kita kesini bukan untuk hal yang sia-sia. Pasti ada yang bisa kita temukan” ujar Yoona. Kyuhyun dan Donghae mulai mencari di laci dan lemari, sedangkan Sooyoung mencari di kulkas, yang tentu saja tidak ditemukan apapun disana.

“Hey! Aku meneukan sesuatu!” seru Siwon. Mereka semua berlari menuju ke meja ke-3 dari pojok kanan, tempat dimana Siwon berada. Dia mengambil HPnya untuk ekstra cahaya. “Aku memerlukan cahaya lagi” gumamnya. Leeteuk dan Yuri menyalakan HP mereka untuk memberi Siwon lebih banyak cahaya.

“Draft Dokumen Sekolah” ujar Siwon, membaca jusul dari kertas usang yang sudah robek-robek dan menguning. Mereka semua terdiam, mendengarkan Siwon, membiarkan suaranya bergema di ruangan yang kosong dan menyeramkan itu.

Draft dokumen sekolah

Sin Bi High School

##########, Korea Selatan

876-444-#####

dibangun oleh: ### Joo Ji, 4 April 1844

Visi:

Sekolah ini adalah ######## para siswa untuk ######### dengan sikap yang baik dan sopan santun yang tinggi ########

Misi:

1. Untuk ##### dengan pantas ######### dan ###### bagi negara dan bangsa

2. Untuk membangun ############## yang baik dalam toleransi yang tinggi

3. #####################################

Sin Bi high school menyambut semua########### dan ### murid yang ###############

Dengan hormat,

Kepala sekol##

Park #### Kyung

4 April 1990

“Ada banyak bagian yang tak terbaca (Bagian ###)” kata Siwon. “Sin Bi high school? Sepertinya aku pernah mendengarnya” kata Jessica. “Setidaknya kita sekarang tau apa nama tempat ini” kata Kyuhyun. “Itu tidak membantu sama sekali! Kita bahkan tidak tau di daerah mana kita berada” ujar Donghae. “Setidaknya kita masih ada di Korea Selatan~” ujar Yoona.

“Ayo pergi. Kurasa tidak ada lagi yang bisa ditemukan di tempat ini” ujar Leeteuk. Yang lainnya mengiyakan lalu pergi keluar. Mereka menaiki tangga menuju ke lantai atas. “Tu-tunggu…” gumam Sooyoung. Dia berhenti di sebuah ruang kelas. “Wae-yo sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun bingung.

Sooyoung tidak mempedulikannya dan hanya menatap ruang kelas itu. Kyuhyun, Jessica, dan Donghae, yang berjalan paling belakang, merasa penasaran dan ikut berhenti di depan ruang kelas itu, tidak menyadari bahwa yang lain sudah meninggalkan mereka .

Tanpa mengatakan sepatah katapun, sooyoung membuka pintunya dan berjalan masuk. Yang lain menatapnya heran, tapi bertekad untuk tidak meninggalkannya sendirian, mereka mengikuti sang shikshin masuk ke dalam kelas tersebut.

Kelas itu, sama seperti kebanyakan kelas, memiliki sedikitnya 15 meja dengan sepasang kursi di tiap mejanya. Yang membuatnya berbeda adalah adanya banyak sekali foto yang tergantung kaku di atas dinding. Foto-foto itu semuanya adalah wajah seseorang dan seakan-akan mereka sedang menatap tajam 4 orang yang berdiri dengan takut di dalam kelas itu.

“AAAAAA!!!” Sooyoung berteriak ketakutan, memeluk Kyuhyun sebagai reflek. “Apa? Wae?” tanya Kyuhyun bingung, walaupun senang karena sooyoung memeluknya. “O-oppa… i… it.. itu..” ujar Sooyoung takut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada kyuhyun sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan, ketiga dari paling kiri. Mereka semua melihat ke arah yang sooyoung tunjukkan. Seketika mereka syok dan ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

“Bagaimana mungkin…” desis Donghae tidak percaya. Sementara itu, Jessica menatap gambar itu dengan syok dan mengencangkan genggamannya pada lengan donghae. Kyuhyun masih memeluk sooyoung yang sedang menangis, menatap gambar itu dengan pahit.

Itu adalah gambar wajah sooyoung secara close-up, dengan darah merah kental di bagian mulut dan hidungnya, dan tampak sesuatu yang salah pada matanya. Seperti hendak dicongkel keluar tapi tidak berhasil.

“Ayo keluar dari sini” perintah Kyuhyun. Yang lain langsung setuju tanpa berpikir lagi. Tapi… “Sial!” seru DOnghae marah sambil menendang pintunya. “Wae?” tanya Jessica takut. Mereka semua sudah tau jawabannya. “Pintunya terkunci”

Mereka saling melihat satu sama lain. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jessica lemas. Air mata sudah terbentuk di matanya dan siap untuk terjatuh. Sooyoung mulai histeris, memukul dan menendang-nendang pintu yang tidak ada gunannya.

Kyuhyun memeluknya lagi, berusaha menenangkannya. Donghae mengusap kepalanya sedangkan Jessica mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak mau disini. Terlalu…. menakutkan” isaknya disela tangisannya. “Tenanglah. Aku ada disini. Untuk menjagamu” ujar Kyuhyun lembut lalu mencium kening sooyoung.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Donghae. “Kita semua tahu tidak ada yang bisa kita lakukan! Hentikan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh,pabo!” seru Kyuhyun emosi. Sunyi. Jessica menyenderkan kepalanya di pundak donghae dan dengan lembut donghae membelai rambut blonde-nya.

Sooyoung masih menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun dan Kyuhyun dengan lembut mendekapnya, berusaha menghentikan tangisannya. Mereka berdiri sejauh mungkin dari gambar itu dan sedekat mungkin dengan pintu.

Tiba-tiba…. BRAKKK!! Sesuatu terjatuh. Mereka semua terkejut dan menatap ke arah dimana foto sooyoung terjatuh ke lantai kayi syok dan sudah agak lapuk. Sekali lagi, ekspresi syok dan horor, yang bahkan lebih jelas dari sebelumnya tergambar di wajah mereka.

Serasa seperti ada permen karet yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tidak ada satu pun kata-kata , umm.. atau lebih tepatnya teriakan yang sanggup keluar dari mulut mereka, sekeras apapun mereka sebenarnya ingin. Mereka hanya diam membantu, dengan ketakutan tak terhingga yang membayangi mereka.

