Friendship Remedy (part 10)

Posted: February 17, 2011 in Friendship, Romance
Tags: , , , , , , , ,

NO COPYCATER! BE CREATIVE!

(MENGAMBIL KESELURUHAN CERITA, INTI CERITA, KALIMAT-KALIMAT DALAM CERITA)

Author POV

“Emm.. ini yeoja chinguku.” kata Minho sedikit malu-malu. “Mwo? Wahh!” seru Sooyoung kaget. Kyuhyun juga terkejut, menatap yeoja yang berdiri malu-malu di belakang Minho.

Eh, ternyata… tak lain tak bukan yeoja chingunya Minho adalah aku! Author ff ini!  kekeke. Andwae… author just kidding

“Annyeong haseo. Jung Soo joung imnida. panggil saja Krystal” kata yeoja itu. “Krystal!!” seru Sooyoung kaget. “Eeh?” Krystal bingung, karena dia merasa tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

“Aigoo… kau lupa padaku? Aku Choi Sooyoung. Kau adiknya Jessica kan?” kata Sooyoung bersemangat. Anaknya, kyungsan juga ikut-ikutan bersemangat dan bertepuk tangan (?)

Krystal tampak mengernyit dan berpikir sebentar. “Ahh! Sooyoung onnie! Aku ingat!” seru Krystal lalu memeluk Sooyoung. “Kalian saling mengenal?” tanya Minho heran.

“Minho-ah! Kita semua kan pernah bertemu di pernikahannya Donghae dan Jessica.” kata Sooyoung. “Benarkah? Aku tidak benar-benar memperhatikan” ujar Kyuhyun. “Yah… sebelumnya aku dan krystal juga sudah pernah bertemu” tambah sooyoung.

“Baguslah, minho. Kalau kau sudah bisa melupakan seohyun” kata Kyuhyun sambil tersenyum pada dongsaengnya itu. “Haha. aku tak pernah bisa melupakannya. Tapi, setidaknya aku sudah bisa melanjutkan hidupku” kata Minho pahit sambil merangkul Krystal.

New Jersey, USA, 16 March 2014

Changmin POV

“Max! Go home right now! I need to tell you something. (Max, pulang sekarang! Aku ingin memberitaumu sesuatu)” kata Appaku lewat telepon.Aku hanya menjawab “iya” lalu menutup teleponnya.

Aku sudah menjadi direktur perusahaan Shim enterprise, padahal usiaku baru 26 tahun. Aku menjadi pengusaha yang sukses dan menjadi namja impian para wanita.

Sudah lama sekali aku tidak mengontak Yoona. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir, yang kutau, dia sudah menyusulku ke Amerika. Tapi, aku kesulitan menghubunginya. Aku hanya berharap keajaiban dan takdir bisa membawa kami bersama lagi.

“Wanna go home, Mr. Shim? (mau pulang, tuan shim?)” tanya Paul, manajer perusahaanku. “Yes, Paul. As I don’t have any meeting today, please handle this company while I am not here and call me if there’s any problem (Iya, paul. Aku tidak ada pertemuan hari ini, tolong urus perusahaan sementara aku tidak disini dan telepon aku jika ada masalah)” kataku pada pegawai kepercayaanku itu. Dia mengangguk lalu aku masuk ke mobil limusinku dan mengendarainya pulang.

“Wae-yo, daddy?” tanyaku. Walaupun tinggal di Amerika, aku tidak pernah mencoba untuk melupakan bahasa Korea. Appa menengok ke arahku. Dari ekspresinya tampaknya dia bahagia.

“Guess what, son? Parker advertising! That fabulous company. Mr. Parker agree my idea to make you and her daughter get married. It will affect our company much (Tebak, anakku? Periklanan Parker! Perusahaan yang keren itu! Tuan parker menyetujui ideku untuk menikahkanmu dan anak perempuannya. Ini akan mempengaruhi perusahaan kita)

Aku terdiam membeku di tempatku. What? It isn’t a good idea at all! (Apa? Ini bukan ide yang baik!) “I don’t want, pa. Sorry. (Aku tidak mau, pa. Maaf)” kataku menolak.

“Oh, you can’t refuse. It’s not a choice. You have to. (Oh, kau tidak bisa menolak. Ini bukan pilihan. Kau harus)” kata appa dengan enteng. Aku marah dan kesal.

Selama ini, apa yang diinginkan appa selalu kuturuti. Tapi, soal pasangan hidup, aku dan hanya aku yang berhak menentukan, karena… yang bisa mendampingiku hanya Im Yoona seorang!

“I DON’T WANT! Terserah kau mau mengusirku, mencoret namaku dari ahli waris! Aku tidak peduli! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai DAN itu sudah bisa dipastikan bukanlah anak dari Mr. Parker!” seruku emosi dan marah-marah dalam bahasa Korea.

Appa menatapku dingin. “Kau harus” katanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya berbahasa korea padaku. Tapi, tetap saja aku kesal lalu pergi keluar dari rumahku yang amat mewah ini, mengendarai mobil sport-ku  tak tentu arah dengan emosi yang meluap.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, di depan sebuah apartemen sederhana untuk menenangkan pikiranku. Mengendarai mobil dalam kondisi marah hanya akan membahayakan diriku sendiri.

