Posts Tagged ‘Amber’

Melodies of Life chapter 4

Posted: March 4, 2011 in Romance
Tags: , , , ,

Melodies of Life chapter 4-The real beginning

Author POV

Seohyun sedang berjalan di koridor sekolahnya ketika… BRUKK! Seseorang menariknya dari belakang dan menjatuhkannya ke tanah, membuat tubuhnya terhempas. “A.. apa?” Rupanya itu Amber dan Hyoyeon.

“Jangan pikir kami mengalah padamu! Gara-gara Key oppa menolongmu waktu itu” ujar Hyoyeon sinis. “Nde! Kau harus terima pembalasan kami karena gara-gara kau kami dimarahi Key!” seru Amber galak. Seohyun menunduk karena takut. “Apa yang kalian inginkan?” tanyanya sambil menunduk. Hyoyeon dan Amber tersenyum licik.

“K-kau mau bawa aku ke-kemana?” tanya Seohyun panik saat Hyoyeon dan Amber menarik tangannya. “Tidak usah banyak tanya! Nanti kau juga tau!” balas Amber kasar.

Brakk! Mereka menghempaskan Seohyun ke dalam gudang. “A-apa yang mau…” belum selesai Seohyun bicara, Hyoyeon sudah menutup pintu gudang dan menguncinya. “H-hei! Hyoyeon! Amber! Buka!” teriak Seohyun panik dari dalam. “Tidak akan! Membusuklah kau di dalam bersama tikus-tikus itu! Hahaha” seru Hyoyeon kejam. “Itu akibatnya kalau kau berani macam-macam dengan kami, Seo Joo Hyun!” timpal Amber lalu mereka sambil tertawa puas pergi meninggalkan Seohyun yang berteriak-teriak putus asa.

Seohyun menatap sekitarnya dengan panik. Gudang itu sempit, bau, dan gelap. Ciiit…ciiit… “Gyaaaa!!!” Seohyun berteriak histeris saat 2 ekor tikus berlari melewati kakinya.

“Tolong! Tolong buka pintunya! Tolong! Key oppaaa!!” seru Seohyun putus asa sambil menangis. Kenapa, kenapa mereka begitu kejam padaku? Pikirnya dalam hati.

———–

Key POV

“Hm, kenapa seohyun tidak masuk hari ini?” pikirku, menatap bangkunya yang kosong. Apa dia sakit? Pikirku cemas. Perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi padanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu cemas.

“Kibum! Tolong ambilkan kardus di gudang. Cari kardus yang isinya beberapa alat musik tradisional Korea. Kita akan mempelajarinya hari ini” perintah sonsaengnim. “Ah, yang lain saja sonsaengnim. Aku benci gudang itu” ujarku menolak. Ugh, aku paling malas kalau harus mencari-cari kardus si dalam ruangan yang gelap dan bau busuk itu.

“Yasudah. Taemin! Coba kau yang ambilkan.” ujar sonsaengnim. taemin, murid kutu buku, pendiam, dan sangat penurut pada guru itu langsung keluar menuruti perintah sonsaengnim.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan wajah pucat dan keringat dingin. “G-gudangnya dikunci. D-dan… ada o-orang yang berteriak dari dalam. Di..dia terus berteriak ‘tolong!’ dan ‘Key oppa!'” ucap Taemin panik. Spontan, aku bangkit dari kursiku. Dia meneriaki namaku? Jangan-jangan….

“Ya! Kim Ki Bum! Kau mau kemana?!” seru sonsaengnim, tapi kuabaikan dan langsung melesat menuju gudang. Sial! Andai saja tadi aku menaati sonsaengnim untuk pergi ke gudang. Kalau sampai yang di dalam sana Seohyun dan terjadi apa-apa padanya, tak akan kumaafkan diriku sendiri!

Aku menggedor-gedor pintu gudang, mencoba membukanya, tetapi ternyata memang dikunci. “Seohyun?” tanyaku cemas. Hening. Tidak ada jawaban. “Yang di dalam! Tolong jawab aku!” seruku. Tapi, tetap hening. Akhirnya BRAKK!! Kudobrak pintu itu. Gagal. BRAKK!! Kucoba lagi lebih keras. Rasanya lenganku sudah memar dan tulangku serasa retak. Cklek. Akhirnya pintu itu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya.

