Archive for the ‘Friendship’ Category

cast: Eunhyuk. Hyoyeon, Sooyoung.

Hyoyeon POV

Aku masuk ke kelas, dan mood-ku langsung berubah begitu melihat orang itu. Cewek berperawakan tinggi denagn rambut panjang hitam bergelombang dan kaki indah yang membuat para lelaki tergila-gila. Tapi, aku membencinya. Oke, kata benci mungkin terlalu frontal. Pokoknya, aku tidak menyukainya. Isssh… Namanya adalah… Choi Sooyoung.

Mau tau kenapa aku tidak menyukainya? Hmm.. padahal, dulu, sekitar 5 tahun yang lalu, aku dan dia adalah sahabat dekat. Tapi, sesuatu mengubahnya.

FLASHBACK

Aku, Sooyoung, dan Eunhyuk sedang berlari-larian di taman. Tiba-tiba… BRUKK! Sooyoung terjatuh. Ckckck. Mempunyai kaki yang panjang tidak selalu menyenangkan. “Sooyoung… gwenchanayo?” tanyaku dan eunhyuk yang langsung menghampirinya. Eunhyuk ini adalah sahabat kami. Kami bertiga sangat dekat dan tidak terpisahkan. Dan aku… ehem… menyukai eunhyuk.

“Aish…” Sooyoung merintih kesakitan sambil memegangi lututnya yang berdarah. “Aigoo… kau berdarah.” kata eunhyuk cemas. “Gwenchana, hyukkie oppa” kata sooyoung sambil tersenyum. “Apanya yang tidak apa-apa? Ayo, cepat cuci lukamu, lalu diobati” katanya perhatian. Aku sedikit cemburu melihatnya begitu memperhatikan sooyoung. Sooyoung mencoba berdiri, tapi hanya untuk terjatuh lagi. “Aduh… pergelangan kakiku… keseleo” keluhnya.

“Wah…” Eunhyuk tiba-tiba menggendong sooyoung. Bridal style~ “waaa… oppa, turunkan” Sooyoung berseru. “Tapi kau kan tidak bisa berjalan” kata eunhyuk polos. Aku hanya diam saja melihat mereka. “Nde, nde. Tapi, kau menggendongku di punggungmu saja. Bukankah kalau begini berat?” kata sooyoung. “Nde. Tapi, kau sama sekali tidak berat kok” kata eunhyuk lalu menurunkan sooyoung. Kemudian sooyoung langsung merangkulkan tangannya di sekitar leher eunhyuk dan eunhyuk menggendongnya di belakang.

Aku melihat mereka dengan tatapan kesal. Nde, aku cemburu! Akhirnya, eunhyuk mengantar sooyoung pulang sambil menggendongnya. “Gomawoyo, oppa” kata sooyoung sambil tersenyum lalu memeluk eunhyuk. Eunhyuk terlihat kaget tapi tersenyum dan balas memeluk sooyoung. “Hati-hati, sooyoungie. Arasso?” kata eunhyuk. Sooyoung mengangguk lalu masuk ke rumahnya dengan langkah pincang, meninggalkanku berdua dengan eunhyuk.

“Eeh… hyoyeon…” kata eunhyuk, baru menyadari keberadaanku disana. Aku memaksakan diri memberikan senyum termanisku untuknya. “Oppa… menyukai sooyoung ya?” tanyaku. “Eeh…” pipi eunhyuk memerah. “Apa… apa terlihat jelas?” tanyanya khawatir. Aku tertawa melihat tingkah lucunya itu, padahal, di dalam hatiku, aku menangis.

Sejak saat itu, eunhyuk selalu membicarakan sooyoung saat dia bersamaku. Sooyoung, sooyoung, dan sooyoung! Dan sejak saat itu pula, diam-diam aku mulai menjaga jarak dan mulai membenci sooyoung. Hatiku sakit, setiap eunhyuk membicarakan sooyoung. Kenapa harus sooyoung yang menjadi cinta pertama eunhyuk? Kenapa bukan aku? Padahal, di sampingnya jelas-jelas ada seseorang yang selalu ada saat dia membutuhkanku.

“Hyoyeon-ah… temani aku ke mall yuk” ajak Sooyoung suatu hari. “Tidak mau!” ujarku dingin. “Ayolah hyo…” rengek sooyoung. “Issh… aku tidak mau!” seruku sambil dengan kasar menepis tangannya. Dia menatapku dengan melongo. “Ya!! Hyoyeon! Kenapa kau begitu pada sooyoung?!” bela eunhyuk. See? Seakan-akan hanya sooyoung yang paling benar.

“Aku hanya tidak mau! Jangan memaksaku! Kenapa sih eunhyuk, kau selalu membela sooyoung?! Dia bukan orang yang selalu benar!” seruku frustasi. Mereka menatapku bingung. Dengan bercucuran air mata, aku meninggalkan mereka. Sejak itu, hubunganku dan sooyoung tidak pernah sebaik dulu.

Suatu hari…

“Eunhyuk, kau mau kemana? Kenapa pada menangis?” tanyaku bingung, melihat eunhyuk dan sooyoung yang menangis di depan rumah eunhyuk. “Hyoyeon… hyukkie oppa… akan pergi ke Jepang. Dia akan meninggalkan kita” tangis sooyoung. Aku terkejut dan sedih. Spontan, aku langsung menangis. Eunhyuk memelukku. Pelukannya hangat dan nyaman. “Mianhae, semuanya. Tapi, aku yakin suatu hari, kita pasti akan bertemu lagi” ucap eunhyuk di tengah tangisannya.

End of flashback

Well… siapa yang sangka, suatu hari yang dimaksud eunhyuk itu hari ini? Aku sendiri pun tidak menyangka.

Sooyoung tersenyum sedikit ke arahku, yang kubalas dengan tatapan sinis. “Ckckck. Semakin hari semakin jadi saja. Setiap hari selalu bermesraan. Padahal, Onew itu ketua OSIS” ujarku sinis. “Ya! Tidak ada urusannya denganmu!” bentak Onew. “Wae? Kau iri? Makanya, cepat cari pacar” ledek sooyoung. Aku baru hendak akan membalasnya, saat sonsaengnim datang. Grrr… tunggu pembalasanku nanti!

“Harap tenang anak-anak!” seru sonsaengnim. “Hari ini, kita ada murid baru, pindahan dari Jepang. Nah, silahkan masuk” kata sonsaengnim. lalu, seorang anak laki-laki dengan rambut coklat gelap yang ditata berantakan, dan dengan wajah yang cute masuk. Omo.. omo… OMO!

“Annyeong haseo… Lee Hyuk Jae imnida. Kalian bisa memanggilku Eunhyuk. Manassobangapsumnida” katanya sambil tersenyum, lalu matanya melebar, melihat ke arahku dan sooyoung. “Hyo… hyoyeon? Sooyoung?” tanyanya tidak percaya.

“Eun… eunhyuk…” ujarku. Suaraku sepelan bisikan, berbeda dengan sooyoung yang langsung berteriak dan melompat berdiri. “Hyukkie oppa!!” serunya gembira. Dia pasti sudah berlari dan memeluk Eunhyuk kalau saja sonsaengnim tidak menegurnya dan menyuruhnya kembali duduk. Eunhyuk akhirnya disuruh untuk duduk 2 bangku di depanku.

Aigoo… Eunhyuk-ku… yang sudah 5 tahun tidak kulihat. Eunhyuk yang sangat kusayangi, bahkan sampai sekarang. Eunhyuk yang… merupakan cinta pertamaku, kini kembali lagi. Dan… eunhyuk tidak akan bisa bersama sooyoung lagi, karena sooyoung sudah bersama onew.

Kriiing… Bel istirahat~

Aku dan Sooyoung langsung menghampiri eunhyuk. “Aigoo… kapan kau kembali dari Jepang?” “Kenapa kau tidak memberitahuku?” “Bogoshippeoyo!” “Suatu kebetulan kita bersama lagi!” seruku dan sooyoung bersamaan. “Woo woo woo… tenang tenang…” Eunhyuk berseru sambil tersenyum. “Aku baru kembali dari Jepang kemarin. Akutadinya hendak memberitahu kalian hari ini, ternyata kita semua malah satu sekolah. Bahkan satu kelas!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Kau tambah tinggi saja, sooyoungie…” ujarnya sambil mengacak-acak rambut sooyoung. “Oppa juga bertambah tinggi dengan pesat! Padahal, dulu kau tidak sampai seginiku” katanya sambil menunjuk ke hidungnya.

“Sooyoung~” panggil seseorang. Sooyoung menengok dan langsung memeluk si pemanggil yang tak lain tak bukan adalah namja chingunya, Onew. Eunhyuk membeku di tempatnya melihat mereka berdua berpelukkan.

“Oh iya… Onew oppa, ini adalah hyukkie oppa, teman masa kecilku yang baru kembali dari Jepang” ujar sooyoung. Onew mengulurkan tangannya. “Lee Jin Ki imnida. Panggil saja Onew.” katanya sambil tersenyum. “Lee Hyuk Jae imnida. Eunhyuk” kata eunhyuk kaku. “Ngomong-ngomong… kau ini… siapanya sooyoung? Sahabat dekat?” tanya eunhyuk lagi.

“Ah… Onew oppa ini… nae namja chingu” ujar sooyoung sambil tersenyum yang membuat eunhyuk tampak sedikit syok. Tapi, eunhyuk cepat-cepat menutupinya. Aku menonton drama singkat ini dengan santai di sebelah eunhyuk. “O..oh… Chukkaeyo.. Aigoo… uri sooyoung sudah besar sekarang” ujar eunhyuk sambil mengacak-acak rambut sooyoung lagi. “Hyoyeon.. temani aku keluar sebentar. Aku masih belum mengenal sekolah ini. Annyeong onew, sooyoungie…” kata eunhyuk cepat-cepat lalu menarik tanganku.

“Jadi dia… namja chingunya Sooyoung?” tanya eunhyuk. “Nde. Mereka cocok ya? Sangat serasi” ujarku. Eunhyuk diam saja. Dia mendesah. “Kalau begitu… memang sudah tidak ada kesempatan untukku” ucapnya sedih. “Apa… kau masih begitu mencintainya sampai sekarang?” aku bertanya. Dia mengangguk sedikit. Apa… memang tidak ada kesempatan untukku?

Sejak itu, Eunhyuk sedikit menjaga jarak dengan sooyoung. Dia menjadi sangat dekat denganku. Dia bilang dia mau melupakan sooyoung. Tapi… tidak apa. Walaupun sebagai pelampiasan, aku bahagia bisa bersamanya. Karena aku.. mencintainya.

6 bulan sudah aku dan eunhyuk selalu bersama-sama. Tak terpisahkan. Bahkan, kami bertiga, Aku sooyoung dan eunhyuk, sudah seperti kembali ke masa kecil kami, saat kami selalu bersama-sama. Eunhyuk mengakui, dia sudah berhasil melupakan sooyoung. Dan aku pun… sudah tidak ada alasan membenci sooyoung lagi.

Sooyoung suatu hari bertanya kepadaku, apa aku salah makan obat. Dulu, tiba-tiba aku membencinya dan sekarang tiba-tiba aku tidak membencinya lagi. Aku hanya tertawa dan mengatakan padanya “Sudahlah, itu masa lalu.”

Lalu suatu hari, hari dimana aku paling berbahagia…

“Eunhyuk… apa kau benar sudah melupakan sooyoung?” tanyaku padanya. Dia menatapku. “Nde. Aku sudah bisa melupakannya” ujarnya. “Itu… waktu yang cepat untuk melupakan seorang cinta pertama” ucapku karena sudah bertahun-tahun dan aku masih belum bisa melupakan eunhyuk.

“Aku bisa melupakannya… karena… aku sudah mencintai seorang yang lain” ujarnya. Hatiku seakan tertusuk duri. Kini, siapa lagi sih yeoja yang beruntung itu? Saat eunhyuk sudah melupakan sooyoung… malah datang lagi seorang yang lain di hatinya.

“Wah… kau cepat jatuh cinta” ucapku, memaksakan sebuah senyuman. “Kekeke. Aku tidak bisa tidak mencintainya. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Dia bernama… Kim Hyoyeon” ucapnya sambil menatap dalam mataku. Mwo?? Apa aku tidak salah dengar?

“A… aku?” tanyaku. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Hyoyeon-ah… saranghae…” ujarnya. kata-kata yang selalu ingin aku dengar darinya. “Na… na do saranghae” kataku. Air mataku sudah mengalir keluar. Dia menghapusnya. “Aigoo.. kenapa kau menangis?” tanyanya. Aku menggeleng. “Aku hanya… sangat senang” ucapku. Dan sejak saat itu, aku miliknya dan dia milikku.

