Archive for the ‘Oneshoot’ Category

Jessica’s POV

“Yah! Sica! Bangun!” seru sebuah suara yang familiar. “5 menit lagi, sooyoung…” ujarku malas sambil membalikkan badanku dan menutup kepalaku di bawah bantal. “Yah! Sica! Bangun sekarang!” kali ini Yuri yang berteriak. “Unnie bangun! Kita tidak ingin menghabiskan seharian cerah ini hanya untuk membangunkanmu kan!?” Kali ini maknae kedua yang berseru. “Jessica, wake up nowww!” seru Tiffany. “Perlu kuambil timun?” usul Taeyeon yang langsung kutanggapi dengan bangun dan spontan berdiri.

“Aku bangun! Aku bangun! Jangan pernah bawa benda hijau menjijikan itu!” seruku. Member-member yang lain sudah memenuhi kamarku dan hanya menggeleng-geleng kepala melihatku. Memang sangat sulit membangunkanku. Dan Seohyun kemarin-kemarin sudah menyerah sehingga meminta yang lain untuk membantunya membangunkanku. Trik membuatku tertawa tampaknya sudah tidak bekerja.

Selesai mandi, aku langsung menuju meja makan, tempat member lain sudah mengelilinginya. Aku memegangi kepalaku yang sejak semalam memang sudah pusing, dan semakin parah pagi ini. Wajah mereka tampak sangat bahagia. Ada apa ya? Batinku heran. “Sica… tanggal berapa ini?” tanya Taeyeon. Aku menatapnya bingung sebelum menangkap maksudnya. Untuk apa dia menanyakanku tanggal hari ini?

Tapi, aku tetap menatap kalender hari ini yang letaknya di seberang meja makan. Senin… tahun 2011. Bulan April… tanggal… 18? 18! “18… April 2011? omo!” ucapku kaget. Aku berbalik dan mereka sudah berdiri dengan kue tart coklat besar dengan tulisan “Happy birthday Jung Sooyeon” di atasnya. “Saengil chukkahamnidaa~~” mereka bernyanyi untukku.

“Gomawoyo semuanya…” ucapku terharu. Dari semua kesibukan-kesibukan kami mempersiapkan Mr. Taxi, dan hanya diberi libur 2 hari, mereka mengorbankan waktu istirahat mereka untuk mempersiapkan ini.

“Ini dariku… dan tiffany” ucap Taeyeon, memberiku sebuah bingkisan berwarna pink. SooRi juga memberiku sebuah kotak yang dibalut kertas kado lucu. YoonHyun memberikanku sebuah novel inggris. Sedangkan Sunny dan Hyoyeon mengatakan kado mereka adalah kue tart-nya, padahal yang membuatnya adalah semua member. Kekeke.

Aduh…. tapi… kepalaku pusing sekali. Perutku juga mual. “Unnie… gwenchanayo?” tanya maknae khawatir. Aku tidak boleh membuat mereka khawatir. Mereka sudah susah-susah menyiapkan semuanya, hadiah, dan kue, dan bahkan semu masakannya adalah makanan kesukaanku. Aku tidak boleh merusak kesenangan mereka. Jessica, kau tidak boleh egois.

“Gwenchana” jawabku, memaksakan sebuah senyum. “Aigo… kau harus bahagia, Jessie! Setidaknya hari ini~” ujar Yuri sambil merangkulku. Untung saja dia tidak menyentuhku, terutama bagian keningku secara langsung, atau dia akan tau betapa tinggi suhu badanku. “Nde. Kau harus ceria di hari ulang tahunmu!” ujar Sooyoung. “Aku ngantuk ….” ujarku pendek. Hening. Sica’s effect~ kekeke.

Ting! Tong! Bel dorm kami berbunyi. Yoona membukakannya. Lalu, masuklah 2 sosok yang sangat sangat familiar. “Donghae! Krystal!” ucapku, berusaha terdengar seceria dan sesemangat mungkin. “saengil chukkaeyo unnie!!” seru Krystal sambil memelukku lalu memberikanku hadiah juga. “Gomawo”

“Chagiya~ Saengil chukkaeyo…” kata Donghae sambil mencium bibirku, lalu memberiku sebuah kalung yang sangat indah. “Gomawo, oppa….” ucapku senang.

“Bagaimana kalau kita pergi?” usul Sunny. “Ne! Makan!!” Sooyoung berseru. “Jessica yang traktir!” seru Tiffany. “Mwo? Andwae! Aku tidak mau ikut” ujarku. “Aah.. mana mungkin kau tidak ikut? Ayolah Jess…” bujuk Yuri. “Unnie… kau tidak perlu traktir deh. Kkaja!! Kami bosan~~” rengek Yoona.

“Anni. Aku tidak mau. Kalian semua saja” ujarku. Aku tidak yakin akan kuat berjalan-jalan. Bisa-bisa aku pingsan. Sekarang saja rasanya sudah sangat menderita. “Ayolah…” “Jessica, kau kan berulang tahun hari ini!” “Sica, ayolah… apa salahnya pergi?” Mereka semua terus memaksaku. Bahkan Krystal dan Donghae pun juga.

Aku menjadi marah dan frustasi. “Aku bilang tidak mau ya tidak mau! Kenapa kalian memaksaku sih? Kalian pikir aku senang dipaksa-paksa seperti ini? Kalian merusak hari ulang tahunku saja!” seruku di luar kemauanku. Mereka semua tampak terpukul dan terkejut. Lalu sambil menangis, aku masuk ke kamarku.

“Sica…” panggil Sooyoung yang langsung menghampiriku dan duduk di sebelahku. “Gwenchanayo?” tanyanya. Aku tidak menjawab. “Aku minta maaf. Jeongmal mianhaeyo, kalau kami malah memaksamu dan merusak hari ulang tahunmu” ujarnya sedih. Aku masih tidak menjawab dan hanya menangis. Dia akhirnya menyerah dan keluar.

“Sica yeobo~” kali ini Yuri yang masuk lalu langsung memelukku. “Mianhae…” katanya. “Ada apa denganmu? Ini tidak seperti Jessica yang biasanya. Pasti ada yang kau sembunyikan. Beritahu aku” ujarnya. Aku menangis di pundak Yuri. Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku sudah membuat mereka sedih, membuat mereka marah. Padahal mereka semua sudah begitu baik. Teman, unnie, dan pacar macam aku ini?!

Yuri merangkulku lalu menggandengku untuk keluar lagi, tempat mereka semua berkumpul. Masih sesenggukan dan dengan langkah yang berat, aku keluar. Tiba-tiba… penglihatanku menjadi buram. Semuanya berputar lalu… gelap.

———–

Author’s POV

“Jessica!” seru semuanya panik saat Jessica tiba-tiba terjatuh dan pingsan. “Aigoo… badannya panas sekali…” ujar Taeyeon cemas. “Jadi, dari tadi dia menahan sakitnya ini? Aisssh.. unnie pabo…” gumam Krystal. Donghae langsung menggendong Sica dan membawanya ke mobilnya untuk segera ke rumah sakit. Mereka semua terdiam, diselimuti perasaan bersalah selama menunggu Jessica siuman.

Jessica’s POV

Mm… dimana aku? Pikirku heran. Kepalaku masih sangat sakit, tapi aku memaksakan untuk duduk. Aah.. suasana ini. Pasti rumah sakit. Lalu aku ingat, tadi saat aku berjalan keluar dari kamar… aah… aku pasti pingsan!

“Jessica!! Kau sudah siuman?” Tiba-tiba 10 orang berbondong-bondong memasukki kamarku. Untung saja kamarku ini VVIP. Jadi, cukup luas dan tidak ada pasien yang akan terganggu.

“Gwenchanayo?” tanya Donghae. Kekhawatiran tampak begitu jelas di matanya. “Ne. gwenchana.” gumamku. “Aku… mianhae… aku mengacaukan semuanya. Aku…” kata-kataku dipotong oleh mereka. “Kau tidak salah. Kami lah yang salah” ujar Taeyeon. “Kami memaksamu” tambah Yoona. “Kami seharusnya sadar kalau kau sakit. Tapi kami malah memaksamu” tambah Hyoyeon.

“Aissh unnie… harusnya kau bilang kalau kau sakit…” omel Krystal. Tampak seperti posisi unnie dan dongsaeng sekarang tertukar bagi aku dan Krystal karena dia mengomeliku. Kekeke. “Mianhae. Aku hanya… tidak ingin membuat kalian semua khawatir. Padahal kalian semua sudah susah payah menyiapkannya. Aku malah mengacaukannya” ujarku jujur.

“Aigo… ice princess kita yang berhati hangat ini… aissh… jinjja…” kata Sooyoung, lalu mereka semua memelukku. Agak sedikit sesak sih, dipeluk oleh 8 orang sekaligus, tapi.. pelukkan dari mereka sangat hangat. Pelukkan dari saudari-saudariku.

“Yah… mau bagaimana lagi. Kita rayakan di rumah sakit saja…” usul donghae sambil nyengir. Lalu, Sunny mengambil kue tart yang ternyata di bawa olehnya (?). “Make a wish~” seru yang lainnya. Aku menutup mataku. Tuhan, semoga aku bisa bersama-sama dengan mereka, selamanya. Lalu aku membuka mataku dan meniup lilinnya.

“Yeobo~ terima iniiii” seru Yuri sambil mencolekkan krim coklat ke pipiku. “Aissh… tunggu pembalasanku di dorm nanti kwon seobang!!” seruku. “Tapi… seobang-mu kan aku…” ucap Donghae sambil memelas. Sejak kapan dia belajar aegyo seperti sungmin? hmmm~ Aku hanya tertawa. Begitu pula mereka semua. Dengan adanya orang-orang yang bisa menghangatkanku ini, hatiku juga menjadi hangat. ~~

SAENGIL CHUKKAEYO JESSICA UNNIE, MY BELOVED ICE PRINCESS!!!

*nyalain confertti* *nyalain terompet* *nyalain kembang api*

cast: Eunhyuk. Hyoyeon, Sooyoung.

Hyoyeon POV

Aku masuk ke kelas, dan mood-ku langsung berubah begitu melihat orang itu. Cewek berperawakan tinggi denagn rambut panjang hitam bergelombang dan kaki indah yang membuat para lelaki tergila-gila. Tapi, aku membencinya. Oke, kata benci mungkin terlalu frontal. Pokoknya, aku tidak menyukainya. Isssh… Namanya adalah… Choi Sooyoung.

Mau tau kenapa aku tidak menyukainya? Hmm.. padahal, dulu, sekitar 5 tahun yang lalu, aku dan dia adalah sahabat dekat. Tapi, sesuatu mengubahnya.

FLASHBACK

Aku, Sooyoung, dan Eunhyuk sedang berlari-larian di taman. Tiba-tiba… BRUKK! Sooyoung terjatuh. Ckckck. Mempunyai kaki yang panjang tidak selalu menyenangkan. “Sooyoung… gwenchanayo?” tanyaku dan eunhyuk yang langsung menghampirinya. Eunhyuk ini adalah sahabat kami. Kami bertiga sangat dekat dan tidak terpisahkan. Dan aku… ehem… menyukai eunhyuk.

“Aish…” Sooyoung merintih kesakitan sambil memegangi lututnya yang berdarah. “Aigoo… kau berdarah.” kata eunhyuk cemas. “Gwenchana, hyukkie oppa” kata sooyoung sambil tersenyum. “Apanya yang tidak apa-apa? Ayo, cepat cuci lukamu, lalu diobati” katanya perhatian. Aku sedikit cemburu melihatnya begitu memperhatikan sooyoung. Sooyoung mencoba berdiri, tapi hanya untuk terjatuh lagi. “Aduh… pergelangan kakiku… keseleo” keluhnya.

“Wah…” Eunhyuk tiba-tiba menggendong sooyoung. Bridal style~ “waaa… oppa, turunkan” Sooyoung berseru. “Tapi kau kan tidak bisa berjalan” kata eunhyuk polos. Aku hanya diam saja melihat mereka. “Nde, nde. Tapi, kau menggendongku di punggungmu saja. Bukankah kalau begini berat?” kata sooyoung. “Nde. Tapi, kau sama sekali tidak berat kok” kata eunhyuk lalu menurunkan sooyoung. Kemudian sooyoung langsung merangkulkan tangannya di sekitar leher eunhyuk dan eunhyuk menggendongnya di belakang.

Aku melihat mereka dengan tatapan kesal. Nde, aku cemburu! Akhirnya, eunhyuk mengantar sooyoung pulang sambil menggendongnya. “Gomawoyo, oppa” kata sooyoung sambil tersenyum lalu memeluk eunhyuk. Eunhyuk terlihat kaget tapi tersenyum dan balas memeluk sooyoung. “Hati-hati, sooyoungie. Arasso?” kata eunhyuk. Sooyoung mengangguk lalu masuk ke rumahnya dengan langkah pincang, meninggalkanku berdua dengan eunhyuk.

“Eeh… hyoyeon…” kata eunhyuk, baru menyadari keberadaanku disana. Aku memaksakan diri memberikan senyum termanisku untuknya. “Oppa… menyukai sooyoung ya?” tanyaku. “Eeh…” pipi eunhyuk memerah. “Apa… apa terlihat jelas?” tanyanya khawatir. Aku tertawa melihat tingkah lucunya itu, padahal, di dalam hatiku, aku menangis.

