cast: Eunhyuk. Hyoyeon, Sooyoung.

Hyoyeon POV

Aku masuk ke kelas, dan mood-ku langsung berubah begitu melihat orang itu. Cewek berperawakan tinggi denagn rambut panjang hitam bergelombang dan kaki indah yang membuat para lelaki tergila-gila. Tapi, aku membencinya. Oke, kata benci mungkin terlalu frontal. Pokoknya, aku tidak menyukainya. Isssh… Namanya adalah… Choi Sooyoung.

Mau tau kenapa aku tidak menyukainya? Hmm.. padahal, dulu, sekitar 5 tahun yang lalu, aku dan dia adalah sahabat dekat. Tapi, sesuatu mengubahnya.

FLASHBACK

Aku, Sooyoung, dan Eunhyuk sedang berlari-larian di taman. Tiba-tiba… BRUKK! Sooyoung terjatuh. Ckckck. Mempunyai kaki yang panjang tidak selalu menyenangkan. “Sooyoung… gwenchanayo?” tanyaku dan eunhyuk yang langsung menghampirinya. Eunhyuk ini adalah sahabat kami. Kami bertiga sangat dekat dan tidak terpisahkan. Dan aku… ehem… menyukai eunhyuk.

“Aish…” Sooyoung merintih kesakitan sambil memegangi lututnya yang berdarah. “Aigoo… kau berdarah.” kata eunhyuk cemas. “Gwenchana, hyukkie oppa” kata sooyoung sambil tersenyum. “Apanya yang tidak apa-apa? Ayo, cepat cuci lukamu, lalu diobati” katanya perhatian. Aku sedikit cemburu melihatnya begitu memperhatikan sooyoung. Sooyoung mencoba berdiri, tapi hanya untuk terjatuh lagi. “Aduh… pergelangan kakiku… keseleo” keluhnya.

“Wah…” Eunhyuk tiba-tiba menggendong sooyoung. Bridal style~ “waaa… oppa, turunkan” Sooyoung berseru. “Tapi kau kan tidak bisa berjalan” kata eunhyuk polos. Aku hanya diam saja melihat mereka. “Nde, nde. Tapi, kau menggendongku di punggungmu saja. Bukankah kalau begini berat?” kata sooyoung. “Nde. Tapi, kau sama sekali tidak berat kok” kata eunhyuk lalu menurunkan sooyoung. Kemudian sooyoung langsung merangkulkan tangannya di sekitar leher eunhyuk dan eunhyuk menggendongnya di belakang.

Aku melihat mereka dengan tatapan kesal. Nde, aku cemburu! Akhirnya, eunhyuk mengantar sooyoung pulang sambil menggendongnya. “Gomawoyo, oppa” kata sooyoung sambil tersenyum lalu memeluk eunhyuk. Eunhyuk terlihat kaget tapi tersenyum dan balas memeluk sooyoung. “Hati-hati, sooyoungie. Arasso?” kata eunhyuk. Sooyoung mengangguk lalu masuk ke rumahnya dengan langkah pincang, meninggalkanku berdua dengan eunhyuk.

“Eeh… hyoyeon…” kata eunhyuk, baru menyadari keberadaanku disana. Aku memaksakan diri memberikan senyum termanisku untuknya. “Oppa… menyukai sooyoung ya?” tanyaku. “Eeh…” pipi eunhyuk memerah. “Apa… apa terlihat jelas?” tanyanya khawatir. Aku tertawa melihat tingkah lucunya itu, padahal, di dalam hatiku, aku menangis.

Sejak saat itu, eunhyuk selalu membicarakan sooyoung saat dia bersamaku. Sooyoung, sooyoung, dan sooyoung! Dan sejak saat itu pula, diam-diam aku mulai menjaga jarak dan mulai membenci sooyoung. Hatiku sakit, setiap eunhyuk membicarakan sooyoung. Kenapa harus sooyoung yang menjadi cinta pertama eunhyuk? Kenapa bukan aku? Padahal, di sampingnya jelas-jelas ada seseorang yang selalu ada saat dia membutuhkanku.

“Hyoyeon-ah… temani aku ke mall yuk” ajak Sooyoung suatu hari. “Tidak mau!” ujarku dingin. “Ayolah hyo…” rengek sooyoung. “Issh… aku tidak mau!” seruku sambil dengan kasar menepis tangannya. Dia menatapku dengan melongo. “Ya!! Hyoyeon! Kenapa kau begitu pada sooyoung?!” bela eunhyuk. See? Seakan-akan hanya sooyoung yang paling benar.

“Aku hanya tidak mau! Jangan memaksaku! Kenapa sih eunhyuk, kau selalu membela sooyoung?! Dia bukan orang yang selalu benar!” seruku frustasi. Mereka menatapku bingung. Dengan bercucuran air mata, aku meninggalkan mereka. Sejak itu, hubunganku dan sooyoung tidak pernah sebaik dulu.

Suatu hari…

“Eunhyuk, kau mau kemana? Kenapa pada menangis?” tanyaku bingung, melihat eunhyuk dan sooyoung yang menangis di depan rumah eunhyuk. “Hyoyeon… hyukkie oppa… akan pergi ke Jepang. Dia akan meninggalkan kita” tangis sooyoung. Aku terkejut dan sedih. Spontan, aku langsung menangis. Eunhyuk memelukku. Pelukannya hangat dan nyaman. “Mianhae, semuanya. Tapi, aku yakin suatu hari, kita pasti akan bertemu lagi” ucap eunhyuk di tengah tangisannya.

End of flashback

Well… siapa yang sangka, suatu hari yang dimaksud eunhyuk itu hari ini? Aku sendiri pun tidak menyangka.

Sooyoung tersenyum sedikit ke arahku, yang kubalas dengan tatapan sinis. “Ckckck. Semakin hari semakin jadi saja. Setiap hari selalu bermesraan. Padahal, Onew itu ketua OSIS” ujarku sinis. “Ya! Tidak ada urusannya denganmu!” bentak Onew. “Wae? Kau iri? Makanya, cepat cari pacar” ledek sooyoung. Aku baru hendak akan membalasnya, saat sonsaengnim datang. Grrr… tunggu pembalasanku nanti!

“Harap tenang anak-anak!” seru sonsaengnim. “Hari ini, kita ada murid baru, pindahan dari Jepang. Nah, silahkan masuk” kata sonsaengnim. lalu, seorang anak laki-laki dengan rambut coklat gelap yang ditata berantakan, dan dengan wajah yang cute masuk. Omo.. omo… OMO!

“Annyeong haseo… Lee Hyuk Jae imnida. Kalian bisa memanggilku Eunhyuk. Manassobangapsumnida” katanya sambil tersenyum, lalu matanya melebar, melihat ke arahku dan sooyoung. “Hyo… hyoyeon? Sooyoung?” tanyanya tidak percaya.

“Eun… eunhyuk…” ujarku. Suaraku sepelan bisikan, berbeda dengan sooyoung yang langsung berteriak dan melompat berdiri. “Hyukkie oppa!!” serunya gembira. Dia pasti sudah berlari dan memeluk Eunhyuk kalau saja sonsaengnim tidak menegurnya dan menyuruhnya kembali duduk. Eunhyuk akhirnya disuruh untuk duduk 2 bangku di depanku.

Aigoo… Eunhyuk-ku… yang sudah 5 tahun tidak kulihat. Eunhyuk yang sangat kusayangi, bahkan sampai sekarang. Eunhyuk yang… merupakan cinta pertamaku, kini kembali lagi. Dan… eunhyuk tidak akan bisa bersama sooyoung lagi, karena sooyoung sudah bersama onew.

Kriiing… Bel istirahat~

Aku dan Sooyoung langsung menghampiri eunhyuk. “Aigoo… kapan kau kembali dari Jepang?” “Kenapa kau tidak memberitahuku?” “Bogoshippeoyo!” “Suatu kebetulan kita bersama lagi!” seruku dan sooyoung bersamaan. “Woo woo woo… tenang tenang…” Eunhyuk berseru sambil tersenyum. “Aku baru kembali dari Jepang kemarin. Akutadinya hendak memberitahu kalian hari ini, ternyata kita semua malah satu sekolah. Bahkan satu kelas!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Kau tambah tinggi saja, sooyoungie…” ujarnya sambil mengacak-acak rambut sooyoung. “Oppa juga bertambah tinggi dengan pesat! Padahal, dulu kau tidak sampai seginiku” katanya sambil menunjuk ke hidungnya.

“Sooyoung~” panggil seseorang. Sooyoung menengok dan langsung memeluk si pemanggil yang tak lain tak bukan adalah namja chingunya, Onew. Eunhyuk membeku di tempatnya melihat mereka berdua berpelukkan.

“Oh iya… Onew oppa, ini adalah hyukkie oppa, teman masa kecilku yang baru kembali dari Jepang” ujar sooyoung. Onew mengulurkan tangannya. “Lee Jin Ki imnida. Panggil saja Onew.” katanya sambil tersenyum. “Lee Hyuk Jae imnida. Eunhyuk” kata eunhyuk kaku. “Ngomong-ngomong… kau ini… siapanya sooyoung? Sahabat dekat?” tanya eunhyuk lagi.

“Ah… Onew oppa ini… nae namja chingu” ujar sooyoung sambil tersenyum yang membuat eunhyuk tampak sedikit syok. Tapi, eunhyuk cepat-cepat menutupinya. Aku menonton drama singkat ini dengan santai di sebelah eunhyuk. “O..oh… Chukkaeyo.. Aigoo… uri sooyoung sudah besar sekarang” ujar eunhyuk sambil mengacak-acak rambut sooyoung lagi. “Hyoyeon.. temani aku keluar sebentar. Aku masih belum mengenal sekolah ini. Annyeong onew, sooyoungie…” kata eunhyuk cepat-cepat lalu menarik tanganku.