“Seohyun!” Kupanggil dia yang sudah tergeletak pingsan di lantai. Pasti dia kehabisan oksigen, di dalam ruangan yang sempit dan pengap seperti ini. Langsung kugendong dia dan kubawa menuju UKS.

“Seohyun bertahanlah” ujarku cemas untuk yang ke-5 kali seiring dengan langkahku menuju UKS. Setelah sampai, langsung kubaringkan dia di tempat tidur. Kenapa tidak ada dokter yang bertugas disini sih? Pikirku kesal.

Akhirnya aku hanya duduk dan menungguinya. Kugenggam tangannya yang mungil dan sesekali kuusap kepalanya. Aaah… cantiknya dia. Wajahnya benar-benar seperti malaikat!

————

Seohyun POV

Kubuka mataku perlahan. Terang. Apa aku sudah tidak di gudang lagi? “Dimana aku?” gumamku pelan. “Seohyun! Kau sudah sadar?” ujar seseorang. Suaranya sangat familiar. “K.. key oppa?” ujarku terkejut saat melihatnya yang berdiri di sebelahku.

“Kok.. kok bisa? Bukankah tadi aku dikunci di gudang?” ucapku bingung. “Dikunci? Siapa yang menguncimu?” tanya Key murka. Aduh, keceplosan! “Eeh… anni. Aku salah bicara” kataku berbohong. “Kau tidak bisa berbohong padaku, seo. Katakan.. siapa yang menguncimu?” paksa Key. AKhirnya, dengan terpaksa aku menceritakan semuanya.

“2 manusia itu!!” seru Key geram. “Jangan lakukan apapun, oppa. Biarkan saja mereka” pintaku. “Tapi tapi…” kilahnya, tapi langsung kusela. “Tidak ada tapi! Biarkan saja mereka” ucapku, tetap pada pendirianku. Aku tidak mau masalah ini semakin runyam. “Tapi tapi…” “Ya! Kim Ki Bum!” marahku. “Baiklah…” katanya pasrah. “Nah, begitu” ucapku sambil tersenyum.

“Kau ini… lain kali hati-hati. Apalagi pada mereka. Kalau begjni, aku akan selalu bersamamu kapanpun, dimanapun” ucapnya. “Eeh? Wae-yo? Untuk apa?” tanyaku bingung. “Supaya aku bisa selalu melindungimu” jawabnya sambil tersenyum. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Author POV

“Oppa, kenapa kau selalu menolongku?” tanya Seohyun. “Molla. Mungkin…. karena… aku mencintaimu” jawab Key lirih. “Mwo?” Seohyun terkejut mendengarnya.

“Seo Joo Hyun…” ucap Key. Dia menggenggam tangan Seohyun, yang sedang duduk di ranjang UKS dan menatap matanya lekat-lekat. Dia menaruh tangan Seohyun di dadanya. “Bisakah kau merasakannya? Detak jantungku? Detak jantungku yang selalu berdetak 4 kali lebih cepat, setiap aku bersamamu. Raga ini rasanya tak pernah puas untuk selalu menjagamu. Apa kau tidak tau alasannya? Itu semua… karena… Seohyunnie, saranghae” kata Key.

Seohyun terpaku menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. “Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Key. Seohyun mengangguk. “Nde, oppa. Na do saranghae” katanya. Key langsung tersenyum bahagia dan memeluk Seohyun. Seohyun juga tersenyum dan memeluknya balik.

———–

Seohyun dan Key harus ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa tugas, karena selama pelajaran mereka menghabiskannya di UKS. “Hm, Seohyun. Coba tolong kau nyalakan komputernya. Kita harus mengetik beberapa artikel mengenai alat musik tradisional” ucap Key. “Nde, oppa”

Seohyun menarik kabel komputer lalu hendak mecolokkannya di stop kontak. “Jangan…. itu….”¬†Drzzzzz…. zzzztttt… “AAAAAA” “Seo.. Seohyun!!” Key berteriak panik. Stop kontak itu memang sudah rusak dan konslet. Key menahan diri untuk tidak menyentuh Seohyun karena itu hanya akan membuat ikut tersetrum juga.