Mereka melihat ke arah yang sama, ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memegang foto sooyoung. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Dia sangat lucu dan imut, neomu kyeoptta, KALAU otaknya tidak terlihat jelas dan terus berdenyut-denyut, KALAU dia tidak kehilangan setengah bagian kepalanya sehingga menampilkan organ otaknya yang menjijkan, KALAU dia mempunya kaki-kaki mungil yang berdiri mantap di lantai kayu, bukannya tentakel biru pucat yang terus bergelayutan, dan KALAU dia tidak transparan…….

TBC~~

Author jadi parno dah bikinnya malem2 –a

author saranin sih jangan baca malem-malem buat yang imannya gak kuat… tapi buat author… kurang serem yah? ckckck~

Kenapa bisa ada foto-nya sooyoung?

Siapa tuh anak kecil sebenarnya?

Bagaimana nasib KyuYoung dan HaeSica?

bagaimana dengan petualangan TaeTeuk, YoonBum, Siwon, dan Yuri?

wait in the next part~~~

Author’s POV

“Gaah.. Ayo pergi ke suatu tempat. Aku sangat bosan!” keluh sooyoung sambil meregangkan tubuhnya.  “Neh… Kita mendapat kebebasan satu hari tapi tidak ada yang bisa kita kerjakan” kata Yoona. “Kita mau pergi kemana?”tanya Jessica sambil mengintip dari atas buku yang sedang dia baca

“Bagaimana kalau…. pergi berbelanja?” Yuri menyarankan. “terdengar bagus”yang lainnya setuju. “Baiklah. Cepat, siap-siap!Kita akan pergi 30 menit lagi!”perintah Taeyeon dan degan segera dongsaeng-dongsaengnya melakukan apa yang diperintahkannya. mereka melangkah ke kamar masing-masing, berganti baju dan bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall yang sangat terkenal di Seoul (nama mallnya, pikirkan sendiri. Mau Kelapa Gading kek, mau Cilandak Town Square kek ._.) Dan pastinya, mereka menyamar, agar tidak ada fans yang mengenali mereka.  Hanya Sooyoung, Taeyeon, Jessica, Yuri, and Yoona yang tertarik untuk pergi, karena Tiffany sakit, Hyoyeon latihan gerkaan dance yang baru, Sunny sibuk menaikkan levelnya di Mario Bross, dan Seohyun terlalu sibuk belajar.

“Aku ingin membeli sepatu baru!” seru Yoona. “Ayo cari merchandise Mickey Mouse dulu” ujar Yuri. “Sepatu baru duluan!” ucap Yoona. “Annio! Mickey mouse!” Yuri berteriak. “Sepatu baru!” “Mickey mouse!” Sepatu baruuuu!!” “Mickey mouseee!!” YoonYul mulai bertengkar.

“Girls, berhenti bertengkar!”teriak sang leader, yang berhasil membuat mereka berdua terdiam “Okay. pertama, kita akan mencari sepatu baru, lalu setelah itu mickey mouse. Arasso?” ucap Sica. “Tapi… kenapa Yoona duluan?” tanya Yuri sedih. “Karena sepatu lebih penting dari Mickey mouse” kata sooyoung kejam. Yuri hendak membantah perkataannya namun, Taeyeon menyeret mereka masuk ke toko sepatu.

Merka mencari sepatu yang cocok beberapa saat lalu akhirnya menemukannya dan membelinya. “Mickey mouse! Mickey mouse!” Yuri melompat-lompat dengan semangat. “jadi… dimana tokonya?” tanyaSica. “Mungkin.. di lantai atas? Lantai 4?” usul sooyoung. “Pabo! Disini tidak ada lantai 4~” kata seseorang tiba-tiba. Mereka terkejut dan berbalik untuk melihat siapa orang yang berbicara itu

“Hey~” “Annyeong…” sapa 5 namja, yang juga sedang menyamar. “Donghae oppa! Kyuhyun oppa! Leeteuk oppa! Siwon oppa! Kibum oppa!” seru para yeoja dengan girang. “Ssssh….” Kibum memperingatkan mereka dan melihat berkeliling. Untungnya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menghiraukan mereka, yang memakai kombinasi baju-baju yang aneh, kacamata hitam, topi, dan bahkan syal.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sica. “berbelanja tentunya” jawab Siwon. “Pheww.Aku tidak tau kalau namja seperti kalian suka berbelanja.” ejek Sooyoung. “Well, aku tidak suka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan video game-ku, tapi mereka memaksaku karena aku kalah dalam permainan ular tangga” Kyuhyun mengeluh.

“Kami dipaksa berbelanja oleh member lain. Beraninya mereka! Ckck” ujar Leeteuk. “Tapi, kurasa akan menyenangkan kalau kita berbelanja bersama-sama?” usul Donghae. Para yeoja mengangguk dan tersenyum, 100% setuju dengan ide Donghae.

“Jadi, apa maksudmu dengan tidak ada lantai 4?” tanya sooyoung. Jessica memutar bola matanya. “Tidak ada lantai 4 di setiap mall di Korea, sooyoung.” ujar Jessica. “Tapi kenapa?” tanya si shikshin lagi.

“Karena angka 4 berarti kematian. Mereka percaya pada mitos ini dan berasumsi bahwa angka 4 hanya akan mendatangkan kesialan. Jadi, setelah lantai 3 langsung ke lantai 5. Ada juga yang menggunakan 3a atau 3b, tapi bukan 4.” jelas Siwon. “Tapi itu hanya mitos!” seru sooyoung lagi. “Tanya pemilik mall-nya. Hanya itu yang kami tau” kata Yuri.

“Oke, aku ingin membeli bahan makanan sekarang” kata Kibum. “Andwae! Mickey mouse-ku dulu!!” ucap Yuri tegas. “Tapi…” “Tidak ada tapi! Mickey mouse-ku!!” seruYuri. “Nde, mickey mouse-nya dulu” Yoona membela Yuri. Para namja akhirnya menyerah. Merka tau mereka tidak akan bisa mengalahkan para yeoja. Mereka terlalu keras kepala, tapi juga.. terlalu imut.

Mereka pergi ke toko yang menjual banyak barang mickey mouse. Yang lainnya melihat-lihat dengan bosan, sangat berbeda dengan Yuri yang dengan riang melihat-lihat di toko yang penuh dengan tikus lucu itu. Dia mencari dengan teliti, tidak membiarkan 1 inci sudut pun terlewatkan. Yang lainnya mengikutinya sambil mengobrol.