“Jadi dia… namja chingunya Sooyoung?” tanya eunhyuk. “Nde. Mereka cocok ya? Sangat serasi” ujarku. Eunhyuk diam saja. Dia mendesah. “Kalau begitu… memang sudah tidak ada kesempatan untukku” ucapnya sedih. “Apa… kau masih begitu mencintainya sampai sekarang?” aku bertanya. Dia mengangguk sedikit. Apa… memang tidak ada kesempatan untukku?

Sejak itu, Eunhyuk sedikit menjaga jarak dengan sooyoung. Dia menjadi sangat dekat denganku. Dia bilang dia mau melupakan sooyoung. Tapi… tidak apa. Walaupun sebagai pelampiasan, aku bahagia bisa bersamanya. Karena aku.. mencintainya.

6 bulan sudah aku dan eunhyuk selalu bersama-sama. Tak terpisahkan. Bahkan, kami bertiga, Aku sooyoung dan eunhyuk, sudah seperti kembali ke masa kecil kami, saat kami selalu bersama-sama. Eunhyuk mengakui, dia sudah berhasil melupakan sooyoung. Dan aku pun… sudah tidak ada alasan membenci sooyoung lagi.

Sooyoung suatu hari bertanya kepadaku, apa aku salah makan obat. Dulu, tiba-tiba aku membencinya dan sekarang tiba-tiba aku tidak membencinya lagi. Aku hanya tertawa dan mengatakan padanya “Sudahlah, itu masa lalu.”

Lalu suatu hari, hari dimana aku paling berbahagia…

“Eunhyuk… apa kau benar sudah melupakan sooyoung?” tanyaku padanya. Dia menatapku. “Nde. Aku sudah bisa melupakannya” ujarnya. “Itu… waktu yang cepat untuk melupakan seorang cinta pertama” ucapku karena sudah bertahun-tahun dan aku masih belum bisa melupakan eunhyuk.

“Aku bisa melupakannya… karena… aku sudah mencintai seorang yang lain” ujarnya. Hatiku seakan tertusuk duri. Kini, siapa lagi sih yeoja yang beruntung itu? Saat eunhyuk sudah melupakan sooyoung… malah datang lagi seorang yang lain di hatinya.

“Wah… kau cepat jatuh cinta” ucapku, memaksakan sebuah senyuman. “Kekeke. Aku tidak bisa tidak mencintainya. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Dia bernama… Kim Hyoyeon” ucapnya sambil menatap dalam mataku. Mwo?? Apa aku tidak salah dengar?

“A… aku?” tanyaku. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Hyoyeon-ah… saranghae…” ujarnya. kata-kata yang selalu ingin aku dengar darinya. “Na… na do saranghae” kataku. Air mataku sudah mengalir keluar. Dia menghapusnya. “Aigoo.. kenapa kau menangis?” tanyanya. Aku menggeleng. “Aku hanya… sangat senang” ucapku. Dan sejak saat itu, aku miliknya dan dia milikku.

Tapi, suatu hari, ketika kami bertiga pergi ke taman, aku melihat eunhyuk terus menatap sooyoung tanpa berkedip. Oke, kuakui saat itu sooyoung memang sangat cantik. Tapi, apa eunhyuk harus menatapnya sampai seperti itu di depan yeoja chingunya?

“Kau… apa kau masih menyukai sooyoung?” tanyaku dingin padanya yang membuatnya terkejut dan menatapku. “Annio… aku sudah melupakannya. Aku hanya mencintaimu” katanya. “Tapi… cara kau menatap sooyoung…” Kata-kataku dipotong oleh pelukannya. “Na neon saranghae, Hyoyeon-ah… Percayalah padaku” ucapnya. Aku bisa mendengar ketulusan dari kata-katanya dan akhirnya aku mengangguk.

“Ah… apa kalian keberatan kalau aku mengajak Onew?” tanya sooyoung, membuat kami melepaskan pelukan kami. “Oh, gwenchana.” jawab eunhyuk. “Bagus!” seru sooyoung sambil bertepuk tangan dan tiba-tiba Onew sudah berada di sampingnya (?)

Jadi hari itu, kami ber-4 bisa dibilang.. umm.. apa yah itu sebutannya… date… date… ah! double date! Kekeke. Tapi, tidak sepenuhnya double date karena Onew dan sooyoung memisahkan diri untuk berjalan berdua saja. Jadi, tinggallah aku dan eunhyuk berdua di taman.

“Eunhyuk! Coba kau lihat it-” “Hyoyeon-ah…” panggil eunhyuk sambil menggenggam tanganku. “Hmm?” jawabku. “Panggil aku oppa..” ujarnya. “Wae? Umur kita kan tidak beda jauh” ujarku.

“Tapi aku ini kan namja chingumu!” protesnya. “Lalu?” tanyaku polos. Dia mencubit pipiku. “Pokoknya kau harus memanggilku oppa!” katanya ngotot. “Kalau aku tidak mau?” kataku juga ngotot. “Issh… kau ini…” gumamnya sambil cemberut. Aku tertawa melihat wajahnya yang lucu. “Coba saja kejar aku! Kalau kau berhasil menangkapku, aku akan memanggilmu oppa” tantangku. Lalu aku mulai berlari mengelilingi taman dengan eunhyuk yang mengejarku dari belakang.

Setelah beberapa menit berlari, aku menengok ke belakang. “Eunhyukk!!” seruku sambil menghampirinya yang jatuh terduduk di tanah. “Gwenchanayo?” tanyaku khawatir. Tapi, dia tersenyum licik dan menggenggam lenganku. “Nah.. kena!” serunya dengan nada kemenangan. “Ah… kau curang!” protesku. “Pokoknya aku sudah menangkapmu. Sekarang… panggil aku oppa” ujarnya. Aku akhirnya mengalah. “Nde, eunhyuk oppa…” kataku. Dia tertawa dan aku juga ikut tertawa.

Hidup terasa lebih ringan sekarang. Aku mendapatkan cinta pertamaku, dan aku sudah berbaikan dengan sooyoung sekarang. ~~

The end…

Melodies of Life (chapter 7)

Posted: March 24, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of life chapter 7-My last chance


Seohyun POV

*flashback*

aku berjalan tak tentu arah. Tapi, akhirnya kakiku melangkah menuju ke sebuah rumah sakit, entah kenapa. Aku merasa, di rumah sakit inilah aku bisa menemukan petunjuk tentang diriku. Aku menyusuri koridor rumah sakit, sampai akhirnya menemukan figur yang familiar. Entahlah. Aku tidak mengenalnya. Tapi rasanya, dia itu sangatlah familiar.

Aku mengikuti namja itu, masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia duduk di pinggir ranjang, tempat seseorang yang tidak dapat kulihat karena terhalan oleh tirai. Perlahan, dia mulai menangis. “Seohyun-ah… Aku masih disini. Aku menunggumu” katanya. Aku terkejut dan berjalan mendekatinya.

Di ranjang itu, aku melihat diriku, terbaring lemah. Kalau aku tidak melihat dadanya, emm… dadaku yang naik-turun, pertanda masih bernapas, aku pasti berpikir bahwa diriku itu sudah mati.

Aku menatap namja itu. “Seohyun-ah… Kuharap kau bisa mendengarku. Saranghae. Jeongmal saranghae. Karena itu, kau harus cepat sadar, agar kita bisa berjalan bersama lagi” dia berkata di sela-sela tangisannya. Aigoo… kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Siapapun namamu, aku yakin, kau pasti sangat mencintaiku. Karena itu, tunggulah aku. Tunggulah sebentar lagi. Kim Ki Bum. aku tersentak! Kim Ki bum? Itukah namanya? Tiba-tiba nama itu muncul dalam pikiranku. Nama… namja chinguku.

*end of flashback*

“Joohyun! Yah! Joohyun!” Kyuhyun memanggilku, membuyarkan lamunanku. “Hmm?” Aku menjawabnya. “Aku akan berangkat sekolah. Kkaja!” katanya. Aku menatapnya dan mendesah, lalu mengangguk. Sebentar lagi.. aku harus meninggalkanmu.

Kyuhyun POV

Aku berjalan keluar dari rumah. Ahh.. senangnya, akhir-akhir ini, aku jarang sekali terlambat. Sooyoung sudah mengerti cara mematikan alarm dan bangun, bukannya membanting alarm lalu kembali tidur rupanya.

Aku melihat yoona baru keluar dari rumahnya. Tampaknya dia juga melihatku. “Kyu oppa!” seru Yoona lalu berlari dan memelukku. “Pagi, chagiya” kataku padanya, sambil mengecup keningnya. Aigoo… hari ini dia cantik sekali. Aku menoleh untuk mencari Seohyun. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Dimana dia?

“Mi..mianhae, aku harus pergi sebentar” kataku, meninggalkan yoona dan sooyoung yang menatapku kebingungan. Tapi, aku tidak peduli. Omona! Omona! Aku belum siap ditinggal oleh Seohyun.

Aku berlari dan terus berlari. Kakiku bergerak dengan kemauannya sendiri, sampai akhirnya aku berhenti di sebuah tanah lapang dan aku melihatnya disana.

“Joohyun!” panggilku. Dia menengok. “Apa kau… sudah akan meninggalkanku?” tanyaku sedikit merana padanya. Dia tersenyum.”tugasku sudah selesai. Senang mengenalmu, Cho Kyuhyun” ucapnya. Kulihat, dia menangis. “Andwae! Jangan tinggalkan aku!Aku… aku… aku mencintaimu” Akhirnya, aku mengatakannya. Kata-kata yang membuatku bingung. Sambil memeluknya, aku pun menangis.