“Seohyun…” Key berusaha membangunkan Seohyun yang sudah pingsan karena tersetrum listrik. Cepat-cepat dia gendong Seohyun menuju ke rumah sakit. “Dasar kau babo Key!” ujar Key pada dirinya sendiri. Dia sangat cemas, panik, dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada Seohyun.

Seohyun langsung cepat-cepat dibawa ke UGD. Key mondar-mandir, menunggu denagn cemas. Dia menelepon sekolah dan memberitahu kejadian itu supaya bisa diberitahu pada orangtuanya Seohyun.

Drap!Drap! “Kau kibum-ssi? Bagaimana keadaan seohyun?” tanya seorang ahjussi, yang mungkin adalah appa-nya Seohyun. Tepat saat itu, dokter keluar.

“Bagaimana keadaan Seohyun?” tanya Key langsung. Dia dan orangtua Seohyun langsung mengerumuni dokter itu. “Dia tersetrum listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Saat ini, keadaannya sedang koma.” ujar dokter itu. Key tertunduk lemas.

“Butuh waktu yang lama baginya untuk pulih, karena sudah sampai mengenai sistem saraf pusatnya” jelas dokter itu lagi yang semakin menambah buruk suasana.

Appa-nya seohyun terlihat sangat syok. “Bolehkah aku menemui anakku?” pintanya. “Nde. silahkan” ujar dokter itu. Orangtua seohyun langsung masuk ke dalam menemui anak mereka.

“Andai aku tadi tidak menyuruhnya menyalakan komputer. Andai aku tadi memperingatinya. Argh!” sesal Key. Air matanya mulai menetes, benar-benar takut akan terjadi sesuatu pada Seohyun.

———–

Seohyun POV

Terang. Putih. Itulah kesan yang kudapat pertama kali saat aku membuka mataku. Aku tidak ingat apapun. Yang kuingat hanyalah, aku adalah yeoja bernama Seo Joo Hyun. Hanya itu.

“Seo joo hyun…” panggil seseorang. Suaranya sangat berwibawa dan mendamaikan hati. “Siapa itu?” tanyaku. Herannya, aku tidak takut sama sekali, padahal sekelilingku putih, bersih. Tapi, sangat indah dan damai.

“Ini Aku, Tuhan” ujarNya. Aku menengok, menatap sosokNya yang…. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kau harus melihatNya sendiri untuk mengetahuinya. “Aku… sudah mati?” tanyaku sedikit terpukul.

“Belum. Tapi hampir. Kau adalah roh sekarang. sebuah jiwa yang menunggu raganya. Dan selama menunggu itu, ada yang harus kau lakukan” ucapNya. “Apapun yang kauinginkan, Tuhan” jawabku.

Dia tersenyum hangat dan merangkulku. Berada dalam tanganNya, adalah sesuatu yang sagat menakjubkan. Seakan-akan, semua penderitaan di dunia itu tidak ada, semua beban terasa melayang. Aman, nyaman, dan hangat.

————-

Kyuhyun POV

Aku pulang dengan mengomel-ngomel. Aku masih kesal dengan kejadian dengan Yoona tadi. Mengapa dia begitu membela namja itu sih? Tapi, ada sedikit juga rasa bersalah karena sudah marah seperti itu padanya tadi.

Aku menaiki tangga sambil marah-marah. “Oppa!” panggil Sooyoung tiba-tiba, sudah berada di puncak tangga. Aku terkejut, dan langsung terjatuh berguling dari tangga.