Sejak saat itu, eunhyuk selalu membicarakan sooyoung saat dia bersamaku. Sooyoung, sooyoung, dan sooyoung! Dan sejak saat itu pula, diam-diam aku mulai menjaga jarak dan mulai membenci sooyoung. Hatiku sakit, setiap eunhyuk membicarakan sooyoung. Kenapa harus sooyoung yang menjadi cinta pertama eunhyuk? Kenapa bukan aku? Padahal, di sampingnya jelas-jelas ada seseorang yang selalu ada saat dia membutuhkanku.

“Hyoyeon-ah… temani aku ke mall yuk” ajak Sooyoung suatu hari. “Tidak mau!” ujarku dingin. “Ayolah hyo…” rengek sooyoung. “Issh… aku tidak mau!” seruku sambil dengan kasar menepis tangannya. Dia menatapku dengan melongo. “Ya!! Hyoyeon! Kenapa kau begitu pada sooyoung?!” bela eunhyuk. See? Seakan-akan hanya sooyoung yang paling benar.

“Aku hanya tidak mau! Jangan memaksaku! Kenapa sih eunhyuk, kau selalu membela sooyoung?! Dia bukan orang yang selalu benar!” seruku frustasi. Mereka menatapku bingung. Dengan bercucuran air mata, aku meninggalkan mereka. Sejak itu, hubunganku dan sooyoung tidak pernah sebaik dulu.

Suatu hari…

“Eunhyuk, kau mau kemana? Kenapa pada menangis?” tanyaku bingung, melihat eunhyuk dan sooyoung yang menangis di depan rumah eunhyuk. “Hyoyeon… hyukkie oppa… akan pergi ke Jepang. Dia akan meninggalkan kita” tangis sooyoung. Aku terkejut dan sedih. Spontan, aku langsung menangis. Eunhyuk memelukku. Pelukannya hangat dan nyaman. “Mianhae, semuanya. Tapi, aku yakin suatu hari, kita pasti akan bertemu lagi” ucap eunhyuk di tengah tangisannya.

End of flashback

Well… siapa yang sangka, suatu hari yang dimaksud eunhyuk itu hari ini? Aku sendiri pun tidak menyangka.

Sooyoung tersenyum sedikit ke arahku, yang kubalas dengan tatapan sinis. “Ckckck. Semakin hari semakin jadi saja. Setiap hari selalu bermesraan. Padahal, Onew itu ketua OSIS” ujarku sinis. “Ya! Tidak ada urusannya denganmu!” bentak Onew. “Wae? Kau iri? Makanya, cepat cari pacar” ledek sooyoung. Aku baru hendak akan membalasnya, saat sonsaengnim datang. Grrr… tunggu pembalasanku nanti!

“Harap tenang anak-anak!” seru sonsaengnim. “Hari ini, kita ada murid baru, pindahan dari Jepang. Nah, silahkan masuk” kata sonsaengnim. lalu, seorang anak laki-laki dengan rambut coklat gelap yang ditata berantakan, dan dengan wajah yang cute masuk. Omo.. omo… OMO!

“Annyeong haseo… Lee Hyuk Jae imnida. Kalian bisa memanggilku Eunhyuk. Manassobangapsumnida” katanya sambil tersenyum, lalu matanya melebar, melihat ke arahku dan sooyoung. “Hyo… hyoyeon? Sooyoung?” tanyanya tidak percaya.

“Eun… eunhyuk…” ujarku. Suaraku sepelan bisikan, berbeda dengan sooyoung yang langsung berteriak dan melompat berdiri. “Hyukkie oppa!!” serunya gembira. Dia pasti sudah berlari dan memeluk Eunhyuk kalau saja sonsaengnim tidak menegurnya dan menyuruhnya kembali duduk. Eunhyuk akhirnya disuruh untuk duduk 2 bangku di depanku.

Aigoo… Eunhyuk-ku… yang sudah 5 tahun tidak kulihat. Eunhyuk yang sangat kusayangi, bahkan sampai sekarang. Eunhyuk yang… merupakan cinta pertamaku, kini kembali lagi. Dan… eunhyuk tidak akan bisa bersama sooyoung lagi, karena sooyoung sudah bersama onew.

Kriiing… Bel istirahat~

Aku dan Sooyoung langsung menghampiri eunhyuk. “Aigoo… kapan kau kembali dari Jepang?” “Kenapa kau tidak memberitahuku?” “Bogoshippeoyo!” “Suatu kebetulan kita bersama lagi!” seruku dan sooyoung bersamaan. “Woo woo woo… tenang tenang…” Eunhyuk berseru sambil tersenyum. “Aku baru kembali dari Jepang kemarin. Akutadinya hendak memberitahu kalian hari ini, ternyata kita semua malah satu sekolah. Bahkan satu kelas!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Kau tambah tinggi saja, sooyoungie…” ujarnya sambil mengacak-acak rambut sooyoung. “Oppa juga bertambah tinggi dengan pesat! Padahal, dulu kau tidak sampai seginiku” katanya sambil menunjuk ke hidungnya.

“Sooyoung~” panggil seseorang. Sooyoung menengok dan langsung memeluk si pemanggil yang tak lain tak bukan adalah namja chingunya, Onew. Eunhyuk membeku di tempatnya melihat mereka berdua berpelukkan.

“Oh iya… Onew oppa, ini adalah hyukkie oppa, teman masa kecilku yang baru kembali dari Jepang” ujar sooyoung. Onew mengulurkan tangannya. “Lee Jin Ki imnida. Panggil saja Onew.” katanya sambil tersenyum. “Lee Hyuk Jae imnida. Eunhyuk” kata eunhyuk kaku. “Ngomong-ngomong… kau ini… siapanya sooyoung? Sahabat dekat?” tanya eunhyuk lagi.

“Ah… Onew oppa ini… nae namja chingu” ujar sooyoung sambil tersenyum yang membuat eunhyuk tampak sedikit syok. Tapi, eunhyuk cepat-cepat menutupinya. Aku menonton drama singkat ini dengan santai di sebelah eunhyuk. “O..oh… Chukkaeyo.. Aigoo… uri sooyoung sudah besar sekarang” ujar eunhyuk sambil mengacak-acak rambut sooyoung lagi. “Hyoyeon.. temani aku keluar sebentar. Aku masih belum mengenal sekolah ini. Annyeong onew, sooyoungie…” kata eunhyuk cepat-cepat lalu menarik tanganku.

“Jadi dia… namja chingunya Sooyoung?” tanya eunhyuk. “Nde. Mereka cocok ya? Sangat serasi” ujarku. Eunhyuk diam saja. Dia mendesah. “Kalau begitu… memang sudah tidak ada kesempatan untukku” ucapnya sedih. “Apa… kau masih begitu mencintainya sampai sekarang?” aku bertanya. Dia mengangguk sedikit. Apa… memang tidak ada kesempatan untukku?

Sejak itu, Eunhyuk sedikit menjaga jarak dengan sooyoung. Dia menjadi sangat dekat denganku. Dia bilang dia mau melupakan sooyoung. Tapi… tidak apa. Walaupun sebagai pelampiasan, aku bahagia bisa bersamanya. Karena aku.. mencintainya.

6 bulan sudah aku dan eunhyuk selalu bersama-sama. Tak terpisahkan. Bahkan, kami bertiga, Aku sooyoung dan eunhyuk, sudah seperti kembali ke masa kecil kami, saat kami selalu bersama-sama. Eunhyuk mengakui, dia sudah berhasil melupakan sooyoung. Dan aku pun… sudah tidak ada alasan membenci sooyoung lagi.

Sooyoung suatu hari bertanya kepadaku, apa aku salah makan obat. Dulu, tiba-tiba aku membencinya dan sekarang tiba-tiba aku tidak membencinya lagi. Aku hanya tertawa dan mengatakan padanya “Sudahlah, itu masa lalu.”

Lalu suatu hari, hari dimana aku paling berbahagia…

“Eunhyuk… apa kau benar sudah melupakan sooyoung?” tanyaku padanya. Dia menatapku. “Nde. Aku sudah bisa melupakannya” ujarnya. “Itu… waktu yang cepat untuk melupakan seorang cinta pertama” ucapku karena sudah bertahun-tahun dan aku masih belum bisa melupakan eunhyuk.

“Aku bisa melupakannya… karena… aku sudah mencintai seorang yang lain” ujarnya. Hatiku seakan tertusuk duri. Kini, siapa lagi sih yeoja yang beruntung itu? Saat eunhyuk sudah melupakan sooyoung… malah datang lagi seorang yang lain di hatinya.

“Wah… kau cepat jatuh cinta” ucapku, memaksakan sebuah senyuman. “Kekeke. Aku tidak bisa tidak mencintainya. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Dia bernama… Kim Hyoyeon” ucapnya sambil menatap dalam mataku. Mwo?? Apa aku tidak salah dengar?

“A… aku?” tanyaku. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Hyoyeon-ah… saranghae…” ujarnya. kata-kata yang selalu ingin aku dengar darinya. “Na… na do saranghae” kataku. Air mataku sudah mengalir keluar. Dia menghapusnya. “Aigoo.. kenapa kau menangis?” tanyanya. Aku menggeleng. “Aku hanya… sangat senang” ucapku. Dan sejak saat itu, aku miliknya dan dia milikku.

Tapi, suatu hari, ketika kami bertiga pergi ke taman, aku melihat eunhyuk terus menatap sooyoung tanpa berkedip. Oke, kuakui saat itu sooyoung memang sangat cantik. Tapi, apa eunhyuk harus menatapnya sampai seperti itu di depan yeoja chingunya?

“Kau… apa kau masih menyukai sooyoung?” tanyaku dingin padanya yang membuatnya terkejut dan menatapku. “Annio… aku sudah melupakannya. Aku hanya mencintaimu” katanya. “Tapi… cara kau menatap sooyoung…” Kata-kataku dipotong oleh pelukannya. “Na neon saranghae, Hyoyeon-ah… Percayalah padaku” ucapnya. Aku bisa mendengar ketulusan dari kata-katanya dan akhirnya aku mengangguk.

“Ah… apa kalian keberatan kalau aku mengajak Onew?” tanya sooyoung, membuat kami melepaskan pelukan kami. “Oh, gwenchana.” jawab eunhyuk. “Bagus!” seru sooyoung sambil bertepuk tangan dan tiba-tiba Onew sudah berada di sampingnya (?)

Jadi hari itu, kami ber-4 bisa dibilang.. umm.. apa yah itu sebutannya… date… date… ah! double date! Kekeke. Tapi, tidak sepenuhnya double date karena Onew dan sooyoung memisahkan diri untuk berjalan berdua saja. Jadi, tinggallah aku dan eunhyuk berdua di taman.

“Eunhyuk! Coba kau lihat it-” “Hyoyeon-ah…” panggil eunhyuk sambil menggenggam tanganku. “Hmm?” jawabku. “Panggil aku oppa..” ujarnya. “Wae? Umur kita kan tidak beda jauh” ujarku.

“Tapi aku ini kan namja chingumu!” protesnya. “Lalu?” tanyaku polos. Dia mencubit pipiku. “Pokoknya kau harus memanggilku oppa!” katanya ngotot. “Kalau aku tidak mau?” kataku juga ngotot. “Issh… kau ini…” gumamnya sambil cemberut. Aku tertawa melihat wajahnya yang lucu. “Coba saja kejar aku! Kalau kau berhasil menangkapku, aku akan memanggilmu oppa” tantangku. Lalu aku mulai berlari mengelilingi taman dengan eunhyuk yang mengejarku dari belakang.

Setelah beberapa menit berlari, aku menengok ke belakang. “Eunhyukk!!” seruku sambil menghampirinya yang jatuh terduduk di tanah. “Gwenchanayo?” tanyaku khawatir. Tapi, dia tersenyum licik dan menggenggam lenganku. “Nah.. kena!” serunya dengan nada kemenangan. “Ah… kau curang!” protesku. “Pokoknya aku sudah menangkapmu. Sekarang… panggil aku oppa” ujarnya. Aku akhirnya mengalah. “Nde, eunhyuk oppa…” kataku. Dia tertawa dan aku juga ikut tertawa.

Hidup terasa lebih ringan sekarang. Aku mendapatkan cinta pertamaku, dan aku sudah berbaikan dengan sooyoung sekarang. ~~

The end…

Ini dia… Oneshoot untuk Siwon. Berhubung di Story at Seoul dongsaeng-dongsaengnya, Sooyoung dan Minho udah punya pasangan, author bikin nih spesial untuk Siwon. Siapa couple-nya? Yup! Our Goddess, Im Yoona!

Siwon POV

Inilah aku, Choi Siwon. Berdiri di depan sekolah kesayanganku, Seoul School, sekolah terbaik di Seoul. Aku mendahului adik-adikku masuk ke sekolah. Sifat kasar adikku, Minho sudah sangat berkurang, sejak dia berpacaran dengan Yuri. Ternyata dia tidak sekuat yang kukira. Begitu mudah rapuh hanya karena cinta. Tapi, aku tidak akan seperti dia. Cinta itu menurutku tidak penting.

BRUKK! Ada yang menabrakku dari belakang. Hei! Ada yang berani menabrakku? Dengan sinis, aku menengok ke belakang, ke arah seorang yeoja yang menabrakku. “Ya! Jangan mengotoriku dengan menabrakku!” seruku marah padanya.

“Mwo? Mengotorimu? Maaf maaf saja, tapi aku yang kotor gara-gara menabrakmu!” serunya balik. Aku terkejut. Orang ini…. menyebalkan sekali! Hmm, aku mengenalinya. Dia ini Im Yoona, murid yang baru 3 hari yang lalu pindah dari London ke Seoul, dan 1 kelas dengan adikku, Sooyoung.