“Kyu oppa? Kau sedang apa?” tanya yoona, yang tiba-tiba sudah di belakangku. “Yoo… yoona. aku…” Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. “Kau… mecintai yeoja lain?” tanyanya tidak percaya. Air mata sudah mulai membasahi pipinya.

“Anni.. yoona!” Aku berseru memanggilnya. Dia berlari meninggalkanku. BRUMMM! Argh sial! Dia tidak melihat sekelilingnya saat berlari menyeberang. “Yoona!! Awas!!” seruku langsung, cemas dan takut saat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Aku bergerak lebih cepat dari yang aku bayangkan. BUG! Aku mendorong yoona lalu… gelap…

———–

Seohyun POV

“Tuhan…” panggilku. Aku sudah kembali ke surga. Dan bukan main terkejutnya aku, melihat sosok yang familiar, sedang terbaring damai di sebelah kaki Tuhan. Cho Kyuhyun.

“Tuhan, ijinkan dia hidup lagi” kataku memohon. “Tidak bisa, Seo joo hyun. Itu memang sudah takdirnya” kata Tuhan. “Kumohon, Tuhan. Dia belum merasakan kebahagiaan bersama-sama dengan Yoona. Biarlah aku saja yang menggantikan dia. Berikanlah hidupku untuknya.” ujarku sambil menangis. Apapun, supaya kyuhyun bahagia.

Tuhan tersenyum lembut. “Baiklah. Kuturuti permohonanmu. Memang belum saatnya kalian tinggal disini. Seo joo hyun, akan kutunggu, saat kau benar-benar tinggal disini” Lalu… SRIINGGG! Semuanya menghilang.

————

Key POV

Aku menatap seohyun. Mataku sudah bengkak. Entah sudah berapa lama aku menangis. Tapi, tiba-tiba, aku melihat tangannya bergerak. “Seohyun…” Aku memanggilnya. Perlahan, Seohyun membuka matanya. Dia melihat ke arahku. “O…oppa” katanya terbata-bata.

Perasaan senangku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Seohyun! Akhirnya kau sadar” seruku ceria, lalu segera memanggil dokter. Dokter itu memeriksa seohyun sebentar lalu berpaling ke arahku. “Syukurlah, dia sudah sadar. Dia hanya perlu istirahat sebentar. Bahkan besok dia sudah bisa pulang” ucap dokter itu.

Sambil tersenyum, aku memeluknya. Aku bahkan meneteskan air mata lagi. Air mata bahagia. “Chagiya, bogosippeoyo” ucapku. “Ne, oppa. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?” tanyanya. “Ada! kau tidak melihat kan betapa parah aku menangis, menunggumu setiap waktu? Tapi, aku senang. Sangat senang sekarang. Aigoo… welcome back, Seohyun. My seohyun” katanya sambil mencium kening seohyun dengan lembut.

———-

Yoona POV

Omona! Omona! Eotokke? Aku mondar-mandir, menunggu di luar ruang ICU. Sooyoung berusaha menenangkanku, tapi aku tidak mau. Bagaimana kalau orang yang kau cintai tertabrak mobil dan sedang berada di ruang ICU? Apa mungkin kau bisa tenang?

Lalu, dokternya akhirnya keluar. “Dokter… Eottoke?” tanyaku langsung sambil menggigit bibirku khawatir. “Cho Kyuhyun-ssi sudah sadar. Selain beberapa luka dan memar, dia tidak mengalami cidera yang parah” kata dokter itu yang langsung disambut senyum lega dariku dan seruan gembira dari sooyoung.

“Kyu…” aku langsung menghampirinya dan memeluknya. “Gwenchanayo?” tanyanya. “Pabo! Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!” ujarku. “Kekeke. Aku tidak apa-apa, yoong…” kata kyuhyun. “Ckckck. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba pergi berlari seperti itu sih?” tanya sooyoung.

“Karena… aku mendengar kyuhyun bilang kalau dia mencintai yeoja lain” ucapku sedih. “Mwo?? Aku tidak pernah mengatakannya! Aigoo Im yoona! Yang kucintai itu hanyalah kau” katanya. “Jinjja?” tanyaku ragu-ragu. “Tentu saja! Semua usahaku untuk mendekatimu… usahaku sendiri… apa tidak cukup untuk membuktikannya?” tanyanya. Aku tersenyum. “Cukup cukup pacarannya! Oppa, kau harus istirahat! Nanti malam kau sudah bisa pulang” sela sooyoung.

————

Author POV

2 hari kemudian….

“Yoona-ah! Saengil chukkaeyo!! Saranghae…” kata Kyuhyun sambil memeluk yeoja chingunya itu. “Nde. Gomawoyo, oppa” kata yoona. “Ini.. untukmu” kata kyuhyun lagi, memberikan kado berbungkus kertas biru, warna kesukaan yoona. “Ah… gomawo”

“Yoona!!” panggil seseorang. “Kibum oppa!!” balas yoona sambil berlari ke pelukan Key. “Yah!! Mau apa kau kesini!?” Tiba-tiba eomma-nya yoona berseru, menuding Key dan seorang ahjussi di sebelahnya. “Apa salahnya aku pergi ke ulang tahun anakku?” kata si ahjussi, yang ternyata appa-nya yoona itu dengan tenang.

“Kau….” “Sudahlah, eomma. Aku yang mengundang mereka. Apa salah kalau aku menginginkan keluargaku lengkap saat aku ulang tahun? Kumohon eomma… walaupun kalian sudah bercerai, setidaknya, untuk hari ini saja, berdamailah” mohon yoona. Kedua orangtuanya terdiam lalu mengangguk setuju.

“Eeh… jadi ini… kakakmu?” tanya kyuhyun tidak percaya. “Ne. Memangnya kau kira siapa?” tanya yoona balik. “Kukira dia… namja chingumu, atau yah… sejenisnya” kata kyuhyun malu-malu. “Kekeke. namja chinguku hanya satu dan namanya adalah Cho Kyuhyun” katanya.

“Oh iya… yoona, kenalkan, ini yeoja chinguku, Seo Joo Hyun” kata Key, menggadeng seohyun. “Annyeonghaseo, Seo Joo Hyun imnida” katanya sopan sambil membungkuk. “Annyeong. Im Yoona imnida” kata yoona sambil tersenyum. “Cho Kyuhyun imnida” kata Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun?”ucap seohyun sedikit bingung. “Ye. Wae-yo?” tanya kyuhyun bingung. “Ah… annio. Aku hanya merasa… kita pernah bertemu… sebelumnya?” katanya ragu-ragu. “Molla. Tapi, aku juga merasa pernah mengenalmu” kata kyuhyun. Mereka saling bertatapan, lalu saling melihat ke arah pergelangan tangan mereka, tempat sebuah gelang dengan ukiran sayap malaikat menggantung. My… Angel….

The End~

wewww… akhirnya the end yah…

eottoke?eottoke??

Mianhae update-nya lama… kemaren charger laptop author emmm… meledak –a jadi gak bisa buka laptop sama sekali deh…

Oh iya, author abis ini mau bikin 3 atau 4 ff oneshoot dulu, baru abis itu ke project selanjutnya: A Cup With Love. Cast-nya? Ada deh~ Kekekeke :p

keep commenting yah~ 😀

 

 

Melodies of Life chapter 6

Posted: March 19, 2011 in Romance
Tags: , , ,

Melodies of Life chapter 6 -The Only One

Author POV

Kyuhyun sudah berada di sekolah dan sedang mengobrol dengan Yoona. “Hey, kyu… coba ajak dia pergi hari ini” usul Seohyun. Kyuhyun menurutinya. “Yoona…” panggilnya. “Wae, oppa?” jawab yoona. “Engg… Apa kau sibuk hari ini?” tanya Kyuhyun lagi. Yoona menggeleng. “Apa kau mau pergi bersamaku?” tanya Kyuhyun malu-malu. “Eeh… kemana?” tanya Yoona bersemangat. Kyuhyun diam saja.

‘kemana ya?’ pikirnya dalam hati. “Ajak dia ke festival budaya” usul si malaikat. Dia memang selalu penuh dengan ide-ide brilian. “Sempurna! Ayo kita ke festival budaya!” ajak Kyuhyun sambil tersenyum. Yoona menatapnya bingung. “Baiklah” jawab yoona. “Aku akan menjemputmu nanti sore. Arasso?” ucap kyuhyun. “Nde” jawab Yoona, yang pipinya memerah, memikirkan dia akan berjalan berduaan dengan kyuhyun. Apa ini… kencan?

————

“Woaaa… kyuhyun! Kau sukses mengajaknya jalan!” seru Seohyun riang saat mereka sudah di rumah. Tapi, Kyuhyun tidak seriang itu. “Joohyun…” panggilnya lirih. “Apa yang terjadi kalau aku sudah mendapatkan yoona?” tanya kyuhyun. Seohyun duduk di samping kyuhyun dan terdiam sejenak. “Aku akan pergi. Karena, tugasku sudah selesai, kyu” ucapnya.

Kyuhyun mendesah. “Sudah kuduga. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau… teman yang berharga bagiku” ucap Kyuhyun. Dia menatap mata Seohyun dalam dan sejenak jantungnya berdegup lebih kencang. Hanya teman? Eeh… apa yang kau pikirkan Seo Joo Hyun!

“Ya! Sudahlah… kita nikmati saja dulu masa-masa ini. Dan kau harus menyiapkan kata-kata untuk yoona” ucap Seohyun, memecahkan keheningan yang kaku itu. “Hmm…” Kyuhyun berbalik sehingga kini dia berhadap-hadapan dengan Seohyun.

“Chagiya, saranghaeyo. Jeongmal saranghae. Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Kyuhyun sambil mengenggam tangan Seohyun. Wajah seohyun memerah semerah tomat. “Mwo??” “Oohtoke? Apa itu cukup untuk menyatakan perasaanku pada yoona?” tanya Kyuhyun sambil nyengir. Rupanya dia hanya latihan. Seohyun tercengang. “Ngg… kurang romantis” ujarnya akhirnya.