“Jadi… Seohyun tidak ikut?” tanya Kyuhyun yang berjalan bersebelahan dengan sooyoung. “Ye. Dia sedang belajar. Aku yakin kau pasti kecewa. Kangen padanya?” tanya sooyoung, menjaga agar suaranya tetap terdengar ceria saat hatinya tidak. “Hmm, untuk apa saat kau ada di sebelahku?” Kyuhyun bergumam tapi tidak cukup jelas untuk sooyoung dengar.

“Apa?” tanya sooyoung. “Ti.. tidak” ujar kyuhyun gugup. “Huff… ini semua membuatku lapar” Sooyoung berkata, mencoba untuk merubah topik. “Kau selalu lapar. Memangnya kapan kau kenyang?” Kyuhyun bertanya, sambil tertawa. “Saat aku mau” jawab sooyoung. “Wah… kalau begitu kau pasti tidak akan pernah mau” ejek Kyuhyun. “Yah!” Sooyoung cemberut sambil memukul legan kyuhyun. “Aigoo… kyeopta…” Kyuhyun berkata dalam hatinya. He mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yah! Apa-apaan sih?” protes sooyoung. “Kau terlalu imut…” ucap Kyuhyun, membuat pipi sooyoung memerah.

“Umm… aku tidak tau kau suka belanja, Sica?” Donghae mencoba untuk memulai percakapan. “Tidak terlalu. Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan di dorm” jawab Sica dengan dingin, yang membuat Donghae semakin gugup. “Ummh… kau mau membeli sesuatu nanti?” tanya donghae lagi. “Tidak” jawab Sica pendek.

“Apa yang ingin kau… mm… makan?” Donghae tetap berusaha dan berjuang yang tentu saja sulit dilakukan karena dia berusaha mengobrol dengan seorang ice princess. “Apapun yang lain inginkan. Asal tanpa timun ataupun sejenisnya” Sica menjawab. Donghae berpikir keras untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sica sambil mengerutkan keningnya. “Kyeopta…” batin Sica.

“Taeng… bagaimana kau bisa bertahan memiliki saudari seperti mereka?” tanya Leeteuk sambil menunjuk ke arah  YoonYul, yang sedang mengganggu si penjual dengan pertanyaan-pertanyyan bodoh seperti ‘apa kau menjual kalung yang dibeli khusus oleh Donald untuk Mickey?’ yang pastinya mereka tidak menjualnya, dan yang kedua, Donald tidak pernah membeli kalung utnuk Mickey.

Taeyeon mengangkat bahunya.”Dongsaeng-dongsaengmu jauh lebih buruk” kata taeyeon. “Yah.. kau benar” desah Leeteuk. “Kadang, menjaga mereka ber-8 itu begitu sulit. Aku berpikir kalau aku tidak akan cukup kuat untuk itu” kata Taeyeon sedih.

Leeteuk menepuk kepalanya pelan. “Kau pasti cukup kuat. Karena kau adalah Kim Taeyeon. Kau pasti bisa. Hwaitting!” ujar Leeteuk menyemangati taeyeon. “Keke. Kau benar. Hwaitting!” Taeyeon tersenyum dengan manis. “Aigo… akan kuberkan apapun untuk bisa melihat senyum itu setiap hari” batin Leeteuk.

YoonYul telah berhenti mengganggu si penjaga toko, yang membuatnya menghela nafas lega. “Unnie.. cepat… yang mana yang mau kau beli?” rengek Yoona. “tunggu sebentar, yoong… aku bingung” ujar Yuri. “Ayolah~~” Yoona terus merengek. “Arra. Uhh… andai kau sesabar Minho oppa” keluh Yuri. “Mwo? Apa dia cukup sabar untuk menungguimu memilih-milih barang mickey ini?” tanya Yoona tidak percaya.

“Tentu saja! Dia adalah yang terbaik” puji Yuri sambil membayangkan wajah Minho. “Anni anni anni. Dia tidak bisa! Akulah yang terbaik untukmu unnie…” ucap Yoona. Yuri tertawa. “Nde, nde, yoong… kau adalah yang terbaik. Karena kita yoonyul!” Yuri tersenyum. Lalu dia mengambil sebuah boneka mickey mouse dan mousepad bergambar mickey mouse.

Yang lain berjalan menuju ke supermarket dengan riang, bahagia karena mereka sudah keluar dari istana mickey mouse itu. Mereka bahkan berpikir mereka akan mati dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang mickey mouse kalau Yuri tidak cepat membayar dan keluar. Mereka semua membeli beberapa sayuran dan buah segar, tidak lupa beberapa snack, tentu saja oleh sooyoung. Mereka menghabiskan 2 jam disana.

“Apa? Jadi tiffany sakit?” Siwon bertanya dengan tampang khawatir saat Taeyeon memberitahunya. “Jangan berlebihan, oppa. Dia kan hanya flu. Dia bahkan gak sekarat kok” kata sooyoung. “Tapi… oh my… my tiffany…” ujar Siwon sedih. Yang lainnya mendesah pasrah. “Aku tau kau mencintainya. Tapi dia itu kan hanya flu. Ckck” ucap Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Lalu, mereka memutuskan untuk pergi ke game center yang membuat Kyuhyun sangat senang dan dia meloncat-loncat kegirangan. Mereka menghabiskan 2 jam disana, yang membuat mereka sulit keluar adalah kyuhyun yang bahkan harus diseret keluar oleh para hyung-nya. Note to themselves: Jangan pernah mengajak Kyuhyun ke game center.

“Omo! Handphoneku!” seru Yuri saat tidak menemukan HPnya di dalam tasnya. “Wae?” tanya Jessica. “Handphone-ku. Tidak ada…” ucap Yuri panik. “Apa kau yakin? Bagaimana bisa?” tanya Leeteuk. “Molla… eottokkae…” ujar Yuri sedih.

“Dimana kau terakhir menaruhnya? Coba ingat-ingat” kata Kibum tiba-tiba. Yuri berpikir keras sampai dia mengerutkan keningnya. Kemudian, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang lain memandangnya penasaran. “Toko mickey mouse…”

Jadi, mereka kembali ke lantai 6, dimana toko itu berada. Untungnya, HP Yuri memang ada disana. Mereka berterima kasih pada pemilik toko yang hanya membalasnya dengan tatapan muak. “Lain kali, hati-hati. Lihat sekitarmu. Jangan hanya terpaku pada tikus jelek itu” ucap Donghae.”Diam! Mickey itu tidak jelek! Dia bahkan lebih tampan darimu!” seru Yuri.