Tapi, suatu hari, ketika kami bertiga pergi ke taman, aku melihat eunhyuk terus menatap sooyoung tanpa berkedip. Oke, kuakui saat itu sooyoung memang sangat cantik. Tapi, apa eunhyuk harus menatapnya sampai seperti itu di depan yeoja chingunya?

“Kau… apa kau masih menyukai sooyoung?” tanyaku dingin padanya yang membuatnya terkejut dan menatapku. “Annio… aku sudah melupakannya. Aku hanya mencintaimu” katanya. “Tapi… cara kau menatap sooyoung…” Kata-kataku dipotong oleh pelukannya. “Na neon saranghae, Hyoyeon-ah… Percayalah padaku” ucapnya. Aku bisa mendengar ketulusan dari kata-katanya dan akhirnya aku mengangguk.

“Ah… apa kalian keberatan kalau aku mengajak Onew?” tanya sooyoung, membuat kami melepaskan pelukan kami. “Oh, gwenchana.” jawab eunhyuk. “Bagus!” seru sooyoung sambil bertepuk tangan dan tiba-tiba Onew sudah berada di sampingnya (?)

Jadi hari itu, kami ber-4 bisa dibilang.. umm.. apa yah itu sebutannya… date… date… ah! double date! Kekeke. Tapi, tidak sepenuhnya double date karena Onew dan sooyoung memisahkan diri untuk berjalan berdua saja. Jadi, tinggallah aku dan eunhyuk berdua di taman.

“Eunhyuk! Coba kau lihat it-” “Hyoyeon-ah…” panggil eunhyuk sambil menggenggam tanganku. “Hmm?” jawabku. “Panggil aku oppa..” ujarnya. “Wae? Umur kita kan tidak beda jauh” ujarku.

“Tapi aku ini kan namja chingumu!” protesnya. “Lalu?” tanyaku polos. Dia mencubit pipiku. “Pokoknya kau harus memanggilku oppa!” katanya ngotot. “Kalau aku tidak mau?” kataku juga ngotot. “Issh… kau ini…” gumamnya sambil cemberut. Aku tertawa melihat wajahnya yang lucu. “Coba saja kejar aku! Kalau kau berhasil menangkapku, aku akan memanggilmu oppa” tantangku. Lalu aku mulai berlari mengelilingi taman dengan eunhyuk yang mengejarku dari belakang.

Setelah beberapa menit berlari, aku menengok ke belakang. “Eunhyukk!!” seruku sambil menghampirinya yang jatuh terduduk di tanah. “Gwenchanayo?” tanyaku khawatir. Tapi, dia tersenyum licik dan menggenggam lenganku. “Nah.. kena!” serunya dengan nada kemenangan. “Ah… kau curang!” protesku. “Pokoknya aku sudah menangkapmu. Sekarang… panggil aku oppa” ujarnya. Aku akhirnya mengalah. “Nde, eunhyuk oppa…” kataku. Dia tertawa dan aku juga ikut tertawa.

Hidup terasa lebih ringan sekarang. Aku mendapatkan cinta pertamaku, dan aku sudah berbaikan dengan sooyoung sekarang. ~~

The end…

Advertisements

Melodies of Life chapter 5-The unexpected ‘New Friend’


Kyuhyun POV

“Apa aku sudah mati?” tanyaku seperti orang bodoh. “Ya! Kau ini bicara apa sih?!” serunya, menatapku seakan-akan aku ini alien yang berkepala 2. Sosoknya tidak jelas, samar-samar, dan ehem… agak transparan. Yang kutau, dia seorang yeoja. “Nuguya?” tanyaku bingung. Siapa dia? Mengapa tiba-tiba ada di rumahku?

“Seo Joo Hyun imnida” katanya sambil tersenyum. “eeh… Cho Kyu Hyun imnida” kataku, mengulurkan tanganku. Dia tersenyum gugup dan menyambut tanganku. Deg! Aku tersentak. Tangannya… halus sih, tapi… tidak seperti tangan manusia. Seperti sedang menyentuh air yang tidak basah. Seperti udara yang padat. Seperti… sesuatu yang nyata, tapi mustahil.

“Ap-Apa..” Aku terkaget dan langsung menyentakkan tanganku. “Kau ini siapa sebenarnya?” teriakku padanya, agak sedikit takut. Tapi, dia tersenyum. Wah, senyum yang indah. “Aku ini seorang malaikat, babo!” serunya.

Aku melongo, karena 3 alasan. 1. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa ada di bumi, apalagi di RUMAHKU? 2. bagaimana mungkin aku bisa melihat bahkan berjabatan tangan dan mengobrol dengan malaikat tanpa mati terlebih dahulu (Syukur-syukur ketemunya malaikat, bukan setan pas udah mati…)? 3. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa mengucapkan kata babo?

“Tunggu… tunggu… Ini pasti mimpi!” Aku berkata, sambil mencubit pipiku sendiri. Sakit. Berarti… bukan mimpikah? Tap tap tap… kudengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. “Akan kujelaskan nanti. Ingat! Yang bisa melihatku hanya kau, cho kyuhyun. Arasso?” ucapnya. Belum sempat aku menjawab, Sooyoung sudah memotongnya.

“Oppa! Gwenchanayo?” serunya khawatir sambil menghampiriku. “Nde. Mungkin kepalaku sedikit terbentur. Aku bertemu dan bahkan berbicara dengan seseorang yang mengaku seorang malaikat” ucapku sambil melirik ke arah malaikat itu. Sooyoung menatapku seakan-akan aku baru saja mengatakan kalau aku akan menikah dengan Sungmin Super Junior. “Ckck. Kepalamu mungkin memang terbentur sangat keras” komentarnya sambil mengecek kepalaku, berpura-pura bersikap dramatis.

“Lagipula, kenapa sih kau harus memanggilku sebegitu keras?” tanyaku jengkel padanya. “Eh… begini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan” katanya. Sikapnya langsung berubah gugup. “Wae?” tanyaku penasaran. “Kalau kau merasa jantungmu berdegup kencang saat dekat dengan seseorang, tapi kau merasa gugup dan bahagia di saat yang sama, dan merasa ingin sempurna di depan orang itu, apa artinya?” tanyanya, menghindari tatapanku.

“Kau sedang jatuh cinta!” ucap sang malaikat menyimpukan. “Yep. Dia benar. Kau jatuh cinta” ucapku. “Mwo? Dia? Siapa yang benar?” tanyanya bingung. “Dia” kataku menunjuk ke arah si malaikat. Sooyoung menatapku lagi seakan aku ini memang benar-benar menikah dengan Sungmin Super Junior. (Sungmin: Apaan sih ? Aku dibawa-bawa terus… entar Sunny marah ah! xD)

“Sudah kubilang hanya kau yang bisa melihatku!” ucap si malaikat. “Itu tidak adil! Aku bisa disangka orang gila kalau begitu” seruku padanya. “Argh! Kusarankan kau ke psikiater, oppa!” ucap Sooyoung lalu pergi meninggalkanku. “Ya! Sooyoung! Beritahu dulu oppa, siapa orang yang membuatmu jatuh cinta? Hei, Sooyoung!” Aku berteriak, tapi dia mengabaikanku. Aigo… uri sooyoung sudah besar! Dia sudah jatuh cinta sekarang!

“Nah, malaikat. Jelaskan semuanya padaku” ucapku, mulai menerima kenyataan kalau ini bukan mimpi buruk. “Tubuhku sedang sekarat di rumah sakit. Tuhan memutuskan, kalau aku mau sembuh, aku harus melakukan sebuah misi” jelas si malaikat. “Dan apa hubungannya denganku?” tanyaku penasaran.

“Misiku adalah untuk mempersatukanmu dengan yeoja yang kau cintai, Im Yoona” lanjutnya, membuatku terkejut. “Mworago??” seruku. Aishh… Tuhan… aku memang memohon pada-Mu untuk mempersatukanku dengan Yoona, tapi… apa harus dengan cara seperti ini?

“Kau harusnya bersyukur! Tuhan sudah mau meluangkan waktunya untuk menjawab doa-doamu yang sok puitis dan berlebihan itu” ucapnya. “Mwo? Apa kau tidak tau aku merangkai doa itu sepanjang pelajaran Bahasa Korea, tau!” seruku jengkel. Dia tertawa. Apa semua malaikat mempunyai tawa yang manis seperti itu?

“Nah, malaikat. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku padanya. “Berhenti memanggilku malaikat. Apa kau merasa nyaman kalau aku memanggilmu manusia? Yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Yoona, manusia” ucapnya.

“Nde, nde. Kalau begitu… siapa namamu tadi?” tanyaku. “Seo Joo Hyun.” ucapnya. “Baiklah, Joohyun. Bagaimana caraku minta maaf pada yoona?” tanyaku. “Panggil saja aku Seohyun” ucapnya. “Aish… kau banyak maunya! Katakan saja, bagaimana cara aku minta maaf pada Yoona?” tanyaku padanya.

“Menggunakan kata-kata sederhana. Katakan kau menyesal, dan kau tidak ingin dia marah padamu. Ayolah… keluarkan saja semua pesonamu” ucap Seohyun. “Anni anni… aku tidak bisa! Setiap dekat dengannya… semua pesonaku lenyap seketika. Aku… gugup” ucapku. Itu memang benar. Ada sesuatu… yang membuatku gugup tapi sekaligus bahagia setiap berada di dekatnya.

“Yasudah. Lakukan saja dan ikuti kata-kataku besok. Arra?” jelasnya. Aku mengangguk. “Emm… mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi memang agak sedikit mengganggu untukku. Nanti kau tidur dimana?” tanyaku polos padanya. Dia tertawa. “Malaikat tidak butuh tidur, babo” katanya. Dia mungkin satu-satunya malaikat yang bisa berkata ‘babo’ . pikirku.

—-

Esok harinya, aku bangun dengan wajah yang sangat lelah dan lingkaran hitam di bawah mataku. “Kekeke. Annyeong, Mr. Panda!” ejek Seohyun padaku. “Ya! Joohyuuunn!” seruku padanya. Dengan termalas-malas, aku mandi dan segera ke meja makan.

Kulihat yeodongsaengku sudah disana, siap dan rapi. Sejak kapan dia bisa bangun pagi? Pikirku. Ckck, cinta memang sangguo mengubah segalanya. “Hei… apa kau mau memberitahu oppa siapa namja yang bisa membuatmu bangun sepagi ini dan bahkan menata dirimu serapi ini?” tanyaku padanya. Kulihat pipinya bersemu merah. “Ehh… sudahlah, oppa. Ayo habiskan saja sarapanmu lalu kita berangkat sekolah” ucapnya. “Nde, nde. Tapi, kapan-kapan kenalkan padaku ya” ucapku. Dia tidak menjawab dan hanya memakan rotinya.

Aku menengok ke arah rumah Yoona. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia akan keluar. Mungkin dia bahkan belum bersiap. Kami berangkat sekolah pagi sekali hari ini. Aku bersumpah tidak pernah seumur-umur pergi sepagi ini, bahkan saat hari pertama memasukki sekolah.

“Ceritakan sesuatu tentang dirimu” ujarku pada Seohyun, setelah kami berpisah dengan sooyoung. “Hm, molla. Yang kutau hanyalah namaku. Seo Joo Hyun” jawabnya sedih. “Hei… jangan sedih. Gwenchana. Sebentar lagi, kau pasti akan kembali ke tubuhmu dan mengingat semuanya lagi. Aku berjanji!” ujarku padanya, mengusap pelan pundaknya. Jujur, aku menyukai sensasi saat aku menyentuhnya. Seakan menyentuh sesuatu yang nyata tapi mustahil, seperti yang sudah kubilang. Tapi… lembut dan menenangkan.

Aku masuk ke kelas dan menunggu yoona. Sesekali mengobrol dengan seohyun saat tidak ada yang memperhatikan. Kuakui, dia teman yang baik, walaupun dia merupakan teman baru yang tidak pernah kuharapkan.

Beberapa saat kemudian, Yoona masuk ke kelas. Aku langsung menghampirinya. “Yoona-ah…” panggilku. Dia hanya melemparkan tatapan dingin padaku.

“Katakan kau menyesal…” ujar seohyun. Aku mematuhinya. “Aku menyesal atas kejadian kemarin. Aku ingin minta maaf. Aku tau aku ini bodoh dan konyol” ucapku mengikuti kata-kata seohyun. Aku hendak memprotes saat dia bilang ‘bodoh dan konyol’. Tapi dia langsung mencubit lenganku, menyuruhku melanjutkan. “Aku tidak bisa tenang. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan ini semua. Kumohon… aku tidak tau apa yang harus kulakukan kalau kau marah dan benci padaku. Jeongmal mianhamnida” ucapku sambil menunduk.