“Kyuhyun, hwaitting!” ujar seohyun menyemangati. “Ucapkan semuanya dari hatimu. Itu pasti akan meluluhkan yoona” tambahnya. “Memangnya… kau tidak ikut denganku?” tanya kyuhyun. Seohyun menggeleng. “Anni. Aku ingin mencari tahu tentang diriku. Hm, aku sedikit penasaran” ujarnya. “Nde. Hati-hati ya” ujar kyuhyun sambil tersenyum. Seohyun tertawa “Memangnya kau pikir apa yang akan terjadi pada seorang malaikat yang terlihat saja tidak? Kekeke” Kyuhyun hanya nyengir mendengarnya. Setelah itu, dia pergi ke rumah yoona.

Kyuhyun’s POV

Cause I can’t stop thinking ’bout you, girl… Hm, bunyi bel yang unik. Pikirku. Beberapa detik kemudian, Yoona sudah membukakan pintu untukku. “Annyeo…” kata-kataku tergantung, mulutku menganga lebar, terpesona melihatnya. Dia mengenakan dress yang sangat manis melekat di tubuhnya. Dress itu pendek, menampilkan kakinya yang indah *ohh stop being perverted kyu!!*

“Annyeong, Kyu” sapanya sambil tersenyum, membuatku tersadar dari pikiran pervert ku sendiri. “Annyeong, yoona. Aigoo.. kau cantik sekali. ” pujiku padanya yang sukses membuat pipinya bersemu merah dengan manis. “G-gomawo” katanya. Aku tersenyum. “Kkaja!”

Aku menggandeng tangannya sambil berjalan menuju ke festival budaya. Tangannya halus sekali. Aigo… aku jadi berdebar begini. “Yoo…yoona, awas!” seruku sambil menariknya yang nyaris terserempet motor (basi… udah biasa x_x)

Posisiku kini setengah memeluknya, menahan tubuhnya dengan lenganku. Kami dekat sekali. Omona omona omona! Wajahnya itu… argh… cantik sekali! Kami terdiam dengan posisi seperti itu selama beberapa detik, seakan tubuh kami menolak untuk merespon.

“Gwe.. gwenchanayo?” tanyaku akhirnya sambil melepasnya. “N-ne. Kamsa, oppa” katanya sambil berpaling dariku. Tapi, aku bisa melihat wajahnya yang memerah, seperti juga wajahku.

Perjalanan menjadi sedikit… mm.. kaku. Akhirnya kami sampai di festival budaya. Mataku langsung jeli menangkap sebuah cincin perak sederhana yang manis. “Yoona, chakkamanyo” kataku, lalu cepat-cepat membeli cincin itu tanpa sepengetahuan yoona.

“Oppa, aku mau itu” kata yoona sambil menunjuk ke sebuah boneka micky mouse. “Eh… itu kan terlalu kekanak-kanakan” ucapku. “Tapi aku mau itu” ucapnya lagi, mengeluarkan aegyo-nya. Haah… yoona, yoona… Siapa sih yang tak akan luluh melihat wajah imutmu itu? Akhirnya, aku membelikannya untuknya. “Gomawo, oppa. You’re the best” katanya, lalu, mencium pipiku yang membuatku membeku. Wooahh… kalau tau begini, aku akan membelikanmu seribu boneka micky mouse! kekeke

“Wah, pesta kembang api sebentar lagi akan dimulai! Kkaja, oppa!” serunya girang. Mwo?? Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Sebentar lagi bahkan tengah malam. Aigoo… Yoona sudah berlari mendahuluiku, dan aku langsung mengejarnya.

“AAAA” Brukk! “Yoona!” Aku langsung berlari ke arah yoona yang terjatuh. “Gwenchana?” tanyaku sambil membantunya berdiri. “Awwww” serunya kesakitan lalu kembali jatuh terduduk. “Kakiku… terkilir. Sakit” serunya. Air matanya sudah menetes. Aku mengusap air matanya dengan jariku. “Tenanglah, yoong” ucapku halus, sambil menggendongnya.

“Aah… padahal aku ingin menonton kembang api” ujarnya sedih, sambil melihat ke arah kerumunan orang yang sangat mustahil ditembus. Aha! Aku punya ide! “Apapun yang kau mau, aku pasti akan mewujudkannya” ucapku sambil tersenyum. Sambil menggendongnya, aku berjalan ke arah wahana bianglala (yang bentuknya kayak roda, terus muter gitu, namanya bianglala kan yah? #authorbabo)

Aku membisikkan sesuatu ke petugasnya yang langsung dia jawab anggukan. “Kamsahamnida ahjussi” ujarku sambil membungkuk. “Yoona, kkaja” aku masuk ke wahana bianglala yang 100% kosong, karena semua orang tampaknya bersiap menonton pertunjukkan kembang api.

Aku dan yoona duduk berhadap-hadapan. DUARR!! Terdengar suara kembang api pertama, tepat saat kami sampai di puncak bianglala. TEK! Bianglala kami berhenti berputar dengan posisi kami di paling atas.

“Oppa, apa yang terjadi…” Ujar yoona takut sambil menggenggam tanganku. “Omona! Tolong!! Huaaa” seru yoona takut. “Tenang, yoona, tenang… Aku yang menyuruh petugasnya untuk mengentikan kita di puncak” ujarku. “Mwo? Wae?” tanyanya bingung, tapi sudah tidak takut lagi. “Lihatlah” ujarku.

Yoona melihat ke arah yang kutunjuk. “Wah…” Kembang apinya terlihat sangat jelas dari sini, begitu pula dengan pemandangan lampu-lampu warna-warni kota Seoul. DUARR!! DUARRR!! “Aigoo… cantik sekali” ujarnya sambil tersenyum, memandang ke arah kembang api. Ne, yoong… cantik sepertimu…

Aku mengeluarkan cincin yang kubeli tadi. “Yoona…” panggilku. “Hm? Wae-yo, oppa?” tanyanya, mengalihkan pandangannya ke arahku. “Kuharap aku bisa selalu melihat senyummu. Im yoona, saranghae. Bolehkah aku, menjadi namja yang selalu berada di sampingmu? Membuatmu tersenyum dan melindungimu?” ucapku.

Dia memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. “Ne… na… na do saranghae, oppa” katanya. Aku tersenyum sambil memakaikan cincin itu ke jari manisnya. “Tunggulah, yoong… suatu saat, aku pasti akan memberikanmu cincin yang jauh lebih mahal, dan jauh lebih indah” ucapku. “Anni, oppa. Ini… ini cincin terindah yang pernah kulihat. Karena kau yang membelikannya untukku” ujarnya. Aku menggenggam tangannya dan mencium keningnya.

—————–

Aku pulang ke rumah dengan perasaan bahagia walaupun lelah. Tapi, ada sesuatu yang janggal dengan perasaanku. Aku… tidak sepenuhnya bahagia.

“Joohyun-ah… kau darimana?” tanyaku padanya. Matanya sembab dan bengkak, habis mennagis. “Aku… tadi habis ke rumah sakit” jawabnya. “Wae-yo? Ada apa?” tanyaku khawatir. “Aku melihat ngg… tubuhku tadi. Dan seorang namja yang memeluk tubuhku. Kurasa, dia namja chinguku. Entahlah. Aku sedih, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?” ujarnya sambil mendesah kecewa.

“Tenanglah… suatu saat kau pasti akan bersamanya lagi” kataku sambil mengusap kepalanya. Aku selalu menyukai sensasi saat menyentuhnya. Menenangkan dan lembut. Aku mendesah. Jadi, dia sudah punya namja chingu? Eeh… tunggu! Kenapa.. aku kecewa? Aku sendiri kan… sudah memiliki yoona… Apa… aku.. menyukai Seohyun? Tapi…

“Oh iya, bagaimana dengan yoona? Oohtoke? Oohtoke?” tanyanya. Aku tersenyum simpul. “Champion!!” seruku sambil ber-highfive dengannya. “Yeay! Kau hebat, kyu!” serunya. “Ne, aku tau” ucapku sambil tertawa.

“Nah, kurasa aku akan ke…” “Chakkaman!” seruku sambil menarik pergelangan tangan Seohyun. Rupanya, aku menarik terlalu kuat. Sampai-sampai kami berdua jatuh ke lantai,dengan posisi aku berada di atasnya.

Omona! Dia… cantik sekali. Wajahnya mulus, tanpa cela. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya. Bibirnya… Aigoo… apa yang kau pikirkan cho kyuhyun! Tapi, bibir itu.. Aku ingin sekali menciumnya. Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan… aku, sekali lagi di bawah kesadaranku menempelkan bibirku ke bibirnya.

Dia terkejut, lalu mendorongku. Aku sendiri pun juga terkejut dengan apa yang barusan kulakukan. “Aku… aku…mianhae” kataku akhirnya. Dia terdiam sebentar. “Ne. Itu hanya kecelakaan” Itu bukan kecelakaan. Aku sengaja melakukannya.

Aku… sebenarnya bagaimana dengan perasaanku? “Kyuhyun! Ada apa?” tanya seohyun. “Gwenchana. Bisa tolong tinggalkan aku sebentar? Aku sedang ingin sendiri” gumamku padanya. Dia terlihat bingung, tapi menuruti perkataanku dan pergi keluar. Aku berbaring di ranjangku. Argh… aku bingung!

“Oppa, kenapa? Kok kau pulang larut sekali?” tanya sooyoung, yang masuk ke kamarku tiba-tiba. “Kau tidak bisa mengetuk ya?” ujarku. Dia hanya nyengir dan duduk di ranjangku.