Byurrrr… Air mengucur membasahi tubuhku dan jok mobilku. Aku menatap ke atas. Langit cerah dan tidak hujan. Rupa-rupanya, ada orang ceroboh yang membuang air atau menumpahkannya, atau apalah, dari lantai atas apartemen ke bawah.

“Sorry. I don’t know if there’s any people down there (Maaf. Aku tidak tau ada orang di bawah)” teriaknya dari atas. Grrr. orang ini… menambah emosiku saja!

“Is it a polite way to apologize to someone by screaming at him? (Apakah sopan minta maaf pada seseorang dengan berteriak padanya?)” kataku, balas meneriakinya. Dia terdiam beberapa saat, lalu kemudian…

“I’m sorry. Really really sorry.(Maaf. sangat sangat maaf)” katanya, berkali-kali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba saja sudah di depanku. Rupanya dia seorang yeoja. Aku mendesah, sudah begitu lelah dan tidak mau menambah masalah lagi.

“Yeah. Never mind. Now stop begging like that (Iya. Tidak masalah. Sekarang berhenti memohon seperti itu)” kataku. Dia menengadahkan wajahnya, dan membuatku terkejut dan terkesiap.

“Yoo… yoona!” panggilku tidak percaya pada sosok yang berdiri di depanku. “Changmin oppa!” serunya, sama kagetnya denganku. Spontan, aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Betapa aku merindukan tubuh mungilnya yang berada dalam dekapanku.

“Oppa… boghosippo yo” katanya sambil terisak. Ah, dia menangis. “Nde. Na do boghosippo” kataku, masih memeluknya. Akhirnya, takdir sudah bertindak dan mempertemukanku kembali dengan goddess-ku ini.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana” katanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum padanya. “Nde. aku juga, chagiya” kataku, mencubit pipinya yang halus.

“Sekarang oppa sudah sangat sukses ya. Aku ikut senang. Dan… aku menepati janjiku. Aku menyusul oppa” katanya ceria, menghapus air mata haru di pipinya. Aku tersenyum padanya yang sangat polos ini. Apa aku harus memberitahu kejadian tadi padanya?

“Yoona-ah…” panggilku halus padanya.

“Wae, oppa?” tanyanya bingung. “Aku…” aku menceritakan semuanya padanya. Dia tampak sangat syok dan terkejut. Tapi, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku padanya sambil mengernyitkan dahiku bingung. Dia terdiam “Apa… kita memang tidak bisa bersama, oppa?” tanyanya. Aku terkejut dan menatapny, mencengkram kedua bahunya “Andwae! Kita pasti bisa bersama. Kita pasti menemukan jalannya” kataku.

“Ta..tapi..” aku memotong perkataannya dengan menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut. Tidak lama. Hanya beberapa detik, lalu melepas bibirku dari bibirnya.

“Yoona-ah… saranghae. Aku… kita bisa pergi. Pergi dari ini semua. Ayo kita kembali ke Korea. Kita bisa tinggal bersama di apartemen kita dulu. Oohtoke?” tanyaku. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam kepalaku. Yoona kelihatan ragu sejenak. Aku meyakinkannya dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.

Hari itu juga, kami langsung berangkat ke Korea. Aku tidak kembali lagi ke rumahku untuk mengambil barang-barangku. Aku gadaikan mobil sportku, untuk menambah jumlah hartaku supaya cukup untuk nanti, karena yang kubawa hanyalah HP, dompet yang berisi kartu kredit dan sejumlah uang tunai, dan mobilku itu.

Aku dan Yoona bercanda dan mengobrol selama di pesawat. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Walaupun semua karir yang sudah kubangun dari nol akan hancur seketika, aku tidak peduli. Hal yang paling kuinginkan adalah bersama-sama dengan Yoona.

Malamnya, kami sampai di Korea. Kami segera naik taksi menuju ke pinggiran kota Seoul, mencari apartemen yang penuh dengan kenangan indah kami.

“Changmin-ssi? Yoona-ssi? Lama sekali tidak bertemu kalian!” ujar resepsionis apartemen. Rupanya selama 3 tahun, tempat ini pun masih belum berubah sama sekali.

Karena lelah, aku dan Yoona langsung pergi ke kamar kami yang bersebelahan dan tidur dengan sangat nyenyak, untuk menyambut esok. Hari yang baru.

Seoul, South Korea, 17 March 2014

Donghae POV

“Ssica-yah!” panggilku. “Kau tidak boleh bawa barang yang berat! Arraso?” ucapku lagi, mengambil kardus yang sedang dia tenteng. “Ini tidak berat, kok” katanya sambil memanyunkan bibirnya. “Kekeke. Sudahlah. Biar aku saja yang membawanya.” kataku lagi.

Kami pindah ke Seoul hari ini. Memulai kehidupan baru, tinggal di rumah kami sendiri, membentuk sebuah keluarga baru, terlebih…. Jessica sedang hamil! Dia sudah hamil 2 bulan. Aku akan selalu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bocah kecil akan memanggilku ‘appa’.