Dia ini putri pengusaha terbesar di London. dengan parasnya yang cantik dan tubuhnya yang sempurna, membuat semua namja menyukainya. Kecuali aku.

“Jangan sombong kau, Im Yoona!” seruku. Dia tertawa meremehkanku. “Sombong? Sedang membicarakan dirimu sendiri, Choi Siwon? Aku jelas lebih baik darimu!” ucapnya. Oke, aku lupa memberitahu sesuatu. Dia ini, juga sombong! Hm, mungkin sama sepertiku.

“Mimpi dari mana kau lebih baik dariku? Cih!” balasku. “Jangan belagu. Kau ini hanya orang yang tidak bisa apa-apa, hanya bergantung pada orangtua” katanya. Oke, aku mulai panas sekarang. “Jangan sembarangan bicara! Memangnya kau sendiri tidak? Hanya bayi manja yang masih dipakaikan popok oleh omma-nya saja bangga!” seruku.

Wajahnya memerah karena marah. “Kau….” Tapi, pertengkaran kami dipotong oleh 2 pahlawan sekolah ini, Sooyoung dan namja chingunya, Onew yang selalu berhasil menangani keributan apapun. “Lebih baik kalian hentikan tingkah kekanak-kanakan kalian dan masuk kelas.” ucap Onew. “Daaaan… Siwon oppa! Aku tidak mau melihat yeoja lain yang menangis LAGI karena tingkahmu” kata adikku.

Aku memang selalu menurut pada adikku. “Nde, sooyoung” jawabku, langsung menurut. “Aku salah. Kau bukan bergantung pada orangtuamu, tapi pada adikmu. Dan itu lebih parah” ujar Yoona. Aku langsung menatapnya tajam. “Sudahlah, yoona. Hentikan!” ucap Sooyoung, membungkam Yoona.

Akhirnya, kami dengan angkuh menuju ke kelas masing-masing. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Karena, hari-hari sebelumnya, kami jarang sekali bertemu.

BRUKK! Seseorang menabrakku lagi. Hei! Apa hari ini itu hari menabrak Siwon sedunia? “YA!! Dasar orang miskin! Apa kau buta, hah?” seruku, yang memang sedang panas, ditambah lagi dengan orang satu ini. Rupanya, dia anak kelas 1. Sial! Junior saja sudah berani macam-macam!

Aku masuk ke kelas dengan marah-marah. Benar-benar hancur mood-ku hari ini! Dan ini semua gara-gara gadis sombong dan menyebalkan itu… Im Yoona!

KRIIING! Sampai pulang sekolah, mood-ku belum berubah juga. Bahkan sudah 2 yeoja yang menangis, gara-gara kuhina habis-habisan. Aku langsung keluar dari gerbang sekolah, tidak menunggu Sooyoung yang sedang dihukum gara-gara tidak mengerjakan PR bersama Kyuhyun, atau Minho yang sedang berduaan dengan Yuri.

Aku memasuki rumah dengan disertai omelanku pada pesuruh-pesuruhku. “Bagaimana sih? Dasar gembel!” omelanku terhenti, saat aku melihat ke ruang tamu. Disitu… ada orangtuaku! Seketika mood-ku langsung naik. Jarang sekali orangtuaku ada di rumah. Dua-duanya.

Sambil menampilkan wajah ceria dan tersenyum lebar, aku menghampiri mereka. “Omma! Appa!” sapaku. “Siwon-ah! Ayo duduk. Kita ada tamu” kata appa. Aku melihat, ada 3 orang lagi yang duduk berhadapan dengan orangtuaku. Salah satunya memakai seragam sekolahku. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia duduk membelakangiku.

“Im-ssi, ini putra sulungku, penerus Choi company, Choi Siwon.” kata appa memperkenalkanku. “Annyeong hase…” kata-kataku terputus, melihat siapa orang yang memakai seragam sekolah yang sama denganku itu. “Si… siwon??” serunya terkejut. “Yoo… yoona??” seruku, tak kalah terkejut.

“Ah… kalian sudah saling kenal rupanya.” kata si tamu itu, yang kuduga pasti appa-nya Yoona. “Ngg… kami 1 sekolah, appa” jawab yoona. “kalau begitu, ini semua akan jadi lebih mudah” kata appa-nya Yoona.

“Apa yang akan jadi lebih mudah?” tanyaku curiga. Aku punya perasaan tidak enak dengan apa yang akan terjadi. “Nah, kalau begitu langsung saja. Choi Siwon, kau akan bertunangan dengan Im Yoona” kata appa-ku.

“MWOO??” seruku dan Yoona bersamaan. Aku sangat terkejut. Apa mereka semua sudah gila? Menjodohkanku dengan… dengannya! Ah, anni.. anni… ini tidak boleh terjadi!

“Tapi… tapi, appa tidak bisa seperti ini. Aku dan dia tidak saling mencintai. Bahkan kami saling membenci. Iya kan? Hei! Katakan sesuatu!” ucapku gusar pada Yoona, yang dari tadi hanya diam saja. “Yoona… kau sudah tidak bisa menolak” kata appa-nya. Yoona hanya menunduk dan mengangguk.

“Kau juga tidak bisa menolak, Siwon! Sekarang pergilah ke halaman belakang, mengobrollah dengan yoona untuk saling lebih mengetahui satu sama lain” perintah appa-ku dengan tegas. Aku hendak membantah, tapi akhirnya dengan gontai pergi ke halaman belakang melihat tatapan tajam orangtuaku. Sial! Kenapa jadi begini, sih?

“Hei! Kenapa kau tidak menolak tadi?” seruku marah padanya. Kami sedang duduk di halaman belakang rumahku, menatap hamparan biru jernih air kolam renang di rumahku. Dia hanya diam saja. Kuputuskan untuk mennegok ke arahnya dan…

Dia menangis! Aku bingung, kenapa dia sampai menangis.Padahal, aku kan hanya bertanya seperti itu padanya.

“Eeh… mianhae. kenapa kau malah menangis?” tanyaku bingung. Dia mengelap air matanya. “Ah.. gwenchana. Aku…” Dia mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh. Aish… kenapa aku jadi tidak tega melihatnya menangis? Padahal entah sudah berapa yeoja yang kubuat menangis karena kata-kata pedasku.

“Ceritakan saja. Kalau itu bisa membuatmu lebih tenang” kataku, bahkan diluar kemauanku sendiri. Dia menatapku kebingungan, tapi kemudian tersenyum sedih. Hm, dia lebih cantik saat tersenyum dengan bahagia, pikirku.

“Dulu… appa sempat menjodohkanku. Tapi, aku mati-matian menolak, karena aku mencintai orang lain. Aku bahkan kabur dari rumah. Akhirnya appa menyetujui, tapi dengan syarat kalau namja yang kupilih tidak baik, aku tidak boleh menolak lagi kalau dijodohkan. Aku sangat percaya padanya saat itu, tapi…” yoona menghela nafas, lalu melanjutkan

“Ternyata dia… hanya memanfaatkanku. Setelah mendapat hartaku, dia mencampakanku.” Yoona sudah tidak menahan tangisannya lagi sekarang. Semua air matanya tumaph keluar. “Jadi… aku…” Aku sudah tidak tahan. Aku merangkulnya, mengusap-usap kepalanya.

“Sudahlah. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Namja itu memang sangat berengsek. Tak usah ingat dia lagi. Jalani saja yang ada sekarang” ucapku menenangkannya. “Kupikir… kau membenciku?” tanyanya sambil sesenggukan.

Aku mengusap air matanya. “Yah, kupikir begitu. Tapi, kurasa tidak. Kau tidak seburuk itu. Dan lagi…” aku menggantung kata-kataku. “Dan lagi?” tanyanya. Aku tersenyum. “Kau ini cantik kok” kataku tulus, membuatnya terseipu. Oh, wow! Baru kali ini aku memuji seseorang, apalagi orang itu sempat menjadi musuhku dan mengacaukan hariku.

“Apa kau membenciku?” tanyaku padanya. Dia menggeleng dengan kuat. “Bagus. Mengingat kita akan hidup berdampingan, entah apa jadinya kalau kita saling membenci” ucapku. “Kau… menyetujui perjodohan itu?” tanyanya kaget. Heh.. aku menyetujui perjodohan itu? “Hm, mungkin tidak ada salahnya. Yaah… kau tidak buruk-buruk amat kok.” ucapku.

Dia tersenyum melihatku. Ah, baru kusadari betapa cantik wajahnya itu! “Namja itu. Apa kau masih mencintainya?” tanyaku. Dia terdiam. “Molla. mungkin…” katanya. Aku menarik kepalanya ke bahuku, membuatnya menyender di pundakku. “Lupakanlah dia. Akan kubuat kau bahagia bersamaku” kataku, terlalu gugup untuk menatap matanya. Argh, kurasa aku sudah terjebak dalam pesonanya.

Dia mengangkat kepalanya dari pundakku. “Janji ya?” katanya, sambil mengecup pipiku, yang berhasil membuat seluruh wajahku memerah. “Tentu saja” ucapku.

——-

Adik-adikku begitu bersemangat, saat aku menceritakan kejadian tadi pada mereka. Terutama sooyoung, yang mengetahui bahwa hari itu juga, aku dan yoona bertengkar. “Tapi… kau tidak romantis ya hyung?” kata Minho. “nde. sangat tidak romantis” timpal sooyoung.

“Lalu.. aku harus bagaimana?” tanyaku polos. “Ah! Begini saja…” Minho dan Sooyoung membisikkan ide mereka padaku. Hm, bukan ide yang jelek!

——-

Inilah aku, Choi Siwon, berdiri di depan sekolah kesayanganku, sekolah terbaik di Seoul, Seoul School. Hari ini adalah hari yang baru untukku. Dan mungkin, hari yang baru untuk Choi bersaudara juga.

“Sooyoung! Minho! Kau siap?” tanyaku pada adik-adikku yang memberi tanda siap dari belakang. Aku berdiri di depan podium sekolah. Nah! Itu dia sudah datang! Aku jadi berdebar sendiri.

“Aku…” aku memulai kata-kataku, dengan mikrofon, suaraku terdengar ke seluruh penjuru sekolah, membuat semua orang memerhatikanku dan bertanya-tanya apa yang hendak kulakukan.

“Aku ingin mengatakan bahwa, Aku, Choi Siwon akan merubah sikapku. Mianhamnida pada semuanya. Pada semua yeoja yang telah kubuat mennagis. Terutama, pada Jaebum. Hey, jay! Kumohon, maafkan aku. Aku janji tidak akan menjelek-jelekan yeoja-mu, si Jessica dan adiknya, Krystal. Kalau perlu, aku akan memuja mereka setiap waktu, untuk mendapat restu darimu” kataku pada Jaebum. “Restu? Restu apa?” teriaknya padaku. Jaebum ini, adalah sepupunya Yoona. Jadi penting untuk membina hubungan baik dengannya, setelah sebelumnya kami berkelahi gara-gara aku menghina pacarnya.

“Restu untuk…” aku menggantung kata-kataku dan menengok ke belakang. “hey… 1,2,3” bisikku pada Sooyoung dan Minho.

PAATS! Semua lampu padam di koridor dan di seluruh bangunan sekolah. BLUSS! Seribu balon berbentuk hati berwarna pink diterbangkan ke langit bebas. Lalu… TRING! Sentuhan terakhirnya, Serangkaian lampu kelap-kelip menyala di gedung sekolahku, bertuliskan SARANGHAE IM YOONA.

“Yoona-ah… will you engage me?” tanyaku, membawa mikrofon dan berlutut di hadapannya. Yaah… kata-kata seharusnya memang will you marry me, tapi, karena kita baru akan bertunangan, jadi kuganti kata-katanya.

“Kalau kau mau, ambillah mikrofon ini, dan katakan kalau kau bersedia. Tapi, kalau kau menolak, buang saja mikrofon ini” kataku padanya, sambil memejamkan mataku, tetap berlutut di hadapannya. Sejenak hening… tidak ada yang bersuara atau bergerak.

Dia mengambil mikrofon dari tanganku. Hatiku berdebar-debar. Entah apa yang ada dalam dirinya, yang bisa membuatku menyukai ah anni… mencintainya dalam kurun waktu 1 hari.

BRAK! Dia membanting mikrofon itu ke tanah. Aku bersumpah saat itu jantungku berhenti berdetak seiring dengan mikrofon itu yang menyentuh tanah. Pupus sudah harapanku.

Aku sudah hendak bangkit… saat kurasakan bibir yang lembut menempel di bibirku. Aku terkejut, membuka mata dan kulihat wajah Yoona, menempel tepat di depan wajahku. Aku membalas ciumannya. Hm, seingatku tadi aku tidak memberikan pilihan ‘ciuman’.

“Jadi… apa artinya itu?” tanyaku padanya. Dia tersenyum padaku. “Artinya… aku tidak akan bertunangan denganmu, Choi Siwon. Aku akan MENIKAH denganmu” katanya. Aku tersenyum bahagia dan memeluknya. Cklik! Cklik! Adik-adikku mengabadikan momen itu. Semua persiapan yang sudah kupersiapkan, semalaman, sampai aku tidak tidur, rasanya semuanya terbayar dengan pantas.