“Sooyoung… pernahkah kau merasa, kalau kau mencintai seseorang, tapi, hatimu juga berdebar tiap melihat seseorang yang lain?” tanyaku melantur. Sooyoung terdiam. “Itu tandanya… kau harus memilih, oppa. Siapa yang benar-benar ada di hatimu. Pasti hanya ada 1 orang” ucapnya bijak. heran, sejak kapan adikku jadi bijak begitu? Tapi, aku memikirkan perkataannya. 1 orang…. yang benar-benar di hatiku?

—————

-TBC-

Siapa yang akan Kyuhyun pilih?

Seohyun, malaikat baik hati yang selalu membantunya?

Atau, Yoona, yeoja cantik yang sudah menerimanya?

Will be revealed in chapter 7!!

Aigoo… author kangen banget loh sama kalian! Akhirnya, exam finish!! Dan author bisa leluasa deh lanjutin ff lagi. Apa ada yang kangen dengan author? Ah, ga usah bohong. Pasti pada kangen kan? Iya kan? #pedenajis. kekeke. Mianhae kalau author update-nya bakal agak lama disini, soalnya author lagi sibuk bikin ff di Asianfanfics. Hehehe. Tapi, tenang. Author bakal update disini juga, kok. Soalnya, author ada project baru nih x_x hehehe. Keep commenting, okay? ^^

Hey readers!

Posted: March 11, 2011 in Uncategorized

Reader… author lagi UTS (Ujian Tengah Semester) nih, 1 mingguan kira-kira. Jadi, author kemungkinan gak bisa lanjutin ceritanya untuk 1 minggu. Mianhaeeeee yah >.< tapi author gak mau juga dapet jelek nilainya…

Sebisa mungkin, kalo pelajarannya gampang, mungkin author bisa lanjutin tapi gak bisa panjang. Sekali lagi, mianhaeeee.. maaf banget >< kalo milih sih, mending lanjutin ff daripada belajar –”

Keep supporting me, okay? 🙂 And wish me luck on my exams ..

Nih, author kasih teaser ff selanjutnya: Melodies of Life

Aku… sebenarnya bagaimana dengan perasaanku? “Kyuhyun! Ada apa?” tanya seohyun. “Gwenchana. Bisa tolong tinggalkan aku sebentar? Aku sedang ingin sendiri” gumamku padanya. Dia terlihat bingung, tapi menuruti perkataanku dan pergi keluar. Aku berbaring di ranjangku. Argh… aku bingung!

“Oppa, kenapa?” tanya sooyoung, yang masuk ke kamarku. “Kau tidak bisa mengetuk ya?” ujarku. Dia hanya nyengir dan duduk di ranjangku. “Sooyoung… pernahkah kau merasa, kalau kau mencintai seseorang, tapi, hatimu juga berdebar tiap melihat seseorang yang lain?” tanyaku melantur. Sooyoung terdiam. “Itu tandanya… kau harus memilih, oppa. Siapa yang benar-benar ada di hatimu. Pasti hanya ada 1 orang” ucapnya bijak. heran, sejak kapan adikku jadi bijak begitu? Tapi, aku memikirkan perkataannya. 1 orang…. yang benar-benar di hatiku?

*************

“Kyu oppa!” seru Yoona lalu berlari dan memelukku. “Pagi, chagiya” kataku padanya, sambil mengecup keningnya. Aigoo… hari ini dia cantik sekali. Aku menoleh untuk mencari Seohyun. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Dimana dia?

*************

“Joohyun!” panggilku. Dia menengok. “Apa kau… sudah akan meninggalkanku?” tanyaku sedikit merana padanya. Dia tersenyum.”tugasku sudah selesai. Senang mengenalmu, Cho Kyuhyun” ucapnya. Kulihat, dia menangis. “Andwae! Jangan tinggalkan aku!Aku… aku… aku mencintaimu” Akhirnya, aku mengatakannya. Kata-kata yang membuatku bingung. Sambil memeluknya, aku pun menangis.

“Kyu oppa? Kau sedang apa?” tanya yoona, yang tiba-tiba sudah di belakangku.

************

Melodies of Life chapter 5-The unexpected ‘New Friend’


Kyuhyun POV

“Apa aku sudah mati?” tanyaku seperti orang bodoh. “Ya! Kau ini bicara apa sih?!” serunya, menatapku seakan-akan aku ini alien yang berkepala 2. Sosoknya tidak jelas, samar-samar, dan ehem… agak transparan. Yang kutau, dia seorang yeoja. “Nuguya?” tanyaku bingung. Siapa dia? Mengapa tiba-tiba ada di rumahku?

“Seo Joo Hyun imnida” katanya sambil tersenyum. “eeh… Cho Kyu Hyun imnida” kataku, mengulurkan tanganku. Dia tersenyum gugup dan menyambut tanganku. Deg! Aku tersentak. Tangannya… halus sih, tapi… tidak seperti tangan manusia. Seperti sedang menyentuh air yang tidak basah. Seperti udara yang padat. Seperti… sesuatu yang nyata, tapi mustahil.

“Ap-Apa..” Aku terkaget dan langsung menyentakkan tanganku. “Kau ini siapa sebenarnya?” teriakku padanya, agak sedikit takut. Tapi, dia tersenyum. Wah, senyum yang indah. “Aku ini seorang malaikat, babo!” serunya.

Aku melongo, karena 3 alasan. 1. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa ada di bumi, apalagi di RUMAHKU? 2. bagaimana mungkin aku bisa melihat bahkan berjabatan tangan dan mengobrol dengan malaikat tanpa mati terlebih dahulu (Syukur-syukur ketemunya malaikat, bukan setan pas udah mati…)? 3. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa mengucapkan kata babo?

“Tunggu… tunggu… Ini pasti mimpi!” Aku berkata, sambil mencubit pipiku sendiri. Sakit. Berarti… bukan mimpikah? Tap tap tap… kudengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. “Akan kujelaskan nanti. Ingat! Yang bisa melihatku hanya kau, cho kyuhyun. Arasso?” ucapnya. Belum sempat aku menjawab, Sooyoung sudah memotongnya.

“Oppa! Gwenchanayo?” serunya khawatir sambil menghampiriku. “Nde. Mungkin kepalaku sedikit terbentur. Aku bertemu dan bahkan berbicara dengan seseorang yang mengaku seorang malaikat” ucapku sambil melirik ke arah malaikat itu. Sooyoung menatapku seakan-akan aku baru saja mengatakan kalau aku akan menikah dengan Sungmin Super Junior. “Ckck. Kepalamu mungkin memang terbentur sangat keras” komentarnya sambil mengecek kepalaku, berpura-pura bersikap dramatis.

“Lagipula, kenapa sih kau harus memanggilku sebegitu keras?” tanyaku jengkel padanya. “Eh… begini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan” katanya. Sikapnya langsung berubah gugup. “Wae?” tanyaku penasaran. “Kalau kau merasa jantungmu berdegup kencang saat dekat dengan seseorang, tapi kau merasa gugup dan bahagia di saat yang sama, dan merasa ingin sempurna di depan orang itu, apa artinya?” tanyanya, menghindari tatapanku.

“Kau sedang jatuh cinta!” ucap sang malaikat menyimpukan. “Yep. Dia benar. Kau jatuh cinta” ucapku. “Mwo? Dia? Siapa yang benar?” tanyanya bingung. “Dia” kataku menunjuk ke arah si malaikat. Sooyoung menatapku lagi seakan aku ini memang benar-benar menikah dengan Sungmin Super Junior. (Sungmin: Apaan sih ? Aku dibawa-bawa terus… entar Sunny marah ah! xD)

“Sudah kubilang hanya kau yang bisa melihatku!” ucap si malaikat. “Itu tidak adil! Aku bisa disangka orang gila kalau begitu” seruku padanya. “Argh! Kusarankan kau ke psikiater, oppa!” ucap Sooyoung lalu pergi meninggalkanku. “Ya! Sooyoung! Beritahu dulu oppa, siapa orang yang membuatmu jatuh cinta? Hei, Sooyoung!” Aku berteriak, tapi dia mengabaikanku. Aigo… uri sooyoung sudah besar! Dia sudah jatuh cinta sekarang!

“Nah, malaikat. Jelaskan semuanya padaku” ucapku, mulai menerima kenyataan kalau ini bukan mimpi buruk. “Tubuhku sedang sekarat di rumah sakit. Tuhan memutuskan, kalau aku mau sembuh, aku harus melakukan sebuah misi” jelas si malaikat. “Dan apa hubungannya denganku?” tanyaku penasaran.

“Misiku adalah untuk mempersatukanmu dengan yeoja yang kau cintai, Im Yoona” lanjutnya, membuatku terkejut. “Mworago??” seruku. Aishh… Tuhan… aku memang memohon pada-Mu untuk mempersatukanku dengan Yoona, tapi… apa harus dengan cara seperti ini?

“Kau harusnya bersyukur! Tuhan sudah mau meluangkan waktunya untuk menjawab doa-doamu yang sok puitis dan berlebihan itu” ucapnya. “Mwo? Apa kau tidak tau aku merangkai doa itu sepanjang pelajaran Bahasa Korea, tau!” seruku jengkel. Dia tertawa. Apa semua malaikat mempunyai tawa yang manis seperti itu?

“Nah, malaikat. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku padanya. “Berhenti memanggilku malaikat. Apa kau merasa nyaman kalau aku memanggilmu manusia? Yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Yoona, manusia” ucapnya.

“Nde, nde. Kalau begitu… siapa namamu tadi?” tanyaku. “Seo Joo Hyun.” ucapnya. “Baiklah, Joohyun. Bagaimana caraku minta maaf pada yoona?” tanyaku. “Panggil saja aku Seohyun” ucapnya. “Aish… kau banyak maunya! Katakan saja, bagaimana cara aku minta maaf pada Yoona?” tanyaku padanya.