Jessica mendengus. “Bagaimana bisa tikus hitam dan kotor itu lebih tampan dari donghae oppa?” ujar Jessica. “Ooh… Jadi, unnie pikir Donghae oppa itu tampan yaa?” Yoona menggoda unnie-nya. Jessica tersipu. “Annio! Itu… aku… Hanya saja… ngg… Mickey mouse itu lebih jelek. Bukan berarti donghae itu tampan” ujar Jessica gugup.

“Cukup, cukup. Ini sudah terlalu larut. Kita harus pulang ke dorm segera” kata Leeteuk. Yang lainnya setuju. “Sebaiknya kita menggunakan lift agar lebih cepat” usul Kyuhyun.

Jadi, mereka naik lift untuk turun ke lobby. Taoi tiba-tiba, lift itu berguncang dan lampunya mati.  Para yeoja, dan bahkan Kyuhyun dan Donghae berteriak ketakutan. “A-apa… apa yang terjadi?” gumam Taeyeon. “Mungkin lift-nya macet. Tenang, guys… tenang.” Leeteuk mencoba menenangkan dongsaeng-dongsaengnya itu sambil menekan tombol darurat beberapa kali, namun sayangnya, tidak ada respon. “Kurasa kita hanya harus menunggu” kata Siwon.

“Tenang, semuanya! Tenaaaang! Yoona, berhenti menendang-nendang! Sica, berhenti berteriak dengan suara dolphinmu itu! Sooyoung, berhenti…. berhenti makan! Yuri, berhenti bergelantungan di kakiku!!” teriak Taeyeon pada dongsaeng-dpngsaengnya yang tidak bisa diatur itu. “Semuanya, TENANG!!” Taeyeon berteriak dengan suara tingginya, yang berhasil membuat semuanya tenang sambil menutup telinga mereka, menghindari ke-budek-an.

“Hey…lift-nya… berhenti di antara lantai 5 dan lantai 3” ujar Sooyoung di sela-sela waktu makannya, menyadari angka di layar hitam kecil di pojok atas lift dengan angka merah tertulis di dalamnya. Angka 5… lalu 3.. lalu 5… lalu 3… lalu 5… lalu tiba-tiba… 4. Mereka semua terkejut dan terpana. Mata mereka tertuju di satu arah. Di angka tersebut.

“Tapi… tidak ada lantai 4” bisik Kyuhyun, terlalu takut untuk bersuara keras. “Kau salah! Disini ada lantai 4 kok~” seru Sooyoung. “Tidak, sooyoung. Tidak ada lantai 4, setidaknya di mall ini” ucap Jessica. Mata mereka masih tertuju pada layar itu, berharap angka tersebut terganti.

Lalu, tiba-tiba pintu lift mulai terbuka saat sooyoung hendak membantah lagi. Mereka menatap sekitar mereka dengan ekspresi syok dan mulut yang ternganga lebar. Mereka bahkan tidak berani untuk berjalan 1 langkah pun dari tempat mereka. Leeteuk masih berusaha menekan tombol apapun di lift itu, tapi usahanya sia-sia. Mereka hanya punya 1 pilihan, yang pastinya tidak mereka sukai: untuk keluar dan menghadapi apapun di hadapan mereka, di lantai 4, bagian yang hilang dari sebuah mall…

 

-TBC-

tuh kan reader… mana serem sih? Gak serem kan? Nanti author kasih adegan setannya cuma dikit kok~ kekekeke 😀

comment yahhh >.<

annyeong~~~

author comeback (?) dengan ff series yang baru… dan kali ini, author pengen coba mengasah (?) kemampuan nulis author dalam genre mystery 😀

Oh iya… mungkin ada yang udah pernah baca cerita ini di AFF, dan jangan anggap author itu copycater yah! sorry seamit-amit deh… kekeke. soalnya, yang nge-post di AFF itu… author juga! noh yang IDnya J_Ster… kekeke. Jadi, ini ceritanya sama persis sama yang author post di Asian Fanfics, tapi cuma beda bahasa aja.

Characters:

Choi Sooyoung

Im Yoon Ah

Kwon Yuri

Jung Jessica

Kim Taeyeon

Park Jungsu (Leeteuk)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kim Kibum

sinopsis:

Mereka berbelanja di sebuah mall di Seoul. Ada yang mengatakan, semua mall tidak mempunyai lantai ke-4. Karena sebuah mitos yang mengatakan angka 4 berarti kematian, dan mereka mempercayai ini dan tidak pernah membangun lantai 4 di setiap mall. Jadi, setalh lantai 3 langsung ke lantai 5.

Mereka berbelanja sampai malam. Lalu, mereka menggunakan lift untuk turu dari lantai 6, tapi tiba-tiba lift itu mandet di antara lantai 5 dan lantai 3. Dan saat pintu lift itu terbuka, mereka berada di lantai 4, yang ternyata merupakan sekolah yang sudah lama ditinggalkan, bagian yang hilang dari sebuah mall yang terhubung melalui suatu hal gaib.

Lift itu tiba-tiba menghilang, seakan-akan lift itu tidak pernah berada di sana, dan mereka ber-10, mencari, menghadapi petualangan yang hebat di hadapan mereka untuk mencari cara keluar dari sana dan kembali ke dunia mereka sendiri.

eotokkae? oeotokkae? 😀

 

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

Donghae melongo, melihat sosok yang berdiri di depannya saat dia membuka pintu kamar Minho. Begitu juga dengan Jessica, dan Sooyoung. Iya, sooyoung. Sosok yang berdiri di depan Donghae itu menatap kedua pasangan itu terkejut.

“Sooyoung?” ujar Donghae bingung. “Sooyoung!” panggil Jessica girang sambil memeluk sahabatnya itu. “Eeh? Bukannya ini kamar Minho?” ujar donghae bingung, tapi sekaligus senang, melihat sahabat yang sudah lama tidak dilihatnya ini.

“Siapa itu? Ah, Minho-ah!! Ada… Donghae dan Jessica!” seru Kyuhyun yang memeriksa keluar, tak kalah terkejutnya melihat pasangan itu. Minho langsung menuju ke luar diikuti oleh Krystal di sampingnya. “Kyungsan-ah!” seru Jessica dan Donghae gemas sambil menggendong bocah kecil yang tersenyum itu.