“Hei… siapa bilang aku merestui kalian?” kata Jaebum, mengagetkan kami. “Oppa!” rengek Yoona. Aku terdiam. AKu berlutut di hadapannya, dan bahkan dihadapan Jessica dan Krystal. “Maafkan aku. Kumohon. Akan kulakukan apapun.. supaya kalian memaafkanku” kataku, dan melakukan hal yang paling hina yang pernah kupikirkan. Bersujud memohon di hadapan mereka.

“Hei, bodoh!” ucap Jaebum, menarikku berdiri. “Tentu aku merestuimu, asal…” katanya. “Asal apa?” tanyaku dan yoona. “Ckck. Kalian ini harus membayar kesombongan kalian tau!” seru Jaebum sambil tersenyum licik.

——-

“Nah, mau kubelikan minum apa NYONYA?” tanyaku pada Jessica. “Capucinno, kamsahamnida” katanya sambil tersenyum. “Ada lagi yang bisa kubantu, NYONYA?” tanya Yoona, pada Krystal. “Ah, annio onnie” katanya.

Aku dan Yoona harus menjadi ‘pelayan’ Jessica dan Krystal selama 1 minggu. Kini, aku menyadari, kesombongan itu tidak perlu, karena ternyata, walaupun miskin, Krystal dan Jessica dan murid-murid lain yang kuhina itu teman yang baik, pengertian, dan juga berbakat.

Walaupun menjadi pelayan seperti ini, kami melakukannya dengan senang. Selama kami terus bersama, tidak sabar menunggu minggu depan, saat pertunangan kami dilaksanakan. Kalau sempat, datang ya! Kekeke ^^

 

don’t forget your comments guys…~ and… abis ini author bakal bikin oneshoot-nya taeyeon-leeteuk yg gak diceritain sama sekali di Friendship Remedy, baru abis itu lanjutin yang Melodies of Life. Support me please >.<

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Changmin POV

18 Februari ya? Hmm… 23 tahun yang lalu, aku lahir di dunia ini. Ahh… aku menghela napas panjang. Banyak yang sudah terjadi.

Flashback peristiwa-peristiwa masa lalu bersama DBSK terputar dalam otakku. Bagaimana pertama kami debut, lalu sukses menadi boyband no. 1 di Korea Selatan, bagaimana kami tampil bersama artis SM lainnya, bagaimana kami menghabiskan waktu senggang kami bermain bersama di dorm.

Aku benar-benar merindukan Jaejoong hyung, Junsu hyung, dan Yoochun hyung. Mereka semua sudah seperti saudara kandungku sendiri.

“Changmin…” panggil Yunho hyung, melihatku yang terus melamun memandang keluar melalui jendela. “Eeh.. wae-yo hyung?” tanyaku. “Hey, ini kan ulang tahunmu! Kau seharusnya bersenang-senang! Ayo kita ke kantor SM” ajaknya. Aku tersenyum, melupakan sejenak tentang JYJ dan mengikuti Yunho hyung.

Di kantor SM, tak henti-hentinya orang-orang menghampiriku untuk mengucapkan kata-kata yang sama. “Saengil chukkahamnida” kata mereka. Aku membalasnya dengan senyum.

“Oppa! Happy birthday!” seru Jessica, salah satu member SNSD, menghampiri dan memelukku. Ehem, hubunganku dan dia ini rahasia. Sangat rahasia. Mengingat kami adalah artis dalam agensi yang sama dan kalau fans dan media tau tentang hubungan kami, tamatlah riwayat kami.

“Gomawo, chagiya” kataku sambil tersenyum. Dialah yang bisa membuatku tetap tersenyum, tegar dalam menghadapi semua rintangan dalam karir dan hidupku. Member SNSD yang lain juga menyalamiku. Lalu muncul member-member Shinee dan f(x) yang juga memberikan selamat padaku.

Mereka semua sibuk sekali hari ini, sehingga aku hanya merayakan ulang tahunku bersama Yunho hyung. Itupun hanya sebatas makan-makan bersama. Tapi, mendamat ucapan dari keluarga SM rasa-rasanya sudah lebih dari cukup bagiku.

Aku keluar dari kantor SM, memutuskan untuk mencari udara segar, meninggalkan Yunho hyung yang asik mengobrol dengan Hyoyeon.

“Changmin oppaaaa! Saengil Chukkahamnidaaaa!” seru para cassie, begitu aku keluar dari kantor SM. Para penjaga mencegah mereka mendekatiku, tapi, aku berjalan mendekati mereka, melambaikan tanganku dan tersenyum pada mereka.

“Gomawo yo semuanya” ucapku. Mereka berdesak-desakan memberikan hadiah padaku. Dan, dalam beberapa detik, segunung hadiah sudah ada di hadapanku. Aku menatapnya terharu.

“CHANGMIN, HWAITTING! TVXQ DAEBAK! WE LOVEEE YOUUU” koor para cassie bersama-sama. Mereka, para cassie inilah yang membuatku dan Yunho hyung masih bisa bertahan sampai sekarang dan terus berkarya. Mereka selalu setia mendukung kami. Tanpa mereka, aku bukan apa-apa.

“Jangan bersedih, oppa! Kau memiliki kami!” teriak salah satu cassie. “Nde. Kami akan selalu mendukungmu!” sahut yang lain. “Changmin oppa, saranghaeyo!” teriak beberapa cassie. Aku menatap mereka dan tersenyum pada mereka.

“Gomawo, cassie. Na do saranghae” kataku tulus, disambut teriakan histeris mereka. Neo nareul mwonhae. Neo naege bwajyo. Neo naege michyeo. HP-ku berbunyi.

Aku menatap 3 SMS yang kuterima itu. Aku mengangkat alisku penuh keterkejutan. Lalu, perlahan senyumku mengembang. Aku menatap HP-ku terharu.

TAP! “Yunho hyung!” kataku terkejut, melihat Yunho yang sudah di belakangku menepuk pundakku pelan. “Kau sedang apa?” tanya Yunho hyung.

“Yunhooo oppaaa! Itu U-know Yunho!” seru para cassie histeris. Yunho hyung tersenyum dan melambaikan tangannya sedikit. “Ayo, masuk. kkaja!” katanya. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Bantu aku membawakan hadiah-hadiah ini ya” kataku padanya. “Tapi, setengahnya untuku” ucapnya sambil tersenyum licik.

“Annio! Ini MILIKKU!” seruku. Dia tertawa. Para cassie mengambil kesempatan ini dan memotertnya terus-terusan saat dia tertawa. “Bercanda, changmin-yah. Kkaja!” katanya, membantu membawakan hadiah-hadiahku sehingga tangannya penuh dengan kado-kado dari para cassie.

Aku membawa sisa kado yang masih tertumpuk. Aku terkejut, saat ada tangan yang membantuku membawakan hadiah-hadiahku.

“Ssica-ah!” ujarku saat sosok manis itu berdiri di sebelahku membawakan hadiah-hadiahku. “Wah, kau dapat banyak sekali hadiah, oppa” ujarnya sambil tersenyum. Aku merasa orang yang paling beruntung, karena bisa mendapatkan senyum hangat dari seorang ice princess ini.

“Kekeke. Kau bahkan tidak memberiku satupun” kataku, pura-pura ngambek. Kami masuk kembali dalam gedung SM. CHU~ Ssica mencium bibirku. Hanya beberapa detik saja memang, takut kalau orang lain melihatnya.

Aku menatapnya heran. “Itu cukup kan? Itu hadiah dariku” katanya, mengedipkan mata ke arahku. Aku tersenyum nakal padanya “Annio. Itu tidak cukup!” kataku.

“Eeh??” tanyanya terkejut. Aku mencium keningnya “Itu tidak cukup. Beri aku lagi nanti ya saat di dorm” kataku lagi. Dia menatapku sambil tersenyum simpul.

Dia menarikku ke pojok ruangan kosong. Sekilas kulihat Yunho hyung dan Hyoyeon sedang berciuman. Aku menarik Ssica ke dalam pelukanku. Wajah kami semakin dekat. Aku bisa mencium wanginya, merasakan napasnya mengenai wajahku.

Jarak wajah kami tidak lebih dari 1 cm, lalu… Aku menghapus jarak itu diantara kami dengan menempelkan bibirku ke bibirnya. Aku menciumnya dengan lembut, dan kali ini lebih lama. Lebih menghayatinya.

Kulitnya halus. Bibirnya lembut. Aku meletakkan tanganku di pinggangnya, sementara tangannya dia letakkan di tengkukku. Setelah merasa cukup, aku melepaskannya.

“Nah, itu baru cukup. Ini adalah kado terindah” kataku padanya. Dia tersenyum dengan sangat manis.

“Jessica!” panggil Sooyoung. “Ayo, cepat latihan!” tambahnya sambil tersenyum licik ke arahku. Sial! Orang itu… jangan-jangan tadi dia melihatku dan Ssica…

“nde” jawab ssica. “Annyeong oppa!” ujar ssica, melambaikan tangannya, menuju ke tempat 8 saudarinya menunggunya.Aku balas melambaikan tanganku padanya.

Kutatap lagi layar HP-ku, yang belum ku-exit dari inbox, menatap kembali 3 SMS yang tadi membuatku senyum-senyum sendiri. Yunho hyung tiba-tiba sudah berada di sampingku, merangkulku. Dia ikut melihat SMS-ku dan tertawa saat membacanya.

“Hyung… ini hari ulang tahun terbaikku” kataku.

“Hey, changmin. Happy birthday. Jangan lupakan aku ya. Walaupun kita sudah berpisah, aku tetap mencintaimu! Walaupun yang paling kucintai adalah Yun hyung… kekeke xP -Jaejoong Kim~”

“Maaaxxxx! Saengil Chukkae, my tall evil! Ya! Sayang sekali aku tidak bisa merayakannya bersamamu. Padahal, aku ingin membalas perbuatanmu saat kau mengerjaiku saat ulangtahunku. Hwaitting, changmin-ah 🙂 -Yoochun Park ^^”

“Choi Kang Chang Min. Saengil Chukkahamnida. Walaupun keadaannya sudah berbeda, aku harap kau dan Yunho tidak membenciku, dan yang lain. Kami akan terus mendoakanmu. -Junsu Kim”

Huaaa… bener-bener kangen sama dbsk ber-5 😦 kemaren sampe nangis liat2 MV mereka… TVXQ hwaitting! xD

anw, changmin oppa ngerayain ultahnya bareng artis2 SM and yg jadi MCnya Minho oppa… kekeke ~

 

 

(drabble) Surprise!

Posted: February 10, 2011 in Friendship, Oneshoot
Tags: , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Sooyoung POV

Hoammm.. dengan masih sedikit mengantuk aku membuka mataku. Aku lelah sekali, setelah kemarin ke Cina, hanya untuk menemui Hankyung oppa, untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya, dan sampai di dorm malam sekali bersama Taeyeon dan Jessica.

Kutengok ranjang Jessica, yang 1 kamar denganku. Kosong. Tumben sekali anak itu sudah bangun? Kruyuuukk… Nde. inilah alasanku bangung. Aku lapaaaar sekali!

Aku keluar menuju dapur, berharap Hyoyeon sudah memasak untuk kami. Dan, kulihat semuanya sudah duduk rapi di meja makan, sedang memakan sarapan berupa roti bakar mereka TANPA MEMBERITAHUKU!

“ya! Kalian jahat sekali! Kenapa tidak membangunkanku?!” seruku, tapi tidak ada yang menjawab. Mereka terus saja melahap makanan mereka, seakan-akan aku ini tidak ada.

Aku duduk di kursi yang kosong, di sebelah Yoona. “Hyoyeon! Mana makananku?!” seruku, melihat piring kosong di depanku. “Masak saja sendiri” katanya dingin.

Aku melongo menatapnya. Ada apa dengannya? Aku menatap yang lain, mereka semua juga diam saja. “Tapi… kau tau kan aku tak bisa masak?” ucapku.

“Seohyun-ah…” panggilku, berharap magnae angel ini mau membantuku. “Aku sudah selesai. Mau pergi dengan Yonghwa oppa dulu” ucap magnae itu, mengabaikanku, lalu berjalan pergi.

“YA! ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA??! APA SIH SALAHKU?” seruku marah, apalagi saat keadaan capek dan lapar begini, semakin menambah emosiku.

“Pikir saja sendiri” sahut Yuri. Yoona mengangguk setuju. Dengan marah dan bingung, aku masuk ke kamarku. Ada apa sih dengan mereka semua?

Aku duduk di ranjangku. Berusaha mengingat-ingat apa kesalahanku sampai mereka mendiamkanku seperti itu. Tidak ada kok!

Paling, aku hanya memakan jatah makan malam yoona, membuat kesalahan saat tampil di Mubank, mengambil tanpa ijin peralatan spa Sunny, menyembunyikan high heelsnya tiffany, dan membangunkan Jessica tengah malam untuk menemaniku ke toilet. Itu saja kok!

Aku memutuskan untuk keluar, bertanya pada mereka. Saat keluar, kulihat dorm sudah sepi. Sangat sangat sepi! Tidak ada 1 manusia pun, padahal 15 menit sebelumnya mereka masih di meja makan.

Aku akhirnya keluar dari dorm, berjalan menuju kantor SM. Mungkin saja ada latihan tapi mereka tidak memberitahuku?

BRUKK! “Ah, mianhaeyo sooyoung-ah” kata Siwon, yang menabrakku. “Gwenchana, oppa” kataku. “Mau kemana oppa?” tanyaku, karena dia tampak sendirian berjalan-jalan di kantor SM.

“Mencari member yang lain.” katanya. “eeh? Aku juga” kataku.