“Menggunakan kata-kata sederhana. Katakan kau menyesal, dan kau tidak ingin dia marah padamu. Ayolah… keluarkan saja semua pesonamu” ucap Seohyun. “Anni anni… aku tidak bisa! Setiap dekat dengannya… semua pesonaku lenyap seketika. Aku… gugup” ucapku. Itu memang benar. Ada sesuatu… yang membuatku gugup tapi sekaligus bahagia setiap berada di dekatnya.

“Yasudah. Lakukan saja dan ikuti kata-kataku besok. Arra?” jelasnya. Aku mengangguk. “Emm… mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi memang agak sedikit mengganggu untukku. Nanti kau tidur dimana?” tanyaku polos padanya. Dia tertawa. “Malaikat tidak butuh tidur, babo” katanya. Dia mungkin satu-satunya malaikat yang bisa berkata ‘babo’ . pikirku.

—-

Esok harinya, aku bangun dengan wajah yang sangat lelah dan lingkaran hitam di bawah mataku. “Kekeke. Annyeong, Mr. Panda!” ejek Seohyun padaku. “Ya! Joohyuuunn!” seruku padanya. Dengan termalas-malas, aku mandi dan segera ke meja makan.

Kulihat yeodongsaengku sudah disana, siap dan rapi. Sejak kapan dia bisa bangun pagi? Pikirku. Ckck, cinta memang sangguo mengubah segalanya. “Hei… apa kau mau memberitahu oppa siapa namja yang bisa membuatmu bangun sepagi ini dan bahkan menata dirimu serapi ini?” tanyaku padanya. Kulihat pipinya bersemu merah. “Ehh… sudahlah, oppa. Ayo habiskan saja sarapanmu lalu kita berangkat sekolah” ucapnya. “Nde, nde. Tapi, kapan-kapan kenalkan padaku ya” ucapku. Dia tidak menjawab dan hanya memakan rotinya.

Aku menengok ke arah rumah Yoona. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia akan keluar. Mungkin dia bahkan belum bersiap. Kami berangkat sekolah pagi sekali hari ini. Aku bersumpah tidak pernah seumur-umur pergi sepagi ini, bahkan saat hari pertama memasukki sekolah.

“Ceritakan sesuatu tentang dirimu” ujarku pada Seohyun, setelah kami berpisah dengan sooyoung. “Hm, molla. Yang kutau hanyalah namaku. Seo Joo Hyun” jawabnya sedih. “Hei… jangan sedih. Gwenchana. Sebentar lagi, kau pasti akan kembali ke tubuhmu dan mengingat semuanya lagi. Aku berjanji!” ujarku padanya, mengusap pelan pundaknya. Jujur, aku menyukai sensasi saat aku menyentuhnya. Seakan menyentuh sesuatu yang nyata tapi mustahil, seperti yang sudah kubilang. Tapi… lembut dan menenangkan.

Aku masuk ke kelas dan menunggu yoona. Sesekali mengobrol dengan seohyun saat tidak ada yang memperhatikan. Kuakui, dia teman yang baik, walaupun dia merupakan teman baru yang tidak pernah kuharapkan.

Beberapa saat kemudian, Yoona masuk ke kelas. Aku langsung menghampirinya. “Yoona-ah…” panggilku. Dia hanya melemparkan tatapan dingin padaku.

“Katakan kau menyesal…” ujar seohyun. Aku mematuhinya. “Aku menyesal atas kejadian kemarin. Aku ingin minta maaf. Aku tau aku ini bodoh dan konyol” ucapku mengikuti kata-kata seohyun. Aku hendak memprotes saat dia bilang ‘bodoh dan konyol’. Tapi dia langsung mencubit lenganku, menyuruhku melanjutkan. “Aku tidak bisa tenang. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan ini semua. Kumohon… aku tidak tau apa yang harus kulakukan kalau kau marah dan benci padaku. Jeongmal mianhamnida” ucapku sambil menunduk.

Dia terdiam beberapa saat. “Nde. Aku juga minta maaf. Mianhae” katanya sambil tersenyum. Yes! Kudapatkan lagi senyum itu! Gomawo Joohyun-ah~

“Hei… besok ulang tahun Yoona loh..” ucap Seohyun. “Mwo? Jeongmal?” ujarku terkejut. Seisi kelas menatapku bingung. Aku hanya nyengir dan menunduk malu. “Kau tau darimana?” bisikku. Dia tersenyum. “Ada beberapa hal yang menguntungkan menjadi seorang malaikat, contohnya mengetahui sesuatu dengan mudah” ujarnya. Aku menatapnya jengkel. “Nanti pulang, temani aku ke mall. Aku harus memberikan sesuatu untuk Yoona” ucapku. Dia mengangkat dua jempolnya sebagai tanda persetujuan.

“Kyuhyun oppa… mau pulang bareng?” tawar yoona, setelah sekolah usai. “Ehm… tidak bisa. Aku ada sedikit urusan. Mianhae” kataku padanya. Dia terlihat sedikit kecewa. “Gwenchanayo” katanya.

“Kkaja!” ucapku pada seohyun. Kami pergi ke mall dan menghampiri toko aksesoris. “Joohyun-ah… bantu aku memilih. Apa yang biasanya yeoja sukai?” tanyaku bingung, melihat ke segala benda pink dan bling-bling di sekelilingku dengan pasrah. Jelas aku tidak akan sebingung ini kalau disuruh memilih kaset Playstation.

“Cari pelan-pelan benda itu dengan hatimu” ujarnya. Aku menatap pasrah. Sebuah kalung menarik mataku untuk memandangnya. Aku mengambilnya. Kalung perak sederhana dengan liontin lambang hati. Cantik. Entah kenapa, aku merasa ini cocok untuknya. Aku menoleh ke arah seohyun dan dia mengangguk menyetujui.

Aku melihat 2 buah gelang pasangan, dengan ukiran berbetuk sayap, yang terpisah. Gelang itu bisa digabungkan, membentuk sepasang sayap yang unik. Dia juga mengambil itu. Setelah membayar di kasir, dia memberikan salah satu gelangnya pada Seohyun.

“Mwo? Apa ini?” tanya seohyun bingung. “Itu gelang, babo. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku” ucapku padanya. Dia memakai gelangnya. Awalnya, aku khawatir apa gelang itu akan terlihat seperti melayang sendiri, tapi lega setelah dia menjelaskan apa yang melekat di tubuhnya juga ikut tidak terlihat. Aku tersenyum memandangnya. Aku tidak pernah berpikir, bermimpi pun tidak, memiliki teman baru seorang ‘malaikat’

-TBC-

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Seohyun sukses membuat Kyuhyun mendapatkan Yoona?

Wait in Melodies of Life chapter 6~

 

Melodies of Life chapter 4

Posted: March 4, 2011 in Romance
Tags: , , , ,

Melodies of Life chapter 4-The real beginning

Author POV

Seohyun sedang berjalan di koridor sekolahnya ketika… BRUKK! Seseorang menariknya dari belakang dan menjatuhkannya ke tanah, membuat tubuhnya terhempas. “A.. apa?” Rupanya itu Amber dan Hyoyeon.

“Jangan pikir kami mengalah padamu! Gara-gara Key oppa menolongmu waktu itu” ujar Hyoyeon sinis. “Nde! Kau harus terima pembalasan kami karena gara-gara kau kami dimarahi Key!” seru Amber galak. Seohyun menunduk karena takut. “Apa yang kalian inginkan?” tanyanya sambil menunduk. Hyoyeon dan Amber tersenyum licik.

“K-kau mau bawa aku ke-kemana?” tanya Seohyun panik saat Hyoyeon dan Amber menarik tangannya. “Tidak usah banyak tanya! Nanti kau juga tau!” balas Amber kasar.

Brakk! Mereka menghempaskan Seohyun ke dalam gudang. “A-apa yang mau…” belum selesai Seohyun bicara, Hyoyeon sudah menutup pintu gudang dan menguncinya. “H-hei! Hyoyeon! Amber! Buka!” teriak Seohyun panik dari dalam. “Tidak akan! Membusuklah kau di dalam bersama tikus-tikus itu! Hahaha” seru Hyoyeon kejam. “Itu akibatnya kalau kau berani macam-macam dengan kami, Seo Joo Hyun!” timpal Amber lalu mereka sambil tertawa puas pergi meninggalkan Seohyun yang berteriak-teriak putus asa.

Seohyun menatap sekitarnya dengan panik. Gudang itu sempit, bau, dan gelap. Ciiit…ciiit… “Gyaaaa!!!” Seohyun berteriak histeris saat 2 ekor tikus berlari melewati kakinya.

“Tolong! Tolong buka pintunya! Tolong! Key oppaaa!!” seru Seohyun putus asa sambil menangis. Kenapa, kenapa mereka begitu kejam padaku? Pikirnya dalam hati.

———–

Key POV

“Hm, kenapa seohyun tidak masuk hari ini?” pikirku, menatap bangkunya yang kosong. Apa dia sakit? Pikirku cemas. Perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi padanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu cemas.

“Kibum! Tolong ambilkan kardus di gudang. Cari kardus yang isinya beberapa alat musik tradisional Korea. Kita akan mempelajarinya hari ini” perintah sonsaengnim. “Ah, yang lain saja sonsaengnim. Aku benci gudang itu” ujarku menolak. Ugh, aku paling malas kalau harus mencari-cari kardus si dalam ruangan yang gelap dan bau busuk itu.

“Yasudah. Taemin! Coba kau yang ambilkan.” ujar sonsaengnim. taemin, murid kutu buku, pendiam, dan sangat penurut pada guru itu langsung keluar menuruti perintah sonsaengnim.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan wajah pucat dan keringat dingin. “G-gudangnya dikunci. D-dan… ada o-orang yang berteriak dari dalam. Di..dia terus berteriak ‘tolong!’ dan ‘Key oppa!'” ucap Taemin panik. Spontan, aku bangkit dari kursiku. Dia meneriaki namaku? Jangan-jangan….