Dia terdiam beberapa saat. “Nde. Aku juga minta maaf. Mianhae” katanya sambil tersenyum. Yes! Kudapatkan lagi senyum itu! Gomawo Joohyun-ah~

“Hei… besok ulang tahun Yoona loh..” ucap Seohyun. “Mwo? Jeongmal?” ujarku terkejut. Seisi kelas menatapku bingung. Aku hanya nyengir dan menunduk malu. “Kau tau darimana?” bisikku. Dia tersenyum. “Ada beberapa hal yang menguntungkan menjadi seorang malaikat, contohnya mengetahui sesuatu dengan mudah” ujarnya. Aku menatapnya jengkel. “Nanti pulang, temani aku ke mall. Aku harus memberikan sesuatu untuk Yoona” ucapku. Dia mengangkat dua jempolnya sebagai tanda persetujuan.

“Kyuhyun oppa… mau pulang bareng?” tawar yoona, setelah sekolah usai. “Ehm… tidak bisa. Aku ada sedikit urusan. Mianhae” kataku padanya. Dia terlihat sedikit kecewa. “Gwenchanayo” katanya.

“Kkaja!” ucapku pada seohyun. Kami pergi ke mall dan menghampiri toko aksesoris. “Joohyun-ah… bantu aku memilih. Apa yang biasanya yeoja sukai?” tanyaku bingung, melihat ke segala benda pink dan bling-bling di sekelilingku dengan pasrah. Jelas aku tidak akan sebingung ini kalau disuruh memilih kaset Playstation.

“Cari pelan-pelan benda itu dengan hatimu” ujarnya. Aku menatap pasrah. Sebuah kalung menarik mataku untuk memandangnya. Aku mengambilnya. Kalung perak sederhana dengan liontin lambang hati. Cantik. Entah kenapa, aku merasa ini cocok untuknya. Aku menoleh ke arah seohyun dan dia mengangguk menyetujui.

Aku melihat 2 buah gelang pasangan, dengan ukiran berbetuk sayap, yang terpisah. Gelang itu bisa digabungkan, membentuk sepasang sayap yang unik. Dia juga mengambil itu. Setelah membayar di kasir, dia memberikan salah satu gelangnya pada Seohyun.

“Mwo? Apa ini?” tanya seohyun bingung. “Itu gelang, babo. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku” ucapku padanya. Dia memakai gelangnya. Awalnya, aku khawatir apa gelang itu akan terlihat seperti melayang sendiri, tapi lega setelah dia menjelaskan apa yang melekat di tubuhnya juga ikut tidak terlihat. Aku tersenyum memandangnya. Aku tidak pernah berpikir, bermimpi pun tidak, memiliki teman baru seorang ‘malaikat’

-TBC-

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Seohyun sukses membuat Kyuhyun mendapatkan Yoona?

Wait in Melodies of Life chapter 6~

 

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

Donghae melongo, melihat sosok yang berdiri di depannya saat dia membuka pintu kamar Minho. Begitu juga dengan Jessica, dan Sooyoung. Iya, sooyoung. Sosok yang berdiri di depan Donghae itu menatap kedua pasangan itu terkejut.

“Sooyoung?” ujar Donghae bingung. “Sooyoung!” panggil Jessica girang sambil memeluk sahabatnya itu. “Eeh? Bukannya ini kamar Minho?” ujar donghae bingung, tapi sekaligus senang, melihat sahabat yang sudah lama tidak dilihatnya ini.

“Siapa itu? Ah, Minho-ah!! Ada… Donghae dan Jessica!” seru Kyuhyun yang memeriksa keluar, tak kalah terkejutnya melihat pasangan itu. Minho langsung menuju ke luar diikuti oleh Krystal di sampingnya. “Kyungsan-ah!” seru Jessica dan Donghae gemas sambil menggendong bocah kecil yang tersenyum itu.

“Krystal-ah?!” seru Jessica tidak percaya. Terlihat bahwa Krystal belum memberitahu onnie-nya tentang hubungannya dan Minho. “Onnie?” tanya Krystal, tak kalah heran.

“Ada apa kalian kesini?” tanya Kyuhyun, menyalami Donghae dan Jessica. “Kami pindah rumah di dekat sini, dan memutuskan untuk melihat-lihat sebentar disini” jelas Donghae. “Bagaimana dengan kalian? Kok bisa berkumpul seperti ini? Dan… Krystal?” sembur Jessica dengan berbagai pertanyaan.

“Kami tadi bertemu di pemakaman Seohyun.” kata Sooyoung. “Lalu mereka memutuskan untuk ke apartemenku, karena kangen” sambung Minho. “Sedangkan aku dan Minho oppa sebenarnya berpacaran, onnie” tambah Krystal.

“Mwo?? Kau tidak memberitahu onnie-mu ini, Krystal? Aissh…” ujar Jessica mendramatisir. “Minho-ah! Kita akan jadi saudara!” seru Donghae sambil merangkul Minho. “Yah.. aku harap sih bisa secepatnya seperti itu” kata Minho mengedip ke arah Krystal yang membuat yeoja cantik itu memerah pipinya.

“Huaaa… senangnya kita bisa bersama seperti ini” ujar Sooyoung. “Nde. Sayang sekali tidak ada Changmin dan Yoona yang sedang di Amerika, dan Leeteuk yang sudah ke Jepang, juga… Taeyeon…” Jessica tidak melanjutkan kata-katanya.

BRUAKK! Ada suara ribut dari luar. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” terdengar teriakan teredam. Mereka memandang satu sama lain. Suara itu sangat familiar. Dan lagi, Yoona? Spontan, mereka melihat keluar.

BRUAKK! Yoona terjatuh dengan keras, membuat kotak-kotak yang dibawanya terjatuh. “Yoona-ah! Kau tidak apa-apa?” seru changmin cemas, membantu Yoona berdiri. “Sudah kubilang, biar aku saja yang membawanya” kata changmin lembut.

“Changmin….” “Yoona…”Changmin dan Yoona menoleh ke asal suara yang memanggil mereka dan seketika terkejut. “Sooyoung? Kyuhyun? Minho?” ujar Yoona terkejut. “Donghae? Jessica?” tambah changmin yang juga melongo.

“Changmin! Yoona!” seru Sooyoung histeris memeluk kedua sahabatnya itu. “Bagaimana kalian bisa ada disini?” tanya Minho bingung. “Nde. Harusnya kan kalian di Amerika” kata Kyuhyun.

Changmin dan Yoona berdiri, lalu, changmin menceritakan semuanya yang telah terjadi pada sahabat-sahabatnya itu.

“Mwoo? Kalian… kalian… kabur dari Amerika dan ke Korea, tanpa membawa harta apapun?” tanya Jessica histeris. “Kalian ini nekat sekali sih!” gerutu Donghae.

“Aku tidak terima! Yang kuinginkan adalah bersama Yoona” jawab changmin. Yoona mengangguk. “Kalian ini… Bagaimana kalian bisa hidup nanti?” tanya Kyuhyun sambil menghela nafas, memikirkan kebodohan sahabatnya.

“Itu… belum kami pikirkan” jawan changmin sambil nyengir. “Kenapa tidak salah satu dari kalian memberikan pekerjaan untuk mereka?” usul Krystal yang tiba-tiba berbicara, sambil menggendong Kyungsan.

Mereka semua menatapnya. “Eeh… itu bukan ide yang bagus yah?” tanya Krystal salah tingkah. “itu brulian!” ujar Kyuhyun. “jenius” komentar Sooyoung. “Kenapa kita tidak memikirkannya yah?” ucap Donghae. “Dongsaengku memang pintar. Seperti onnie-nya” pede Jessica. “Anni. Seperti namja chingunya” kata Minho.

“Hmm, kau siapa?” tanya Yoona. “Krystal imnida. Aku dongsaengnya Jessica onnie, dan yeoja chingunya minho oppa” jawab Krystal sambil tersenyum dan menjabat tangan Yoona dan Minho.

“Daaaan… ini pasti uri Kyungsan!” ujar yoona, mengelus pipi Kyungsan. “Aiih… aegyooo” seru changmin sambil mencubit pipinya kyungsan. “ya! Shim changmin!” omel sooyoung. “Kekeke. mianhae, omma” sindir changmin sambil memeletkan lidahnya.

“Ahhh… aku merindukan kalian semua! Jeongmal boghosippeo yo!” seru Sooyoung, memeluk semua sahabatnya. “Nde. Rasanya sudah lama sekali, tidak melihat dan bercanda dengan kalian seperti ini” ucap Yoona terharu.

—-

“Changmin-ah! Jangan terlambat. Ini hari pertamamu bekerja loh” ucap Minho, mengingatkan temannya itu. “Nde. Tentu saja. Nah, yoong, aku berangkat dulu ya” kata changmin sambil mengecup kening yoona. “Ckckck. sudah seperti suami-istri saja” komentar Minho.

Changmin bekerja sebagai manajer di perusahaan Kyuhyun. Sedangkan Yoona bekerja sebagai pegawai di restoran milik Jessica. Kyuhyun sudah tidak bekerja sebagai model dan mulai bergerak di bidang pengusaha, sedangkan changmin yang kemampuannya mengelola perusahaan memang sangat bagus, padahal impiannya adalah bermian biola. Sooyoung sebagai ibu rumah tangga sedangkan Jessica masih mengelola restorannya yang semakin hari semakin berkembang, sedangkan Minho menjadi pemain basket dan Donghae masih menjadi programmer.

Changmin, Minho, dan Yoona keluar dari apartmen mereka. Tiba-tiba, changmin langsung berlari. Karena bingung, Yoona dan Minho ikut-ikutan berlari mengejar changmin, diikuti oleh 3 orang di belakang mereka yang berbadan besar dan tegap.

“Oppa, ada apa?” tanya Yoona sambil berlari. Changmin diam, lalu kemudian menjawab “mereka… suruhan appa-ku.” kata changmin.

BRUKK! Mereka menabrak seseorang. “Changmin! Yoona! Minho! Ada apa?” tanya Donghae, yang ternyata orang yang mereka tabrak. “Hyung… ada yang mengejar kami. Tolong” kata Minho panik. Donghae ikut-ikutan panik, tapi kemudian memutuskan menyembunyikan mereka sementara di rumah barunya.

“Ada apa sebenarnya?” tanya donghae bingung. Changmin menatap dengan cemas orang-orang yang semakin mendekat itu. “Mereka… suruhan appa-ku. Mereka pasti mencariku. Dan…” kata-kata changmin terputus, melihat ada seorang namja lain yang mendekat. Namja itu mengenakan jas abu-abu dan perawakannya tegas. Namja itu tak lain adalah appa-nya changmin.

“Changmin… keluarlah” kata appa-nya changmin. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berbicara maupun bergerak. “Max, aku tidak mau menggunakan kekerasan. Keluarlah sekarang” kata Mr. Shim sekali lagi. Setelah ragu sejenak, changmin akhirnya keluar.

“Apa maumu?” tanya appa-nya changmin, to the point. “Biarkan aku bebas. Memilih wanita yang memang kucintai.” kata changmin tak kalah dingin.

Mr. Shim menghela napas. “Baiklah. Tapi dengan 1 syarat” kata appa-nya changmin. Changmin menaikkan salah satu alisnya. “Apa?” tanya changmin.

“Buktikan… kalau kau bisa membangun sebuah perusahaan. Yang bisa menyaingi Shim Enterprise. Saat itulah, akan kuberikan semua restuku untukmu. Oohtoke?” tanya Mr. Shim, mengulurkan tangannya. Dengan mantap, changmin menyambut tangan itu “Baiklah. Tunggulah, saat itu pasti akan cepat tiba” ucap changmin dengan penuh percaya diri.

Setelah itu, Mr. Shim dan suruhan-suruhannya keluar, kembali ke dalam mobil lalu akhirnya pergi dan dengan cepat menghilang.

“Changmin oppa?” tanya Yoona cemas. “Gwenchana, yoong. Aku yakin, dengan bantuan Kyuhyun hyung, kami pasti bisa menyaingi shim enterprise. Jangan ragukan kemampuanku. kekeke” kata changmin sambil mengacak-acak rambut yoona.

“Maaf mengganggu, teman. Tapi, bagaimana kau bisa melakukannya… kalau kau terlambat di hari pertamamu bekerja?” tanya donghae, menunjuk ke arah jamnya. “Aigoo… baiklah. Aku pergi sekarang. Annyeong, semuanya” kata changmin, buru-buru keluar dan berlari.