“Krystal-ah?!” seru Jessica tidak percaya. Terlihat bahwa Krystal belum memberitahu onnie-nya tentang hubungannya dan Minho. “Onnie?” tanya Krystal, tak kalah heran.

“Ada apa kalian kesini?” tanya Kyuhyun, menyalami Donghae dan Jessica. “Kami pindah rumah di dekat sini, dan memutuskan untuk melihat-lihat sebentar disini” jelas Donghae. “Bagaimana dengan kalian? Kok bisa berkumpul seperti ini? Dan… Krystal?” sembur Jessica dengan berbagai pertanyaan.

“Kami tadi bertemu di pemakaman Seohyun.” kata Sooyoung. “Lalu mereka memutuskan untuk ke apartemenku, karena kangen” sambung Minho. “Sedangkan aku dan Minho oppa sebenarnya berpacaran, onnie” tambah Krystal.

“Mwo?? Kau tidak memberitahu onnie-mu ini, Krystal? Aissh…” ujar Jessica mendramatisir. “Minho-ah! Kita akan jadi saudara!” seru Donghae sambil merangkul Minho. “Yah.. aku harap sih bisa secepatnya seperti itu” kata Minho mengedip ke arah Krystal yang membuat yeoja cantik itu memerah pipinya.

“Huaaa… senangnya kita bisa bersama seperti ini” ujar Sooyoung. “Nde. Sayang sekali tidak ada Changmin dan Yoona yang sedang di Amerika, dan Leeteuk yang sudah ke Jepang, juga… Taeyeon…” Jessica tidak melanjutkan kata-katanya.

BRUAKK! Ada suara ribut dari luar. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” terdengar teriakan teredam. Mereka memandang satu sama lain. Suara itu sangat familiar. Dan lagi, Yoona? Spontan, mereka melihat keluar.

BRUAKK! Yoona terjatuh dengan keras, membuat kotak-kotak yang dibawanya terjatuh. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” seru changmin cemas, membantu Yoona berdiri. “Sudah kubilang, biar aku saja yang membawanya” kata changmin lembut.

“Changmin….” “Yoona…”Changmin dan Yoona menoleh ke asal suara yang memanggil mereka dan seketika terkejut. “Sooyoung? Kyuhyun? Minho?” ujar Yoona terkejut. “Donghae? Jessica?” tambah changmin yang juga melongo.

“Changmin! Yoona!” seru Sooyoung histeris memeluk kedua sahabatnya itu. “Bagaimana kalian bisa ada disini?” tanya Minho bingung. “Nde. Harusnya kan kalian di Amerika” kata Kyuhyun.

Changmin dan Yoona berdiri, lalu, changmin menceritakan semuanya yang telah terjadi pada sahabat-sahabatnya itu.

“Mwoo? Kalian… kalian… kabur dari Amerika dan ke Korea, tanpa membawa harta apapun?” tanya Jessica histeris. “Kalian ini nekat sekali sih!” gerutu Donghae.

“Aku tidak terima! Yang kuinginkan adalah bersama Yoona” jawab changmin. Yoona mengangguk. “Kalian ini… Bagaimana kalian bisa hidup nanti?” tanya Kyuhyun sambil menghela nafas, memikirkan kebodohan sahabatnya.

“Itu… belum kami pikirkan” jawan changmin sambil nyengir. “Kenapa tidak salah satu dari kalian memberikan pekerjaan untuk mereka?” usul Krystal yang tiba-tiba berbicara, sambil menggendong Kyungsan.

Mereka semua menatapnya. “Eeh… itu bukan ide yang bagus yah?” tanya Krystal salah tingkah. “itu brulian!” ujar Kyuhyun. “jenius” komentar Sooyoung. “Kenapa kita tidak memikirkannya yah?” ucap Donghae. “Dongsaengku memang pintar. Seperti onnie-nya” pede Jessica. “Anni. Seperti namja chingunya” kata Minho.

“Hmm, kau siapa?” tanya Yoona. “Krystal imnida. Aku dongsaengnya Jessica onnie, dan yeoja chingunya minho oppa” jawab Krystal sambil tersenyum dan menjabat tangan Yoona dan Minho.

“Daaaan… ini pasti uri Kyungsan!” ujar yoona, mengelus pipi Kyungsan. “Aiih… aegyooo” seru changmin sambil mencubit pipinya kyungsan. “ya! Shim changmin!” omel sooyoung. “Kekeke. mianhae, omma” sindir changmin sambil memeletkan lidahnya.

“Ahhh… aku merindukan kalian semua! Jeongmal boghosippeo yo!” seru Sooyoung, memeluk semua sahabatnya. “Nde. Rasanya sudah lama sekali, tidak melihat dan bercanda dengan kalian seperti ini” ucap Yoona terharu.

—-

“Changmin-ah! Jangan terlambat. Ini hari pertamamu bekerja loh” ucap Minho, mengingatkan temannya itu. “Nde. Tentu saja. Nah, yoong, aku berangkat dulu ya” kata changmin sambil mengecup kening yoona. “Ckckck. sudah seperti suami-istri saja” komentar Minho.

Changmin bekerja sebagai manajer di perusahaan Kyuhyun. Sedangkan Yoona bekerja sebagai pegawai di restoran milik Jessica. Kyuhyun sudah tidak bekerja sebagai model dan mulai bergerak di bidang pengusaha, sedangkan changmin yang kemampuannya mengelola perusahaan memang sangat bagus, padahal impiannya adalah bermian biola. Sooyoung sebagai ibu rumah tangga sedangkan Jessica masih mengelola restorannya yang semakin hari semakin berkembang, sedangkan Minho menjadi pemain basket dan Donghae masih menjadi programmer.

Changmin, Minho, dan Yoona keluar dari apartmen mereka. Tiba-tiba, changmin langsung berlari. Karena bingung, Yoona dan Minho ikut-ikutan berlari mengejar changmin, diikuti oleh 3 orang di belakang mereka yang berbadan besar dan tegap.

“Oppa, ada apa?” tanya Yoona sambil berlari. Changmin diam, lalu kemudian menjawab “mereka… suruhan appa-ku.” kata changmin.

BRUKK! Mereka menabrak seseorang. “Changmin! Yoona! Minho! Ada apa?” tanya Donghae, yang ternyata orang yang mereka tabrak. “Hyung… ada yang mengejar kami. Tolong” kata Minho panik. Donghae ikut-ikutan panik, tapi kemudian memutuskan menyembunyikan mereka sementara di rumah barunya.