FLASHBACK

Siwon POV

“Pagi semuanya!” sapaku pada teman-temanku yang mempunyai aktivitas sendiri-sendiri. Kyuhyun yang sedang main game, Heechul, Shindong, dan Eunhyuk yang sedang browsing, Leeteuk, Yesung, dan Sungmin yang sedang makan, Ryeowook sedang memasak dan lain-lain.

Tapi, mereka semua tidak ada yang menjawabku. “Pagi!” teriakku lebih kencang. Mungkin mereka tidak mendengarku, pikirku polos. “Berisik kau!” seru Heechul dengan kejam.

“Eeh…” aku hendak memprotes, tapi mereka semua tidak ada yang menghiraukanku, seakan-akan aku itu tidak ada.

“Kalian kenapa sih?” tanyaku bingung. “Pikir saja sendiri!” seru Sungmin dengan kejam. Aku hanya melongo. Ada apa sih dengan mereka ini?

“Aku lapar. Ryeowook! Kau masak apa?” ujarku, melangkah ke arah ryeowook. “Haah…” desahnya kesal lalu berjalan meninggalkanku. “Kau ini, bikin bete saja” ucap si magnae tanpa melihat ke arahku, masih terfokus pada game-nya. “Mwo?? Yang bikin bete itu kalian tau!” seruku. Yang lain hanya memandangku sinis.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mandi daripada mengurusi mereka. Ahhh.. segarnya. Suasana sangat hening. Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar dan, treng! Kosong. Mereka semua kemana sih?

Aku berjalan menuju kantor SM. Habis, mau kemana lagi? Aku mencoba mencari-cari ke-9 member lain, tapi nihil. BRUKK! Aku malah menabrak Sooyoung.

“Nde. Member SNSD yang lain juga sangat aneh hari ini” cerita sooyoung. Dia dan Siwon kini sedang berjalan-jalan di tempat yang sepi, menghindar dari banyak orang. Gawat kalau ada media yang menyorot mereka.

“Apa kita melakukan kesalahan ya?” gumam Siwon. “Molla, oppa. Kemarin masih baik-baik saja kok” ucap sooyoung. “Oh. Bagaimana dengan Hangeng? Apa kabarnya?” tanya Siwon antusias.

“Dia baik. Kemarin kami senang sekali bertemu dengannya. Sepertinya dia juga. Sampai larut malam kami baru tiba di Korea” cerita Sooyoung panjang lebar. Siwon manggut-manggut. “Aku merindukannya” ucap Siwon. “Nde. Aku sangat sangat merindukannya” sahut sooyoung.

KRUYUUUKKK… Siwon dan Sooyoung saling berpandangan. Perut mereka berdua sama-sama belum terisi sejak pagi. “Ini alasan yang paling tepat untuk membeli makan kan?” ucap Siwon. “Nde. Tapi, bagaimana kalau ada fans yang melihat?” tanya sooyoung khawatir.

“Aku akan menyamar dan membelinya. Kita makan disini saja” ucap Siwon. Dia mengenakan topi dan kacamata hitam, menempelkan kumis palsu, dan berjalan mencari kedai makanan.

“Ah, ini gara-gara Hyoyeon tidak mau memasak untukku!” keluh sooyoung. Beberapa saat kemudian, Siwon kembali, yang disambut senyum berbinar dari sooyoung melihat 2 burger yang ada di tangannya.

“Untung saja mereka tidak tau. Tadi, aku nyaris saja ketahuan” keluh Siwon. Sooyoung mengabaikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada burger berukuran besar yang dipegang Siwon.

“gomawoyo, oppa!” seru Sooyoung gembira, menyambar kedua burger itu. “Ya! Satunya untukku tau!” omel Siwon, menyambar salah satu burger itu.

Sooyoung melahap burger itu dengan bahagia, seakan-akan dia telah mendapat harta karun yang paling dinantikannya.

“Ah, aku belum kenyang” ujar Sooyoung, setelah melahap potongan terakhir burgernya. “memang kau pernah kenyang?” sindir Siwon. “Ya! Apa maksudmu?!” seru Sooyoung sambil memukul lengan Siwon.

“Haah… kita mau kemana lagi?” ujar Siwon. “Molla. Aku masih heran dengan mereka semua” ucap Sooyoung sedih. “Nde. Na do” ucap Siwon. Mereka takut, saudara-saudari mereka itu sangat-sangat marah pada mereka, entah apa kesalahan mereka.

Gee gee gee gee baby baby. Ponsel Sooyoung berbunyi. Sorry sorry sorry sorry. Ponsel Siwon juga berbunyi.

“Sms dari Taeyeon. katanya aku disuruh ke atap SM” ucap Sooyoung, membaca sms dari leader SNSD itu. “Kyuhyun juga menyuruhku ke atap SM” ujar Siwon.

Mereka saling berpandangan. Apa sih yang mereka rencanakan? Pikir Sooyoung. Dia dan Siwon langsung berjalan menuju gedung SM.

Sooyoung POV

Aku dan Siwon menaiki lift langsung menuju atap SM, dikerubungi rasa penasaran, kesal, dan bingung. Beberapa pegawai SM yang menyapaku bahkan tidak kuhiraukan saking terburu-burunya.

Klek! Pintu lift terbuka saat kami sudah sampai ke atap gedung SM. Tempat yang indah. Kami bisa melihat keseluruhan dan keindahan Seoul dari sini. Pemandangan yang menurutku paling indah.

Sedetik setelah aku melangkahkan kaki keluar dari lift….

“SANGIL CHUKKAHAMNIDA!!!” seru mereka semua membuat kupingku pengang. Bagaimana tidak? Member-member SNSD, SuJu, Shinee, bahkan f(x) dan BoA ada. Aku terkejut dan melongo. Begitu pula dengan Siwon yang di sebelahku.

“Eeh?” kata Siwon. Aku juga bingung. Sangil chukkahamnida? Selamat ulang tahun?

Selama 3 menit, aku dan Siwon yang jalan pikirannya memang ehm, sedikit lambat hanya berdiri di sana sambil bengong, lalu tiba-tiba aku ingat.

10 Februari 2011!! Hari ini ulang tahunku yang ke-21 dan Siwon oppa yang ke-24! Aigoo… bagaimana bisa aku melupakan ulang tahunku sendiri? Yang bertepatan 1 hari setelah hangeng oppa.

“Eeh… hari ini kita berulang tahun?” tanya Siwon polos. “Nde. Aku juga baru ingat” ucapku. “Omo! Masa kalian lupa hari ulang tahun kalian sendiri?” ucap Yesung sambil menepuk jidatnya.

Aku tersenyum. Mereka semua begitu baik. “Gomapsumnida semuanya!” seruku ceria. Saking bahagianya, sampai aku terharu dan menangis.

“Eeh… onnie, kok malah menangis?” ujar Yoona bingung. “Annio. hanya terharu” jawabku. “Seorang choi sooyoung terharu! Dan itu gara-gara kita!” seru Ryeowook bangga.

Siwon POV

Jujur, aku juga sangat terharu. Seperti sooyoung, aku pun ingin menangis saking terharunya. Tapi, kutahan air mata itu. Entah apa yang akan terjadi, mungkin aku akan diolok-olok selama setahun penuh oleh member SJ yang lain kalau aku menangis.

Kemudian, tampak seseorang membawa kue coklat besar. Yang membuatku terkejut, adalah orang yang membawa kue coklat itu. Bukan, bukan Justin Bieber, atau Rihanna, atau Barack Obama. Yang membawakan kue kami adalah… Lee Soo Man!

Pimpinan SM entertainment yang kami segani itu, dengan wajah tersenyum membawakan kue coklat besar bertuliskan Sangil Chukkae Choi ‘Sooyoung-Siwon’ . Aku dan Sooyoung benar-benar terharu, melihat seorang pimpinan SM begitu antusias merayakan ulang tahun kami.

“Sangil Chukkahamnida, Sooyoung-ssi, Siwon-ssi. Tetap berkarya and do your best! Hwaitting!” seru Soo Man. “Kamsahamnida, Soo Man-ssi” jawabku dan sooyoung bersamaan.

“Sooyoung, ini untukmu” kata Yoona, sambil memberikan kadonya. “Ini” Taeyeon dan Jessica juga memberikannya. Sementara, Leeteuk dan Sungmin juga memberiku hadiah.

“Ini.. untukmu sooyoung-ah” kata Kyuhyun, memberikan kado yang cukup besar dihias dengan pita pink. “Gomawoyo, semuanya” ucapku dan Sooyoung.

“Dan ini hadiah dari fans” ucap Eunhyuk, menunjukan segunung hadiah dari SONE dan ELF. Aku melongo melihat sebegitu banyak hadiah itu. Tapi, Sooyoung langsung menghampirinya dengan senyum bahagia.

Kami merayakan ulang tahun kami dengan ceria. Memotong kue, bernyanyi, dan bercanda. Padahal, sebelumnya aku dan Sooyoung sudah sangat takut mereka akan marah sekali pada kami ternyata, mereka mengerjai kami.

Acara ditutup dengan Leeteuk dan Taeyeon yang berduet bersama. Aku tersenyum. Gomawo semuanya. Aku sangat senang.

Sooyoung POV

Aku menatap Leeteuk dan Taeyeon yang sedang berduet, baru saja mendapat telfon dari orangtua dan onnie-ku, Soojin. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

Aku sangat terharu. Beruntung sekali memiliki keluarga seperti kalian. Gomawoyo, semuanya.

-The end-

Sangil Chukkae! Sooyoung onnie! Siwon oppa!! I’m trending it on twitter loh :DD kekeke~

mohon comment yah.. kalo perlu, tell me your wish (genie dong? ) for Sooyoung and Siwon 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Minho POV

Inilah aku, Choi Minho berdiri di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku melangkah masuk, memasang tampang sesangar dan seseram mungkin. Hari ini, aku dan murid-murid lain mulai smemasuki semester 2, semakin mendekati ujian akhir.

Prioritasku adalah semuanya disini harus takut padaku. Yeah, aku bisa dibilang seorang pembully disini. Dan tentu saja, kemampuan berkelahi patut diacungi 4 jempol.

Temanku, ups mungkin bukan teman juga, Lee Taemin lewat di depanku sambil menunduk takut. “Heh! Kau mengganggu jalanku tau, minggir!” seruku sambil mendorongnya dengan kasar.

“Mi.. mianhae” katanya yang tersungkur di tanah. “Kau tidak boleh bilang mianhae padaku! Bilang, mianhamnida Minho-ssi. begitu!” seruku sombong.

“Mianhamnida, minho-ssi. Puas?” katanya, eh… tapi itu bukan suaranya. Itu suara seorang yeoja. Aku terkejut, dan menengok ke belakang, ke sumber suara.

Tadinya kupikir dia adalah sooyoung noona, noona kesayanganku yang selalu aku turuti perintahnya. Tapi, ternyata bukan.

Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia murid baru. Aku mengangkat alisku, menatapnya dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Hm, lumayan cantik ah annio… sangat cantik.

“Siapa kau?” tanyaku masih terus memandanginya. “Yuri noonaaa!” seru si taemin lalu menghambur dalam pelukan yeoja itu.

“Taemin-ah, gwenchana yo?” tanyanya, menyambut pelukan taemin. Taemin mengangguk. “Jadi, kau ini yeoja chingunya taemin?” tanyaku, ehm, sedikit kecewa.

“Mwo? Annio” katanya sambil tertawa. Tawa yang manis, pikirku. “Aku sepupunya. Jadi kau, choi minho yang suka taemin ceritakan itu” katanya. Sepupu? Bukankah terlalu dekat untuk dikatakan sebagai sepupu?

Taemin menunduk. “Apa yang dia katakan tentangku?” tanyaku tajam, siap menggetoknya dengan high heels yang biasa dipakai tiffany SNSD kalau-kalau taemin menjelek-jelekanku di depan yeoja ini.

“Hm, kebanyakan sih keburukanmu. Tentang bagaimana menyeramkannya kau.” katanya. Sial.. namaku pasti sudah jelek di matanya. “Tapi, kau tidak terlihat sekuat yang taemin omongkan.” lanjutnya.

“Jangan meremehkanku!” kataku sombong. Belum pernah ada orang yang meremehkanku sebelumnya! “Yah, terserah” katanya lalu menggandeng taemin.

Aku menatap kepergiannya. Yeoja ini cukup menarik, pikirku. Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tadi taemin memanggilnya apa? Apa noona? Ah, aku ini memang pelupa! Minho babo!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Aku berpikir tentang yeoja tadi. Dia membuatku sangat penasaran. Treeennggg! Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya aku menghabiskan jam-jam istirahatku dengan berduel dengan seseorang, tapi, sekarang aku memutuskan untuk ke kelas kakakku.

“Sooyoung noona” panggilku manja. Aku memang sangat manja pada noonaku ini. Dia sedang bercanda dengan Onew hyung, namja chingunya. Yang akhirnya aku dan Siwon hyung -kakakku juga- setujui setelah insiden ehm, sister complex.

“Wae, minho-ah?” tanyanya. “Emm.. apa ada murid baru di kelasmu?” tanyaku padanya. Dia kelihatan bingung “Annio. Tidak ada. memangnya kenapa?” jawabnya, membuatku kecewa.

“Bagaimana dengan di kelasmu, Onew hyung?” tanyaku. Dia menggeleng juga. “Tapi, kudengar ada 5 murid baru.” katanya, yang memang tau segalanya, sebagai ketua OSIS dia memang harus tau segalanya.