Minho POV

Yoona noona juga langsung pergi ke restoran Jessica noona. Aku juga sudah akan bersiap pergi ke stadion tempatku latihan basket. “Minho, chakkaman!” seru donghae hyung, menghentikan langkahku.

“Wae-yo, hyung?” tanyaku. Dia terdiam sebentar. “Gwenchana. Ini adalah hari yang baru untuk kita” renungnya. Aku tersenyum “Anni, hyung. Ini bukan hari yang baru. Ini hanya kesempatan. Kesempatan dari hari-hari kita yang lama. Hari-hari lama, dulu, saat kita bersama-sama. Seperti sekarang. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dengan kita bersama-sama. Kekuatan dari sebuah persahabatan yang tulus itu… lebih kuat, bahkan dari yang sanggup kita kira”

Donghae terdiam mendengar perkataanku “Entah sudah berapa lama kita berpisah, sampai-sampai uri Minho sudah menjadi sebijak ini.” ujarnya.

Aku tersenyum, memikirkan hari-hari depan, kesempatan-kesempatan berikutnya, yang diselingi canda dan tawa kami. Walaupun kami berpisah, kekuatan dari persahabatan kami, membuat sebuah kebetulan akan waktu dan ruang itu mungkin. Membuat pertemuan kami kembali itu semudah membalikkan telapak tangan.

Masih sangat banyak yang terjadi di antara kita semua. Masih banyak yang sangat ingin kuceritakan kepada kalian semua. Bahkan aku belum menceritakan kan, bagaimana Jessica noona melahirkan seorang bocah perempuan yang sangat lucu, yang diberi nama Soohee. Bagaimana aku dan Krystal menikah, dirayakan besar-besaran. Bahkan Leeteuk hyung pun datang ke pesta pernikahanku! Lalu… bagaimana, kami semua berdiri dengan bangga, berfoto di depan gedung sebuah perusahaan nomor 1 di Asia, saingan perusahaan Shim Enterprise. Bagaimana aku menghabiskan masa tuaku, masih tetap bersama-sama dengan mereka! Bagaimana Yoona melahirkan seorang anak, bagaimana Kyungsan dan Soohee menikah. Dan, akhirnya… bagaimana kami semua benar-benar terpisah. Selamanya. Karena sebuah keabadian bernama maut. Tapi, aku percaya, di surga nanti, kami semua pasti akan bercanda dan tertawa bersama lagi.

Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada kalian. Karena kalau itu terjadi, author-ku yang sudah lelah mengetik ini mungkin akan mengetik sepanjang sisa hidupnya untuk menyelesaikan FF-nya. kekekeke. Jadi, kalau kalian mau tau lebih lanjut, cobalan datang ke pinggiran kota Seoul, Korea Selatan dan cari sebuah apartemen sederhana. Cerita persahabatan kami sudah melegenda menjadi bagian dari apartemen itu sendiri. Kenangan kami disana melebur, bersama dengan digusurnya bangunan tua itu. Tapi, ada 1 yang tidak akan pernah hilang. Persahabatan. Pershabatan kami, yang kami bangun kokoh, sekokoh batu karang. Nah, annyeong semuanya. ^^

salam,

 

Choi Minho

Author POV

Aku membaca lagi tulisan terakhir dari Minho, lalu menghela nafas. Kisah persahabatan mereka, adalah kisah persahabatan yang didambakan semua orang. Persahabatan yang kekal. Tapi, akhirnya…. cerita mereka hanya sampai sini kubuat, walaupun, seperti yang dibilang Minho, akan ada masih banyak sekali.

Kuharap, kalian berkenan untuk meninggalkan komentar kalian disini, sementara aku akan membuat cerita tersendiri tentang Taeyeon dan Leeteuk, yang tidak dibahas disini. See you in the next fanfic ^^

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

“Emm.. ini yeoja chinguku.” kata Minho sedikit malu-malu. “Mwo? Wahh!” seru Sooyoung kaget. Kyuhyun juga terkejut, menatap yeoja yang berdiri malu-malu di belakang Minho.

Eh, ternyata… tak lain tak bukan yeoja chingunya Minho adalah aku! Author ff ini!  kekeke. Andwae… author just kidding

“Annyeong haseo. Jung Soo joung imnida. panggil saja Krystal” kata yeoja itu. “Krystal!!” seru Sooyoung kaget. “Eeh?” Krystal bingung, karena dia merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

“Aigoo… kau lupa padaku? Aku Choi Sooyoung. Kau adiknya Jessica kan?” kata Sooyoung bersemangat. Anaknya, kyungsan juga ikut-ikutan bersemangat dan bertepuk tangan (?)

Krystal tampak mengernyit dan berpikir sebentar. “Ahh! Sooyoung onnie! Aku ingat!” seru Krystal lalu memeluk Sooyoung. “Kalian saling mengenal?” tanya Minho heran.

“Minho-ah! Kita semua kan pernah bertemu di pernikahannya Donghae dan Jessica.” kata Sooyoung. “Benarkah? Aku tidak benar-benar memperhatikan” ujar Kyuhyun. “Yah… sebelumnya aku dan krystal juga sudah pernah bertemu” tambah sooyoung.

“Baguslah, minho. Kalau kau sudah bisa melupakan seohyun” kata Kyuhyun sambil tersenyum pada dongsaengnya itu. “Haha. aku tak pernah bisa melupakannya. Tapi, setidaknya aku sudah bisa melanjutkan hidupku” kata Minho pahit sambil merangkul Krystal.

New Jersey, USA, 16 March 2014

Changmin POV

“Max! Go home right now! I need to tell you something. (Max, pulang sekarang! Aku ingin memberitaumu sesuatu)” kata Appaku lewat telepon.Aku hanya menjawab “iya” lalu menutup teleponnya.

Aku sudah menjadi direktur perusahaan Shim enterprise, padahal usiaku baru 26 tahun. Aku menjadi pengusaha yang sukses dan menjadi namja impian para wanita.

Sudah lama sekali aku tidak mengontak Yoona. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir, yang kutau, dia sudah menyusulku ke Amerika. Tapi, aku kesulitan menghubunginya. Aku hanya berharap keajaiban dan takdir bisa membawa kami bersama lagi.

“Wanna go home, Mr. Shim? (mau pulang, tuan shim?)” tanya Paul, manajer perusahaanku. “Yes, Paul. As I don’t have any meeting today, please handle this company while I am not here and call me if there’s any problem (Iya, paul. Aku tidak ada pertemuan hari ini, tolong urus perusahaan sementara aku tidak disini dan telepon aku jika ada masalah)” kataku pada pegawai kepercayaanku itu. Dia mengangguk lalu aku masuk ke mobil limusinku dan mengendarainya pulang.

“Wae-yo, daddy?” tanyaku. Walaupun tinggal di Amerika, aku tidak pernah mencoba untuk melupakan bahasa Korea. Appa menengok ke arahku. Dari ekspresinya tampaknya dia bahagia.

“Guess what, son? Parker advertising! That fabulous company. Mr. Parker agree my idea to make you and her daughter get married. It will affect our company much (Tebak, anakku? Periklanan Parker! Perusahaan yang keren itu! Tuan parker menyetujui ideku untuk menikahkanmu dan anak perempuannya. Ini akan mempengaruhi perusahaan kita)

Aku terdiam membeku di tempatku. What? It isn’t a good idea at all! (Apa? Ini bukan ide yang baik!) “I don’t want, pa. Sorry. (Aku tidak mau, pa. Maaf)” kataku menolak.

“Oh, you can’t refuse. It’s not a choice. You have to. (Oh, kau tidak bisa menolak. Ini bukan pilihan. Kau harus)” kata appa dengan enteng. Aku marah dan kesal.

Selama ini, apa yang diinginkan appa selalu kuturuti. Tapi, soal pasangan hidup, aku dan hanya aku yang berhak menentukan, karena… yang bisa mendampingiku hanya Im Yoona seorang!

“I DON’T WANT! Terserah kau mau mengusirku, mencoret namaku dari ahli waris! Aku tidak peduli! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai DAN itu sudah bisa dipastikan bukanlah anak dari Mr. Parker!” seruku emosi dan marah-marah dalam bahasa Korea.

Appa menatapku dingin. “Kau harus” katanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya berbahasa korea padaku. Tapi, tetap saja aku kesal lalu pergi keluar dari rumahku yang amat mewah ini, mengendarai mobil sport-ku  tak tentu arah dengan emosi yang meluap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, di depan sebuah apartemen sederhana untuk menenangkan pikiranku. Mengendarai mobil dalam kondisi marah hanya akan membahayakan diriku sendiri.

Byurrrr… Air mengucur membasahi tubuhku dan jok mobilku. Aku menatap ke atas. Langit cerah dan tidak hujan. Rupa-rupanya, ada orang ceroboh yang membuang air atau menumpahkannya, atau apalah, dari lantai atas apartemen ke bawah.

“Sorry. I don’t know if there’s any people down there (Maaf. Aku tidak tau ada orang di bawah)” teriaknya dari atas. Grrr. orang ini… menambah emosiku saja!

“Is it a polite way to apologize to someone by screaming at him? (Apakah sopan minta maaf pada seseorang dengan berteriak padanya?)” kataku, balas meneriakinya. Dia terdiam beberapa saat, lalu kemudian…

“I’m sorry. Really really sorry.(Maaf. sangat sangat maaf)” katanya, berkali-kali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba saja sudah di depanku. Rupanya dia seorang yeoja. Aku mendesah, sudah begitu lelah dan tidak mau menambah masalah lagi.

“Yeah. Never mind. Now stop begging like that (Iya. Tidak masalah. Sekarang berhenti memohon seperti itu)” kataku. Dia menengadahkan wajahnya, dan membuatku terkejut dan terkesiap.

“Yoo… yoona!” panggilku tidak percaya pada sosok yang berdiri di depanku. “Changmin oppa!” serunya, sama kagetnya denganku. Spontan, aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Betapa aku merindukan tubuh mungilnya yang berada dalam dekapanku.

“Oppa… boghosippo yo” katanya sambil terisak. Ah, dia menangis. “Nde. Na do boghosippo” kataku, masih memeluknya. Akhirnya, takdir sudah bertindak dan mempertemukanku kembali dengan goddess-ku ini.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana” katanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum padanya. “Nde. aku juga, chagiya” kataku, mencubit pipinya yang halus.

“Sekarang oppa sudah sangat sukses ya. Aku ikut senang. Dan… aku menepati janjiku. Aku menyusul oppa” katanya ceria, menghapus air mata haru di pipinya. Aku tersenyum padanya yang sangat polos ini. Apa aku harus memberitahu kejadian tadi padanya?

“Yoona-ah…” panggilku halus padanya.

“Wae, oppa?” tanyanya bingung. “Aku…” aku menceritakan semuanya padanya. Dia tampak sangat syok dan terkejut. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku padanya sambil mengernyitkan dahiku bingung. Dia terdiam “Apa… kita memang tidak bisa bersama, oppa?” tanyanya. Aku terkejut dan menatapny, mencengkram kedua bahunya “Andwae! Kita pasti bisa bersama. Kita pasti menemukan jalannya” kataku.

“Ta..tapi..” aku memotong perkataannya dengan menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut. Tidak lama. Hanya beberapa detik, lalu melepas bibirku dari bibirnya.

“Yoona-ah… saranghae. Aku… kita bisa pergi. Pergi dari ini semua. Ayo kita kembali ke Korea. Kita bisa tinggal bersama di apartemen kita dulu. Oohtoke?” tanyaku. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam kepalaku. Yoona kelihatan ragu sejenak. Aku meyakinkannya dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.

Hari itu juga, kami langsung berangkat ke Korea. Aku tidak kembali lagi ke rumahku untuk mengambil barang-barangku. Aku gadaikan mobil sportku, untuk menambah jumlah hartaku supaya cukup untuk nanti, karena yang kubawa hanyalah HP, dompet yang berisi kartu kredit dan sejumlah uang tunai, dan mobilku itu.

Aku dan Yoona bercanda dan mengobrol selama di pesawat. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Walaupun semua karir yang sudah kubangun dari nol akan hancur seketika, aku tidak peduli. Hal yang paling kuinginkan adalah bersama-sama dengan Yoona.

Malamnya, kami sampai di Korea. Kami segera naik taksi menuju ke pinggiran kota Seoul, mencari apartemen yang penuh dengan kenangan indah kami.

“Changmin-ssi? Yoona-ssi? Lama sekali tidak bertemu kalian!” ujar resepsionis apartemen. Rupanya selama 3 tahun, tempat ini pun masih belum berubah sama sekali.