BRUK! Aku terjatuh dengan bunyi gedebuk keras. Ouch… jangan sampai tulangku ada yang patah. “Ah… gwenchanayo?” tanya seseorang khawatir. “Gwe.. gwenchana” kataku sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menatap orang yang menanyakanku. Aku terkejut. Sosoknya kabur dan seperti transparan, tembus cahaya dan bersinar keemasan. Seperti seorang malaikat. “Apa aku sudah mati?” gumamku, bertanya-tanya apakah di koran akan ada berita “seorang namja tewas jatuh dari tangga karena dikagetkan oleh yeodongsaengnya”

-TBC-

Author keabisan kata-kata di bagian describe-in Tuhan, berhubung author belum pernah ketemu langsung. kekeke. Jangan lupa comment yah… dijamin chapter 5 bakal seru loh ^^

Melodies of Life chapter 2

Posted: February 15, 2011 in Romance, sequel
Tags: , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Di sebuah sekolah musik di Seoul, terjadi sebuah kisah cinta yang cukup menarik antara 4 orang yang awalnya tidak saling mengenal.

Melodies of Life chapter 2-Hidden charm

Key POV

Brrruumm!! Ckiit! Aku langsung mengerem motorku yang melaju kencang begitu seseorang melintas di depanku. Untung saja dia tidak tertabrak. Aku turun dari motorku.

“Mianhae. gwenchana yo?” tanyaku sambil melepas helmku. “Gwe.. gwenchana” katanya. Ah, ternyata dia seorang yeoja. Wah, wajahnya manis sekali. Seperti seorang malaikat!

“Ngg… mianhae, aku ada urusan. Aku permisi” katanya, setelah sekitar 5 menit kami diam dan aku hanya memandanginya. “Eeh… ye” kataku, tersadar dari pikiranku sendiri.

Setelah menatapnya pergi, aku kembali menaiki motorku dan mengendarainya menuju ke sekolah musikku. Aku memarkir motorku, dan beberapa anak sudah mengelilingiku.

“Pagi, Key!”

“Annyeong haseo, Kibum oppa!”

“Annyeong, Key-ssi!”

“Pagi” ucapku cuek lalu berjalan melewati yeoja-yeoja yang berteriak-teriak histeris di belakangku. Aku memang cukup populer di sekolah musikku ini. Bukannya sombong, tapi selain karena wajahku yang cute dan manis ini, juga karena suaraku yang bagus dan skill dance-ku yang patut diacungi jempol.

Aku melangkah masuk ke kelasku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Sial! Tempat duduk sudah penuh semua! Kami memang bebas memilih tempat duduk kami. Hmm, lain kali aku harus bangun lebih pagi.

Aha! Disitu ada tempat duduk kosong! “Hmm.. boleh aku duduk disini?” tanyaku pada seorang yeoja yang duduk di sebelahku. Dia menoleh dan mengangguk.

“Eeh… kau!” seruku. Dia tampak terkejut. Dia adalah yeoja yang tadi hampir kutabrak. Perlahan, kuulum senyumku. Aku langsung duduk di sebelahnya dan mengulurkan tanganku.

“Kim Ki Bum imnida. Kau boleh memanggilku Key” kataku, memberikan senyum terbaikku. “Seo Joo Hyun imnida. Panggil saja Seohyun” katanya, juga tersenyum.

Seohyun. Nama yang cantik. Secantik orangnya. Ingin aku mengatakannya padanya, tapi, aku terlalu malu untuk itu. Jadi, aku hanya tersenyum, merasakan tangannya yang mungil dan halus dalam genggaman tanganku.

Sepanjang pelajaran, tak bosan-bosan aku memandang wajahnya. Sungguh! Dia itu malaikat yang diturunkan ke bumi! Pasti! Aku yakin! pikirku polos. Pasalnya, wajahnya terlalu cantik untuk manusia.

Argh… apa aku jatuh cinta padanya? Pada pandangan pertama? Konyol!

Seohyun POV

Aku berjalan terburu-buru menuju ke mobil appa-ku yang sudah menunggu di seberang jalan. Bruuumm! Ckiit! tiba-tiba sebuah sepeda motor yang melaju kencang berhenti tepat di depanku.

Aku kaget dan terjatuh. Sepertinya, appa-ku tidak melihatku. “Mianhae, gwenchana yo?” tanya namja itu, turun dari motornya dan melepas helmnya.

“Gwe..gwenchana” kataku. Wah, wajahnya manis dan cute sekali. Dia terdiam dan hanya menatapku yang bangun untuk berdiri.