“Ya! Kim Ki Bum! Kau mau kemana?!” seru sonsaengnim, tapi kuabaikan dan langsung melesat menuju gudang. Sial! Andai saja tadi aku menaati sonsaengnim untuk pergi ke gudang. Kalau sampai yang di dalam sana Seohyun dan terjadi apa-apa padanya, tak akan kumaafkan diriku sendiri!

Aku menggedor-gedor pintu gudang, mencoba membukanya, tetapi ternyata memang dikunci. “Seohyun?” tanyaku cemas. Hening. Tidak ada jawaban. “Yang di dalam! Tolong jawab aku!” seruku. Tapi, tetap hening. Akhirnya BRAKK!! Kudobrak pintu itu. Gagal. BRAKK!! Kucoba lagi lebih keras. Rasanya lenganku sudah memar dan tulangku serasa retak. Cklek. Akhirnya pintu itu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya.

“Seohyun!” Kupanggil dia yang sudah tergeletak pingsan di lantai. Pasti dia kehabisan oksigen, di dalam ruangan yang sempit dan pengap seperti ini. Langsung kugendong dia dan kubawa menuju UKS.

“Seohyun bertahanlah” ujarku cemas untuk yang ke-5 kali seiring dengan langkahku menuju UKS. Setelah sampai, langsung kubaringkan dia di tempat tidur. Kenapa tidak ada dokter yang bertugas disini sih? Pikirku kesal.

Akhirnya aku hanya duduk dan menungguinya. Kugenggam tangannya yang mungil dan sesekali kuusap kepalanya. Aaah… cantiknya dia. Wajahnya benar-benar seperti malaikat!

————

Seohyun POV

Kubuka mataku perlahan. Terang. Apa aku sudah tidak di gudang lagi? “Dimana aku?” gumamku pelan. “Seohyun! Kau sudah sadar?” ujar seseorang. Suaranya sangat familiar. “K.. key oppa?” ujarku terkejut saat melihatnya yang berdiri di sebelahku.

“Kok.. kok bisa? Bukankah tadi aku dikunci di gudang?” ucapku bingung. “Dikunci? Siapa yang menguncimu?” tanya Key murka. Aduh, keceplosan! “Eeh… anni. Aku salah bicara” kataku berbohong. “Kau tidak bisa berbohong padaku, seo. Katakan.. siapa yang menguncimu?” paksa Key. AKhirnya, dengan terpaksa aku menceritakan semuanya.

“2 manusia itu!!” seru Key geram. “Jangan lakukan apapun, oppa. Biarkan saja mereka” pintaku. “Tapi tapi…” kilahnya, tapi langsung kusela. “Tidak ada tapi! Biarkan saja mereka” ucapku, tetap pada pendirianku. Aku tidak mau masalah ini semakin runyam. “Tapi tapi…” “Ya! Kim Ki Bum!” marahku. “Baiklah…” katanya pasrah. “Nah, begitu” ucapku sambil tersenyum.

“Kau ini… lain kali hati-hati. Apalagi pada mereka. Kalau begjni, aku akan selalu bersamamu kapanpun, dimanapun” ucapnya. “Eeh? Wae-yo? Untuk apa?” tanyaku bingung. “Supaya aku bisa selalu melindungimu” jawabnya sambil tersenyum. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Author POV

“Oppa, kenapa kau selalu menolongku?” tanya Seohyun. “Molla. Mungkin…. karena… aku mencintaimu” jawab Key lirih. “Mwo?” Seohyun terkejut mendengarnya.

“Seo Joo Hyun…” ucap Key. Dia menggenggam tangan Seohyun, yang sedang duduk di ranjang UKS dan menatap matanya lekat-lekat. Dia menaruh tangan Seohyun di dadanya. “Bisakah kau merasakannya? Detak jantungku? Detak jantungku yang selalu berdetak 4 kali lebih cepat, setiap aku bersamamu. Raga ini rasanya tak pernah puas untuk selalu menjagamu. Apa kau tidak tau alasannya? Itu semua… karena… Seohyunnie, saranghae” kata Key.

Seohyun terpaku menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. “Maukah kau… menjadi yeoja chinguku?” tanya Key. Seohyun mengangguk. “Nde, oppa. Na do saranghae” katanya. Key langsung tersenyum bahagia dan memeluk Seohyun. Seohyun juga tersenyum dan memeluknya balik.

———–

Seohyun dan Key harus ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa tugas, karena selama pelajaran mereka menghabiskannya di UKS. “Hm, Seohyun. Coba tolong kau nyalakan komputernya. Kita harus mengetik beberapa artikel mengenai alat musik tradisional” ucap Key. “Nde, oppa”

Seohyun menarik kabel komputer lalu hendak mecolokkannya di stop kontak. “Jangan…. itu….” Drzzzzz…. zzzztttt… “AAAAAA” “Seo.. Seohyun!!” Key berteriak panik. Stop kontak itu memang sudah rusak dan konslet. Key menahan diri untuk tidak menyentuh Seohyun karena itu hanya akan membuat ikut tersetrum juga.

“Seohyun…” Key berusaha membangunkan Seohyun yang sudah pingsan karena tersetrum listrik. Cepat-cepat dia gendong Seohyun menuju ke rumah sakit. “Dasar kau babo Key!” ujar Key pada dirinya sendiri. Dia sangat cemas, panik, dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada Seohyun.

Seohyun langsung cepat-cepat dibawa ke UGD. Key mondar-mandir, menunggu denagn cemas. Dia menelepon sekolah dan memberitahu kejadian itu supaya bisa diberitahu pada orangtuanya Seohyun.

Drap!Drap! “Kau kibum-ssi? Bagaimana keadaan seohyun?” tanya seorang ahjussi, yang mungkin adalah appa-nya Seohyun. Tepat saat itu, dokter keluar.

“Bagaimana keadaan Seohyun?” tanya Key langsung. Dia dan orangtua Seohyun langsung mengerumuni dokter itu. “Dia tersetrum listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Saat ini, keadaannya sedang koma.” ujar dokter itu. Key tertunduk lemas.

“Butuh waktu yang lama baginya untuk pulih, karena sudah sampai mengenai sistem saraf pusatnya” jelas dokter itu lagi yang semakin menambah buruk suasana.

Appa-nya seohyun terlihat sangat syok. “Bolehkah aku menemui anakku?” pintanya. “Nde. silahkan” ujar dokter itu. Orangtua seohyun langsung masuk ke dalam menemui anak mereka.

“Andai aku tadi tidak menyuruhnya menyalakan komputer. Andai aku tadi memperingatinya. Argh!” sesal Key. Air matanya mulai menetes, benar-benar takut akan terjadi sesuatu pada Seohyun.

———–

Seohyun POV

Terang. Putih. Itulah kesan yang kudapat pertama kali saat aku membuka mataku. Aku tidak ingat apapun. Yang kuingat hanyalah, aku adalah yeoja bernama Seo Joo Hyun. Hanya itu.

“Seo joo hyun…” panggil seseorang. Suaranya sangat berwibawa dan mendamaikan hati. “Siapa itu?” tanyaku. Herannya, aku tidak takut sama sekali, padahal sekelilingku putih, bersih. Tapi, sangat indah dan damai.

“Ini Aku, Tuhan” ujarNya. Aku menengok, menatap sosokNya yang…. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kau harus melihatNya sendiri untuk mengetahuinya. “Aku… sudah mati?” tanyaku sedikit terpukul.

“Belum. Tapi hampir. Kau adalah roh sekarang. sebuah jiwa yang menunggu raganya. Dan selama menunggu itu, ada yang harus kau lakukan” ucapNya. “Apapun yang kauinginkan, Tuhan” jawabku.

Dia tersenyum hangat dan merangkulku. Berada dalam tanganNya, adalah sesuatu yang sagat menakjubkan. Seakan-akan, semua penderitaan di dunia itu tidak ada, semua beban terasa melayang. Aman, nyaman, dan hangat.

————-

Kyuhyun POV

Aku pulang dengan mengomel-ngomel. Aku masih kesal dengan kejadian dengan Yoona tadi. Mengapa dia begitu membela namja itu sih? Tapi, ada sedikit juga rasa bersalah karena sudah marah seperti itu padanya tadi.

Aku menaiki tangga sambil marah-marah. “Oppa!” panggil Sooyoung tiba-tiba, sudah berada di puncak tangga. Aku terkejut, dan langsung terjatuh berguling dari tangga.

BRUK! Aku terjatuh dengan bunyi gedebuk keras. Ouch… jangan sampai tulangku ada yang patah. “Ah… gwenchanayo?” tanya seseorang khawatir. “Gwe.. gwenchana” kataku sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menatap orang yang menanyakanku. Aku terkejut. Sosoknya kabur dan seperti transparan, tembus cahaya dan bersinar keemasan. Seperti seorang malaikat. “Apa aku sudah mati?” gumamku, bertanya-tanya apakah di koran akan ada berita “seorang namja tewas jatuh dari tangga karena dikagetkan oleh yeodongsaengnya”

-TBC-

Author keabisan kata-kata di bagian describe-in Tuhan, berhubung author belum pernah ketemu langsung. kekeke. Jangan lupa comment yah… dijamin chapter 5 bakal seru loh ^^

(Drabble) Broken Promise

Posted: March 1, 2011 in Uncategorized

Oke… Author proudly presents… BROKEN PROMISE, the story of Taeyeon and Leeteuk from Friendship Remedy. Happy reading ^^

Leeteuk POV

Aku sudah tak sanggup menahan air mataku. Setetes demis setetes, perlahan, lalu semakin lama semakin deras, air mataku jatuh membasahi pipiku. Kutatap dia yang sedang tersenyum manis, di dalam bingkai kaca sebuah foto. hatiku seakan hancur… remuk.. dan sebagian jiwaku sepertiya sudah pergi bersamanya.