“Ada apa sebenarnya?” tanya donghae bingung. Changmin menatap dengan cemas orang-orang yang semakin mendekat itu. “Mereka… suruhan appa-ku. Mereka pasti mencariku. Dan…” kata-kata changmin terputus, melihat ada seorang namja lain yang mendekat. Namja itu mengenakan jas abu-abu dan perawakannya tegas. Namja itu tak lain adalah appa-nya changmin.

“Changmin… keluarlah” kata appa-nya changmin. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berbicara maupun bergerak. “Max, aku tidak mau menggunakan kekerasan. Keluarlah sekarang” kata Mr. Shim sekali lagi. Setelah ragu sejenak, changmin akhirnya keluar.

“Apa maumu?” tanya appa-nya changmin, to the point. “Biarkan aku bebas. Memilih wanita yang memang kucintai.” kata changmin tak kalah dingin.

Mr. Shim menghela napas. “Baiklah. Tapi dengan 1 syarat” kata appa-nya changmin. Changmin menaikkan salah satu alisnya. “Apa?” tanya changmin.

“Buktikan… kalau kau bisa membangun sebuah perusahaan. Yang bisa menyaingi Shim Enterprise. Saat itulah, akan kuberikan semua restuku untukmu. Oohtoke?” tanya Mr. Shim, mengulurkan tangannya. Dengan mantap, changmin menyambut tangan itu “Baiklah. Tunggulah, saat itu pasti akan cepat tiba” ucap changmin dengan penuh percaya diri.

Setelah itu, Mr. Shim dan suruhan-suruhannya keluar, kembali ke dalam mobil lalu akhirnya pergi dan dengan cepat menghilang.

“Changmin oppa?” tanya Yoona cemas. “Gwenchana, yoong. Aku yakin, dengan bantuan Kyuhyun hyung, kami pasti bisa menyaingi shim enterprise. Jangan ragukan kemampuanku. kekeke” kata changmin sambil mengacak-acak rambut yoona.

“Maaf mengganggu, teman. Tapi, bagaimana kau bisa melakukannya… kalau kau terlambat di hari pertamamu bekerja?” tanya donghae, menunjuk ke arah jamnya. “Aigoo… baiklah. Aku pergi sekarang. Annyeong, semuanya” kata changmin, buru-buru keluar dan berlari.

Minho POV

Yoona noona juga langsung pergi ke restoran Jessica noona. Aku juga sudah akan bersiap pergi ke stadion tempatku latihan basket. “Minho, chakkaman!” seru donghae hyung, menghentikan langkahku.

“Wae-yo, hyung?” tanyaku. Dia terdiam sebentar. “Gwenchana. Ini adalah hari yang baru untuk kita” renungnya. Aku tersenyum “Anni, hyung. Ini bukan hari yang baru. Ini hanya kesempatan. Kesempatan dari hari-hari kita yang lama. Hari-hari lama, dulu, saat kita bersama-sama. Seperti sekarang. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dengan kita bersama-sama. Kekuatan dari sebuah persahabatan yang tulus itu… lebih kuat, bahkan dari yang sanggup kita kira”

Donghae terdiam mendengar perkataanku “Entah sudah berapa lama kita berpisah, sampai-sampai uri Minho sudah menjadi sebijak ini.” ujarnya.

Aku tersenyum, memikirkan hari-hari depan, kesempatan-kesempatan berikutnya, yang diselingi canda dan tawa kami. Walaupun kami berpisah, kekuatan dari persahabatan kami, membuat sebuah kebetulan akan waktu dan ruang itu mungkin. Membuat pertemuan kami kembali itu semudah membalikkan telapak tangan.

Masih sangat banyak yang terjadi di antara kita semua. Masih banyak yang sangat ingin kuceritakan kepada kalian semua. Bahkan aku belum menceritakan kan, bagaimana Jessica noona melahirkan seorang bocah perempuan yang sangat lucu, yang diberi nama Soohee. Bagaimana aku dan Krystal menikah, dirayakan besar-besaran. Bahkan Leeteuk hyung pun datang ke pesta pernikahanku! Lalu… bagaimana, kami semua berdiri dengan bangga, berfoto di depan gedung sebuah perusahaan nomor 1 di Asia, saingan perusahaan Shim Enterprise. Bagaimana aku menghabiskan masa tuaku, masih tetap bersama-sama dengan mereka! Bagaimana Yoona melahirkan seorang anak, bagaimana Kyungsan dan Soohee menikah. Dan, akhirnya… bagaimana kami semua benar-benar terpisah. Selamanya. Karena sebuah keabadian bernama maut. Tapi, aku percaya, di surga nanti, kami semua pasti akan bercanda dan tertawa bersama lagi.

Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada kalian. Karena kalau itu terjadi, author-ku yang sudah lelah mengetik ini mungkin akan mengetik sepanjang sisa hidupnya untuk menyelesaikan FF-nya. kekekeke. Jadi, kalau kalian mau tau lebih lanjut, cobalan datang ke pinggiran kota Seoul, Korea Selatan dan cari sebuah apartemen sederhana. Cerita persahabatan kami sudah melegenda menjadi bagian dari apartemen itu sendiri. Kenangan kami disana melebur, bersama dengan digusurnya bangunan tua itu. Tapi, ada 1 yang tidak akan pernah hilang. Persahabatan. Pershabatan kami, yang kami bangun kokoh, sekokoh batu karang. Nah, annyeong semuanya. ^^

salam,

 

Choi Minho

Author POV

Aku membaca lagi tulisan terakhir dari Minho, lalu menghela nafas. Kisah persahabatan mereka, adalah kisah persahabatan yang didambakan semua orang. Persahabatan yang kekal. Tapi, akhirnya…. cerita mereka hanya sampai sini kubuat, walaupun, seperti yang dibilang Minho, akan ada masih banyak sekali.

Kuharap, kalian berkenan untuk meninggalkan komentar kalian disini, sementara aku akan membuat cerita tersendiri tentang Taeyeon dan Leeteuk, yang tidak dibahas disini. See you in the next fanfic ^^

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

“Emm.. ini yeoja chinguku.” kata Minho sedikit malu-malu. “Mwo? Wahh!” seru Sooyoung kaget. Kyuhyun juga terkejut, menatap yeoja yang berdiri malu-malu di belakang Minho.