Karena lelah, aku dan Yoona langsung pergi ke kamar kami yang bersebelahan dan tidur dengan sangat nyenyak, untuk menyambut esok. Hari yang baru.

Seoul, South Korea, 17 March 2014

Donghae POV

“Ssica-yah!” panggilku. “Kau tidak boleh bawa barang yang berat! Arraso?” ucapku lagi, mengambil kardus yang sedang dia tenteng. “Ini tidak berat, kok” katanya sambil memanyunkan bibirnya. “Kekeke. Sudahlah. Biar aku saja yang membawanya.” kataku lagi.

Kami pindah ke Seoul hari ini. Memulai kehidupan baru, tinggal di rumah kami sendiri, membentuk sebuah keluarga baru, terlebih…. Jessica sedang hamil! Dia sudah hamil 2 bulan. Aku akan selalu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bocah kecil akan memanggilku ‘appa’.

Aku memandang rumah baruku. Sederhana memang. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan elegan. Aku tersenyum melihat seluruh ruangannya yang akhirnya selesai aku dan ssica rapikan.

Daaan… jarak rumahku ke apartemen kami dulu tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, walaupun akan cukup lelah.

“Hmm, bagaimana kalau kita melihat apartemen kita dulu?” usulku yang langsung ditanggapi persetujuan Ssica dengan semangat. “omo! Aku sangat merindukan tempat itu! Dan merindukan 8 makhluk-makhluk itu” kata ssica girang.

“Nde. Bukankah Minho masih tinggal disitu? Kita bisa mengunjunginya sebentar” kataku. Ssica langsung mengangguk dengan semangat.

Akhirnya, kami sampai di bangunan bertingkat sederhana itu. Bangunan yang penuh dengan kisah-kisah kami. Canda, tawa, tangis, duka, semua kami alami bersama disini. Bangunan yang menjadi awal hidup dan persahabatan kami. Bangunan yang mengajarkan kami tentang kehidupan. Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat dan sangat kurindukan.

Aku mendesah. Flashback ingatan-ingatan masa lalu, tentang kenanganku bersama Jessica, bersama cinta pertamaku, Sooyoung, bersama musuh sekaligus sahabatku, Kyuhyun, bersama hyung yang sangat kukagumi, Leeteuk, dongsaengku Minho, dongsaeng malaikatku yang sudah mendahului kami, Seohyun, perfect couple kami, Yoona dan changmin, dan ahjummaku, Taeyeon.

Ingatan-ingatan itu terbesit cepat dalam kepalaku, menampilkan semacam sepotong-potong peristiwa masa lalu kami, terputar begitu saja dalam otakku seperti sebuah film. Bagaimana kami di mall, bagaimana kami salah paham, bagaimana kami makan bersama, bermain salju bersama, dan menghabiskan malam bersama. Ah, selamanya. Ingatan itu tidak akan pudar dari kepalaku. Walaupun aku amnesia, hatiku pasti mengingatnya jauh lebih baik.

“Aku merindukan mereka” kata Jessica, menghilangkan semua flashback dari kepalaku. Aku tersenyum “Nde. kita semua pasti saling merindukan” ujarku.

Kami masuk ke dalam apartemen itu, disambut dengan pemandangan yang familiar. Bahkan selama 3 tahun, apartemen ini belum berubah. masih sesederhana dulu.

Kami naik ke lantai 5 menggunakan lift, mengingat Jessica harus benar-benar menjaga kandungannya, calon anak kami. Kami mencari sepanjang koridor. Aku tersenyum sendiri saat melewati kamarku dan kamar Yoona, yang juga di lantai ini.

Ini dia. Pintu yang di depannya ditempel kertas putih bertuliskan ‘Choi Minho’ dengan diatasnya terlampir nomor 205. Pintu yang didalamnya terdapat dongsaeng kami, Choi Minho.

Aku mengetuk pintu. “Masuk saja!” itu jawaban dari dalam. Krieeettt… perlahan-lahan aku membuka pintunya, membayangkan seberapa kaget ekspresi minho melihat kami. Tapi, aku salah. Justru, akulah yang sangat kaget, begitu aku membuka pintu kamar Minho.

-TBC-

Apa yang membuat donghae kaget?

Bagaimana kelanjutan kisah Changmin dan Yoona?

wait in part 11 ^^

huaaa… happy valentine all! Tadinya author mau bikin ff spesial valentine… tapi… lagi butek nih otaknya. Jadi, lanjut FR part 9 aja yah ^^ kekeke~ happy reading 🙂

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Horeee… jadi semuanya sudah baikan lagi?” seru Changmin dengan gaya childishnya. Donghae mengangguk. “Ahh… kita jadi berpasang-pasangan begini. Tidak pernah terfikir olehku sebelumnya” ujar Minho.

“Nde. Semuanya jadi rumit begini” timpal Taeyeon. “Sepertinya hanya kau yang belum dapat masalah, onnie” komentar Yoona. “Mwoo? Aku sangat merindukan Teukkie oppa tau! Itu masalah yang sangat besar!” ujar Taeyeon yang hanya disambut gelengan kepala dari teman-temannya.

“Kuharap tidak akan ada masalah lagi. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini” ujar Sooyoung. “Nde. Author jahat banget sih” kata Kyuhyun. “Tau nih. Kalau begini terus, aku keluar saja dari fanfic ini!” ancam Ssica.

“Eeh… jangan nyalahin author dong. Kan ini demi para reader. merong~” ujarku pada tokoh-tokoh fanficku yang menyebalkan (tapi cakep2) ini. “Tapi, kasian sama kami juga dong!” ujar Leeteuk, yang tiba-tiba nongol terus ilang lagi kembali ke wamilnya. (untung bukan Seohyun yang nongol, ntar author juga takut kalo dia tiba-tiba nongol lagi tapi dalam bentuk siluman Keroro #abaikan)

“Nde. Nde. Author kasih konfliknya ngga yang susah-susah banget deh. Oke! Back to your scenes and dialogs guys!” seruku. Mereka semua menurut padaku. kekeke~ (author sekali2 pengen eksis juga dong)

“Ayo pergi ke suatu tempat, merayakan ini!” seru Changmin, yang memang hobi jalan-jalan. “Boleh. Pas sekali hari ini kita semua sedang tidak sibuk” kata Kyuhyun.

Maka, setelah perundingan selama 10 menit, mereka memutuskan untuk pergi ke mall. “Jadi, kita mau kemana sooyoungie?” tanya Kyuhyun. Sooyoung tersenyum dan menjawab “Game center!”

“Ya! Kalian…” tapi kata-kata donghae itu tidak dihiraukan sama sekali oleh KyuYoung. Mereka sudah berlari menuju game center.

“Ssica-ah.. petshop?” tanya donghae, menggandeng tangan Jessica. “Eeh? Tapi kupikir, kau tidak menyukai binatang?” tanya ssica heran. “Yah… memang. Hanya ingin mengulang kenangan saat pertama kali aku menyukaimu” ucap donghae sambil tersenyum. “Saat itu? Saat itu kau sudah menyukaiku?” tanya Ssica terkejut. Donghae tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Sementara itu, pasangan Changmin-Yoona sudah menghilang LAGI! Entah kenapa, mereka selalu saja menghilang berdua saat bepergian dengan sahabat-sahabat mereka.

“Oke. Jadi, kita ditinggal?” tanya Taeyeon tidak percaya pada Minho. Minho mengangkat bahunya “kurasa begitu” katanya. “Dengar, Minho. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Aku sudah mempunyai Leeteuk oppa” ucap Taeyeon serius.

Minho tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia, bahkan sampai beberapa orang di sekitar mereka menatapnya. “Ooh.. aku baru tau kau bisa tertawa sampai seperti itu.” ujar Taeyeon.

“Mana mungkin noona!” seru Minho setelah pulih dari tawanya. “Aku juga sudah mempunyai Seohyun…” ucap Minho sambil tersenyum menerawang. “Yah… aku tau kau sangat mencintainya. Tapi, ada baiknya kau mencari penggantinya” nasehat Taeyeon.

“nde, ahjumma. Kekeke~” ejek Minho. “Ya! Choi Minho! Kau sudah semakin mirip Kyuhyun! Jangan terkontaminasi olehnya” seru Taeyeon sedangkan Minho hanya tertawa.

Kyuhyun POV

Aku dan sooyoung sudah berada di game center lagi, tempat yang penuh dengan kenangan manis aku dan dia. Tempat pertama kali aku mendapat ciumannya. Kekeke.

“Sooyoungie! Yang menang dapat 1 ciuman. Arasso?” tanyaku, mengeluarkan senyum evilku. “Mwo?” tanyanya terkejut. “Oke. Deal. Nah, ayo kita mulai” ujarku lalu kami memulai game street fighter kami.

Hanya terdengar suara keramaian orang yang mengobrol atau melakukan kegiatan lain di sekitar kami, suara jari kami yang beradu dengan keyboard, dan suara dari komputer kami saat kami melakukan tendangan, oukulan, dan semacamnya hingga akhirnya…

“Yeah! Aku menang!” seruku senang, melihat saat fighter-ku menendang fighter sooyoung di detik-detik terakhir. Kuakui, sooyoung semakin hebat dalam bermain games. Tapi, tetap akulah yang paling hebat! kekeke

“Nah, sooyoung!” panggilku padanya yang hanya menatapku pasrah. Aku sudah mendekatkan pipiku ke wajahnya, menunggu bibirnya yang tipis menempel di pipiku.

Tapi, aku tidak mendapatkannya. Aku tidak kecewa. Jelas sangat tidak kecewa! Karena… dia justru menarikku mendekat dan mencium… bibirku. Aku sedikit terkejut, melihat wajahnya tepat di depan wajahku, dan bibirnya yang menempel di bibirku.

Aku balas menciumnya. Kurasa, baru kali ini kami berciuman… tanpa paksaan. Aku tidak menyuruhnya menciumku di bibir loh. Aku hanya berpikir sebatas di pipi saja sudah cukup. Tapi, begini juga tidak apa-apa. Aku lebih senang malah daripada hanya ciuman di pipi.

“Eeh…” aku sedikit gugup dan tidak bisa berkata-kata setelah dia selesai menciumku. Dia hanya tersenyum dengan manis. Aigooo… Tuhan, ajaiblah tanganMu yang bisa menciptakan makhluk seindah yeoja chinguku ini.

Aku mencubit pipinya dengan gemas. “Saranghae, Sooyoung-ah” kataku sambil tersenyum. Rasanya aku bisa mengatakannya seribu kali, memastikan kalau dia tau aku benar-benar sangat mencintainya.

“Na do saranghae, oppa” katanya sambil mengelus pipiku. Aku menggenggam tangannya dan membelai rambutnya. Betapa aku mencintai yeoja ini!

Aku dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yoghurt, tempat changmin dan yoona berada setelah aku mendapat balasan sms dari yoona.

Author POV

“Hei!” sapa Sooyoung pada pasangan itu. Tapi, tampaknya pasangan itu sedang tidak dalam suasana hati sebaik Kyuhyun dan Sooyoung.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun, menyadari wajah mereka yang kelam. Changmin mendesah. “Kau saja yang ceritakan, yoona” kata changmin.

“Tadi… appa-nya changmin meneleponnya.” kata yoona memulai penjelasannya. “Bukannya appa-nya sedang di Amerika? Tumben menelepon?” cetus Sooyoung menyelanya. “Berhenti menyela, onnie” ucap Yoona.

Sooyoung mengangguk dan Yoona melanjutkan ceritanya. “Appa-nya changmin, menyuruhnya pergi ke Amerika besok pagi. Besok pagi! Untuk meneruskan perusahaan Shim enterprise di Amerika” ucap Yoona, berusaha keras menahan air matanya.

“Mwo? Kau akan ke amerika?” seru Kyuhyun tidak percaya. Dengan pandangan sendu, Changmin mengangguk. “Aku tidak bisa menolaknya. Appa memaksaku. Aku pikir, aku hanya akan meneruskan perusahaannya di Korea. Itu tidak masalah selama aku bisa bermain biola. Tapi, ternyata appa tidak menyukaiku bergerak di bidang musik.” kata changmin sambil mendesah.

“Tapi, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja oppa. Aku akan ikut kau ke Amerika!” seru Yoona, mengagetkan Sooyoung dan Kyuhyun. Changmin menggeleng “Annio, Yoong. Kau masih harus melanjutkan kuliahmu” kata changmin.

“Aku bisa saja berkuliah di Amerika” kata Yoona ngotot. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. “Kau tidak bisa, yoona. Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka tidak akan setuju” kata changmin, mengusap air mata yoona.