Aku memandang rumah baruku. Sederhana memang. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan elegan. Aku tersenyum melihat seluruh ruangannya yang akhirnya selesai aku dan ssica rapikan.

Daaan… jarak rumahku ke apartemen kami dulu tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, walaupun akan cukup lelah.

“Hmm, bagaimana kalau kita melihat apartemen kita dulu?” usulku yang langsung ditanggapi persetujuan Ssica dengan semangat. “omo! Aku sangat merindukan tempat itu! Dan merindukan 8 makhluk-makhluk itu” kata ssica girang.

“Nde. Bukankah Minho masih tinggal disitu? Kita bisa mengunjunginya sebentar” kataku. Ssica langsung mengangguk dengan semangat.

Akhirnya, kami sampai di bangunan bertingkat sederhana itu. Bangunan yang penuh dengan kisah-kisah kami. Canda, tawa, tangis, duka, semua kami alami bersama disini. Bangunan yang menjadi awal hidup dan persahabatan kami. Bangunan yang mengajarkan kami tentang kehidupan. Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat dan sangat kurindukan.

Aku mendesah. Flashback ingatan-ingatan masa lalu, tentang kenanganku bersama Jessica, bersama cinta pertamaku, Sooyoung, bersama musuh sekaligus sahabatku, Kyuhyun, bersama hyung yang sangat kukagumi, Leeteuk, dongsaengku Minho, dongsaeng malaikatku yang sudah mendahului kami, Seohyun, perfect couple kami, Yoona dan changmin, dan ahjummaku, Taeyeon.

Ingatan-ingatan itu terbesit cepat dalam kepalaku, menampilkan semacam sepotong-potong peristiwa masa lalu kami, terputar begitu saja dalam otakku seperti sebuah film. Bagaimana kami di mall, bagaimana kami salah paham, bagaimana kami makan bersama, bermain salju bersama, dan menghabiskan malam bersama. Ah, selamanya. Ingatan itu tidak akan pudar dari kepalaku. Walaupun aku amnesia, hatiku pasti mengingatnya jauh lebih baik.

“Aku merindukan mereka” kata Jessica, menghilangkan semua flashback dari kepalaku. Aku tersenyum “Nde. kita semua pasti saling merindukan” ujarku.

Kami masuk ke dalam apartemen itu, disambut dengan pemandangan yang familiar. Bahkan selama 3 tahun, apartemen ini belum berubah. masih sesederhana dulu.

Kami naik ke lantai 5 menggunakan lift, mengingat Jessica harus benar-benar menjaga kandungannya, calon anak kami. Kami mencari sepanjang koridor. Aku tersenyum sendiri saat melewati kamarku dan kamar Yoona, yang juga di lantai ini.

Ini dia. Pintu yang di depannya ditempel kertas putih bertuliskan ‘Choi Minho’ dengan diatasnya terlampir nomor 205. Pintu yang didalamnya terdapat dongsaeng kami, Choi Minho.

Aku mengetuk pintu. “Masuk saja!” itu jawaban dari dalam. Krieeettt… perlahan-lahan aku membuka pintunya, membayangkan seberapa kaget ekspresi minho melihat kami. Tapi, aku salah. Justru, akulah yang sangat kaget, begitu aku membuka pintu kamar Minho.

-TBC-

Apa yang membuat donghae kaget?

Bagaimana kelanjutan kisah Changmin dan Yoona?

wait in part 11 ^^

Advertisements
Comments
  1. olive says:

    co cweet .
    wkwk .
    untung author gajadi pasangan minho .
    bisa muntah’ reader wkwk kidd .
    bikin penasaran aja nih .
    lanjutkan !

  2. wellypombob says:

    masa iya di dlemnya si Yoona ama changmin ? kan gag mungkin . wkwkwk
    bikin pns aje ni . lnjut sjalah .

  3. hyorim says:

    wae??
    wae??
    wae??
    ada apa dengan dong-sic??

    min-yoona kasihan beud towh..
    dr dulu d pisahin mulu..
    ckckck

    lanjut dah author..
    pnasaran nich..
    hahaha

  4. yuanitajanuari says:

    ya ampun kasian banget pasangan yoona-changmin
    sekarang mereka deh yang punya konflik 😦

    eh nahlo ada apa di apartementnya minho
    kalo yoona sama changmin pasti beda kamar dong sama minho
    dan terus yang ada di dalem kamarnya minho siapa

    lanjut thorrrr

  5. cubbiebie says:

    Wadu… Yang dikamar minhoo sapa??
    Jangan jangan ma krystal.hahahahaah
    *otak mu bie.
    hahahhahahaha

    Beneran kasaiiannnn ama changmin ma yoona. Cintanya teerancam terus.
    Hahahahha

    Aku masi penasaran nih ma kelanjutan kisahnya taeng ma eteuk.hahah
    Ayooo ceritainnn.
    *maksa.

  6. cubbiebie says:

    Ayo cerita … Cerita.
    Kalo g cerita aku kerahkan pasukan ku untuk bikin demo.hahahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s