Eh, ternyata… tak lain tak bukan yeoja chingunya Minho adalah aku! Author ff ini!  kekeke. Andwae… author just kidding

“Annyeong haseo. Jung Soo joung imnida. panggil saja Krystal” kata yeoja itu. “Krystal!!” seru Sooyoung kaget. “Eeh?” Krystal bingung, karena dia merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

“Aigoo… kau lupa padaku? Aku Choi Sooyoung. Kau adiknya Jessica kan?” kata Sooyoung bersemangat. Anaknya, kyungsan juga ikut-ikutan bersemangat dan bertepuk tangan (?)

Krystal tampak mengernyit dan berpikir sebentar. “Ahh! Sooyoung onnie! Aku ingat!” seru Krystal lalu memeluk Sooyoung. “Kalian saling mengenal?” tanya Minho heran.

“Minho-ah! Kita semua kan pernah bertemu di pernikahannya Donghae dan Jessica.” kata Sooyoung. “Benarkah? Aku tidak benar-benar memperhatikan” ujar Kyuhyun. “Yah… sebelumnya aku dan krystal juga sudah pernah bertemu” tambah sooyoung.

“Baguslah, minho. Kalau kau sudah bisa melupakan seohyun” kata Kyuhyun sambil tersenyum pada dongsaengnya itu. “Haha. aku tak pernah bisa melupakannya. Tapi, setidaknya aku sudah bisa melanjutkan hidupku” kata Minho pahit sambil merangkul Krystal.

New Jersey, USA, 16 March 2014

Changmin POV

“Max! Go home right now! I need to tell you something. (Max, pulang sekarang! Aku ingin memberitaumu sesuatu)” kata Appaku lewat telepon.Aku hanya menjawab “iya” lalu menutup teleponnya.

Aku sudah menjadi direktur perusahaan Shim enterprise, padahal usiaku baru 26 tahun. Aku menjadi pengusaha yang sukses dan menjadi namja impian para wanita.

Sudah lama sekali aku tidak mengontak Yoona. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir, yang kutau, dia sudah menyusulku ke Amerika. Tapi, aku kesulitan menghubunginya. Aku hanya berharap keajaiban dan takdir bisa membawa kami bersama lagi.

“Wanna go home, Mr. Shim? (mau pulang, tuan shim?)” tanya Paul, manajer perusahaanku. “Yes, Paul. As I don’t have any meeting today, please handle this company while I am not here and call me if there’s any problem (Iya, paul. Aku tidak ada pertemuan hari ini, tolong urus perusahaan sementara aku tidak disini dan telepon aku jika ada masalah)” kataku pada pegawai kepercayaanku itu. Dia mengangguk lalu aku masuk ke mobil limusinku dan mengendarainya pulang.

“Wae-yo, daddy?” tanyaku. Walaupun tinggal di Amerika, aku tidak pernah mencoba untuk melupakan bahasa Korea. Appa menengok ke arahku. Dari ekspresinya tampaknya dia bahagia.

“Guess what, son? Parker advertising! That fabulous company. Mr. Parker agree my idea to make you and her daughter get married. It will affect our company much (Tebak, anakku? Periklanan Parker! Perusahaan yang keren itu! Tuan parker menyetujui ideku untuk menikahkanmu dan anak perempuannya. Ini akan mempengaruhi perusahaan kita)

Aku terdiam membeku di tempatku. What? It isn’t a good idea at all! (Apa? Ini bukan ide yang baik!) “I don’t want, pa. Sorry. (Aku tidak mau, pa. Maaf)” kataku menolak.

“Oh, you can’t refuse. It’s not a choice. You have to. (Oh, kau tidak bisa menolak. Ini bukan pilihan. Kau harus)” kata appa dengan enteng. Aku marah dan kesal.

Selama ini, apa yang diinginkan appa selalu kuturuti. Tapi, soal pasangan hidup, aku dan hanya aku yang berhak menentukan, karena… yang bisa mendampingiku hanya Im Yoona seorang!

“I DON’T WANT! Terserah kau mau mengusirku, mencoret namaku dari ahli waris! Aku tidak peduli! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai DAN itu sudah bisa dipastikan bukanlah anak dari Mr. Parker!” seruku emosi dan marah-marah dalam bahasa Korea.

Appa menatapku dingin. “Kau harus” katanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya berbahasa korea padaku. Tapi, tetap saja aku kesal lalu pergi keluar dari rumahku yang amat mewah ini, mengendarai mobil sport-ku  tak tentu arah dengan emosi yang meluap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, di depan sebuah apartemen sederhana untuk menenangkan pikiranku. Mengendarai mobil dalam kondisi marah hanya akan membahayakan diriku sendiri.

Byurrrr… Air mengucur membasahi tubuhku dan jok mobilku. Aku menatap ke atas. Langit cerah dan tidak hujan. Rupa-rupanya, ada orang ceroboh yang membuang air atau menumpahkannya, atau apalah, dari lantai atas apartemen ke bawah.

“Sorry. I don’t know if there’s any people down there (Maaf. Aku tidak tau ada orang di bawah)” teriaknya dari atas. Grrr. orang ini… menambah emosiku saja!

“Is it a polite way to apologize to someone by screaming at him? (Apakah sopan minta maaf pada seseorang dengan berteriak padanya?)” kataku, balas meneriakinya. Dia terdiam beberapa saat, lalu kemudian…

“I’m sorry. Really really sorry.(Maaf. sangat sangat maaf)” katanya, berkali-kali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba saja sudah di depanku. Rupanya dia seorang yeoja. Aku mendesah, sudah begitu lelah dan tidak mau menambah masalah lagi.

“Yeah. Never mind. Now stop begging like that (Iya. Tidak masalah. Sekarang berhenti memohon seperti itu)” kataku. Dia menengadahkan wajahnya, dan membuatku terkejut dan terkesiap.

“Yoo… yoona!” panggilku tidak percaya pada sosok yang berdiri di depanku. “Changmin oppa!” serunya, sama kagetnya denganku. Spontan, aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Betapa aku merindukan tubuh mungilnya yang berada dalam dekapanku.

“Oppa… boghosippo yo” katanya sambil terisak. Ah, dia menangis. “Nde. Na do boghosippo” kataku, masih memeluknya. Akhirnya, takdir sudah bertindak dan mempertemukanku kembali dengan goddess-ku ini.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana” katanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum padanya. “Nde. aku juga, chagiya” kataku, mencubit pipinya yang halus.