“Tapi.. tapi… aku akan sangat kehilanganmu, oppa” rengek yoona. Changmin mencium pipi yoona. “Aku juga. Pasti. Susullah aku, saat kau sudah bekerja, sudah siap.” kata changmin.

Yoona mengangguk walaupun dengan sedikit ragu. “Nde. Pasti oppa. Tunggu aku.” kata Yoona lalu mereka berpelukkan.

“Ah, oppa. Kami akan sangat merindukanmu” kata sooyoung. “Pertama, Leeteuk hyung, lalu Seohyun, sekarang kau.” desah Kyuhyun.

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan, kyu. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” ujar changmin, tersenyum dengan tegar.

—-

Sooyoung POV

“Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Kita tidak akan mungkin bersama-sama selamanya. Kita punya jalan hidup kita masing-masing. Mungkin, suatu saat kelak… kita akan bertemu kembali.” kata-kata changmin itu masih terngiang di telingaku. Bahkan setelah kurang lebih 3 tahun sudah berlalu.

Aku merenung, menatap foto 10 orang yang sedang berfoto dengan latar belakang apartemen. Mereka masih sangat muda. Mungkin umur mereka masih belasan, beranjak 20 saat itu. Mereka tersenyum bahagia, seakan mereka tidak akan pernah berpisah selamanya.

Tapi, mereka salah. Mereka akhirnya berpisah, sibuk dengan kehidupan dan jalan mereka masing-masing.

“Sooyoungie…  hei! Aku lapar” kata Kyuhyun, memelukku dari belakang. “Nde. Aku akan membuatkanmu sarapan” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Hei… itu kan foto kita” ucapnya, tersenyum dan mengambil foto itu dari tanganku. “Ah, aku merindukan mereka semua.” katanya. Aku mengangguk. “Aku juga” kataku.

“Omma! Appa!” seru seorang bocah berumur 1 tahun sambil berlari dan memeluk kakiku. “Kyungsan-ah!” seruku lalu menggendongnya. Bocah ini, adalah anakku, dan dia baru saja kemarin bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, Omma dan Appa.

Aku dan Kyuhyun sudah 2 tahun menikah. Kami tinggal di kota Seoul, agak sedikit jauh dari apartemen kami dulu. Terakhir kami kesana, tinggal Minho dan Yoona dan sekarang pun kami dapat kabar kalau Yoona sudah pergi ke Amerika.

Tentang donghae dan Jessica, aku tidak tau banyak tentang mereka. Kami bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, di pesta pernikahan mereka. Setelah itu, kami tidak banyak mendengar tentang mereka.

Tentang Taeyeon dan Leeteuk… ah, aku kembali sedih mengingat mereka. Miris sekali kisah cinta mereka itu. Akupun sudah tidak mendengar kabar mereka lagi. Ah, aku tidak ingin menceritakannya. Terlalu sedih.

Minho? Entah apa kabar dongsaengku itu. Apa dia sudah menemukan pengganti Seororo yah? Seohyun. Ah, aku baru ingat. Sudah tepat 3 tahun hari ini semenjak dia pergi.

“Kyu!” panggilku, sambil menggendong Kyungsan di tangan kiriku dan memasak dengan tangan kananku. Aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.

“Mwo?” tanyanya sambil meletakkan foto itu di meja. “Hari ini tepat 3 tahun Seobaby meninggal. Bagaimana kalau kita ke makamnya?” usulku yang langsung dibalas persetujuan Kyuhyun.

Setelah sarapan, mandi, dan bersiap-siap, aku, Kyuhyun, dan Kyungsan berangkat menuju makam sahabat kami itu.

“Kyungsan-ah. Kita akan bertemu dengan Seohyun noona. Hmm, apa Seohyun ahjumma? Ah pokoknya, dia itu orang yang sangat baik dan cantik. Sayang dia tidak bisa melihatmu ya” ucapku pada Kyungsan.

Anakku itu menanggapi dengan tawanya. Seohyun, kalau kau bisa melihat ini, kyungsan menyukaimu loh. Tentu saja! Semua orang pasti menyukai orang sepertimu. kataku dalam hati.

Kami berjalan menuju makam Seohyun. Rupanya, kami keduluan. Disana sudah ada sahabat kami yang sudah lama kami tidak temui.

“Minho-yah!” seruku dan Kyuhyun bersamaan, mengahampiri Minho yang sedang berjongkok di depan makam Seohyun. Dia tampak sedang menaruh beberapa bunga di makam seohyun.

“Sooyoung noona! Kyuhyun hyung! Oww… dan.. Kyungsan!” seru Minho dengan sangat bahagia. Kami semua berpelukan dengannya. Eeh,,, ternyata dia tidak sendiri!

“Minho, siapa itu?” tanya Kyuhyun pada sosok yeoja yang berdiri di belakang Minho.

“Ehm, ini yeoja chinguku.”

-TBC-

Gimana? Author mau pendekin ceritanya and fokus ke melodies of life. Jadi, author dikitin konfliknya.Abis, mereka juga udah pada complain ke author. Kekeke~

please leave your comment, okay? 😉

mianhae reader.. updatenya lama >.<

Sama mau ngucapin Happy birthday buat ah ra onnie sma chansung oppa 😀

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

 

Author POV

“Apa kau yakin, changmin?” tanya Taeyeon sambil menggigit bibirnya khawatir. “Apa ini tidak terlalu beresiko?” tanya Minho.

“Hm, tapi aku yakin sekali dengan cara ini pasti berhasil!” ucap changmin. Dia, Yoona, Minho, dan Taeyeon sedang mendiskusikan plan B mereka, yang tampaknya rencana besar-besaran, seakan-akan ingin mendamaikan Korea Selatan dengan Korea Utara.

“Tapi, banyak cara lain kan? Kita bisa saja ajak mereka bicara baik-baik.” ucap Minho. “Negatif. Aku sudah bicara dengan Kyu oppa, dan dia hanya menjawab ‘hmm’ dan that’s it. Tak ada perubahan” kata Yoona.

“Tapi, apa kita bisa mempercayai mereka?” tanya Taeyeon. Changmin mengangguk pasti. “Aku yakin 100%, kalau begini mereka pasti berhasil. Kyuhyun dan Donghae pasti menyelamatkan yeoja chingu mereka” ucap changmin serius.

Yang lainnya mengangguk. “Tapi rencana ini freak banget deh” cetus Minho. “Nde. memang” jawab Yoona santai. Mereka memutuskan menjalankan plan B itu besok pagi.

Kyuhyun POV

Aku bangun cukup siang, mengingat hari ini tidak ada pemotertan. Jadi, hari ini aku free. Segera ke kamar Donghae. Itu pesan dari Yoona. Ke kamar donghae? Untuk apa?

Aku masuk ke kamar donghae dan kulihat yang lainnya sudah ada disana. Aku ambil tempat duduk di sebelah Yoona. “Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Aku dan yoona ingin pergi ke suatu tempat 1 hari ini. Memperbaiki hubungan kita” jelas changmin. “Benarkah? Kalian sudah baikan? Syukurlah” seruku lega. Aku jadi tidak harus tak enak hati lagi.

“Belum. Makanya, kami ingin pergi berdua saja. Meluruskan semuanya” ucap Yoona. “Aku dan Minho juga ada sedikit urusan dengan keluarga Seohyun” ujar Taeyeon noona.

“jangan bilang… onnie melupakan leeteuk oppa dan berkencan dengan minho” ucap Sooyoung. “mana mungkin, babo!” seru taeyeon noona sambil menjitak sooyoung. “Hanya ada urusan sedikit kok dengan keluarganya Seohyun” ucap Minho.

“Jadi, hari ini kami ber-4 akan pergi seharian. Apa kalian ada rencana juga?” ucap Yoona. Bagus sekali! Aku, Sooyoung, Donghae, dan Jessica. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Kami semua menggeleng serempak. “Membosankan pasti” cetus Minho. “Kenapa tidak pergi saja?” usul changmin. Pergi? Ide hebat! Pasti kami ber-4 akan sangat senang. Saking senangnya paling kami hanya akan diam semua.

“Nde. Ke pantai? Atau ke taman?” usul Taeyeon lagi. “Boleh juga” celetuk donghae. Membuatku, sooyoung, dan ssica spontan menengok ke arahnya. “Ayo, kita ke pantai!” ajak donghae. Ssica mengangguk ragu, “terserahlah” jawab sooyoung asal. Aku tidak mejawab.

“Ke pantai ya? Pantai mana?” tanya changmin. “Pantai An Chol aja   kataku. Pantai itu pantai yang indah dan sepi. Mereka kelihatannya setuju.

“Nah, kalau begitu kami berangkat dulu. Selamat bersenang-senang” kata yoona, lalu yoona, changmin, disusul Minho dan taeyeon yang keluar dari kamar donghae.

-end of POV-

“Oke. Kita jalankan rencana kita” kata yoona, setelah mereka sudah berada di luar jangkauan dengar teman-teman mereka yang lain. “Yosh! Yoong,minnie,taeng,minho hwaitting!” seru mereka.

—-

“Nah, jam 2 kita berangkat ya” kata donghae. Aku hanya mengangguk, lalu menuju ke komputer donghae untuk memainkan beberapa permainan. “Aku ambil baju dulu ya” kata ssica. “Aku juga” ucap sooyoung lalu menyusul ssica.

Suasana jadi hening. Hanya ada suara jari beradu dengan keyboard saat kyuhyun asik bermain game. “Kenapa semua jadi serumit ini ya?” ucap donghae pada dirinya sendiri sambil memijit-mijit kepalanya. Dia sadar, semua yang terjadi adalah tanggung jawabnya, seperti yang telah ditugaskan leeteuk padanya.

Kyuhyun tidak menjawab. Antara pura-pura tidak mendengar dan asik dengan game-nya atau memang tidak mau menjawab.

“Apa saja yang akan kita lakukan di pantai?” tanya sooyoung tiba-tiba. Dia dan ssica kembali lagi ke kamar donghae, membawa sebuah tas berisi pakaian, handphone, uang, dan tentu saja cemilan.

“Molla. Berenang? Bermain-main? Kita sangat butuh refreshing!” ucap donghae. “Kita lupakan saja semuanya. Anggap saja kita semua hanya sahabat. Tidak ada masalah. Tidak ada pertengkaran” ujar Ssica.

“Masalah percintaan itu berbahaya ya. Efeknya pada persahabatan kita terlalu parah” ucap Kyuhyun yang sudah me-shut down komputer donghae. Yang lainnya terdiam. Menyetujui di dalam hati.

“Nah, aku akan mengambil pakaian ganti dulu. Abis itu kita berangkat saja” kata kyuhyun, melangkah ke kamarnya. Donghae juga mengambil pakaiannya di dalam kamarnya.

Sesaat kemudian, Kyuhyun sudah kembali ke kamar donghae disusul donghae yang keluar. “Nah, kkaja! Kita berangkat sekarang” ajak Sooyoung.

Selama di jalan, mereka mengobrol seperti biasa, walaupun sedikit canggung. Kyuhyun menghindar berbicara dengan sooyoung. Sedangkan Ssica menghindar berbicara dengan donghae, walaupun donghae terus mengajaknya bicara.

“Wah, sepi sekali” ujar ssica. Jelas saja. Pantai disini memang jarang diminati, karena tidak ada wahana apapun disini. Walau begitu, pantai ini bersih dan indah. Dengan tidak adanya wahana apapun disini, membuat keindahan alami pantai ini semakin terlihat.

“Berenang! Berenang!” seru Kyuhyun, cepat melepas kaosnya. Dia sudah memakai celana renang dari rumah. Begitu juga dengan Donghae. Mereka langsung berhambur ke lautan biru jernih dengan ombak yang tenang dan segar.

“Ayo, soo. Kita ganti baju dulu” ajak ssica. Dia dan sooyoung menghilang ke toilet umum kecil di pojok pantai.

“Mana mereka?” ujar donghae melihat sooyoung dan ssica yang sudah tidak di tempat mereka. “Ganti baju mungkin” jawab kyuhyun. “Nah, itu mere…”

Kyuhyun POV

“Nah, itu mere…” kata-kataku terpotong melihat Sooyoung yang baru kekluar dari ruang ganti dan menghampiri kami. Dia… wow! Cantik! Cantik sekali! Rambutnya sudah bertambah panjang sepertinya. Dia ikat rambutnya, menampilkan tengkuknya. Dengan tanktop yang tidak menutupi perutnya, dan hotpants pendek yang membiarkan pahanya dan kakinya yang jenjang itu terlihat jelas.