“Ngg… mianhae, aku ada urusan. Aku permisi” kataku, setelah 5 menit dia hanya terdiam. “Eeh.. ye” katanya, lalu aku cepat-cepat pergi ke seberang dan masuk ke mobil appa-ku.

“Mengapa lama sekali Seo?” tanya appa-ku, menyalakan mesin mobil dan mengendarainya. Kulihat di belakang namja itu sudah naik ke motornya dan menegndarainya ke arah yang sama denganku. Apa dia mengikutiku? Ah, jangan ge-er seohyun!

“Mianhae, appa” jawabku, tidak memberitahu kalau aku hampir tertabrak. Appa-ku ini sedikit over protektif. Aku tidak mau masalah sepele seperti ini dibesar-besarkan olehnya.

Aku sampai di sekolah musikku. Aku berjalan ke kelas baruku. Tadinya aku di kelas A, tapi pindah ke kelas D karena ngg… teman-temanku suka mem-bully-ku. Aku merahasiakan ini dari appa. Sudah kubilang, akan tambah runyam masalahnya kalau appa ikut campur.

Aku memang anak yang lemah dan pendiam. Karena itu, anak-anak kelas A yang memang kasar senang menyiksaku. Saat ujian, mereka memaksaku memberikan mereka jawaban, memaksaku menraktir mereka, dan lain-lain. Kalau aku tidak melakukan apa yang mereka inginkan, mereka akan menyiramku dengan air, mengaa-ngataiku, mencoret-coret mejaku, dan mempermalukanku. Aku tersiksa secara batin.

Aku mengambil tempat duduk di pojok kiri. Aku menatap sekitarku. Wajah mereka sepertinya cukup ramah. Walaupun, kelihatannya mereka pendiam-pendiam sepertiku karena suasana disini tidak terlalu ribut, padahal sonsaengnim belum datang, tidak seperti kelas A yang sangat ramai.

Lalu, aku melihat seseorang masuk. Semua mata tertuju padanya saat dia melangkah masuk, memandang berkeliling, sepertinya mencari tempat duduk yang kosong.

Tempat duduk di sebelahku kosong. Dan sepertinya satu-satunya yang kosong. Dia namja yang hampir menabrakku tadi! Aku mengalihkan pandanganku darinya, menyembunyikan wajahku yang berharap semoga dia duduk di sebelahku.

“Hmm.. boleh aku duduk disini?” tanyanya. Yes! Aku menatapnya dan mengangguk. “Eeh… kau!” serunya kaget, seakan aku ini alien bertangan 8.

Dia tersenyum dan duduk di sebelahku lalu mengulurkan tangannya. “Kim Ki Bum imnida. Kau boleh memanggilku Key.” katanya sambil tersenyum. Aigoo… manisnya!

“Seo Joo Hyun imnida. Panggil saja Seohyun” kataku, balas tersenyum padanya.

Selama pelajaran, aku bisa merasakan dia memperhatikanku terus. Aku merasa sedikit risih diperhatikan seperti itu. Tapi, aku tidak berani menatapnya balik. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantungku berdebar setiap kali menatap matanya.

Kriiing! Bel istirahat berbunyi. “Kau mau kemana, seohyunnie?” tanyanya saat aku beranjak pergi. Dia memanggilku Seohyunnie?

“Kantin.” jawabku. Singkat, padat, dan jelas. Aku memang bukan orang yang pintar berbasa-basi dan berbicara. Aku berjalan ke luar kelas. Key mengikutiku. Sengaja kupercepat langkahku, tapi dia ikut mempercepat langkahnya. Kekeke, lucu.

Brukk! Aku menabrak seseorang. “Mi… mianhae” kataku. Sial! Aku menabrak orang yang salah. “Seohyun!” seru Amber, orang yang kutabrak.

“Ah, ada seohyun! Kebetulan sekali!” seru Hyoyeon, teman Amber sambil tersenyum licik. “Belikan kami makanan!” seru Amber. Mereka adalah anak kelas A.