“Ada yang yeoja tidak?” tanyaku antusias dan to the point. “Ada. 2 orang yeoja. Yang 1, di kelas XII-C, dan yang 1 lagi di kelas XI-B.” katanya. Aku mengangguk, segera menuju ke 2 kelas tersebut.

Pertama, aku masuk ke kelas XI-B. Seketika, semua orang disana membatu, bertanya-tanya apa yang aku inginkan disana. Lihat? Bahkan kakak kelas saja takut padaku.

“Mana murid baru itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Junhyung, si ketua kelas yang sok hebat. “Aku tak ada urusan denganmu. Aku mau bertemu dengan murid baru yang masuk ke kelas ini. Mana dia?” tanyaku dingin, yang membuatnya langsung menunjuk seorng yeoja yang duduk di belakang dengan gemetaran.

Aku perhatikan dia dengan seksama. Annio. Bukan dia. Dia jelek. Jadi, aku langsung pergi dan menuju ke kelas XII-C.

Apa dia sebodoh itu sampai harus masuk kelas C? Pikirku sambil berjalan. Treeeng! Bel malah berbunyi pertanda aku harus masuk kelas segera, soalnya habis ini pelajarannya SooMan sonsaengnim. “Sial” gerutuku sambil berbalik arah menuju kelas.

Alhasil, berkali-kali aku dimarahi SooMan sonsaengnim lantaran bengong saat pelajarannya dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Pakai sihir apa sih yeoja itu? Sampai bisa mengontrolku seperti ini.

Pulang sekolah, aku buru-buru pergi ke kelas XII-C itu, sebelum dia pulang, aku harus menemuinya. “Tumben sekali tidak kudengar kau membuat keributan, minho” komentar Siwon hyung saat aku melewati kelasnya dan berpapasan dengannya. Aku hanya nyengir dan buru-buru pergi.

“Hei, mau apa kau?” tanya Doojoon, ketua kelas XII-C yang juga berandal. Aku heran bagaimana dia bisa jadi ketua kelas. Aku pernah berkelahi dengannya, dan aku menang! Sejak itu, dia ada ehm, sedikit dendam denganku.

“Mana anak baru di kelasmu?” tanyaku dingin. Sejarahku dan dia memang tidak baik. “Mau apa kau dengannya?” tanyanya penasaran. “Bukan urusanmu” kataku, mendorongnya minggir. “Hei, jangan belagu bocah!” serunya, hendak menghajarku. Aku menangkisnya.

“Aku bilang aku tak ada urusan denganmu. Jangan buat aku mematahkan tanganmu” ucapku dingin, sambil memelintir tangannya. Dia meringis kesakitan dan menyentakan tangannya hingga terlepas, lalu dengan tatapan dan aura pembunuh, meninggalkanku.

“Wow. Hebat juga” komentar seseorang. Aku menoleh padanya, dan.. itu dia! Orang yang membuatku tidak membuat masalah hari ini, tidak fokus pada pelajaran, dan dimarahi abis-abisan oleh SooMan sonsaengnim.

“Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Mau balas dendam?” tanyanya sedikit takut. Aku menggeleng “Aku… hanya penasaran” kataku. Setelah aku berhasil menemukannya, aku bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Apa iya? Kau tau, Doojoon itu orang yang menakutkan dan kau berhasil membuatnya ketakutan begitu. Aku… takut gara-gara tadi pagi kau mau balas dendam padaku” katanya.

Aku tertawa “Aku tidak mencari masalah dengan seorang yeoja” kataku dan tanpa sadar, mengacak-acak rambutnya. Setelah sadar, aku langsung menarik tanganku. Apa sih yang kupikirkan? Dia terlihat tercengan, tapi kemudian tersenyum.

“Kwon Yuri imnida. Kau? Siapa namamu?” katanya sambil menjulurkan tangannya. “Choi Minho imnida” kataku sambil tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan lalu menjabat tangannya.

Tangannya mungil, halus, dan hangat. Tangan yang membuatku tidak ingin melepasnya. Tangan yang membuatku berdebar. “Ehm, minho-ah. Kau… tidak seburuk yang kukira” katanya, menyadarkanku dan aku langsung melepas tangannya.

“Eeh… memang kau kira aku seburuk apa, yuri?” tanyaku. “Bukankah lebih baik kau memanggilku noona?” tanyanya. Oh iya, aku lupa dia lebih tua 2 tahun dariku. “Chinja. Memang kau pikir aku ini seburuk apa, Yuri noona?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lagi “Aku pikir, kau ini seorang yang menyebalkan, menjengkelkan, kasar, tak tau diri, dan sok hebat” katanya. Aku membelalakan mataku. Segitu burukkah pandangannya tentangku? “Kekeke. Mianhae… tapi, kesan pertamaku bertemu denganmu memang begitu” katanya.

“Yuri noona! Ayo pul…” seru taemin tiba-tiba, mengganggu saja! Kata-katanya terputus melihatku sedang berdua dengan yuri noona. “Eh, mianhae” katanya sambil menunduk. Uh, beruntung sekali kau lee taemin! Kalau kau bukan sepupu yuri, kau sudah ku cincang-cincang seperti daging ayam

“Minho-ah! Ternyata kau disini” seru suara yang sangat kukenal. Suaranya Siwon hyung. Dia menghampiriku. “Ayo, kita pulang. Sooyoung sudah pulang bersama On…” kata-katanya terhenti, menatap Yuri tanpa berkedip. Cih, awas saja kalau dia juga menyukai Yuri noona! Eh, juga? Maksudnya, aku menyukainya? Ah, annio. Eh, molla ~

“Yu.. yuri?” tanyanya tercengang. “Siwon oppa?” ucap yuri, sama terkejutnya. Hei, mereka saling mengenal?

“Kau… kok bisa ada disini? Bukankah kau tinggal di Amerika?” tanya Siwon. “Aku pindah ke Korea 1 minggu lalu” kata Yuri.

“hei hei… kalian saling kenal? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran. “Kau kok kenal dengan Siwon oppa?” Yuri balik bertanya. “Dia adikku” jawab Siwon. “Mwo? Adikmu?” tanya Yuri terkejut.

“Memangnya kenapa? Hyung, kok kau dan yuri noona bisa saling mengenal?” tanyaku bingung. Yuri dan Siwon saling bertatapan.

“Dia… mantan pacarku.” ucap Siwon hyung, membuatku sangat terkejut. Mantan pacar Siwon hyung? Omo!

“Hyung… kau masih mencintai Yuri noona?” tanyaku padanya, saat sampai di rumah. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau menyukainya?” tanyanya heran.

“A… annio. Cuma bertanya kok” ucapku mengelak. “Ehm, molla. Sepertinya sudah tidak. Sudah lama aku dan dia berpisah, gara-gara kepindahannya ke Amerika. Kurasa dia pun sudah melupakanku” jawabnya, membuatku sedikit lega.

“Siwon oppa! Minho-ah! Pada sedang bicara apa sih?” tanya sooyoung noona sambil masuk ke kamarku. Dia ini mengagetkan saja. Dia memang kebiasaan suka sekali masuk-masuk ke kamarku. Katanya, kamarku lebih rapi daripada kamarnya.

“Eh, ada yang ingin kutanyakan” kataku tiba-tiba. Siwon hyung langsung menoleh ke arahku, dan sooyoung noona yang merebahkan tubuhnya di kasurku langsung saja bangkit untuk duduk. “Mwoerago?” ucap mereka berdua.

“Aku… menyukai seseorang” kataku malu-malu. Lihat? Seorang pembully bisa saja malu-malu! Tapi, ini hanya kutunjukan pada saudara-saudaraku, yang bisa mengertiku.

“Siapa??” tanya Siwon hyung terkejut. “Wah, uri Minho sudah besar!” seru Sooyoung noona sambil mengacak-acak rambutku.

“Ehm, dia… yuri noona” jawabku sedikit malu. “Siapa dia?” tanya sooyoung noona polos, sedangkan Siwon hyung, yah.. dia terkejut “Yuri?! Pantas tadi kau tanya-tanya soal dia” ucapnya.

“Wah, akhirnya ada juga yang mau denganmu yang suka menganiaya orang ini” komentar sooyoung noona yang langsung aku balas dengan pelototan tajam. “Memangnya, siapa yang bilang dia mau?” kataku lemas. Mana mungkin Yuri noona menyukaiku?

“Oh, jadi bertepuk sebelah tangan?” ucap sooyoung noona sambil mengelus-elus kepalaku. Aku menyingkirkan tangannya, paling benci kalau ada orang yang mengelus kepalaku. “Aku ini tidak semenyedihkan itu kok” elakku. Mereka hanya mengangguk-angguk prihatin.

Malam hari aku lewati dengan pikiran penuh tertuju pada satu yeoja. Yuri noona. Argh.. apa aku benar-benar menyukai, ah annio… mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun aku masih memikirkannya.

Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan lingkaran hitam di bawah mataku, tidak bisa tidur karena aku terus memikirkannya. Aku masih sangat mengantuk. Apa aku bolos sekolah saja dan tidur? Ah, shireo! Aku mau bertemu dengan yuri noona!

Maka, cepat-cepat aku cuci muka, mandi, dan langsung menghabiskan sarapanku. “Cepat, Minho-ah!” seru Siwon hyung dari luar. Aku langsung keluar. Kami memang tidak pernah pamit pada orangtua kami. Kami bahkan tidak tau mereka ada di rumah atau tidak, karena begitu seringnya mereka pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk bekerja.

“Kau parah sekali. Kau tidak tidur ya?” tanya Sooyoung noona. Kuakui, memang dengan keadaan begini, ketampananku sedikit berkurang. Aku harus segar lagi! Masa Yuri noona melihatku seperti ini? Kukucek-kucek kedua mataku, tapi hasilnya malah tambah parah. Kedua kakakku hanya menggeleng-geleng.

BRUK! Doojoon menabrakku, yang aku cukup yakin sengaja. Dia bahkan tidak minta maaf dan hanya nyengir. Tapi, dalam keadaan mengantuk begini, aku tidak berselera untuk berkelahi.

“Mau apa kau?” tanyaku sambil menguap. “Jangan belagu kau, bocah! Aku ini lebih hebat darimu!” serunya di telingaku. Makhluk ini kenapa sih? Aku kan tidak mencari masalah dengannya.

Aku ini orang yang tidak mudah marah sebenarnya, walaupun pembuat onar dan suka mencari masalah. Jadi, aku mendorongnya walaupun dalam kondisi mata 5 watt.

“Hei!” serunya marah. Oke, aku sudah berhasil membuatnya marah. Dia hendak menonjokku. Wow, ini pasti seru. 2 berandalan Seoul School berkelahi LAGI untuk yang kedua kalinya. Aku menahan tonjokannya tapi dia menonjok perutku.

Susah tau, berkelahi dalam kondisi setengah tertidur seperti ini? Tapi, sekelebat kulihat Yuri noona, dan semangatku langsung bangkit. Enak saja, aku tidak mau kalah apalagi di depan yuri noona!

Aku langsung menonjok pipinya balik dan menendang perutnya dengan lututku. Dia membalas menonjok wajahku, yang kutahan, lalu kusengkat kakinya hingga dia terjatuh dan menendangnya yang meringkuk di tanah. Kuselesaikan dia dalam waktu 5 menit. Bukan lawan yang sulit.

Beberapa temannya membantunya berdiri yang kutatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung bergidik ngeri dan kabur, takut kalau nasib mereka sama seperti Doojoon.

“Jangan cari masalah” kataku dengan kejam. Kerumunan orang di sekitarku sudah bubar. Aku heran, kenapa tidak ada guru yang melerai kami.

Aku menarik seorang yang seangkatan denganku tapi beda kelas. “A.. kenapa?” tanyanya gugup. “Aku lelah. Mana minummu?” ucapku. “Aku tidak punya minum.” katanya ketakutan.

“Kalau aku ingin minum, kau harus memberiku minum” ucapku. Cepat-cepat dia pergi ke kantin untuk membelikanku minum. Aku melihat sekeliling. Tumben, sooyoung noona tidak memarahiku. Mungkin dia sudah di kelasnya.

Anak yang kusuruh tadi kembali dengan sebotol jus jeruk di tangannya yang cepat kusambar. Kubuka tutupnya, kutuang seperempatnya ke anak itu, membuat rambutnya lepek dengan jus jeruk dan dengan kejam kutuang sisanya ke Doojoon.

“Hitung-hitung kalau kau haus” kataku, melempar botol jus jeruk kosong yang mengenai kepalanya. Dia menatapku seakan ingin membunuhku saat ini juga, sedangkan anak yang kurang beruntung tadi langsung berlari pergi.

Aku hendak melangkah menuju kelasku, tapi langkahku terhenti melihat Yuri noona melihatku dengan terpana.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku mendekatinya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Apanya yang bagaimana? kau ini… bagaimana ada orang sejahat kau sih?” tanyanya terkejut lalu meninggalkanku, terbengong di tengah jalan. Dia… marah padaku??

1 hari kulewati tanpa fokus ke pelajaran. Sepanjang pelajaran aku mencoba untuk tidur, yang tidak bisa kulakukan karena terus memikirkan Yuri noona. Bagaimana dia bisa marah padaku? Karena aku ini orang yang jahat? Argh… tanpa memikirkannya aku sudah cukup stress dengan mataku yang tinggal 5 watt ini.