Sooyoung benar-benar membuatku terpesona. Aku terus memandanginya seakan-akan memujanya. Ah, aku memang memujanya.

“Oppa, kenapa?” ucapnya, menjentikkan jarinya di depan wajahku. “Eh.. annio. Kau… cantik sekali” ucapku jujur. Habis, untuk apa berbohong? Kulihat wajahnya tersipu, membuatnya semakin manis. “Eeh… gomawoyo” katanya pelan.

Aku menariknya membuatnya tercebur juga ke laut yang dalamnya hanya selutut kami. “Wah, segar” gumamnya. Melihatnya manis seperti ini, emmbuatku luluh dan sejenak lupa akan kemarahanku padanya.

Donghae POV

“maaf menunggu lama” ujar jessica, yang baru keluar dari WC. “Gwencha…” aku tertegun. melongo dan terpesona melihatnya. Rambut pirang yang biasa dia gerai dia ikat ke samping. Dia hanya memakai bra dan hotpants, menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Aku melihantnya. Dari atas sampai bawah. Perfect. Tidak ada cela.

Aku bahkan mengalihkan pandanganku dari sooyoung, yang kuakui sangat cantik untuk bengon lenatap jessica. “Kau.. cantik sekali” ucapku masih terpesona. “Gomawoyo” katanya sambil tersipu. Aigoo… ingin sekali kupeluk tubuhnya itu!

Tapi tiba-tiba… segerombol, ehm tidak segerombol juga sih. Hanya 5. 5 namja dengan badan tinggi dan kekar mendatangi kami. Mereka ini sepertinya perampok. Cepat kutarik ssica mundur di belakangku dan kulihat Kyu juga sudah menarik sooyoung.

“Mau apa kalian?” seruku. Sebenarnya, aku takut juga sih dengan mereka ini. Tapi, demi apapun, akan kulindungi teman-temanku! Mereka diam, tidak menjawab.

Salah satu dari mereka mendorongku. Seperti kertas yang tertiup angin, aku langsung tumbang. Kekuatannya 10 x lipatku. Tapi, aku langsung bangkit melihatnya hendak menarik Jessica. “Lepaskan dia!” seruku. Kulirik sedikit dan Kyuhyun juga sedang mati-matian melindungi sooyoung.

“Berengsek!” seru Kyuhyun, menendang salah satu dari mereka. Tapi, kyuhyun jauh lebih lemah. Dengan cepat dia dibalas dan ditonjok. Ditendang dan dipukul hingga hidungnya mengeluarkan darah dan mulutnya memuntahkan segumpal gelap darah. “Oppa!!” seru sooyoung histeris.

Keadaanku pun tidak lebih bagus dari itu. Jessica ditahan oleh salah seorang dari mereka. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman namja yang menahanku itu, tapi sia-sia. Dia sangat kuat. Alhasil, sementara aku tak bisa melawan, namja yang lain menonjok perutku, membuat segumpal darah kuludahi mengenainya.

“Sialan!” serunya mengutukiku, sambil menendangku dengan lututnya, menamparku dan akhirnya membanting tubuhku yang berlumuran darah ke pasir.

“Ayo, cepat!” seru si namja, membawa Sooyoung dan Ssica ke mobil jip mereka, lalu kabur.

Author POV

“Berengsek! @$#!*#&*!” seru Kyuhyun marah, bangkit dan mengejar-ngejar jip itu walaupun dengan kondisi yang sama parahnya dengan donghae. Tidak ada gunanya. Kyuhyun akhirnya terjatuh dengan langkah terseok-seok.

“Hyung, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan terengah-engah. “Molla” ucap donghae pasrah.

—–

Mereka berdiam merenung di kamar donghae. Donghae sudah melaporkan semuanya ke polisi dan jawaban polisi hanya “Masih dalam proses” sedangkan teman-teman mereka… tidak 1pun dari mereka mengangkat telfon yang membuat kyuhyun menyumpah-nyumpah.

Krrriiiiinngg! Telepon di kamar donghae berbunyi. “Yeoboseyo?” ucap donghae sambil mengangkat teleponnya. Wajahnya langsung berubah ke ekspresi ngeri. Kyuhyun penasaran dan mendekatkan telinganya, berharap dia bisa mendengar juga.

“…. tunggu di gedung tua dekat pantai. Jangan bawa polisi” hanya itu kata-kata yang bisa Kyuhyun dengar. “Wae, hyung?” tanya Kyuhyun.

“Mereka… menyuruh kita datang ke gedung tua di dekat pantai. Kita tidak boleh membawa polisi atau sooyoung dan ssica akan… entah apa yang akan mereka lakukan” kata donghae lelah. “kalau begitu, tunggu apa lagi!” seru kyuhyun.

“Jangan gegabah, cho kyuhyun! Keadaan kita masih begini. Ini sama saja bunuh diri” jelas donghae, menarik kyuhyun yang sudah hendak pergi. “Tapi.. sooyoung.. dan ssica?” seru kyuhyun. Dia menyentakkan tangannya dan pergi. “Kyu! Chakkaman! ah, dasar babo!” seru Donghae, mengejar temannya itu.

Donghae dan Kyuhyun berlari menuju gedung tua itu. Padahal, keadaan mereka masih babak belur begitu. “Dimana sih gedung tua itu?” ujar Kyuhyun, mencari-cari gedung yang dimaksud.

“Apa yang itu?” tunjuk donghae pada sebuah gedung yang dulunya bekas perkantoran yang sudah lumayan bobrok dan letaknya agak tersembunyi. Kyuhyun mengangguk setuju dan mereka berdua melangkah memasuki gedung tua itu.

Mereka mencari di sekeliling ruangan, dan akhirnya menemukan Sooyoung dan Ssica disekap di sebuah ruangan di lantai 3. “Sebentar, Kyu” tahan donghae. Dia mengambil sebatang kayu yang tersender di dinding. “Pakai ini saja” ucap Kyuhyun, mengambil pipa besi di sebelahnya.

Mereka mengendap-endap di belakang 5 namja itu lalu.. BRAKK! BRUKK! JEDUGG!! (?) mereka memukul kepala namja-namja itu dengan senjata ala kadar mereka. Alhasil, ke-5 namja itu pingsan.

“Sooyoung!” panggil kyuhyun, melepas ikatan sooyoung, sementara donghae melepas ikatan ssica. “Oppa!” ssica dan sooyoung memeluk pahlawan mereka masing-masing. “Ayo, pergi” ucap donghae.

Tapi, kaki ssica ditahan oleh seorang namja. “Jangan harap kau lolos begitu saja!” katanya lalu bangkit lagi. Salah satunya juga bangun lagi sambil menggosok-gosok kepalanya.

“Ssica, berdiri di belakangku!” seru donghae menarik ssica. “Soo…” tapi sooyoung sudah keburu maju. Naluri petarung (?) nya muncul. Dia mengambil pipa besi yang dipakai kyuhyun tadi. “rasakan ini, dasar makhluk jelek!” seru Sooyoung sambil memukul punggung namja itu dengan pipa besi dengan kekuatan penuh.

“Sooyoung, awas!” Kyuhyun menendang seorang namja yang berada di belakang sooyoung. Donghae juga membantu menonjok namja itu. Untung hanya 2 yang sadar dan yang lainnya masih pingsan.

Seorang namja hendak menyerang kyuhyun, tapi ditahan tangannya oleh sooyoung “Jangan-pernah-mencoba-menyakiti-namja-chinguku!” seru sooyoung murka sambil memelintir tangan namja itu menghasilkan bunyi KRAKK! tulang yang patah.

“Cih! Dasar bocah! Cinta monyet saja belagu!” seru salah satunya lagi yang baru saja sadar, bergabung dengan teman-temannya.

“ENAK SAJA! BUKAN CINTA MONYET TAU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAINYA!!” seru Kyuhyun, Sooyoung, Donghae, dan Ssica BERSAMAAN! Sambil Kyu menunjuk Soo, Hae menunjuk Ssica dan Sica menunjuk Hae. Mereka tertegun sendiri melihat kejadian itu.

“Ah, yasudah. Tugas kami cukup sampai disini. Ini!” seru si namja yang baru sadar, memberikan segulung perban untuk donghae. “Cinta kalian kuat loh. Jangan disia-siakan hanya gara-gara salah paham. Nah, aku harus mengurusi mereka yang lain gara-gara kalian” ucapnya lagi, membuat yang lainnya melongo.

“Sana , pergi! Berkencan kek, apa kek. Tunggu apa lagi kau disini?” ujar namja itu melihat mereka ber-4 hanya diam mematung. “Ta,tapi…” “Kalian mau kami culik lagi?” uujar namja lainnya. Mereka ber-4 menggeleng cepat. “yasuda, sana pergi” usir namja itu.

Mereka ber-4 keluar dari gedung tua itu dengan bingung. “Apa maksud mereka sih?” tanya Sica. “Molla. Tapi, yasudahlah. Yang penting kita semua selamat” ujar Kyuhyun.

“Nde. Apa oppa tidak apa-apa?” tanya ssica,mengelus pipi donghae yang memar-memar. Donghae menggenggam tangan ssica. “Gwenchana. selama kau tidak apa-apa” kata donghae sambil tersenyum, yang membuat pipi sica bersemu merah.

“Kau keren tadi” ucap Kyuhyun pada sooyoung. “Oh ya? Aku pikir aku terlalu… ngg, arogan saat memukulnya” kata sooyoung. “Memang” ucap Kyuhyun dibalas delikan sooyoung

“Aku suka saat kau bilang aku ini namja chingumu.” kata Kyuhyun, sekarang dia menatap sooyoung. “Tapi, memang kan?” ucap sooyoung. “Nde. Soo.. ada yang ingin kutanyakan” kata Kyuhyun. “Tanyakan saja”

“Apa kau… dan donghae berciuman?” tanya Kyuhyun ragu. Dia mencertakan kejadian yang ssica ceritakan dan juga saat dia mencium donghae di depan Kyuhyun. Mata sooyoung membelalak. “Mwo?? Jadi kita semua begini karena kesalahpahaman itu?” seru sooyoung.

“dengar!” katanya, yang membuat donghae dan ssica juga ikut mendengarkan. “Saat di depan apartemen itu, dia tidak menciumku kok. Hal yang donghae oppa lakukan cuma meniupi mataku yang kelilipan. Lalu, yang di apartemen, aku hanya… pura-pua menciumnya, supaya yah… kau cemburu” terang sooyoung.

“Syukurlah” ujar Kyuhyun. “Karena yang boleh menciummu hanya aku” lanjut Kyuhyun sambil nyengir.

“Jadi, oppa tidak pernah mencium Sooyoung?” tanya Sica. Dengan mantap, Donghae mengangguk. “Mianhae, oppa” kata Sica. “Gwenchana, Sica-ah. Apa.. kau bisa menerimaku lagi?” tanya donghae penuh harap.

“Hm, kan oppa yang sudah berjanji, akan memohon sendiri padaku saat kau sudah siap” kata Sica. Donghae mengangguk. Dia berlutut di depan Sica “Sekarang aku yakin, aku sudah siap. Ssica. Jessica Jung, saranghae. Jeongmal. Bolehkah aku, menjadi namja chingumu?” tanya donghae.

Ssica tersenyum. Dia menarik donghae untuk berdiri. Dia mengangkat kepala donghae dengan meletakan tangannya di pipinya “Na do saranghae oppa” katanya sambil memeluk donghae.

“Ehem, aku tidak ingin mengganggu, tapi bagaimana dengan changmin dan yoona?” tanya sooyoung. “Aku YAKIN mereka pasti sudah tau masalah ini. Mereka pergi untuk menyelesaikan semuanya kan?” ujar donghae.

“Hei… apa mungkin mereka yang merencanakan penculikan ini?” cetus Kyuhyun. “Ah, tidak mungkin. Masa mereka menggunakan cara beresiko seperti ini?” ucap Jessica disambut anggukan yang lain.

Sementara itu…

“Yeah! Kita berhasil!” ucap Yoona. Dia,changmin, minho, dan taeyeon melakukan tos “Jjang!” ucap mereka. “Nah, kalau begini, semuanya kan sudah diluruskan” kata Taeyeon lega.

“Nde. Aku senang kita sudah tidak ada masalah lagi” ucap Changmin sambil tersenyum.

-TBC-

Apa benar yang dikatakan changmin, dengan selesainya masalah ini, sudah tidak akan ada masalah lagi?

Wait in part 9! 😀

(drabble) Surprise!

Posted: February 10, 2011 in Friendship, Oneshoot
Tags: , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Sooyoung POV

Hoammm.. dengan masih sedikit mengantuk aku membuka mataku. Aku lelah sekali, setelah kemarin ke Cina, hanya untuk menemui Hankyung oppa, untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya, dan sampai di dorm malam sekali bersama Taeyeon dan Jessica.