“Sekarang oppa sudah sangat sukses ya. Aku ikut senang. Dan… aku menepati janjiku. Aku menyusul oppa” katanya ceria, menghapus air mata haru di pipinya. Aku tersenyum padanya yang sangat polos ini. Apa aku harus memberitahu kejadian tadi padanya?

“Yoona-ah…” panggilku halus padanya.

“Wae, oppa?” tanyanya bingung. “Aku…” aku menceritakan semuanya padanya. Dia tampak sangat syok dan terkejut. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku padanya sambil mengernyitkan dahiku bingung. Dia terdiam “Apa… kita memang tidak bisa bersama, oppa?” tanyanya. Aku terkejut dan menatapny, mencengkram kedua bahunya “Andwae! Kita pasti bisa bersama. Kita pasti menemukan jalannya” kataku.

“Ta..tapi..” aku memotong perkataannya dengan menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut. Tidak lama. Hanya beberapa detik, lalu melepas bibirku dari bibirnya.

“Yoona-ah… saranghae. Aku… kita bisa pergi. Pergi dari ini semua. Ayo kita kembali ke Korea. Kita bisa tinggal bersama di apartemen kita dulu. Oohtoke?” tanyaku. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam kepalaku. Yoona kelihatan ragu sejenak. Aku meyakinkannya dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.

Hari itu juga, kami langsung berangkat ke Korea. Aku tidak kembali lagi ke rumahku untuk mengambil barang-barangku. Aku gadaikan mobil sportku, untuk menambah jumlah hartaku supaya cukup untuk nanti, karena yang kubawa hanyalah HP, dompet yang berisi kartu kredit dan sejumlah uang tunai, dan mobilku itu.

Aku dan Yoona bercanda dan mengobrol selama di pesawat. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Walaupun semua karir yang sudah kubangun dari nol akan hancur seketika, aku tidak peduli. Hal yang paling kuinginkan adalah bersama-sama dengan Yoona.

Malamnya, kami sampai di Korea. Kami segera naik taksi menuju ke pinggiran kota Seoul, mencari apartemen yang penuh dengan kenangan indah kami.

“Changmin-ssi? Yoona-ssi? Lama sekali tidak bertemu kalian!” ujar resepsionis apartemen. Rupanya selama 3 tahun, tempat ini pun masih belum berubah sama sekali.

Karena lelah, aku dan Yoona langsung pergi ke kamar kami yang bersebelahan dan tidur dengan sangat nyenyak, untuk menyambut esok. Hari yang baru.

Seoul, South Korea, 17 March 2014

Donghae POV

“Ssica-yah!” panggilku. “Kau tidak boleh bawa barang yang berat! Arraso?” ucapku lagi, mengambil kardus yang sedang dia tenteng. “Ini tidak berat, kok” katanya sambil memanyunkan bibirnya. “Kekeke. Sudahlah. Biar aku saja yang membawanya.” kataku lagi.

Kami pindah ke Seoul hari ini. Memulai kehidupan baru, tinggal di rumah kami sendiri, membentuk sebuah keluarga baru, terlebih…. Jessica sedang hamil! Dia sudah hamil 2 bulan. Aku akan selalu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bocah kecil akan memanggilku ‘appa’.

Aku memandang rumah baruku. Sederhana memang. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan elegan. Aku tersenyum melihat seluruh ruangannya yang akhirnya selesai aku dan ssica rapikan.

Daaan… jarak rumahku ke apartemen kami dulu tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, walaupun akan cukup lelah.

“Hmm, bagaimana kalau kita melihat apartemen kita dulu?” usulku yang langsung ditanggapi persetujuan Ssica dengan semangat. “omo! Aku sangat merindukan tempat itu! Dan merindukan 8 makhluk-makhluk itu” kata ssica girang.

“Nde. Bukankah Minho masih tinggal disitu? Kita bisa mengunjunginya sebentar” kataku. Ssica langsung mengangguk dengan semangat.

Akhirnya, kami sampai di bangunan bertingkat sederhana itu. Bangunan yang penuh dengan kisah-kisah kami. Canda, tawa, tangis, duka, semua kami alami bersama disini. Bangunan yang menjadi awal hidup dan persahabatan kami. Bangunan yang mengajarkan kami tentang kehidupan. Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat dan sangat kurindukan.

Aku mendesah. Flashback ingatan-ingatan masa lalu, tentang kenanganku bersama Jessica, bersama cinta pertamaku, Sooyoung, bersama musuh sekaligus sahabatku, Kyuhyun, bersama hyung yang sangat kukagumi, Leeteuk, dongsaengku Minho, dongsaeng malaikatku yang sudah mendahului kami, Seohyun, perfect couple kami, Yoona dan changmin, dan ahjummaku, Taeyeon.

Ingatan-ingatan itu terbesit cepat dalam kepalaku, menampilkan semacam sepotong-potong peristiwa masa lalu kami, terputar begitu saja dalam otakku seperti sebuah film. Bagaimana kami di mall, bagaimana kami salah paham, bagaimana kami makan bersama, bermain salju bersama, dan menghabiskan malam bersama. Ah, selamanya. Ingatan itu tidak akan pudar dari kepalaku. Walaupun aku amnesia, hatiku pasti mengingatnya jauh lebih baik.

“Aku merindukan mereka” kata Jessica, menghilangkan semua flashback dari kepalaku. Aku tersenyum “Nde. kita semua pasti saling merindukan” ujarku.

Kami masuk ke dalam apartemen itu, disambut dengan pemandangan yang familiar. Bahkan selama 3 tahun, apartemen ini belum berubah. masih sesederhana dulu.

Kami naik ke lantai 5 menggunakan lift, mengingat Jessica harus benar-benar menjaga kandungannya, calon anak kami. Kami mencari sepanjang koridor. Aku tersenyum sendiri saat melewati kamarku dan kamar Yoona, yang juga di lantai ini.

Ini dia. Pintu yang di depannya ditempel kertas putih bertuliskan ‘Choi Minho’ dengan diatasnya terlampir nomor 205. Pintu yang didalamnya terdapat dongsaeng kami, Choi Minho.

Aku mengetuk pintu. “Masuk saja!” itu jawaban dari dalam. Krieeettt… perlahan-lahan aku membuka pintunya, membayangkan seberapa kaget ekspresi minho melihat kami. Tapi, aku salah. Justru, akulah yang sangat kaget, begitu aku membuka pintu kamar Minho.

-TBC-

Apa yang membuat donghae kaget?

Bagaimana kelanjutan kisah Changmin dan Yoona?

wait in part 11 ^^