Treeenggg! Bel istirahat. Dengan lemas, aku keluar kelas, menuju ke kelas Yuri noona, memohon penjelasannya. Aku berjalan dengan gontai. Tapi, langsung semangat melihat Yuri noona yang sedang berdiri memegang sebotol soda, hendak meminumnya.

“Ah, minggir!” seruku tak sabar, pada seseorang yang entah siapa menghalangi jalanku menuju Yuri noona. Aku mendorongnya, membuatnya terjungkal dan menabrak dinding dengan cukup keras.

“Minho-ah…” ucapnya terkejut. “Eh, ehm.. annyeong” kataku dengan canggung. Pandangannya padaku pasti sudah berubah lagi. Ahh… sial!

“Aku.. mianhae” kataku. “Untuk apa kau minta maaf?” tanyanya heran. Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku minta maaf.

“Seharusnya kau minta maaf pada mereka, yang sudah kau bully!” serunya. “Tak kusangka kau sejahat itu. Aku bahkan sekarang tau, perlakuanmu pada sepupuku, taemin. Kau ini tidak punya hati ya?!” ucapnya marah.

“Aku punya hati tau!” elakku. “Oh ya? Apa buktinya? Kau bahkan bisa dengan mudah membuat seseorang terluka” ucapnya sinis.

“Buktinya…. aku… aku bisa mencintaimu!” ucapku lirih. “Mwo??” tanyanya terkejut. Sangat sangat terkejut.

“Aku ini tadi sudah lelah tau! Tapi, aku terus berusaha mengalahkan doojoon. Kenapa? Karena kau! Aku tidak mau kelihatan lemah di hadapanmu!” seruku.

“Setiap hari, setiap malam, bahkan di mimpiku pun, aku memikirkanmu. Selama pelajaran, aku memikirkanmu. Aku tidak bisa, membiarkan 1 detiku hidupku pun, melepaskan pikiranku darimu semenjak aku melihatmu” tambahku lagi.

Dia terdiam dan melongo. “Aku takut, saat Siwon hyung bilang kau adalah mantannya. Takut kalau aku harus bersaing dengan hyung-ku sendiri. Aku tidak lagi membully taemin, takut kau akan membenciku. Itu semua sudah jelas kan?!”

“Noona neomu yeppeo! Kwon Yuri… saranghae!” seruku, mengeluarkan semua yang kurasakan, membuat semua orang melihat ke arah kami, tapi aku tak peduli. Aku harus mengatakan ini semua padanya.

Dia tampak sangat terkejut. “Aku…” Aku memejamkan mataku, takut kalau perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan.

“Na do saranghae.” katanya lirih, membuatku membelalak menatapnya. “Aku kecewa dengan sikapmu yang seperti ini, ingin merubah semua sikapmu, supaya kau menjadi lebih baik. AKu sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.”

“Kau memiliki karisma, itu yang kusuka darimu. Aku bahkan sekarang sudah mencintaimu, seiring berjalannya waktu, perasaan itu semakin kuat. Aku bahkan tidak mengerti kenapa, aku bisa mencintai seorang penjahat sepertimu.”

AKu memeluknya. Tingginya bahkan tidak sampai melebihi daguku. Aku memeluknya, merengkuhnya. “Aku berjanji. Aku akan berubah. Seperti yang kau mau.” ucapku.

“Chinja?” tanyanya, masih dalam pelukanku. “Nde” ucapku dengan tulus. Apapun, apapun yang noona cantik ini inginkan, aku akan menyetujuinya.

Dia mau aku bertobat? Menjadi anak baik? No prob!

Semua orang menatapku, saat pagi hari aku melangkah masuk ke sekolah tercintaku, Seoul school. Aku tidak mendorong atau membentak siapa pun pagi ini. Today is the new Choi Minho’s time.

Aku memakai seragamku dengan benar, memasang senyuman yang ramah. Bukan senyum terpaksa kok! Ini senyum tulus, bahagia karena Yuri noona sudah jadi milikku sekarang.

“Noona…” seruku sambil memeluknya dari belakang. “noona, kau cantik sekali hari ini” pujiku sambil mengelus kepalanya. “Oh, jadi aku cantik hanya hari ini?” godanya. “Annio” jawabku sambil menggeleng dengan manja.

“Noona neomu yeppeo… today, yesterday, tomorrow, everyday, for-e-ver!” ucapku sambil mencium keningnya. Inilah yeoja yang bisa merubah hidup seorang Choi Minho. Seorang yeoja cantik yang bernama Kwon Yuri.

-The end-

Who’s MinYul shipper here? 😀 gimana menurut kalian? hehe

mohon comment yah >.<

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

main cast: Jung Soo Yeon (Jessica), Park Jaebum

song: Just the way you are-Bruno Mars

Jessica POV

Inilah aku, Jessica Jung, berdiri di depan sekolah baruku Seoul School. Sekolah terbaik di Seoul.

Aku dan adikku melangkah memasuki sekolah ini. Adikku memang bersekolah disini, dia seorang siswa beasiswa. Sedangkan aku, aku pindah kesini karena rekomendasi sekolah lamaku. Kami memang bukan orang yang kaya, tapi jangan remehkan kemampuan otak kami.

“Krystal-ah… Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku sedikit gugup. Banyak murid-murid yang menatapku, membuatku semakin risih. “Hmm.. mungkin ke kantor kepsek dulu? ayo, onnie.. kuantar.” kata adikku.

Aku melangkah bersama Krystal menuju ke ruang kepsek. Banyak anak yang memandang ke arahku. Dengan tatapan, entahlah… jijik? heran?

“Wahh.. makhluk dari mana sih ini?” kata seorang namja yang dari perawakannya saja, aku sudah tau dia pasti sombong. “Dia siapamu krystal-ah?” tanya namja lain yang berjalan bersama namja sombong tadi.

“Siwon sunbae.. Jaebum sunbae… Dia adalah onnie-ku, Jessica Jung.” kata Krystal memperkenalkan diriku. “Annyeong haseo..” sapaku sambil membungkuk 90 derajat.

Mereka berdua tertawa keras. “Hahaha.. dongsaeng dan onnie-nya sama saja ternyata! Miskin dan jelek!” ejek namja yang kuketahui kemudian bernama Siwon.

“Padahal Krystal-ah.. kau ini lumayan cantik loh.. Tapi onnie-mu ini… Apa dia benar onnie-mu? hahaha!” timpal yang satu lagi, yang bernama Jaebum.

Aku geram. Ingin sekali menghajar mereka satu per satu. “Dasar manusia sombong! memangnya kau pikir kau ini siapa hah?!” seruku yang kesabarannya mulai habis. “Onnie… sudahlah…” kata Krystal menenangkanku.

“wooo… stay back, ugly peasant! (woo… mundur, jelek!) Apa kau gak salah masuk sekolah? Ini seoul school loh.. the best one in Seoul.(yang terbaik di Seoul)” kata Jaebum jijik merespon aku yang mendekatinya. “Sudah, jay. Ayo kita ke kelas saja daripada mengurusi makhluk jelek ini.” kata Siwon.

Haa.. kalian berpikir yah bagaimana mungkin aku, Jessica Jung dibilang jelek oleh mereka? Tapi, aku memang jelek, dengan kacamata tebal, rambut yang kukepang dan belah tengah, pokoknya, jelek deh!

“Onnie… lagian, kenapa sih kau berdandan kayak gini segala?” tanya Krystal saat 2 namja menyebalkan itu sudah kembali ke kelas mereka.

“Sudah kubilang berapa kali, krystal-ah… Aku melakukan ini supaya aku bisa menemukan orang yang BENAR-BENAR menyukaiku apa adanya. Tidak seperti di …. yah… kau taulah.” ceritaku sedih.

Jangan berpikir aku ini benar-benar jelek. Bukannya sombong, tapi, aku ini memang sangat cantik. Dengan rambut blonde panjang dan wajah yang mulus, mata yang indah, hidung mancung,  yah pokoknya aku ini cantik!

Tapi, di sekolah lamaku, SMA Cheungdam, SMA terbaik ke-2 setelah Seoul school, teman-temanku dan bahkan pcarku, eh… mantan pacarku sendiri hanya menyukaiku karena wajahku ini. Buktinya, saat seorang queenka baru sekolah bernama Yoona datang ke sekolahku, mereka semua langsung beralih padanya yang memang lebih cantik dariku.

Pokoknya, rahasiakan ini yah. Aku hanya ingin mendapat teman dan cinta sejati. Itu saja, kok.

Oke, back to me and Krystal.

“Annyeong haseo.” sapaku dengan sopan begitu memasukki ruang kepala sekolah. “Annyeong haseo.. kau.. Jung Soo Yeon?” tanya kepala sekolah memperhatikanku begitu mendetail. Aku hanya mengangguk.

“Arasso. Kelasmu ada di lantai 2. Kelas XI-A. Di sekolah ini, kami memakai sistem leveling. Melihat prestasimu yang cukup bagus, kami memasukanmu di kelas terbaik, kelas A.” jelas kepala sekolah.

“Nah, kau boleh masuk kelas sekarang.” kata Kepala sekolah lagi. Aku akhirnya, dengan diantar oleh Krystal masuk ke kelasku.

Entah, dosa apa yang telah kuperbuat.. Aku sekelas dengan Siwon dan Jaebum! 2 namja yang tadi mengejekku. Mereka hanya tersenyum licik melihatku masuk ke kelas. Aku heran, apa otak mereka cukup besar untuk masuk ke kelas A ini?

Kulihat semua murid menatap ke arahku sambil berbisik-bisik. Aku mulai pupus harapan mendapat teman sejati di sekolah ini. “Annyeong haseo. Kau pasti Jung Soo yeon. Perkenalkan dirimu.” perintah sonsaengnim.

“Annyeong haseo… Jung Soo Yeon imnida. Panggil saja Jessica. Aku pindahan SMA Cheungdam.” kataku. “Jessica? Apa nama itu tidak terlalu bagus untukmu?” olok jaebum yang disambut tawa seisi kelas.

Aku hanya memelototinya. “Ya! Park Jaebum!” omel sonsaengnim. haha. mampus kau! “Sooyeon, silahkan duduk disitu.” katanya sambil menunjuk bangku kosong yang terletak di…. di belakang jaebum sialan itu!

“Ta.. tapi…” kataku hendak menolak. “cepatlah duduk, pelajaran akan dimulai.” perintah sonsaengnim. Akhirnya dengan gontai aku berjalan ke arah bangkuku.

BRUKK! Aku terjatuh disambut riuh tawa seisi kelas. Jaebum hanya cengar-cengir melihatku. Sial… cowok ini yang sudah menyengkatku. Argh.. Kubunuh kau Park Jaebum!

“Kau tak apa?” tanya seorang namja yang temapt duduknya di belakangku. Hm, dari tampangnya, dia ini orang yang baik. Tidak seperti Jaebum atau Siwon. “Ah, gwenchana.” kataku. Dia membantuku merapikan bukuku yang terjatuh.

“Onew… Onew… Dasar sok pahlawan!” cibir Jaebum. “Diam, Park Jaebum atau kuadukan kau pada Soo Man sonsaengnim. Entah apa yang bisa diperbuatnya.” omelnya dengan dingin yang berhasil membuat jaebum terdiam. Soo Man sonsaengnim itu pasti guru killer deh.

Aku memutuskan untuk berterima kasih padanya “Gomawo…” “Lee Jin Ki. panggil saja Onew.” katanya. “nde. Gomawo onew-ah.” kataku. Dia tersenyum dan mengangguk. Wah, mungkin hanya dia satu-satunya yang baik disini.

Pelajaran berlangsung dengan biasa saja, kecuali aku mendapat sedikit (hm, tidak sedikit juga sih) ejekan dari Jaebum. Hatiku panas ingin sekali menonjok wajah sombongnya itu, tapi… aku tidak ingin membuat masalah di hari pertama sekolah. Sabar, ssica… Masa begini saja kau sudah menyerah?

Treenggg… Itu bunyi bel sekolah. Jangan tanya padaku, bunyinya memang aneh. Tapi, siapa peduli? Aku merasa terkucilkan di kelas ini, jadi aku memutuskan untuk ke kelas adikku.

“Krystal-ah…” panggilku begitu aku menemukan sosoknya duduk di belakang. “Wae, onnie?” tanyanya heran. “Gwenchana. Hanya saja… yah… aku.. sekelas dengan Jaebum dan Siwon!” kataku dengan nada menderita. Dia juga kelihatan prihatin.

“Jessica-ah, jadi kau onnie-nya Krystal?” tanya Onew yang tiba-tiba di belakangku. Aku agak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. “Eh, nde.” jawabku.

“Oneww oppaaaa!!” teriak seseorang. “Sooyoung-ie…” panggil Onew dengan senyum yang merekah lebar di wajahnya. Yeoja yang bernama sooyoung itu merangkul tangan Onew.

“eeh… kau pasti anak baru itu yah… onnie-nya Krystal. ngg, Jessica onnie? Choi Sooyoung imnida.” katanya sambil tersenyum lebar. Anak ini cepat sekali akrab. Bahkan dia sudah memanggilku onnie, bukan sunbae. “eeh.. iya.” kataku sambil tersenyum. Sepertinya anak ini juga baik.

1 bulan kulalui dengan penuh kesabaran dan kemarahan. Temanku hanya Onew, Sooyoung, seorang bernama Kyuhyun, dan Seohyun yang kuketahui mereka pasangan. Aku paling dekat dengan Onew. Karena di kelas hanya dia yang baik padaku.