Kutengok ranjang Jessica, yang 1 kamar denganku. Kosong. Tumben sekali anak itu sudah bangun? Kruyuuukk… Nde. inilah alasanku bangung. Aku lapaaaar sekali!

Aku keluar menuju dapur, berharap Hyoyeon sudah memasak untuk kami. Dan, kulihat semuanya sudah duduk rapi di meja makan, sedang memakan sarapan berupa roti bakar mereka TANPA MEMBERITAHUKU!

“ya! Kalian jahat sekali! Kenapa tidak membangunkanku?!” seruku, tapi tidak ada yang menjawab. Mereka terus saja melahap makanan mereka, seakan-akan aku ini tidak ada.

Aku duduk di kursi yang kosong, di sebelah Yoona. “Hyoyeon! Mana makananku?!” seruku, melihat piring kosong di depanku. “Masak saja sendiri” katanya dingin.

Aku melongo menatapnya. Ada apa dengannya? Aku menatap yang lain, mereka semua juga diam saja. “Tapi… kau tau kan aku tak bisa masak?” ucapku.

“Seohyun-ah…” panggilku, berharap magnae angel ini mau membantuku. “Aku sudah selesai. Mau pergi dengan Yonghwa oppa dulu” ucap magnae itu, mengabaikanku, lalu berjalan pergi.

“YA! ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA??! APA SIH SALAHKU?” seruku marah, apalagi saat keadaan capek dan lapar begini, semakin menambah emosiku.

“Pikir saja sendiri” sahut Yuri. Yoona mengangguk setuju. Dengan marah dan bingung, aku masuk ke kamarku. Ada apa sih dengan mereka semua?

Aku duduk di ranjangku. Berusaha mengingat-ingat apa kesalahanku sampai mereka mendiamkanku seperti itu. Tidak ada kok!

Paling, aku hanya memakan jatah makan malam yoona, membuat kesalahan saat tampil di Mubank, mengambil tanpa ijin peralatan spa Sunny, menyembunyikan high heelsnya tiffany, dan membangunkan Jessica tengah malam untuk menemaniku ke toilet. Itu saja kok!

Aku memutuskan untuk keluar, bertanya pada mereka. Saat keluar, kulihat dorm sudah sepi. Sangat sangat sepi! Tidak ada 1 manusia pun, padahal 15 menit sebelumnya mereka masih di meja makan.

Aku akhirnya keluar dari dorm, berjalan menuju kantor SM. Mungkin saja ada latihan tapi mereka tidak memberitahuku?

BRUKK! “Ah, mianhaeyo sooyoung-ah” kata Siwon, yang menabrakku. “Gwenchana, oppa” kataku. “Mau kemana oppa?” tanyaku, karena dia tampak sendirian berjalan-jalan di kantor SM.

“Mencari member yang lain.” katanya. “eeh? Aku juga” kataku.

FLASHBACK

Siwon POV

“Pagi semuanya!” sapaku pada teman-temanku yang mempunyai aktivitas sendiri-sendiri. Kyuhyun yang sedang main game, Heechul, Shindong, dan Eunhyuk yang sedang browsing, Leeteuk, Yesung, dan Sungmin yang sedang makan, Ryeowook sedang memasak dan lain-lain.

Tapi, mereka semua tidak ada yang menjawabku. “Pagi!” teriakku lebih kencang. Mungkin mereka tidak mendengarku, pikirku polos. “Berisik kau!” seru Heechul dengan kejam.

“Eeh…” aku hendak memprotes, tapi mereka semua tidak ada yang menghiraukanku, seakan-akan aku itu tidak ada.

“Kalian kenapa sih?” tanyaku bingung. “Pikir saja sendiri!” seru Sungmin dengan kejam. Aku hanya melongo. Ada apa sih dengan mereka ini?

“Aku lapar. Ryeowook! Kau masak apa?” ujarku, melangkah ke arah ryeowook. “Haah…” desahnya kesal lalu berjalan meninggalkanku. “Kau ini, bikin bete saja” ucap si magnae tanpa melihat ke arahku, masih terfokus pada game-nya. “Mwo?? Yang bikin bete itu kalian tau!” seruku. Yang lain hanya memandangku sinis.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mandi daripada mengurusi mereka. Ahhh.. segarnya. Suasana sangat hening. Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar dan, treng! Kosong. Mereka semua kemana sih?

Aku berjalan menuju kantor SM. Habis, mau kemana lagi? Aku mencoba mencari-cari ke-9 member lain, tapi nihil. BRUKK! Aku malah menabrak Sooyoung.

“Nde. Member SNSD yang lain juga sangat aneh hari ini” cerita sooyoung. Dia dan Siwon kini sedang berjalan-jalan di tempat yang sepi, menghindar dari banyak orang. Gawat kalau ada media yang menyorot mereka.

“Apa kita melakukan kesalahan ya?” gumam Siwon. “Molla, oppa. Kemarin masih baik-baik saja kok” ucap sooyoung. “Oh. Bagaimana dengan Hangeng? Apa kabarnya?” tanya Siwon antusias.

“Dia baik. Kemarin kami senang sekali bertemu dengannya. Sepertinya dia juga. Sampai larut malam kami baru tiba di Korea” cerita Sooyoung panjang lebar. Siwon manggut-manggut. “Aku merindukannya” ucap Siwon. “Nde. Aku sangat sangat merindukannya” sahut sooyoung.

KRUYUUUKKK… Siwon dan Sooyoung saling berpandangan. Perut mereka berdua sama-sama belum terisi sejak pagi. “Ini alasan yang paling tepat untuk membeli makan kan?” ucap Siwon. “Nde. Tapi, bagaimana kalau ada fans yang melihat?” tanya sooyoung khawatir.

“Aku akan menyamar dan membelinya. Kita makan disini saja” ucap Siwon. Dia mengenakan topi dan kacamata hitam, menempelkan kumis palsu, dan berjalan mencari kedai makanan.

“Ah, ini gara-gara Hyoyeon tidak mau memasak untukku!” keluh sooyoung. Beberapa saat kemudian, Siwon kembali, yang disambut senyum berbinar dari sooyoung melihat 2 burger yang ada di tangannya.

“Untung saja mereka tidak tau. Tadi, aku nyaris saja ketahuan” keluh Siwon. Sooyoung mengabaikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada burger berukuran besar yang dipegang Siwon.

“gomawoyo, oppa!” seru Sooyoung gembira, menyambar kedua burger itu. “Ya! Satunya untukku tau!” omel Siwon, menyambar salah satu burger itu.

Sooyoung melahap burger itu dengan bahagia, seakan-akan dia telah mendapat harta karun yang paling dinantikannya.

“Ah, aku belum kenyang” ujar Sooyoung, setelah melahap potongan terakhir burgernya. “memang kau pernah kenyang?” sindir Siwon. “Ya! Apa maksudmu?!” seru Sooyoung sambil memukul lengan Siwon.

“Haah… kita mau kemana lagi?” ujar Siwon. “Molla. Aku masih heran dengan mereka semua” ucap Sooyoung sedih. “Nde. Na do” ucap Siwon. Mereka takut, saudara-saudari mereka itu sangat-sangat marah pada mereka, entah apa kesalahan mereka.

Gee gee gee gee baby baby. Ponsel Sooyoung berbunyi. Sorry sorry sorry sorry. Ponsel Siwon juga berbunyi.

“Sms dari Taeyeon. katanya aku disuruh ke atap SM” ucap Sooyoung, membaca sms dari leader SNSD itu. “Kyuhyun juga menyuruhku ke atap SM” ujar Siwon.

Mereka saling berpandangan. Apa sih yang mereka rencanakan? Pikir Sooyoung. Dia dan Siwon langsung berjalan menuju gedung SM.

Sooyoung POV

Aku dan Siwon menaiki lift langsung menuju atap SM, dikerubungi rasa penasaran, kesal, dan bingung. Beberapa pegawai SM yang menyapaku bahkan tidak kuhiraukan saking terburu-burunya.

Klek! Pintu lift terbuka saat kami sudah sampai ke atap gedung SM. Tempat yang indah. Kami bisa melihat keseluruhan dan keindahan Seoul dari sini. Pemandangan yang menurutku paling indah.

Sedetik setelah aku melangkahkan kaki keluar dari lift….

“SANGIL CHUKKAHAMNIDA!!!” seru mereka semua membuat kupingku pengang. Bagaimana tidak? Member-member SNSD, SuJu, Shinee, bahkan f(x) dan BoA ada. Aku terkejut dan melongo. Begitu pula dengan Siwon yang di sebelahku.

“Eeh?” kata Siwon. Aku juga bingung. Sangil chukkahamnida? Selamat ulang tahun?

Selama 3 menit, aku dan Siwon yang jalan pikirannya memang ehm, sedikit lambat hanya berdiri di sana sambil bengong, lalu tiba-tiba aku ingat.

10 Februari 2011!! Hari ini ulang tahunku yang ke-21 dan Siwon oppa yang ke-24! Aigoo… bagaimana bisa aku melupakan ulang tahunku sendiri? Yang bertepatan 1 hari setelah hangeng oppa.

“Eeh… hari ini kita berulang tahun?” tanya Siwon polos. “Nde. Aku juga baru ingat” ucapku. “Omo! Masa kalian lupa hari ulang tahun kalian sendiri?” ucap Yesung sambil menepuk jidatnya.

Aku tersenyum. Mereka semua begitu baik. “Gomapsumnida semuanya!” seruku ceria. Saking bahagianya, sampai aku terharu dan menangis.

“Eeh… onnie, kok malah menangis?” ujar Yoona bingung. “Annio. hanya terharu” jawabku. “Seorang choi sooyoung terharu! Dan itu gara-gara kita!” seru Ryeowook bangga.

Siwon POV

Jujur, aku juga sangat terharu. Seperti sooyoung, aku pun ingin menangis saking terharunya. Tapi, kutahan air mata itu. Entah apa yang akan terjadi, mungkin aku akan diolok-olok selama setahun penuh oleh member SJ yang lain kalau aku menangis.

Kemudian, tampak seseorang membawa kue coklat besar. Yang membuatku terkejut, adalah orang yang membawa kue coklat itu. Bukan, bukan Justin Bieber, atau Rihanna, atau Barack Obama. Yang membawakan kue kami adalah… Lee Soo Man!

Pimpinan SM entertainment yang kami segani itu, dengan wajah tersenyum membawakan kue coklat besar bertuliskan Sangil Chukkae Choi ‘Sooyoung-Siwon’ . Aku dan Sooyoung benar-benar terharu, melihat seorang pimpinan SM begitu antusias merayakan ulang tahun kami.

“Sangil Chukkahamnida, Sooyoung-ssi, Siwon-ssi. Tetap berkarya and do your best! Hwaitting!” seru Soo Man. “Kamsahamnida, Soo Man-ssi” jawabku dan sooyoung bersamaan.

“Sooyoung, ini untukmu” kata Yoona, sambil memberikan kadonya. “Ini” Taeyeon dan Jessica juga memberikannya. Sementara, Leeteuk dan Sungmin juga memberiku hadiah.

“Ini.. untukmu sooyoung-ah” kata Kyuhyun, memberikan kado yang cukup besar dihias dengan pita pink. “Gomawoyo, semuanya” ucapku dan Sooyoung.

“Dan ini hadiah dari fans” ucap Eunhyuk, menunjukan segunung hadiah dari SONE dan ELF. Aku melongo melihat sebegitu banyak hadiah itu. Tapi, Sooyoung langsung menghampirinya dengan senyum bahagia.

Kami merayakan ulang tahun kami dengan ceria. Memotong kue, bernyanyi, dan bercanda. Padahal, sebelumnya aku dan Sooyoung sudah sangat takut mereka akan marah sekali pada kami ternyata, mereka mengerjai kami.

Acara ditutup dengan Leeteuk dan Taeyeon yang berduet bersama. Aku tersenyum. Gomawo semuanya. Aku sangat senang.

Sooyoung POV

Aku menatap Leeteuk dan Taeyeon yang sedang berduet, baru saja mendapat telfon dari orangtua dan onnie-ku, Soojin. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

Aku sangat terharu. Beruntung sekali memiliki keluarga seperti kalian. Gomawoyo, semuanya.

-The end-

Sangil Chukkae! Sooyoung onnie! Siwon oppa!! I’m trending it on twitter loh :DD kekeke~

mohon comment yah.. kalo perlu, tell me your wish (genie dong? ) for Sooyoung and Siwon 😀