Dia tidak menepati janjinya. Menepati janji bahwa dia akan menjadi orang pertama yang kutemui, setelah aku pulang dari wamil. 2 tahun sudah aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang… kenapa kami justru bertemu dengan cara seperti ini?

Pluk! Sebuah tangan diletakkan di bahuku. Aku menoleh, ke arah si pemilik tangan tersebut. “Yang tabah, hyung”. Itu sahabatku, Donghae, yang berusaha menenangkanku. Tapi kulihat, dia sendiri pun habis menangis. Aku melihat ke arah mereka semua. Ke-7 sahabatku, yang semuanya menangis tak karuan. Terutama Jessica, yang paling dekat dengan Taeyeon. Nde. Taeyeon… yeoja chinguku ini… yang sudah pergi mendahuluiku.

FLASHBACK

Author POV

“Kkaja!! Cepat dong!” seru Taeyeon tak sabar, pada teman-temannya. “Sabar, onnie! Leeteuk oppa kan sampainya masih 1 jam lagi” ucap Yoona sambil masih mantengin laptopnya.

Gee gee gee gee baby baby baby. HP Taeyeon berbunyi. “Yeoboseyo? Sooyoung-ah?” sapa Taeyeon lewat telepon. “Ah, nde” kata taeyeon lagi. “Yoona… ayo kita bersiap sekarang. Sooyoung dan Kyuhyun, juga Donghae dan Sica akan menunggu kita di terminal” kataku padanya.

Yoona mengangguk. Lalu, aku dan dia pergi ke kamar Minho. “Miiinhhhoooo!” seruku tak sabar. Tapi, belum selesai aku berteriak, dia sudah muncul di ambang pintu. “Kkaja!” seruku. Dia mengangguk lalu mengikutiku dan Yoona keluar.

Hari ini Leeteuk akan pulang dari wamil 2 tahun-nya. taeyeon, yang akhirnya berhasil sabar menunggu selama 2 tahun sangat bersemangat untuk bertemu lagi dengan namja chingunya.

“Waktu berjalan cepat ya” ujar Minho. “Nde. Sooyoung dan Kyuhyun… sudah menikah. Bahka sooyoung sedang hamil sekarang” jawab taeyeon. “Eeh? Sooyoung onnie sudah hamil?” seru yoona terkejut. “Nde. apa dia tidak memberitahumu? Baru 2 minggu yang lalu dia dikabarkan positif hamil” ujar taeyeon. “Aigoo… dia sebentar lagi akan jadi omma!” ucap Minho bahagia. “Yep. Dan kau akan dipanggil ahjussi nanti. Kekeke” ledek yoona. “Mwo? Ah, shireo! Aku pasti terlalu tampan untuk dipanggi ahjussi, Yoona ahjumma” ledek Minho balik. Kyuhyun sepertinya sudah berhasil meracuni namja kalem ini.

Mereka sampai di terminal. Disitu, sudah ada Donghae dan Sica. Mereka melambai pada suami-istri yang baru menikah minggu kemarin itu. Mereka menyempatkan diri menjemput leeteuk sebelm besok, akan pergi berbulan madu di Seattle.

“Donghae! Sica!” sapa Yoona ke arah mereka. “Ah! Annyeong!” sapa donghae. Sica dan Taeyeon berpelukan, sementara Donghae menjabat tangan Minho. “Ah, uri yoona sudah besar!” ucap Donghae. “Keke. bagaimana dengan kalian?” tanya Yoona. “Kami masih tinggal di rumah orangtua Sica. Tapi, sepulang dari Seattle, mungkin kami akan menyewa apartemen atau membeli rumah sendiri untuk keluarga baru kami” jelas donghae.

“Hei! Tuh kan sudah berkumpul semua!” seru Sooyoung, yang tiba-tiba datang. “Onnie!” sapa Yoona bahagia sambil memeluk onnie-nya itu. “Yoona-ah! Annyeong semuanya” sapa sooyoung balik. “Ehem… jadi… kalian ini calon appa dan omma?” ujar taeyeon. “Mwo??” ujar donghae dan sica terkejut.

“Omo! Apa kau hanya memberitahuku?” gerutu taeyeon. “Sooyoung… kau…” “yep. 2 minggu yang lalu dan sebentar lagi, aku akan dipanggil appa!” ujar Kyuhyun bangga. “9 bulan itu bukan waktu yang sebentar, Cho Kyuhyun” koreksi Sica.

“Sebaiknya kurangi permainan game kalian” nasehat Minho. “Uwaah… dongsaeng dilarang menasehati hyung-nya!” kilah Kyuhyun. “Wah, aku jadi penceramah sekarang, Minho” timpal sooyoung. “Ya! Minho benar! Bagaimana nasib anak kalian nanti? Kalau saat dia lapar, orangtuanya malah sibuk mengadu Winning Eleven!” omel taeyeon, yang gaya ahjummanya mulai keluar.

“Kekeke. Tenang saja onnie. Aku pasti akan menjaga anak ini dengan baik” ucap sooyoung, yang terasa naluri keibuannya. “Tentu saja! Anak ini harus jago bermain game seperti appa dan ommanya” timpal kyuhyun. “Ya!” omel Taeyeon, memukul pundak kyuhyun. “Bercanda… bercanda. Tentu saja akan kujaga anak ini! Biar sampai aku harus mati, akan kujaga dia dan istriku tercinta ini” ujar kyuhyun, gombal tapi tulus (?)

“Itu… Leeteuk kan?” tanya Yoona ragu, menunjuk ke seberang jalan, ke arah seorang namja yang baru saja turun dari bis. Seketika, mata taeyeon melebar. “itu dia!” serunya sangat bersemangat. Di pikirannya hanya ada Leeteuk, namja chingunya yang selama ini dia tunggu. Namja yang dicintainya, namja yang membuatnya berlari menyeberang jalan, namja yang membuatnya tidak memerhatikan apapun, termasuk mobil jip yang sedang melaju cepat.

“TAEYEON ONNIEEE!!! AWAAASSS!!” seru Sica, yang pertama kali menyadari. Tapi, terlambat. Perhatian taeyeon hanya tertuju pada leeteuk. Ckiiitt! BRUKKK!!!

End of Flashback

Leeteuk POV

Andai waktu itu aku menyelamatkannya. Andai waktu itu aku langsung menyeberang menghampirinya. Ini pasti tidak perlu terjadi. Aku pasti masih bisa bersamanya sekarang. Makan bersamanya, jalan-jalan, melepas kerinduan kami.

Aku sedang berjalan gontai menuju rumahku. Air mataku sudah terkuras habis sejak tadi siang, menyisakan mataku yang nanar dan bengkak. Ucapan semangat dan hiburan dari teman-temanku pun tidak mengurangi kesedihanku sedikit pun. Aku menghea napas, menatap langit malam.

Tring! Ada bintang yang bersinar. Tepat saat aku menatapnya, angin malam berhembus pelan, mengantarkan suara-suara rumput yang bergoyang dan gemericik air sungai Han. Tapi, ada suara lain. Oppa, maaf aku tidak menepati janjiku. Aku terpaku. Apa telingaku sudah tidak berfungsi seperti seharusnya atau bagaimana?

Aku hentikan langkahku. Berhubung sudah larut malam, sudah tidak ada lagi orang yang berlalu-lalang di jalanan. Aku kembali menatap bintang itu. Entah kenapa, sinar bintang itu begitu menarik perhatianku. Sekali lagi, angin itu berhembus. Oppa, berbahagialah. Aku tersenyum. Sambil memandang ke langit, ke arah bintang itu, aku berteriak “KIM TAEYEON! SARANGHAEEE!” Aku yakin, kalau aku bisa mendengarnya, dia pasti bisa mendengarku.

Dan… lirih.. selirih bisikan lembut, seperti bukan suara manusia, tetapi aku tau bunyi suara itu. Na do saranghae.

FLASHBACK

“Oppa, apa kau suka bintang?”

“Anni. Biasa saja”

“Hm, begini. Kalau suatu saat kau melihat bintang, dan sinar bintang tersebut membuatmu terus menatapnya, ingatlah. kalau bintang itu aku”

“Sejak kapan kau jadi puitis begini?”

“Ya! Aku serius, oppa! selamanya, ada ataupun tak ada, aku akan selalu berada di sisimu.”

“Sebagai bintang?”

“Sebagai bintang! Sebagai matahari, sebagai angin, air, bunga… sebagai semuanya. Hanya saja… bukan sebagai Kim Taeyeon”

 

comment-nya plis… akhir2 ini dikit yang komen… author jadi sedih 😦

abis ini author mau fokus kembali ke Melodies of Life… di chapt 4, bakal ada mulai konfliknya dan… cerita sebenarnya akan baru dimulai!

Melodies of Life chapter 4-The real beginning (teaser)

“Oppa, kenapa kau selalu menolongku?” tanya Seohyun. “Molla. Mungkin…. karena… aku mencintaimu” jawab Key lirih. “Mwo?”

———-

“Jangan… itu…” Drzzzzz…. zzzztttt… “AAAAAA” “Seo.. Seohyun!!”

———-

Aku terjatuh dengan bunyi gedebuk keras. Ouch… jangan sampai tulangku ada yang patah. “Ah… gwenchanayo?” tanya seseorang khawatir. “Gwe.. gwenchana” kataku sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menatap orang yang menanyakanku. Aku terkejut. Sosoknya kabur dan seperti transparan, tembus cahaya dan bersinar keemasan. Seperti seorang malaikat. “Apa aku sudah mati?” gumamku

———-