“Untuk tugas menyanyi ini, kalian kutugaskan berkelompok. 1 kelompok hanya 2 orang. Nah, akan kubacakan pasangannya…” kata sonsaengnim seniku. “Jung Soo Yeon dengan…. Park Jaebum!” umum sonsaengnim yang membuatku membatu.

“mwo??” tanyaku dan jaebum bersamaan. “kekeke. chukkae Jaebum!” cetus seorang anak. Kulihat Jaebum hanya pasrah dan tenang-tenang saja. Tapi, mana bisa aku tenang dipasangkan dengan makhluk yang menyebalkan ini!

Tapi, memang tidak ada yang bisa kulakukan. Aku pulang sekolah dengan gontai ditemani Onew.

“Onew oppa… nanti siang, kita jalan yuk. Kutunggu kau di taman ya.” kata Sooyoung lalu langsung pergi. “Sooyoung-ah! Chakkaman!” kata Onew tapi Sooyoung sudah keburu pergi. “Onnie-ah!” panggil Krystal sambil melambaikan tangannya.

“Ah, itu dia Krystal. Gomawo Onew-ah sudah menemaniku.” kataku sambil tersenyum yang dibalas senyumannya.

“Onnie dekat ya dengan Onew sunbae” komentar Krystal. “Eeh? Biasa saja kok.” kataku mengelak. “Onnie.. menyukai Onew sunbae ya?” selidik Krystal. “Ah, annio!” jawabku.

Saat pulang, kulihat Jaebum sedang berduaan dengan seorang perempuan. Dasar playboy, pikirku. Dia sedang memeluk yeoja itu. Hm, aku agak sedih melihatnya. Mwo? sedih. Ah, annio…annio… mikir apa sih kau ini, jessica jung?

Tapi, aku memang sedikit sakit melihatnya. Ya Tuhan… Dosa apa sih aku ini? Jangan sampai aku suka padanya. Kumohon Tuhan, jangan sampai!

“Hey! Ugly peasant!(Hei! Jelek!)” panggilnya. Aku pura-pura tidak mendengar. “Hei!! Kau ini tuli ya?!” teriaknya tepat di kupingku. “Aku ini punya nama!” jawabku dingin.

“Terserahlah, pokoknya hari ini aku akan ke rumahmu.” katanya yang membuat bola mataku nyaris keluar karena membelalak tidak percaya. “Mwo?? Untuk apa?” tanyaku. “Tentu saja untuk latihan, babo.” katanya sambil menjitakku. “Ta, tapi…” ‘Nah, ayo cepat. Aku ingin lihat sejelek apa rumahmu.” Katanya sambil menarikku.

“A..awas!” seru Krystal saat sebuah sepeda motor melaju tepat di belakangku. Dengan cepat, Jaebum menarikku membuat posisi kami seperti berpelukkan. Nyaris saja aku keserempet.

Tapi, kenapa ini? Rasanya… aku berdebar. Deg deg deg deg. Apa itu debaran jantungku? Rasanya bukan. Ini… debaran jantungnya! Eeh… apaan sih?! Aku jadi salting begini.

Cepat-cepat aku melepaskan diri dari pelukannya. “Dasar kau, mengambil kesempatan saja!” omelku tapi aku tidak berani menatap matanya. “eeh.. apa? Cih, bilang saja kau senang bisa dipeluk olehku!” omel Jaebum yang seperti baru saja tersentak dari lamunannya.

Sesampainya di rumahku, kami langsung berlatih. Dia tidak berkomentar apa-apa tentang keadaan rumahku. Aku ini memang nggak miskin-miskin banget kok.

“Wah, suaramu bagus sekali.” komentar Jaebum terpesona dan melihatku tanpa berkedip setelah aku memperdengarkan suaraku padanya. “Eeh.. gomawo.” kataku terkejut. Baru kali ini dia memujiku. Sungguh.

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

Aku berduet dengannya menyanyikan lagu Just the way you are -nya Bruno Mars. Lagu favoritku. Aku terbawa suasana oleh lagu ini dan menyanyikannya dengan segenap hatiku.

Dia menatapku lalu berkata “joahae.” katanya yang membuatku membeku sesaat. “Ssica-ah.. mianhae. jeongmal mianhae. Aku sadar, kau ini tak seburuk yang kukira. memang penampilanmu jelek” katanya yang dibalas pelototanku

“Tapi.. kepribadianmu, dan suaramu… indah.” katanya cepat-cepat yang membuatku terpana. “eeh?” hanya itu yang keluar dari mulutku. “Hm, kurasa aku harus pulang sekarang. Annyeong.” katanya sedikit gugup.

Apa ini hanya aku atau tadi kulihat dia… tersipu? Ah, tapi yang pasti, aku tau apa yang akan kulakukan besok.

Dan, inilah aku Jessica Jung di depan sekolah tercintaku, Seoul School. Aku menghadapi sekolah ini dengan penampilan berbeda. Aku tidak lagi menyamar. Kutata rambutku yang kembali berwarna blonde menjadi tergerai ikal (bayangkan Jessica di Oh!) Kulepas kacamataku, dan semua aksesoris aneh yang membuatku tampak jelek.

Semua orang kini menatapku. Tapi, bukan pandangan jijik seperti dulu, tapi… pandangan kagum. Aku memasuki kelasku yang disambut tatapan bengong seisi kelas. Termasuk Jaebum.

“Kau anak baru?” tanya Siwon polos. Aku tertawa dengan manis. “keke. bukan. Aku Jung Soo Yeon. Jessica.” kataku. “mwo??” seisi kelas terkejut. “Tapi.. tapi kau…” Siwon tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“You’re very beautiful.(Kau sangat cantik)” kata Jaebum terpesona. “o yeah? who says that I’m an ugly peasant?(o ya? Siapa yang bilang aku ini si jelek?)” tanyaku menggodanya. “Eeh… soal itu.. aku kan sudah minta maaf.” katanya.

Aku tersenyum dengan manis. Jaebum mendekatiku dan berbisik padaku. “saranghae” bisiknya yang membuatku terkejut. Sangat terkejut sehingga aku hanya terdiam. Tapi, kemudian aku tersenyum dan membalas berbisik padanya “na do saranghae.”

Aku baru menyadari perasaanku 1 bulan terakhir ini padanya. Aku baru menyadari, dimana ada aku, disitu pasti ada Jaebum. Walaupun keberadaannya tak terlalu kuperhatikan karena dia ada hanya untuk meledekku. Tapi, dia selalu ada di sisiku.

Aku melewati pelajaran demi pelajaran dengan riang. Aku memang sedikit muak dengan beberapa namja yang langsung mendekatiku padahal menghinaku terang-terangan kemarin. Hingga akhirnya, treeeng! Bel pulang sekolah!

Aku agak kesulitan keluar kelas karena namja-namja yang mengajakku ngobrol.

“Ssica-ah.. kenapa kau tidak menampilkan kecantikanmu ini dari awal?”

“Jessica, aku ada 2 tiket nonton. Nonton bersama, yuk”

“Jessica noona, noona neomu yeppeo.”

bahkan, dongsaeng yang tidak kukenal saja ikut-ikutan mengerubutiku. Dasar mereka munafik!

Akhirnya, aku berhasil mencapai gerbang depan. Kulihat sosok Jaebum disana. Dia sedang berdiri bersama seorang yeoja.

Seorang yeoja yang sangat kukenal. Seorang yeoja yang pernah merebut semuanya dariku. Seorang yeoja yang bernama…  Yoona!

Kulihat Jaebum dan Yoona sedang berpelukan. Persis seperti 5 bulan yang lalu, saat dia dan mantan pacarku juga berpelukan.

Aku sedih. Hatiku seakan ditusuk. Aku sakit sekali. Padahal dulu, aku tidak merasa sesakit ini. Seharusnya aku tau, Jaebum sama saja dengan pacarku dulu. Dia hanya menyukaiku karena kecantikanku. Dan saat dia menemukan yeoja lain yang lebih cantik, dia akan mencampakanku.

Tak terasa, pipiku sudah basah karena air mataku yang terus mengalir. Aku berlari entah kemana. “Jessica!” panggil Jaebum yang sepertinya melihatku. Tapi, aku tidak memedulikannya. Aku terus saja berlari.

Kulihat, ada Onew yang sedang berdiri di pinggir jalan. Mungkin, dia bisa membantuku. Tapi, ah.. dia sedang berkelahi dengan seseorang sepertinya. Dia.. sedang berkelahi dengan Sooyoung.

“Sooyoung-ah.. dengan dulu penjelasanku! Aku dan dia tidak ada apa-apa. Sungguh!” ucap Onew. “Entahlah, oppa. Kau ini dekat sekali dengannya! Belum lagi, tadi pagi aku melihatnya sangat cantik. Entahlah aku…”

“Sooyoung-ah! Lihat aku! Jangan konyol! Jessica hanya sahabatku. Dia juga temanmu, kan?!” seru Onew. “Iya! Tapi… kau dan dia begitu dekat! Kau tau, setiap kau berad di dekatnya, aku sakit! sakit sekali!” seru Sooyoung tak kalah kencang.

“Sooyoung… dengarkan aku.” kata Onew merendahkan suaranya sambil mengangkat wajah Sooyoung. “Choi sooyoung… saranghae.. jeongmal saranghae. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu.” kata Onew. Sooyoung memeluk Onew yang dibalas hangat oleh Onew.

Aku baru tau kalau mereka berpacaran. Dan sekarang, mereka berkelahi karena… karena aku! Omo! Hebat sekali kau Jessica. Kau sangat egois.

Aku memutuskan untuk berbicara pada mereka, jadi aku mendekati mereka. “eeh… Onew-ah, sooyoung-ah.” panggilku.

Sooyoung melepaskan dirinya dari pelukan Onew. ”nde, ssica onnie?” tanyanya sedikit gugup. “Aku… ngg.. mianhaeyo. Aku tidak.. aku dan Onew hanya teman dekat kok. Sungguh. Aku tidak menganggapnya lebih dari itu.” jelasku.

Sooyoung tersenyum padaku “Nde. mianhae onnie.. karena sudah berprasangka yang bukan-bukan.” katanya. “Ngg.. kau habis menangis, onnie-ah?” tanya sooyoung.

Cepat-cepat aku menghapus air mataku. “eeh.. annio. hanya kelilipan.” kataku berbohong.

“Jessica-ah!” teriak Jaebum memanggilku sambil berlari menghampiriku. “Apa?” tanyaku dingin. “Yo.. what’s wrong with you? (Yo.. apa yang salah denganmu?)” tanyanya bingung. Aku dan Jaebum memang suka sekali mengobrol dengan bahasa Inggris. Mungkin karena dulu kami sama-sama pernah tinggal di Amerika.

“You’re a liar, park Jaebum! (Kau seorang pembohong, park Jaebum) ” teriakku, mengeluarkan semua emosiku. “All you say is bullshit! You never love me as I am.. you just love my face! (Semua yang kau bilang itu omong kosong! Kau tidak pernah mencintaiku sebagai diriku… Kau hanya mencintai wajahku)” teriakku

“What do you mean?(Apa maksdumu?) Jessica-ah… saranghaeyo! jeongmal saranghaeyo.” katanya memelas sambil memegang pundakku.

“O yeah? Padahal, tadi aku baru saja melihatmu memeluk wanita lain dengan mesranya.” kataku sinis sambil mencoba melepaskan diriku, tapi cengkramannya terlalu kuat.

“Mwo? Yoona, you mean?(Yoona, maksudmu?)” tanyanya heran sekaligus geli. “Yeah. You even wanna to laugh?(Iya. Kau bahkan mau tertawa?)” tanyaku tak percaya melihatnya menahan tertawa. Setelah yang dia perbuat, dia masih… tertawa?! What a jerk! (Berengsek!)

“What the hell wrong with you? Yoona… she is my sister!(Apa yang salah denganmu? Yoona… dia adikku!)” kata Jaebum yang membuatku melongo. “mwo?” tanyaku. “Ssica… yoona itu adikku. Apa salahnya aku memeluknya?” kata Jaebum sambil nyengir.

Aku malu, tapi sekaligus lega. Aku melemparkan diriku ke dalam pelukannya. Dan menangis. “mianhaeyo… aku hanya takut.. kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku…” kata-kataku terputus oleh nyanyiannya.

Oh her eyes her eyes

Make the stars look like they’re not shining

Her hair her hair

Falls perfectly without her trying

She’s so beautiful

And I tell her every day

Yeah I know I know

When I compliment her

She won’t believe me

And it’s so, it’s so

Sad to think that she don’t see what I see

But every time she asks me “Do I look okay?”

I’ll say

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

Yeah her lips her lips

I could kiss them all day if she’d let me

Her laugh her laugh

She hates but I think it’s so sexy

She’s so beautiful

And I tell her everyday

Oh you know you know you know

I never ask you to change

If perfect’s what you’re searching for

Then just stay the same

So, don’t even bother asking

If you look okay

You know I’ll say

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

The way you are

The way you are

Girl you’re amazing

Just the way you are

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

Cause girl you’re amazing

Just the way you are

“Jung Soo Yeon.. I love you. As you are. Just the way you are.(Jung soo yeon.. Aku mencintaimu. Apa adanya)” katanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk dalam pelukannya. Akhirnya kutemukan, seorang yang mencintaiku apa adanya.

-The end-

mianhae author update-nya lama 😦 akhir2 ini rada sbuk dgn urusan osis.. hehe

happy reading~ and don’t forget to leave your comment 😉