“Cepat! Jangan hanya diam! Kami sudah lapar!” bentak Hyoyeon. “Tapi… aku membawa uang pas-pasan” ucapku sambil menunduk.

“Kami tidak mau tau” ucap Amber mulai marah. Aduh, bagaimana nasibku? Hyoyeon mengambil tempat sampah kecil di dekat kami, hendak menuangkan seluruh sampah itu di atas kepalaku.

Grep! Sebuah tangan menarikku. Dan… sraaakkk! Sampah-sampah berjatuhan. Tapi, aku tidak merasakan 1 buahpun sampah yang mengenai tubuhku. Aku sangat terkejut.

Kulihat Key ada di depanku. Tangannya menggenggam tanganku dan dia menarikku ke belakang. Hyoyeon membeku dalam posisi keranjang sampah di tangannya dia arahkan dan dia tumpahkan ke atas kepala Key, membuat semua sampah itu berjatuhan mengotori badannya.

“K…key-ssi” ujar hyoyeon ketakutan. Amber yang melihat kejadian itu diam-diam berusaha untuk kabur. “Jangan kabur” ucap Key dingin membuat Amber membeku di tempatnya dan terdiam.

“Sekali lagi kulihat ada yang menyakiti Seohyun, tidak akan kuampuni. Dan, kau harus bertanggung jawab atas sampah-sampah yang sudah mengotoriku ini” ucap Key tegas dan galak.

“Tapi… urusan kami adalah dia.” ujar Hyoyeon membela diri. “Nde. Bukan salah kami kalau kau ikut campur” tambah Amber. Key memandang mereka tajam.

“Urusan Seohyun urusanku juga. Jangan harap hidup kalian tenang, kalau kalian menyakitinya. Dan, ini berlaku untuk semuanya disini. Arraso?” ucap Key tegas pada Hyoyeon, Amber, dan semua orang yang berkerumun menyaksikan kami.

Hyoyeon dan Amber, juga yang lainnya hanya menganggu kecil. “Kkaja, seo!” ucap Key, menarikku. “Kau… kenapa melakukan itu?” tanyaku pelan.

Dia mengangkat sebelah alisnya. “Aku mana bisa melihat temanku dibegitukan” ujarnya. “Teman?” tanyaku heran. “Nde. memangnya aku bukan temanmu?” tanyanya sambil memanyunkan bibirnya.

Tadinya sih, aku berharap lebih. “Ehh… nde. Sekarang, bersihkan dulu dirimu.” ujarku. Dia mengangguk lalu ke toilet. Teman ya? Ah, babo kau Seohyun! Mana pantas kau bersamanya! Berteman dengannya saja sudah syukur! batinku dalam hati.

Author POV

“Seohyun! Chakkaman!” seru Key, mengejarku yang sudah keluar dari sekolah untuk pulang. “Wae, Key-ssi?” tanya Seohyun, menghentikan langkahnya.

“Berhenti memanggilku Key-ssi, Seohyunnie. Panggil saja oppa. Arra?” ucapnya sambil tersenyum. “Arraso, oppa” kata Seohyun sedikit malu-malu. Key tersenyum. “Nah, begitu lebih baik.”

“Hmm, ada apa oppa?” tanya Seohyun. “Ngg… apa kau mau kuantar pulang? Ehh.. kalau kau tidak dijemput atau pulang bersama orang lain.” kata Key sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Eeh.. apa tidak merepotkan? Aku pulang sendiri. Appa tidak menjemput karena dia bekerja” kata Seohyun. “Nde. tentu tidak! Kemana arahmu pulang?” tanya Key. Seohyun menunjuk ke arah kiri. “Oke. kkaja!” ujar Key.

Mereka berjalan berdampingan di jalan. Kadang, diselingi bercanda dan mengobrol, untuk lebih mengenal satu sama lain.

“Seo… seohyunnie!!”

-TBC-

bagaimana kelanjutan kisah Key dan Seohyun?

Ngomong-ngomong, apa hubungan mereka dengan Kyuhyun dan Yoona? (secara gak mungkin author bikin 2 cerita terpisah)

wait in chapter 3 (The real start) and comment, okay??